
Usai mengantarkan Novi dan Adriel di rumahnya, Queen
mengajak Bilqis langsung menuju rumah mamanya. Tapi, ketika mereka tiba, semua tak seperti yang diharapkan.
Tak ada sambutan suka cita dari mama Clara dan papa Vano. Semua diam, hanya menatap nanar kedatangan mereka. Senyuman dari bocah berusia lima tahaun yang biasanya menujukkan sorot matanya yang berbinar juga sirna. Mungkin, liburan yang sudah direncakan di jauh hari juga akan gagal.
“Ma, ada apa ini, Ma? Kenapa orang-orang berdatangan ke mari?” tanya Queen sudah merasa cemas. Tapi, wanita paruh baya yang dia panggil mama hanya
membisu. Wajahnya datar tak berekspresi. Menunjukkan dirinya seperti shock berat saja. Kemudian, wanita itu beralih memandang pria yang tengah meragkul
mamanya.
“Pa, ada apa ini?” Queen menatap penuh harap pada Vano. Ia
berharap agar pria itu mau memberikan jawaban. Sementara mamanya kini malah
menangis terisak. Membuat Queen kian takut saja.
Vano meminta istrinya duduk dan ia menghampiri putrinya,
kemudian berkata, “Kakekmu sudah tidak ada. Dia baru saja pergi, karena Tuhan telah memanggilnya. Kamu, yang ikhlas dan sabar, ya?”
Queen diam terpaku. Saking terkejutnya, ia bahkan sampai tak
bisa berkata apa-apa. Napasnya pun juga tiba-tiba terasa sesak, suaranya
tertahan di tenggorokan tidak bisa keluar. Aliran darahnya seolah berhenti.
Mana mungkin bisa begini? Kemarin beliau baik-baik saja.
Kenapa sekarang sudah tiada? Ini mimpi, apakah nyata?
Queen menghembuskan napas panjang. Buliran bening melompat
deras dari sudut netranya tak bisa ditahan lagi. “Bagaimana bisa, Pa? kemarin
kakek masih baik-baik saja. Bahkan tadi pagi dia jugamasih menemani Berlyn
bermain di kebun, bukan?” ucap Queen lemah sambil menyeka sendiri air matanya
yang terus mengalir tak mau berhenti.
“Sabar, Queen. Kami juga tidak percaya. Dia baru saja. Lihat
saja dokter yang menanganinya juga belum pergi dari sini,” ucap Clara
menenangkan putrinya.
Selang beberapa menit, banya orang berdatangan mengurus
pemakaman kakek Andrean. Al, yang sudah menerima kabar dari Queen juga sudah
kembali. Begitu tiba, pria itu langsung duduk di sebelah papanya sambil
membacakan surat yasin di sebelah jenazah sang kakek. Bahkan, Candra, Axel, dan Alex juga terlihat datang. Setelah
jenazah dimandikan, Nayla juga ke sana mengucapkan bela sungkawa kepada
keluagra Queen.
“Kamu yang sabar, ya? kita doakan saja semoga diampuni
dosa-dosa beliau, dan diterima amal ibadahnya, serta kuburnya dilapangkan dan
dijadikan taman surga,” ucap Nayla sambil ikut menangis dan memeluk Queen.
Bagaimana pun, ia tetaplah kakeknya.
“Terimakasih, Kak. Terimakasih,” ucap Queen masih terisak
hingga kedua matanya menjadi sembab.
“Ada salam dari kak Novi. Dia tidak bisa ke sini. Makanya,
Axel saja tadi yang kemari bersama omnya dan juga Candra,” ucap Nayla lagi
menyampaikan.
“Iya, Kak. Aku ngerti. Adriel kan juga baru kembali dari
rumah sakit.”
“Sakit apa sebenarnya kakek, Queen? Sepertinya selama ini
beliau juga terlihat baik-baik saja dan sehat.”
“Beliau sehat, Kak. Kata mama tadi saat mau makan siang dia
bilang kalau tiba-tiba dadanya sakit dan sulit bernapas. Karena panik, papa
memanggil dokter kemari untuk memeriksa. Beliau sempat di tangani dan hendak
dibawa ke rumah sakit karena sudah tidak bisa bernapas. Tapi, Tuhan rupanya
berkehandak lain.” Bersamaan dengan kalimatnya selesai, air mata Queen mengalir
kembali.
