
"Van, turunkan aku cepat turunkan!" Clara terus berteriak sambil memukuli dada bidan suaminya.
Vano tidak menghiraukan ucapan Clara, dia tetap menggendong istinya sambil tersenyum nakal.
"Kalau aku tidak mau menurunkanmu, kamu mau apa?" tanya Vano.
"Aku akan menggigitmu," ucap Clara sambil menggigit dada Vano.
Vano mempercepat langkahnya, tiba disebuah kamar ia merebahkan istrinya.
"Nakal kamu, ya? Main gigit-gigit kesuaminya. Sini, aku balas."
"Hey, mau apa, kau?"Tanya Clara.
"Kamu menyobek baju baruku," ucap Clara, namun Vano tidak menggubrisnya.
Clara nampak canggung dan serba salah tingkah sambol kedua tangannya memegangi baju bagin depan agar dadanya tertutup.
"Aku tidak mau kamu pakai bahan trnasparan kek gini lagi, atau.... "
Vano mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Atau apa? Kau akan menyobeknya lagi meski di depan umum? Tidak, kan?" Goda Clara.
Vano tersenyum simpul dengan tatapan lembut ke arah Clara.
Tak lama kemudian ia memberi sebuah blouse putih lengan panjang kepada Clara dan memintanya untuk memakainya, "Pakai itu, atau kau emang ingin berpenampipan dengam baju sobekmu."
wajah Clara memerah, dia merasa malu dengan dirinya sendiri dengan cepat kilat Clara memakai blouse itu dan melanjutkan liburannya bersama Vano.
************
Satu minggu sudah mereka menghabiskan waktu untuk berbulan madu di Vila pemberian Andrean, dengan perasaan senang.
Sambil menemani sang suami mengemudi, Clara sesekali mengajak Vano ngobrol sambil bersenandung kecil menyanyikan lagu kesukaannya.
Sementara Vano terus Vokus dengan setir yang dipegangnya, terkadang juga tersenyum sendiri saat melirik Clara di sebelahnya.
Clara merogoh tas yang diletakan di samping kiri, diambilnya benda pipih itu dan dibukanya.
Beberapa saat tidak ada lagi suara Clara menegur suaminya atau seledsr suara ia bernyanyi, jari-jarinya sibuk dengan benda pipih di tangannya.
"Sayang, kamu fokus apa?" tegur Vano sambil melirik Clara.
"Pesam dari temen-temen saja kok, Van."
"Penting banget, ya?"
Clara menangkap maksut suaminya, ia tersenyum lalu meletakan gawainya kembali ke dalam tas. Ia menggeser duduknya mendekati Vano dan menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya.
"Kamu capek nyetir? Aku gantiin, ya?" ucap Clara.
"Tidak kok, aku tidak suka saja kalau kamu lebih banyak main hp jika sama aku."
Clara menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Padahal, selama seminggu di Vila dekat danau sama sekali dia tidak menggunakan ponselnya, dan sekarang hanya melihat sebentar saja Vano sudah begitu.
"Baiklah, maaf ya," ucap Clara melembut sambil menatap wajah serius Vano.
Tidak ada jawaban sepatah katapun dari suaminya, tiba-tiba Clara tertawa sendiri.
"Sayang, apa kamu juga sering memasang mimik seserius itu di kantor?"
"Memang kenapa?"
"Tidak apa-apa, kamu tetap ganteng kok dengan ekspresi seperti apapun."
Clara tersenyum sambil memeluk lengan kiri Vano dengan gemas.
"Sayang, aku lagi nyetir, nih. Kamu lepasin lengan aku dulu, dong."
__ADS_1
"Iya iya, maaf suamiku." Clara melepaskan pelukannya sambil terus tersenyum geli, kini ia kembali duduk di posisi semula.
Sekitar jam delapan malam Vano dan Clara tiba dirumah, karena merasa capek, keduanya pun sudah tertidur sebelum jam sembilan malam.
Pagi-pagi sekali Vano telah terjaga dari tidurnya, meskipun matanya masih terpejam, tapi ia sebenarnya tidak dalam keadaan tertidur.
Dirabanya tempat di sebelahnya, cukup lama ia meraba tapi tidak menemukan apa-apa. Lalu ia membuka matanya yang msih terasa lengket, ternyata benar, Clara tidak ada di sebelahnya.
