
Dugaan Axel memang tidak meleset. Sampai di sana, tidak mudah baginya membujuk petugas CCTV agar menunjukkan rekaman yang berada di hotel tempat ia bekerja. Tapi saat Andre menunjukkan kartu keanggotaannya sebagai seorang polisi, barulah pria dengan postur tubuh kecil dan tak terlalu tinggi itu kira-kira sekitar 167 cm an langsung menunjukkannya.
Dalam relaman itu, Axel melihat sosok yang tak asing lagi baginya. Yaitu, Tiara. Gadis itu berada berada di lobby hotel bersama pria yang selalu menemaninya, dan tiga orang pria lain yang tak pernah ia lihat. Mereka bertiga memiliki postur tubuh yang sama-sama gendut dan perut buncit.
Setelah beberapa menit berbincang salah satu dari tiga pria itu memberikan sebuah amplop coklat besar dan tebal pada Tiara. Tiara mengintip isinya dan melihat mengeluarkan setengah dari uang itu yang berisi gepokan seratus ribuan, entah berapa. Kemungkinan sekitar limapuluh jutaan. Dia tersenyum, lalu mempersilahkan dia menuju ke kamar hotel dan memberikan kuncinya.
Memang belum ada bukti itu kamar yang dimasuki oleh tiga pria tersebut adalah kamar di mana Bilqis berada atau tidak. Namum, Axel tidak putus asa Ia tetap menunggu detik demi detik berjalan hingga akhirnya sekitar pukul tiga dinihari dari kamar tersebut keluar seorang gadis dengan pakaian compang-camping dan wajah yang prustasi tak lain dia adalah Bilqis. Jalannya gontai, sedikit pincang dan terseok-seok dengan beberapa memar di sekitar tubuhnya. Dari situ sudah jelas kalau Tiara telah menjual sahabatnya sendiri demi keuntungan pribadi.
Axel mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Urat-urat di sekitar lehernya juga saling bertonjolan. Menandakan kalau ia dalam keadaan emosi tinggi. Namum tetap menahan nya.
"Axel! Apakah dia adikmu, yang kau maksud?" tanya Andre sambil menatap teman lamanya.
"Ya, benar, dan wanita itu dia adalah mucikari muda yang banyak menjual gadis perawan yang masih lugu pada para bandot tua. Dia juga memiliki banyak anak buah. Lebih baik kita segera membekuknya," ucap Axel.
"Iya, kau benar. Sebelum ada banyak korban lagi. Dia harus segera dibekuk. Aku minta tolong sama kamu, habis ini ikutlah ke kantor polisi, ya? Kau buat laporan terkait perbuatan Tiara," pinta Andre pada Axel.
"Dengan senang hati, aku akan membuat laporan itu," ucap Axel dengan emosi tertahan kemudian dua pria itu meninggalkan tempat pusat CCTV dan pergi ke kantor polisi.
Usai membuat laporan terkait Tiara atas dugaan kasus prostitusi, Axel tidak perlu mengantarkan Andre pulang. Karena, ia yang akan tangani dan mengusut sendiri kasus ini sampai tuntas. Karena, salah satu korbannya adalah adik dari teman lamanya. Apalagi, Axel juga menceritakan kalau adiknya hampir bunuh diri karena prustasi.
Kemungkinan, selain dipenjara, Tiara juga akan di denda sebanyak-banyaknya.
***
Usai dari kantor polisi Axel bingung mau ke mana. Ia masih saja kepikiran dengan Bilqis. Rasa iba tiba-tiba merasuk perlahan dalam hatinya. Tanpa terasa, pria itu sampai menitikkan air mata.
"Dasar bocah bodoh! Kau yang sakit atas kecerobohan mu sendiri ke apa aku harus ikut menangi? Harusnya tidak perlu, kan?" umpat Axel dalam hati.
Merasa tak nyaman bila dia menelfon langsung pada gadis itu, akhirnya dia pun memilih untuk menelepon papa Al. Dia bisa bertanya padanya tentang kondisi dan perkembangan mental Bilqis.
Tidak menunggu lama, ketika panggolan Axel sudah tersambung, papa Al langsung menjawab. "Halo, Xel. Ada, apa?" jawab Al.
"Iya Pa, halo. Tidak, aku hanya ingin bertanya saja. Bagaimana Bilqis? Apakah sudah ada perkembangan? tanya pria itu, lirih. Padahal, meskipun iya berbicara dengan sedikit keras, tidak akan ada yang bisa mendengar suaranya selain Al. Selain di dalam telepon, pria itu juga tidak melous speaker ponselnya.
"Dia sudah kelihatan lebih baik. Ini sekarang dia lagi ngobrol bersama Berlilyn, sambil terapi ikan kecil-kecil di taman sebelah rumah. Kau di mana, sekarang?" tanya Al balik.
