
Permisi, apakah anda mencari saya?" sapa Alex.
mendengar suara sapaan Alex Wanita itu pun menoleh kebelakangย menunjukan wajanya pada pria yang baru saja menyapanya itu.
"Alex, kau tidak sedang sibuk, kan?" sapa wanita itu bergeser dari duduknya memberi isyarat agar pria itu duduk di sebelahnya.
"Ya, kalau gak sibuk aku tidak akan ada di sini. Tapi di rumah." Dengan muka kecut Alex menjawab dan dudul di sofa depan wanita itu yang berbataskan meja kaca.
"Oh, by the way, aku turut berduka cita atas musibah yang menimpa mertuamu. Selarang gimana kondisi om dan tante?" ucap Helena mengalihkan pembicaraan.
"Mereka masih koma. Belum sadar."
"Kasian, Quen. Pasti dia sangat terpukul atas musibah ini, kamu juga yang bisa tenangin dia, ya?"
"Ya, itu memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami. Dan Quen, dia adalah wanira hebat dan luar biasa. Dia mampu menghadapi semua ini dengan sabar. Hari ini dia juga sudah aktif kegiatan praktik di rumah sakit, kok."
Helena mengangguk-angguk. Dia di tampak berfikir sejenak. Mencari kalimat yang pas untuk disampaikan kepada Alex.
"Alex, hari ini aku ingin buay vlog di sini. Boleh?"
"Silahkan saja."
"Tapi, aku butuh bantuan kamu," ucap Helena dengan cepat.
Alex nampak berfikir. Dan berharap dalam hati semoga aja dia tidak aneh-aneh aja maunya.
"Bantu megang kamera?"
Helena tertawa.
"Bukan. Kau jadi intruksi senam dan beberapa gerakan lain, seperti ini."
Helen menunjukan bebrapa gerakan senam dua orang pria wanita yang tampak kompak, keren dan memiliko kesan romantis seperti artis dan kekasihnya lakukan .
Alex terkejut melihat adegan yang Helena tunjukan. Ia menyeringai dan menatap dengan tatapan menghina gadis di depannya.
"Helen, kalau aku masih lajang pantas saja seperti ini. Tapi, aku ini sudah bersuami. Jika istri dan keluarganya tahu, apa pendapat mereka tentang aku?"
"Kita hanya bikin konten, Lex. Kau akan dapat bagian dariku." Sebisa mungkin Helena berusaha meyakinkan Alex.
"Maaf. Aku tidak akan menggadaikan keutuhan keluargaku hanya karna hal-hal semacam ini. Kau boleh ngevlog bebas di sini. Tapi jika dengan hal seperti itu, maaf aku tidak bisa. Di sini ada instruktur lain yang lebih baik dariku jika kau mau. Jika tidak, cari gym lain."
Dengan tegas Alex menolak tawaran Helena dan dia pun berdiri hendak meninggalkan Helen. Tapi, gadis itu dengan sigap menangkap dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Alex dari belakang.
Dalan hati Helena sudah kepalang basah, mau apa lagi? Jika harus berfikir soal harga diri. sejak dulu terutama saat pesta ulang tahunnya dia juga sudah tak punya harga diri lagi di mata Alex. Bagi Helena harga diri dan kehormatannya tidak lagi penting. Dia semakin sulit berdamai dengan hati dan perasaannya. Awalnya dia baik-baik saja saat Alex mengatajan break dulu. Tapi, hingga tiga tahun tak ada penjelasan apapun tau-tau dia menikah dengan Quen.
"Helena, apa yang kau lakukan?" ucap Alex melepas tangan Helena dengan sedikit kencang.
"Aku gak mau, Alex. Aku tidak terima kau perlakukan seperti ini!" Teriak Helena.
"Tidak terima bagaimana? Apa yang sudah aku lakukan padamu? Katakan!" bentak Alex, taknkalah tinggi.
"Kau ingat dulu, apa yang kau katakan padaku, kau bilang kita break dulu, aku tunggu sampai satu tahub tak ada ketegasan apapun. Lalu kau bilang cukup berteman. Aku diam, dan sekarang? Tiga tahun setelah kau bilang kita berteman saja kau tau-tau menikahi salah satu mantan mu, Lex."
