Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 9


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Queen bekerja. Dia mengajukan


cuti selama tiga bulan untuk persiapan kelahiran dan masa pemulihan. Hasil USG


nya menunjukan kalau ia tengah mengandung bayi perempuan. Jadi, di usia kandungan delapan bulan setengah jelas, ia sudah harus membatasi pergerakkannya


agar tidak terlalu capek karena perut juga sudah mulai besar dan terasa berat.


Tapi, semenjak trismester akhir, dia merasa kalau bayinya


sudah tidak serewel trisemester awal dan ke dua. Dia jarang mual dan makan


apapun ok. Hanya saja yang sering jadi kendalanya adalah sakit pinggang.


Hari ini kebetulan hari minggu, Al tengah libur. Jadi, ia


bisa menemani istrinya jalan-jalan pagi dalam waktu yang sedikit lama dan tidak


tergesa-gesa untuk pulang.


“Sayang, jalan-jalan, tidak?” tanya Al sambil meletakkan


wajahnya di atas telinga Queen yang kebetulan tidur dalam posisi miring.


“Iya, donk! Kamu bantuin aku bangun,” ucap wanita itu, dengan manja.


“Ayo, sini!” seru Al sambil mengalungkan lengan Queen pada


pundaknya dan menyangga bagian samping tubuhnya hingga duduk dengan sempurna.


Queen mengelus dan memegangi perutnya yang sudah sangat


besar, bahkan tubuhnya pun membengkak. Berat badannya naik drastis sampai


sebelas kg.


“Al, coba pegang, dia bergerak dan menendangi perutku dari


dalam,” ucap wanita itu dengan tawa rianganya, dan masih terus menggumbar senyuman.


“Oh, ya?” Al menempelka telapak tangannya pada perut Queen


dan mulai merasakan gerakan halus yang kian lama kian kencang saja.


Karena gemas, Al duduk berjongkok, meletakkan telinganya


pada perut Queen dan menciuminya beberapa kali.


“Halo, Sayang. Anak papa. Jangan tendang perut mama terlalu


kencang, ya? Lihat, tuh mama sampai kesakitan," ucap Al mulai mengajak


berinteraksi calon anaknya yang tinggal menunggu hari untuk lahir ke dunia ini.


Menjadi seorang ayah yang pertama kalinya, ia sungguh tidak


menyangka akan sangat sebahagia ini. Bahkan sejak kehamilan Queen, Al juga lebih perhatian dan jarang sekali pulang malam untuk lembur. Dia lebih memilih


pekerjaan di kerjakan di rumah ketika Queen sudah tidur. Jadi, sekarang jadi


cenderung kurang tidur. Dia juga tidak jarang, menggunakan waktu istirahatnya


di kantor untuk tidur.


“Ayo sayang kita jalan-jalan!” ajak Al. Queen pun bangkit


dan ikut keluar kamar tanpa mencuci muka.


Sejak dirinya hamil tua, ia dan Al tak lagi menempati kamar


di lantai atas. Yang ia tempati adalah salah satu kamar tamu yang berada di


lantai bawah, yang dulu sempat Al pakai saat masih panas-panasnya dengan Nayla.


Al sengaja mengajak Queen berjalan keluar dari pagar rumah


dan berjalan di area komplek perumahan. Hari minggu jalanan ramai oleh


orang-orang yang tengah berjoging dan berhenti di taman yang letaknya kira-kira lima ratus meter dari rumah mereka.


Saat mereka berjalan dan bergandengan tangan, Al memulai


pembicaraan untuk memecah keheningan.


“Nanti mau kau beri nama siapa anak kita?”


“Siapa, ya? Bagaimana


kalau Berliana Putri Al Fatih?”


“Hah? Al faith? Kan itu namaku, Sayang?” ucap Al sambil


tertawa. Namun di benaknya tersirat rasa bangga yang tak bisa ia sembunyikan.


“Iya, justru kau bapak dari anak ini, aku memberi namamu


untuk nama belakangnya,” jawab Queen sambil terus berjalan tanpa melepaskan gandengan tangan Al.


“Lalu nama panggilannya Belin?”


“Iya. Bagus, tidak?”


