
Maaf sayang sudah membuatmu menunggu lama, bagaimana mereka bisa ada di sini?" tanya Diaz dengan lagak sok tenang meskipun sebenarnya hatinya terasa panas karena api cemburu.
Quen hanya menunduk, seolah ia sedang berada di depan kobaran api, wajanya mungkin saat ini nampak memerah, tapi, yang dirasakan wanita itu hanyalah panas. Bingung malu dan entahlah. Ia menoleh ke arah Gea yang juga nampak bingung dengan ekspresi kecut seraya menggigit kuku jari tangannya.
"Kalian di sini saja dulu, ya? Aku temui Gea dulu." Queen pun segera beranjak dan meninggalkan mereka bertiga dan saling perang dingin.
"Gimana sih, Ge? Kamu Kok nggak bilang kalau ke sini sama Dias?" protes Queen pada Gea sambil menjambak rambutnya sendiri.
Gea juga nampak kebingungan, awalnya ia ingin memberi kejutan pada sahabatnya. Tapi yang ada malah dia yang dibikin terkejut oleh sahabatnya sendiri.
"Terus ngapain kamu ngajakin mereka berdua ke sini? Kau sudah gila apa ngajakin mantan pacar yang gagal nikah sama mantan suami? Atau jangan-jangan malah gagal move on? bisik Gea.
"Mana aku tahu, Ge. Aku tadi ke sini sendirian tahu-tahu Aditya nyamperin, terus nggak lama kemudian Alex. Aku berusaha santai aja, kupikir setelah kamu datang kita akan ada alasan pergi ninggalin mereka, eh. Gak tahunya kau justru bersama Diaz."
"Diaz emang sengaja diam-diam kemari mau ajak kamu jalan, kataknya hari ini kamu free dan gak bantuin kakakmu ke kantor. Jadi dia bela-belain ambil libur demi tuan putrinya," ucap Gea yang juga merasa bersalah.
Quen masih diam di tempatnya sambil memegangi kepalanya, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia coba menoleh ke arah tiga pria itu melihat apa yang terjadi. Lalu kembali menunduk dengan kedua tangan menopang dahinya.
Gea memperhatikan sahabatnya lalu ke arah tiga pria yang tengah mengobrol di sebarang sana. Lalu duduk di depan Quen dan berkata, "Kamu serius gak sebenarnya sama Diaz? Aku yakin Koja dengan dr.Aditya kau memang dari awal tak ada rasa. Kau hanya menjalani hidup dengan yang serius. Tapi dari dulu hatimu memang pada Alex. Kau masih sayang kah sama Alex?"
Quen lagi-lagi diam tak menjawab. Memang dalam hatinya masih ada Alex, tapi, begitu melihat pengorbanan dan ketulusan Diaz selama ini, ia tidak tega meninggalkan pria itu. Tapi, hatinya mendadak hambar pada Diaz setelah ia bertemu dengan Alex.
"Gak, aku serius, kok sama Diaz," jawab Queen masih dengan kepala tertunduk.
"Ok, kalau gitu ambil Diaz dari sana dan ajak dia pergi. Dia tadi satu mobil denganku, jadi, kalian berdua barengan saja, gimana?" usul Gea.
Sebenarnya Gea tidak hanya sekedar memberi usul. Tapi, ia juga ingin melihat kesungguhan hati sahabatnya saja bagaimana terhadap pria yang selalu ada untuknya saat ia dalam masalah bersama Alex dulu.
"Queen, ayo kamu ke sanalah dan ajak Diaz pergi bersamamu!"
Quen masih enggan menjawab dan beranjak dari tempatnya selain Sanya diam menunduk.
"Quen, kau ini serius gak sama Diaz sebenarnya? Kalau memang di hati kamu cuma ada Alex, ya sudah jangan kasih dia harapan. Lepaskan saja dia! Toh Alex sepertinya dia juga ingin kembali bersamamu meskipun belum mendapatkan kembali ingatannya tapi hati Queen tidak dapat bohong dan dibohongi."
__ADS_1
"Baik, aku akan ke tempat Diaz sekarang juga. Setelah ini kita mau ke mana?" tanya Quen nserius.
"Sekarang evakuasi kan dulu saja pangeran kodok kamu itu, kasian aku dilihatin oleh dua srigala di sana."
"Adit doang yang srigala, Ge!"
"Oh, iya sori tuan putri," ucap Gea sambil terkikik.
Tanpa ragu-ragu pun Quen berjalan ke kembali menghampiri tiga pria itu dan berdiri di samping Diaz seraya memegang pundaknya.
"Kalian bertiga akrab banget, ngobrolin apa?" tanya Quen berlagak santai, tapi eskpresi nya yg seperti orang bego tidak dapat disembunyikan.
Tak ada jawaban dari mereka satupun. Bahkan Quen juga masih bergeming di sana. Ia merasa kian grogi saat Gea berdehem berkali-kali memberi isyarat padanya.
"Ya sudah ya, sebenernya aku tadi di sini menunggu Diaz datang. Kami mau jalan. Kalian berdua lanjutkan saja mengobrolnya," ucap Quen pada Adit dan Alex. Sementara wanita itu menarik lengan Diaz dan mengandengnya pergi dari cafe.
Setelah Quen dan Diaz pergi, Alex dan Aditya saling melempar senyum. Tapi, bukan senyum perdamaian. Lebih tepatnya keduanya saling menyeringai satu sama lain.
