Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 171


__ADS_3

Sekitar 40 menit menempuh perjalanan dari rumah, Al dan Andrean pun tiba di kantor. Mereka mendapati kantor sudah sangat sepi dan gelap, beruntung Al selalu meninggalkan kunci serep gerbang dan juga ruangan tetap berada di mobilnya. Jadi, mereka tidak kesulitan saat hendak masuk ke dalam gedung besar itu.


Tiba di depan ruangannya, sekali lagi Al mencoba menelpon nomor Queen. Benar saja, terdengar nada dering di dalam ruangan itu. Tapi, saat ia mencoba membukanya. tidak ada seorang pun di dalam, selain ponselnya dan juga barang-barangnya yang ia tinggalkan begitu saja.


"CK... sialan!" umpat Al sambil menggebrak meja. Ia merasa takut adiknya akan kenapa-kenapa dan semakin merasa bersalah.


"Sudahlah, Al. Ini sudah terlanjur, ayo kita coba lihat ke apartemen, siapa tahu, dia ada di sana," bujuk Andrean.


"Iya, Kek." Dengan lemas Al pun melangkah, mendorong kursi roda kakeknya menuju lift.


Sepanjang perjalanan Al juga banyak diam dan terus teringat kejadian sore tadi. Ia bukan saja hampir merayu, tapi sudah berbuat kurang ajar pada adiknya, meraba-raba sampai berani meremas dadanya.


Al kembali menggelengkan kepalanya. sepertinya dia sudah benar-benar gila. Sedangkan Andrean hanya diam mengamati cucunya yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


Sampai di apartemen, Mereka juga mendapati apartemen kosong. bahkan tidak ada tanda-tanda kalau Quen pulang.


Hati dan perasaan Al kian hancur dan tak terkendali, beruntung ada kakek bersamanya, jika saja tidak, dia pasti sudah mengamuk.


"Dia pasti akan kembali. Ayo, kita pulang saja, Al," bujuk Andrean.


"Tapi,Kek..."


"Sudahlah. ini sudah malam. istirahat lah. besok kita cari lagi. jaga kondisi tubuh kamu agar tetap vit."


Akhirnya Al hanya menuruti perintah kakeknya. mereka pun pulang kerumah.


Tiba di rumah, Al mengantarkan kakeknya ke kamar dan membantu kakeknya rebahan di atas ranjang.


"Sekarang kau istirahatlah, Al. Besok jika dia belum juga kembali, kita bisa mencarinya lagi," ucap Andrean dengan lembut.


"Iya, Kek. Maafin Al yang belum bisa jaga Quy dengan baik, Kek. padahal Al sudah berjanji pada papa dan mama untuk menjaganya dengan baik. Al salah, Kek... Al benar-benar salah karena belum usia menjadi kakak yang baik."


Andrean tersenyum saat melihat Al sampai menitikan air mata. Ia benar-benar merasa bersalah. tapi, dia sendiri belum tahu, kesalahan apa yang sebenarnya Al perbuat.


"Selama kau sudah berusaha menjadi yang terbaik, kenapa harus meminta maaf? sudahlah. kau tidurlah nak."


Al pun akhirnya meninggalkan kamar kakeknya. ia sebenarnya enggan pergi ke kamarnya. Tapi, di kamar tamu tidak ada satupun pakaian ganti untuknya. jadi, mau tidak mau, ia pun harus naik masuk kamar dan melihat wajah Nayla.


Begitu memastikan Al sudah benar-benar pergi, Andrean bangun meraih ponselnya dan menghubungi Diaz.


"Assalamualaikum, Kakek. Kakek belum tidur?" jawab pria itu dari seberang sana.


"Hehehe, kakek baru saja menemani Al ke kantor dan ke apartemen untuk mencari Quen. bagaimana keadaan dia? apakah dia sudah tidur?"


"Sepertinya sudah, Kek. sejak setengah jam yang lalu, dia dan Rika masuk kamar."


"Ya sudah. Kakek titip dia sama kamu, ya Diaz. Dia sudah cerita belum ada masalah apa dengan Al?"


"Belum, Kek. dia sepertinya masih trauma. Biarkan saja tenang dulu, jika sudah tenang biasnya dia akan bercerita dengan sendirinya," jawab Diaz.