“Iya, begus. Pasti dia akan jadi gadis yang cantik dan


menawan bagaikan berlian. Mamanya saja cantik, bapaknya juga ganteng,” ujar Al


Queen mencupit pipi Al dan berkata, “Dih ge er.” Lalu,


keduanya pun tertawa.


Dari jalan-jalan, mereka tiba di rumah sekitar pukul tujuh


pagi. Mungkin orang-orang sudah pada sarapan. Atau malah sudah selesai. Mereka


berdua tadi memang sengaja berlama-lama di taman.


Queen yang semula baik-baik saja, raut wajahnya sedikit


berubah ketika ia mendapati Bilqis tengah ikut sarapan bersama mama, papa dan juga kakeknya. Meskipun ia sudah berusaha untuk bersikap netral dan biasa saja.


Tapi, tetap saja, Al menyadari itu.


“Kita sarapan saja dulu. Setelah itu, kita kelur, gimana?”


bisik Al.


Queen tersenyum pada Bilqis yang tengah menatap ke arahnya.


Lalu mengangguk perlahan saat mendengar saran Al.


Mungkn semua orang tak menyadari dengan sikap Queen yang


dipaksakan. Mereka semua menganggap normal-normal saja. Lain  halnya dengan Al. ia segera mencari cara agar


bisa lebih cepat meninggalkan tempat itu.


“Sayang, kamu makan yang cepet dikit ya? Habis ini aku ada


acra di luar dan rencana ingin mengajakmu,” ujar Al, berusaha bersikap Natural.


“Mau ke mana, kita Al?” tanya Queen. Memang sebenarnya dia


sendiri juga tidak tahu, kemana sebenarnya Al akan mengajaknya pergi.


“Ada pertemuan dengan rekan kerja yang juga dulu teman


sekolahku. Sekalian kita sambil beli perlengkapan bayi yang belum ada, gimana?”


Queen lagi-lagi hanya mengangguk saja.


“Ma, kemungkinan nanti Al sama Queen kembali agar sorean.” Ucap


Al pada mamanya.


“kenapa lama sekali, Al? jangan biarkan Queen terlalu capek.”


“Tidak, kami bertemu di hotel, nanti saat aku melakukan


pekerjaan biarkan Queen membuka kamar saja.”


“Y a sudah, kalian pergilah. Hati-hati, ya?”


Saat di mobil, Queen tertawa keras, ia menganggap Al memang


benar-benar sangat pengertian sekali.


“Sudah cukup ketawanya, Sayang.”


“Kamu pinter banget, sih? Beneran gak kelihatan kalau kamu melakukan


ini hanya sebuah alasan saja,” puji Queen.


Al tidak menjawab selain meraih tangan Queen dan


menciuminya. Seolah mengisyaratkan, kalau dirinya adalah segelanya bagi pria tampan yang tengah mengemudikan mobil itu.


****


Di sebuah ruangan


terbuka, roof top. Seorang pria tengah bersantai sambil memandang ke depan layar monitor laptopnya sambil melihat foto-foto prawed sambil tersenyum seorang diri. sepertinya ia tengah berkhayal, jika saja pasangan pria dan wanita dalam gambar-gambar tersebut adalah dirinya dan kekasihnya.


Tiba-tiba, sebuah panggilan yang berdering dari ponselnya


yang ia letakkan tidak jauh dari laptopnya membuyarkan segala imajinasinya.


Dengan buru-buru, pria itu meraih benda pipih yang masih


dalam jangkauannya dan mengangkat panggilan tersebut.


“Halo. Ada apa, Kak?” jawab Alex. seraya menempelkan


gawainya di pipi kanannya.


“Lex, kau pagi ini sibuk, tidak?” jawab wanita itu dari seberang


sana, yang menjawab panggilannya.


“Tidak. Apakah ada sesuatu yang perlu aku kerjakan untukmu,


kak?” Pria itu menawarkan diri, sambil menurunkan kakinya yang ia letakkan di atas meja.


“Iya, nanti jam Sembilan, Adriel perlu imunisasi di rumah


sakit, kau bisa mengantarkan kakak, Lex?”


“Tentu saja.” Pria itu melirik jam yang ada di pojok kanan


bawah di layar lap topnya, sudah menunjukkan pulul delapan kurang limabelas


menit. “ya sudah, Kak. Aku bersiap dulu,” ibuhnya. Lalu, panggilan pun di


matikan.


