
Seiring bergulirnya waktu, kini Berlyn tumbuh dewasa menjadi remaja yang cantik. Usianya sekarang sudah menginjak tujuh belas tahun. Ia dan Clarissa kini tumbuh jadi remaja yang sama-sama cerdas, walau tingkat kecerdasan mereka berbeda. Keduanya juga memiliki postur tubuh ideal dengan tinggi badan 165cm. Tapi, keduanya masih terpisah. Clarissa terlalu asik dengan bisnis yang ia jalani. Awalnya dia ingin ke Indonesia tinggal bersama saudari dan kedua orang tuanya. Tapi, ia takut ketahuan oleh papanya kalau dia diam-diam mengendalikan pasukan dunia hitamnya sebagai Miss Jeny. Terlebih, dari kecil otaknya juga sudah terdoktrin papanya memiliki banyak musuh dan takut dendamnya dilampiaskan pada anak-anaknya. Berlyn tidak takut dia yang jadi korban. Sebab, ia merasa akan mampu mengatasinya. Tapi, tidak jika adiknya.
Sementara Bilqis kini Sudah lulus S1 dan bekerja di sebuah perusahaan di bidang akuntansi. Ia masih bersahabat dekat dengan Tiara. Tapi, diusianya yang sudah menginjak usia dua puluh enam tahun, ia masih saja belum menikah. Walaupun pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan pria. Tapi, ujungnya gagal. Gadis itu lebih memilih menyendiri dan tidak ada satu pun dari ketiga mantannya yang bisa mengerti dirinya. Maka, sendirilah yang lebih baik dan lagi, Alasannya, ia masih ingin fokus berkarir. Tapi, faktanya, ia masih saja membuang waktu menunggu keajaiban yang tak akan pernah terjadi. Sebab, pria yang dia sukai kian mencolokkan kalau dia menyukai Berlyn. Jika memang tidak, kenapa dia tidak juga menikah? Usianya sudah tiga puluh tahun sekarang.
****
Seorang gadis dengan rambut lebat, hitam lurus dan panjang, sepanjang pinggang berdiri didepan cermin memandang pantulan diri.
'Gagap itu lebih baik dari pada tidak bisa bicara sama sekali. Setidaknya masih bisa menyampaikan sesuatu dalam kondisi mendesak tanpa perlu mencari secarik kertas dan bulpoin atau hp,'
Kembali, kata-kata itu terus terngiang di benak gadis cantik berkulit putih dan mata yang lebar, hitam dan berbulu mata lentik.
Ia merasa kesal dan gagal lalu, ia berlari keluar meninggalkan kamarnya. Tapi, kesal pada siapa? Dirinya? Takdir, atau yang mengejeknya? Entah lah. Selama ini dia tumbuh dalam lingkungan yang baik dan tidak pernah menerima bullying. Makanya, dia tetap semangat belajar dan berkarya. Menikmati hidup sebagai apapun dia terlahir di dunia. Karena itu adalah takdirnya yang gak boleh diratapi. Sebab, masih banyak di luar sana yang memiliki nasib jauh lebih buruk darinya.
***
Usai mengajar anak-anak di kampus, Axel bermaksud mengajak Berlyn untuk jalan-jalan. Mumpung dia tidak ada acara dan lagi, ini malam Minggu.
Diambilnya benda pipih dari dalam saku kemejanya dan menscroll kontak lalu melakukan panggilan video pada gadis yang sudah lama ini membuatnya gila dan jadi jomblo akut. Tidak berselang lama, panggilannya dijawab. Terlihat jelas wajah cantik gadis itu memenuhi layar sentuhnya tengah tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah kamera.
"Kau sudah pulang dari sekolahan?" tanya Axel. Tidak terlalu lantang.ll
Bicara pada Berlyn, cukup memberikan gerakan bibir yang jelas, walau tidak bersuara pun tidak masalah. Gadis itu bisa mengerti.
"Ya," jawab gadis itu dengan ceria sambil mengangguk.
"Ya sudah. Kak Axel berada tidak jauh dari sekolahmu. Tunggu kakak, ya? Kakak yang akan jemput kamu," ucap Axel. Kemudian mengakhiri panggilan dan segera menambah kecepatan mobil yang di kendarainya.
