
Dari luar terdengar suara gelak tawa Diaz dan Queen. Keduanya terlihat bahagia berjalan diiringi dengan canda tawa sambil bergandengan tangan.
Queen, Diaz. Kalian sudah kembali?" sapa Andrean.
Awalnya Hanifah memasang ekspresi seperti biasanya saat melihat keduanya. Tapi, setelah mendengar kakek Andrean berdehem dan memberi isyarat mata pada Hanifah. Saat itu juga Hanifah memasang ekspresi melas, seolah dia adalah istri sah Diaz, dan Queen adalah pihak kedua. Sengaja dibikin nyolok agar Diaz peka dan Queen juga mengerti dan berfikir.
"Iya, kek kami sudah kembali," jawab Queen ceria.
'Hanifah, sejak kapan kau datang?" imbuh Queen lalu memeluk saudarinya.
''Aku sejak tadi di sini. Sempat ajak kakek jalan-jalan juga tadi ke kolam," jawab wanita itu dengan senyuman yang seolah dipaksakan.
Sebenarnya itu bukanlahh sebuah ekting. Melainkan natural dari hatinya. Jika dia tersenyum dan berlagak bahagia, itulah yang sebenarnya sandiwara.
Mendadak keceriaan Queen beransur lenyap saat melihat Hanifah seperti itu. 'Kenapa dia? Apa yang membuatnya bersedih?' batin Queen.
Sedangkan Diaz yang dari dulu selalu merasa tidak enak hati pada Hnifah, kini pria itu semakin tidak enak dan salting.
"Kakek, Hanifah, aku pulang dulu, ya?" pamit Diaz.
"Kenapa buru-buru, Diaz? Apakah kamu ada urusan penting yang tak bisa kau tinggalkan?'' tanya Kakek Andrean.
''Tidak juga kok, Kek. cuma ingin segera kembali saja, besok saya praktek pagi. Jam enam tepat sudah harus ada di tempat." Ekspresi Diaz nampak bingung dan cenderung seperti orang gelagapan.
"Ini kan baru jam dua, Diaz. Semenjakl kau resmi menjadi dokter, sepertinya belum pernah makan malam bersama kami. Makan lah di sini bersama kami. Nanti setelah makan malam kau bisa kembali, bagaimana?"
Diaz diam tak langsung menjawab permintaan kakek Andrean. Sebenarnya dia paling tak bisa menolak permintaan beliau. Tapi, di sisi lain, ia juga merasa tidak enak juga jika harus terlihat berduuan dengan Queen di depan Hanifah. Dia tidak ingin menyakiti hati wanita itu. Meskipun Hanifah terlihat nakal dan juga lasak sebagai seorang wanita, Tapi, Diaz pun juga tahu kalau Hanifah sebenarnya adalah perembuat yang baik dan lembut, ia hanya butuh seseorang yang mengarahkannya saja.
" Baiklah, Kek. Diaz akan makan malam di sini," jawabnya sambil menunduk, tak berani menatap ke arah Hanifah.
"Kalian ngobrol-ngobrol saja dulu, di sini. Kakek mau istirahat sebentar." Andrean pun melajukan kedua sisi kursi rodanya dengan tangannya menuju ke dalam kamarnya.
Dengan cepat dan sigap Diaz memegang pegangan kursi roda bersiap untuk mengantar ke kamar.
"Kau di sinilah bersama Queen dan Hanifah, kakek bisa sendiri ke kamar," ucap Andrean dengan penuh kewibawaandan senyuman lembutnya.
"Iya, Kek. Hati-hati," ucap Diaz.
Diaz menoleh ke belakang melihat dua gadis yang sama-sama mencintainya saling berbincang. Tapi, kali ini Diaz menagngkap sesuatu yang berbeda, dia terlihat lebih kalem dan cnderung pendiam.
'Hanifah, di mana dirimu yang biasanya? Kemana keceriaanmu pergi? Kenapa menandak sirna begitu?'
