
“Pa, Maafkan Vano jika selama ini banyak merepotkan papa,
ya? Di mana papa Andreas dan mama?” tanya Vano begitu kedua anak dan pembantunya
sudah tak lagi berada di dalam kamarnya.
“Van, kau jangan terlalu banyak pikiran dulu. Tenangkan saja
pikiranmu, bawa rilex saja,” ucap Andrean, berusaha menenangkan suasana hati
putranya.
“Vano merindukan mereka, Pa.”
Andrean memegang punggung tangan Vano, kemudian dengan pelan
ia berkata, “Mereka sudah menghadap Allah. Agar mereka tenang di sana, papa
harap kamu yang ikhlas dan bisa menerimanya, ya Van?”
Vano diam tidak menjawab. Memang ia sudah mengira kalau
kecelakaan itu sangatlah parah. Sebab, jika tidak, mana mungkin ia bisa koma
selama hampir dua tahun?Bahkan Clara juga masih belum sadar. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari lisannya
selain buliran bening yang melompat dari kedua sudut netranya.
“Sejaka kapan mereka pergi, Pa?” Apakah pada saat kecelakaan
saat itu?” tanya Vano dengan tatapan kosong.
“Iya, Van. Benar. Kamu yang tabah, ya nak?”
Vano hanya mengangguk perlahan dan berkata, “Aku sabar dan
ikhlas, Pa selama masih ada kau bersamaku. Bagaimana keadaan anak-anak? Cicit
Papa, laki-laki apa perempuan?”
Kali ini Andrean menunjukan senyumannya. Sehingga hal itu
hanya membuat Vano kian bingung dan bertanya-tanya.
“Laki-laki, kah Pah?”
Andrean menjawab hanya dengan gelengan kepala dan tersenyum
saja.
“Perempuan, Pah?” Mata Vano lekat memandang wajah pria yang
sejak kecil telah merawatnya hingga dewasa, bahkan sampai ia hampir memiliki
anak. Baru ia ketahui kebenarannya.
“Masih diproses, doakan saja Queen segera hamil, dan
memberikan penerus yang pertama untuk kita, cucu pertama untuk kamu, dan cicit pertama untuk
papa.”
“Apakah yang dulu itu dia keguguran?”
“Kamu yang tenang dan jaga rahasia. Pagi tadi Al dan Queen
diam-diam menikah tanpa sepengetahuan Nayla. Nayla itu berselingkuh, hanya saja
entah kenapa Al tidak mau menceraikannya. Papa juga tidak tahu. Sudah lama hubungan Al dan Nayla kacau. Status menikah, tapi dua-duanya hidup seperti dua orang yang saling tak kenal. Al bahkan tidur di kamar tamu setiap harinya. Queen sudah lama
bercerai dngan Alex akibat ulah Aditya yang masih saja tidak bisa termia gagal
menikah dengannya.”
Banya hal yang Andrean sampaikan kepada putranya. Sekalipun
Vano baru saja sadar dari tidur panjangnya, ia tahu kalau pikiran Vano juga
__ADS_1
sudah normal dan akan tetap stabil, karena ia lah satu-satunya yang paling bisa
mengerti dirinya, sebelum akhirya Clara.
Vano diam sesaat mencoba mencerna apa saja yang baru papanya
sampaikan barusan padanya. Kemudian, ia mulai angkat bicara, “Jadi, ini Queen
masih belum sepenuhnya bisa menerima Al sebagai suaminya, ya Pa?”
“Ya, begitu lah, Nak. Kau sementara diam lah dulu, berpura-puralah
tidak tahu. Karena kisah cinta mereka jauh lebih rumit dari kisah cintamu dengan
Clara dulu,” jawab Andrean sambil terkekeh.
🍁🍁🍁
Sedangkan di kantin Al, Queen dan Bik Yul tengah menikmati
makan siang di sana. Belum sampai habis setengah porsi, Queen sudah meletakkan
sendok dan garpu pada piringnya. Ia pun beranjak dan berkata kepada bibi, “Bi,
saya ke tempat papa dulu, ya?”
“Makannya kenapa tidak dihabiskan dulu, Sayang?” sahut Al
sambil melirik ke arah piring dan Queen secara bergantian.
“Aku sudah sangat kenyang. Bukannya tadi aku sudah katakana
kalau aku tidak lapar?” jawab Queen, menyiratkan kekesalannya.
"Jaga kesehatan kamu. Aku tahu kamu tidak lapar. Tapi, kamu tetap harus jaga asupan nutrisi kamu, Sayang." jawab Al dengan kaku, dan dengan wajah datar.
Queen masih bergeming bertahan dalam egonya.
"Tidak apa-apa jika kau mau menolak. Bi, tolong ambilkan piringnya, bawa kesini. Kau ingin menggunakan cara seperti biasanya, ya?" ancam Al seraya menyeringai ke arah Queen.
Queen teringat betapa mengerikannya Al jika sudah seperti ini. Sekalipun sebagian besar penghuni rumah sakit tahu kalau Al adalah suaminya, menyuapi dari mulut ke mulut di tempat umum bukanlah hal yang biasa, dan tak pantas dilakukan di depan umum.