Tiba di depan sekolahan, perhatian Axel tertuju pada dua gadis memakai seragam putih abu-abu duduk di dekat pos satpam sambil bersenda gurau. Sementara, di sekelilingnya, banyak para siswa siswi dengan seragam yang sama pula lalu lalang meninggalkan halaman sekolah dan berhambur hampir memenuhi jalan. Begitulah dunia anak sekolah. Mereka tidaklah bucin mengatakan dunia milik berdua. Tapi, cukup jalan saja, milik kita semua. Cuma jalan dan rame-rame saja yang diminta. Tapi, cukup mengesalkan pengguna jalan lainnya juga. Lalu, bagaimana dengan dua pasangan yang sama-sama dilanda cinta yang menganggap dunia milik berdua? Apakah tidak lebih ngeselin, tuh? Bilang dunia milik bersama. Tapi, pas apelnya suka berada di tempat sepi dan mojok. Lalu, buat apa dunia kalian ini?
Axel melihat keadaan sekeliling. Ia mencari tempat yang tepat untuk memarkir mobilnya. Kemudian, ia turun dan menghampiri dua gadis tersebut.
"Maaf, jika sudah membuatmu menunggu lama," ucap Axel. Begitu ia tiba di depan dua gadis itu.
Kemudian, dua gadis itu memandang ke arahnya dengan ekspresi yang berbeda. Yang satunya langsung melompat, berdiri di depannya, tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sementara yang satunya lagi, hanya melihat bingung dan kagum pada sosok pria bule yang sangat tampan dan tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka. Meminta maaf pula.
"Kau pasti haus, ya?" Ucap Axel sambil menunduk menatap Berlyn yang tinggi badannya berada jauh dibawahnya, sambil iseng menyentil hidung mancung gadis itu.
Sementara gadis itu tersenyum manja sambil mengangguk.
"Sst... Siapa?" tanya gadis yang menemani Berlyn tadi sambil menarik baju bagian belakangnya.
Berlyn menoleh ke belakang dan menjawab dengan bahasa isyarat. Mengatakan kalau axel adalah kakaknya.
__ADS_1
"Ganteng," jawab gadis itu melempar senyuman pada Berlyn sambil mengacungkan jempol kanannya. Kemudian menunduk, memberi salam saat pandangannya bertemu dengan tatapan mata Axel.
"Ya sudah, itu, sopirku datang. Aku duluan, ya? Bye bye!" seru gadis itu sambil berlalu menuju le dalam mobil Avanza hitam yang berhenti di seberang jalan lurus dengan tempat mereka.
"Teman?"
Berlyn mengeleng kan kepalanya.
"Sahabat?"
Berlyn mengangguk cepat.
Axel menimpali dengan senyuman, mengelus kepala gadis itu dan berkata, "Ayo masuk. Di dalam mobil, kakak sudah belikan minuman dingin untukmu."
Tiba di dalam mobil, Axel memberikan sebotol minuman dingin rasa jeruk yang ia janjikan pada Berlyn tadi.
Berlyn menerima menerima minuman itu dari tangan Axel. Mungkin ia teralalu haus, sehingga ia tidak menawari lebih dulu pada Axel yang mmeberikan minuman seperti biasanya. Setelah beberapa teguguk, baru ia tersadar dengan kebiasaanya. Gadis itu memasang eksprei terkejut dengan mata melotot dan tertawa canggungg memandang ke arah Axel di sampingnya yang tengah mengemudi. Tak lupa kedua tangannya ditangkap di depan dada. Tapi, diantara kedua telapak tangannya ada botol minuman yang baru saja melegakan tenggorokannya.
Melihat itu, Axel hanya tertawa. "Tidak masalah, Lyn. Kakak tidak haus, kok," ucapnya sambil melihat sekilas ke arahnya kemudian kembali fokus dengan komudinya."apakah kau, lapar?" tanyanya, lagi.
Berlyn memegang pertunya, mengisyaratkan lumayan. Artinya, jika tidak makan saat itu juga, dia tak masalah, karena ia cuma merasa haus saja. Tapi, jika Axel mengakjaknya makan sesuatu, ia juga tidak akan menolak. Mau dengan sepenuh hati, malahan.
"Mau makan apa, kau?" Axel melirik ke arah Berlyn. Awalnya Axel mengira kalau Berlyn ingin mengajaknya di luar. Tapi, ternyata tidak. Dia salah. Gadis itu malah mengajaknya pulang ke rumah. Mungkin bibi atau mama Queen sudah menyiapkan sesuatu untuk makan siangnya, dan ia, ingin berbagi dengannya. Itu yang terlintas di pikiran Axel.
