Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 48


__ADS_3

 Sampai di dalam kamar


putra Alex dan Zahara Queen meminta untuk menggendong bayi yang kini berada di dalam box bayi tersebut.


Bayi dengan bobot 3,2kg itu sangat sehat, lucu dan tampan.


Hidungnya bangir mirip Zahara, dan sisanya mirip Alex. Ketika Zahara


mengangkatnya dari dalam box, bayi yang kebetulan tidak dibedong itu pun


mengeliat lucu sehingga warna kulit pada wajahnya berubah kemerahan.


“Dih, lucu banget, sih?” ucap Queen gemas Ketika bayi yang


baru berusia empat hari itu sudah berada dalam pangkuannya. “belum diberi nama,


ya? tapi, sudah ada rencana, kan mau dikasih nama siapa?” imbuhnhya lagi.


“Insyaallah, untuk nama, kami sudah menyiapkan. Kan menamainya masih


nanti, nunggu kalau dia sudah lepas pusarnya,” ucap Zahara sambil menoleh ke arah Alex.


Cukup lama mereka berlima berada di dalam kamar bayi Alex


dan Zahara yang bertema keropi dan serba hijau itu. tiba-tiba bibi datang dan mengetuk pintu mengatakan kalau makan malam untuk Zahara sudah siap.


“Maaf, Non. Makan malamnya sudah siap.” Ucap wanita paruh baya itu dengan menunduk. Masih


bertingkah seperti yang Zara minta beberapa bulan silam untuk tidak sok dekat dan akrab pada tamu, terutama Queen. Meskipun wanita itu sudah tahu, kalau yang


ketus dulu itu bukanlah Zahara. Melainkan Zara, adik dari istri majikannya yang


menyamar menjadi Zahara. Tapi, tetap saja, membuat wanita itu sepertinya


trauma. Karena wajah mereka bisa sama persis dan hampir tak memiliki celah perbedaan selain pada sifat. Itu membuatnya terus teringat saja.


“Nyiapin banyak tidak, Bi? Biar Queen suami dan anaknya ikut


makan juga,” jawab Zahara dengan lemah lembut, yang sudah jadi ciri khasnya. Logat bicara yang begini lah, yang sering membuat Zara kecolongan. Karena dia sendiri sebenarnya bukanlah orang yang kelem dan lemah lembut. Tapi, judes dan kasar.


“Iya, Non. Saya menyiapkan banyak,” jawabnya singkat.


Zahara hanya tersenyum saja. Dia baru hari ini kembali


kerumah, setelah pulang dari rumah sakit pasca melahirkan ia berada di panti untuk bantu mempersiapkan keperluan acara untuk tahlil, jadi belum sempat


mengobrol banyak dengan bibi pengurus rumah suaminya. Tapi, ia sudah bisa


menebak, pasti saudarinya sudah melakukan hal buruk terhadapnya juga, sehingga


ia nampak seperti orang yang trauma saja.


“Queen, Al. sama Berlyn temani aku makan malam, ya?” ajak


Zahara.


“Kebetulan sekali, kami ke sini tadi juga belum makan malam,”


canda Queen dan semuanya pun tertawa. Hubungan yang dulu sempat merenggang


karena adanya Zara kini semua sudah kembali normal dan kian erat dari


sebelumya.


****


“Adriel, belajarlah cepat sedikit, oke? Kita harus tepat


waktu, jangan sampai om Candra menunggu kita saat tiba nanti.”


“Ma, kau dari tadi selalu menyuruhku untuk gerak cepat.


Tapi, kau bahkan juga belum siap merias wajah. Aku sudah siap, sepatuku juga sudah


kupakai,” protes bocah berusia tujuh tahun itu sambil memandangi mamanya yang


terus mondar mandir ke sana ke mari mencoba baju yang akan ia kenakan.


“Oke, maafkan mama, Sayang. Coba kau lihat. Apakah ini


bagus?” tanya Novita minta pendapat putra kecilnya saat ia mengenakan dress

__ADS_1


berwarna putih tulang sepanjang lutut dengan kombinasi Mutiara di bagian


depannya.


“Bagus,” jawab anak itu singkat.


“Ah, aku tidak yakin sama kamu. Di mana kakakmu Axel?” tanya


wanita itu sambil beranjak ke luar kamar.


“Sudah, itu saja. Pas untuk menemui calon mertua,” timpal


Axel. Padahal belum juga Novita keluar. Pas kebetulan saja, Axel melintas di


depan kamar mamanya yang kebetulan tidak di tutup.


“Benarka, Xel?’ tanya Novita ragu. Seperti remaja yang baru


pertama kali ingin bertemu dengan kedua orangtua dari pacarnya saja. Dandan bena-benar dimaximalkan.


“Baiklah, jadi pakai ini saja, ya? apakah tidak terlalu rame, Xel?”


“Ting tong!”


Seketika semua terdiam Ketika mendengar suara bel rumah


berbeunyi. Jelas itu Candra, siapa lagi.


“Tuh, sudah datang. Mau ganti yang bagaimana lagi?” Axel pun


berlalu meninggalkan kamar mamanya.


Buru-buru Novita keluar kamar menuju ruang tamu dan membukakan pintu.


“Masuk, Ndra!” ia sedikit malu-malu sambil menunduk menyembunyikan


wajahnya yang sudah dipoles mekap. Meskipun tipis dan terkesan natural, tetap saja ia merasa malu karena sebelumnya dia juga tidak pernah seperti itu.


