Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 75


__ADS_3

Nayla menunggu kepulangan Al di ruang tamu hingga ia terkantuk-kantuk. Bahkan, sesekali ia sempat tertidur beberapa menit lalu terbangun lagi. Entah yang ke berapa kali Nayla terjaga. Dilihatnya jam dinding yang menempel di antara foto-foto keluarga dan pernikahan mertunaya sudah menunjukan pukul setengah dua dini hari, tapi, tanda-tanda kedatangan Al belum juga ada. Nayla hampir menyerah, ia beranjak akan menuju kamarnya. Tapi, urung ketika ia mendengar suara gerbang dibuka. Segera ia menuju ke jendela setengah berlari dan mengintip di balig gorden. Terlihat sebuah mobil jaguar merah melesat masuk ke garasi. Benar saja, itu mobil sang suami, mas Al.


Nayla mulai curiga, sebab. Tadi pagi suaminya berangkat berdua dengan papa mertuanya, tapi, papa mertunya sudah kembali sejak jam empat sore. Lalu, ada apa Al sampai jam setengah dua dini hari? Kemana dia?


Nayla maju beberapa langkah untuk meraih gagang pintu dan membukakan pintu untuk orang yang dia tunggu sedari tadi. Al nampak terkejut, bukannya ini sudah jelang pagi? Harusnya Nayla sudah tidur.


Tapi, wanita ini malau bersikeras menunggunya.


"Kau sudah pulang, Mas?" sapa Nayla dengan senyum yang dipaksakan.


Al tidak menjawab melainkan dengan tatapan malas dan menghindari istrinya. Ia tidak menuju kamarnya bersama Nayla. Melainka menuju ke ruangan baca.


"Mas, tunggu dulu, Mas!" Nayla setengah berlari memegi pergelangan Al. "Kau beberapa hari ini sangat aneh, kemana kau pergi pun bahkanbaku sebagai istrimu tidak tahu. Nomor juga selalu tidak aktif, kau ini kenapa, Mas?" mata Nayla mulai basah berair. Namun sekuat tenaga wanita ktu menahannya.


Hati Al sebenarnya merasa iba dan tak tega melihat wanita yang dia cintai harus bersedih sampai mengeluarkan air mata karenanya. Tapi, ia melakukannya untuk kebaikan istrinya agar tidak terlalu posesif. Sebab ia tidak ingin terjadi peperangan dingin antara adik dan istrinya andai sampai Quen tahu sebab dari pertengkarannya selama ini.


Al menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kasar, "Nay, ini sudah hampir jam dua, apa yang kau lakukan di sini? Tidurlah, aku masih ada yang harus kukerjakan saat ini juga."


Tanpa memandang ke arah wanita itu Al membukq pintu dengan kasar dan membantingnya. Memang tidak dikunci, tapiz Nayla tidak berani masuk. Sebab, papa Andreas sudah berpesan selain Al, Vano dia dan adiknya Andrean tidak boleh memasuki ruang belajar. Sebab di dalamnya hanya berisikan dokumen-dokumen penting tentang perusahaan yang dihandle Vano dari Andrean garmen dan kontruksi. Serta usaha Andreas yang dihandle Al bisnis pesawat jet.


Tapi, sejauh ini hanya Quen yang sering keluar masuk ruangan itu untuk mencari papa, kakak atau salah satu dari kedua kakeknya. Dia sangat disayang dan di manja oleh keluarga ini, sesuai namanya. Benar-benar diperlakukan layaknya tuan putri.


Dengan hati hancur Nayla meninggalkan ruangan itu menujunke kamarnya, memandangi putrinya yang sudah terlelap tidur sejak pukul delapan tadi. Sedangkan dia, sampai jelang subuh masih saja tidak bisa tidur. Meski pun sudah ia paksakan.


Baru sekitar pukul empat tigapuluh Nayla tertidur, dan terbangung jam enam lewat sepuluh menit.


Nayla langsung melihat ke arah jam dinding, mengetahui sudah jam enam lewat, ia segera ke kamar mansi untuk menggosok gigi dan cuci muka. Sedikit terburu-buru wanita itu keluar kamar bermaksut membuatkan sarapan suaminya, tapi, baru turun dari tangga, terlihat mobil merah milik suaminya sudah pergi meninggalkan kamar. Dan juga Lyli nampak membawa nampan dari sisa sarapan di meja makan ke dapur.