Sekitar setengah jam, Alex sudah siap dan hendak berangkat.

__ADS_1


Karena bibi pengurus rumahnya berada di tempat, tidak sedang ke pasar. Paria


itu pun berpamitan. “Bi, aku mau ke tempat kakak dulu nganterin dia


mengimunisasikan Adriel. Jika ada yang mencariku, suruh tunggu saja, mungkin juga aku tidak lama.”


“Baik, Den,” jawab wanita itu, sambil memandang punggung


Alex, higga lenyap dari balik pintu.


Setiba di rumah Novita. Alex mendapati kakaknya sudah


siap menggendong keponakan barunya dan mencangklong tas bayi.


“Sudah siap, kak?” tanya Alex, pada wanita itu. Harusnya dia


juga sudah tahu dan tidak perlu bartanya lagi. Tapi, dari pada tak ada yang dibicarakan.


“Iya, Sudah. Ayo kita langsung berangkat sekarang! Axel dan


mama tidak ada, dia ke Bandung kemarin sore. Kak Doni menjemputnya,” ujar Novita.


Alex meraih tas bayi yang dicangklongkan kakanya pada pundak


kanannya, ia membantu membawakan dan membukakan pintu mobil di samping kemudi.


“Bagaimana kondisi Adreiel, Kak? Rewel tidak? Jadi, semalam


kaka di rumah Cuma sama Adriel saja?” tanya Alex, membuka pembicaraan.


“Iya, mumpung libur Panjang. Om dan tantenya yang ada di


sana juga merindukan Axel. Katanya satu minggu dia dan mama akan tinggal di Bandung.”


“Kakak di rumah sendiri? Pulang ke rumah saja, Kak. Aku akan


bantu menjaga Adriel. Jika pun aku ke kampus atau pergi ke tempat GYM kan ada bibi di


rumah yang bisa bantu jaga Adriel.”


Dalam hati Alex menyesalkan tindakan kakanya. Kenapa tidak


dari kemarin saja dia telfon dan bilang kalau ia di rumah sendirian. Dia yakin


kalau kakaknya sudah pasti diajak dan dibujuk agar mau ikut. Tapi, pasti dia


menolaknya.


“Apakah tidak merepotkan dirimu?”


“Jika aku merasa direpotkan, kenapa pula aku menawarimu


untuk tinggal di rumah selama mereka berada di Bandung?”


Novita hanya tertawa dan mengangguk saja. Dari awal sejak ia


kembali ke Australi sebenarnya sudah sangat ingin tinggal bersama adiknya.


Tapi, karena mertuanya memohon agar tinggal bersamanya ia tak dapat menolak.


Dan kemarin ia menolak ikut ke Bandung juga ingin tinggal di tempat adiknya


beberapa saat. Sekalian mengawasi bagaimana dia kesehariannya.


“Ya sudah, kakak telfon saja pada tante Livia, dan katakana


kalau akan menginap di tempatku.”


“iya, beres.”


Karena kakaknya akan tinggal beberapa hari di tempatnya,


usai imunisasi Alex kembali mengantarkan kakaknya ke tempat mertuanya guna


mengambil keperluan Adriel dan juga pakaian ganti kakak dan keponakannya itu.


Karena Adriel sedikit rewel setelah di suntik, Alex pun


membantu dengan menggendong bayi itu, sementara ibu sang bayi mondar mandir ke


sana ke mari memacking pakaian ganti dan keperlaun mandi keponakannya.


Novita hanya memberi asi exlusif pada anaknya. Jadi, ia


tidak perlu repot-repot membawa botol dan alat untuk mensterilkannya. Cukup pakaian, peralatan mandi dan satu wadah refil tanggung detergen kusus pakaian


bayi sudah cukup. Itu pun sudah membuat isi tas bayi yang besar juga sangat penuh.


“Tolong itu kamu angkatkan. Sini, biar Adriel aku yang


gendong!” ujar Novita sambil meraih bayi itu.


Di tengah jalan, Novita baru teringat kalau dia tidak membawa


kapas steril untuk membersihkan wajah saat hendak mandi dan usai minum asi untuk bayinya, ia meminta Alex agar menghentikan di sebuah Apotek.


“Aduh, Lex. Ada yang kelupaan. Kakak lupa tidak bawa kapas,”


ucap Novi tiba-tiba.