"Diaz, kenapa kau diam melamun saja di sini? kita ke halaman samping yuk kita sama-sama terapi, ikan," ajak Queen sambil menggandeng lengan pria itu dari sebelah kanan, lalu berjalan menghampiri Hanifah dan menggandengnya juga. Jadi kini mereka bertiga berjalan beriringan, dengan posisi Queen yang ada di tengah.
Ketika semuanya tengah asik, Al dan juga Nayla pun kembali. Tapi mereka bertiga tidak menyadari kedatangannya.
"Queen, uda mulai panas, nih. Kita ke dalam, yuk!" ajak Hanifah.
"Yah, Hanifah... Padahal kan juga panas sedikit. Aku masih ingin di sini nih," ucap Queen sambil memanyunkan bibirnya ke depan.
"Habis gimana, panas banget nih. Takut kulitku kebakar nanti item, lagi." Hanifah tertawa tertahan dan melirik Diaz sekolas lalu menunduk dan berdiri meninggalkan Diaz dan Quen ke dalam lebih dulu.
"Queen, kamu merasa nggak kalau hari ini di Hanifah agak aneh?'' tanya diaz.
__ADS_1
"Mungkin dia sedang ada masalah, Diaz.biar nanti dia bermalam di sini tidur sama aku, akan aku tanyakan ke dia, cieee kamu perhatian juga ya sama dia..." ejek Queen sambil tertawa.
"Ya bukan perhatian, habis berubahnya 180 derajat gitu. siapapun juga pasti akan menyadari. Misal, jika aku yang terbiasa tenang dengan pembawaan ku. lalu, tiba-tiba saja aku berubah jadi pribadi humoris dan kocak,apakah kau tidak berfikir aku aneh dan berubah?"
Queen nampak diam, ia berusaha mencerna apa yang baru saja Diaz sampaikan. Memang benar, ya... Hanifah memang berbeda dari biasanya. dia cenderung kalem dan pendiam. Lalu kira-kira apa masalahnya?" batin Queen.
Ketika Hanifah tiba di ruang tamu, ia melihat kakek Andrean dan Al tengah berbincang. gadis itu pun berjalan menghampiri keduanya.
"Kak, Al sudah sampai? Mana kak Nayla?" Gadis itu pun duduk di kursi depan mereka berdua.
"Dia asasi kamar, kamu ada perlu sama dia? ke sana aja!" seru Al dengan nada dinginnya.
"Kenapa kakak kek gitu sih? ada masalah?" tanya Hanifah.
Belum juga Al menjawab, Quen dan Diaz terlihat berjalan bersama menuju ke ruang tengah. Sehingga Al pun jadi malas dan pergi meninggalkan kakeknya dan jiga Hanifah.
"Aku capek dan gerah, mau mandi dan istrirahat dulu, sebentar."
Kini, di ruang tamu tinggalah Hanifah dan sang kakek saja. Hanifah menoleh ke arah sang kakek. dan kakek pun tersenyum dan mengucapkan nasehat sekali lagi.
"Apa pun ya kau rasakan saat melihat, Diaz, Just show it, don't cover it from him."
"Ya, tadi juga sudah aku tunjukan, Kek. masa masih kzurang. Uda semua loh tadi itu," jawab Hanifah.
"Tadi udah bagus, nanti cari kesempatan saat kau hanya berdua dengan Diaz, katakan dengan nada penuh rendah diri jangan lasak dan blangsakan kek biasa, lihat bagaimana ekspresi Diaz. sebenarnya dia pun juga suka sama kamu, kelihatannya hanya saja cintanya sama Quen. sekarang dia menghindar, karena tidak suka sama cewek pecicilan saja. kamu lihat gimana Quen anggun dan feminim kalem.kamu harus lebih anggun dari dia," ucap kakek Andrean lagi,turut menyemangati.
"iya Kek, aku paham, kok."
"Bagus, sekarang, lakukan peranmu dan dekati mereka berdua."
Tapi, hal itu mustahil juga. Sebab, apapun yang sudah kakek putiskan jelas tak dapat lagi di ganggu gugat.
"Iya kakek.Hanifah akan ke sana," ucapnya patuh dan berjalan mendekati dua sejoli itu meski dengan langkah berat dan sangat terpaksa.
