Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 39


__ADS_3

Setelah menemukan sesuatu yang dia inginkan, Clara membawa sepiring penuh berisi buah-buahan ke taman belakang rumah.



Sambil memainkan gawainya chat dengan Vano ia menikmati pemandangan sore hari.



[Lagi apa sayang?"]



Sebuah pesan dari Vano.



Dengan Antusias Clara segera membalasnya.



["Lagi santai sayang, kamu udah kelar kerjanya?"]



["30 menit lagi aku tiba di rumah papa jemput kamu, si baby baik-baik saja, kan?"]



["Iya sayang, dia baik-baik saja. Kamu hati-hati, ya."]



Sebenarnya Clara ingin menanyakan prihal om Andreas terhadap Vano tapi ia merasa ini tidak lah tepat. Dam lagi antara om dan papa tirinya segaligus juga mertua seperti tidak ada masalah sedikitpun.



Tak lama kemudian terdengar suara clakson mobil dari depan. Dengan cepat Clara mengintip dari kamae memastikan bahwa Vano yang datang.



Begitu pagar dibuka oleh bi Narti, sebuah mobil jaguar merah masuk ke dalam halaman. Dengan antusias Clara berlari turun ke tangga ingin membukakan pintu untuk suaminya.



Vano begitu bahagia begitu tiba langsung disambut hangat oleh istrinya sedikit pelukan dan kecupan mendarat di kening Clara dan keduanya berjalan menuju kamar.



Saat Clara meraih tas yang dibawa Vano, Vano menjauhkan memberi isyarat kalau ia tidak perlu bantuan Clara untuk membawanya.



"Kamu jangan angkat berat-berat, ya. Aku bisa bawa ini sendiri," ucap Vano lembut terus melangkah sambil memeluk pinggang istrinya.



"Tidak apa-apa. Ini kan tidak begitu berat." Clara tersenyum sambil tetap meraih kopor di tangan kanan Vano.



"Kenapa rumah begitu sepi? Yang lain pada kemana?"



"Papa sama mama gak tahu kemana, bentar lagi paling juga pulang. Ya uda. Kamu mandi dulu gih." ucap Clara saat keduanya sudah tiba di kamar.



*************



Vano mengamati semua orang yang ada di meja makan, di sana ada Andrean, Vivian, Amanda bersama suami barunya dan seorang lagi yang tidak ia kenal sebelumnya. Baru saja ia bermaksut menanyakan siapa dia tapi Andream sudah lebih dulu membuka pembicaraan.



"Vano, Clara. Ini yangbada di sebelah papa adalah om kalian, kakak kandung papa namanya om Andreas," ucap Andrean terasa berat.



Sementara sejak tadi Andreas tiada sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Vano.



Vano juga nampak bingung, pasalnya sedari dia kecil sampai usianya hampir ke 26 tahun ia tidak pernah mengetahui bahwa papanya memiliki seorang kakak.



"Tapi kenapa papa dan kakek tidak pernah bercerita tentang ini?" tanya Vano.



"Iya, karena tidak ingin membuat kakekmu sedih, karena dulu kakekmu sangat membanggakan kedua putranya dia tidak sanggup kehilangan satu pun dari kami..."



"Om Andreas adalah seorang pilot besar sekitar 24 tahun lalu ia terbang ke Jepang dan pesawatnya mengalami kecelakaan dari insiden itu hanya 1 orang yang selamat itupun dalam kondisi yang mengenaskan, dan si pilot sendiri jasatnya tak ditemukan sampai 3 tahun tak ada kabar maka kami menganggap om Andrean sudah tiada, dan tak pernah lagi mengungkitnya demi kesehatan nenekmu, Van."



Dengan tegas Andrean menjelaskan kepada putranya.



Vano pun mengangguk pertanda ia faham.



Sementara Amanda, Andreas dan adiknya saling melempar pandangan lalu Andrean mengangguk.



"Vano, bolehkah aku memelukmu, Nak?" dengan tatapan penuh kasih sayang Andras bangit merentangkan kedua tangannya penuh harap.



"Iya, boleh Om."

__ADS_1



Vano pun bangkit melangkah menghampiri Andreas lalu memeluknya erat.



Vivian yang sedari tadi diam ia tak kuasa menahan air matanya. Dengan segera Vivian menyeka buliran bening dari sudut matanya.



"Vano... Kamu sudah dewasa, Nak."



Cukup lama Andreas memeluk erat Vano dan menepuk-nepuk pundaknya sebagai rasa kagum dan rindu sebagai seorang ayah pada putranya.



"Ayo, Van kita makan malam dulu."



Andreas melepaskan pelukannya dan kembali duduk di sebelah adiknya. Begitupun Vano kembali duduk di sebelah Clara.



Selama makan malam, tiada bosannya Andreas memandangi Vano dan menantunya yang nampak akur dan harmonis.



******



"Mas, kamu mau sampai kapan memendam semua ini? Cepat atau lambat, Vano pasti akan tahu."



Tangan Vivian membelai lembut punggung suaminya.



Sementara Andrean masih tertunduk memegangi kepalanta dengan kedua tangannya.



"Aku takut Vano akan mebenciku nanti jika tahu aku telah membohonginya selama ini, Vin."



"Tidak, Mas."



"Tapi.... "



Vivian meletakan telunjuknya di depan bibir Andrean.




Vivian mendarkan kepalanya di bahu Andrean. Begitupun Andrean ia menggenggam erat jemari wanita di sebelahnya.



