
Sementara pria itu hanya tertawa. Menertawai dirinya sendiri dan juga Berlyn yang amat sangat pemalu.
"Baiklah, jika kau tidak mau sekarang. Tapi, aku berharap di hari ulang tahunmu nanti, kau menyebutkan nama ku, Berlin."
Axel sedikit terperanjat saat ponsel yang ia letakkan di salam saku celananya tiba-tiba saja berdering.
Diraihnya benda pipih itu. Seketika, bibir pria itu melengkung ke atas membentuk senyuman kemudian tertawa. Ia menertawakan adiknya yang mungkin masih bingung mencari orang hilang yang kini sudah ketemu dan di bawa pulang.
"Halo, Driel. Kau di mana?" jawab Axel, masih menahan tawa sambil menutup bibirnya dengan sebelah tangannya.
"Kau di mana, kak? Bagaimana perkembangan kak, Bilqis? Apakah sudah ada tanda-tanda?" tanya adiknya. Axel berfikir kalau Adriel juga cukup menyayangi gadis konyol itu juga. Apa mungkin sejak kecil sudah jadi teman sekaligus pengasuhnya sama Berlyn juga?
"Untung saja kau telfon. Kakak baru mau menghubungi mu. Kak Bilqis sudah di temukan," jawab Axel. Kemudian memutus panggilan dan ponselnya ia nonaktif.
Sementara di sebrang sana, sepertinya Adriel tidak menyadari. Atau, saking senangnya dengan kabar yang baru saja kakaknya katakan. Jadi, ia sampai tidak bisa mendengar tanda panggilan terputus.
"Loh, sudah ketemu di mana, kak? Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah kau ada di rumah tante Nay?"
Hening. Tak ada jawaban dari Axel.
"Halo, kak? Kau di mana sekarang? Kak Bilqis sekarang di bawa ke mana?" Karena tidak ada jawaban, dan tak mendengar suara apa-apa dari dalam ponsel yang ditempelkan pada telinganya.
Adriel mencoba melihat layar ponselnya yang sudah gelap. Ternyata panggilan terputus ia tidak tahu. Kemudian, ia berusaha menghubungi lagi kakaknya lagi. Tapi sayang, nomornya tidak aktif.
"Di bawa ke mana, ya kak Bilqis? Berlyn nomornya juga tidak bisa dihubungi," gumam remaja itu seorang diri.
Ia pun melangkah menuju motornya lagi. Kalau berfikir kalau mungkin Bilqis sekarang ada di rumahnya sendiri. Adriel berencana akan ke rumah tante Nayla.
"Pink!"
Langkah lelaki remaja itu terhenti saat mendengar denting ponsel tanda pesan masuk. Dilihatnya ternyata sebuah chat dari Berlyn.
"Berlyn?" ucapnya sambil tersenyum. Buru-buru dibukanya isi pesan itu.
"Maaf, kak. Tadi ponsel ku ada di kamar aku cas. Kak Bilqis sudah ditemukan. Kau di mana?" Tulis gadis itu.
Dengan segera, Adiel membalas pesan itu. Mumpung Berlyn setatusnya juga masih online.
"Kak Biqlis di mana sekarang, Lyn?"
"Dia ada di sini. Kau ke marilah."
Seketika, Adriel pun langsung tancap gas menuju kediaman mama Queen.
***
Bilqis mulai terjaga dari tidurnya. Dilihatnya dinding sekitar. Ia tahu, ini bukan kamar hotel di mana ia kehilangan satu-satunya benda paling berharga miliknya. Kembali ia menangis kala mengingat kejadian malam itu.
"Jadi ini alasan mu kenapa kau tak menyukai Tiara, kak? Ya. Seharuya aku lebih percaya dan mendengarkanmu," gumamnya seorang diri dalam isakannya.
"Queen, obat tidur yang kau berikan pada Bilqis bertahan sampai berapa lama? Ini sudah lebih dari setengah jam. Apakah dia masih tidur?" tanya Nayla yang sejak tadi terus mondar-mandir ke sana kemari karena panik dan khawatir hari buruk terjadi pada putrinya.