Setiba di rumah, Axel mendapati rumah itu sepi kosong dan tak berpenghuni. Bahkan om Dedi pun juga tidak ada di tempatnya. Tidak ada satu pun orang di sana. "Bi Yul, di mana, Lyn?" tanya Axel setelah Keduanya berada di dalam rumah.
Axel mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia paham. Namun, saat ia menoleh melihat ke arah Berlyn rupanya gadis itu sudah tidak ada di tempat. "Kemana, dia?" gumam Axel seorang diri. kemudian ia duduk di sofa ruang tamu dan menyandarkan punggungnya. Selang beberapa menit, Berlyn sudah keluar mengenakan pakaian santai berupa rok plisket warna hitam sepanjang tumit, dan dipadukan dengan kaus oblong lengan pendek berwarna putih dengan gambar kucing persi Oren yang lucu di bagian depannya.
"Berlyn! ternyata kau gantu baju, ya?" tanya Axel saat menyadari gadis itu sudah berada di dekatnya dan berganti pakaian.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk beberapa kali. Kemudian, ia beranjak ke dapur sambil mengikat rambutnya asal. Mengenakan celemek dan mulai melihat isi di dalam lemari es.
"Kau mau masak?" tanya Axel. Mengikuti gadis itu ke dalam dapur.
"Ya," jawabnya singkat.
Sejak kecil, Berlyn selalu menjawab kata ya jika ia lelah mengangguk. Hal itulah yang selalu membuat Axel berfikir kalau Berlyn sebenarnya bisa bicara jika dia mau. Tapi, apa yang membuatnya tidak mau berbicara?
"Aku akan membantumu. Mau masak apa memang?" tanya Axel sambil menatap lekat pada mata gadis di hadapannya.
Berlyn menunjukkan beberapa jenis sayur telur dan daging beku yang sudah dipotong dadi. Kira-kira seberat seratus gram an.
Axel mulai mengambil wadah untuk tempat sayur dan juga pisau. Tapi, dengan cepat Berlyn merebut dari pria itu. Kembali ia berkata dengan bahasa isyarat. kalau hari ini dia akan memasak untuknya sebagai ucapan terimakasih karena setia mengantar jamput nya ke manapun dan selalu ada kapanpun dia butuh.
__ADS_1
"Lalu, aku ngapain, nih?" tanya Axel.
Bilqis menunjuk kursi plastik yang ada di sudut dapur. Meminta supaya pria itu duduk manis di sana.
Axel yang selalu berusaha menyenangkan Berlyn, ia tidak pernah bisa menolak apapun yang diinginkan oleh wanitanya. Dengan patuh ia pun duduk di sana, menunggu gadis belia itu memasak entah apa. Tapi, dari baunya juga sepertinya sedap.
Sekitar hampir satu jam, Berlyn sudah menyelesaikan tugasnya. Sebuah tumis sayur dan yang dicampur dengan orak-arik telur, mirip dengan capjay, hanya saja tidak menggunakan maizena agar kuahnya kental sudah tersedia, ditambah dengan dagimg yang di masak pedas dengan kecap juga sudah siap terhidang. Dari aroma saja sudah sangat menggoda.
“Apakah kau sudah selesai?” tanya Axel yang sedari tadi memeprhatigan gerakan lincah Berlyn saat berada di dapur. Ia bahkan baru tahu, kalau gadis yang selama ini ia sukai pintar memasak. Sebab, orang bisa memasak atau tidak itu bisa dibedakan dari cara ia memegang spatula saat menggoreng dan menumis, serta Ketika memotongi sayuran. Jika masih kaku, Fix. Dia masih amatir dan baru belajar.
Berlyn mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum dan membawa dua hidangan buatannya itu ke meja makan yang menjadi satu dengan kitchen set di dapurnya. Ya, kitchen di rumahnya memang berbentuk mini bar. Jadi, jika hanya satu atau dua orang saja yang mau makan atau minum sesuatu, tidak perlu ke meja makan. Lebih enak dan praktis juga. Apalagi di dalam rumah ini hanya ada dia dan Axel saja.
“Wah, kak Axel baru tahu, kalau ternyata Berlyn pinter masak juga, ya? ucap Axel dengan puas setelah mencicipi rasa dari dua hidangan yang berada di hadapannya itu.