Dengan perasaan kecewa, sedih semua bercampur aduk ia melangkah ke dapur ikut membantu Lyli menyiapkan sarapan.


"Barusan mas Al, ya kak yang berangkat?" tanya Nayla agak canggung. Harusnya dia tidak perlu tanya jika memang iya, itu tadi Al. Bukannya begitu hanya akan membuat Lyli tahu kalau ia bermasalah dengan suaminya. Tapi, bukankah semua orang rumah sudah tahu? Lalu untuk apa ditutupi? Pikir Nayla mungkin begitu.


"Ya, dia akan ke New York mewakili keluarga nona Quen di sana, sebab, besok, orang tua mas Alex akan mengadakan pesta pernikahan kembali. Dan setelah itu mas Al akan ke Jepang mengurus proyeknya di sana. Mungkin sepuluh hari dia kembali," jawab Lyli.


Nayla tidak bisa berfikir jernih, selain nyawanya belum seratus persen terkumpul, mendengar nama Quen sana isi kepalanya terasa mendidih. Tapi, ia berusaha keras menahannya. Kata-kata Lyli kemarin cukup pedas jika harus terulang kambali untuk mendengarnya atau bahkan lebih.

__ADS_1


Jika saja dia tidak terlalu dibutakan oleh rasa cemburunya, pasti ia akan curiga dan mengintrogasi Lyli, bagaimana mungkin dia yang istrinya tidak tahu, sementara Lyli yang hanya asisten rumah tangga tahu banyak tentang Al layaknya seorang istri.


"Apakah Mbak Nay tidak tahu, itu?" tanya Lyli dengan senyuman mengejek.


Nayla tertunduk dan hanya mengelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kau ini istrinya, bagaimana bisa justru aku yang lebih tahu banyak tentang mas Al. Saya ini hanya pembantu lo, mbak Nay." ucap Lyli memancing.


"Kau kan sudah lama bekerja di sini, jadi, wajar jika kau dekat dengan keluarga di sini." jawab Nayla, tak mau berdebat. Ia langsung mengambil beberapa jenis sayuran dari dalam lemari es dan mulai membersihkannya.


"Itu paham, lalu bagaimana dengan Quen yang asli putri keluarga ini? Lantas kenapa kau mencemburui dia? Kau harus ke pesekeater deh kayaknya, mbak. Ada yang rusak dengan jaringan otakmu itu!" cetus Lyli geram.


"Kau tak tahu apa yang aku rasakan, Kak. Jika saja kau menjadi aku, belum tentu kau bisa tahan dengan semua ini, ingin pergi meninggalkan mas Al aku juga terlanjur cinta. Tak masalah sekalipun dia miskin dan tak punya apa-apa, asal aku tetap bersama dia." jawab Nayla.


"Memang apa? Karna seisi rumah ini menyayangi dia? Bapak dan Ibu sama-sama anak tunggal, dan punya satu anak saja ya itu nona Quen. Wajar, kan? Dan kurasa mas Al juga tidak dianggap orang luar, dia memiliki hak yang sama besar dengan nona Quen bahkan dia menjadi penerus perusahaan kakeknya. Di mana ada orang tua angkat seperti itu? Bersikaplah baik pada iparmu jangan cari masalah dengan dia." Lyli pun menghentikan percakapan dan sibuk dengan pekerjaannya, sebab, nyonya muda sudah mulai memasukin dapur. Jangan sampai perdebatan antara art dan menantu diketahui oleh beliau.


"Kalian bangun jam berapa memangnya jam segini bahkan sudah hampir semua terselesaikan?" tanya Clara karna melihat di atas sup ayam. Telur mata sapi dan nasi juga sudah matang.


"Jam setengah enam, Bu. Mas Al bangunin saya minta dibuatkan sarapan," jawab Lyli.


"Dia bahkan cuma membangunkanmu tidak membangungkan mama dan papanya, dasar semakin dewasa bocah itu semakin seenaknya sendiri, saja." geru Clara sambil menyiapkan piring. Sementara Lyli dan Nayla membuat teh dan tiga cangkir kopi untuk Andreas, Andrean juga Vano.