__ADS_1
"Harusnya, dia sudah bangun. Biar coba ku lihat. Kalian tetaplah di sini dulu, jangan mengikutiku," ucap Queen lalu meninggalkan dua mantan suami istri yang sudah lama tak pernah bertemu secara langsung.
Nayla hanya diam kaku. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa sangat canggung. Mungkin, suasanannya tidak akan seperti ini jika saja Al bukan lah mantan suaminya. Terlebih, keduanya bercerai karena Nayla berselingkuh dengan salah satu anak buahnya di kantor.
Hal yang sama juga terjadi pada Al. Ia hanya diam dam tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia memilih pamit pada Nayla.
"Kamu tunggu di sini. Aku masih mau liat Berlyn dulu," ucap Al. Tanpa menunggu jawaban dari Nayla, pria itu langsung beranjak pergi.
Sebenarnya Al sendiri juga cukup ingin tahu bagaimana kondisi Bilqis. Tapi, karena istrinya sudah berpesan agar ia tidak ikut masuk sebelum mendapatkan intruksi darinya, ia bisa menemui Berlyn putri kandungnya sendiri yang sudah agak tadi turun dari Balkon, dan kini gadis itu barada di dalam kamarnya.
tiba di depan kamar Berlyn, Al berhenti sejenak. ia ragu-ragu. Tapi, akhirnya ia pun mengetuk pintu kamar tersebut.
"Tok... tok... tok!"
"Berlyn, apakah kau ada di dalam?" teriak Al.
Mendengar panggilan papanya, gadis itu segera meletakkan gadgetnya di atas kasur dan beranjak membuka pintu kamarnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis itu tersenyum pada papanya dan mempersilahkan Al masuk dengan bahasa isyarat.
"Kau lagi apa, Sayang?" tanya Al saat sudah berada di dalam kamar Berlyn.
Berlyn meraih ponselnya, menunjukkan dua barisan chat teratas ada dua nama Adriel dan saudari kembarnya.
"Kau juga chat sama Clarissa? Apa yang kalian bahas?" tanya Al penasaran.
BErlyn mengatakan dengan bahasa isyarat, kalau Calarissa menayakan kondisi kesehatan papanya dan juga perkembangan tentang kak Bilqis yang katanya menghilang.
Al diam sejenak. Ia berfikir dan mulai bertanya-tanya dalam hati, 'Kira-kira Clarissa menceritakan riwayat penyakit ganas yang pernah mengenaiku apa tidak, ya pada saudari kembarnya?' Namun, seketika ia langsung menemukan pengalihan ahar tidak sampai terlihat melamun di hadapan Berlyn. Ia percaya pada Clarissa. Jika pun dia sampai keceplosan mengatakannya pada Berkyn, sudah pasti ia marah-marah dan bertanya langsung, benar, atau tidaknya tentang itu. Jika benar, pasti juga terus mencecar dengan berbagai pertanyaan.
Gadis itu mengangguk. Kembali berkata dengan bahasa isyarat, "Karena kebetulan dia tadi juga pas menayakan kabar kak Bilqis. tanya ikut nonton bersama apa tidak.Jadi aku cerita padanya."
"Papa tidak tahu, bagaimana bisa saudarimu peduli dengan orang yang belum pernah ketemu sama sekali. Mungkin kah sering bercerita tentang kebaikan tentang kak Bilqis padanya?"
Berlyn mengangguk dalam hati. Kemudian memeluk papanya. Tapi, dalam hati ia berkata, 'Kau tidak tahu, Pa, sudah satu bulan lebih dia tinggal di sini bersama kalian, dan dia sempat menguji ketulusan kak Bilqis dengan membuat ulah ajaib. Namun, dia memang benar-benar tulus. Tetap sabar dan tidak pernah mengomel. Aku hanya berharap semoga tidak ada hal buruk padanya. Sebab, Clarissa juga memantau dan ikut menyelidiki tentang ini.'