Mendapatkan pujian itu, Berlyn hanya tersenyum saja sambil menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.
Mellihat pemandangan di depannya, cukup membuat Axel terpana. Saat seperti itu, Berlyn terlihat sangat cantik, anggun dan mempesona saja.
“Lyn,” panggil Axel ketika gadis itu memalingkan wajahnya karena malu.
“Hemb,” jawabnya sambil menghadapkan wajahnya pada Axel.
“Kau makannya jangan sampai berantakkan,” ucap Axel sambil mengulurkan tangannya pada wajah Berlyn untuk menghapus noda kecap di pinggiran bibirnya.
“Lyn, kau ternyata di sini? Tadi papa menelfonku mengatakan kalau dia dan mama mengantar bik Yul pulang kampung,” ucap Bilqis. Tiba-tiba saja wanita itu muncul di belakang Axel dan Berlyn yang sama-sama terpaku pada pandangan masing-masing.
Dengan cepat, Berlyn menangkis tangan Axel dan mengatur jarak. Saling berpaling muka karena malu.
Sekarang Berlyn sudah punya rasa malu jika ketahuan oleh orang lain seperti ini dengan Axel. Dicium dan mencium Axel saja ia sudah tidak mau karena malu. Kecuali, jika memang tidak ada orang lain dan jika Axel maksa banget. Pernah, soalnya dia ambil buku di rak teratas dan tidak dapat menggapainya karena tinggi badannya kurang. Dia sia benar-benar butuh. Sedangkan Axel mau mengambilkannya jika saja Berlyn mau mencium pipinya. Sebab, dia kini sudah beranjak dewsa. Bukan lagi anak-anak yang berusia sepuluh tahun.
“Maaf jika aku menganggu. Kalian teruskan saja,” ucap Bilqis kemudian hendak beranjak keluar meninggalkan tempat setsebut.
Dengan cepat Berlyn mengejar Bilqis dan memegangi tangannya. Cukup lama gadis itu memberi penjelasan pada Bilqis yang ia anggap sebagai kakak perempuannya. Hingga akhirnya ia pun mau tinggal dan makan siang bersama.
"Kau membeli, apa masak sendiri?" tanya Bilqis sambil berjalan menuju dapur.
Berlyn menjawab dengan bahasa isyarat. Kalau dia memasaknya sendiri. Tanpa bantuan siapapun, jelas, yang dia maksut itu adalah Axel.
"Selamat siang, kak Axel," sapa Bilqis berlagak tenang, walau jauh di dalam hatinya kini telah bergejolak. cinta monyet dari jaman dia SMP sampai ia sudah dewasa masih saja membuatnya terbakar kala melihat kalau pria itu masih bersama wanita lain. Tapi, Bilqis sudah terlanjur menyangi Berlyn lebih dari apapun. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk membenci atau iri pada gadis itu. Yang perlu ia fikir kan saat ini adalah bersiap menerima kenyataan kalau kelak di masa depan dua insan itu pada akhirnya menikah.
"Ya, selamat siang. Sudah kelar, kerjanya?" tanya Axel dengan sikap yang biasa dan luwes banget.
"Iya, Kak. kan ini malam Minggu," jawab Bilqis sambil mengambil piring yang disodorkan Belryn padanya dan mulai menyendokkan nasi. Dia datang memang sengaja tidak membawa apa-apa. sejak kecil bahkan setelah mamanya bercerai dengan papa tirinya ini ia masih sering datang ke mari. Jadi, hafal banget dengan kebiasaan keluarga ini. Yaitu tidak suka makan makanan di luar jika bukan karena kepepet dan dalam acara tertentu. apalagi membeli junk food. Awalnya ia bermaksut datang dan memasak sesuatu untuk dirinya dan juga Berlyn, Tapi, siapa sangka kalau ia malah sudah masak dan bahkan makan bareng dengan Axel. Jadi, ya sudah anggap saja rejeki. Makan masakan rumah tanpa lelah memasak.
__ADS_1
✨✨✨✨
#Buat para pembaca, tahu kan kalau usia tigapuluhan tahun untuk pria yang terawat dan banyak duit itu tidak terlihat tua? Visual Al itu, usianya sudah 36 setengah lebih. Desember nanti dia genap 37 tahun. Tapi, masih keren dan ganteng, kan? dan gak tua-tua amat. hehe