
Usai menyiapkan sarapan, Queen hendak membangunkan Diaz yang tidur di kamar sebelahnya. Tapi, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara bel dari pintu berbunyi.
"Siapa yang datang sepagi ini?" gumamnya, lalu ia pun berjalan ke arah pintu dan melihat, siapa yang datang.
"Kak, Al?" ucap Quen saat melihat kakaknya berdiri di depan pintu dan sudah berpakaian rapi.
"Kamu ke rumah sakit kapan? Biar kakak antar kamu!" seru Al terdengar dingin.
"Masuklah, Kak. Ayo kita sarapan bareng, kakak gak usah repot-repot anterin aku, ada Diaz di sini."
Wanita itu berjalan ke dapur dan mengambil satu set alat makan untuk kakaknya.
"Maksut kamu Diaz di sini, dia menginap?" tanya Al sedikit terkejut.
"Ya, dia menempati kamar sebelah."
Tak lama kemudian pria yang mereka bicarakan muncul, ia pun sudah tampil fresh dan berpakaian rapi juga.
Al berusaha mencairkan suasana meskipun hatinya merasa tidak nyaman. Tapi, sejauh ini dia tidak paham dengan perasaanya. Kenapa? Bukankah Al mendukung perceraian adiknya dengan Alex agar bisa bersama Diaz? Tapi, ada rasa tak terima di hati Al namun, ia berusaha keras menahannya.
Usai sarapan Queen mengenakan sepatu fantofelnya ia mencangkok tas dan menasukan jas dokterk ke dalamnya.
"Diaz, kamu antar aku, kan?" tanya Quen.
Tapi, dengan cepat Al menjawab, "Diaz, kau temui saja kakek, biarkan aku yang mengantar adikku."
Pria itu tak dapat menolak permintaan calon kakak iparnya. "Iya. Baik, kak." jawab Diaz.
Queen tidak menyadari perubahan sikap dan wajah kakaknya yang nampak marah, ia pun menurut saja dan berfikir, mungkin ada sesuatu yang akan dia omongin secara pribadi.
Tapi, siapa sangka saat di dalam mobil Al tetap memasang wajah datar dan tidak mengajaknya bicara sekalipun.
Awalnya Queen hendak mengawali obrolan, tapi deringan ponsel dari dalam tasnya mengurungkan.
Ia melihat nama Gea di sana.
Ia mengerutkan kening, apa kiranya membuat gadis itu menelfon sepagi ini?
"Siapa? Dari Diaz?" tanya Al sewot tanpa memandang ke arah Queen.
"Bukan, Gea yang telfon."
"Ada, apa?"
"Aku juga gak tahu, Kak." Queen pun mengangkat panggilan itu sambil mengisyaratkan kepada Al untuk diam dengan telapak tangan kanannya.
"Halo, Ge. Ada apa?"
"Queen, kamu tahu gak, doktet Aditya di rawat di rumah sakit ini," sahut Gea. Dia jelas tahu banyak tentang rumah sakit itu, sebab ia masih menempuh pendidikan profesi di sana.
Queen mengerutkan kedua alisnya. dia berpikir sepertinya malam itu kak Al tidak begitu parah menghajar Aditya, dan itu kan dua hari yang lalu, kenapa baru masuk rumah sakit sekarang?
"Halo, Quen. Kami dengar aku gak?" Teriak Gea dari seberang.
"Eh, i... Iya aku dengar kok. Emang kenapa, sakit apa dia?" tanya Queen tergagap.
"Katanya baru saja di keroyok preman saat menolong wanita dan anaknya yang dipalak. Parah sih, Queen. Kepalanya mendapatkan empat belas jahitan."
Queen terkejut. Sampai menutup mulutnya dengan tangan kananany.
"Bagaimana bisa separah itu? Apakah itu beneran dia dihajar preman?" tanya Queen meyakinkan. Sebab, ia tahu yang terjadi. Kalaupun kakaknya menghajar hingga parah, tak mungkin sampai kepala Aditya pecah juga. Toh pria itu masih bisa pergi meski harus sempoyongan dan beberapa kali menabrak tembok dan prabot apartemennya.
