
Beruntung, Quen fasih dalam bahasa ingris jadi, dia tidak kesulitan ngobrol dengan papa mertuanta yang merupakan oranf asli USA. Dan menetap di New York bersama istri tercinta untuk menikmati masa tua merka berdua.
"Pa, kami lelah, bisakah kami istirahat dulu?" ucap Alex yang melihat wajah Quen sedikit memucat.
"Astagaaa! Bagaimana bisa aku lupa menyuruh kalian istirahat? Baik istirahatlah, Sayang, apakah kamar mereka sudah disiapkan?" tanya papa Nicolas pada istrinya.
"Sudah, tadi Liz yang menyiapkan tiga kamar untuk mereka, karena Axel sudah tidur sendiri," jawab mama Rita dengan senyuman.
Alex berjalan menuju kamar sambul merangkul pinggang Quen.
Setiba di kamar Alex langsung merebahkan badannya di atas kasur yang empuk itu ia sedikit memejamkan matanya, rupanya pria itu benar-benar sangat kelelahan.
"Sayang, kau mandilah dulu, aku akan menelfon mama," ucap Quen kepada Alex.
"Biar aku saja yang menelfon mereka, kau pasti sangat lelah, mandi dan istirahat sebentar," jawab Alex dan langsung bangkit dan duduk.
Bagaimana bisa aku lupa tidak mengabari kedua mertua dan kakak iparku? Astaga Alex, ingatlah! Kau bukan bujangan lagi, ada istri dan mertua yang selalu menantikan kabar dan perlu tahu keberadaanmu sekarang. Umpat Alex dalam hati.
"Ya sudah, aku mandi dulu, Sayang." Quen pun beranjak meniju toilet. Sementara Alex dia langsung menelfon papa mertuanya.
Benar saja begitu panggilan tersambung, dengan cepat Vano langsung mengangkat panggilan dari menantunya. Kebetulan di sana Clara Al serta kakek neneknya berkumpul di ruang tengah jadi, mereka bisa sama-sama melihat Alex yang tengah duduk di tepi ranjang.
Tak lama kemudian derit pintu toilet berbunyi dan terbuka, nampak Quen keluar kamar mandi dengan menehenakan setelan pakaian santai dan menutupi rambutnya dengan handuk.
Alex menoleh ke arah istrinya dan melempar sedikit senyuman.
"Kau masih menelfon mereka?" tanya Quen saat matanya diedarka ke arah layar monitor Alex. Terlihat olehnya wajah papa mama dan semua yang ada di Indonesia.
"Bicaralah dengan mereka, aku akan mandi dulu," ucap Alex kepada Quen.
Dengan Antusias Quen meraih gawai dari genggaman Alex, dilihatnya wajah-wajah yang tengah menanti kabar darinya itu, penuh kebahagiaan. Beberapa detik kemudian, Quen hanya bisa melihat wajah mama Clara di sana. Banyak hal yang heliau tanyakan, salah satunya adalah, "Bagaiamana mertuamu? Apakah mereka menerimamu?"
Dengan semangat Quen menceritakan semuanya termasuk pesta pernikahan yang akan di adakan lusa yang kemungkinan hanya mengundang keluarga dari papanya Alex, seban. Mamanya berasal dari Indonesia.
__ADS_1
Mendengar jawaban putrinya, Clara merasa lega dan bahagia.
"Kau pasti lelah, kan? Yasudah. Istirahatlah dulu, agar nanti saat acara ulang tahun mama mertuamu kau tampil fresh dan segar," ucap Clara.
"Iya, ma, daa." Quen pun mematikan panggilan Video tersebut. Begitu sambungan terputus ada beberapa pesan chat yang masuk di chat suaminya, awalnya dia mengabaikannya tapi, saat muncul nama Helena seperti ada getaran di dadanya, bahkan terasa sakit yang tak jelas, padhal ia tidak tahu apa isi dari chat tersebut.
'Apakah Alex masih sering berhubungan dengan dia? Apalah Alex masih mencintainya meski sudah bersamaku? Dulu dia juga seperti itu, baik, sayang dah perhatian, tapi, siapa sangka dibelakangki dia ada main dengan gadis lain, lalu apakah sekarang masih seperti itu, dia menikahiku hanya karna tak ingin aku malu dan reputasiku hancur, kan? Sekalipun sekarang ia menceraikanku tidak akan jadi masalah, dia sudah cukup berjasa dalam hidupku sampai saat ini,'
Tiba-tiba bayangan masa lalu saat ia merasakan sakit dan pahitnya sebuah penghianatan muncul dalam benaknya dan menimbulkan trauma besar di hidupnya hingga ia tak berani mengenal lebih dekat pria selain Aditya, dan dia saat kembali setelah bergelar play boy insaf.