"Besok adalah hari minggu, kita minta saja Vano dan Clara kemari, kita katakan saja besok, bagaimana?"



"Kamu bantu aku ya, Vin."



"Iya, pasti mas."



********


"Van, sebenarnya ada yang mau papa dan Om Andreas bicarakan sama kamu," ucap Andrean nampak ragu-ragu.



Diliriknya sang kakak di sebelahnga yang nampak terdiam juga Vivian yang terus memberinya kekuatan.



"Mumpung mama Amanda juga berkumpul bersama kita," imbuh Andrean



"Iya, Pa. Ada apa?"



Vano nampak santai tapi juga serium dengan apa yang mau disampaikan oleh Andrean.



"Begini, selama ini papa sayang banget sama kamu, dan semua yang papa lakukan juga demi kebaikan kamu.... "



"Pa, ada apa sih Pa? Jangan ragu-ragu, Vano percaya kalau papa memang sayang sama Vano."



"Iya, Van. Tapi perlu kamu ketahui, sebenarnya papa kandungmu adalah Om Andreas, dialah ayahmu, Nak."



Bukan hanya Vano, bahkan Clara yang sedari tadi menemani Vano mengerjakan tugas juga ikut terkejut.


__ADS_1


Clara terdiam sambil melempar pandangan ke arah Vano dan Andreas, memang kedua pria itu nampak sama persis bagai pinang dibelah dua.



"Apa-apaan ini, Pa? Bagai mana bisa?"


Dalam sekejap saja raut wajah Vano telah berubah.



Sementara Clara berusaha menangkan suasana hati suaminya, ia memaksanya tetap duduk tenang di tempatnya sambil mengelus lembut pundak Vano.



"Tenang, Sayang," ucap Clara dengan lemah lembut.



"Papa Andreas itu dulunya adalah pilot, Van. Saat ia memegang penerbangan ke Jepang pesawat mengalami kecelakaan parah, hanya ada 1 penumpang yg selamat dari 280 orang dalam insiden itu, sementara pilot tidak ditemukan jasadnya sampai 3 tahun. Sampai kau berusia 5 tahun dan masuk taman kanak-kanak. Kau selalu menanyakan papamu pada mama," jawan Andrean panjang lebar.



"Iya, Van. Waktu itu demi kamu akhirnya papa Andrean menikahi mama dan kami membesarkanmu bersama, merubah nama ayah pada akte kelahiran kamu," sambung Amanda yang sedari tadi bungkam.



Dengan rasa emosi penuh Vano bangkit mendekati Amanda sambil menunjuk Vano memaki kasar ibu kandungnya.



"Dan ini yang kau lakukan pada papa Andrean? Ini balasan kamu? Dia lakukan semua demi kau dan anakmu dari kakaknya, tapi kau malah menghianatinya dan diam-diam telah melahirkan seorang anak dari pria lain! Menjijikkan."



Vano pun bergegas pergi meninggalkan ruangan.



"Mama.... " ucapa Clara terhenti ia hanya mengusap punggung Amanda.



"Biarkan dia puas, Ra. Ini pantas mama terima, inilah sedikit balasan atas apa yang dulu mama perbuat." Amanda berusaha tenang sambil menyeka air matanya.



Begitu Vivian mendekati Amanda, Clara pun bergegas menyusul Vano.



Sambil memegangi perutnya Clara mendekati Vano. Perlahan ia memegangi pundaknya lalu duduk di sebelahnya.



Cukup lama keduanya berdiam diri, sampai akhirnya Clara lebih dulu membuka pembicaraan.



"Ayo masuk, di sini anginnya sangat kecang."



"Kamu kedalam saja dulu," jawan Vano tanpa memandang ke arah Clara.



"Aku tahu kamu kecewa, tapi apa dengan marah bisa menyelesaikan masalah? Tidak kan?"



Vano masih diam, diusapnya wajah dengan keduantangannya dan terus diletakan tanganya sebagai penopang di kepalanya. Ia masih saja tertunduk.



"Papa Andrean telah lama memaafkan mama Amanda, dan papa Andreas juga menerimanya. Kamu tidak seharusnya menghakiminya begini, bukankah tugas sebagai anak adalah menghormati orang tuanya seperti apapun dia?"



Clara masih terus memperhatikan Vano yang mueung.



"Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu, sisanya biar Allah yang kerjakan, ayo masuk, tidak kah kau ingin memeluk ayah kandungmu? Dia sejak lama merindukanmu."



Vano pun bangkit dan menurut dengan apa yang Clara ucapkan.



Sesampai di taman belakang sudah tidak ada Amanda.



"Ayah," panggil Vano sambil menatap Andreas dengan mata yang berkaca-kaca.



Nampak Andreas yang tengah terkejht dengan panggilan yang Vano pakai kepadanya, bukan lagi Om melainkan langsung ayah begitu mengetahui kenyataannya.



Vano tak mampu berkata apa-apa lagi, ia berjalan perlahan menghampiri Andreas lalu memeluknya.



"Vano putraku. Selama ini Ayah sangat merindukanmu, dan tidak menyangka Andrean telah menjagamu dengan baik dan menjadikanmu sebagai pria tampan gagah dan hebat," ucap Andreas di sela-sela tangisan harunya.



Sementara Clara, Vivian dan Andrean juga ikut terharu menyaksikan anak dan ayah yang sudah lama terpisah itu.



"Clara, kemarilah. Nak, " ucap Andreas sambil membuka sebelah tangannya. Dan memeluk Vano dan Clara penuh dengan kasih sayang.


__ADS_1



__ADS_2