Dengan malas ia bangkit, perlahan berjalan ke kamar mandi untuk mengeceknya. Ternyata tidak ada.
"Sayang, Sayang!" panggilnya berulang kali. Dia menuruni tangga, dan benar saja. Clara sedang ada di dapur memasak sesuatu.
Dihampirinya Clara yang menyeduh 4 gelas susu, dipeluknya dari belakang, "Aku mencarimu, ternyata kamu di sini ya?" ucapnya sambil mencium leher Clara dari belakang.
"Van, Uda, nanti kelihatan bi Narti ga enak lo," ucap Clara sambil mengeliat geli. Dia letakkan semuanya di atas menja mencoba melepaskan tangan Vano dari pinggangnya. Bukannya melepas, Vano justru menggigit telinga istrinya.
"Vaaann!" Teriak Clara agak keras karena geli.
Vano pun tertawa sukses mengerjai istrinya.
"Permisi, Mbak Clara pagi ini mau masak apa?" suara bi Narsih tiba-tiba.
Dengan cepat Vano melepaskan pelukannya, sambil tersenyum nakal kepada Clara. Sedangkan Clara, dia syock mengetahui sang suami ternyata turun dalam keadaan telanjang dada.
"Ini semua sudah siap kok bi sarapannya, Barusan Clara bikin roti sama snwich dan susu, tolong Bibi taruh di meja makan saja, ya," ucap Clara.
Clara beranjak mau ke kamar mandi. tapi, menyadari suaminya harus berangkat lebih awal, ia pun harus mengalah. dan di gunakannya untuk merapikan kamar.
.
"Van, aduh turnin aku!" ucap Clara kaget. Tapi Vano bergeming terus membawanya menuju kamar.
10 menit kemudian, ketika Clara merapikan tempat tidur Vano sudah keluar dari kamar mandi, "Pasangin kancing dan dasinya, dong!" ucapnya manja.
Clara tersenyum sambil mengelengkan kepalanya, ia berjalan mendekati Vano. Dipasangnya kacing kemeja Vano satu persatu, lalu dia meraih dasi di sebelahnya dan memasang sekalian.
"Sarapan apa?"
"Tadi di bawah aku uda buatkan sanwich telur kesukaan kamu, dan susunya juga uda siap, kok."
"Aku mau ini saja," ucap Vano manja sambil memeluk Clara.
"Sudahlah Van. ntar kamu telat, ayo buruan!"
"Beri aku sebentar saja, habis itu aku akan turun untuk sarapan," bisik Vano sambil memeluk pinggang Clara.
Clara berdecak kesal tak ada pilihan selain menuruti maunya Vano, "Tapi jangan sampai kau telat pagi ini."
"Aku tahu, ini hari pertama aku kerja setrlah cuti. makasih, sayang" bisik Vano di telinga Clara.
Pagi itu Clara sarapan bersama dengan Vano, Vivian dan Andrean, sebelum semua melakukan aktifitas bersama.
"Sayang, kamu ke kampus pagi ini?"
"Iya, kebetulan hari ini jadwal kuliah pagi."
"Ya uda, ayo sekalian bareng, aku anter,"
"Boleh. Ma, Pa, Clara berangkat dulu, ya," ucap Clara sambil mencium tagan Andrean dan Vivian.
Vivian melihat Vano dan Clara yang sudah pergi duluan, "Melihat keduanya bahagia, hati rasanya lega, ya Mas." ucap Vivian.
"Iya, pemandangan ini sudah lama kita lihat. Hanya saja penilaian kita salah."
"Ya uda ayo kita juga berangkat!" seru Vivian.
*******
Seorang gadis muda berambut panjang dan lurus dengan balutan baju sexy, menyambut antusias Vano yang sudah seminggu ini cuti.
__ADS_1
Gadis itu adalah Raisha, asisten Vano. Yang diam-diam memendam rasa terhadap atasannya.
"Selamat pagi, Pak Vano, uda satu minggu bapak tidak bekerja," ucapnya ramah.
Dengan nada datar dan cuek Vano menjawab, "Iya, ada urusan keluarga."
"Pak, ini laporan selama seminggu ini, tolong anda cek lagi."