Sementara Axel yang turun dari balkon bermaksut menyusul Berlyn kembali meneruskan rayuannya agar mau menyebutkan namanya. Tapi sayan. Beitu ia turun dari tangga, yang dia dapati justru tante Nayla yang masih terisak seorang diri. merasa iba an kasihan, pria itu pun menghampiri wanita itu dan menayakan keberadaan yang lain. Sebab, tadi dia dengar kalau Bilqis tengah tidur.
"Tante! di mana yang lain?" tanya Axel ketika sudah berada tidak jauh dari tempat wanita itu duduk dan menangis seorang diri.
Mendengar ada yang datang, terlebih itu Axel. Buru-buru Nayla mengusap air matanya sebelum menoleh dan menjawab pertanyaan pria tersebut.
"Axel! Kemarilah, Nak. Mama sedang menemui Bilqis di kamarnya. Sepertinya dia sudah terjaga, dan papa Al berada di dalam kamarnya Berlyn," jawab wanita itu.
"Kak, bagaimana kak Bilqis? Dia baik-baik saja, kan?" Tiba-tiba saja Adriel muncul dari luar tanpa mengucapkan salam dan permisi. Mungkin juga saking paniknya.
"Kita masih tidak tahu baaimana kondoso psikisnya. Kalau fisiknya ia baik-baik saja. Hanya mengalami sedikit luga ringan saja," jawab Axel. Pria itu tidak lagi kesal dengan kedatangan adik kandungnya. Karena, jika sudah begini, tidak pantas jika ia hanya berduaan saja dengan Berlyn. Yang ada mereka malah segera dinikahkan saja nanti oleh papa Al dan mama Queen tanpa menunggu gadis itu kuliah, atau bahkan lulus SMA. Tapi, bukankah itu yang memang diharapkan oleh Axel?
"Semoga dia baik-baik saja. Tadi, Berlyn yang ngasih tahu aku," ucapnya. Namun, kalimat itu terdengar seperti sedikit menggantung. Mungkin saja Adriel ingin bertanya kebenaran tentang Bilqis yang mencoba bunuh diri. Tapi, urung, karena bersama mereka ada tante Nayla. Jadi, yang mereka lakukan saat ini hanya berusaha menangkan hati Nayla saja. mengenai ini, mereka bisa membicarakan sendiri nanti secara pribadi setelah keduanya sudah berada di rumah. Bukan, ia tidak percaya dengan apa yang Berlyn katakan. Selama ini gadis itu selalu jujur dan berkata sesuao kenyataan.
Sementara di dalam kamar Bilqis, Queen terus merayu menenangkan Bilqis dan mencoba membuat agar gadis itu mau bercerita. Ia sudah menduga apa yang terjadi padanya. Tapi, tidak berani asal tembak. Harus dia sendiri yang bercerita.
__ADS_1
"Bilqis, Sayang. Kau yan tenang, jangan pernah merasa sendiri dan terasingkan. Kita berada di sini untuk kamu. Kita peduli padamu," ucap Queen yang sudah tak tega melihat kondisi Bilqis yang sangat trauma.
Gadis iti duduk melipat kaki di pojokkan kamar sambi, menutupi tubuhnya denan slimut yang dikenakan saat ia tidur tadi. Eskpresinya takut dan malu kalau tubuhnya terekspose. Padahaal, ia tengah mengenakan piyama lengan panjang. Tapi, ia seperti merasa seperti telanjang saja.
"Jangan lihat aku yang seperti ini, Ma! Aku malu," ucapnya sambil tersisak.
"Kenapa harus malu pada mamamu, Bilqis?"
"Aku tak mau... aku telah kehilangan masa depanku," jawabnya.
"Kenapa kau berfikiran demikian, Sayang? Selama kau mau menggapainya, kenapa kau jadi pesimis begini? Ini kecelakaan. Kau tidak cacat. Fisikmu tetap utuh. Yang cacat permanen saja masih bisa meraih masa depan dan impiannya. Lalu, kenapa kau tidak bisa? Pasti bisa."
