Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 49


__ADS_3

Tebakannya tidak ada yang benar ya? Maunya sampek ke paragraf ini kemarin. Tapi karena mata saya tidak bisa diajak kompromi kepotong deh ngegantung gara-gara obat. Dan lagi efek meriang di badan sepertinya susah kosen hingga akhir-akhir ini rasanya tulisan tidak dapat feel sama sekali. Ngawang gak karuan kaya baca koran. Hehe maafkan. Author akan berusaha lagi hibur pembaca. Dan ni alur akan saya percepat. Biar Quen segera dengan Alex. Aja. Dan yang menebak Alex adiknya Novita adalah benar. Dia sayang sekali dengan Axel. Makanya nama AXel dan Alex itu sama hanya beda letak dua hutup saja.


🌸 🌸 🌸


Quen melihat pria berbadan tinggi besar dan sedikit brewok di wajahnya itu duduk di antara mama dan neneknya. Melihat dari cara mereka berbincang, sepertinya sudah sangat akrab. Tapi, siapa ya? Kok, aku tidak pernah tahu sebelumnya? Gumam Quen dalam hati.


"Quen kau sudah datang, Nak? Kemarilah mama kenalkan kau dengan seseorang," ucap Clara menyapanya.


Awalnya Quen sempat salah paham, dia mau menikah tapi masih dikenalkan dengan laki-laki. Mentang-mentang calon suaminya sudah berusia matang mamanya mengenalkan dengan pria tua juga? Minimal ya seusia Al mungkin masuh bisa dimaafkan. Tapi, ini kok kelihatan lebih dewasa dari Aditya, apakah mamanya sudah mengira dirinya pecinta lansia?


Quen pun berjalan mendekati mereka bertiga.


"Win, dia Quen putriku. Tanggal duapuluh nanti kau harus meriasinya dengan baik dan berikan gaun terbaikmu pula," ucap Clara.


"Waaaah, ini anak kamu sama Vano, Ra? Gak nyangka, hasil persilangan yang unik dan cantik. Wajat ya, emaknya lumayan bapaknya wuah abis, anaknya luar biasa," teriak pria itu.


Quen mengerutkan alis, antara terkejut dan tak percaya. Apakah pria di depannya ini banci? Padahal dari tampilannya lumayan macho. Astaga... Quen tidak memperhatikan bagaimana pria itu dudik. Kaki disilangkan layaknya wanita feminim.


"Hay, Nak. Sini! Aku teman sekolah mamamu dulu."


Quen duduk di sebelah Clara sambil masih terus memperhatikan. Sepertinya gadis itu bingung bagaimana bisa mamanya memiliki teman seperti itu? Bahkan lebih parahnya lagi, Quen mulai curiga pria ini mantan pacar mamanya, lagi. Astaga... Makin ngawur.


Erwin mengeluarkan katalog dari dalam tasnya dan menunjukan foto-foto gaun terbaru koleksi di boutiquenya terutama yang dia desain sendiri.


Quen menerimanya ragu-ragu. Dibukanya lembaran demi lembaran kalog itu, seketika mata itu berbimar dan bibirnya membentuk senyuman saat menemukan sebuah gaun yang bagus.


"Aku suka ini, dan acara pernikahan aku mau ambil tema audoor saja." Quen menunjuk salah satu gaun dan memeperlihatkan pada mamanya dan Erwin.


"Waah, selera yang bagus, Quen. Gaun yang kau pilih ini kemarin menang fashion show juara satu tinkat Asia, loh." Irwan pun mengeluarkan buku pulpen dan metlen dari dalam tasnya.


"Ayuk berdiri, biar madam ukur kamu." Erwin pun serius mengukur badan Quen untuk pembuatan gaun pengantin.


Sekitar sepuluh menit Erwin menyesaikan tugasnya. Ia mengecek kembali, sesekali diukur ulang bagiang lengan dan pinggang. Serta panjangnya.


"Ra, anak kamu body goal loh. Dia keren jadi model, Quen. Kalau lagi bete main-main ke Anyelir Boutique, lihat-lihat sama nyoba baju gratis dapat duit, gimana?" tawar Erwin dengan ramah khas bahasa bencongnya.


Quen masih terlalu shock menemui pria macam erwin. Dia tidak ada respon selain senyum dan menggangguk saja.


"krriiinnggg...."


"Walah, siapa sih yang telfon telfon eyke lagi? Gak seneng apa ligat eyke santuy? Cih." Dengan gerakan gemulai Erwin mengambil gawainya yang diletakan di saku kemejanya. Dengan nada endel pula dia mengangkat panggilan itu.


