Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die 36


__ADS_3

Tiba di rumah dan mobil sudah terparkirkan, Axel masih menyempatkan diri untuk menggoda Berlyn.


"Ayo, aku gendong kamu, Sayang," ucapnya, menawarkan diri.


"Jangan macam-macam," ucap Berlyn sambil melotot.


"Kamu jangan galak-galak gitu, dong. Nanti aku makin cinta sama kamu, dan kalau sudah cinta, jatohnya ke nafsu," jawab Axel sambil terkekeh. Selah taiada habisnya dia menggoda Berlyn.


Tak ingin berdebat, Berlyn pun beranjak keluar mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Axel hanya tersenyum seorang diri melihat bagaimana menggemaskannya tingkah Berlyn di matanya. Tidak lama kemudian, pria itu juga turun dari mobil dan menyusul Berlyn masuk ke dalam rumah.


"Sayangm kau sudah pulang rupanya?" tanya Queen pada Berlyn.


Tapi, tungggu. Sepertinya ada yang salah dengan gadis itu. Tidak ada senyuman atau apalah. Wajahnya sangat kaku dan datar bahkan murung. Kenapa? Tanpa satu pun isyarat, Berlyn menghampiri mamanya dan memeluk erat wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Lyn, apakah ada masalah, Sayang?" tanya Queen sekali lagi.


Berlyn diam dan mencoba berfikir. Ia tidak mungkin, juga kan mengatakan pada mamanya atas apa yang baru dia lihat? Mengatakan apa yang dilakukan oelh kembarannya juga mustahil. Ia takut, jika nanti mamanua akan membenci Clarissa. Jadi, diam adalah pilihan yang tepat baginya.


Tidak berselang lama Axel muncul di belakang Berlyn.


"Axel, apakah kau pulang bersama Berlyn?" tanya Queen pada pria yang sudah ia anggap anak sendiri itu, berharap darinya ia mendapatkan jawaban.


"Iya, Ma," jawab Axel singkat. Dia tahu, maksut pertanyaan dari mama Queen itu apa. Jelas dia menanyakan tentang Berlyn. Dia jadi merasa bersalah. Axel merasa, kalau hari ini Berlyj murung itu karena ulahnya dalam sehari ini sangat keterlaluan. 'Berlyn, begitu tidak sukanya kah kau padaku? Kau bahkan sampai semurung itu. Di mana keceeriaanmu? Aku rindu, Berlynku. Kau kecewa, dan marah, marahlah. Tapi, jangan begini. Aku tak mampu kau diamkan apalai kau benci. Kau tidak tahu, kan bagaimana sakitnya aku? Bertahun-tahun mencintaimu. Tapi, kau malah mencintai orang lain. Terlebih pria itu adalah adik kandungku sendiri,' batin Axel.


Berlyn melepaskan pelukannya. Kemudian gadi itu beranjak meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.


Queen dan Axel saling tatap. Keduanya sama-sama diam memikirkan perubahan Berlin yang bagi mamanya sangat aneh. Tapi, lain halnya dengan Axel yang ada dalam benak pria itu, Berlyn berubah karena dirinya.


"Xel, apakah dia bersamamu sejak tadi pagi," tanya Queen pada putra angkatnya.


Axel diam tidak langsung menjawab. Dia bingung harus berkata apa. Mau bilang jujur, takut salah juga. Terus bersamanya seharian, emang apa aja yang dilakukan dari pagi sampai saat ini? Sedangkan dia masih sempat beristirahat di rumah beberapa jam dan mengajar di kampus ketemu dia di jalan sekitar pukul empat sore.


"Tidak, Ma maafkan Axel. Tadi setelah pertandingan bola basket usai, Berlyn tidak mau ku antarkan pulang. Katanya dia masih ada urusan dengan temannya, kupikir yang dimaksud adalah Adriel. Ternyata bukan setelah aku pulang dari mengajar di kampus, aku bertemu dia di jalan. Dia menunduk dengan mata memerah seperti habis menangis, ku ajak dia masuk dalam mobil lalu antarkan pulang," jawab Axel dengan jujur. Walaupun tidak sepenuhnya jujur. Karena, diam-diam dia merasa bersalah. Dan yang jadi dugaannya dia juga ga brani ngomong ke mamanya.


