Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 39


__ADS_3

Kemarin saya janji, kan kalau Quen bakal kasih kalian kejutan, bukan kalian. Tapi Al, hanya saja pasti kalian juga terkejut dengan tingkahnya yang entahlah😂


Sudah tiga hari ini rumah keluarga Andrean disibukan dengan persiapan pesta ulang tahun Al yang keduapuluh tujuh.


Semua berkumpul di hari H. Pesta dilakukan selepas Magrib. Namun, selama tiga hari pula Quen tidak nampak batang hidungnya sama sekali, nomornya pun tidak bisa dihubungi, berkali-kali Al mengeceknya ke apartemen, gadis berambut pirang itu juga tidak ada.


Bahkan sampai lewat hampir pertengahan pesta berjalan, Quen benar-benar tidak ada.


Saat MC mengumumkam acara dansa dan lampu dimatikan, Al yang tak punya pasangan hanya duduk di pojok ruangan pesta. Ia mengamati pasangan muda mudi yang berdansa dan mendengarkan instrumen lagu melo.


"Maaf, aku terlambat." Seorang gadis berpakaian sexy dengan mini dress berwarna maroon seatas lutut dan memaerkan pundak mulusnya membuat lehernya semakin terlihat jennang dan indah, berdiri memberikan senyuman ternaiknha kepada Al.


Al masih bengong, tidak percaya denhan apa yang dilihatnya. "Aku cuma minum beberapa gelas saja. tidak mungkin sudah mabuk, kan?" batin Al.


"Maukah kau berdansa denganku?" Gadis itu mengulurkan tangan kanannya.


Tanpa berfikir panjang Al pun berdiri dan menyambut tangan gadis itu, membawanya ke tempat di mana orang-orang berdansa.


Tanpa rasa canggung gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Al, ditempelkannya wajahnya di dada bidang pria itu.


Begitupun Al. Dia memeluk erat gadis itu dan terhanyut dalam irama yang mello sambil keduanya mengobrol.


"Maaf, aku lupa tidak membawakan kado untukmu," ucap gadis itu lagi.


"Apakah kah sudah menyiapkannya untukku?" tanya Al penasaran.


"Tentu saja sudah. Tapi, aku akan memberikannya nanti, tidak sekarang."


"Bagaimana kalau aku mau sekarang?"


"Bubarkan pestanya, dan ikut pergi ke tempatku," jawab gadis itu


"Apakah kau meninggalkannya di apartemenmu?" Tebak Al.


"Aku cuma bisa memberikannya di sana," ucap gadis itu sambil ternyum penuh arti.

__ADS_1


"kemana saja kau selama ini?"


"Aku? Tentu saja aku juga punya rencana sendiri untuk merayakan ulang tahunmu kali ini." Gadis


"Apa sih yang mau kau berikan padaku kali ini?"


"Kira-kira apa yang pas untuk pria tua yang masih jomblo sepertimu?" Gadis itu mulai tertawa.


Al nampak berfikir, kira-kira apa yang akan diberikan Quen kali ini. Kedengarannya sedikit berneda.


"Kau tidak perlu kembali ke apartemen, tinggalah di rumah malam ini," ucap Al.


"Tidak, besok aku ada kelas di pagi hari. Dan tugasku belum terselesaikan, Kakak mau kan antar aku pulang sekarang?" Quen memohon sambil mengucek kedua matanya.


"Jadi kau tadi mengerjakan tugas kuliah dulu, lalu kemari?" tanya Al, penuh perhatian.


Quen menjawab dengan anggukan.


"Antarkan aku, aku sudah sangat mengantuk," ucap gadis itu lagi.


Sampi di kamar, Al memasangkan selimut pada adiknya dan mencium keningnya. Tapi, Quen malah melingkarkan kedua lengannya di leher Al dan terus menggodanya. Awalnya Al masih bisa mengendalikan diri, tapi, semakin lama godaan Quen semakin membuatnya gila dan lupa diri, hingga terjadilah sesuatu yang tak.pernah ia bayangkan sedikitpun selama ini.


"Selamat ulang tahun, Kak. Aku sudah berikan hadiahnya, jangan tanyakan lagi padaku, ya?" ucap Quen sebelum ia memejamkan matanya untuk tidur dalam pelukan Al.


Al sadar ini salah, dia menyesal tapi, itu tidak akan berguna dan tak akan mengembalikan segalanya. Dilihatnya Quen yang lelap tertidur, ia merasa bersalah melihat wajah itu.