"Holla holla hallooo ada apa, sih, you? Telfon mulu?"


"......"


"Ya kamu layanin, tanya maunya ginmana, kaku gakak setahun lima tahun ikut madam, masa kagak ngerti sih? Ayolah mawar, dari mulai Enyelir berdiri kau sudah ada."


"...."


"Ok, ok baiklah Madam akan segera kembali, dasar asisten rempong kau ini." Dengan jengkel Erwin mematikan sambungan telfonnya sambil mengentakan sebelah kakinya, lalu berbalik ke arah Vivian, Clara dan Quen.


"Lala kumarla, sory, eyke harus buruan balik, ditelfon tuh ma asisten barusan dih rempong. Siapa bosnya sih kok eyke diperintah-perintah ma dese, kan gq etis yeee kan yes! Quen, om kembali dulu, Ya?" terakir dia menyalami Vivian dengan santun dan berpamitan dengan sopan tanpa hilang logat bencongnya. "Tente, Erwin kembali dulu, ya? Kalau dulu ga bisa hadir di nikahan Lala, pasti Erwin hadir di acara nikahannya Quen."


"Ya sudah, hati-hati ya Nak Erwin. Sering-seringlah main kemari jika ada waktu," ucap Vivian ramah.


Ketiganya mengantar Erwin sampai depan pintu melihat mobil itu bergerak meninggalkan halaman sampai tak terlihat dari pandangan.


Quen yang biasa cerewet dan aktif kali ini sepertinya berada dalam mode off. Dia cuma diam bengong kaya orang bego saja.


"Quen, ada apa denganmu? Kau tidak sakit kan? Atau ada masalah dengan pita suaramu?" tanya Clara heran.


"Barusan makhluk sprsies apa, Ma?" tanya Quen balik.


"Hus, jangan ngawur kamu. Dua teman sekelas mama saat SMA. Sayang."


"Teman? Mama punya teman cowol juga, ya? Jangan-jangan mantan pacar Mama, kan selama ini Mama ga pernah tu nunjukin mantannya satu pun. Beda sama Papa, mantanya seabrek. Hahaha," Quen terbahak seorang diri.


"Hay, kau pikit slera mama bencong apa? Jika mama suka bencong mana mungkin bisa nikah ma papa kamu dan kamu tidak akan seperti ini." Geram Clara sambil melotot.

__ADS_1


Sedangkan Vivian hanya terseny sambil mengeleng-ngelengkan kepalanya melihat argumen cucu dan putrinya itu.


"Ya sudahlah, Ma. Aku mau istirahat dulu, nanti nanti jam tiga sore harus jemput Axel les." Gadis itu pun berjalan menaiku tangga menuju kamarnya.


Sesampai di kamar digantungkannya tas dan mulai rebahan di atas kasur. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Penasaran karena nomor tidak di kenal dengan ragu dia mengangkatnya. Entah apa, rasa penasaran terhadap pemilik nomor begitu kuat mendongkrak dalam dirinya. Padahal biasanya dia paling malas meladeni nomor-nomor seprtti itu.


"Halo, siapa ni?" jawabnya pelan.


"Hay, ini aku, Quen."


Degggg... Seketika jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya ketika mendengar suara dari seberang. Suara yang sudah tiga tahunan ini tak lagi didengarnya. Apa kabar dia? Ada apa tiba-tiba menghubungi lagi? Apakah ada pesan atau sekedar memberkan kabar dan seuntai rindu?


"A-l-e-x, ya?" jawan Quen ragu-ragu.


"Bahkan kau masih bisa mengingat suaraku. apa kabar kamu, Quen?" jawab suara pria itu sari seberang sana.


"Aku baik-baik saja, bagaimana pula dengan kabarmu?"


"Aku? sepertinya tidak dalam kata baik-baik saja."


"Kenapa? kau sakit?" Panil Quen.


"Hahaha, kenapa kau panik begitu? kawatir sama aku ya? Tidak, aku tidak apa-apa, barusan cuma menggodamu saja."


Quen mendesah kesal, antara lega mendengar Alex baik-baik saja dan juga kesal karena sifat jail pria itu tetap aja melekat erat dalam dirinya seolah tak bisa dihilangkan oleh apapun.


"Aku dengan dalam waktu dekat ini kau menikah dengan dosenmu itu. Apakah aku tidak dapat undangan?" tanya Alex sambil tertawa.


"Kau tahu dari mana?"