"Oh, ya sudah. Terimaksih, ya? Kau mandilah, dulu. Mama akan menyusul dia ke kamarnya dan menanyakan langsung apa yang sebenarnya terjadi," ucap Queen kemudian.


Axel bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya, mama Queen tidak menaruh rasa curiga sedikitpun padanya. Mungkin nanti Berlyn mau mengatakan sesuatu pada Mama Queen, dan saat itu juga, barulah dia bisa mengikuti alurnya. Jika Berlyn mengaku apa yang terjadi padanya atau apa yang sudah dilakukannya, ya sudah, tinggal mengakui saja. Kalau selama ini dia memang benar-benar menyukai Gadis itu tapi jika bukan ya sudah mungkin diam adalah pilihan yang tepat.


"Kak Axel, dari mana?" sapa Bilqis yang baru saja keluar dari dapur. Sepertinya bi Yul sudah kembali. Dia berada di sana, sibuk menyiapkan menu makan malam.


"Aku dari kampus. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, ya sudah, Kak," ucap Bilqis lagi.


Axel hanya tersenyum simpul kemudian berlalu. Ia menaiki anak tangga. Dan segera mandi.


Sementara Berlyn mengunci diri di dalam kamar. Dia jika sudah seperti ini, enggan bertemu dengan orang lain. Mau bercerita juga pada siapa?


Kembali Clarissa menelfon-nya. Gadis itu enggan mengangkat panggilan tersebut. Tapi, satu panggilan tak terjawab mengusul panggilan selanjutnya sampai pada akhirnya Berlyn pun menyerah juga.


Berlyn meletakkan ponselnya pada tripod. Dia enggan memegang benda pipih itu. Biarkan saja, kembarannya melihat dirinya. Dia akan melakukan pekerjaan sendiri.


"Alyn, kau jangan marah gitu dong sama aku. Dalam dunia mafia, caraku ini terlalu halus," ucap Clarissa dengan nada memelas.


"Siapa suruh kah jadi mafia? Maka tinggalkan. Ini kemauan mu sendiri. Papa dan mama tidak tahu, kan?" jawab Berlyn tanpa mau memandang pada layar ponselnya.


"Maafkan aku, Alin. Aku sudah lama ingin mengakhiri ini. Tapi, aku tidak bisa."


"Jika kau saja tak bisa berhenti, lalu bagaimana dengan kami? Yang bisa mengeluarkan mu dari jeratan ini, ya hanya kamu sendiri, Sa."


"Maafkan aku," ucap gadis ktu dengan melas.


"Kenapa kau meminta maaf padaku? Kau bersalah pada dirimu sendiri. Cukup perbaiki saja dan jangan berlaku demikian lagi."


"Toook... toook... took!"


Berlyn menoleh cepat ke arah pintu. Kemudian memberi isyarat pada Clarissa dari layar ponselnya kalau ada yang datang.


"Baik, kamu lihat saja, aku matikan panggilannya, byee!" ucap Clarissa. Kemudian, panggilan pun terputus.


Berlyn melangkah mendekat ke arah pintu. Dari lubang kunci dia mengintip. Ternyata mamanya. Tanpa berfikir panjang, gadis itu pun membukakan pintu dan mempersilahkan mamanya untuk masuk.


"Kau lagi apa, Sayang?" tanya Queen sambil tersenyum.


Gadis itu menjawab dengan bahasa isyarat, kalau baru saja Clarissa tengah menelfon-nya melalui video call.


"Oh, ya? Apa kabar dia Sayang? Mama dari tadi nelfon nomornya tidak aktif. Dia membahas tentang ulang tahun kalian berdua tidak?" tanya Queen dengan antusias.