"Ya sudah. Terimakasih, ya Diaz. Kamu istriratlah. kau pasti lelah setelah beraktivitas seharian."


"Iya, Kakek, Assalamualaikum."


"Waalaikumssalam."

__ADS_1


Andrean tersenyum sambil geleng-geleng kepala. melihat kelakuan dua cucunya yang menurutnya sangat lucu, mau tak mau membawanya teringat akan masa lalu, sekalipun berbeda alur dan cerita.


***


"Kau sudah pulang lagi, Mas? dari mana saja kau barusan sama kakek?" tanya Nayla yang kelihatannya memang sudah menunggunya sejak tadi.


Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, menoleh saja Al nampak enggan. dia tidak menganggap Nayla ada, dia hanya diam mengambil pakaian ganti dan mandi, Al pun keluar kamar. dan turun. dia memilih tidur di kamar tamu daripada satu kamar dengan Nayla.


Di sana Al bingung harus berbuat apa, ingin menelfon dan mengirim pesan pada Quen untuk menanyakan keberadaan dan keadaannya. tapi, hp nya ada di tangannya.


"Queen... kau di mana sih, Sayang? maafin kakak udah kurang ajar sama kamu. Kakak tidak bisa kontrol diri dan benar-benar gila saat melihatmu. Ya Tuhaaaan.... ada apa denganku sebenarnya ini?" keluh Al.


"Arrghh.... Kepalaku, kenapa jadi sakit banget." Al meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.


🍁🍁🍁🍁


Sekitar pukul dua dini hari, Quen terjaga dari tidurnya. ia merasa kerongkongannya sangat kering. ia bermaksut mengambil air putih ke dapur.


Saat Quen melintasi ruang tamu, ia melihat Diaz tidur di sofa tanpa selimut. Queen bingung, harus kembali ke kamar lagi untuk mengambil selimut untuk Diaz atau ke dapur. tapi, rasa dahaganya sepertinya tidak bisa di tahan lagi. akhirnya ia pun pergi ke dapur dulu setelah meminum segelas air putih, ia pun kembali ke kamarnya mengambil selimut untuk Diaz.


Queen berjongkok di sebelah Diaz, lurus dengan wajahnya, ia mengamati wajah tampan dan kalem itu saat pulas tertidur dan.dapat mendengarkan dengusan napasnya yang teratur.


Dengan perlahan-lahan, Queen memakaikan selimut di tangannya pada Tubun Diaz. setelahnya mengamati kembali wajah yang terlihat kalem dan tenang itu.


"Punya hobi baru, ya? suka diam-diam pasang selimut dan memandangi wajahku?" ucap Diaz dengan mata terpejam.


"Diaz, kamu tidak tidur?" tanya Quy saat ia terkejut.


Pria itu pun duduk dan menyuruh Queen duduk di sebelahnya.


"Emang aku mau lakuin apa? Kamu barusan ilfeel, ya sama aku?"


"Tidak, Sayang. Kenapa kau tiba-tiba saja bangun? tidak nyaman tidur di sini? Atau, Rika tidurnya mendengkur? ucap Diaz lagi sambil tertawa.


"Tadi aku haus dsn melihatmu tidur di sini. Eh, kamu peka banget ya ternyata. cuma dipakaikan selimut saja sudah terjaga." Queen tersenyum malu-malu.


"Uda terbiasa saat di pesantren dulu. jadi, aku denger suara aneh pun juga akan terbangun."


Queen menyandarkan kepalanya pada lengan Diaz. ia merasa nyaman berada di dekatnya.


"Diaz, kamu dan Rika itu sebenarnya apa sih hubungannya? Kenapa dia tahu banyak tentang kamu?"


"Kami teman satu sekolahan dulu. dan dia adalah juniorku."


Queen memandang Diaz penuh selidik. ia tidak puas dengan jawaban yang Diaz berikan.


"kenapa menatapku dengan tatapan seperti itu?".


"Kamu tidak bohong, kan?"


"Tidak Sayang. kaulah cinta pertama dalam hidupku, dan aku berharap kau pula yang terakhir." ucap Diaz sambil mengecup kening Quen singkat.


"Tapi, jika aku bukan yang terakhir buatmu gimana?" goda Quen.