"Dari mana aku tahu, itu tidak penting. yang perlu kau tahu, aku tidak akan mengacau di acara pernikahanmu nanti kok, seperti yang dilakukan kebanyakan para mantan yang mau viral, hahaha"


mendengar Alex tertawa Quen juga ikut tersenyum sendiri. Dengan tingkah konyol Alex ini, ia yakin kalau dia memang sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi dengannya. Meski, dulu ia sempat berfikir bahwa perhatian yang ia berikan terakhir kali sebelum ia menghilang adalah untuk mendekatinya kembali. tapi, dia salah. Suara itu benar-benar natural dari hati yang turut berbahagia atas pernikahannya. Tapi, apa alasan Alex tiba-tiba menghilang waktu itu Quen belum pernah mengetahuinya. yang dia tahu dia tidak pernah terlihat lagi di kampus sampai lulus pun. tahu-tahu dia malah pindah kuliah di luar kota.


"Kamu datang ya, tanggal duapupluh nanti aku akan menikah," jawan Quen.


"Byee." Begitu sambungan terputus, Quen menggam erat smart phonenya. ia tidak habis pikir kalau selama tiga tahunan tidak bertemu serta tak ada komunikasi dengan Alex, hanya mendengarkan sedikit suaranya saja mampu membuat hatinya kembali bergejolak.


Tunggu! Perasaan macam apa ini sebenarnya? kenapa aku tidak rela kalau Alex benar-benar pergi dengan yang lain sekalipun aku nanti sudah bahagia dengan pernikahanku bersama Aditya?


Quen mendesah kesal, menghempaskan badannya di atas kasur, dia ingin beristirahat sejenak. sebab nanti jam tiga harus menjemput Axel dan sebelumnya dia akan ke rumah Bela dulu mengantar undangan, kebetulan lokasi Axel les melewati rumah Bela. sedangkan untuk Sinta. dia sudah mengabari lewat IG, karena sebagai pramugari. tentu dia jarang ada di rumah. apalagi sudah masuk kelas eklusif atau apalag dia tidak paham. karena Quen tidak pernah menyukai profesi itu.


🌸 🌸 🌸


Sore itu Bela tengah bersantai di ruang tamu sambil menyantap salad buah kesukaannya. Lalu tiba-tuba terdengar suara bell berbunyi.


dengan malas gadis itu beranjak ke pintu utama melihat siapa yang datang.


"Hay, Quen! Kau rupanya? Ayo sini, masuk!" Seru Bela mempersilahkan teman sejak SMA ke dalam.


"Lagi sibuk, ya Bel?" tanya Quen sambil duduk di sofa.


"Tidak. aku lagi makan salad nih, kamu mau?" tawar Bela sambil menyodorkan mangkui salad memperluhatkan isinya kepada Quen.


"Makasih, aku lagi kenyang saja." tolak Quen sambil mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah mangkuk yang dipegang Bela.


"Ratu pedas sukanya rujak, bukan salad. iya kan? tumben kemari tidak ada kasih kabar dulu, ada pa ni?"


Quen mengeluarkan selembar undangan berwarna pink dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Bela. "Datang, ya?"


"What? serius kau mo nikah ma pak dosen genteng itu?" Mata Bela terbelalak antara terkejut dan tidak percaya. karena diam-diam dia juga ngefans dan jadi stalker sekaligus penggemar rahasia Dokter Aditya Mahendra.


"Ya, memang itu kenyataannya. jangan cemburu, ya?" Goda Quen sambil tertawa bersama.


"Emm gimana ya? Emang kamu pikir bisa aku tidak cemburu sama kamu? dulu kan aku yang pertama naksir dia, eh malah kamu yang dinikahinya hahaha."


Keduanya pun saling mengobrol dan berbagi cerita, dari situ Quen tahu. kalau Bela akan dijodohkan sama rekan bisnis papanya. awalnya nolak, karena ganteng dia jadi mau.


sungguh dari dulu gadis ini memang konyol dari ketiganya hampir tidak ada yanh waras.

__ADS_1


Quen melirik jam di tangannya, waktu menunjukan pukul tiga kurang sepuluh menit. jarak tempuh lokasi lesnya Axel kursng lebih lima menitan. Akhirnya Quen pun memutuskan untuk berpamitan.


"Bel, aku cabut duluan ya? lain kali kalau ada waktu aku akan main-main kemari."


"Yah, gak seru kau Quen. Baru jam berapa ini?" Protes Bela.


"Jam tiga tepat aku sudah harus berada xxx menjemput Axel,"


"Axel? tunggu jangan bilang dia calon anak tirimu, ya?"


