Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 144


__ADS_3

Alex terbangun di pagi hari saat sinar mentari yang menyilaukan menembus gorden kamarnya. Dilihatnya tempat tidur di sebelahnya, kosong. Tak ada seorangpun selain dirinya. Bahkan tanda-tanda kalau Helena pulang tidak ada.


Tempat itu masih rapi, dan baju tidur yang biasa Helena kenakan juga masih tergantung rapi di balik pintu.


"Ke mana saja dia semalam bahkan sampai sepagai ini tidak pulang  mengirim kabar pun juga tidak," batinnya.


Alex pun bangun dan keluar kamar setelah mencuci muka, ia menemui bibi dan menanyakan apakah ada telepon dari Helena semalam, barangkali karena ponselnya tak aktif Helena memberi kabar melalui telfon rumah saat ia sudah tidur.


Namun, Bihi pengurus rumah menjawab kalau tidak ada telepon dari siapapun termasuk Helena.


Karena khawatir terjadi sesuatu pada istri mudanya Alex berusaha menelpon nomor helena.


Berkali-kali ia mencoba tetapnsaja hasilnya sama. Panggilan tidak tersambung nomor yang dihubunginya tidak aktif.


'Ada apa dengannya? Di mana dia sekarang? kenapa tidak mengabari sama sekali. Bahkan nomornya pun juga tidak aktif,' batin Alex


Sempat ia berfikir, kalau Helena pulang ke rumah orang tuanya tapi sepertinya itu mustahil. Sebab, semenjak pernikahan itu kedua orang tua Helena tidak lagi menganggapnya sebagai anak meskipun dia putri satu-satunya yang dimiliki oleh orang tuanya tapi rasa malu terhadap keluarga Quen mengalahkan segalanya.


Alex mulai jenuh, ia pun merasa bosan dan mencoba mencari pengalihan pergi ke gym tempat dia biasa nge-gym. Tapi, bukan gym yang di hadiahkan Al untuknya dulu, ia sudah melupakan semua yang berkaitan dengan pernikahan antara dirinya dan Quen.


Alex bergegas pergi setelah sarapan ia menyangklong tasnya dan bersiap masuk mobil. Tapi, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal membuatnya urung.


Alex biasanya paling malas menerima panggilan dari nomor tak dikenal. Hanya saja entah, kenapa seolah hatinya meminta untuk menjawabnya.


"Halo, siapa, nih?" jawab Alex.


"Halo, Lek ini aku. Aku ada di rumah sakit sekarang," sahut wanita dari seberang itu.


Meski wanita itu tidak menyebutkan namanya,  Alex sangat mengenali suara itu.


"Helena, apakah itu kamu, Helen?"


"Iya, Lex. Maaf, semalam aku mengalami kecelakaan. Hp ku juga hilang, jadi tidak sempat menghubungimu. Kamu save nomor baruku ya, Lex?" jawab Helena.


Dia asal mengarang cerita saja, sebenarnya tidak terjadi kecelakaan apapun selain pertengkaran dengan Adit di kamar hotel semalam.


"Bagaimana kondisimu sekarang, Helena? Di rumah sakit mana aku akan segera ke sana," ucap Alex dengan panik.


Tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar tiga puluh menit saja Alex udah tiba di rumah sakit Bhayangkara, tempat  di mana Helena di dirawat.


Helena sengaja memilih rumah sakit itu karena, selain fasilitasnya lengkap, Aditya juga tidak bertugas di rumah sakit tersebut.


Hanya saja Helena tidak tahu, kalau kedua orang tuanya Queen dirawat di sana. Bahkan mantan madunya itu pun juga menjadi dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut. Jadi, ada kemungkinan Queen akan mengetahui apa yang terjadi pada Helena meskipun bukan kejadian yang sebenarnya.


Alex bergeming di ambang pintu saat melihat kondisi Helena. Perban yang membalut 70% dari tubuhnya menunjukkan bahwa wanita itu tidak sedang baik-baik saja.


Khawatir dan cemas terhadap kandungan Helena terlihat jelas dari raut wajah pria itu. Mungkin karena ia tidak tahu kalau yang ada dalam rahim Helena bukanlah janin miliknya, melainkan hasil hubungan gelap antara istri dan kakak iparnya, Aditya.


