Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 155


__ADS_3

"Dit, boleh aku ketemu Axel?" ucap Novita, perlahan mendorong tubuh Aditya dari pelukannya.


Tak ada jawaban dari pria itu. Ia hanya diam nampak waspada dengan permintaan Novita yang satu ini.


"Aku kangen sama dia, apakah dia tidak mencari ku? Apa yang kau khawatirkan dari pertemuan antara aku dan putra kita? Aku belum ajukan gugatan cerai, kan ke kamu?"


"Ya, ayo kita kesana bersama," ajak Aditya sambil menggandeng tangan Novita.


🍁🍁🍁🍁


"Dia itu terlalu berambisi untuk mendapatkan sosok yang diinginkannya. Sampai-sampai tanpa sadar hal itu membuatnya memaksakan apapun kehendaknya. Apakah anda tahu, seorang Psycopath? Meski sudah ada gejala sejak dini, tapi, tidak akan terjadi jika seseorang mengalami hal-hal tersebut," ucap seorang wanita, yang merupakan ahli psikologi seraya menunjukan beberapa text dari laptopnya.


"Lalu, apakah teman saya itu termasuk Psycopath, Bu?"


"Bisa jadi, sebab, atas laporan dari apa yang ia lakukan untuk mencapai ambisinya, dia sudah menghalalkan segala cara, Psycopath itu sejatinya tidak mencintai siapapun selain dirinya sendiri. Jadi, pesan saya, minta untuk wanita itu berhati-hati kepada teman anda, Tuan Alex. Sebab, ada kemungkinan kalau pria itu melakukan hal-hal di luar batas."


"Apakah Psycopath bisa menyakiti, Bu? Kan dia mencintai wanita itu," tanya Alex penasaran.


"Tentu bisa. Pernahkah anda mendengar sebuah cerita seorang yang terlalu mencintai wanita, atau wanita yang mencintai pria hingga di luar batas normal? Ia terlalu cemburu, posesif bahkan tidak ingin orang yang dicintainya dilihat atau melihat orang lain selain dirinya. Maka, timbulah ide-ide gila, orang itu menyekap orang yang dicintainya, bahkan sampai membunuh, menyimpan jasadnya, untuk dinikmati sendiri, Psycopath gemar menyiksa dan melukai orang lain demi kepuasan pribadinya.


Bahkan, mekipun orang yang dicintai itu sudah berbentuk mayat atau bahkan wujudnya hanya tinggal krangka, dia tetap menyimpan dan menganggapnya tetap hidup sebagai makhluk yang patuh padanya. Jadi, pak Alex, saya ingatkan sekali lagi, agar wanita itu harus lebih berhati-hati dan selalu waspada terlebih saat ada teman anda itu," ucap wanita paruh baya itu.


Setelah dirasa cukup, Alex pun pamit, dan mengariki konsultasinya.


Sepanjang perjalanan, Alex tdiak bisa berhilenti mengkhawatirkan keselamatan Quen. Sedangkan mengandalkan Diaz ia juga tidak bisa. Meskipun ia mencintai Quen, tapi dengan jarak yang jauh, bagaimana mungkin dia bisa menjaga dan melindungi queen setiap waktu.


Alek menggebrak keras setir mobilnya, ia merasa emosi atas apa yang telah terjadi kepada Quen juga dirinya. Andai saja ia mempercayai apa yang Queen dan keluarganya katakan dulu, pasti ia tidak dalam penyesalan seperti ini. Dan Quen akan tetap aman bersamanya.


Alex meraih ponsel yang ia letakan dinatas dasboard, ia menscrol kontak dan memanggil nomor bernama Diaz begitu menemukannya.


"Halo, Alex. Ada apa? Tumben menelfonku." Beruntung, tidak lama panggilan tersambung, pria itu langsung mengangkat telfon seluler nya.


"Kamu ada di mana? Ayo kita ketemu, ada yang ingin kubiarkan sama kamu," jawab Alex dengan nada tegas.