"Heh, apa kau bilang?" Alex hanya tersenyum kecil sambil seditik memalingkan wajahnya. Lalu, sesaat kemudian menatap tajam lagi ke arah pria di hadapannya. "Bukankah kau yang membuat aku membenci Quen tanpa sebab? Aku heran sama kamu, sudah punya istri di rumah masih ngarep istri orang sampai membuatnya bercerai. Tapi, masih doyan dengan wanita lain. Apa kau ini mengalami kelainan sexual, ya?"
"Kurasa kau sangat menginginkan mantan istrimu itu."
"Tapi, dia tidak akan jadi mantan istriku kalau bukan karena ulah mu dan Helena, kan?"
"Kita lihat saja nanti, apakah dia mau kembali padamu dan menerima apapun alasannya? Dia sudah bersama pria lain.
"Tidak peduli, aku pasti akan mendapatkannya. Dia sudah mengenal diriku lebih dalam dan pernah hampir satu tahun membina rumah tangga denganku. Sekalipun ia tetap memilih Diaz ngapain? Aku sudah bahkan sudah lupa brapa kali berhubungan badan dengannya. Sementara kau? Mau memperkosa saja juga digagalkan oleh kak Al, kan? Kini, giliran Alex yang menyertakan Aditya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Aditya seorang diri.
"Kau meremehkan ku, ya? Ok tidak masalah. Aku pasti akan bisa mencapai keinginanku," umpat Adit dalam hati. Lalu, ia pun ikut meninggalkan area cafe pula.
Aditya mengumpat kesal, berkali-kali dibantingnya setir mobilnya.
Akhirnya Aditya pun memutuskan untuk kembali ke kampus, lagi pula, ia berangkat juga lebih awal, ini tidak akan terlambat baginya nanti.
__ADS_1
Sementara Alex, ia memilih mengikuti Quen dan Diaz. Pria itu ingin melihat seberapa seriusnya Diaz dengan Quen, dan apakah wanita yang dulu pernah menjadi istrinya itu benar-benar serius menerima pria lain?
Ah, rupanya Alex masih belum bisa terima kalau Quen bersama pria lain. Hatinya masih menggunakan kalau wanita itu sebenarnya masih mencintainya dan dia masih ada di hatinya.
🍁🍁🍁🍁
Selama dalam perjalanan, Quen hanya menatap ke arah jendela. Sedikitpun ia tidak menoleh ke arah Diaz yang tengah mengemudikan mobilnya.
"Maafin aku ya kalau aku datang mendadak dan tanpa kasih kamu kabar terlebih dahulu." Diaz menoleh sebentar ke arah Quen, lalu kembali fokus ke depan.
"Gak, kok. Aku yang malah merasa tidak enak sama kamu. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa mereka secara bersamaan... "
Belum sempat Queen menyelesaikan kalimatnya,Diaz lebih dulu meletakan telunjuknya di depan bibir Quen. "Kau percaya tidak, cinta itu akan mengerti tanpa dijelaskan. Mendengar tanda berbicara. Sudahlah. Aku sudah tahu, kau juga terkejut saat mereka tiba-tiba muncul, kan? Ini bukan salah mu," ucap Diaz dengan suara lembutnya. Memang lemah lembut dan penuh kasih sayang adalah ciri khas dokter yang satu ini. Selain disukai banyak pasien, Hanifah juga sangat tergila-gila padanya. Bahkan Quen, asal tidak habis bertemu Alex, ia akan merasa nyaman dengannya. Tapi, jika mendadak Alex muncul dengan sejuta pesona dan perhatiannya, ia juga hampir gagal move on. Tapi, apa daya dia terlanjur mengambil keputusan jadi, ia harus melakukan apapun itu sekalipun hatinya hancur.
"Terimakasih, Diaz," ucap Quen terharu sampai air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.
"Jangan nangis gitu. Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi, aku yakin kau mampu melewati semua ini." Diaz mengulurkan tangannya menyentuh pipi Quen lalu menghapus air matanya dan kembali fokus dengan kemudinya.
Queen tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Tapi, jauh di dalam hatinya terasa hancur.
🍁🍁🍁
Al menggeliatkan tubuhnya dia atas kasur, ia tidak tahu ini pukul berapa. Bahkan mungkin dia juga tidak akan terjaga kalau ponselnya tidak berdering berkali-kali.
Dengan mata yang masih terpejam, ia meraba-raba kasur sebelahnya demi benda pipih yang menimbulkan suara bising yang di mana tepatnya pun bahkan dia tidak tahu.
Selang beberapa saat, ia benda itu pun kini ada dalam genggamannya. Tanpa melihat siapa penelfonnya, begitu saja diangkatnya.
"Halo," jawabnya dengan suara serak.
"Hello Mr. Al. Today we will be coming from abroad. They will build jets. from the kit company, anyway ..... "(Halo Tuan, Al. Hari ini kita akan kedatangan tamu dari luar negeri.mereka akan membeli pesawat jet di perusahaan kita, apakah....
"Never mind, just take care of yourself. I need rest," (Sudahlah, urusin saja sendiri, aku baru tiba ini. Aku butuh istirahat,) jawab Al dengan malaslalu kembali memejamkan matan lagi, dan baru pukul sebelas siang, ia baru bangun, saat mendengar suara berisik dari ruang keluarga.
__ADS_1