"Aku... aku lagi ada di jalan pa. Di dalam mobil," jawab Axel bingung. Karena, dia sedang ada pada dua pilihan. Antara mau pulang, atau ke rumah kedua orang tua angkatnya, untuk melihat secara langsung kondisi mental Bilqis.
"Memangnya kau mau ke mana? Atau, dari mana?" tanya Al bingung. Sebab, jawaban Axel terdengar sangat ambigu.
"Aku baru dari kantor polisi, Pa. Membuat laporan. Aku melaporkan Tiara dengan bukti rekaman CCTV yang kudapat dari hotel tempat Bilqis di jebak. Bukti yang kudapatkan cukup kuat. Di sana, ada rekaman kalau Tiara tengah melakukan transaksi dengan tiga pria tua. Setelah memberikan amplob tebal, gadis itu memberi sebuah kunci kamar dan pergi dengan kekasihnya. Di rekaman selanjutnya, sekitar pukul tiga dini hari, Bilqis dalam kondisi mengenaskan keluar dari kamar tersebut. Tapi, aku tidak hanya tinggal diam akan kucari tiga pria itu tua itu untuk memperkuat bukti."
Mendengar jawaban dari Axel, Al diam sesaat. Ia berpikir mungkin dia tak perlu lagi bertindak. Karena sudah ada Axel yang akan menjaga putri-putrinya. Soal Clarissa, dia yakin, gadis itu sangat hebat dan bisa jaga dirinya sendiri. Tak mungkin, kan dia memberitahukan juga pada Axel? Karena selama ini sampai usia putrinya tujuhbelas tahun, Al dan Queen masih merahasiakan tentang identitas putrinya yang sebenarnya. Yang orang lain tahu, anaknya ya hanya Berlyn saja dan dia bisu. Tapi, kusus keluarga dan yang bekerja di rumah itu tahu, kalau Berlyn memiliki kembaran.
"Kerja bagus, Axel! Lalu, kau mau ke mana sekarang?" tanya Al.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia coba berfikir cepat. 'Kenapa memang kalau tidak bisa bicara sama Bilqis? Di sana kan ada Berlyn?' batinnya. Lalu, dengan cepat Axel memutuskan. "Axel datang ke sana saja, Pa."
__ADS_1
"Oke, ya sudah. Berhati-hatilah," jawab Al kemudian mematikan panggilannya.
Memang, Berlyn adalah mood bossternya Axel. Setiap kali ia merasa kesal dan lelah akan kehidupan yan penuh permainan licik dan sandiwara dari sebagian orang yang dikenalnya, seketika semua terasa baik-baik saja seperti tak ada apa-apa saja meski hanya menginat Berlyn. Apalagi jika sudah saling bertemu, berdekatan dan saling ngobrol dan bercanda. Rasanya dalam hidupnya ini seakan tak pernah ada beban dan masalah.
Tiba di kediaman Queen, suasana langit sudah gelap. Axel menyempatkan melihat halaman samping tempat kolam ikan yang biasa digunakan untuk merendam kaki. Berlyn dan Bilqis sudah tidak ada di sana. Jelas saja, ini sudah pukul 17.30.
Axel memarkirkan mobil jaguard merahnya di halaman rumah mama Queen dengan manis. Setelahnya, buru-buru dia masuk ke dalam rumah tersebut.
Dulu, sebelum ia dekat dengan pemilik rumah, ia pasti muter-muter dulu sebelum masuk. Tapi, sekarang, karena mereka mengangap dia dan adiknya adalah anak sendiri, dan Axel juga memanggil mereka papa dan mama. Jadi, tidak lagi sungkan, dan memencet bell. Asal buka pintu, ucap salam sambil jalan. Karena, bagi Al dan Queen, dia Adriel dan Bilqis bukan lah tamu. Melainkan putra dan putri mereka.
"Axel, kau sudah tiba?" sapa Al yang tengah berada di ruang tamu sambil membaca sebuah buku tentang bisnis. Entah, sengaja menunggunya, atau kebetulan saja dari tadi sudah di situ. Sebab, selama yang dia tahu, papa angkatnya ini kalau sudah menemukan tempat yang nyaman untuk membaca buku di waktu luang, ia sudah enggan untuk berpindah.
"Iya, Pa. Di mana yang lain?" tanya Axel sambil mengedarkan padanggannya ke seluruh penjuru ruangan yang bisa dilihat dari tempatnya.
"Mama dan tante Nayla di dapur. Sementara Bilqis dan Berlyn, mungkin juga berada di kamar," jawab Al, sambil meletakkan buku yang baru saja ia baca.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir pria itu. Sesekali ia melirik kamar Berlyn.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan rekaman CCTV tadi? Apakah sulit? Karena itu termasuk hotel berbintang," tanya Al memulai percakpan dengan Axel.