Berlyn tersenyum namun dalam hati ia berkata, 'Jelas saja dia tidak menjawab panggilan dan mematikan nomornya. Dia sedang ada tugas besar eksekusi Tiara dan tiga bandot yang telah menggagahi kakak tirinya.

__ADS_1


"Dia bilang apa, saja sayang?" tanya Queen lagi. Membuyarkan lamunan putrinya.


Gadis itu hanya mengelengkan kepalanya saja.


"Kalian main rahasia-rahasiaan ya, pada mama?" tanya mama Queen.


Tidak ingin berdebat, gadis itu ber jinjit merangkul namanya, dan mencium pipi wanita itu sambil tersenyum.


"Kamu memberi ciuman pada mama? Terima kasih sayang," ucap Queen. Lalu keduanya duduk di tepi ranjang. Queen memperhatikan putrinya. Ia masih penasaran apa yang membuatnya murung tadi. Bahkan, tadi Axel juga bercerita padanya kalau ia bertemu dengan Berlyn secara tak sengaja.


"Apakah kamu ada masalah? Cerita sama mama, Sayang," ucap Queen sambil menatap lekat kedua mata putrinya.


Namun, gadis itu diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Memang ada dua kejadian hari ini yang membuatnya banyak berdiam diri, dan terasa membebani pikirannya. Namun, satu pun dari masalah itu, ia tidak bisa berbagai pada siapapun, selain dengan kembarannya saja. Meskipun salah satu dari masalah itu juga tentang kembarannya.


"Sayang, ayo cerita sama mama. jika kamu terus diam, bagaimana mama bisa tahu? Dengan cara apa mama bisa bantu kamu. Kamu ngomong, dong! Ini mama kamu, juga bisa jadi sahabat dan teman curhat. Bicaralah, katakan apa yang salah, mama janji tidak akan marah sama kamu, oke?" bujuk dengan lembut.


'Kau tidak akan marah padaku, Ma. Aku tahu itu. Karena kau sangat menyayangiku. Tapi, kau nanti pasti akan bertengkar dengan papa,' ucap Berlyn dalam hati.


Berlyn teringat dengan suatu kejadian. Di mana saat ia masih kecil dulu. Ia sering mendapati papa dan mamanya hampir setiap hari bertengkar terus, sampai-sampai papanya marah, dan beberapa hari tidak pernah pulang.


"Aku lelah sama kamu Queen! Kau selalu saja begitu menyalahkan ku atas kejadian ini. Apa kau tidak percaya takdir?" teriak papanya suatu malam. Ketika papanya baru pulang dari bekerja. Entah, dia benar-benar lembur atau alasan. Hanya saja, seingat Berlyn, papanya sering berangkat pagi pulang tengah malam. Bahkan pernah sampai tiga hari tidak pernah pulang sama sekali.


"Takdir? Takdir atau karma? Sudah berapa jiwa yang kau buat melayang? Berapa jiwa yang kau buat trauma hingga gila? Memiliki anak bisu itu karma akibat ulah mu, Al," teriak mamanya sambil menangis.


"Terus saja salahkan aku, terus!" teriak papanya. Kemudian, pria itu kembali meraih tas kerja yang sudah diletakkan diatas sofa dan kembali keluar.


Sementara mamanya hanya menangis dan jatuh bersimpuh di atas karpet yang di gelar di ruang tamu rumah mereka.


Al dan Queen mungkin tidak tahu, kalau Berlyn kecil terjaga karena mendengar suara deru mobil dari luar. Dia langsung melompat penuh kegirangan sambil memeluk boneka beruang kecilnya dengan bibir tersenyum, berharap saat menyambut papanya pulang, dia langsung digendong dan dicium kedua pipi dan diajak tidur bersama sambil dibacakan sebuah dongeng.


Namun, itu hanya impian dan angannya saja. Tiba di luar, mamanya sudah lebih dulu menunggu papanya dan menyebabkan keributan.


