
Al mengabaikan semua mata yang memandangnya dengan takjub,
bukan takjub. Lebih ke aneh mungkin ya? Ia terus berjalan menghampiri Queen
dengan matanya yang menyorot tajam ke arah wanita yang mengenakan Kebaya
dengan warna pastel serta gelungan rambut yang menyisakan sedikit anak rambut
di kedua sisi wajahnya membuat ia kian tampil elegan dengan potongan yang sangat
membentuk badan,serta kerah berbentuk “V”
Queen menggantungkaan senyumnya karena merasa kaget setelah
menyadari ada yang salah dengan penampilan Al malam itu.
“Kakak, kau akhirnya datang juga. Tapi… “ Queen terpaku
seolah terhipnotis oleh tatapan mata Al yang terus memandangnya tajam tanpa
ekspresi dan tak ada senyuman seduikitpun di bibir pria itu. ‘Kenapa begini?’ batin
Queen
Tanpa berbicara papaun Al meraih pergelagan tangan Queen dan
menyeretnya keluar, di depaan kakek Andrean dan juga keluarga Diaz ia berkata,
“Tidak ada tunangan mala mini!”
“Kak… Kaaaak… Apa yang kau lakukan?” ucap Queen, bahkan
beberapa kali ia hampir terjatuh saat Al menyeretnya kencang. Bukan karena
haigh heels yang ia kenakan. Tapi, bawahan kebaya yang Panjang membuatnya
sedikit susah berjalan, langkahnya pun juga tidak bisa lebar.
Tanpa banyak bicara Al memaksa Queen masuk ke dalam
mobilnya, lalu membawanya pergi, mengabaikan Queen yang berteriak, marah dan
memukulinya. Ia justru kian kencang mengemudikan mobil itu, sampai
berkelok-kelok dan beberapa kali hampir saja bertabrakan dengan kendaraan yang
ada di depannya.
“Kak, kau ini dengar apa tidak, sih? Hentikan mobilnya, ini
adalah acara pertunanganku, Kak. Kenapa kau melakukan ini? Mau kau bawa kemana
aku sebenarnya?” Queen menangis dan terus memukul serta menarik lengan kiri Al
yang tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi itu.
“ AAAAAAA !” Queen berteriak kencang saat Al menyelinap
mendahului mobil container dan dari arah yang berlawanan sebuah mobil melintas,
beruntung mobil itu tidak kencang, jadi,
Al dan Queen selamat dari maut. Namun hal itu lantas tidak membuat wanita itu
menjadi diam ataupun jera, dia masih saja tetap melakukan hal yang sama
kembali, akhirnya Al pun merasa kian kacau dan membentak Queen dengan keras.
“DIAM!”
Queen terkejut sampai menutup bibirnya dengan kedua
tangannya, selama ini sampai ia berusia duapuluhenam tahun, sekalipun Al
tidak pernah berkata kasar sediktipun apalagi sampai membentaknya? Apakah dia
bersalah? Ya dia sadar kalau dirinya bersalah, karena dia, kosentrasi Al
menjadi buyar saat mengemudi. Tapi, hal ini tidak akan terjadi apabila Al tidak
menariknya paksa membawa dirinya pergi meninggalkan pertunangan.
Queen menutup kedua wajahnya dan memalingkan tubuhnya
menghadap ke jendela, ia menangis sejadi-jadinya namun tak mengeluarkan suara,
hatinya terasa sakit dan hancur. Bagaimana tidak, seorang pria yang sudah
menjadi kakaknya senjak ia lahir malah merusak acara sakralnya. Tidak hanya
itu, bahkan ia membentaknya dengan keras atas upanyanya mempertahankan haknya.
Queen merasa benar-benar sangat kecewa. Jangankan membayangkan Al seperti ini,
terlintas dalam benaknya saja sekalipun tidak pernah. Namun, mengapa ini malah
terjadi?
🍁🍁🍁🍁
Sementara di rumah Queen para tamu dan dua belah pihak
keluarga heboh dibuatnya, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani
menahan Al. termasuk Juna dan Vico, di tengah-tengah kepanikannya orang-orang
yang hadir, dua makhluk itu malah saling melempar isyarat mengenai sahabatnya
yang terbudak oleh cinta sampai tak tahu malu itu, sampai malah terkikik
bersama di bawah pohon akasia.