"Tidak begitu sulit, Pa. Karena Axel tadi mengajak Andre, teman SMA dulu yang kebetulan dia menjadi polisi."
Al tersenyum. Ia tidak merendahkan tingkat usaha Axel untuk mencari bukti. Axel, tidak bisa dibandingkan dengan dirinya yang sudah lama berkecimpung dengan dunia hitam. Tapi, sejak ia memiliki anak, dia jadi sangat jarang menggunakan mereka kalau tidak dalam kondisi tertentu, atau kepepet saja. Lalu, apakah ia ingin mengajari Axel, juga? Tidak. Queen membenci hal seperti ini. Mumpung dia masih bersih, biarkan berjalan di jalur putih saja, cukup dia yang berada di dunia abu-bau.
"Jadi, nanti saat sidang kau juga turut hadir menjadi pelapor dan saksi, ya?"
"Tidak masalah, anggap ini pengalaman, tanpanya, kita tidak akan mengerti yang sebenarnya selain teori. Kau sudah mandi apa belum?" tanya Al sambil menepuk pundak pria di depannya yang kini sudah mulai beranjak dewasa. Tapi, kian terlihat cakep saja. 'ah, bukankah aku juga begitu?' batin Al sambil tersenyum sendiri. menahan agar tawanya tak meledak.
"Belum, Pa. Ya sudah, Axel mandi dulu, ya?" pamitnya, kemudian mulai menapakki anak tangga satu persatu menuju lantai atas di mana dulu di sana adalah kamarnya dan masih ada beberapa stel baju miliknya. Sengaja meletekkan di sana buat jaga-jaga jika sewaktu-waktu ia perlu menginap. Sebagian juga ada baju milik Adirl. Tapi, mereka sering bertukar akaian ukuran yang dikenakan juga sudah sama.
"Ketika Axel membuka pintu kamar, dia dibuat terkejut dengan adanya Bilqis di dalam kamar yang sedari dulu memang disiapkan untuk dirinya.
"Bilqis, apa yang kau lakukan?" tanya pria itu.
"Aku cuma membersihkan kamar ini saja dan merapihkannya kembali. Kak Axel mau menginap di sini malam ini?" tanya gadis itu dengan lirih dan menunduk.
Axel tak menjawab. Rasa iba yang sempat merasuk dalam sanubarinya tadi kembali datang. Ia melangkahkan kakinya beberapa langkah. Kini, dia sudah tepat berasa di depan Bilqis.
Sementara Bilqis, yang sudah mengalami perubahan psikis. Ia tetap menunduk, tubuhnya terasa gemetaran dan menunduk satu langkah ke belakang.
Tanpa sepatah kata pun, Axel tiba-tiba memeluk Biqlis dengan sangat erat. Menyalurkan kekuatan baru berupa energi positif pada gadis di depannya yang kini tengah terpuruk. Ia memeluk bukan karena cinta. Tapi, menunjukkan kalau dia juga peduli dan tetap menerima dirinya atas apa yang telah terjadi. Karena, hubungan antara kakak dan adik tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apapun.
"Kak Axel, kau kenapa?" tanya gadis itu.
"Aku... maafkan aku. Bilqis, kau ini kak Axel anggap seperti adik sendiri. Jadi, hal buruk apa yang telah menimpamu, kak Axel juga ikut merasakan perih."
"Tidak apa-apa. Maaf, jika selama ini aku tak pernah hiraukan mu. Terimakasih." Bilqis kembali melangkah ke mundur, ia tetap menunduk dan terlihat sangat canggung. 'sudah peduli," imbuhnya lagi. Lalu, buru-buru dia berlari meninggalkan Axel.
__ADS_1
Sementara Axel hanya terpaku melihat punggung gadis itu. 'Benar-benar, kejadian itu telah banyak merubahnya. Andai yang kupeluk adalah dirimu yang dulu, jika kau tidak GR, kau malah bertingkah gila. Itu sudah pasti. Bilqis, kembalilah kau seperti dulu. Kak Axel suka dirimu yang dulu ya g selalu ceria,' batin Axel.
Usai mandi, Axel tidak langsung keluar dari kamarnya. Ia mencoba mencari informasi terkait tiga orang yang telah menggilir Bilqis dan melakukan kekerasan fisik.
Dia memang tidak tahu nama satu pun dari ketiga bandot tua itu. Tapi dari cara mereka berpakaian, Axel yakin, mereka adalah pembisnis, atau jika bukan, mereka adalah seorang pengusaha sukses, jika dilihat dari pengeluarannya saja ketika memberikan uang oada Tiara. Sebab, yang dia tahu, seperti ini biasanya diberi uang muka atau dp dulu. Jika pembeli puas, dan benar-benar masih perawan, maka mereka harus melunasi harga yang sudah disepakati.