"Helena, bagaimana bisa sampai seperti ini bagaimana dengan kondisi anak kita? Apakah dia baik-baik saja? Maaf aku tidak tahu," ucap Alex merasa bersalah.


Helena menyentuh pipi pria yang tengah berdiri di sampingnya sambil tersenyum.


"Kamu tenang ya, jangan nyalahin diri sendiri begitu. Aku baik-baik saja kok dan soal janin kita dia baik-baik saja dia kan selamat sama sepertiku,"ucap helena menenangkan hati Alex.

__ADS_1


Tiada henti nya Alex menyalahkan dirinya sendiri. Diraihnya tangan Helena yang penuh dengan luka diciumya berkali-kali sambil berkata, "Andai semalam aku mengantarkan mu. Pasti hal ini tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi, aku juga akan sakit bersamamu. tidak hanya kau yang akan menanggung luka dan sakit ini sendirian. Maafkan aku, Helena. maafkan aku. aku belum bisa menjadi suami yang baik," ucap Alex sepenuh penyesalan.


Tepat pukul 09.00 pagi waktunya dokter jaga mengecek setiap pasien termasuk Helena. Tapi, siapa sangka yang datang mengecek adalah dokter Queen. Ia pun juga nampak terkejut melihat apa yang terjadi pada Helena. Wanita itu bertanya berkata pasien perempuan yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidurnya itu.


"Apa yang terjadi? Bagaimana kok bisa sampai seperti ini? Apakah kau mengalami kecelakaan? Lalu, apakah kondisi janinmu baik-baik saja? Kapan kau masuk ke rumah sakit ini? Aku baru saja tiba, dan bahkan tidak tahu kalau pasien di kamar ini adalah kamu Helena," ucap Queen tanpa henti.


Melihat ketulusan yang diekspresikan oleh Queen, Helena merasa menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepada wanita itu. ia bahkan juga merasa malu keburukan yang dia lakukan pada sosok sebaik Queen. Mungkin balasan atau karma yang dia terima. Sebab, ini tidak akan pernah terjadi andai dia tidak merusak hubungan antara Quen dan Alex.


Tapi nasi telah menjadi bubur. Menyesal pun juga tak ada gunanya. Ditambah lagi kedua orangtua Helena tak lagi menganggapnya anak lagi. Lengkap sudah penderitaan yang iantanggung.


Ingin rasanya Helena meminta maaf saat itu juga. Tapi, karena ada Alex ia pun mengurungkannya. Dia siap membongkar kebusukkan dirinya sendiri bersama Aditya yang tengah bekerja sama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan masingmasing di depan Queen.


Hanya saja, Helena belum siap kalau Alex mengetahui ini dulu.


Quen boleh membencinya, memaki atau bahkan melukainya lagi agar ia cacat seumur hidup juga tak peduli, tapi, dia tidak ingin Alex membencinya. Sebab ia merasa hanya lelaki itu saja yang dia miliki saat ini..


"Aku tidak apa-apa Queen. aku hanya jatuh saja dan ini pun luka ringan mungkin hanya perlu beberapa hari dirawat. Kau bertugas di sini bagaimana aku juga tidak bisa tahu kalau kau ada di sini?" ucap Helena basa-basi walau sebenarnya iya malu setengah mati. Kalau boleh jujur dia juga sebenarnya tidak ingin Quen tahu. Tapi, karena sudah kepalang basah. Mau apa lagi? Kaburpun juga tak mungkin.


"Iya aku bertugas di sini semenjak peresmian menjadi dokter. Selain itu papa mamaku juga dirawat di sini semenjak kecelakaan itu. Hanya saja, kapan mereka sadar aku juga belum tahu kepan. Aku ingin mereka melihat kalau aku sudah sukses menjadi dokter hanya dengan satu setengah tahun menempuh pendidikan profesi," ucapnya sambil tertunduk menutupi kesedihannya.


Alex terpaku mendapati mantan istrinya juga ada di sini. ia tidak mampu berkata apapun selain membeku di tempatnya.


"Kamu yang sabar ya, Queen. keajaiban itu pasti akan datang. Kelak jika sudah waktunya, mereka akan sadar dan pasti bangga pada putrinya yang sukses menjadi dokter dan merangkap sebagai wanita karir ini," ucap Helena, benar-benar tulus dari hati.


