Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 23


__ADS_3

Quen mengeliat malas di atas ranjangnya. Dengan sisa tenaganya yang masih lemas efek bangun tidur diraihnya ponsel di atas nakas yang tengah berdering.


"Halo." Dengan mata terpejam gadis itu mengangkat panggilannya sambil mengucek2 sebelah matanya.


"....."


"Hah, apa? Ada kuliah hari ini? Dadakan banget?"


Quen lansung melempar ponselnya tanpa mematikan panggilan dari Gea.


Segera dia berlari ke kamar mandi di dalam kamarnya.


"Sialan, dadakan banget sih? Mana dosen killer lagi yang ngajar," gerutu Quen sambil berjalan sempoyongan karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Sementara di benaknya kebayang wajah pak Nugroho si dosen yang ditakuti siswanya.


"Aduuh!" pekik Quen sambil tersungkur. Dia tidak sadar kalau pintu kamar mandi masih ditutup sementara dia asal lari dan terjang saja.


Dengan susah payah dia pun berdiri dan masuk ke dalam untuk mandi.


Dengan buru-buru pula Quen berlari menuruni tangga sampai hampor terjatuh.


"Hati-hati, Quen! Kau mau ke mana?" tanya Andreas ketika menikmati secangkir teh di ruang tamu bersama Vivian.


"Mau ke kampus kek, kabar juga dadakan katanya sore, tiba-tiba siang."


"Ya sudah, kakek anter dari pada nanti nyetir sendiri bahaya lo!" Andrean pun bangkit dari duduknya dan beranjak ke garasi mobil.


"Nek, Quen kuliah dulu, ya?" gadis itu pun berjalan keluar.


Selama perjalanan menuju kampus tak henti-hentinya Quen menguap bahkan sampai ketika turun dari mobil pun.


"Hati-hati, nanti dijemput jam berapa?" tanya Andrean dari dalam mobil.


"Gampang dah, Kek. Nanti kalau tidak ada yang kasih tumpangan biar Quen telfon kakek saja," ucap Quen lalu berlari menasuki pagar kampusnya.


Quen melirik arloji di pergelangannya. Ternyata masih ada wamtu sepuluh menit untuk mulai mata kuliah. Jadi, dia bermaksut ke kantin dulu untuk membeli kopi cup.


"Berapa, Bu?" ucap Quen begitu menerima satu cup kopi hitam dari penjual di kantin.


Tapi, saat ia sibuk mengambil dompet dari dakam totebacknya, seorang pria juga membeli kopi dan membayar sekalian miliknya.


"Udah, Bu. Jadi lunas ya sama milik mbak Ini," ucap Pria itu.


Karena penasaran Quen mendongak dan melihat ke arah pria itu, "Alex."


Pria itu tersenyum ke arah Quen dengan.


"Hay, apa kabar kamu? Sejak kapan suka ngopi?" tanyanya sangat hangat.


"Tidak suka banget, sih. Buat ilangin ngantuk saja, kamu jam siang juga?" tanya Quen berusaha tidak canggung.


"Nggak. Aku sudah selesai." Lagi-lagi pria itu menunjukan senyuman khasnya yang penuh dengan kharismatik.


"Ya udah, aku masuk dulu, ya? BTW makasih kopinya," ucap Quen sambil tersenyum dan mengangkat gelasnya sedikit ke arah Alex.


Usai mata pelajaran Quen keluar bersama Gea, sementara Bela sudah keluar duluan.


"Queen!"


Kedua gadis itu menoleh ketika mendengar suara pria memanggil nama salah satu dari mereka.


"Alex, itu ya? Kata Bela dia dulu mantan kamu, bener?" bisik Gea.


Sementara Alex berlari menghampirir mereka.


"Kau tadi di antar, kan? Dan belum dijemput? Aku antar, yuk!" tawar Alex.


Quen hanya diam dipandangnya Gea berharap memberinya tumpangan. Tapi, malah di luar dugaan.


"Sudahlah, sana mumpung ada yang anter! Aku buru-buru soalnya. Daaa." Gea pun berlari meninggalkan Quen dan Alex berdua.


"Geaaa! Tunggu!" teriak Quen agak tertahan.


