Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 201


__ADS_3

Al mengabaikan semua mata yang memandangnya dengan takjub,


bukan takjub. Lebih ke aneh mungkin ya? Ia terus berjalan menghampiri Queen


dengan matanya yang menyorot tajam ke arah wanita yang mengenakan Kebaya


dengan warna pastel serta gelungan rambut yang menyisakan sedikit anak rambut


di kedua sisi wajahnya membuat ia kian tampil elegan dengan potongan yang sangat


membentuk badan,serta kerah berbentuk “V”


Queen menggantungkaan senyumnya karena merasa kaget setelah


menyadari ada yang salah dengan penampilan Al malam itu.


“Kakak, kau akhirnya datang juga. Tapi… “ Queen terpaku


seolah terhipnotis oleh tatapan mata Al yang terus memandangnya tajam tanpa


ekspresi dan tak ada senyuman seduikitpun di bibir pria itu. ‘Kenapa begini?’ batin


Queen


Tanpa berbicara papaun Al meraih pergelagan tangan Queen dan


menyeretnya keluar, di depaan kakek Andrean dan juga keluarga Diaz ia berkata,


“Tidak ada tunangan mala mini!”


“Kak… Kaaaak… Apa yang kau lakukan?” ucap Queen, bahkan


beberapa kali ia hampir terjatuh saat Al menyeretnya kencang. Bukan karena


haigh heels yang ia kenakan. Tapi, bawahan kebaya yang Panjang membuatnya


sedikit susah berjalan, langkahnya pun juga tidak bisa lebar.


Tanpa banyak bicara Al memaksa Queen masuk ke dalam


mobilnya, lalu membawanya pergi, mengabaikan Queen yang berteriak, marah dan


memukulinya. Ia justru kian kencang mengemudikan mobil itu, sampai


berkelok-kelok dan beberapa kali hampir saja bertabrakan dengan kendaraan yang


ada di depannya.


“Kak, kau ini dengar apa tidak, sih? Hentikan mobilnya, ini


adalah acara pertunanganku, Kak. Kenapa kau melakukan ini? Mau kau bawa kemana


aku sebenarnya?” Queen menangis dan terus memukul serta menarik lengan kiri Al


yang tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi itu.


“ AAAAAAA !” Queen berteriak kencang saat Al menyelinap


mendahului mobil container dan dari arah yang berlawanan sebuah mobil melintas,


beruntung  mobil itu tidak kencang, jadi,


Al dan Queen selamat dari maut. Namun hal itu lantas tidak membuat wanita itu


menjadi diam ataupun jera, dia masih saja tetap melakukan hal yang sama


kembali, akhirnya Al pun merasa kian kacau dan membentak Queen dengan keras.


“DIAM!”


Queen terkejut sampai menutup bibirnya dengan kedua


tangannya, selama ini sampai ia berusia duapuluhenam tahun, sekalipun Al


tidak pernah berkata kasar sediktipun apalagi sampai membentaknya? Apakah dia


bersalah? Ya dia sadar kalau dirinya bersalah, karena dia, kosentrasi Al


menjadi buyar saat mengemudi. Tapi, hal ini tidak akan terjadi apabila Al tidak


menariknya paksa membawa dirinya pergi meninggalkan pertunangan.


Queen menutup kedua wajahnya dan memalingkan tubuhnya


menghadap ke jendela, ia menangis sejadi-jadinya namun tak mengeluarkan suara,


hatinya terasa sakit dan hancur. Bagaimana tidak, seorang pria yang sudah


menjadi kakaknya senjak ia lahir malah merusak acara sakralnya. Tidak hanya


itu, bahkan ia membentaknya dengan keras atas upanyanya mempertahankan haknya.


Queen merasa benar-benar sangat kecewa. Jangankan membayangkan Al seperti ini,


terlintas dalam benaknya saja sekalipun tidak pernah. Namun, mengapa ini malah


terjadi?


🍁🍁🍁🍁


Sementara di rumah Queen para tamu dan dua belah pihak


keluarga heboh dibuatnya, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani


menahan Al. termasuk Juna dan Vico, di tengah-tengah kepanikannya orang-orang


yang hadir, dua makhluk itu malah saling melempar isyarat mengenai sahabatnya


yang terbudak oleh cinta sampai tak tahu malu itu, sampai malah terkikik


bersama di bawah pohon akasia.