"aku kehilangan mahkotaku, Ma... Tiara yang selama ini baik dan kuanggap lebih dari sahabat, dia menjualku pada tiga pria tua sekaligus. Semalam utuh aku digilir oleh tiga orang!" teriak Biqlis, histeris.
Sementara Queen yang mendengar pernyataan itu hanya terpaku kaget dan bengong. Ia tak bisa berkata apa-apa dan bingung harus mengatakan apa. 'Ya, Tuhan. Rupanya ini jauh lebih buruk dari yang kuduga,' batinnya.
"Ya, Ma... dia kejam! Benar apa yang kak Axel katakan. Sejak dulu dia sudah melarang ku agar tidak dekat-dekat dengan wanita ular itu. Tapi, aku tak menghiraukannya, ini salahku!" Gadis itu terus menangis histeris sambil meringkuk, tubuhnya. menyembunyikan wajah dan matanya yang sembab di atas lipatan lutut dan kedua lengannya.
Queen yang tak tahu harus berkomentar apa, ia juga turut menitikkan air mata. Perlahan ia melangkah mendekati Bilqis dan memeluk gadis itu.
"Kau yang kuat! Bersabarlah atas apa yang menimpamu. Percayalah karma itu ada, Sayang. Katakan pada dirimu, kalau ini bukanlah akhir dari segalanya. Yakinlah itu," ucap Queen sambil menangis dan memeluk Biqlis. Wanita itu juga iba. Ia sedih, karena dia juga seorang ibu dari dua anak gadis kembar.
Sementara Biqlis, ia terus teringat dan terbayang kejadian kemarin dengan jelas bagaikan nyata di depan matanya.
Dia teringat bagaimana kemarin ia berusaha keras berlari setelah menjatuhkan diri dari mobil makanya, dan berlari menuju mobil Tiara.
Sebenarnya, ia sudah mengabari Tiara kalau dia telah dijodohkan oleh mamanya. Jadi, Ia memang sudah berencana kabur dan meminta bantuan pada sahabatnya itu, selama ini ia yakin dan percaya sekali kalau Tiara benar-benar tulus padanya seperti Papa Al yang sudah bukan lagi menjadi suami dari mamanya. Pun juga Mama Queen dan Berlyn yang menganggapnya seperti layaknya keluarga sendiri. Tapi, justru rasa percayanya yang berlebih, justru malah menyeretnya pada lubang penyesalan yang mungkin tiada akhir.
"Sini, Bilqis! Cepat masuk! Ayo, ikut aku," ucap Tiara sambil membukakan pintu belakang. Lalu mobil pun melaju dengan cepat sementara di depan ada pacar Tiara dan satu pria lain mungkin dia adalah temannya.
Selama itu Bilqis memang tidak berpikir aneh-aneh. Sebab, Ia sudah biasa melihat Tiara seperti ini. Membawa lebih dari satu pria dan selalu bergonta-ganti, namun satu pria yang kini tengah mengemudikan mobil itu selalu bersama Tiara sejak dua tahun terakhir. Meskipun kabarnya, istri dari pria itu pernah melabrak sahabatnya dan menghajarnya habis-habisan di pinggir jalan. Namun, keduanya juga masih tetap bersama sampai saat ini.
"Bagaimana bisa, mamamu menjodohkanmu tanpa kau tahu, Apakah kau tahu, dengan siapa kau dijodohkan?" tanya Tiara penuh perhatian dan simpati. menunjukkan kalau dia benar-benar peduli pada Bilqis.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menunduk dan menggelengkan mata sambil berkata lirih, "Aku tidak tahu Tiara, dia ngomongnya juga mendadak banget. tiba-tiba nyuruh aku pulang. Mama memadahiku, dan setelahnya, ia memintaku berganti pakaian yang sudah ia siapkan. Aku juga baru bertanya padanya mau ke mana dia bilang kalo kita akan ketemu dengan pria yang akan menjadi suamiku. Makanya, aku langsung menghubungimu. Kebetulan kau ada di sini terima kasih kau memang yang terbaik ucap Bilqis.