"Sudahlah, ayo!" Tiba-tiba Alex merangkul pundak Quen. Dan anehnya, gadis itu diam saja, hanya menurut tanpa memberi perlawanan.


Sepanjang perjalanan naik motor, Quen hanya banyak diam, entah apa yang mau dibicarakan. "Boncengan naik motor sama mantan? Hah, sungguh konyol sekali," umpat Quen dalam hati.


"Kamu sudah makan belum?"


"Apa?" tanya Quen seraya mendekatkan kepalanya ke kepala Alex.


"Sudah makan belum?" tanya Alex sekali lagi, dengan suara lebih keras.


"Belum." Kembali Quen duduk dengan posisi semula.


Beberapa meter kemudian Alex membelokan motornya dan berhenti di sebuah KFC.


"Kita makan ayam saja, ya?" ucap Alex sambil membantu Quen melepaskan helmetnya.


Lagi-lagi gadis itu tidak menjawan apapun. Dan berjalan mengekor di belakang Alex.


"Kamu mau makan apa? Lihat! Pilihannya banyak," ucap Alex sambil memberi tahukan daftar menu.


"Terserah kamu saja."


"Jangan gitu, donk!"


"Aku pesan sama seperti yang kamu pesan saja kalau begitu," jawan Quen sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ok, baiklah."


Tak lama kemudian datang pramusaji dengan dua burger, dua porsi nasi, paha ayam, juga dua porsi kentang dan dua botol teh dingin.


"Alex, banyak banget?" ucap Quen melongo melihat menu yang memenuhi meja.


"Tenang saja, jika tidak habis, Biar aku yang habisin," ucap Alex yang membuat Quen teringat bayangan masa lalu saat keduanya masih pacaran.


---


"Ayo kamu makan dulu ini!"


"Sudah, aku gak habis." Kedua tangan gadis itu menutupi mulutnya sambil sesekali kepalanya bergeleng menolak.


"Ayo! Satu suap aja, aku suapin. Nanti sisanya biar aku yang makan!" Paksa pria itu sambil terus berusaha memberi sepotong stik pada garpu mendekatkan ke bibir wanita di depannya.


"Beneran, Lex. Perutku sudah penuh," keluh gadis itu dengan tampang memelas.


"Sesuai perjanjian jika kamu nolak aku suapin, aku ciun kamu sekarang juga di sini!" ancamnya dengan wajah serius.


Akhirnya gadis itupun mengalah, dengan nada manja ia berkata, "Suapinnya pake tangan aja donk!"


Begitu Alex menyuapi pakai tangan ternyata gadis itu malah menggigit jari Alex. Dan dia pun tertawa tak peduli kekasihnya meringis kesakitan.


"Quen...  Ini sakit banget sayang!"


Pria itu meniupi telungjuk dan ibu jarinya yang digigit Quen sambil menahan sakit. Lalu menghabiskan sisa makanan Quen yang hanya dimakan setengahnya saja setiap porsi, kecuali kentang goreng.


---


Mengingat itu, Quen menyeringai  seorang diri, dan merasakan di dalam dadanya berdebar-debar. Namun, ia kembali sadar kalau kenyataannya pria di depannya hanyalah bagian kecil dari masa lalunya.


Selama makan sore itu Quen merasa ada perubahan besar pada diri Alex, dua sekarang lebih dewasa dan bijak sana. Entah dari mana dia bisa menyimpulkan hal itu. Setelah lebih dari tahun tidak bertemu dan beberapa hari lalu sempat datang kerumah bersama Gea.


Dan lagi, semenjak putus dengan Helena dia juga tidak pernah ada kabar pacaran atau pun sekedar dekat dengan wanita lain.


'Jangan sampai aku CLBK sama dia, deh,' batin Quen.


"Alex, aku lagi malas makan nasi, biar aku makan burger dan teh nya saja, ya?" ucap Quen karena tidak ingin Alex memakan sisanya seperti dulu.


"Kenapa? Ya sudah tidak apa-apa kamu bisa makan apa yang kamu mau saja," ucap Alex tegas dan penuh karismatik.


Quen memandangi burger di hadapannya, sepertinya dia salah ambil keputusan, dia menyesal, kenapa baru sadar kalau lapisan burger ini begitu banyak? Ada chese, daging pety yang tebal, telur mata sapi, belum lagi kiyuri, tomat dan slada. Astagaaa bagaimana cara mengigitnya kalau begini?