Helena berkata sambil terisak. Bahkan, jika ada orang lain di dalam ruangan itu, jelas, dia sudah dikata sebagai cewek gila dan tidak waras.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Alex heran setelah mengusap wajahnya sendiri dengan keras.
"Kau belum resmi memutuskan hubungan kita, kita masih pacaran," ucap Helen. Dengan nada terluka.
Alex tertawa miring melihat tingkah Helena yang sangat konyol itu.
"Kalau sudah teman ya bukan pacar lagi, Helena. Jika aku sudah berkata demikian, artinya aku telah memutuskan hubungan denganmu dengan cara halus."
"Lalu, kenapa kau menikahi mantanmu? Jika itu tidak masalah, dan sama-sama mantan kenapa harus Quen? Bukan aku saja, Lex."
Alex memejamkan matanya dan mencubit atas hidung antara dua alisnya. Diam sejenak, sebab ia tak tahu harus berkata apa. Entah sejak kapan pula Helena bisa berubah drastis menjadi segila ini.
__ADS_1
"Jawab tanyaku, Alex! Kau jangan diam saja!" bentak Helen. "Dulu, kau rela kehilangan dia demi aku, tapi, kenapa sekarang kenapa kau meninggalkanku demi dia? Kau sama saja halnya memungut sampah di jalanan yang sudah kau buang!"
"Plak!"
Alex benar-benar geram. Dia tidak pernah kasar dan marah pada wanita. Apalagi sampai menampar. Tapi, mendengar isterinya dikata sampah oleh wanita seperti Helen dia hilang kendali.
"Kalau Quen sampah lalu kamu apa? Dasar jalang!" Dengan emosi Alexย keluar membuka pintu ruangan dengan kasar dan membantingnya keras.ย
Alex kembali ke lokernya memakai jaket dan mengambil kontak mobil dan pergi meninggalkan gym begitu saja. Percuma juga di sana kalau moodnya lagi jelek begini.
๐ ๐ ๐ ๐
Diaz buru-buru menghampiri Quen sebelum kedahuluan oleh Gea.
"Ikut aku, yuk!" ajak Diaz tanpa ragu-ragu.
"Kemana?" Dengan wajah heran Quen menatap Diaz, sebab selama dia bekerja sama dalam waktu yang tidak bisa dikata singkat lagi, tidak pernah sekalipun Diaz mengajaknya secara langsung dan sendiri saja. Kenapa dengan anak ini? Pikir Quen.
"Ke suatu tempat, ayok!"
Entah sudah mengumpulkan mental berapa lama atau karna tidak sadar, Diaz menggandeng tangan Quen dan membawanya sedikit berlari keluar ruangan.
Quen nurut saja, awalnya dia mengira dibawa ke kantin. Tapi, dugaannya salah. Diaz mengajak keluar area rumah sakit. Dia mengajaknya di sebuah kedai pinggir jalan memesakannya makanan ringan dan minuman lalu berkata pada Quen.
"Kau lihat itu, sekumpulan umat islam hendak melaksanakan sholat jum'at. Nanti akannada khutbah. Temanya apa aku tidak tahu. Tapi, kurasa selama kau diam dan memperhatikan di sini kau akan mendengarnya. Baik-baik di sini, ya? Aku sholat jum'at dulu. Nanti kalau sudah aku akan segera kembali."
Quen mengangguk patuh. Entah, daya pikat macam apa yang dimiliki Diaz, bisanya Quen menuruti semua yang diperintahkannya. Memang pada dasarnya dia type orang yang pandai menjaga perasaan temannya.
Satu menit dua menit sampai lima menit Quen masih merasa biasa-biasa saja saat mendengarkan suara qiroat dari suarau yang kian ramai di datangi jemaah laki-laki mulai yang tua, muda bahkan juga ada anak-anak pula.
Mesuki menit kesepuluh, Quen berfikir. Kenapa kakel papa dan kakaknya tidak ada yang menjalankan sholat jum'at. Jangankan sholat jum'at. Lima waktu saja hampir tidak pernah.