__ADS_1
"Ya, beneran, lah. Lihat saja kemari kalau tidak percaya. Kabarnya satu pelaku sudah diamankan polisi, tinggal kurang satu lagi masih dalam buronan."
"Oh, ok. Biar nanti aku kesana bersama Di... " Belum sempat Queen menyebut nama Diaz Al sudah lebih dulu.
"Jam istirahat nanti, aku sama Queen akan kesana, Gea," ucap Al lalu mematikan ponsel Quen. Dan melemparkannya ke jog belakang.
"Dih, kamu kenapa sih, kak? PMS, ya?" Protes Queen.
Wanita itu memutar tubuhnya menghadap ke belakang, hendak mengambil ponsel miliknya yang baru saja kakaknya lemparkan.
"Diam! Duduk yang baik di tempatmu!" cetus Al dengan galak.
Quen pun menurutinya. Gak bisanya kakaknya seperti ini. Lantas apa yang mebuatnya marah-marah begitu? Apakah dia ada masalah dengan kak Nayla di rumah? Pikirnya.
Queen pun diam tak berani memberontak. Selembut-lembutnya Al terhadapnya tetap saja dia manusia biasa bukan robot yang bisa di atur sesuai kemauan tuannya. Mungkin Al dalam situasi yang rumit.
Tiba di rumah sakit tempat Queen bekerja, Al memberikan ponsel pribadinya. Di dalam sana ada kontak-kontak yang biasa Queen hubungi. Sebab, siapapun yang berhubungan dengan adiknya, selama ini Al selalu memantaunya.
"Pakai ini, biar hp mu kakak yang bawa."
"Tapi, kan. Kak..."
"Nomor Diaz, Gea dan siapun ada di sana. Gak ada tapi-tapian. Nanti kalau mau jenguk Adit sama kakak saja, biarkan Diaz menemani kakek!" ujar Al lalu melajukan mobilnya dengan kencang.
Queen hanya menghembuskan napasnya dengan kasar. Kesal, marah, tapi, tak bisa berbuat apa-apa.
Tiba di kantor, Al langsung menghubungi Juna. Ia meminta rekaman kamera yang ada di dalam kamar hotel yang sudah di boxing Aditya bersama Helena. Ia ingin melihat kejadian aslinya.
Tidak menunggu lama, cuma sekitar lima menitan saja Juna sudah tiba di ruangan pribadi Al. Ia membawa flashdisk yang berisi semua bukti-bukti tentang Adit, juga Nyala, istri si bos. 😅
"Ada apa saja? coba nyalakan!" perintah Al, sambil membenarkan posisi duduknya.
Setelah menancapkan flashdisk pada lubang USB lapto milik Al, Juna mulai menggeser mouse dan menyalakan sebuah rekaman yang menunjukan Aditya mulai menghubungi Helana.
Kalau pun jujur jelas, Helen dan Al termasuk tersangka pula. Tapi, di sini Helena juga korban. Dan, jika Al diintrogasi mengenai perbuatannya, ia dapat menjawab melindungi adiknya. Sama aja, menggali kuburan sendiri.
"Cukup cerdik juga, Aditya," ucap Al menyeringai sambil menyalakan rokok.
"Tapi, Helena kayaknya juga parah, Kak. Gak mungkin dia tidak masuk rumah sakit," sahut Juna.
"Iya, sih. oh, jadi begitu mereka bersekongkol menghipnotis Alex agar melupakan Queen gitu, ya? Rupanya dokter gila itu sangat terobsesi sama adikku."
"Lalu gimana, kak? Sepertinya Queen perlu bodyguard."
"Iya, tapi, anak itu pasti akan risih dan selalu protes jika selalu dikintilin orang. Cukup suruh beberapa orang mu saja mengawasi dia dari jauh."
"Tiing!"
Al menoleh ke arah ponsel Quen saat mendengarkan dentingan tanda pesan masuk. Ia melihat ada gambar Diaz di sana.
Dengan cepat Al meraih dan membaca isi pesan tersebut.
