
Sampai di dalam kamar
putra Alex dan Zahara Queen meminta untuk menggendong bayi yang kini berada di dalam box bayi tersebut.
Bayi dengan bobot 3,2kg itu sangat sehat, lucu dan tampan.
Hidungnya bangir mirip Zahara, dan sisanya mirip Alex. Ketika Zahara
mengangkatnya dari dalam box, bayi yang kebetulan tidak dibedong itu pun
mengeliat lucu sehingga warna kulit pada wajahnya berubah kemerahan.
“Dih, lucu banget, sih?” ucap Queen gemas Ketika bayi yang
baru berusia empat hari itu sudah berada dalam pangkuannya. “belum diberi nama,
ya? tapi, sudah ada rencana, kan mau dikasih nama siapa?” imbuhnhya lagi.
“Insyaallah, untuk nama, kami sudah menyiapkan. Kan menamainya masih
nanti, nunggu kalau dia sudah lepas pusarnya,” ucap Zahara sambil menoleh ke arah Alex.
Cukup lama mereka berlima berada di dalam kamar bayi Alex
dan Zahara yang bertema keropi dan serba hijau itu. tiba-tiba bibi datang dan mengetuk pintu mengatakan kalau makan malam untuk Zahara sudah siap.
“Maaf, Non. Makan malamnya sudah siap.” Ucap wanita paruh baya itu dengan menunduk. Masih
bertingkah seperti yang Zara minta beberapa bulan silam untuk tidak sok dekat dan akrab pada tamu, terutama Queen. Meskipun wanita itu sudah tahu, kalau yang
ketus dulu itu bukanlah Zahara. Melainkan Zara, adik dari istri majikannya yang
menyamar menjadi Zahara. Tapi, tetap saja, membuat wanita itu sepertinya
trauma. Karena wajah mereka bisa sama persis dan hampir tak memiliki celah perbedaan selain pada sifat. Itu membuatnya terus teringat saja.
“Nyiapin banyak tidak, Bi? Biar Queen suami dan anaknya ikut
makan juga,” jawab Zahara dengan lemah lembut, yang sudah jadi ciri khasnya. Logat bicara yang begini lah, yang sering membuat Zara kecolongan. Karena dia sendiri sebenarnya bukanlah orang yang kelem dan lemah lembut. Tapi, judes dan kasar.
“Iya, Non. Saya menyiapkan banyak,” jawabnya singkat.
Zahara hanya tersenyum saja. Dia baru hari ini kembali
kerumah, setelah pulang dari rumah sakit pasca melahirkan ia berada di panti untuk bantu mempersiapkan keperluan acara untuk tahlil, jadi belum sempat
mengobrol banyak dengan bibi pengurus rumah suaminya. Tapi, ia sudah bisa
menebak, pasti saudarinya sudah melakukan hal buruk terhadapnya juga, sehingga
ia nampak seperti orang yang trauma saja.
“Queen, Al. sama Berlyn temani aku makan malam, ya?” ajak
Zahara.
“Kebetulan sekali, kami ke sini tadi juga belum makan malam,”
canda Queen dan semuanya pun tertawa. Hubungan yang dulu sempat merenggang
karena adanya Zara kini semua sudah kembali normal dan kian erat dari
sebelumya.
****
“Adriel, belajarlah cepat sedikit, oke? Kita harus tepat
waktu, jangan sampai om Candra menunggu kita saat tiba nanti.”
“Ma, kau dari tadi selalu menyuruhku untuk gerak cepat.
Tapi, kau bahkan juga belum siap merias wajah. Aku sudah siap, sepatuku juga sudah
kupakai,” protes bocah berusia tujuh tahun itu sambil memandangi mamanya yang
terus mondar mandir ke sana ke mari mencoba baju yang akan ia kenakan.
“Oke, maafkan mama, Sayang. Coba kau lihat. Apakah ini
bagus?” tanya Novita minta pendapat putra kecilnya saat ia mengenakan dress
__ADS_1
berwarna putih tulang sepanjang lutut dengan kombinasi Mutiara di bagian
depannya.
“Bagus,” jawab anak itu singkat.
“Ah, aku tidak yakin sama kamu. Di mana kakakmu Axel?” tanya
wanita itu sambil beranjak ke luar kamar.
“Sudah, itu saja. Pas untuk menemui calon mertua,” timpal
Axel. Padahal belum juga Novita keluar. Pas kebetulan saja, Axel melintas di
depan kamar mamanya yang kebetulan tidak di tutup.
“Benarka, Xel?’ tanya Novita ragu. Seperti remaja yang baru
pertama kali ingin bertemu dengan kedua orangtua dari pacarnya saja. Dandan bena-benar dimaximalkan.
“Baiklah, jadi pakai ini saja, ya? apakah tidak terlalu rame, Xel?”
“Ting tong!”
Seketika semua terdiam Ketika mendengar suara bel rumah
berbeunyi. Jelas itu Candra, siapa lagi.
“Tuh, sudah datang. Mau ganti yang bagaimana lagi?” Axel pun
berlalu meninggalkan kamar mamanya.
Buru-buru Novita keluar kamar menuju ruang tamu dan membukakan pintu.
“Masuk, Ndra!” ia sedikit malu-malu sambil menunduk menyembunyikan
wajahnya yang sudah dipoles mekap. Meskipun tipis dan terkesan natural, tetap saja ia merasa malu karena sebelumnya dia juga tidak pernah seperti itu.