"Artinya, yang Allah tuliskan sebagai jodohku di loh Mahfuz bukan kamu. percaya saja sama Allah, beliau memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Belajar ikhlas saja, ya?"

__ADS_1


Queen tersenyum getir mendengar jawaban dari Diaz. Ia tasnya tidak terima jika harus kehilangan pria macam diaz.yapi,apa yang Diaz katakan juga benar, harus belajar ikhlas dan menerima apa yang sudah Allah tentukan.


"Tapi aku sayang banget sama kamu, Diaz," ucap Quen terus bersandar pada pundak Diaz.


"ini masih gelap, kembalilah tidur ke kamarmu, ok?"


"Aku merasa nyaman bersandar di pundak kamu," ucap Quen dengan manja.


"Sayang, tidak enak dengan Rika. kembalilah kesana, ya? jika kita sudah menikah, kelak juga akan sekamar, dan aku akan terus memelukmu sepanjang malam ok?" ucap Diaz sambil mengelus punggung Quen.


"Ya sudah, aku balik ke kamar dulu, ya? beneran gak papa nih tidur sendirian?"


Diaz hanya tersenyum sambil menahan nafsunya untuk menerkam wanita yang dicintainya itu. dia selalu bisa membuatnya merasa gemas dan nyaman untuk bersama.


🍁🍁🍁🍁


Pagi itu, Aditya sangat bersemangat menjalankan aktifitasnya. Dia bahkan bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.


"Kau sudah bangun, Dit?" sapa Novita dari belakang suaminya.


"Sayang?" Aditya menoleh ke arah Novita dan melemparkan sebuah senyuman.


"Aku memasak nasi goreng dan omelet untuk kita bertiga. Nanti jam enam aku ada acara mengisi kegiatan di gor, baik-baik di rumah ya? sepulangnya kita jalan-jalan." Aditya mengecup pipi dan kening Novita.


Novita hanya tersenyum tidak merespon. Tapi, dalam hati ia berkata, "Salam adalah malam terakhir kau memikmati ku, dan pagi ini, terakhir kau mengecup ku, jangan harap bisa jalan-jalan bersamaku dan Axel. kemarin lah yabg terakhir.'


Aditya menatap aneh ke arah Novita yang cenderung terlihat malas melakukan apapun. Ia tersenyum sambil mengelus perut ramping wanita itu.


"Kenapa kau banyak murung saja, sayang? Kau tidak biasanya seperti ini. Apakah dalam pertutmu ada calon adik untuk Axel hasil percintaan kita semalam?"


"Tidak tahu, rasanya aku mual dan gak enak banget, apa jangan-jangan masuk angin, ya?" jawab Novita, jujur.


"Masuk angin apa angin masuk sayang? Kenapa kau tidak menanggapi perkataan ku tadi? Kamu belum siap punya anak lagi, ya?"


"Aku hanya merasa sedikit tidak enak badan, Dit. Tapi, aku tidak yakin kalau aku hamil."


"Kamu masih pasang spiral?"


Novita menggeleng.


"Lalu, apa yang membuatmu tidak yakin kalau kau hamil? Apa perlu kita mengulangi lagi yang semalam? mumgpung masih petang dan Axel juga belum bangun? goda Aditya sambil tertawa ringan.


Novita malu-malu, mencubit perut pria di depannya itu.


"Lalu, bagaimana kau menjelaskan padanya jika tiba-tiba saja Axel bangun dan datang ke dapur, melihat kita melakukan hal itu?"


"Baiklah, nanti malam aku ingin lagi, kau bersiaplah kalau begitu." Aditya menggigit daun telinga Novita dengan gema.


'Nanti malam, ingin lagi? lakukan saja dengan boneka sex mu itu,' batin Novita.


Usai sarapan bertiga, Aditya pun pamit untuk acara pengisian sebuah acara yang di selenggarakan oleh persatuan THT Indonesia.


"Axel, ayo kita mandi, siap-siap. Sebentar lagi, teman om Alex akan datang menjemput kita."


"Baik, Mama," jawab anak itu dengan muka ceria.

__ADS_1


Aditya mengamati dari spion tengah, terlihat Alex terus menguntit nya. sepertinya dia termasuk handal dalam menguntit seseorang. Sebab, beberapa kali Aditya berusaha meloloskan diri. Alex masih dapat mengejarnya.


__ADS_2