“Kapas? Untuk apa, Kak?” tanya Alex heran.


“Untuk membersihkan kalau Adriel habis pup, habis minum asi


dan mukanya saat hendak mandi.”


“Ya sudah, kita beli saja. Beli di mana? Mini market?”


“Bukan, jarang ada soalnya, belinya di Apotek, Lex.”


“ya sudah di depan sana ada apotek. Kakak beli saja sendir. Aku tidak tahu.”


bayinya, Novita pun keluar dari mobil dan hendak masuk di apotik itu.


“Kamu sudah lahiran, ternyata? Coba ku lihat, anakmu


laki-laki apa perempuan.”


Baru saja Novita memasuki pintu kaca apotek tersebut,


seorang pria menyapanya. Ia hafal dengan suara itu. Tapi, ia tidak berani


menebaknya. Entah, takut tebakannya salah atau benar. Bahkan, menoleh pun ia juga tidak.


“Hey, kau ini songong sekali, sih? Ini sudah ketiga kalinya


kita berjumpa tanpa sengaja. Barangkali kita jodoh, hehehe. Siapa sih namamu?”


ucap Pria itu, sambil memberanikan diri memegangi pundak Novita saat wanita itu mengabaikannya.


Novita menoleh dengan kesal pada pria itu, dan berkata,


“Apakah penting mengetahui jenis kelamin anakku?”


“Tentu, aku penasaran sekali. Ngomong-ngomong, kamu itu


janda, ditinggal merantau suami atau bagaimana, sih? Masa tiga kali ketemu, dari hamil sampe ngelahirin kok ya sendiri saja, hehe sekarang berdua. Harusnya bertiga, kan?”


“Bukan urursanmua!” cetus Novita, akhirnya wanita itu pun


membuka kembali pintu kaca tersebut dan meninggalkan Apotek tanpa jadi membeli apapun.


Merasa ada yang aneh dengan wanita itu, pria itu pun


langsung mengejarnya. “Hey, Mbak. Apakah  pertanyaanku salah? Maafkan aku, aku Cuma bercanda tadi itu.


Tapi, novita terlanjur dongkol dan mengabaikannya.


Sementara Alex, yang terus mengawasi Novita dari dalam


mobinya segera keluar ketika mendapati kakaknya dikejar oleh seorang pria.


‘Siapa dia? Jangan-jangan orang berniat jahat,’ batinnya lalu segera keluar untuk menyelamatkan sang kakak.


Niat untuk melabrak pria yang tengah mengusik saudsarinya


seolah hilang ketika Alex menatap wajah pria itu dari dekat. Mulutnya seolah terkunci dan diam seribu bahasa. Entah dia itu syock kaget atau terkejut. Padahal tiga kata itu memiliki arti yang sama.


“Kau siapa? Suaminya dia? Maaf, aku mungkin telah menyinggung istrimu. Kita sudah bertemu tiga kali, dan bahkan aku belum tahu


Namanya walau sering nngobrol. Aku tanya nama dia tak jawab. Maaf, Mas, ya?” Pria itu pun akhinya berlalu pergi karena merasa tidak enak dan menganggap Alex suami dari Novita.


“Tunggu dulu, dia dalah kakakku. Suaminya sudah meninggal


kurang lebih satu tahun yang lalu. Kemarilah jika kau ingin mengenal kakakku!” seru Alex. Sebenarnya dia hanya penasaran saja dengan pria itu. Jadi, seolah membiarkan dia mengenal kakaknya.


Sementara Novita yang mendengar kalimat Alex hanya melotot


dan membatin, ‘Dasar bocah tidak waras.’


Sedangkan candra sendiri, ketika mendengarkan tawaran pria


yang mengaku adik dari wanita yang sudah membuatnya penasaran dan susah tidur


selama beberapa bulan ini pun menghentikan langkahnya. Kemudian ia berbalik


arah dan berjalan perlahan menghampiri Alex.


“Hay, namaku Candra, siapa namamu?” pria itu mengulurkan


tangannya kepada Alex yang juga terlihat aneh memandangya. Ia kian penasaran


saja, kenapa bisa? Saat ia berjumpa dengan sepasang kaka beradik ini mereka menaruh ekspresi yang sama-sama aneh.