“Menurutmu bagaimana si Al, Jun?”


“Hahaha, tidak kuat dia, dia cemburu,” jawab Juna, terbahak


karena tidak mampu menahan tawanya.


"Kira-kira di bawa kemana Queen sama dia? Dan diapakan, ya?"


"Kita sudah sama-sama dewasa. masa tidak tahu, dia dah lama puasa kan?"


“Ehemb!”


Kedua anak muda itu langsung diam saat kakek Andrean


berdehem sambil menatap kearah merek berdua, mereka saling sikut-sikutan karena


takut kena marah. Memang kalau dipikir-pikir juga tidak sopan, dalam keadaan


yang seperti ini semua panik dan juga bingun saling bertanya-tanya ada apa dan


kenapa malah mereka cekikikan gak jelas seperti anak usia lima tahun yang belum


bisa mikir.


“Kakek Andrean melajukan kursinya ke arah Diaz dan juga


umiknya, mereka sepertinya tengah mendiskusikan sesuatu.


“Diaz, pakah selain umik dan Fatimah ada yang tahu tentang


Queen?”


“Tidak, Kakek.”


Andrean menghembuskan napas Panjang sebelum ia memulai berbicara.


Lalu kemudian, “Lihat di sana, seorang gadis muda dan  mengenakan kebaya yang sama pula dengan Queen.


Sama-sama mencintaimu. Dari pada acara ini gagal dan tak mendapatkan apa-apa


selain rasa malu, bagaimana jika kau bertunangan saja dengan Hanifah. Kasian


keluargamu yang sudah mempersiapkan semua ini dan jau-jauh datang dari Bandung


Diaz,” bujuk kakek Andrean.


Diaz diam tidak menjawab, ia menunduk dan melihat kearah


Hanifah yang memasang ekspresi bingun karena kemunculan Al yang tiba-tiba dan


membawa Queen tanpa sepatah katapun. Kemudian ia melihat ke arah umiknya,


seolah menanti sebuah jawaban atas tawaran yang diajukan kakek Andrean.


Belum sempat wanita paruh baya itu memberi jawaban, kakek


Andrean sudah kembali berbicara lagi, seolah sengaja membuat pikiran anak muda


yang ada di hadapannya itu terpengaruh, brgitupun wanita di sebelahnya, yang


telah menjadi orang tua tunggalnya.


“Di sini kedua orangtua Hanifah juga hadir, jika kau mau,


biarkan kakek yang akan menyampaikan pada mereka.” Pria tua itu terus mengamati


ekpresi Diaz yang menunjukan kalau ketentuan hatinya mulai goyah, mungkin juga

__ADS_1


teringat bagaimana Hanifah yang sangat rapuh dan mudah menangis meski


kelihatannya gadis itu sangat ceria.


“Apa kau tidak kasihan dengan keluarga dari mendiang abahmu


jika kau gagal tunangan hanya karena tiba-tiba Queen dibawa lari oleh Al?


Mereka pasti akan sangat kecewa. Terlebih, kau ini adalah public figure,” imbuh


kakek Andrean.


Umik Halimah mengangguk memberi persetujuan kepada Diaz,


Sementara Diaz, dengan berat hati akhirnya mengikuti saran kakek Andrean,


meskipun berat dan sangat sakit, akhirnya ia pun mengangguk juga.


‘Maafkan aku, Queen. Aku  tak bisa biarkan keluargaku kecewa,’ batin Diaz.


Sehingga malam ini berubah menjadi malam yang sangat bersejarah


bagi Hanifah, ia benar-benar bisa bertunangan dengan pria yang ia cintai.


Meskipun pria itu sangat terpaksa melakukannya, karena saat ini di hatinya


masih ada wanita lain, sementara Queen


Al membawa Queen ke sebuah tempat di mana ia mengurung diri


sebelumnya selama dua hari terakhir.


“Kak, kau ini kenapa sih? Katanya kau selalu ingin membuatku


bahagia, kenapa kau merusak pertunangannku, katanya kau berjanji akan selalu


ada disaat aku jatuh, tapi hari ini kau yang menjatuhkan diriku dalam kesedihan.


Kau ingkar.” Queen terus berteriak sambil menangis.