“Sudah, jangan ditangisi lagi, ya? dengan kau menangisi, itu
hanya akan memberatkan Langkah beliau. Insyallah, husnul khotimah, Queen.
Selama ini beliau selalu baik pada siapapun. Meninggalnya juga tidak sulit, dan
tak merepotkan anak cucunya." Nayla terus menghibur Queen yang masih terlihat sedih. Tatapan matanya menatap lurus dengan pandangan kosong.
Usai pemakaman sampai acara tahlil Queen sama sekali tidak
melihat Zahara. Tapi, Alex. dia terus berada di sini hingga tahlilan selesai.
Saat pulang pun ia juga hanya bersama Candra dan juga Axel, keponakannya saja.
Lalu, di mana Zahara? Pikir Queen.
“Ya, Tuhan, Belyn. Bagaimana bisa aku sampai melupakan dia?
Di mana dia sekarang?” gumam Queen seorang diri. tahu yang berdatangan banyak
sekali. Jadi, ia terus berada di depan menemui tamu perempuan bersama mamanya.
Sementara Nayla ia ikut membantu menyiapkan hidangan untuk para pelayat dan
yang dijadikan untuk acara tahlil yang ternyata tamunya meledak jauh dari
perkiraan. Itu tidak masalah. Artinya kakeknya memang benar-benar orang baik. Tetangga sekitar juga banyak yang mengenal beliau. Sabab, saat ia berjoging di pagi hari bersama cicitnya, beliau tak pernah tidak menyapa dengan siapapun yang ia temui. Sementara Al dan papanya jelas menemui tamu pria.
Setelah tiba di kamar putrinya, Queen mendapati Bilqis,
Nayla dan mamanya berada di sana. Anak itu masih bersikap wajar. Tapi, ia tidak
menunjukkan ekspresi apapun. Namun, walau demikian, Queen mengerti, sorot
matanya juga menunjukkan kesedihan dan rasa kehilangan yang begitu amat
mandalam. Terlebih selama seminggu terakhir ini almarhum juga selalu menjaga
__ADS_1
penuh cicitnya sperti seorang tukang asuh. Tidur pun juga bersama Berlyn kata
papa dan mamanya. Jelas sekali kalau balita itu akan merasa sakit juga.
“Berlyn, kau sudah makan apa belum, Nak?” tanya Queen pelan.
Gadis kecil itu diam. Sesaat kemudian memberi respon
mengelengkan kepalanya dan menunjukkan gambar anak kecil dengan pria tua yang
rambutnya semua putih hasil karyanya sendiri. Semua paham kalau itu pasti
Berlyn menggambar dirinya bersama kakek buyutnya.
“Queen, jika kau mengizinkan, bagaimana kalau Berlyn biar
tinggal di rumahku saja beberapa hari ini? Sepertinya dia trauma dan shok
dengan meninggalnya kakek yang begitu mendadak. Nanti, jika dia sudah terlihat
baik, aku akan mengantarkannya. Kan di rumah juga ada Bilqis. Aku juga sering
berada di rumah, kok,” ucap Nayla meminta izin.
“Apakah tidak
merepotkan mu, Kak?”
“Sama sekali tidak. Soal belajar, kan aku juga bisa
mengajarinya. Nanti, jika Bilqis puulang sekolah dia bisa menemaninya, kan?”
“Aku bilang pada Al dulu, ya?”
Nayla hanya menangguk. Queen pun pergi mencari suaminya,
sementara di kamar itu, Nayla, mamanya dan juga Bilqis masih tetap menemani
Berlyn.
Ternyata Al tengah duduk di teras seorang diri menikmati
sebatang rokok yang terselip diantara jari tengah dan telunjuknya. Entah, ini
sudah batang yang keberapa. Sebab, dibawahnya berceceran beberapa puntung rokok
yang lumayan banyak, dan ia yakin, kalau itu hanya Al sendiri yang
menikmatinya.
Queen tahu kalau suaminya juga tak kalah sedih seperti yang
ia rasakan. Mungkin ia terlalu larut dengan pikirannya hingga tak menyadari
kedatangannya sedari tadi. Bahkan, untuk memanggil Al saja, lidahnya terasa
kelu. Jadi, ia hanya menyentuh punggung suamiya saja, lalu memeluknya dari
belakang.