C
“Masuk, Ndra. Kok bengong, sih?” ucap Novita untuk yang
kedua kalinya.
Novita hanya tersipu malu menyembunyikan pipinya yang
memerah.
Tanpa menunggu lagi, Candra masuk ke dalam rumah tersebut.
Di sana ia juga sudah menjumpai Adriel yang sudah berpakaian rapi.
“Hay, good boy. Apakah kau sudah siap untuk bertemu dengan
calon nenekmu?” sapa Candra sambil berjongkok memeluknya.
Adriel hanya tersenyum malu-malu saja. Sifat
kekanak-kanakkannya sudah hampir menghilang, dia lebih banyak diam dan
cenderung cool. Walau tak separah kakaknya juga. tapi, intinya semakin
bertambah usia, dia kian berubah cenderung jadi pribadi yang pendiam. Namun, tetap ramah.
“Di mana kakakmu Axel? Apakah dia benar-benar tidak bisa
ikut mala mini?” tanya Candra meyakinkan.
“Katanya, lain kali saja dia akan ikut. Sekarang dia sedang
banyak tugas,” jawab Adriel polos.
“Baiklah, tidak masalah.” Candra kembali berdiri dan
mengajak Novita untuk berangkat saat itu juga. selama perjalanan Novita juga banyak diam. Mungkin dia canggung saja, dan bingung apa yang akan dijadikan topik pembicaraan.
“Kok diem saja, sih?”
“Tidak apa-apa,” jawab Novita sambil tersenyum.
“Kenapa? Sariawan, ya? sayang sekali, mama ku doyan banget
__ADS_1
makanan pedas.” Candra menoleh sebentar ke arah Novita lalu kembali fokus pada
jalan raya.
“Kamu, apaan, sih?” Novita seketika tertawa sambil memukul
lengan Candra.
“Lagian diem terus. Kenapa, sih? Nervous?”
“Gak, kok.”
“Bohong. Kamu pasti lagi mikir, apa kira-kira topik yang pas
untuk dibincangkan dengan mama ku, bukan?”
“Sejak kapan kau jadi peramal?” jawab Novita lalu keduanya
sama-sama tertawa.
Mobil melaju dengan cepat. Tak lama kemudian, mobil rush
putih yang mereka bertiga kendarai sudah berhenti di sebuah parkiran restoran
terbaik di daerah sana.
“Ayo cepat sedikit. Mamaku sudah tiba katanya,” ucap Candra
sambil menggandengan tangan Novita. Sementara tangan kanannya ia gundakan
untuk menggendong Adriel. Tak peduli, anak itu sudah sebesar apa, Candra tetap
saja mau menggendongnya.
Di sebuah kursi pojok, duduk seorang wanita paruh baya
menegnakan gaun malam berwarna ungu terong yang panjangnya sampai menyentuh
lantai. Dia duduk membelakangi Novita dan juga Candra yang baru saja tiba.
Sehingga Novita belum melihat wajah wanita tersebut. Meskipun dari belakang, Novita
sudah bisa menebak kalau wanita itu cantik dan modish.
“Mama. Apakah kau sudah lama menunggu?”
Seketika wanita itu menoleh ke belakang. Kemudian berdiri
dan menyambut mereka dengan senyuman lebarnya.
‘Astaga? Benar ini mamamnya Candra? Masih terlihat sangat
muda, seperti kakaknya saja,’ batin Novita. Membuat ia malu dan kian canggung saja.
“Mama baru saja samapai. Ini, ya Novita? Mari, duduk,”
sambut wanita itu dengan ramah. Sungguh, Novita sedikitpun tidak pernah menduga
kalau mamanya Candra bisa sangat baik dan mudah akrab begini. Karena, ia menyadari, Candra masih bujang dan dia sudah janda beranak dua.
“Iya, Tante,” jawab wanita itu dengan malu-malu.
“Apa? Kenapa memanggilku tante? Apakah kau tidak mau sama
anakku?” jawab wanita itu. Lagi-lagi, sedikitpun Novita tidak menduganya sama sekali. Ia berfikir kalau mama dari Candra adalah wanita yang sulit. Tapi,
tunggu. Siapa Candra itu sebenarnya. Yang dia tahu selama ini dia hanyalah seorang
karyawan yang bekerja di perusahaan Al. tapi, kenapa gaya berpakaian mamanya
seperti sangat elit sekali? Mulai dari baju, aksesories semua kayaknya ori. Bukan imitasi. Tas dan sepatu juga branded.
“maaf, Ma.”
“Nah gitu, dong. Biar aku tebak, ini pasti Adriel, ya?”
“Iya, Ma. Benar.”
“Lalu, di mana Axel? Kenapa dia tidak ikut?” wanita itu
mengedarkan padangannya ke luar. Ia berfikir kalau Axel juga ikut dan masih berada di belakang.
__ADS_1
"Axel tidak ikut, Ma. mungkin lain kali," jawab Novita lirih. Segera memberitahu calon mertuanya.
"Oh, ya sudah. Tidak masalah. Dia sibuk dengan soal ujian nasional, ya? Belajar terus?" Seketika wanita itu duduk sambil tersenyum manis, dan benar-benar tulus tidak dibuat-buat.