Queen tersenyum tipis lalu mulai memasang stetoskop di telinganya dan mulai memeriksa Helena dan memberikan inject pada lubang infus


Usai memeriksa dan memberikan obat serta menulis laporan, ia sempatkan mengobrol sedikit dengan Helena.


"Kau kecelakaan di mana? bagaimana kronologinya bahkan aku tidak mendengar berita apapun," tanya Queen.


Jantung Helena mulai berdegup kencang tak beraturan kegugupan nampak jelas terlukis di wajahnya.


"Bagaimana aku bisa seenaknya sendiri mengarang cerita tanpa mempersiapkan segalanya dengan matang?" umpat Helena dalam hati.


Benar juga kata Quen jika ia berkata tidak mendengar berita apapun. Secara jaman di era serba sosmed seperti ini apapun mudah sekali menjadi berita viral, sekalipun itu berita yang unfaedah atau tak berbobot.


"Semalam aku ada urusan tentang konten dan tandatangan kontrak suntuk jadi bintang endors salah satu produk fashion. Dan karena kemalaman aku berniat pulang ke rumah ortu, karena dekat. Tapi, karena aku ngantuk berat aku menabrak pagar rumahku sendiri. Yang harusnya aku menginjak rem, malah gas yang ku injak jenjang ya, jadi seperti ini," jawab Helena dengan sedikit tergagap.


Quen hanya diam ia tidak menunjuka ekspresi kalau ia merasa curiga atau tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Helana.


"Lain kali kamu hati-hati, ya? Untung kaubdan bayimu selamat, jika tidak? Oh, astaghfirullah... Jangan sampai." Quen mengelus dadanya sendiri.


"ya sudah Helena. Semoga kau cepat sembuh, ya aku mau periksa pasien yang lain," pamit Queen lalu keluar dan diikuti oleh wanita muda berseragam perawat di belakangnya.


Setelah Queen dan perawat itu pergi meninggalkan kamar inap Helena, barulah Alex kembali duduk di dekat Helena sambil memegangi tangannya. Dia bertanya kau ingin makan ata minum sesuatu, tidak? Biar aku belikan di luar jika kau bosan dengan hidangan rumah sakit," tawar Alex penuh perhatian.


Helena diam tidak menjawab selain menatapndalam mata Alex. Sudah satu bulan semenjak perceraian antara dia dan Queen, Alex memang bersikap dingin padanya.


Ini pertama kali bagi pria itu kembali memperhatikan Helena seperti dulu, saat ia baru saja tersadar dari kecelakaan yang memang sudah direncanakan olehnya dan Aditya.


Beruntung, Helena segera tersadar. Tidak terlalu lama terlena oleh perhatian Alex yang memang ia rindukan akhir-akhir ini. Dia harus mencari cara agar Alex meninggalkan kamar. Supaya dia dapat menghubungi orang untuk membantunya menutupi kejadian semalam, dan juga kebohongannya tidak diketahui.


"Emmm, aku pengen apa, ya?" ucap Helena sambil berfikir.

__ADS_1


Wanita itu bukan berfikir tentang apa yang ingin dia makan, melainkan apa kiranya yang bisa membuat Alex bisa pergi lama dan mengantri sendiri.


"Lex, entah ini aku atau anak kita yang mau, aku tiba-tiba saja ingin makan bubur ayam buatanmy sendiri," ucap Helena dengan manja.


"Apa? Lalu bagaimana dengan kamu di sini? Oh, aku hubungi kak Novi saja, ya biar menemanimu di sini?" jawab Alex bersiap mengeluarkan ponselnya.


"Alex, jangan!" cegah Helena dengan cepat.


Alex menatap ke arah Helena dan bertanya, "Kenapa?"


"Kamu tahu, kan kalau dia sangat membenciku? Cukup kamu dan Quen saja yang tahu soal ini, aku tidak mau mereka semua menertawai ku, plis, Lex, jangan, ya? Kau bisa pergi meninggalkan aku sendiri aku gak apa-apa dari pada kondisiku diketahui orang lain," ucap Helena sambil menangis.


Wanita itu memang benar menangis ketakutan. Tapi, bukan takut ditertawai, hanya saja dia takut kalau keberadaanya diketahui oleh Aditya yang tengah mengincar nyawanya dan bayi yang ada dalam kandungannya.


