Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 52


__ADS_3

"Kita sudah sampai," ucap Quen senang. Ia memarkirkan mobil dan menggendong turun Bilqis.


"Ayo, kita temui kakek nenek dan buyutmu di dalam. Apakah kau tidak merindukannya? Atau bahkan sudah lupa mereka seperti melupakanku?" ucap Quen lagi.


"Sejak kapan kai berubah menjadi sangat cerewet, Quen?" ucap Al turut nimbrung.


Al dan Nayla menyeret koper ke dalam. Keadaan rumah lumayan sepi. hanya terlihat Lyli yang akan membukakan pintu, tapi urung karena Quen membukanya sendiri.


"Kak Lyli. Mama dan semuanya pada ke mana?" tanya Quen.


"Mereka ada di halaman belakang, Non." jawab gadis itu singkat. Ia memandang Al dengan tatapan yang susah di artikan.

__ADS_1


Tidak hanya Lyli, ternyata Al juga sempat melihat ke arah mantannya itu, dan kedua bola mata itu sempat bertemu. Ada rasa tak nyaman pula dalam hati Al jika harus berlaku baik terhadap Nayla. Tapi, memang urusan hati susah diajak kompromi. Dulu, Al mau dengan Lyli karena dia baik dengan Quen. Dan keluarga ini juga sudah kenal dia, jadi, tidak perlu sedikit beradaptasi dari pembatu menjadi Nyonya keluarga ini saja. Tapi, memang tidak jodoh. Dan Nayla lah yang menjadi jodohnya.


"Quen, kalian sudah tiba sayang? Wah, Bilqis sudah besar sekarang, ya?" sapa Clara dan yang lain dengan suka cita.


Nayla dan Al menyalami orang tua dan kakek neneknya secara bergantian.


Clara membelai kedua pipi Al dengan tatapan panuh kasih sayang. "Lihatlah dirmu, Nak. Kau menjado lebih kurusan. Apakah urusan kantormu begitu rumit sampai badanmu terkuras?" ucap Clara sambil melirik ke arah papa Andreas.


"Ya sudah, kalian pasti capek, ayo makan siang dulu lalu istirahatlah." ucap Clara mengajak kembali ke dalam.


"Quen, kau juga istorahat ya sayang! Nanti mama temani ke tempat tante Erwin buat fiting."

__ADS_1


"Gaunku sudah jadi, Ma?"


"Iya, sudah sudah, Sayang. Sekalian kamu nanti bisa coba gaun lain jika mungkin ada yang kau suka.


"Mau ke mana, Ma? Biar Al yang antar kalian saja gimana?" ucap Al menawarkan diri.


"Jangan Al, itu urusan wanita kau di rumah saja!" sahut Vano dengan cepat. Dia merasa ngeri sendiri jika ingat bagaimana Erwin dulu menggodainya saat pengatin baru. Bagaimanapun, ia tak ingin putranya juga turut digoda oleh banci itu.


"Memang kenapa, Pa?" tanya Al heran. Selama ini tidak pernah Vano melarangnya sekalipun. Ini cuma soal antat fiting aja bahkan dia melarang?


"Tidakah kau rindu sama papa kakek dan nenekmu? Dirumah lah dulu, biar mama dan istrimu yang mengatar Quen. Sekalian mereka biar cari gaun buat resepsi," timpal Vano.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Al menurut saja.


__ADS_2