“Menurutmu bagaimana si Al, Jun?”
“Hahaha, tidak kuat dia, dia cemburu,” jawab Juna, terbahak
karena tidak mampu menahan tawanya.
"Kira-kira di bawa kemana Queen sama dia? Dan diapakan, ya?"
"Kita sudah sama-sama dewasa. masa tidak tahu, dia dah lama puasa kan?"
“Ehemb!”
Kedua anak muda itu langsung diam saat kakek Andrean
berdehem sambil menatap kearah merek berdua, mereka saling sikut-sikutan karena
takut kena marah. Memang kalau dipikir-pikir juga tidak sopan, dalam keadaan
yang seperti ini semua panik dan juga bingun saling bertanya-tanya ada apa dan
kenapa malah mereka cekikikan gak jelas seperti anak usia lima tahun yang belum
bisa mikir.
“Kakek Andrean melajukan kursinya ke arah Diaz dan juga
umiknya, mereka sepertinya tengah mendiskusikan sesuatu.
“Diaz, pakah selain umik dan Fatimah ada yang tahu tentang
Queen?”
“Tidak, Kakek.”
Andrean menghembuskan napas Panjang sebelum ia memulai berbicara.
Lalu kemudian, “Lihat di sana, seorang gadis muda dan mengenakan kebaya yang sama pula dengan Queen.
Sama-sama mencintaimu. Dari pada acara ini gagal dan tak mendapatkan apa-apa
selain rasa malu, bagaimana jika kau bertunangan saja dengan Hanifah. Kasian
keluargamu yang sudah mempersiapkan semua ini dan jau-jauh datang dari Bandung
Diaz,” bujuk kakek Andrean.
Diaz diam tidak menjawab, ia menunduk dan melihat kearah
Hanifah yang memasang ekspresi bingun karena kemunculan Al yang tiba-tiba dan
membawa Queen tanpa sepatah katapun. Kemudian ia melihat ke arah umiknya,
seolah menanti sebuah jawaban atas tawaran yang diajukan kakek Andrean.
Belum sempat wanita paruh baya itu memberi jawaban, kakek
Andrean sudah kembali berbicara lagi, seolah sengaja membuat pikiran anak muda
yang ada di hadapannya itu terpengaruh, brgitupun wanita di sebelahnya, yang
telah menjadi orang tua tunggalnya.
“Di sini kedua orangtua Hanifah juga hadir, jika kau mau,
biarkan kakek yang akan menyampaikan pada mereka.” Pria tua itu terus mengamati
ekpresi Diaz yang menunjukan kalau ketentuan hatinya mulai goyah, mungkin juga
__ADS_1
teringat bagaimana Hanifah yang sangat rapuh dan mudah menangis meski
kelihatannya gadis itu sangat ceria.
“Apa kau tidak kasihan dengan keluarga dari mendiang abahmu
jika kau gagal tunangan hanya karena tiba-tiba Queen dibawa lari oleh Al?
Mereka pasti akan sangat kecewa. Terlebih, kau ini adalah public figure,” imbuh
kakek Andrean.
Umik Halimah mengangguk memberi persetujuan kepada Diaz,
Sementara Diaz, dengan berat hati akhirnya mengikuti saran kakek Andrean,
meskipun berat dan sangat sakit, akhirnya ia pun mengangguk juga.
‘Maafkan aku, Queen. Aku tak bisa biarkan keluargaku kecewa,’ batin Diaz.
Sehingga malam ini berubah menjadi malam yang sangat bersejarah
bagi Hanifah, ia benar-benar bisa bertunangan dengan pria yang ia cintai.
Meskipun pria itu sangat terpaksa melakukannya, karena saat ini di hatinya
masih ada wanita lain, sementara Queen
Al membawa Queen ke sebuah tempat di mana ia mengurung diri
sebelumnya selama dua hari terakhir.
“Kak, kau ini kenapa sih? Katanya kau selalu ingin membuatku
bahagia, kenapa kau merusak pertunangannku, katanya kau berjanji akan selalu
ada disaat aku jatuh, tapi hari ini kau yang menjatuhkan diriku dalam kesedihan.
Kau ingkar.” Queen terus berteriak sambil menangis.