“Namaku Alex. kau hanya ingin tahu nama kakakku saja, kan? Mungkin


dia sangat pemalu, dan belum bisa menerima pria baru dalam hidupnya. Dia namanya Novi.”


“Nama yang cantik sesuai orangnnya,” ujar Candra sambil


melirik wanita yang berada di mobil dan terlihat dari jendela yang kacanya


tebuka separuh.


“Ya sudah, aku harus kembali dulu, senang bertemu denganmu,”


ujar Alex, lalu pergi meninggalkan candra.


Begitu tiba di mobil, ia sudah disambut oleh pukulan dari


kakanya yang mendarat di lengan atasnya. Tak hanya itu, bahkan wanita itu juga terus


mengomeli dirinya Panjang kali lebar.


“Heh, kau ini merasa tidak, kalau tengah menawarkan aku pada


pria itu seperti layaknya barang dagangan? Itu sangat tidak pantas sekali Alex,


kakak jadi seperti barang lelangan saja.” Wanita itu langsung memalingkan


wajahnya ke arah jendela dan cemberut. Sepertinya dia benar-benar marah.


“Aku bingun tadi, sempat syok juga melihat wajahnya yang


mirip dengan mendiang Adit. Coba tanyakan tante Livia, kali aja dulu pas

__ADS_1


melahirkan anak keduanya kembar dan yang satu ketinggalan di rumah sakit gitu


dia lupa bawa,” jawab Alex kian melantur. Sebab, keduanya nyaris susah dibedakan. La wong Marcel Candra winata dan Misha Candra winata saja masih ada


bedanya asal jeli. Tapi, lain halnya dengan Aditya dan Candra. Mereka benar-benar sama.


“Sudah, lupakan saja, ayo kita segera kembali. Pundakku sudah


lelah, dan Adriel juga ini minta rebahan pasti,” ucap Novita sambil menenangkan


putranya yang mulai rewel.


“Ya, baik. Lalu, bagaimana dengan kapas yang kau butuhkan?”


“Kakak bisa menggunakan tisu basah sementara.”


***


Siang itu, Queen di rumah hanya bersama mama dan bik Yul


saja, suami, papa dan kakeknya tengah pergi ke kantor. Sejak papanya sadar, kakeknya jadi setiap hari pergi ke kantor bersama putra, yang sebenarnya adalah


keponakannya. Alasanya, dia tak bisa membiarkan putranya yang masih lemah mengerjakan semua sendiri. Terlebih kejadian yang menimpanya beberapa bulan lalu saat


menghadapi Jevin, ia tak mau terulang lagi. Alasan lain, di rumah dia merasa


kesepian, karena kakak yang biasa menemaninya pergi memancing bersama, atau


istri yang selalu ada dalam suka dukanya juga telah tiada.


Awalnya Queen merasa mules, sebentar-sebentar dia ke kamar


kecil. Tapi, tak menghasilkan apa-apa. Dia masih diam, tak mengatakan pada mamanya, ia beranggapan dirinya terlalu lelah, sehingga pinggangnya terasa sakit dan pegal.


Tapi, dua jam kemudian, sakitnya kian bertambah, walau


kadang sakit, kadang pula tidak. Dirinya yakin, ini adalah kontraksi. Tapi, ia masih saja diam tak mengatakan pada mamanya, takut mamanya menjadi panik. Walaupun sudah sangat jarang menggunakan kursi roda, tapi, tetap saja ia tak ingin wanita yang tengah melahirkan dan merawatnya itu menjadi panik dan kerepotan.


“Aduh,” lirihnya sambil meringis, ia berniat ke kamarnya


untuk mengambil ponsel dan menghubungi suaminya. Tapi, rasa sakitnya kian menghebat saja.


“Kau kenapa Queen?” tanya Clara yang sedari tadi menemani putrinya ngobrol di taman.


“Mau bangun ke kamar kecil, Ma, perut makin besar saja jadi


repot,” bahkan, wanita itu masih bisa tersenyum. Mungkin baru mengalami bukak satu.


“Kamu tidak sedang kontraksi, kan Queen?”tanya Clara curiga.


Walaupun Cuma satu kali, seenggaknya dia juga sudah pernah merasakan hamil dan melahirkan.