C


“Masuk, Ndra. Kok bengong, sih?” ucap Novita untuk yang


kedua kalinya.


Novita hanya tersipu malu menyembunyikan pipinya yang


memerah.


Tanpa menunggu lagi, Candra masuk ke dalam rumah tersebut.


Di sana ia juga sudah menjumpai Adriel yang sudah berpakaian rapi.


“Hay, good boy. Apakah kau sudah siap untuk bertemu dengan


calon nenekmu?” sapa Candra sambil berjongkok memeluknya.


Adriel hanya tersenyum malu-malu saja. Sifat


kekanak-kanakkannya sudah hampir menghilang, dia lebih banyak diam dan


cenderung cool. Walau tak separah kakaknya juga. tapi, intinya semakin


bertambah usia, dia kian berubah cenderung jadi pribadi yang pendiam. Namun, tetap ramah.


“Di mana kakakmu Axel? Apakah dia benar-benar tidak bisa


ikut mala mini?” tanya Candra meyakinkan.


“Katanya, lain kali saja dia akan ikut. Sekarang dia sedang


banyak tugas,” jawab Adriel polos.


“Baiklah, tidak masalah.” Candra kembali berdiri dan


mengajak Novita untuk berangkat saat itu juga. selama perjalanan Novita juga banyak diam. Mungkin dia canggung saja, dan bingung apa yang akan dijadikan topik pembicaraan.


“Kok diem saja, sih?”


“Tidak apa-apa,” jawab Novita sambil tersenyum.


“Kenapa? Sariawan, ya? sayang sekali, mama ku doyan banget

__ADS_1


makanan pedas.” Candra menoleh sebentar ke arah Novita lalu kembali fokus pada


jalan raya.


“Kamu, apaan, sih?” Novita seketika tertawa sambil memukul


lengan Candra.


“Lagian diem terus. Kenapa, sih? Nervous?”


“Gak, kok.”


“Bohong. Kamu pasti lagi mikir, apa kira-kira topik yang pas


untuk dibincangkan dengan mama ku, bukan?”


“Sejak kapan kau jadi peramal?” jawab Novita lalu keduanya


sama-sama tertawa.


Mobil melaju dengan cepat. Tak lama kemudian, mobil rush


putih yang mereka bertiga kendarai sudah berhenti di sebuah parkiran restoran


terbaik di daerah sana.


“Ayo cepat sedikit. Mamaku sudah tiba katanya,” ucap Candra


sambil menggandengan tangan Novita. Sementara tangan kanannya ia gundakan


untuk menggendong Adriel. Tak peduli, anak itu sudah sebesar apa, Candra tetap


saja mau menggendongnya.


Di sebuah kursi pojok, duduk seorang wanita paruh baya


menegnakan gaun malam berwarna ungu terong yang panjangnya sampai menyentuh


lantai. Dia duduk membelakangi Novita dan juga Candra yang baru saja tiba.


Sehingga Novita belum melihat wajah wanita tersebut. Meskipun dari belakang, Novita


sudah bisa menebak kalau wanita itu cantik dan modish.


“Mama. Apakah kau sudah lama menunggu?”


Seketika wanita itu menoleh ke belakang. Kemudian berdiri


dan menyambut mereka dengan senyuman lebarnya.


‘Astaga? Benar ini mamamnya Candra? Masih terlihat sangat


muda, seperti kakaknya saja,’ batin Novita. Membuat ia malu dan kian canggung saja.


“Mama baru saja samapai. Ini, ya Novita? Mari, duduk,”


sambut wanita itu dengan ramah. Sungguh, Novita sedikitpun tidak pernah menduga


kalau mamanya Candra bisa sangat baik dan mudah akrab begini. Karena, ia menyadari, Candra masih bujang dan dia sudah janda beranak dua.


“Iya, Tante,” jawab wanita itu dengan malu-malu.


“Apa? Kenapa memanggilku tante? Apakah kau tidak mau sama


anakku?” jawab wanita itu. Lagi-lagi, sedikitpun Novita tidak menduganya sama sekali. Ia berfikir kalau mama dari Candra adalah wanita yang sulit. Tapi,


tunggu. Siapa Candra itu sebenarnya. Yang dia tahu selama ini dia hanyalah seorang


karyawan yang bekerja di perusahaan Al. tapi, kenapa gaya berpakaian mamanya


seperti sangat elit sekali? Mulai dari baju, aksesories semua kayaknya ori. Bukan imitasi. Tas dan sepatu juga branded.


“maaf, Ma.”


“Nah gitu, dong. Biar aku tebak, ini pasti Adriel, ya?”


“Iya, Ma. Benar.”


“Lalu, di mana Axel? Kenapa dia tidak ikut?” wanita itu


mengedarkan padangannya ke luar. Ia berfikir kalau Axel juga ikut dan masih berada di belakang.

__ADS_1


"Axel tidak ikut, Ma. mungkin lain kali," jawab Novita lirih. Segera memberitahu calon mertuanya.


"Oh, ya sudah. Tidak masalah. Dia sibuk dengan soal ujian nasional, ya? Belajar terus?" Seketika wanita itu duduk sambil tersenyum manis, dan benar-benar tulus tidak dibuat-buat.


__ADS_2