Al yang berdiri sedikit jauh dengannya juga nampak tidak
peduli, dia diam tak menjawab, berjalan mendekati lemari es melewati dirinya dan mengambil
sebuah botol yang berisi air mineral dan meminumnya. Setelah itu, matanya
menatap tajam kearah Queen dan berkata.
“Aku sayang sama kamu, dan bukannya selama ini aku selalu
ada buat kamu? Apakah keberadaanku di sampingmu itu masih kurang? Kau ini
prioritasku, Queen. Lalu kenapa kau masih harus menjalin hubungan dengan pria
lain seperti Diaz? Saat kau dalam bahaya siapa yang paling bertaruh nyawa untuk
menyelamatkanmu? Kalau aku tidak sayang sama kamu, buat apa aku lakukan itu?
Melindungimu, bahkan sampai membunuh seseorang, kau tahu kan kalau Aditya itu
di kenal publik sebagai orang baik? Tentu kau tahu bagaimana mereka menyerangku
sekalipun sudah ada klarifikasi dari pihak kepolisian. Para haters tetap saja
menyerangku, menganggap aku ini menyuap karena aku dikenal sebagai kakmu, putra
pertama ayah ibumu, kurang apa aku ini
sehingga kau mendatangkan pria lain dalam hidupmu, hah?’’
Queen tertunduk tidak menjawab, air matanya masih deras
bercucuran, antara kecewa, sakit dan semua jadi satu.
“Jawab aku, Queen! Jangan diam saja,” bentak Al sambil
mencengkeram dagu wanita itu, mendongakkan wajahnya agar memandang dirinya.
“Kau ini kakakku… wajar kan jika aku memiliki hubungan
dengan pria lain dan menjadikan dia suamiku? Kamu juga sudah menikah dengan kak
Nay, di mana aku ada mengusik sekalipun hubungan kalian? Di mana?” Wanita itu
berkata sambil sesenggukan.
“Bisa apa dia memangnya, hah? Kemarin saja, jelas-jelas dia
tak pecus menjagamu. Jika bukan karena aku, kau pikier kau masih bisa berdiri
seperti ini? Cukup aku saja satu-satunya pria yang menjagamu, aku bisa
Queen.”
“Kau benar, kak. Kau seglanya bagiku. Tapi, aku juga punya
mimpi yang tak bisa diwujutkan oleh mu, kak. Dan ada pula sesuatu yang hanya
bisa dilakukan Diaz, tapi tidak denganmu. Biarkan aku hidup bahagia dan menikah
dengannya kak. Dan kau, berbahagialah dengan kak Nay.”
“Bilang sekali lagi!” ucap Al dengan emosi. Dengan amarah
yang meluap-luap Al kembali menarik lengan Queen dan mendorongnya ke sebuah
kamar sampai ia jatuh tersungkur di atas lantai.
Sedangkan Al langsung mengunci pintu dan melepaskan
kemejanya yang sudah tak terlihat bentuknya.
Wanita itu mulai berfikir buruk mengenai nasibnya di tangan
Al. ia mengesot ke belakang, seolah ingin pergi jauh dari jangkauan pria
di depannya yang telah membabi buta. Terlebih saat Al melepaskan ikat
pingganngya dan menyeringai kearah Queen.
“ Kau mau apa?’’
Al tersenyum miring, dan berjalan kian dekat dengan Queen,
“Kau pikir saja apa kira-kira? Kita ada di dalam satu kamar dan hanya berdua
saja.”
“Kak, kau ini kakakku, sadarlah aku adalah adikmu, kau tidak
akan berbuat apapun padaku kan?” ucap Queen, menjadi gentar, punggungnya sudah
menabrak tempat tidur sehingga ia tidak bisa mundur lagi.
“Coba, kita buktikan, bukannya kau barusan bilang kau
membutuhkan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Diaz sehingga kau sangat
ingin menikah dengannya, jika aku pun bisa, apakah kau akan meninggalkan dia
dan membuangnya jauh-jauh dari kehidupanmu?”
Al memegangi kedua bahu Queen dan matanya liar memandangi ke
seluruh lekuk tubuh wanita di depannya terlebih bagian dada, ia terlihat sangat
bernafsu dan buas.
“Kak, kau ini kenapa? Sadarlah, aku ini adikmu jangan
begini, ya?” lirih Queen dengan mata terpejam erat.