"Aku ada di tempat kerja, memang posisimu di mana Sekarang?"


"Aku sudah ada di sekitar jembatan Kiara condong, tidak jauh dari tempatmu, bisa bicara sekarang?"


"Baik, begini saja,  kamu cari tempat cafe, atau apa yang kiranya nyaman, lalu kau share lok, aku baru akan selesai limabelas menit lagi," jawab Diaz dengan tenang.


"Ok. Kurasa aku sudah menemukan tempat itu," jawab Alex lalu mematikan panggilannya.


Di sebuah cafe shop Alex membelokan mobilnya, setelah memarkir kendaraannya, ia pun memilih tempat duduk di pojokan yang agak jauh dari keramaian. Tak lupa, ia pun mengirim lokasinya melalui WhatsApp pada Diaz.


Alex memang tipe orang yang tenang dan sabar dalam segala situasi, termasuk menunggu. Selama apapun, ia jarang terlihat panik, atau merasa bosan.


Tapi beda hal nya dengan saat ini berkali-kali ia melihat ke arah jam tangannya. Padahal, ia baru lima menitan duduk di cafe ini. Sementara tadi, Diaz mengatakan kalau ia baru selesai limabelas menit lagi. Artinya, masih kurang sepuluh menitan. Itu pun kalau tidak ada kendala dan molor. Belum lagi perjalanan menuju ke tempatnya.


Di tengah kepanikannya, Seorang gadis berparas cantik, putih dengan wajah kearab-araban menyapanya.


"Kak, Alex. Bagaimana kau bisa di sini?"


Seketika Alex pun menoleh ke arah suara itu, dan melihat seorang wanita mengenakan baju berbahan rajut berwarna hijau pupus serta phasmina berbahan sifon dengan warna senada.


Alex tidak langsung menjawab sapaan wanita itu, ia memandang sebentar lalu matanya kembali teralihkan pada ponselnya yang berdenting.


Diaz: "Ok, ini aku perjalanan menuju ke sana. Tunggu aku sepuluh menit lagi, Lex."


Kembali Alex memandang ke arah gadis itu dan meletakan ponselnya di atas meja.


"Kamu, kenapa ada di sini?" tanya Alex, tanpa mempersilahkan gadis itu untuk duduk, atau berbasa babasi ngopi bersamanya.


"Aku sudah satu bulan tinggal di daerah sini, kak. Dan hari ini aku akan ada seminar dari tempat kerja di cafe ini, lalu kakak sendiri?"


"Aku cuma mau bertemu dengan seseorang saja, Ra."


"Di mana Quen kok tidak ikut?"


"Aku sudah bercerai sama dia, Ra." Alex menunduk, menyembunyikan kesedihan dan penyesalannya dari Zahara.

__ADS_1


"Oh, maaf, Kak. Aku sungguh benar-benar tidak tahu."


"Iya, tidak apa-apa," jawab Alex, singkat.


Merasa kehadirannya tidak begitu di terima, dan tak dipersilahkan untuk duduk, Zahara pun mengerti, kalau pria di depannya ini perlu sendiri dulu, jadi, ia menuju ke bagian sebelah kiri yang merupakan lesehan yang terdiri dari beberapa gazebo yang memang biasa digunakan untuk acara pertemuan, dan perayaan tertentu.


"Ya sudah, Kak. Aku ke tempat teman-teman dulu, mungkin mereka sudah menungguku," ucap Zahara, sambil tersenyum canggung.


'Apakah dia memang sedingin itu pada wanita, lalu, bagaimana bisa ia nampak begitu hangat dengan Quen dulu? Dan apa kira-kira yang membuat mereka sampai bercerai? Padahal dulu mereka terlihat seperti saling mencintai.


Ah, apaan sih, aku mikir apa coba?' batin Zahara.


Dari gazebo pun, gadis itu masih sering curi-curi pandang pada pria bule yang duduk mojok sendirian. Dari ekspresinya, ia nampak tak sabar menunggu orang yang akan ditemuinya. Bahkan rasa penasaran mulai muncul pada diri gadis itu.