Tiba-tiba dalam dada Quen terasa tersentuh dan sakit, dalam tenggorkannya pun terasa seperti tercekik saja. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir tapi, bukan karna dia bersedih. Entah apa namanya. Jika dia bahagia, apa alasannya untuk bahagia? Kakek neneknya baru saja meninggal. Salah satu kakeknya memang selamat dan bisa pulang dalam waktu dekat ini. Tapi, papa dan mamanya masih berjuang antara hidup dan mati dengan bantuan alat penopang kehidupan di ruang ICU. Bahkan kemarin juga dia mengalami keguguran.
Quen menunduk menyembunyian wajahnya dia menunduk memeluk dua lengan yang terlipat di atas meja.
Tanpa sadar Quen memeluk pria berkemeja putih dan berpeci hitam di belakangnya. Ia terisak di dada pria yang bukan apa-apanya itu, dan bahkan baru dikenalnya beberpa bulan terakhir ini.
"Diaz, aku sadar, musibah yang menimpaku ini bukan ujian. Tapi, peringatan."
Diaz badannya kaku tak dapat digerakan. Menyentuh wanita saja baru pertama kali, tapi, ini malah wanitanya memeluknya. Ia merasakan sesuatu pada dadanya. "Eh, seperti ini, ya rasanya dipeluk cewek?" gumamnya dalam hati. Tapi. Akal sehatnya segera menepis agar tersadar.
"Kita kembali yuk. Masih ada waktu tigapuluh menit kamu sholat dzuhur di mushola rumah sakit, ya?"
"Aku gak bisa, ajarin aku, ya?"
Diaz tersenyum dan mengangguk lalu mengajak Quen berjalan beriringan tanpa bergandengan tangan.
Usai melaksanakan sholay dzuhur, Diaz tidak mau membahas tentang islam. Dia menahan dulu aoa yang ingin dia katakan kepada Quen. Sebab hati wanita itu masih sensitif dan rapuh.
Dari kejauhan tampam Gea bersungut-sungut karena mereka berdua meninggalkannya.
"Hey, kemana saja kalian berdua kok aku tidak di ajak?" rajuknya.
"Aku baru saja sholat jum'at Gea. Kebetulan lihat Quen, jadi aku samperin dia," jawab Diaz dengan suara khasnya yang kalem dan lemah lembut.
"Kalian sudah makan?" tanya Gea.
Quen mengangguk sementara Diaz mengelengkan kepala.
"Ya sudah, kita kembalu sekarang yuk, makanan kita sudah disediakan di ruangan." Gea menggandeng Quen sementara Diaz berjalan di belakang dua wanita itu.
Di koridor depan ruang laboratorium Quen sempat berpapasan dengan Aditya. Tapi, dia lebih memilih menunduk daripada bertatap muka dengan pria itu dan bermanis-manis di depan umum. Quen sungguh tidak bisa sejak dia merasa dilecehkan oleh pria itu.
"Oh, ya, Diaz. Bagaimana kalau pulang praktik kita jenguk orang tua Quen?" usul Gea.
"Iya, boleh. Tapi, aku naik motor gapapa, kan?"
__ADS_1
"Yadah, motor kamu biar di sini saja, besok aku samperin deh berangkatnya ke kosan kamu," jawab Gea.
Diaz mengangguk tanda ia setuju. "Ya sudah."
๐ ๐ ๐
Alex keluar dari gym menemui Juna di tempat kerjanya. Selain sudah jarang bertemu, cuma dia yang paling bisa mengerti posisinya saat ini, mungkin.
"Ada apa, Lex, wajah kusut begitu?" tanya Juna tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Helena baru saja ke gym, Jun."
Mendengar nama Helena dengan cepat Juna menoleh ke arah Alex dan bertanya, "Kau tidak sedang CLBK, kan setelah apa yang menimpa istrimu?"
"Jelas saja tidak. Cukup sekali aku kehilangan Quen. Udah gak mau gila lagi, Helena yang kian hari makin tak waras," gerutu Alex sambil menyulut rokok yang sudah ada di bibirnya.
Juna menyeringai kecil melihat ekspresi Alex yang tidak pernah berubah saat jengkeo dengan seseorang. "Kenapa dia?"