“Aku benci jika kau dekat pria mana pun, cukup satu aku saja
yang akan menjagamu, dan memberikanamu kebahagiaan,” Teriak Al sambil menarik
paksa kebaya yang dikenakan Queen hingga kancing-kancingnya terlepas dan terbuka mengekspose tubuh bagian
depannya.
Wanita itu terbelalak kaget atas apa yang dilakukan oleh
pria yang selama ini dia anggap kakak, seolah-olah tidak percaya jika dia akan
melakukan hal itu terhadapnya. Tapi, kenapa dia harus sampai menanggalkan
kemeja, juga ikat pinggangnya? Lalu sekarang, dia bahkan menarik paksa
pakaiannya.
“Kak, aku mohon jangan lakukan ini, aku gak mau?” ucap Queen
terus memohon sambil menangis.
Sementara Al yang sudah hilang akal sehatnya tak mau lagi dengarkan apa yang diucapkan Queen.
Tidak hanya baju, bahkan bawahan yang ia pakai dari kain batik yang hanya
dililitkan pun juga kini sudah terlepas dari tubuhnya akibat ulah Al.
__ADS_1
Queen meringkuh sambil menyilangkan kedua tangannya untuk
melindungi diri dan berusaha menutupi tubuh bagian depannya. Dengan cepat Al
mengankat tubuh yang hampir telanjang itu lalu dihempaskannnya di atas ranjang
dan lansung menindihnya.
Queen terus berteriak, menangis dan memohon agar Al tak
melakukan hal yang ia takutkan, sebisa
dia ia meberontak, menampar, memukul bahkan mencakar pria yang berada di atas
tubuhnya itu. Hanya saja Al sudah tak peduli, ia sudah berada di puncak
nafsunya.
“Queen, tenang lah. Kau hanya menghabiskan tenagamu saja. Tingkahmu yang penuh
penolakkan ini malah buatku bernafsu saja, seolah aku akan menyetubuhi perawan.
Padahal kau ini janda, bukan? Dan ya, aku ingat, kali pertama kau melakukannya
juga denganku, begitupun aku. Jadi aku mau kau yang terakhir bagiku, dan
begitupun sebaliknya.
Belum ada setengah jam Queen memberontak ia sudah kehabisan
tenaga, badannya terasa lemas, jeritan dan teriakan pun kini juga berubah
menjadi desahan, tak peduli, seberapa keras dan kasarnya perlakuan Al
terhadapnya. Tak hanya dibagian tubuh bagian bawahnya saja, mulai dari bibir,
telinga, leher juga seluruh dadanya rata dengan bekas merah kebiruan tanda kepemilikan yang Al
tinggalkan sampai pada akhirnya tubuh mereka pun menegang, mereka sama-sama
mencapai puncak, dan tubuh Al roboh di atas tubuhnya.
Pada pertengahan malam Queen terbangun, entah tadi itu dia
tertidur, karena lelah dan kehabisan tenaga, atau justru pingsan karena alasan
yang sama dan juga shock. Ia merasa tubuhnya sangat kaku, sakit dan susah
digerakkan, sedangkan bagian di bawah perutnya juga rasanya kram.
“Aduuuuh… Sakit selai.” Wanita itu meringis menahan nyeri
juga perih. Sedangkan di bagian pinggangnya, sepasang tangan kekar melingar memeluknya di sana. Ia juga merasakan hembusan napas teratur di belakang telinganya.
Sepertinya Al tidur pulas karena lelah akibat pergumulan mereka beberapa jam
tadi dan memeluknya erat dari belakang.
Queen tak mampu untuk pergi, badannya masih terasa lemas dan
lemah, ia hanya memeluk selimmut dan meringkuh sambil menangis. Ia merasa
hatinya sangat hancur sehancur-hancurnya. Ia teringat bagaimana sakitnya dia
saat terjatuh dari jurang saat dikejar-kejar Aditya, sepertinya luka itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ini. Kali ini ia baru sadar kalau sakit
yang sebenarnya itu justru tidak berdarah.
Al yang tidurnya pulas, terganggu oleh punggung yang
dipeluknya bergetar serta diiringi suara isakanan tangis yang sangat lirih. Ia
bisa mendengarkannya, sebab ia berada sangat dekat dengannya.
“Kau sudah bangun sayang? Menghadaplah kemari, aku ingin
menciumu,” ucap Al dengan nada serak, khas bangun tidur.