Dengan segera, Axel langsung menhubungi om Juna dan Om Vico. Karena, mereka yang sudah lama bergelut di bidang bisnis dan belerja di perkantoran dengan jabatan ya g hisa dikatakan tinggi, pasti memiliki banyak jaringan dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai perusahaan. Sengaja Axel melakukan ini secara diam-diam. Karena, ia tak mau melibatkan papa Al yang mungkin ini sudah penuh pikirannya dengan berbagai masalah.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya om Vico memberi kabar melalui chat kalau dia mengenal salah satu dari mereka. Vico mengatakan, kalau dia adalah seorang direktur dari perusahaan elektronik yang kebetulan tempatnya tidak jauh dari perusahaan garmen peninggalan orangtua Queen yang kini dijalankan oleh Al.
Dengan semangat, Axel langsung menelfon om Vico. Karena jika hanya melalui via chat, rasanya tidak akan memberi jawaban yang maksimal.
"Halo, Om. Apakah kau tahu siapa namanya? Alamat atau nomor teleponnya?" tanya Axel terdengar sangat mendesak dan memaksa.
"Memangnya kenapa, Xel? Kau ada urusan dengan, nya? tanya Vico penasaran. Sebab Dia tidak tahu masalah apa yang telah menimpa Bilqis. Karena Al tidak bercerita sama sekali.
"Tidak, bukan aku. Tapi, ya bisa dikatakan seperti itu. Aku memang perlu menghubunginya secara pribadi. Aku ingin bertemu dengannya," jawab Axel.
"Dia bukan orang sembarangan, Xel. Jadi, om sarankan kalau memang tidak ada sesuatu yang mendesak, lebih baik jangan berurusan dengan orang itu," ucap Vico memperingati.
"Memang siapa dia, om? Dia hanyalah seekor bandot tua yang hanya bisa menindas yang lemah dan menjadikan uang adalah raja dalam hidupnya," jawab Axel.
Viko tidak langsung menjawab. Ia diam sesaat mencoba meresapi kalimat yang keluar dari bibir anak muda yang menelponnya. Kemudian ia mulai berkomentar, ,Sebenarnya ada apa? Sepertinya kau dendam sekali."
"Ya, bisa dikatakan begitu. Dia dan dua orang temannya melakukan kekerasan seksual pada Bilqis. menggilir nya dan juga main fisik Bilqis sempat depresi dan hampir bunuh diri."
"Apa sampai seperti itu? Bagaimana bisa? Bukankah Bilqis Itu anak baik-baik?" tanya Vico sedikit terkejut.
'Oh rupanya Papa Al tidak bercerita padanya,' batin Axel.
''Ya Om. Kejadiannya kemarin dan sekarang Bilqis berada di rumah papa dan mama."
"Lalu, bagaimana keadaan Biqlis sekarang, Xel? Al tidak beekata apa-apa padaku."
"Dia sudah lebih baik. Tidak apa-apa. Mungkin papa tidak ingin merepotkanmu, om."
"Baik. Om akan membantumu Om juga bisa menyewakan seorang bodyguard untuk menghajar mereka," tawar Vico untuk Axel.
*Tidak perlu, aku akan menghajarnya sendiri dengan tanganku di depan Bilqis. Agar dia tahu kalau aku benar-benar peduli padanya," jawab Axel tanpa sadar apa yang dia katakan membuat Vico salah paham dan mengerti kan dengan arti lain.
Tentu saja. Bagaimana, Tidak? Dia bilangnya seperti itu ingin menghajarnya sendiri di depan Bilqis agar Gadis itu tahu kalau dia benar-benar peduli bukan hanya omongan.
"Oh, oke. Tapi, orang-orang om akan berada di belakangmu, untuk antisipasi jika kau kalah dari anak buahnya. Karena setahu om mereka selalu memiliki bodyguard pribadi yang kemanapun mengikuti majikannya. Bukannya Om tidak percaya dengan kemampuanmu, sekali lagi Om katakan hanya untuk antisipasi.
"Baik Om terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Axel kemudian ia bermaksud mengakhiri panggilan nya. Tapi, dengan cepat vico mencegahnya.
"Tunggu, dulu! Apa, hubunganmu dengan Bilqis? Apakah kalian sudah falling love? Kau sudah membalas cintanya, ya?" tanya Vico sambil cengar-cengir.
__ADS_1
"Tidak. Jangan pernah berpikir begitu," jawab Axel. Kemudian pria itu benar-benar mematikan panggilannya. Dia enggan menanggapi ledekan dari om Vico yang sedari dulu selalu nyumpahin agar dia bisa jatuh cinta pada Bilqis.