Al yang berdiri sedikit jauh dengannya juga nampak tidak


peduli, dia diam tak menjawab, berjalan mendekati lemari es melewati dirinya dan mengambil


sebuah botol yang berisi air mineral dan meminumnya. Setelah itu, matanya


menatap tajam kearah Queen dan berkata.


“Aku sayang sama kamu, dan bukannya selama ini aku selalu


ada buat kamu? Apakah keberadaanku di sampingmu itu masih kurang? Kau ini


prioritasku, Queen. Lalu kenapa kau masih harus menjalin hubungan dengan pria


lain seperti Diaz? Saat kau dalam bahaya siapa yang paling bertaruh nyawa untuk


menyelamatkanmu? Kalau aku tidak sayang sama kamu, buat apa aku lakukan itu?


Melindungimu, bahkan sampai membunuh seseorang, kau tahu kan kalau Aditya itu


di kenal publik sebagai orang baik? Tentu kau tahu bagaimana mereka menyerangku


sekalipun sudah ada klarifikasi dari pihak kepolisian. Para haters tetap saja


menyerangku, menganggap aku ini menyuap karena aku dikenal sebagai kakmu, putra


pertama  ayah ibumu, kurang apa aku ini


sehingga kau mendatangkan pria lain dalam hidupmu, hah?’’


Queen tertunduk tidak menjawab, air matanya masih deras


bercucuran, antara kecewa, sakit dan semua jadi satu.


“Jawab aku, Queen! Jangan diam saja,” bentak Al sambil


mencengkeram dagu wanita itu, mendongakkan wajahnya agar memandang dirinya.


“Kau ini kakakku… wajar kan jika aku memiliki hubungan


dengan pria lain dan menjadikan dia suamiku? Kamu juga sudah menikah dengan kak


Nay, di mana aku ada mengusik sekalipun hubungan kalian? Di mana?” Wanita itu


berkata sambil sesenggukan.


“Bisa apa dia memangnya, hah? Kemarin saja, jelas-jelas dia


tak pecus menjagamu. Jika bukan karena aku, kau pikier kau masih bisa berdiri


seperti ini? Cukup aku saja satu-satunya pria yang menjagamu, aku bisa


Queen.”


“Kau benar, kak. Kau seglanya bagiku. Tapi, aku juga punya


mimpi yang tak bisa diwujutkan oleh mu, kak. Dan ada pula sesuatu yang hanya


bisa dilakukan Diaz, tapi tidak denganmu. Biarkan aku hidup bahagia dan menikah


dengannya kak. Dan kau, berbahagialah dengan kak Nay.”


“Bilang sekali lagi!” ucap Al dengan emosi. Dengan amarah


yang meluap-luap Al kembali menarik lengan Queen dan mendorongnya ke sebuah


kamar sampai ia jatuh tersungkur di atas lantai.


Sedangkan Al langsung mengunci pintu dan melepaskan


kemejanya yang sudah tak terlihat bentuknya.


Wanita itu mulai berfikir buruk mengenai nasibnya di tangan


Al. ia mengesot ke belakang, seolah ingin pergi jauh dari jangkauan pria


di depannya yang telah membabi buta. Terlebih saat Al melepaskan ikat


pingganngya dan menyeringai kearah Queen.


“ Kau mau apa?’’


Al tersenyum miring, dan berjalan kian dekat dengan Queen,


“Kau pikir saja apa kira-kira? Kita ada di dalam satu kamar dan hanya berdua


saja.”


“Kak, kau ini kakakku, sadarlah aku adalah adikmu, kau tidak


akan berbuat apapun padaku kan?” ucap Queen, menjadi gentar, punggungnya sudah


menabrak tempat tidur sehingga ia tidak bisa mundur lagi.


“Coba, kita buktikan, bukannya kau barusan bilang kau


membutuhkan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Diaz sehingga kau sangat


ingin menikah dengannya, jika aku pun bisa, apakah kau akan meninggalkan dia


dan membuangnya jauh-jauh dari kehidupanmu?”


Al memegangi kedua bahu Queen dan matanya liar memandangi ke


seluruh lekuk tubuh wanita di depannya terlebih bagian dada, ia terlihat sangat


bernafsu dan buas.


“Kak, kau ini kenapa? Sadarlah, aku ini adikmu jangan


begini, ya?” lirih Queen dengan mata terpejam erat.