Al tersenyum. Tapi, menyeramkan, ia seperti juga tengah menyusun rencana sendiri untuk menggagalkan liburan Queen bersama Diaz di Bandung.
"Sabtu Gea ada jadwal praktek, tidak?"
"Kayaknya tidak, Kak. Kenapa?" Juna mengerutkan dahinya. Ia pun merasa bingung dengan perubahan mood Al yang lebih cepat dari bentuk awan di langit.
"Ok. Kukasih kamu libur sampai batas Senin. Ikut ke Bandung. Kita sewa Villa bersama. Aku ajak Nayla juga."
"Sama kak Nay? Lalu Je... " Baruntung Juna segera sadar, ia tak meneruskan kata-katanya sebelum Al menyadari apa yang ingin dia katakan.
__ADS_1
Lagipula, bagaimana dia bisa berfikir sekonyol itu? Juna pun berpamitan pergi ke ruangannya untuk bekerja.
Begitu Juna pergi Al menelfon Nayla mengabari kalau besok mereka sekeluarga termasuk bibi akan ke Bandung bersama. Al sudah memboking Vila terbesar di bukit Lembang untuk mereka berlibur.
"Mau ajak Quen berduaan ke sana? Jangan mimpi!" umpat Al sambil meremas ponsel milik adiknya.
Sebelum jam istirahat, Al sudah meninggalkan kantor. Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit Bhayangkara.
Selain menjemput adiknya, ia juga ingin tahu sejauh apa perkembangan kedua papa mamanya, sekalipun Al belum ingin keduanya sadar lebih cepat.
Al menghubungi Quen dan mengabarkan padanya kalau dia ada di tempat tunggu depan adminstrasi dan pendaftaran.
"Halo, iya, kak."
"Aku ada di depan tempat pendaftaran, kau kapan istirahatnya?"
"Iya, bentar, ya tunggu lima belas menit lagi aku akan menemuimu," jawab Quen lalu mematikan ponselnya.
Karena masih lama, Al bermaksud kenkantin dulu untuk membeli minuman. Tapi, siapa sangka dia melihat mobil Alex baru saja masuk. Karena penasaran Al memastikan sampai sang pengemudi turun. Sebab jika melihat nopolnya saja jelas itu dia.
Dan ternyata benar. Ia nampak membawa tas entah apa isinya. Al jadi berfikir, siapa yang sakit? Apa jangan-jangan Helena? Berani sekali dia di rumah sakit ini. Dasar tak tahu malu, umpat Al.
Al pun kembali ke tempat dia janjian dengan Quen. Di sana ia melihat adiknya nampak mencari seseorang, jelas dia yang dicarinya.
Al menyentuh pundak Queen dari belakang, melempar senyuman sambil mengangkat kedua alisnya.
"Dari mana, kak?" tanya Queen setelah mendapati kakaknya.
"Dari kantin beli minum, mau?" tawarnya sambil menyodorkan sebotol minuman ringan yang sisa satu pertiganya.
"Makasih, aku tidak haus."
"Gimana kondisi papa dan mama?"
"Kita lihat saja, yuk! Ajak Queen lalu berbalik arah menuju ruang icu.
Al mengikuti Quen dan berusaha mengimbangi langkahnya yang cepat agar sejajar.
"Tadi kakak lihat Alex, di sini pas dari kantin."
"Oh, iya. Dari kemarin, sih Kak. Helena kecelakaan katanya."
"Oh, ya? Kau percaya?"
"Aku tidak tahu apa-apa. Ya diiyain aja sudah, meskipun lukanya cenderung seperti habis di hajar," jawab Queen sambil melangkah tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
Al terkekeh sambil melihat ke arah Queen.
"Kenapa ketawa?"
"Tidak apa-apa. Nanti kutunjukan padamu setelah menjenguk Adit, ok?"
"Kenapa gak sekarang saja? Apa sih?'
"Jangan, nanti saja."
"Apa, memang? Ngomong, donk Kak."
"Nanti saja setelah pulang dari jenguk Aditya."
"Memang kenapa kalau setelh ini dan sebelum menjenguknya?"
__ADS_1
"Aku takut kau membunuhnya nanti," jawab Al sambil terkekeh.