"Taruh saja di atas meja! Dan kamu boleh keluar," jawabnya dingin. Namun terdengar sexy bagi Raisha yang sejak pertama berkerja di sini sudah sangat menyukainya, tepatnya dua tahun yang lalu.
Raisha tertegun memandang Vano yang nampak serius dengan pekerjaannya, cukup lama dia berdiri di depan pintu menatap bosnya itu.
vano menoleh ke arah Raisha, "Apakah kamu tidak ada kerjaan lain?"
"I iya Pak, maaf," ucapnya lalu pergi.
Raisha banyak tau tetang kenakalan Vano selama ini yang terkenal sebagai play boy, tapi dia tidak pedulikan itu, dia benar-benar jatuh hati padanya sejak pandangan pertama.
Raisha selalu memutar akal, mencari cara bagaimana supaya Vano tertarik padanya, tapi, dengan cara apapun, sepertinya Vano tidak pernah sekalipun meliriknya.
Siang itu Clara pulang dari kampus membuat salad buah kesukaannya di apartemen pribadi milik Vano. Tempat yang memberi sejuta kisah dan kenangan.
"Kamu kasih aku jang food terus, lihat aku makin cuby, gimana nanti kalau perutku ga sick pack lagi?"
Clara tersenyum mana kala mengingat kata-kata Vano itu, memang benar, BB Vano dalam seminggu ini naik 3kg. Entah efek bahagia atau tak kontrol makanan. Sepertinya sih, dua-duanya.
"Selamat siang, Pak," ucap Clara sambil membuka pintu.
Vano terperanjat kaget tak percaya melihat siapa yang datang, "Calra? Kamu kesini Sayang?" ucapnya bahagia. Beranjak dari kursi untuk memeluk Clara.
"Aku bawain makan siang buat kamu,"
"Bawain, apa?"
"Salad buah dan sayur sama jus jambu,"
Vano diam tidak menjawab, dia tersenyum sambil mencium pipi Clara.
"Kemarin, kan kamu protes. Gegara aku kasih makanan berlemak kamu jadi cuby, ya uda, aku kasih makanan sehat, aja," ucap Clara sambil membuka kotak makanan dan menyuapi Vano.
"Makasih, Sayang," ucap Vano sambil memangku Clara duduk di kursinya.
Saat itu Raisha bermaksut mengajak Vano untuk makan siang bersama di kantin kantor, kebetulan pintu ruangan Vano terbuka, tanpa ragu-ragu ia pun begitu saja langsung masuk. Ia tertegun mlihat pemandangan yang menyayat hatinya.
Saat itu Clara duduk di pangkuan Vano sambil menyuapi suaminya, yang dikira Raisha hanyalah pacar atau sekedar koleksinya saja, karena saat pernikahan mereka, Andrean tidak melibatkan staf kantor, hanya saudara dan rekan-rekan tertentu saja yang tahu.
"Van, stop jangan glitikin aku," kesal Clara.
"Terserah aku, dong, ini kan uda jadi miliku," ucap Vano manja sambil menyelipkan wajahnya di leher Clara.
'Bruuuugh'
Tanpa sengaja Raisha menyenggol tumpukan berkas-berkas hingga jatuh, membuat Clara dan Vano reflek menoleh ke sumber suara.
"Sejak kapan kamu di bayar untuk mengintip?" ucap Vano kepada Raisha.
"Maaf, pak, tadi saya bermaksut untuk ke kantin kantor, tapi pintu ruangan bapak terbuka," ucap Raisha lalu pergi begitu saja.
"Ih, kamu galak banget," ucap Clara memandang aneh pada Vano.
Vano tidak menjawab, dia meraih belakang kepala Clara lalu menciumnya.
"Kepalaku pusing banget, ke apartemen saja, yuk! Masih ada waktu 45 menit," ajak Vano.
Vano berjalan meninggalkan kantor sambil memeluk erat pinggang Clara.
Keduanya menjadi bahan tontonan oleh para karyawan, semuanya mandangnya heran dan aneh.
Bagaimaba tidak, sosok kaku cuek dan hanya mencari kepuasan sendiri bisa berlaku romantis pada wanita di depan umum, bukankah sebuah sesuatu?
__ADS_1