Sinar matahari yang terik menusuk netra Al membuat ia terbangun. Tapi, dia tidur sendirian, sementara Quen tidak ada, dilihatnya jam weker di atas nakas sudah menunjukan pukul sembilan pagi, Artinya Quen sudah berangkat ke kampus.


Pria itu melepaskan slimut yang membalut tubuhnya, berniat untuk mandi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan bercak darah di atas sprei, "Jadi, benar dugaanku semalam, Quen benar-benar masih prawan dan dia malah memberikannya padaku. Apa-apaan gadis itu?" umpatnya seorang diri.


Al yang mulanya ingin segera pulang dan meminta maaf pada keluarganya, termasuk momynya yang jauh-jauh datang untuk ulang tahunnya malah menghilang entah kemana. Ia terpaksa menunggu adiknya pulang agar dia tahu apa alasannya biar semuanya jelas.


Al melangkahkan kakinya kesana kemari tiada henti, sibuk menanti dan dengan pikirannya sendiri.


"Apa jangan-jangan Quen suka sama aku, ya? Tapi yang dia tunjukan selama ini tidak lebih dari seorang adik untuk kakaknya, beda perlakuannya antara padaku dan pada Alex, dari tatapan matanya sqja sudah terlihat."

__ADS_1


Sekitar pukul sebelas siang Quen sudah tiba di rumah apartemennya. Di dapatinya Al yang berdiri di depan jendela dengan tatapan lurus. Pasti pikiran pria itu sedang tak keruan karena kejadian semalam.


"Kakak, belum kembali ke rumah?" sapa Quen.


Dengan cepat Al membalikan tubuhnya, melihat gadis yang dianggapnya adik kandung memberikan harta paling berharganya semalam. Apa yang harus ia lakukan dan katakan oada Quen Al bingung.


Tetingat bagaimana semalam Quen menarik dasinya melepaskan dan menggunakannya untuk menutup kedua matanya dan... Ah, bisa benar-benar gila Al nanti jika mengingatnya. Apalagi ini yang pertama baginya, tapi, kenapa harus adik sendiri? Sekalipun itu tidak sedarah.


Tiba-tiba Al berjongkok di depan Quen ia menunduk tak mampu menatap gadis yang masa kecilnya dia sayang dan di gendong kemanapun saat pergi.


"Maafkan kakak, Quen. Kakak tak mampu kontrol diri hingga hilang lepas kendali, kau boleh menamparku atau membenciku seumud hidupmu, aku telah jadi kakak yang gagal. Bukannya menjaga tapi malah merusakmu."


"Kaka, apa-apaan kau ini?" Quen pun ikut jongkok di depan kakaknya.


"Kakek Andreas memintaku untuk menjagamu, tapi akulah yang malah... "


"Aku yang memberikan untuk ulang tahunmu yang keduapuluh tujuh, bagaimana? Setelah kau tahu rasanya yakin mau terus jomblo? Buruan nikah, gih. Keburu tua." Hibur Quen sambil tertawa kecil melihat kakaknya yang seperti itu.


"Kenapa kau berikan pengalamanmu yang pertama padaku, Quen?"


"Karena kau kakak terbaikku. Kau dari dulu menjagaku sangat baik, bahkan lebih baik dari seorang kakak kandung. Sampai-sampai aku tidak menyadari kebenarannya, jika tidak karena tante Rika. Jadi kuberikan itu untukmu, karena aku tahu, jika orang lain yang ada di posisimu, pasti sudah memaksaku sejak dulu."


Quen pun berdiri dan beranjak ke kamarnya, ia mengganti pakaian dengan jeans sobeknya dengan blouse putih dengan luaran overall dreaa berbahan putih dan sepatu kets putih, ia membawa tas cangklongnya dan mengajak Al pergi.


"Ayo!"


Al melihat Quen dengan tatapan aneh, "Kemana?"


"Kan semalam di pesta Sudah kukatakan kalau aku memberi persiapan ulang tahun pula untukmu, Kak. Mau tidak?"


Al nampak takut dan ragu-ragu, bibirnya tetkatup rapat tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Kak, ayo!" Seru Quen mulai tidak sabar. Lalu ia kembali teringat akan satu hal, Quen pun mendesah pelan dan memutar kedua bola matanya, "ayolah! Jangan kawatir, aku tidak akan memperkosamu. Di sini yang prawan aku apa kamu, sih kak?" ucap Quen mulai kesal.


Dengan ragu-ragu Al pun beranjak berdiri, dan mengekor di belakang Quen meninggalkan apartemen dan menunggu lifp turun, kebetulan masih berada di lantai atas.

__ADS_1


__ADS_2