"Dia datang katanya mau ngevlog di gym ku. Dia minta aku untuk jadi pemandi senamnya dan yoganya. Dan gerakan yang dia contohkan gerakan layaknya sepasang kekasih, gila kan dia?"
Mendengar hal itu Juna tertawa tiada henti seperti orang kesurupan saja. "Terus apa lagi yang dia katakan?"
"Katanya aku belum mutusin dia dan tau-tau ninggalin dia menikah dengan Quen. Tiga tahun sebelum menikah aku dah bilang kita berteman dia tidak terima. Gak tau aku harus bagaimana lagi hadapin dia." Alex mengepulkan asap di depan wajahnya.
"Menurut pengalamanku, ya. Biasanya cewek yang sudah tidak tahu malu itu dalam mengejar pria itu biasanya lo ya, biasanya perlu digaris bawahi. Kalau kamu pengecualian jangan marah..." ucap Juna terpotong oleh pertanyaan Alex.
"Biasanya apa?"
"Biasanya udah pernah diprawani ma laki-laki yang dia kejar mati-matian saat ini. Kamu emang dulu pernah giti ma Helena?"
"Ya, dan Quen sudah tahu," cetus Alex.
"Ya, aku tidak ada solusi kalau begitu. Kau dah nikmatin anak orang tanpa tanggung jawab, sih." ledek Juna.
"Dulu, saat SMA, Helena memancingku, Jun. Dia ajak aku kerumahnya. Di sana gak ada orang. Pembantunya pulang kampung. Lalu, dia memberiku obat perangsang. Dia juga yang lebih dulu meraba-raba."
"Dan kau melahapnya?"
"Lalu, di mana ada harimau kelaparan yang tidak menerima jika ada sepotong daging segar dilempar ke dalam kandang? Ayolah, aku manusia biasa, Jun." keluh Alex.
"Kau tidakah berusaha menjelaskan hal itu padanya?"
"Dia itu dungu, aku sudah jelaskan semuanya tapi, entah bebal atau gimama dia gak mau tahu. Capek aku pokoknya. Jun, aku minta tolong lah, kamu kan juga kenal baik sama dia, ajak lah ketemu ngobrol-ngobrol berdua gitu dan kamu kasih dia pengertian. Kali aja bisa masuk kepala kalau kamu yang kasih tahu."
"Ok, baiklah. Tapi, aku tidak janji secepatnya, ya? Tahu sendiri bekerja di bawah pengawasan pak Al itu bagaimana? Dia super ketat dan disiplin, bro."
"Ok, baiklah. Thanks bro. Aku jemput istriku dulu," ucap Alex menepuk pundak Juna lalu pergi.
Setelah Alex pergi, Juna baru sadar, dia hampir tidak pernah menjeput Gea. Sekalipun dia mengerti dengan kesibukannya sebagai wanita biasa, tentu dia juga ingin diperhatikan. Meski sudaj dua tahun hubunyan mereka berjalan baik-baik saja, jika Juna terus begini Gea bisa saja jengau dan merasa bosan. Bukan?
Juna pun meraih ponselnya untuk menelfon sang kekasih, menanyakan pulang jam berapa.
"Halo, Kau di mana sayang?" tanya Juna begitu panggilan terjawab.
"Ini aku, di jalan sama Diaz dan Quen ke rumah sakit Bhayangkara jenguk kakek dan papa mamanya."
"Kalian sudah on the way?"
"Iya, kenapa?"
"Alex barusaja dari sini, dan mau menjemput Quen katanya."
"Oh, itu, Quen baru saja menelfonnya."
"Ya sudah, aku akan menyusulmu nanti." ucap Juna lalu mengakhiri telfonnya.
Kira-kira gimana ya? Diaz dijodohkan sama Hanifah, biar bisa ngubah dia jadi cewek baik sebaik Zahara, atau sama zahara saja cewek muslimah yang baik, dan sama-sama taat agama seperti dia? biarkan sementara Diaz suka ama Quen dulu, sampai Quen kehilangan Alex dan sedikit bersaing sama Al. hehehe
__ADS_1