****Comeback****


Berlyn berkata dengan bahasa isyarat kalau dirinya tidak apa-apa. Masalah dalam hidup seseorang itu selalu ada. Tinggal bagaimana saja kita menyikapi. Bukankah masalah itu untuk pendewasaan diri? Ia akan berusaha mengatasinya sendiri. Jika sudah tidak mampu, maka akan datang pada mama. Minta solusi


"Kamu, manis sekaki Sayang? Oke. Mama percaya kalau anak mama ini memang benar-benar hebat dan sangat mandiri," puji Queen. Lalu mencium kening putrinya dan memeluknya.


Ternyata di luar sana, Bilqis tanpa sengaja mendengar dan melihat mereka dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna.


Gadis itu diam-diam merasa kagum pada Berlyn. Bagaimana bisa, dia yang masih belia sudah memiliki pemikiran yang segitu dewasa. Lain dengan dirinya yang hanya ada sedikit masalah saja langsung prustasi.


Sementara Bilqis, ia langsung mandi dan keluar kamar. Di dapatinya papanya juga baru saja pulang.


Dengan antusias Berlyn berlari ke arah papanya dan memeluk erat.


"Hey, Sayang? Wah.. kau minta gendong papa, ya? Kau sudah dewsa dan berat. Papa mana kuat, Sayang?" ucap Al sambil tertawa.


Namun Berlyn tidak peduli. Ia tetap bergelandut manja menumpukan kedua lengannya pada leher papanya sambil tertawa. Meskipun dia tidak sampai mengeluarkan suara. Dari wajah putrinya, Al menangkap sebuah isyarat yang mengatakan kalau ia tidak yakin jika dirinya kuat menggendong mama, masak tidak dengan aku? Tapi, Al mengabaikan itu. Tidak mungkin juga, kan Berlyn tahu apa yang dilakukan antara dia dan mamanya jika sudah berada di dalam kamar?


"Biar papa tebak. Kau pasti minta sesuatu yang spesial, bukan?"


Berlyn mengeleng sambil tersenyum dan berkata lewat bahasa isyarat, "Bukankah Clarissa suka begini pada papa? Aku juga putrimu. Maka, aku akan melakukan hal yang sama."


Kali ini, hanya Al yang mengerti tentang isyarat ini. Meskipun ada Bilqis yang melihat, ia tidak peduli.


"Hahaha. Jadi begitu? Oke baiklah. Sekarang kau turun dulu. Di mana mama kamu?" tanya Al. Sambil merapihkan asal kemeja bagian depannya yang sedikit lecek. Karena saat Berlyn bergelandut dia dalam keadaan tidak siap.


Berlyn menunjuk ke arah dapur. Lalu, ia beranjak ke tempat kerja papanya di kamar depan meletakan tas kerjanya di sana.


"Baik, Terimaksih, Sayang." Al mencium kening putrinya. Lalu pria itu beranjak ke dapur menghampiri istrinya. Yang berada di dapur sibuk memindahkan hidangan ke meja makan.


Saat di ruang tengah, Al juga menyapa anak tirinya yang sedari tadi mungkin memperhatikan bagaimana manjanya Berlyn padanya. Memang Al dari dulu sangat menyayangi kedua putri kembarnya. Awal masuk sekolah, Al sendiri yang mengantar jemput putrinya. Jadi, wajar saja, jika semua dekat sekali dengannya. Namun, dekat dengan papa, bukan berati mereka tidak dekat dengan mamanya. Keduanya adalah orangtua yang baik.


"Al, kau sudah kembali?" Sapa Queen.


"Selamat sore, Den Al," sapa bi Yul. Yang baru tiba sekitat pukul tiga sore tadi.


"Loh, bibi sudah kembali? Kok langsung kerja? Apa gak capek? Istirahat saja dulu, Bi," ucap Al.


"Sudah kubilangin tadi. Tapi beliau ngeyel saja. Ya sudah," timpal Queen.


"Masak apa hari ini?" bisik Al sambil memeluk Queen dari samping dan mencium pipi istrinya.


"Sesuatu yang spesial untukmu. Maka, cepatlah mandi dan kita bisa makan bersama," jawab Queen sambil mendorong tubuh istrinya.