Andrean hanya bisa tersenyum saja. dan membatin, 'Maafkan kakek, Quen jika kakek terlalu kejam memisahkan kamu dan Diaz. Kakek rasa, kau tidak butuh Diaz. tapi, kakakmu lah yang kau butuhkan."
🍀🍀🍀🍀
Alex mengeliatkan tubuhnya di atas ranjang. Dia merasa bugas saat bangun dari tidur siangnya yang pulas. Entah kapan terakhir kali dia tidur siang dengan nyenyak dan pulas?
Alex pun tak lagi mengingatkan yang jelas saat ini dia merasa semuanya menjadi enteng.
Belum juga pria itu beranjak dari tempat tidurnya, sebuah panggilan suara telah masuk ke dalam ponselnya.
Alex pun meraihnya berharap yang menelfon adalah kakaknya, Novita untuk memberi kabar kalau dia dan keponakannya sidah tiba di Australia. Sebab, jika berharap Quen yang menelfonnya, itu akan mustahil dan tak akan pernah terjadi, sepertinya begitu.
dan benar saja, ternyata Axel dan mama ya lah yang menelfonnya.
Dengan segera Alex, mengangkat panggilannya. Dari seberang sana terdengar suara sapaan dari bocah dengan nada khasnya yang ceria.
"Halo, Om Alex... Ini aku, Axel. Kami sudah tiba di Australia. Dan ini juga sudah ada di rumah."
"Halo, Axel... Syukurlah jika kalian baik-baik saja. Janga diri yang baik, semoga bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru kamu, apakah di sana dingin, Axel?"
__ADS_1
"Ya, kebetulan ini saat musim dingin. Tapi, tenang saja, nenek Livia sudah menyiapkan aku jaket berbahan wol."
"Bukankah di sana itu negeri wol?"
"Hahaha, iya Om."
Bocah itu menoleh ke belakang saat mamanya menyentuh pundaknya beberapa kali.
"Biarkan mama ngobrol sama om Alex dulu, Sayang. Kau istirahat lah di kamarmu," ucap Novita sambil tersenyum pada putranya.
Axel pun memberikan ponsel itu kepada mama ya dan berlari menuju kamarnya.
"Halo, Lex." Novita bingung mau berkata apa. Meskipun banyak hal yang ingin dia tanyakan, tapi dia tidak tahu, memulai dari mana dulu.
"Syukurlah, Kak. Kau sudah tiba dengan selamat. Jaga diri baik-baik di sana ya? Untuk sementara jangan dulu pergi ke negara lain. Jika aku ada waktu, aku yang akan kesana buat jenguk kalian. Aku juga sudah bilang pada papa dan mama, agar mereka yang ke tempat kakak saja."
"Lex, kasian mereka jika harus melakukan perjalanan jauh. New York ke Australia tak sedekat Setia Budi ke Tambora."
"Mereka biar sudah tua juga suka tour, kan? Harusnya kita buatkan Chanel YouTube saja, hehehe."
Novita pun ikut tersenyum dengan ide konyol adiknya, meskipun batinya terasa remuk tak keruan.
"Kau, jawab jujur, ya. Bagaimana bisa kau minta bantuan pada Ak?"
Alex tersenyum miring, ia membatin ternyata kakaknya penasaran juga dengan hal itu.
"Mudah saja, Kak. Aku datang menemuinya dan mengatakan kalau aku perlu bantuan. Tapi, mengenai ponsel itu, aku benar-benar tidak tahu. Dan seharusnya aku yang menyiapkan untukmu. Aku tidak kepikiran, memang aku harus banyak belajar dari dia."
"Apakah semua itu dia lakukan untukmu cuma-cuma? Kaka tahu, Al itu bukan orang sembarangan. Pasti ada harga yang kau bayar, kan?"
"Tidak kak. Semua dia lakukan begitu saja."
"Kamu bohong, Alex. Tidak mungkin. Mungkin bukan uang, laki-laki seperti itu tidak akan butuh uang apa yang kau lakukan untuknya?" desak Novita.
Karena terus-menerus dicecar dengan pertanyaan yang sama, Alex pun akhirnya mengakuinya. Memang hanya sepele, tapi, bagi dia ini adalah berat.