Al pun tersenyum penuh dengan kemenangan.Sementara bibi yang ada di antara mereka juga merasa
bingung. Ada sedikit kejanggalan di antara hubungan kakak beradik ini. Tapi,
bagaimana bisa berubah? Dia merasa hanya orang lain. Tak berani ikut campur
apalagi mengkritik keanehan yang ada di anatara mereka berdua.
“Papa,” sapa Queen.
Sementara Vano yang sudah sedari tadi dalam posisi duduk
bersandar, ia membuka tangan lebar-lebar untuk memeluk putrinya.
“Kau apa kabar, putriku?”
“Aku selalu merindukanmu dan juga mama, Pa.”
“Al, kemarilah putraku, bagaimana keadaanmu? Maafkan papa
kalau banyak merepotkanmu,” ucap Vano sambil membuka tangan kanannya, sehingga
kini ia memeluk Al dan juga Queen secara bersamaan.
“Selama ini, Queen menjelma sebagai dokter, dan juga asistenku
jika di kantor, Pa. Dia sangat bisa diandalkan dalam urusan apapun.”
“Oh, benarkah? Maafkan papa ya, Nak. Harusnya papa tidak
usah pergi berlibur saat itu. Dengan begitu pasti kita masih bisa berkumpul
bersama dan menjalani kehidupan yang normal,” ucap Vano sambil menunduk dan
merasa bersalah.
__ADS_1
“Van, ada banyak hikmah di balik semua ini. Bukan begitu,
Queen?” timpal kakek Andrean.
Queen hanya tersenyum dan menunduk. Tapi dalam hatinya, tak
hentinya ia mengumpat. ‘Hikmah apaan? Aku sudah ikhlaskan calon anakku dan juga
Alex. Tapi, tidak jika harus jadi istri dari ******** itu.’
Semua orang menoleh tak terkecuali bik Yul saat mendengar
pintu kamar rawat inap Vano diketuk dari luar. Tak lama kemudian seorang wanita
dan anak berusia sekitar enmam tahun berdiri di ambang pintu.
“Papa, kau benar-benar sudah sadar? Maaf saya baru datang,”
Nayla tergopoh menyalami papa mertuanya yang tak nampak seperti orang sakit sedikitpun.
Merasa muak melihat Nayla, Al pun beranjak ke sofa duduk
dengan bik yul di sana.
Andrean menoleh kea rah Queen. Wanita itu memasang ekspresi
datar. Sepertinya ia malah senang jika ada Nayla kemari. Lain halnya saat ia
menolah ke arah Al.
“Sayang, apakah kau tidak lelah? Kakek bilang kamu
akhir-akhir ini sangat sibuk? Kau bisa pulang dulu untuk istirahat,” ucap Vano
pada putrinya.
“Aku tidak lelah, aku akan di sini menemani papa.”
“Begitupun aku, Pa. Kami akan siap menjaga papa di sini
bergantian, iya kan Queen?” sahut Nayla.
“Nayla, kau barusan kemari naik apa?”
“Saya naik taxi online, Kek.”
“Ya sudah, kita pulang sekarang. Biarkan Queen di sini
sendiri menemani papanya. Kau bersama bibi masuk ke mobil kakek, sopir yang
akan mengantarkan kelian ke rumah. Al, kamu bareng sama kakek. Ada yang mau
kakek bahas sama kamu.”
Semua pun pergi hanya tinggal Vano dan Queen saja yang ada
di dalam ruangan itu.
“Papa, lihatlah dirimu, kau tak nampak seperti orang yang
baru sadar dari koma. Tapi kau sangat nampak tampan seperti orang baru bangun
tidur,” ucap Queen memuji papanya.
"Sejak kapan putri papa jadi pintar menggombal begini?" goda Vano sambil tersenyum dan meraih punggung putrinya.
"Aku serius, Pah.... Siapapun yang melihat Papa juga pasti akan berkata demikian."
"Maafkan papa, ya Nak? hampir dua tahun lamanya papa tidak bisa mendampingimu. Pasti ini sungguh berat untuk kamu. Kamu sudah dapat pengganti Alex, belum?"
Queen menatap senyuman papanya yang nampak teduh dan menenangkan. sudah lama sekali dia tidak bermanja-manja pada pria di depannya ini.
"Aku tidak akan kesepian lagi, dan merelajan mereka yang bukan milikku, kan sudah ada papa yang terbaik."
"Apa kakek dan kakakmu tidak baik, Nak?"
Queen diam sesat. Bagaimana ia bisa menyebut kakeknya baik, dia membiarkan Diaz, pria yang dicintainya bertunangan dengan Hanifah. dan Al... Oh, bagi Quen dia tak jauh berbeda dari seorang iblis ataupun ********.
__ADS_1
"Peran kakek dan kakak itu berbeda dengan seorang ayah, Pah."
Sebenarnya Queen ingin menangis mengingat ketidak Adilan yang menimpanya. Tapi, ia tidak berani. Ia takut papanya khawatir dan kondisinya kembali drop. Jadi, ia hanya tersenyum palsu dan memintanya agar segera beristirahat. sebab, sebentar lagi, seorang dokter akan datang mengeceknya.