Quen menepuk jidadnya sendiri. Dan akhirnya mau tak mau ia pun memakan burger yang sangat. Tinggi itu.


Dan.... Saus seta mayonaisenya blepotan di sampai ke pipinya. Alex melihat itu hanya tertawa kecil. Dengan tatapan yang memabukan serta penuh kasih sayang, pria itu membersihkan mulut dan pipi Quen dengan sapu tangan yang dia keluarkan dari saku celananya.


"Tidak perlu buru-buru. Jika kau takut dimarahu mamamu, aku akan tanggung jawab nanti, mengantarkanmu sampai dalam rumah," ucap Alex dengan lembut.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Tangan Quen malah memegang punggung tangan Alex yang masih di wajahnya.


Suasana semakin tidak keruan.


Alex diam-diam meperhatikan Quen yang banyak berubah. Entah sejak kapan dia menjadi lebih banyak diam.


'Quen, ada apa dengan mu?' batin Alex.


Usai makan, Quen juga tidak nenolak ketika tangannya digandeng sampai ke paekiran. Bahkan Alex lah yang memasangkan Helmet Quen.


Alex tersenyum saat kedua lengan Quen melingkar di pinggangnya, bahkan tangan kirinya masih sempat memegang tangan Quen memberi isyarat agar berpegangan lebih erat.


'Ada apa denganmu Quen? Apakah kau diam-diam masih mencintainya? Lalu bagaimana dengan perasaan terhadap pak Aditya? Suka atau kagum? Tapi, aku selalu senang jika banyak ngobrol dengan beliau. Astagaaa sadar Quen! Ini mantan, dan Aditya suami orang,' umpat Quen dalam hati.


Tak lama kemudian keduanya sampai di depan gerbang rumah Quen, Quen turun dan memberikan Helmt yang dia pakai kepada Alex.


"Terimakasih ya?"


Alex tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengangguk kecil.


Quen melihat Alex melesat sampai hilang dari pandangan lalu dia masuk ke dalam rumah.


"Sudah pulang kau Sayanga?" sapa Vano, rupanya dia juga baru pulang dari kantor karena ia masih mengenakan kemeja dan dasinya juga masih melingkar di lehernga, meskipun tidak rapi.


"Papa!" Quen mendekati Vano dan mencium tangannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Vano dengan tatapan menyelidik.


"Iya, Pa." Quen mengalihkan pandangan dari papanya, tidak berani memandang.


"Kau kenapa? Sakit?" tanyanya kagi sambil menyentuh kening putrinya.


"Quen ke kamar dulu ya, Pa?" gadis itu pun langsung nenuju tangga ke kamarnya.


Vano hanya diam di tempatnya memperhatikan perubahan pada anak gadisnya yang tiba-tiba saja berubah banyak diam.


🌸 🌸 🌸 🌸


"Ayah, Ibu. Lyli akan kembali bekerja pagi ini," ucap Lyli di depan pintu dapur dengan pakaian yang sudah rapi.


"Secepat itu, Nak?" tanya Rika. Sambil menyiapkan sarapan nasi goreng dan telur dadar.


"Kasian majikan jika harus mengerjakan sendiri. Terlebih nona Quen," jawab Lyli menunduk.


"Ya sudahlah. Ayo kita sarapan dulu," ucap ayahnya Lyli.


Usai sarapan Lyli pun segera kembali ke tempat ia bekerja, sementara di rumah tinggal kedua orang tuanya saja.

__ADS_1


Keduanya duduk dan saling pandang.


"Rika, apa kau yakin dengan dugaanmu?" tanya Diki.


"Tidak tahu, Mas. Tapi aku merasakan ada sesuatu pada dirinya, dan lebih tanda itu sangat membuatku seolah semakin yakin."


"Ya sudah, cepat katakan sebelum terlambat!"


"Aku bingung bagaimana memulainya, aku takut salah, Mas."


"Kita lakukan saja penyelidikan perlahan mulai saat ini."


Sekitar pukul tujuh pagi Lyli tiba di rumah bosnya. Dia melihat Quen tengah menyirami tanaman.