“Ah, mungkin kontraksi palsu, Ma. Dari dua hari juga gitu,


kadang sakit bentar aja sembuh, setengah jam kemudian juga gitu,” jawab Queen


walau hatinya berkata lain.


“Kita periksa ke dokter saja sekarang, ayo mama antar!” seru


Clara sambil membantu putrinya berdiri.


“Sudah Ma, jangan buru-buru, nanti kalau masih lama


lahirannya di sana aku takutnya malah stress lagi," jawab Queen.


“Tapi, mama takut kamu kenapa-napa, Queen.”


“Aku akan pergi dengan Al saja, aku telfon dia ya ma?”


“Biar mama yang meneflonnya,” ucap Clara. Tak berani memaksa


putrinya, karena ia takut malah berpengaruh pada proses persalinannya, karena


wanita yang hendak melahirkan memang harus tenang, gak boleh banyak pikiran agar


tenisnya tidak naik, hal itu yang dapat memicu bahaya pada ibu hendak melahirkan.


“Halo, Al. apakah kau sibuk, Nak?” tanya Clara begitu


panggilannya diangkat.


“Tidak juga, apakah Queen sudah akan melahirkan, Ma?


sepertinya pria itu pun juga sudah ada feeling saja.


“Kelihatannya begitu, kau segeralah kembali.”


Panggilan pun dimatikan, dengan cepat Al langsung pergi


meninggalkan kantor. Di perjalanan dia mengabari maminya yang berada di Singapura


agar segera ke Indonesia.


Kala itu Jeslyn tengah di apartemen Zuya memasang CCTV yang


akan disalurkan langsung ke kantor polisi terdekat guna memberi keamanan pada


sahabatnya. Karena sejak Johan kabur dari tahanan, ia merasa tidak tenang dan terancam. Jadi, hanya ini satu-satunya jalan, agar kalau ada sosok orang yang


bertindak mencurigakan polisi bisa langusng ke tkp tanpa harus menunggu


ditelfon. Kawatir kalau wanita yang berada di rumah seperti kemarin tak sempatkan


menelfon siapapun. Hanya saja dia beruntung karena tiba-tiba Jeslyn datang.


Tiba-tiba saja, ponsel jeslyn yang brada di dalam tasnya


berdering.


“I pick up the phone firs,”


(Aku angkat telfon dulu,) ucap Jeslyn saat mendapati nama


dan foto putranya yang memanggilnya melalui panggilan WA.


“Halo, Al, ada apa?” jawab wanita itu.


“Ma, Queen sepertinya mau lahiran, ini aku dari kantor perjalanan pulang ke rumah.”


“Baik, mami kan segera bersiap,” jawab wanita itu itu dan


tergesa-gesa meminta izin pada Zuya, polisi dan ahlli mekanik yang memasang cctv tersebut.


“My daughter will give birt. I have to go trehe soon,”


(Putriku akan melahirkan. Aku harus segera ke sana sekarang,) ucap Jeslyn pada Zuya.


“Oh, yea. You be careful. Greting to them from the mother


and children survivet,”


(Ohya? Kau hati-hati. Salam dariku untuk mereka, semoga ibu


dan anak selamat,) sahut Zuya dan bangkit meberi pulukan pada sahabtanya.


Dengan segera Jeslyn pun kembali ke apartemennya


memnyiapkan barang keperluannya. Bahkan, ia juga sudah mendapatkan kabar kalau


privat jet putranya yang akan membawanya ke Indonesia sudah landas di Changi. Membuatnya kian


kalang kabut sibuk dan tergopoh dengan dirinya sendiri.


Setelah mengabari maminya, Al langsung saja mengemudikan


kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tak jarang juga dia mengumpat karena lampu merah, satu menit saja serasa satu jam untuknya yang sudah buru-buru dan tergesa-gesa.


Sesampainya di rumah, ia memarkirkan asal mobilnya di halaman dan langsung masuk ke dalam rumah itu.


“Queen, di mana kau sayang?” teriaknya. Saking tegangnya di perjalanan keringatnya sampai mebasahi pelipis dan dahinya.


“Aku di sini, Al. kau sudah kembali?” jawab Queen yang malah


terlihat tenang dan baik-baik saja sambil jalan-jalan di halaman belang. Padahal, sejak menerima kabar dari mamanya dia sudah sangat tegang, dan panik tak keruan.