"Baiklah, tapi siapkan pakaian gantiku," tawar Al sangat manja.


"Baiklah. Tapi, lepaskan aku dulu," ucap Queen.

__ADS_1


Seolah tidak memiliki rasa malu dengan kesehariannya yang selalu mesra dan harmonis lagi-lagi Al mengecup pipi istrinya dan melepaskan pelukan.


Bilqis yang melihat itu ia hanya tersenyum seorang diri. Ia membayangkan, betapa menyenangkannya hidup berumah tangga dengan orang yang dicintai dan dia juga mencintainya pastinya.


Kembali, kenangan pahit saat ia digauli tiga pria terbesit dibenaknya. Ia memang merasakan sakit di awal. Namun, setelah sedikit lama ada rasa aneh yang tak bisa dia jelaskan. Dia tak lagi kesakitan. Namun, tetap jijik ketika melihat siapa pria yang berada di atas tubuhnya.


Ia menangis berteriak ingin menyudahi. Namun diabaikan oleh mereka, masing-masing orang menyemburkan maninya sampai tiga kali. Meskipun. Ada yang di dalam rahimnya, perut bahkan wajahnya. Sedikitpun mereka tidak memberi jeda meski dia sudah memohon.


"Ah, jika saja aku melakukan dengan orang yang aku cintai, pasti aku sangat menikmatinya," batin Bilqis.


Tiba-tiba kepala Bilqis terasa sakit dan pusing. Perlahan-lahan ada rasa yang aneh menjalar di tubuhya.


'Kenapa ini? Apa yang terjadi padaku?' batin Bilqis. Napasnya pun juga sudah terasa berat. Melihat bagaimana papa tirinya memeluk dan mencium mama istrinya, membuat gadis itu terbayang-bayang akan hal yang sangat intim. Ingatannya juga mulai ke mana-mana.


"Bi, saya mandi dulu, ya?" pamit Bilqis pada bi aYul. Lagipula, memasaknya juga sudah selesai. Tinggal mencuci sedikit perabot bekas untuk masak tadi juga hanya beberapa. Dicuci nanti setelah makan malam pun juga tidak masalah.


Saat hendak menuju kamarnya, Biqlis melintas di depan kamar papa Al dan mama Queen. Gadis itu diam mematung di depan pintu. Entah kenapa, dia tiba-tiba saja dia merasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana. Bilqis melihat keadaan sekitar memastikan kalau benar-benar tidak ada orang yang melihatnya. Setelah di rasa aman, gadis itu membungkuk, mengintip dari lubang kunci.


Di dalam sana, Bilqis melihat papa Al tengah bertelanjang dada dan memeluk mama Queen dari belakang. Terlihat jelas olehnya, kalau wanita di dalam sana tengah membuka lemari pakaian. Sepertinya mama tirinya telah mencarikan pakaian ganti untuknya.


"Al, cepatlah mandi, lihat badanmu sangat lengket, ini," protes Queen.


"Kenapa harus mandi sekarang? Buru-buru sekali," jawab Al tidak menggubris dan tetap memeluk erat tubuh wanita di depannya.


"Anak-anak sudah menunggu kita."


"Ya sudah. Ayo, kalau begitu kita cepat-cepat." Al membalikkan tubuh Queen dan menciumi area leher wanita itu. Sehingga keduanya hanyut dalam permainan mereka berdua.


Bilqis langsung berdiri tegap. Ia berlari menuju kamar. Ada hal yang juga perlu ia tuntaskan sendiri.


****


Pukul 18.30 semua berkumpul di meja makan. Tidak ada yang aneh, pun juga Bilqis semua berjalan seperti biasanya. Hanya Axel saja yang sedikit terlihat tegang menunggu mama Queen mengatakan sesuatu.


'Berlyn tidak mungkin mengatakan pada mama kalau aku telah menciumnya, kan? Ah, jika pun iya, aku akan katakan pada mereka kalau aku sudah jatuh cinta pada putri mereka sejak lama sekali,' batin Axel.