Tapi, karena rapat sudah dimulai, Zahara tidak bisa terus menerus mencuri pandang ke arah Alex, sebab, ia adalah ketua panitianya. Jadi, ia memilih ambil posisi membelakangi Alex agar dpat konsentrasi dengan penuh.


"Maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama," sapa Diaz, lalu menarik kursi yang ada di depan Alex dan duduk di sana.


"Tidak masalah. Mau minum apa? Sengaja tadi tidak aku pesankan dulu, takut keburu dingin kalau itu kopi," ucap Alex.


"Tidak apa-apa. Aku mau jeruk hangat saja," jawab Diaz. "memang apa yang ingin kau bicarakan padaku?"


"Aku minta sama kamu agar kau lebih bisa menjaga Queen. Keselamatannya terancam saat ini. Jika kau tidak sanggup menjaganya, serahkan saja kembali dia padaku," ucap Alex dengan tegas dan serius.


Mendengar pertanyaan Alex yang terkesan merendahkan dirinya, jujur, Diaz merasa emosi, ia mengepalkan kedua tangannya yang sedari tadi ada di atas meja. Tapi, pria itu berusaha keras agar dapat mengendalikan emosinya.


"Apa maksudmu berkata seperti itu, Lex?" tanya Diaz sambil mengeratkan giginya.


"Kurasa sudah jelas. Sekarang keselamatan Quen telah terancam oleh dr.Aditya. apakah kau tahu, kalau dia pernah hampir diperkosa olehnya?" jawab Alex secara menyeringai.


Diaz nampak terkejut, ia menatap tajam pada pria di hadapannya.


"Kapan itu terjadi?"


"Heh, bahkan hal yang hampir merenggut harga diri wanita yang kau cintai saja kau tidak tahu. Apa pantas kau bersamanya?"


"Lex, kamu menemuiku untuk apa sebenarnya, kau meragukanku? Ya, tidak apa-apa. Karena aku memang ada di luar kota, tidak satu kota dengan Quen."


Kali ini Diaz benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Amarahnya benar-benar sudah meluap menganggap perkataan Alex itu sangat keterlaluan.


Diaz berdiri sambil menggebrak meja dan berkata dengan keras, "Kau tak punya malu, Lex, kau sadar apa yang kau katakan itu salah? Kau kira Queen itu barang yang bisa dengan mudahnya diserahkan kesana kemari sesuka hati? Kau ingat, kau ini bukan suaminya lagi, kalian sudah bercerai."


Sebenarnya Diaz ingin menonjok muka Alex saat itu juga. Tapi, ia sadar itu hanya akan memancing keributan dan perhatian pengunjung cafe. Beruntung Alex meminta bertemu di tempat umum, atau jika tidak ia akan menghajarnya.


Bersamaan dengan itu, tim Zahara tengah berdiskusi. Rupanya terikan Diaz lumayan lantang hingga terdengar sampai di tempatnya. Entah yang jaraknya tidak terlalu jauh, atau karena pengunjung kebetulan sepi, bahakn mungkin karena dua-duanya Zahara dapat sedikit menangkap perbincangan dua pria itu yang menyebutkan nama Quen.


"Kak, Diaz? Dia kenal sama Alex?" Gumam Zahara. Tapi, menangkap pemandangan aneh dari tatapan dua pria itu. Karena penasaran Zahara pun izin meninggalkan rapat, mendekati dua pria itu, agar tahu apa yang terjadi sebetulnya.


"Iya, aku memang sudah bercerai dengannya, tapi. Itu Quen yang menggugat ku duluan, sedangkan aku, aku tidak pernah menceraikan dia." Alex masih nampak tenang di kursnya. Ia bersandar sambil bersenduku memandang Diaz yang tengah emosi.


"Kau memang tidak mencerminkan dia, tapi, sikap dan perlakuan mu yang membuat dia tidak tahan!"