'Aku yang istrinya saja, tidak dibangunin dengannya. Tau-tau sudah berangkat. Awas saja kau, Mas.' umpat Nayla dalam hati.


🍁 🍁 🍁


"Heh, ayo bangun, ikut aku!" Seru Al hegitu berhasil masuk ke dalam kamar sahabatnya, Vico.


Vico yang masih nyenyak-nyenyaknya tidur tubuhnya diguncang Al tanpa belas kasihan.


"Aduuuh bro! Dimana rasa prikemanusiaan kamu? Katanya dah berhenti jadi mafia lagi, kenapa kelakuan melebihi nenek moyangnya para ketua mafia, Al?" pria itu mengucek-kucek kedua matanya yang masih terasa lengket.


"Kau segeralah berkemas satu jam lagi kita terbang New York." Al pun pergi keluar setelah melihat Vico sudah benar-benar bangun.


Di teras rumah depan Vico Al berdiri menumpukan kedua lengannya pada teras sambil menyalakan sebatang rokok dan menikmatinya untuk mengusur hawa dingin yang lumayan menusuk.

__ADS_1


Al terus memainkan asap rokok itu di udasa, serta mengamati kepulan demi kepulan di atas kepalanya.


Dilihatnya jam tangan, dan ia merogoh ponsel pada saku celana depannya, menscrol sebuah nomor dan menelfonnya.


"Halo, Sayang. Kau sudah berangkat?" jawab suara perempuan saat panggilan itu tersambung.


"Ma, maaf tadi Al buru-buru harus bangunin Vico, bukan apa-apa sih, takut ganggu istirahat kalian." jawab Al merasa bersalah.


"Seharusnya tidak apa-apa, jadi, kau berangkat ke sana dengan Vico? Tolong sampaikan salam dan permintaan maaf kami pada mertua adikmu sekeluarga, ya Sayang."


"Iya, Ma, pasti Al akan menyampaikannya. Apakah papa sudah ke kantor?"


"Sudah, sekitar lima menit yang lalu. Al, apakah kau tidak berpamitan pada istrimu?" ucap Clara dengan suara sangat pelan seperti berbisik.


"Ya, semalam Al pulang jam setengah dua, dia menungguku di ruang tamu, tapi aku abaikan dia, Ma. Aku masuk ke ruang baca dan tidur di sana."


"Katanya kamu sayang sama dia, kasianilah dia, Al. Bagaimana pun, dia istrimu," bujuk Clara.


"Al capek dengan sikap nayla yang berlebihan itu, Ma." Al nampak neghela napas berat dan dalam.


"Perlu kau ingat, kau tidak bisa begini selamanya, dia istrimu. Jangan sampai terjadi perceraian saja di antata kalian. Perbaiki, saling intropeksi, kamu jangan lelah menasehati dia, ya sayang?" ucap Clara dengan lembut.


"Baik, Ma. Terimakasih. Ya sudah, Al lihat Vico dulu, ya. Uda selesai apa belum dia." pria itu pun mematikan sambungan selulernya diam sejenak menunduk sambil memijati kedua pelipisnya dengan lembut.


'Hah, menikahi janda anak satu ku kira akan sedewasa dan seanggun dirimu, Clara. Ternyata aku salah. Dia sangat posesiv dan kekanak-kanakan lebih dari Quen. Mana bisa aku move on jika begini?" batin Al sambil menyeringai kecil memandangi foto mama angkatnya.


"Aku sudah siap, Bro. Ayo berangakat!" Teriak Vico dari belakang, lumayan membuat Al yang tengah melamun sedikit terkejut. Dengan segera ia mengeluarkan ponselnya dari galeri dan mematikan layar.


"Heh, ngapain kamu kek gitu? Kaget? Ayo ke bandara sekarang. Paspor dan semua segala macam sudah siap," ucap Vico sambil tersenyum sersya menyereret koper kecilnya.


Dengan malas Al melangkah dan melemparkan kontak mobil pada Vico seraya berujar, "Kau saja yang nyetir. aku capek semalam kurang tidur."


Vico tertawa penuh ledekan kepada Al. "Woy. Bro, kau semalam tak bisa tidur karna lembur sama bini, apa capek berkhayal tengah bercinta dengan mam...."


PLAK!!!

__ADS_1


Al menampar keras pipi Vico sambil berkata," kau janga lancang menyebutnya."


__ADS_2