"Lalu? emang nyatanya begitu, masa iya aku mau sama bpaknya ogah ma anaknya?"


"Ya ampuuun Quen... kau benar-benar akan menjadi mama tiri? pasti Axel merasa beruntung memiliki mama sambung sepertimya, baik cantik lagi."


Quen menyangklongkan tasnya dan berdiri menghampiri Bela untuk berpamitan.


"Yadah, aku pergi dulu, ya? kapan-kapan akak ku ajak Axel kemari, ok!"


Quen pun bergi meninggalkan rumah Bela dan pergi menjemput Axel.


Tidak perlu menggu waktu lama Quen menunggu di luar mobilnya seorang anak laki-laki berusia delapan tahunan berhambur ke arahnya.


"Kakak, kau benar-benar menjemputku hari inu?" Tanya anak itu bahagia.


"Tentu saja, kapan kakak pernah bohong dan ingkar janji sama kamu? Ayo, masuk!" Seru Quen membukakan pintu mobil di sebelah kemudi.


"Apakah papa mengajar di kampus hari ini?"


"Tidak, dia sedang piket di rumah sakit. Nanti jam lima juga pasti sudah pulang, kenpa kau menanyakannya?" tanya Quen menatap penuh selidik.


"Emm aku merasa Papa sekarang jarang pulang. bahkan dia jadi jarang menghubungiku."


"Papa sibuk, syang. kan sekarang Axel sudah ada mama," Ucap Quen sambil menyetir. tersenyum ke arah Axel.


Axel tidak merespon baik. ia malah terlihat terkejut sampai bengong mendwngar Quen mengucap kata ada mama.


"Kenapa, Xel? kau tidak suka dengan kakak? Kakak sebentar lagi akan menikah dengan papamu, apakah selamanya kau akan tetap memanggilku kakak?" tanya Quen lagi sambil tertawa.


"Ten... tentu saja, tidak. jadi Kau mau kupanggil mama mulai sekarang?" tanya Axel sambil tergagap seperti ada yang ia tutupi.


"Tentu saja, agar kau terbiasa." Quen mengacak rambut Axel dengan gemas.


"Baiklah, Mama. aku menyukaimu," ucap anak itu sambil tersenyum senang.


Selama perjalanan keduanya terlalu asik mengobrol hingga tanpa terasa mobil sudah memasuki halaman rumah. dari dalam rumah keluar seorang wanita muda mengenakan pakaian formal rok span hitam selutut dan atasan kemeja lengan panjang tanpa blezer berjalan menuju ke mobil yang terparkir di halaman lalu memutarnya dan melaju meninggalkan rumah itu.


Quen sempat memperhatikan wanita itu sekilas, tapi, dia tidak mengenalinya. akhirnya ia pun mengajak Axel turun.


"Ayo sayang kita turun. sepertinya oma baru kedatangan tamu," ucap Quen saat membuka pintu mobil di sebelahnya.


"Sepertinya iya, tapi, Axel tidak lihat siapa tamunya. sudah pergi duluan."


"Ya sudah itu tidak penting. kita ke dalam yuk. dan ganti pakaianmu dulu! Cuci tangan dan kakimu terlebih dahulu.


Quen dan Axel pun langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, selain ia sudah terbiasa datang kemari, kebetulan pintu ruang tamu tidak tertutup.


"Mama," Sapa Quen pada Livia.


"Quen, Axel, kalian sudah datang?" tanya Wanita itu setengaj terkejut. sepettinya memang ada hal yang sengaja ditutupi darinya agar dia tidak tahu.


"Iya, Ma. baru saja. Barusan ada tamu, ya?"


"Iya, itu anu... tukang dekorasi, bagaimana pun nanti Mama kan juga akan unduh mantu setelah resepsi di rumah keluarga mempelai wanitanya, kan?" Jawab Livia. sepertinya dia memang sudah mempersiapkan jawaban itu. karena mengucapkannya juga sangat lancar.


"Ya sudah Ma. Quen mau pulang dulu, tadi Nenek minta antar kontrol katanya, takut kolesterolnya naik, berhari-hari bilang kalau badannya tidak enak."


"Baiklah, hati-hati, ya? Kukira kau menunggu sampai Aditya datang."


Quen pun pergi meninggalkan tempat itu. tapi tidak ke rumah. dia malah ke cafe. urusan neneknya, ia berfikir ada mama dan pak Makmur yang bisa mengantarkannya. Untuk sementara ini, ia masih benar-benar ining a3nriri dulu.

__ADS_1


__ADS_2