“Aku benci jika kau dekat pria mana pun, cukup satu aku saja


yang akan menjagamu, dan memberikanamu kebahagiaan,” Teriak Al sambil menarik


paksa kebaya yang dikenakan Queen hingga kancing-kancingnya  terlepas dan terbuka mengekspose tubuh bagian


depannya.


Wanita itu terbelalak kaget atas apa yang dilakukan oleh


pria yang selama ini dia anggap kakak, seolah-olah tidak percaya jika dia akan


melakukan hal itu terhadapnya. Tapi, kenapa dia harus sampai menanggalkan


kemeja, juga ikat pinggangnya? Lalu sekarang, dia bahkan menarik paksa


pakaiannya.


“Kak, aku mohon jangan lakukan ini, aku gak mau?” ucap Queen


terus memohon sambil menangis.


Sementara Al yang sudah  hilang akal sehatnya tak mau lagi dengarkan apa yang diucapkan Queen.


Tidak hanya baju, bahkan bawahan yang ia pakai dari kain batik yang hanya


dililitkan pun juga kini sudah terlepas dari tubuhnya akibat ulah Al.

__ADS_1


Queen meringkuh sambil menyilangkan kedua tangannya untuk


melindungi diri dan berusaha menutupi tubuh bagian depannya. Dengan cepat Al


mengankat tubuh yang hampir telanjang itu lalu dihempaskannnya di atas ranjang


dan lansung menindihnya.


Queen terus berteriak, menangis dan memohon agar Al tak


melakukan  hal yang ia takutkan, sebisa


dia ia meberontak, menampar, memukul bahkan mencakar pria yang berada di atas


tubuhnya itu. Hanya saja Al sudah tak peduli, ia sudah berada di puncak


nafsunya.


“Queen, tenang lah. Kau hanya menghabiskan  tenagamu saja. Tingkahmu yang penuh


penolakkan ini malah buatku bernafsu saja, seolah aku akan menyetubuhi perawan.


Padahal kau ini janda, bukan? Dan ya, aku ingat, kali pertama kau melakukannya


juga denganku, begitupun aku. Jadi aku mau kau yang terakhir bagiku, dan


begitupun sebaliknya.


Belum ada setengah jam Queen memberontak ia sudah kehabisan


tenaga, badannya terasa lemas, jeritan dan teriakan pun kini juga berubah


menjadi desahan, tak peduli, seberapa keras dan kasarnya perlakuan Al


terhadapnya. Tak hanya dibagian tubuh bagian bawahnya saja, mulai dari bibir,


telinga, leher juga seluruh dadanya rata dengan bekas merah kebiruan tanda kepemilikan yang Al


tinggalkan sampai pada akhirnya tubuh mereka pun menegang, mereka sama-sama


mencapai puncak, dan tubuh Al roboh di atas tubuhnya.


Pada pertengahan malam Queen terbangun, entah tadi itu dia


tertidur, karena lelah dan kehabisan tenaga, atau justru pingsan karena alasan


yang sama dan juga shock. Ia merasa tubuhnya sangat kaku, sakit dan susah


digerakkan, sedangkan bagian di bawah perutnya juga rasanya kram.


“Aduuuuh… Sakit selai.” Wanita itu meringis menahan nyeri


juga perih. Sedangkan di bagian pinggangnya, sepasang tangan kekar melingar memeluknya di sana. Ia juga merasakan hembusan napas teratur di belakang telinganya.


Sepertinya Al tidur pulas karena lelah akibat pergumulan mereka beberapa jam


tadi dan memeluknya erat dari belakang.


Queen tak mampu untuk pergi, badannya masih terasa lemas dan


lemah, ia hanya memeluk selimmut dan meringkuh sambil menangis. Ia merasa


hatinya sangat hancur sehancur-hancurnya. Ia teringat bagaimana sakitnya dia


saat terjatuh dari jurang saat dikejar-kejar Aditya, sepertinya luka itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ini. Kali ini ia baru sadar kalau sakit


yang sebenarnya itu justru tidak berdarah.


Al yang tidurnya pulas, terganggu oleh punggung yang


dipeluknya bergetar serta diiringi suara isakanan tangis yang sangat lirih. Ia


bisa mendengarkannya, sebab ia berada sangat dekat dengannya.


“Kau sudah bangun sayang? Menghadaplah kemari, aku ingin


menciumu,” ucap Al dengan nada serak, khas bangun tidur.