"Kau juga tahu, kan? Kalau itu bukan kemauanku? Aku begitu karena hilang kesadaran. Dan percaya apa yang Helena katakan. So, sekarang aku sudah ada dalam kesadaranku. Kurasa kau tahu, bagaimana perlakuan ku terhadap istriku sebelum kecelakaan itu menimpaku."


"Kau pikir Quen mau kembali sama kamu? Bukankah dia menolak saat kau mengajaknya rujuk?" jawab Diaz tak mau kalah.


"Kalau tidak dicoba siapa yang tahu? Saat itu dia lagi baper-bapernya sama kamu, kurasa dia wanita yang tahu balas budi. Saat ia dalam kondisi terpuruk kau kan yang ada dan mensupport dia selain kakaknya? Dan dia sadar kalau kau mencintainya juga, makanya kau mendukung dia bercerai denganku daripda menderita atas perlakuanku. Sekarang kita coba, kita bersaing secara jantan, dia pilih kemabali padaku, atau denganmu."


"Apa maksudmu?"


"Kau begitu berambisi, ya mengambil barang bekas dariku, sampai-sampai.... "


Sebuah tinjuan mendarat bebas tepat mengenai mulut Alex. Diaz dari tadi diam saat Alex menghinanya. Tapi ia tak tahan saat mendengar Quen disebut barang bekas.


"Kau jaga ucapanmu, Alex. Kau masih menigninkan Quen tapi mengatakan dia barang bekas. Kurasa otakmu memang rusak dan bermasalah pasca kecelakaan itu. Atau memang ini dirimu yang sebenarnya?"


Zahara menutup mulutnya dengan kedua mulutnya, ia terkejut melihat teman satu pesantrennya dulu saat SMP-SMA yang paling kalem dan lembut itu bisa bertindak seperti itu.


'Mereka saling mengenal dan tengah memperebutkan Quen? Beruntung sekali gadis itu, sudah memiliki kakak yang tampan dan sayang padanya, di sini dua pria ganteng bertengar pun juga demi dia,' batin Zahara.

__ADS_1


"Hehehe, tonjokanmu lumayan juga. Kukira pria lemas seperti mu tak bisa apa-apa." Alex mengusap darah yang mengalir dari ujung bibirnya dengan ibu jarinya seraya menyeringai.


"Ok, kurasa jelas sudah apa yang ingin aku sampaikan padamu. Mulai sekarang, kita bersaing. Aku tantang kamu," ucap Alex seraya menyeringai dan menunjukan jari tengahnya di dahapan Diaz. 


Diaz hanya diam dan memandang Alex dengan tatapan yang sukar dijelaskan.


'Kurasa aku tidak bisa menunggu sampah hari Minggu, aku akan mengatakannya pada Quen sekarang juga,' batin Diaz sambil merogoh sakunya mengambil. Tapi, sial, siapa sangka kalau ia lupa meninggalkan hpnya di dashboard mobil.


"Kak Diaz!"


Diaz menoleh ke belakang dan terkejut melihat Zahara ada di belakangnya.


"Zahara, kau sejak kapan berdiribdi situ?"


"Kamu kenal sama Alex?"


"Iya, apakah kau juga kenal?"


"Dia suaminya, Quen. Hubungan keluarganya sangat dekat dan baik dengan panti yang umikku urus."


"Oh, jadi kau kenal dengan dia karena dia suaminya Quen?" tanya Diaz.


"Iya, tadi kami sempat ngobrol sebentar karena aku ada rapat, aku juga kaget kalau dia sudah bercerai. Tapi, sepertinya dia ingin kembali dengan Queen."


Diaz menangkap kesalahpahaman dari Zahara. Dari cara bicara dan tatapannya yang terkesan mengintimidasi seolah mengatakan kalau mereka bercerai karena Diaz masuk dalam kehidupan mereka.


"Sini, duduk biar aku jelaskan, agar tidak terjadi salah paham," ucap Diaz pada teman sekelasnya dulu.