"Selamat pagi Nona, Quen," sapa Lyli.


"Pagi, kak Lyli sudah sampai?" jawan Quen antusias. Sambil tersenyum karena tahu apa yang biasa Lyli bawa sepulang dari rumah orang tuanya.


"Saya bawa getuk singkong banyak, lo, Non," ucap Lyli.


Dengan segera Quen mematikan kran air dan ikut masuk ke dalam.


Di dapur, Quen memakan getuk buatan ibunya Lyli dengan memberi banyak parutan kelapa. Makanan ino memang sederhana, tapi, Quen sangat menyukainya.


🌸 🌸 🌸


Hari ini Quen jawdal kuliah siang. Kebetulan dosen yang mengisi adalah pak Aditya.


Selama mata kuliah berjalan semuanya normal. Tidak ada perasaan aneh yang Quen rasakan saat makan bersama di Caffe milik om Reza.


'Ah, mungkin aku suka perlakuan istimewa dari laki-laki. Karena aku terbiasa mendapatkan dari kak Al. Sementara saat ini, kak Al sudah jarang ada waktu untukku apalagi jika sudah menikah,' batin Quen.


Quen berjalan meninggalkan kelas saat pelajaran usai, dia herada di barisan bekakang, walau tidak paling belakang. Masih ada sekitar tiga orang di belakangnya.


"Quen, tunggu dulu!" Seru Aditya dari kursinya.


Otomatis Quen pun berhenti dan memutar badannya ke meja dosen.


"Ada apa, Pak?"


"Apa kau bawa mobil sendiri hari ini?"


"Tidak, tadi saya diantar Papa," jawab Quen, jujur.


Aditya mengangguk-angguk.


"Bersedia Bapak antar?"


"Jangan repot-repot, Pak. Biar Quen nunggu Papa saja atau pesan taxi online," jawab Quen buru-buru karena sungkan.


"Tidak apa-apa, kita searah kok kayaknya," jawab Aditya sambil memasukan berkas ke dalam tas.


"Memang Bapak mau ke mana?"


"Ke rumah rekan."


Quen merasa canggung. Tak tahu mau mengobrol tentang apa dengan dosennya, meski ia tak lagi gerogi seperti kemarin.


"Quen, kamu sudah punya pacar belum?"


Quen menoleh cepat ke kanan melihat Aditya yang tengah memegang kemudi.


"Belum, Pak. Kenapa?" tanya Quen dengan wajah heran.


"Tidak apa-apa. Memang Bapak perhatiin kamu gak pernah terlihat spesial dengan cowok, ya? Tidak kaya cewek lain." Mata Adityantetus fokus ke depan melihat jalan raya.


"Makasih, Pak." Quen tertawa renyah yang terdengar sexy bagi Aditya.


"Untuk apa?" Kali ini giliran Aditya yang menoleh ke arah Quen. Dan keduanya saling tatap.


"Atas perhatiannya," ucap Quen sambil tersenyum.


"Kamu pernah pacaran tidak?"


"Ya dulu pas SMA, tp enam bulan kami putus."


Aditya mengerutkan kening.


"Cuma dengan satu pria saja? Kamu gagal move on?"


"Tidak, kejadiannya pas kami kelas dua SMA. Saya rasa, saya harus serius belajar agar bisa mewujudkan impian saja dulu. Ntar kalau dah jado dokter kaya Bapak juga banyak yang mau," jawab Quen sambil tertawa.


"Bisa aja kamu, Quen!"


"Seriuskan, Pak? Banyak kan wanita cantik yg naksir anda, anda tampan dan mapan," celetuk Quen ceria.


"Lalu, kamu termasuk dalam wanita yang mau sama saya tidak?" tanya Aditya dengan sorot mata yang tajam.


"Kok Bapak nanya gitu?"


"Kamu bilang tadi saya tampan kamu suka sama saya?"


"Pak, stop! Itu cat putih dan kuning emas rumah saya," Seru Quen tak hiraukan pertanyaan Aditya.


"Makasih ya Pak, daaa. Hati-hati."


Quen segera masuk ke dalam rumah, hari ini sangat gerah membuat tubuhnya terasa lengket dan gerah.

__ADS_1


__ADS_2