Tidak ada jawaban dari Queen, ia masih saja menangis
tersedu-sedu, dan berusaha tak mengeluarkan suara, tangannya kian erat meremas
selimut di depan dadanya untuk menutupi tubuh telanjangnya itu. Ia hampir tak
mempercayai ini, dan ia juga berharap yang dialaminya beberapa jam tadi adalah
sebuama mimpi buruk yang berlalau begitu saja setelah ia terjaga.
Dari belakan, Al menciumi tengkuk dan lehernya, ada sensasi
geli dan merinding saat kumis dan hembusan napas pria itu menyentuh kulit
tengkuk dan lehernya. Dan tangannya pun juga mulai bergerilya kemana-mana.
“Hentikan!” bentak Queen dengan suara yang lemah.
“Tubuh,mu itu seperti candu, sayang. Mana mungkin aku bisa?
Aku ingin mengulanginya sekali lagi, lagi, dan lagi denganmu. Aku sudah
buktikan, kan kalau aku bisa melakukan apa yang Diaz bisa? Tapi, dia belum
tentu bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan. Lupakan dia, sudah ada aku
dalam hidupmu, kau tak butuh siapapun. Aku bisa memberikan seglanya padamu.
Quen ingin berteriak sekencang-klencangnya mengeluarkan
semua beban dan luka hatinya, tapi ia sungguh benar-benar tidak bisa. Ia merasa
dunia sungguh-sungguh tidak adil. Pikirannya langsun tertuju dengan Diaz.
Bawa aku kembali, aku ingin menemui Diaz.”
Al mengankat kepalanya, lalu duduk dan meraih celana
pendeknya lalu mengenakannya sebelum ia mengambil benda pipih yang ada di dalam
mobil.
“Itu ide buruk sayang, lihatlah dirmu! Matamu sampai bengkak
karena terlalu lama menangis, dan terlebih, leher dan dadamu itu, bagaimana
caranya kau menjelaskannya kepada kekasihmu itu? Mungkin benar ia tahu dan bisa
menerimamu yang sudah berstatus janda. Tapi, coba kau pikir lagi, apakah dia bisa terima jika
melihatmu berhubungan badan dengan pria lain diluar nikah, terlebih denganku?”
Mendengar hal itu, Queen merasa emosi, terlebih saat ia menunduk
mlihat ke dadanya, banyak sekali bekas merah kebiruan akibat ulah Al. Ia pun
menggulung selimut pada tubunya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki,
bangkit dan mencekik Al sambil berteriak, “Aku benci kau, kau ini bukan
manusia, kau binatang, Al aku tidak sudi punya kakak sepertimu lagi, kau pantas
mati."
Dengan sangat mudah, Al melepaskan kedua pasang tangan mulus
itu dari lehernya, ia menariknya kedepan sehingga posisinya seperti orang yang
tengah berpelukan. “Aku juga tidak mau jadi kakakmu. Tapi, yang kumau aku jadi
suamimu saja, dan jangan membunuhku, apa yang kau katakana pada anak kita kelak
jika dia memananyakan aku? Hah?” bisik Al.
“Tidak! Aku tidak mau mengandung apalagi melahirkan anak
darimu. Jika kau tak ingin mati, biarkan aku saja yang mati!” Queen melepaskan
diri hendak berlari mencari benda apapun yang kira-kira bisa melukai dirnya
sendiri. Tapi, Al tidaka akan pernah biarkan itu, Justru dengan cepat ia
menarik tangannya dan menggenggam erat pergelanganya dan menahannya, melakukan
lagi hal yang baru saja dilakukannya. Pemberontakan dan amarh yang Queen
lakukan baginya sangat menggairaahkan, ia sampai-sampai bernapsu dan lupa
segalanya. Tak ingat apapun selain memuaskan dirinyaa, terlebih, dia juga sudah
lama tidak melakukannya dengan Nayla.
“Kau tenanglah sayang, kali ini akun akan memperlakukanmu
dengan lembut, lihatlah leher dan punggungku, penuh dengan luka cakaranmu,
sepertinya kau benar-benar bernafsu tadi,” ucap Al sambil mencengkeram keras kedua
pergelangan tangan Queen dan ia pun mulai memasuki diri wanita yang masih polos
tanpa selembar benangpun di bawahnya.
__ADS_1