Tidak ada jawaban dari Queen, ia masih saja menangis


tersedu-sedu, dan berusaha tak mengeluarkan suara, tangannya kian erat meremas


selimut di depan dadanya untuk menutupi tubuh telanjangnya itu. Ia hampir tak


mempercayai ini, dan ia juga berharap yang dialaminya beberapa jam tadi adalah


sebuama mimpi buruk yang berlalau begitu saja setelah ia terjaga.


Dari belakan, Al menciumi tengkuk dan lehernya, ada sensasi


geli dan merinding saat kumis dan hembusan napas pria itu menyentuh kulit


tengkuk dan lehernya. Dan tangannya pun juga mulai bergerilya kemana-mana.


“Hentikan!” bentak Queen dengan suara yang lemah.


“Tubuh,mu itu seperti candu, sayang. Mana mungkin aku bisa?


Aku ingin mengulanginya sekali lagi, lagi, dan lagi denganmu. Aku sudah


buktikan, kan kalau aku bisa melakukan apa yang Diaz bisa? Tapi, dia belum


tentu bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan. Lupakan dia, sudah ada aku


dalam hidupmu, kau tak butuh siapapun. Aku bisa memberikan seglanya padamu.


Quen ingin berteriak sekencang-klencangnya mengeluarkan


semua beban dan luka hatinya, tapi ia sungguh benar-benar tidak bisa. Ia merasa


dunia sungguh-sungguh tidak adil. Pikirannya langsun tertuju dengan Diaz.


Bawa aku kembali, aku ingin menemui Diaz.”


Al mengankat kepalanya, lalu duduk dan meraih celana


pendeknya lalu mengenakannya sebelum ia mengambil benda pipih yang ada di dalam


mobil.


“Itu ide buruk sayang, lihatlah dirmu! Matamu sampai bengkak


karena terlalu lama menangis, dan terlebih, leher dan dadamu itu, bagaimana


caranya kau menjelaskannya kepada kekasihmu itu? Mungkin benar ia tahu dan bisa


menerimamu yang sudah berstatus janda. Tapi, coba  kau pikir lagi, apakah dia bisa terima jika


melihatmu berhubungan badan dengan pria lain diluar nikah, terlebih denganku?”


Mendengar hal itu, Queen merasa emosi, terlebih saat ia menunduk


mlihat ke dadanya, banyak sekali bekas merah kebiruan akibat ulah Al. Ia pun


menggulung selimut pada tubunya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki,


bangkit dan mencekik Al sambil berteriak, “Aku benci kau, kau ini bukan


manusia, kau binatang, Al aku tidak sudi punya kakak sepertimu lagi, kau pantas


mati."


Dengan sangat mudah, Al melepaskan kedua pasang tangan mulus


itu dari lehernya, ia menariknya kedepan sehingga posisinya seperti orang yang


tengah berpelukan. “Aku juga tidak mau jadi kakakmu. Tapi, yang kumau aku jadi


suamimu saja, dan jangan membunuhku, apa yang kau katakana pada anak kita kelak


jika dia memananyakan aku? Hah?” bisik Al.


“Tidak! Aku tidak mau mengandung apalagi melahirkan anak


darimu. Jika kau tak ingin mati, biarkan aku saja yang mati!” Queen melepaskan


diri hendak berlari mencari benda apapun yang kira-kira bisa melukai dirnya


sendiri. Tapi, Al tidaka akan pernah biarkan itu, Justru dengan cepat ia


menarik tangannya dan menggenggam erat pergelanganya dan menahannya, melakukan


lagi hal yang baru saja dilakukannya. Pemberontakan dan amarh yang Queen


lakukan baginya sangat menggairaahkan, ia sampai-sampai bernapsu dan lupa


segalanya. Tak ingat apapun selain memuaskan dirinyaa, terlebih, dia juga sudah


lama tidak melakukannya dengan Nayla.


“Kau tenanglah sayang, kali ini akun akan memperlakukanmu


dengan lembut, lihatlah leher dan punggungku, penuh dengan luka cakaranmu,


sepertinya kau benar-benar bernafsu tadi,” ucap Al sambil mencengkeram keras kedua


pergelangan tangan Queen dan ia pun mulai memasuki diri wanita yang masih polos


tanpa selembar benangpun di bawahnya.

__ADS_1


__ADS_2