“Katanya kau mau melahirkan?” tanya Al setelah menghampiri Queen.


“Sepertinya iya. Tapi, kontraksinya masih jarang. Jadi ya, tunggu


saja dulu.” Queen masih terlihat tenang, walau wajahnya sudah mulai pucat. “Aduh!”


serunya tiba-tiba sambil memegangi pertunya.


“Sayang, kau sakit? Ayo kita ke rumah sakit sekarang saja.”


Al kian panik, bahkan lebih panik dari sebelumnya.


“Kontraksinya masih jarang, di sana pun juga paling nunggu


lama banget, Al. tunggu di rumah saja.” Queen meremas tangan suaminya erat dan


keras sebagai pelampiasan.


Al bingung harus berkata apa, dia hafal betul kalau istrinya paling tidak suka berada di rumah sakit atau sejenisnya. Jadi, ia tidak berani memaksanya walau sebenarnya sangat panik dan khawatir. Dia juga hanya diam saat merasakan remasan Queen yang terasa beberapa kali lipat lebih kuat, bahkan ia sampai kesakitan juga.


"Apa kamu mau istirahat saja baringan dulu?" lembut Al sambil menatap istrinya.


"Temani aku jalan-jalan, ya? Biar bayinya cepat keluar," jawab Queen.


Sudah lebih dari satu jam Al menemani istrinya di rumah, akhirnya Queeen bilang kalau ia sudah tidak tahan lagi.


Dengan cekatan Al langsung mengangkat istrinya membawa ke mobil dan segera pergi ke rumah sakit.


Selama perjalanan Queen terus merintih kesakitan, air ketubannya sudah pecah, dan darah membasahi jok mobil.


Melihat istrinya kesakitan, Al bingung harus bagaimana, belum keadaan jalan yang sangat padat merayap.


Kali ini dia hanya mementingkan keselamatan istri dan anaknya. Jika menunggu jalan terbuka, bisa berjam-jam.


Tanpa pikir panjang lagi, Al melepaskan sabuk pengamannya, lalu keluar dan membopong tubuh Queen ya g bersimbah darah dan membawanya berjalan menuju RS terdekat.


Setiba di pintu gerbang rumah sakit umum, satpam yang melihatnya segera berteriak meminta bantuan. Tak lama kemudian beberapa perawat berlari membawa blangkar untuk membawa Queen ke UGD. Al menunggu di luar, ia abaikan kemeja putihnya yang penuh dengan darah.


Di tengah-tengah kekawatirannya, ia menelfon mamanya, mengabari kalau macet dan Queen sudah pendarahan, jadi, ia masuk ke rumah sakit umum terdekat.


Kebetulan Clara, Vano dan kakaek Andrean sudah berada di daerah sana. Jadi, ia sampai hanya dalam beberapa menit.


"Al, gimana Queen? bajumu... " Clara tidak melanjutkan kalimatnya, ia sudah bisa menebak, pasti itu darah Queen.


"Mobil kutinggal di jalan, Ma. Tadi macet dan ketubannya sudah pecah duluan di jalan."


Dari dalam ruangan, terdengar suara bayi menangis, ketegangan di wajah empat orang dewasa itu pun berkurang. Tapi, kenapa bidan atau dokter yang menanganinya tidak juga keluar memberikan kabar?


Mereka juga ingin tahu bagaimana keadaan ibu dan anak mereka, selang lima menitan, terdengar lagi suara tangisan bayi dari dalam.


"Kenapa?" pikir mereka.


Pintu UGD pun terbuka, seorang perawat mengatakan dengan suara yang cukup keras, "Bapak, Al. silahkan anda masuk, selamat, ibu dan anak semua selamat dan sehat."


"Cucu saya laki-laki apa perempuan, Sus?" tanya Clara tak sabar.


"Bayinya kembar, semuanya perempuan," jawab perawat tersebut.


seketika mereka berempat terlihat sangat bahagia dan senang. tak ada satupun dari mereka yang tahu kalau anak dalam kandungan Queen kembar. Karena dua kali melakukan USG hanya satu saja yang terlihat.

__ADS_1


"Selamat Al," Vano dan Andrean memeluk lelaki itu secara bergantian.


"Al ke dalam dulu menemui Queen ya, Pa."


__ADS_2