“Queen. Ini kau, Sayang?” tanya Al. lalu mematikan rokok
yang ada di tangannya dan memegang tangan Queen yang melingkari pinggangnya.
“Kamu yang sabar, ya?”
Queen mengangguk sambil menempelkan kepalanya di punggung
Al.
Al merenggangkan kedua lengan Queen, kemudian membalikkan
“Sudah jangan nangis lagi. Memang setiap pertemuan, juga akan
ada perpisahan. Semua yang hidup juga pasti akan mati.”
“Iya, aku tahu itu. tapi, saat menjalaninya sendiri kenapa
begitu berat, Al?”
“Bukan berat. Kamu hanya belum ikhlas saja. Belajar ikhlas,
ya?”
“Di mana Berlyn? Masuk yuk!”
“Al, kak Nay mau ngajak Berlyn ke tempatnya. Dia terlihat
sangat shock dan trauma banget soalnya. Tujuannya
bagus, kok.”
“Berlyn sendiri gimana? Mau apa tidak?”
“Sepertinya mau.”
“Ya sudah tidak apa-apa. Kamu masuk saja dulu. Aku masih ada
hal yang harus kuurus di luar,” ucap Al. dia mencari alasan hanya demi
menghindari bertemu dengan mantan istrinya. Ia tidak tahu harus berkata apa
dengan Nayla. Benci sih sudah nggak. Kalau CLBK juga tidak mungkin. Hanya saja
dia menjaga perasaan Queen saja. Sekalipun dia tidak menujukkan kecemburuannya
yang berlebih. Jika sampai ia ngbrol dengan Nayla pasti ada sedikit perasaan
sakit di hatinya.
Setelah Nayla pulang bersama Bilqis dan mengajak Berlyn, Al
mengajak istrinya ke kamar untuk istirahat. Wajahnya terlihat lelah setelah
seharian tiak beristirahat. Mereka harus tetap menghemat tenaga. Karena, rumah
akan sibuk sampai hari ke tuju setelah kematian kakek mereka.
“Tadi aku sepertinya tidak melihat Zahara sama sekali, Al,”
ucap Queen Ketika ia melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
“Alex bilang dia tidak ikut karena tidak enak badan.” Al
memperhatikan raut wajah istrinya tiba-tiba saja berubah. “Kenapa, Sayang?”
tanyanya.
“Tidak. Kau tidak tanya sakit apa dia?”
Al hanya mengelengkan kepanya saja lalu merebahkan tubuhnya
di atas kasur bersama Queen.
“Al. aku merasa bersalah sama dia. Aku takut, dia sakit gara-gara
__ADS_1
aku.
“Kenapa? Apakah kau melakukan sesuatu padanya?” Al kali ini
memasang muka kepo. Berlagak tidak tahu apa-apa.
“Dari rumah sakit kemarin, sebenarnya aku pergi menemuinya. Aku
tanya salah apa aku sama dia. Sepertinya dia benar-benar sakit,” jawab Queen
kesal.
“Sudah, jangan pikirkan dia. Cepat tidurlah, selama tujuh
hari ke depan kita akan terus sibuk, Sayang.” Al meraih saklar lampu tidur dan menyalakannya, kemudian, ia matikan lampu kamar agar tidak silau, dan tidur sambil
memeluk Queen.
****
Seorang gadis dalam keadaan dipasung duduk sambil memeluk lutunya
di sudut ruang yang hanya berukuran 2X2. Tak ada alas selain lantai. Sehari-hari
ia menjalani hidupnya di sana terus seperti itu. sedih, pasti. Rindu dengan
orang terkasih, jelas. Tapi, apa daya? Memohon pun juga tak ada gunanya. Berteriak
hanya akan menguras tenaganya. Terlebih, ia belum tentu satu hari sekali makan.
Jadi, hanya pasrah saja menanti keajaiban dari tuhan. Meski dalam keadaan yang
benar-benar menyedihkan, besar keyakinan di dalam hatinya bahwa Tuhan
bersamanya dan tengah memperhatikan dirinya yang tengah diuji.