Tangan Quen bergetar menahan amarah dan cemburu yang meluap menjadi satu. Ia ingin membuka isi chat itu memastikan kalau yang ada dalam pikirannya barusan adalah salah, tapi, bagaimana jika benar? Dia berada di rumah mertuanya, dan baru sampai. Dia bisa saja kembali ke Indonesia dengan sangat mudah, tapi, apa kesan mereka semua? Bisa saja Quen menahannya sendiri dan tetap berpura-pura bahagia, tapi, dia tidak terbiasa dalam situasi seperti ini.
Alex keluar dari kamar mandi hanya mengenakan boxer dan memamerkan otot-otot pada lengan dan juga perut six packnya yang membuat kaum hawa jelas terpesona oleh keingahannya.
Dengan cepat Quen melempar asal ponsel Alex ke atas kasur dan berbaring membelakangi Alex. Moodnya tiba-tiba saja berubah drastis dari baik menjadi buruk bahkan sangat sangat buruk.
Alex masih bisa tersrnyum tipis melihat tingkah Quen yang tiba-tiba saja membelakanginya, ia berfikir bahwa dia kelelahan dan ingin segera istirahat. Tapi, pikirannya berubah saat ponselnya berdering dan muncul nama Helena di sana.
Alex tidak mau ambil pusing. Segera ia memeluk istrinya dari belakang dan menyisipkan wajahnya pada leher Quen.
"Alex, aku mau istirahat dulu," ucap Quen tanpa menoleh kebelakang.
"Kau kenapa, sayang? Apakah kau baik-baik saja?"
"Aku lelah, butuh istirahat."
"Cuma lelah saja?" goda Alex.
Quen dapat merasakan pria itu tersenyuma. Ia berusaha melonggarkan pekukan suaminya dari pinggangnya. Tapi, Alex malah menarik tubuhnya dan membuatnya saling berhadapan.
Tanpa berkata apapun Alex mengecup bibir Quen dengan erat dan sedikit memberikan gigitan.
"Emmhhbbb...!" hanya itu yang muncul dari Quen. Ia tak sampai susah benapas karna ciuman Alex yang ganas membuatnya tak memiliki ruang.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga, Quen mendorong tubuh pria itu hingga ciumannya terlepas.
"Quen, lihatkah dirimu! Kau sangat cantik, bahkan aku smapai-sampai ingin memakanmu saja saat ini," ucap Alex sambil menerkam tubuh Quen. Dan menenggelamkan wajahnya pada dada wanita itu.
"Alex, apa tujuanmu menikahiku? Benar kau cinta aku atau hanya kasian saja sampai harus melakukan pengorbanan yang begitu besar?"
"Mana mungkin rasa kasian pada sesegadis harus sampai mengorbankan masa depanku dan mempermainkan hati kedua orang tuaku," jawab Alex masih dalam posisi semula.
"Sungguh kau mencintaiku?"
"Ya," jawab Alex singkat dan mulai bertingkah.
"Lalu, bagai mana perasaanmu dengan Helen?"
Alex tersenyum, dugaannya benar, ia berubah karena memang sedang cemburu.
"Kenapa tiba-tiba kau bahas dia, Sayang?"
"Bukankah kalian masih sering berkimunikasi via chat?"
"Jika aku bilang tidak, kau percaya gak?"
"Lalu Helena siapa tadi yang chat kamu? Foto juga foto dia, mantanmu itu," jawab Quen ketus.
Alex masih tersenyum tipis, dan menharahkan wajah Quen ke wajahnya.
"Benarkah? Dia bilang apa memangnya?" Goda Alex.
"Mana ku tahu. Aku tidak melihat isi pesannya, aku cuma lihat beberapa kali dia chat kamu."
"Kau lihat saja biar tahu, agar tidak terjadi salah paham. Kau ini istriku berhak tau isi chat dan apapun yang ada diponselmu. Pinnya juga tanggal lahirmu, sayang." Alex mendorong tubuh Quen agak kuat hingga wanita itu tarbaring di bawah tubuhnya.
Wanita itu hanya diam saja pasrah tidak memberi perlawanan juga tidak menanggapi apa yang dilakukan suaminya. Tapi, saat Alex mencium pipi lalu bibir, Quen sangat menikmatinya, kunis tipis yang menusuk pipi juga area bibir memberi sensasi yang menambah kenikmatan sendiri baginya hingga dia saat ini menjadi lupa diri dan malah lebih agresif dari Alex sebelumnya.
__ADS_1