Diaz memang lebih tua dari Quen. Tapi, saat kiliah mereka satu angkatan sebab, Diaz pernah break lebih dari satu tahun untuk bekerja dan mengabdikan diri ke pesantren. Sampai akhirnya di ambillah beasiswa itu.


Zahara menoleh ke arah gazebo di mana timnya tengah berdiskusi, lalu ia pun duduk di depan Diaz.


"Aku cuma punya waktu sepuluh menit lagi, aku tidak punya banyak waktu, karena ku menjadi ketua rapat," ucap Zahara sambil menatap kearah Diaz.


Pria itu pun menarik nafas dalam-dalam sebelum memberi penjelasan kepada Zahara. Sekilas ia memandang zahara yang nampak tidak tenang duduknya seraya melirik ke arah gazebo tempat Zahara tadi memandang lalu mulai berkata, "Aku memang dari awal sudah menyukai Queen. Tapi, aku tidak tahu kalau sudah menikah. Aku baru tahu beberapa bulan setelahnya saat dia bilang kalau dirinya tengah hamil dan itupun juga juga saat dengan alex aku tidak pernah mendekati Queen lagi saat tahu kalau dia sudah menikah. Tapi, beberapa waktu kemudian Alex mengalami kecelakaan sampai lupa ingatan, tidak ingat dengan Queen. Dan memperlakukan wanita itu dengan sangat buruk sampai Quen tertekan hilang rasa cintanya lalu ia mengajukan cerai. dan saat itu kami mulai dekat.


Bahkan aku mengakui perasaanku juga setelah dia benar-benar di talak oleh Alex. Jadiz aku bukanlah pihak ketiga atau perusak rumah tangga mereka," ucap Diaz panjang lebar.


Zahara hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa kalau ia sudah paham.


Sebenarnya gadis itu sudah dengar banyak pembicaraan dari oertekaran mereka, tapi, tidak jelas selain memperebutkan Quen.


Zahara mengembuskan napas panjang, ia merasa lega, setidaknya pria yang ia kenal sebagai pria teladan tetap mempertahankan akhlaknya. Dia tetap menjadi orang baik tanpa merusak hubungan rumah tangga orang.


"Syukurlah kalau begitu, Kak. Ya udah, Aku balik ke sana dulu, ya?" ucap Zahara, berpamitan lalu, kembali ke gazebo tersebut. Sementara Diaz pun juga pergi meninggalkan cafe itu.


Diaz setengah berlari agar segera sampai di mobil. Dengan cepat ia menghubungi Queen. Entah dia tidak melihat jadwal. Kebetulan, Quen sedang sepi pasien jadi, ia dapat segera mengangkat panggilannya.


"Halo, Diaz. Ada apa?"


"Kamu lagi apa?"


"Ini di ruangan, lagi kerja, cuma pas sepi aja, basien yang datang banyakan yang ke dokter spesialis, hari ini. Aku kan masih dokter umum," jawabnya ceria.


Tidak mau mengukur wakru, Diaz pun langsung mengatakan apa yang ingin ia katakan hari Minggu nanti.


"Queen, kamu ingat gak, kalau aku tadi mau kasih kamu kabar besok hari Minggu?"


"Iya, kenapa?"


"Aku mau kasih tahu sekarang. Mau tidak?" Ucap Diaz.


"Ya, mau, Donk. Emang kabar apa?"


"Emmm aku, akan...tuut...tuuut...."


Diaz melihat ke arah ponselnya, sambbil menggerutu kesal.


"Sialan. Bahkan saking sibuknya aku seharian sampai tidak ingat untuk mengecas batrai hp ku?" umpatnya, kesal sambil melempar benda pipih itu ke kursi belakang.

__ADS_1


Pria itu jauh lebih kesal lagi saat menyadari bahkan kabel USB yang biasa ia gunakan untuk mengecas di dalam mobil pun juga tidak ada. Akhirnya, dengan hati kesal ia pun menghidpukan mesin mobil dan menuju ke rumahnya.


__ADS_2