Tiara tidak menjawab. ia hanya tersenyum menunjukkan kalau dirinya tulus lalu memeluk Bilqis dan mengusap punggungnya beberapa kali. kemudian ia mengajaknya ke sebuah hotel ia berkata, "Engkau tenang, lah! di sini. minum lah dulu, biar kau tenang coba aku obati luka mu," ucap Tiara
Begitu selesai mengobati luka Bilqis ia meninggalkan Biqis pergi. katanya mau membelikan makanan. Cukup aneh sih, ini hotel harusnya mereka bisa keluar di restoran hotel Tapi kenapa harus keluar haruskah makan di dalam kamar hotel. Namun, sepertinya itu bukan gaya Tiara. Sebab, Bilqis tidak sakit. dia hanya luka ringan. itu pun hanya lecet saja, namun bila kita pernah memiliki sedikit pun prasangka buruk terhadap sahabatnya ini sebab keduanya sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP
tidak lama kemudian Bilqis mendengar pintu kamar ada yang terbuka dari luar. ia sudah senang berpikir kalau yang datang adalah sahabatnya, Tiara. Namum, dia salah. ternyata tiga orang pria tua, yang tengah masuk ke dalam kamar Bilqis.
Tiga pria itu, bisa disebut Om. Mereka sama-sama berbadan besar dan berperutnya buncit. dari segi wajahnya juga sangat menyeramkan, menatap dengan tatapan lapar pada Bilqis memandang setiap inci tubuhnya yang kebetulan menggunakan pakaian seksi serta rok pendek sampai pertengahan pahanya.
Bilqis bingung menutupi tubuhnya dengan menarik ujung rok ke bawah namun pria itu tetap mendekat dan salah satu dari mereka duduk di sebelahnya. dua orang lagi Tetap berdiri tepat di hadapannya.
"Halo, Sayang! Kamu kok manis sekali? Siapa namamu?" tanya salah satu pria berperut buncit dengan muka brewok yang berdiri di depannya sambil memegang dagunya.
Bilqis tidak menjawab ia memalingkan wajahnya merasa risih pada pria itu dan menampik tangan itu. ia tak sudi disentuh oleh pria kotor seperti itu
Namun Gadis itu tidak sadar kalau perbuatan yang seperti itu menyinggung 3 orang itu sekaligus. jadi mereka marah dan berlaku kasar padanya mulai melucuti pakaiannya dan menghajarnya tanpa ampun serta menggilir nya satu persatu tanpa memberi hadis itu jeda untuk beristirahat. Padahal mereka juga tahu, ini adalah kali pertama bagi Bilqis.
__ADS_1
Tawa terdengar dari salah satu pria yang pertama menggaulinya. ia benar-benar puas karena yang disediakan oleh Tiara benar-benar gadis yang masih perawan, saat melihat darah yang keluar dari kewanitaan Bilqis. Bilqis menangis meminta mereka menghentikan perbuatannya. namun pria yang tengah kelaparan dan dikuasai nafsu sahwat itu tak lagi pedulikan itu, dan teriakan Bilqis Ia tetap menghajarnya tanpa ampun. satu orang pun bahkan lebih dari 3 kali hingga Gadis itu lemas dan akhirnya tengah malam setelah tenaganya kembali pulih, gadis itu memutuskan untuk kabur dari hotel. Jika tidak, pasti masih akan ada lagi pria yang menghubunginya. Ia tak habis pikir kalau Tiara, sahabatnya tega berbuat demikian.
Bilqis pergi berjalan tanpa tujuan dan pada akhirnya sekitar jam 9 pagi ia ditemukan oleh Axel dan Berlin saat hendak mengakhiri hidupnya di sebuah bangunan tua yang tak lagi dilanjutkan pembangunannya oleh pemilik proyek. Gadis itu sudah bersiap hendak melompat. Namun, dengan cepat Axel datang dan meneriakinya.