“Heh, kau masih hidup juga ya ternyata? Kukira kau sudah
mati saja. Maaf, ya? selama tiga hari ini aku sibuk. Jadi, tidak sempat memberimu
makan,” ucap seorang wanita berkulit putih, ia mengenakan kulot panjang warna coklat susu,
dan dipadukan dengan long cardi warna putih dengan motif batik di bagian tepinya.
Wanita yang dipasung itu memutar tubuhnya membelakangi
wanita berhijab coklat susu yang baru saja melemparkan satu bungkus makanan
dari kertas bungkus sambil mengelus perutnya yang kian membuncit saja.
Merasa diabaikan dan tak mau membuang waktu terlalu lama di
tempat lembab dan pengap itu, ia pun segera pergi dari situ.
Sepulang dari acara tahlil di rumah mertuanya yang dulu,
Alex mendapati rumahnya sepi. Padahal juga baru jam delapan. ‘Ke mana bibi dan
juga Zahara, ya? masa tidur, sih?’ batin Alex. ia pun menuju kamar dan melihat,
apakah istrinya berada di sana. Ternyata tidak.
Ketika ia hendak kedapur, ia mendapati bibi yang baru saja
dari tempat menyetrika sambil membawa kerancang beriki baju yang sudah rapi.
“Bi, Zahara ke mana, ya?” tanya Alex.
“Tadi dia keluar, Den. Tapi, ke mana saya tidak tahu,” jawab
wanita itu.
“Sejak kapan? Bibi tidak tanya dia mau ke mana?”
“Sekitar satu jam yang lalu, Den.” Wanita itu hanya diam
menunduk tak mau berkata apapun lagi. Mana mungkin dia berani bertanya mau ke mana
Zahara pergi, yang ada dia akan marah. Sepintas wanita paruh baya itu teringat
bagaimana beberapa minggu lalu bertanya pada Zahara saat ia hendak pergi. Tapi,
istri dari tuannya malah marah-marah dan mengatainya sebgai pembantu kepo.
‘Ingat posisimu di sini. Kau ini Cuma babu, gak berhak tahu
kemanapun aku pergi. Di sini kau juga cari upah, kan? Makanya… jangan belagu.’ Kata-kata
itu masih saja terngiang di telinga wanita itu. bertahun-tahun sejak Alex
berusia tujuh tahun dia bekerja di sini, sampai Alex sudah menikah dan hampir
memiliki anak belum pernah sekalipun ia dibentak. Tapi, kenapa malah istri dari
tuannya yang membentak dan berkata sesadis itu?
“Ya sudah Bi. Terimakasih, ya?” ucap Alex. ia pun ke dapur
membuat kopi sendiri dan menikmatinya di ruang tamu sambil menunggu Zahara
pulang.
Sekitar pukul sembilan, suasana rumah Alex sudah gelap.
Zahara berfikir kalau suaminya mungkin juga belum pulang. Sebab, jika dia di
rumah, jam segini lampu juga tidak akan dimatikan. Dengan perlahan wanita itu
membuka pintu. Begitu pintu terbuka, lampu ruangan tersebut tiba-tiba saja
menyala.
“Alex. kau sudah pulang? Kenapa kau tidak langsung tidur saja?”
tanya Zahara sedikit kikuk dibuatnya.
Alex menatap tajam wanita yang ada di depannya. Penampilannya
pun juga bahkan sepertinya berubah. Tidak biasa. ‘Dia benar-benar sudah berubah.
Mungkin benar kata Queen. Dia ini sakit,’ batin Alex.
“Kau dari mana?”
“Aku dari tempat umik, Lex.”
“Bohong. Kamu berbohong, Zahara. Jawab pertanyaanku, kau
dari mana? Kenapa kau pakai kulot? Kau tidak biasa berpenampilan seperti ini. Biasanhya
juga selalu pakai gamis,” cecar Alex.
“Aku lelah, Lex. Aku mau istirahat,” jawab Zahara, lalu
berjalan melewati pria di depannya tanpa peduli. Sedangkan Alex, ia hanya bisa
__ADS_1
menghela napas saja. Kehamilan Zaharalah yang jadi alasan kesabarannya sampai
di level *****. Jika saja tidak… entahlah, apa yang akan ia perbuat.”