"Dan aku mohon sama kamu, bilang sama Queen untuk tidak mengatakan hal ini pada keluargamu atau siapapun, sebab dia sangat dekat kan dengan ortu juga kakakmu?"


Alex mengangguk patuh. Ia mengeluarkan ponselnya menelpon ke rumah mengabari bibi untuk menyiapkan bahan bahan dan alat untuk membuat bubur ayam, agar dia bisa langsung memasaknya saat tiba nanti, dan tidak terlalu lama meninggalkan Helena di rumah sakit sendirian.


"Baik, aku pergi dulu menemui Queen lalu pulang ke rumah. Jaga diri baik-baik, ya," ucap Alex ambil mengelus kening Helena dan mengecup nya dengan lembut.


Helena bernapas lega setelah Alex meninggalkan ruangan itu. Sekitar lima menit ia memastikan pria itu benar-benar pergi dan tidak kembali lagi ke kamarnya.


Dengan segera Helena mengambil gawainya untuk menelfon ke rumahny. Ia harus dengan cepat menyusun sesutau yang baru untuk menutupi kebohongannya kepada Quen terlbwih dahulu.


Helena meminta bibi untuk mencarikan seorang yang mau dibayar untuk menabrakan mobil yang dipakainya semalam pada pagar rumahnya sampai parah, kiranya pengemudi bisa terluka separah dia..tak peduli itu rekayasa atau apa, yang jelas harus dibuat senatural mungkin.


Bahkan Helena juga akan memberi persenan pada bibi yang mau membantunya. Setelah si bibi menyetujui dan duapuluh menit setelahnya sudah memberi kabar kalau ada yang mau dibayar, barulah Helena merasa lega dan bisa tidur nyenyak kali ini.


Sekitar 10 menit Alex berusaha mencari Queen akhirnya ia bertemu juga saat ia dan suster yang sama hendak masuk ke dalam ruangannya.


"Quen!" panggil Alex menghentikan langkah dua wanita itu sekaligus.


"Ada apa, Lex?" tanya Queen santai dan rilex.


"Aku minta sama kamu rahasiakan keadaan Helena, dia minta agar siapapun tidak tahu, terlebih keluargaku, aku mohon, ya?"


Queen mengangguk pelan sambil tersenyum, "Ok, aku tidak akan mengatakan apapun pada mereka mengenai Helena."


"Baik, terimakasih," ucap Alex lalu pargi meninggalkan tempat itu.


Queen menatap punggung Alex sampai lenyap dari pandangannya. Ia teringat bagaimana saat terakhir kali sebelum perceraian dia memeluk dan menciumnya.


Tapi, dengan segera ia tersadar bahwa dia masih memiliki kakak yang baik serta Diaz yang mungkin akan jadi teman hidupnya kelak.


Tiba di ruangan dokter, Queen bertanya kepada suster yang mencatat hasil pemeriksaan pada pasien bersamanya.


"Apakah kau yakin pasien yang tadi itu adalah korban kecelakaan?" ucapnya sambil sibuk meneliti hasil laporan.


"Sepertinya, sih tidak Dok. saya lebih mengira kalau itu adalah hasil penganiayaan," ucap suster itu dengan polos.


"Oke bahkan kau sangat cerdas memprediksi sesuatu," puji Queen sambil tersenyum.


"Lalu apakah pelakunya suaminya atau sejenis kdrt yang dialami wanita itu, Dok?" tanya suster itu penasaran.

__ADS_1


Queen menjawab dengan menggelengkan kepala dan berkata, "Bukan, aku juga tidak tahu siapa pelakunya yang jelas suaminya adalah sosok pria yang baik dan lembut penuh kasih sayang terhadap pasangannya. Dia juga pria yang sangat setia," ucapkan dengan yakin.


Suster itu ingin bertanya lebih dalam bagaimana kok bisa mengetahuinya tapi diurungkan karena melihat perubahan pada ekspresi dr.Queen tak lagi seperti semula. Ketenangannya seolah hilang tergantikan dengan rasa gundah dan tak nyaman. Meskipun suster itu tidak tahu apa hubungannya denga dia. Tapi, yang dia lihat adalah mereka kenal baik, itu saja tidak lebih.


__ADS_2