Pria itu terkejut saat tiba-tiba di piringnya ada yang meletakkan sepotong daging sapi bakar dari arah kanan. Ia menoleh, ternyata Berlyn yang memberikan untuknya sambil tersenyum dan berkata dalam bahasa isyarat, "Kau pasti banyak berfikir, bukan? Makanlah yang banyak. Karena pikiran juga menguras energi." Gadis itu mengepalkan tangan kanan dan menekuknya ke atas memerkan lengannya yang lurus dan cantik.


Axel tertawa. Lalu, dia berkata, "Kau juga makanlah yang banyak. Lihat, badanmu sangat kurus."


Dikata kurus Berlyn hanya melotot pada pria yang duduk di sebelahnya. Sampai-sampai ia mencubit lengan Axel.


"Aww! Sejak kapan kau hobi mencubit, ku Sayang?"


Mendengar kata sayang terlontar dari bibir Axel tiga orang yang berada di meja makan langsung menoleh memandang dua anak muda dan gadis belia di depannya.


'Sial, semua melihat ke arah kami. Pasti papa dan mama mengira aku ada hubungan kusus dengan kak Axel,' umpat Berlyn dalam hati. 'tahu gini, aku tidak mau perhatian sama dia. Habis, liat dia diam merengung aku kok kasian, sih?' keluhnya lagi dalam hati.


"Kalian sedang apa, ya?" tanya Queen sambil melihat Axel dan Berlyn secara bergantian.


"Tidak ada, Ma. Berlyn memberiku daging sapi bakar. Aku mengucapkan padanya terimaksih karena sudah perhatian padaku," jawab Axel. Sepertinya pria itu tidak sengaja saat mengatakan sayang pada Berlyn.


"Oh, ya sudah. Kalian makanlah. Oh, iya. Adriel tadi gimana? Katanya menang ya?"


"Iya, Ma. Tetap menjadi juara pertama di semi final."


"Wow, hebat sekali. Gak sia-sia dong kamu melatih selama ini," puji Queen.


Axel hanya tersenyum malu-malu saja.


"Kamu tidak tanya padanya Xel, kenapa sekarang kok jadi jarang datang kemari? Papa sama mama juga kangen makan bareng ada kau dan Adriel. Biar kamu, tidak jadi anak terganteng terus jika tanpanya," tanya Al. Dan semua pun tertawa mendengarnya.


"Mungkin juga sibuk, Pa. Anak muda jaman Sekarang masih SMP aja sudah banyak yang berani pacaran. Apalagi Adriel sudah kelas dua SMA."


Berlyn diam memikirkan kata-kata Axel. 'Apa benar, Adriel seperi itu? Sudah memiliki pacar tapi tetap mengejarnya? Lalu, dianggap apa aku ini? Belajar di rumah atau di sini bukankah sama saja? Malah tidak perlu habiskan waktu melihat hp dan ketik-ketik pesan setiap menitnya.'


"Hahaha, memang Adriel sudan punya pacar, Xel? Dia masih sangat muda. Lalu, kamu bagaimana? Kau sudah mapan, cepatlah cari pendamping hidup," jawab papa Al sambil tertawa.


"Entahlah, Pa. Melihat kepribadiannya yang keren dan pembasket, mana mungkin dia jomblo. Pasti sudah punya."


"Memang saat bertanding bola basket tadi ginana?" tanya Queen ikut penasaran.


"Rame, Ma. Heboh suporter wanitanya," jawab Axel sambil melirik ke arah Berlyn. Dalam hati pria itu bersorak telah berhasil membakar hati gadis itu.


"Terus, kak Axel kapan? Masak pacar saja tidak punya?" timpal Bilqis. "apa masih setia menunggu yang dulu?" imbuhnya lagi.


"Kau benar. Aku setia pada satu wanita dan akan terus menunggunya," jawab Axel.


Al dan Queen saling pandang kemudian mereka bertanya hampir bersamaan.

__ADS_1


"Kau sudah ada gadis yang kau incar? Cepat kejar dia, jika dapat, bawa pulang kenalkan pada kami."


__ADS_2