"Kak Al cuma minta aku agar tidak lagi mendekati dan meminta rujuk dengan Quen, Kak. Sebab, sudah ada Diaz," jawab Alex dengan berat.
Memang ini terdengar sepele, jika dibandingkan dengan keselamatannya. Tapi, itu menurut Novita. Beda bagi Alex. dia sangat mencintai Quen, dan pasti ini sangat berat.
"Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Lex? Harusnya biarkan saja kakak berusaha sendiri. Ini masalah kakak, kenapa kau jadi terlibat? Mungkin jika ini tidak terjadi, kau tidak akan seperti ini
"Sudahlah kak. aku baik-baik saja. Bukannya bapak sendiri yang mengajarkan aku kalau cinta itu tidak harus memiliki jadi biarkan saja Aku ingin menjalani hidupnya dengan bahagia aku juga akan melanjutkan hidupku dan mencari kebahagiaan ku sendiri," jawab Alex.
Dengan mata berkaca-kaca, Novita berkata, "Terima kasih... Terima kasih Alex kamu jangan bosan-bosan ya jadi orang baik. Tetaplah jadi orang baik seperti yang ku kenal Jangan pernah berubah menjadi jahat karena beban hidup yang kau jalani ini."
"Never mind, Sis. everything will go well as you wish(Tidak apa-apa, Kak. semua akan berjalan baik-baik saja seperti ya g kau harapakan). Ya, sudah, kalian pasti lelah. beristirahatlah." Alex pun mengakhiri panggilannya, dan melemparkan benda pipih itu ke atas kasur dengan asal. ia menghela napas panjang dan menoleh ke arah nakas diraihnya foto pernikahan dirinya bersama Queen dulu dipandangnya perlahan lalu mengecup foto itu dan mendekapnya dalam pelukan sambil memejamkan mata seolah ia tengah membayangkan bahwa Queen lah yang dia peluk.
🍁🍁🍁🍁
Cukup lama Aditya berdiam diri di tempat tidur Axel, ia mencoba merenungi apa sekiranya yang membuat Novita pergi tapi ia juga mempertimbangkan seandainya ada Novita dia tidak akan dapat leluasa untuk mendapatkan Queen, arena statusnya. Tapi, jika Novita pergi dan menceraikannya itu baik tidak terlalu buruk dengan begitu dia bisa kembali mengejar cinta gila nya.
merasa suntuk seharian meratapi anak istrinya Aditya berjalan ke arah wastafel. Dia mencuci muka dan memandang pantulan dirinya di depan cermin. Pria itu memperhatikan setiap inci wajahnya dan air yang menetes lalu menyeringai tersenyum kian melebar dan tertawa terbahak seperti orang yang kesurupan.
__ADS_1
"Ha-ha-ha, Novita.... Novita. kau membuat ku sedih kau ingin membuat aku depresi dengan kau pergi mengajak Axel? Kau salah, ini tidak buruk bagiku. Justru dengan begitu, aku bisa mendapatkan kembali dia untuk dijadikan istriku nanti. Ya sudah kalau mau pergi? Pergi saja, kau mengajak Axel... Aku malah tidak ada tanggung jawab sebab mamaku sudah ke Bandung. Tapi, yang perlu kau ingat kau harus berhati-hati, dan berdoalah semoga aku tidak dapat menemukan mu," ucapnya kembali tertawa.
Aditya mengelap wajah basahnya dengan handuk yang tergantung di sebelah wastafel. Lalu berjalan menuju kamar pribadinya, lebih tepatnya kamar rahasia di mana terdapat boneka yang menyerupai Queen beserta tempelan foto-foto gadis itu. Ia membuka pintu itu lebar-lebar sambil berkata, "Lihatlah, Queen kita sudah bebas berdua di sini. Tidak ada siapa-siapa yang akan mengganggu kita. Dan untuk memberimu kepuasan, aku tidak perlu bersembunyi-sembunyi untuk menemuimu di sini. Saat ini kita bebas. Kita bisa bahagia bersama," ucapnya seolah boneka sex itu hidup dan bernyawa.