Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 22


__ADS_3

Heru terbelalak kaget dengan ucapan Vano untuk membatalkan perjodohannya dengan Yuna, sesaat mentalnya menjadi ciut, seolah tidak mau melepaskan Vano begitu saja.



Clara tersenyum melihat ekspresi Heru, senyuman menghina.



"Vano, kenapa jadi begini, Van? Tidak bisa dong, kaya gini, kamu tetap menikah dengan Yuna," ucap Heru.



"Untuk apa saya memiliki mertua yang tidak menghargai orang tua saya, dan untuk apa saya harus menikah dengan gadis yang ingin menghancurkan adik saya?" Tegas Vano dengan penuh kemarahan.



"Kamu, ngomong apa Van? Maaf, Om tadi cuma emosi, dan soal Yuna, bukankah adikmu yang justru menghancurkan Yuna?"



"Oh, ya? Saya sangat mengenal Clara, Om, dia tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa sebab, dan dia tidak akan menyakiti sebelum dia lelah disakiti,"



Vano menoleh ke arah Clara lalu mengangguk pelan, dan Clara membalas anggukan Vano dengan anggukan pula.



"Om, memang benar, saya ini liar, tapi singa tidak akan mengamuk jika tidak dibangunkan dari tidurnya, kan? Terlebih ketika dia lapar, dan ya, benar, saya masih muda, lebih muda dari Yuna, tapi sayang, cara berfikir saya lebih dewasa dari Anda," ucap Clara. Sambil mengeluarkam sebuah tap dari dalam tasnya.



"Ayo kemari semua, termasuk anda Om, lihat inilah apa yang menjadikan diri saya liar selama ini, Pa, Ma," ucap Clara sambil bersiap memutar Video dari tab yang dia pegang.



Video pertama menjukan rekaman Yuna dan Heru di sebuah ruangan, dengan Volume tinggi, Andrean, Vano dan Heru bisa mendengar dengan sangat jelas.



"Pah, apa ini tidak salah mau jodohin aku?" ucap Yuna dalam Video itu.



Dan dijawab oleh Heru, "Iya sayang, kamu harus mau! Karena jika kamu menikah dengan putra pak Andrean, kamu bisa minta mas kawin salah satu anak perusahaan yang berada di Jaksel, dan Papa akan menandatangani perjanjian pengelolaan yang ada di Jakarta Utara, Vano anak tunggal, laki-laki meskipun punya adik, kan adik tiri, jadi Vano lah yang banyak nerima warisan kamu ubah semua properti rumah dan semua aset atas nama kamu lalu kamu bisa ceraikan dia dan kembali pada Alex, gimana?"



Yuna diam, nampak berfikir, lalu dia tersenyum, "Iya, juga ya, Pah, Papa pinter deh, Yuna jadi makin sayang sama Papa." Terlihat dalam Video itu gadis bebadan kecil kira-kira tingginya 149cm an memeluk pria botak di sebelahnya yang tak lain adalah ayahnya sendiri.



Video kedua. Menunjukan seseorang entah siapa, menggrebek Yuna di sebuah kamar hotel dengan seorang pria di duga dialah Alex, karena waktu itu Yuna hanya pakai pyama tipis menrawang dalam kondisi berantakan serta si pria yang hanya menggunakan CD saja.


__ADS_1


Video selanjutnta, Clara mendapatkannya dari petugas cctv di polsek, priahal suatu malam dia di kroyok 5 laki-lagi sampai dia introgasi 2 dari kelima itu, lalu membiarkannya pergi, dan yang terakhir, yang baru saja terjadi, pria yang akan menyiramnya dengan air keras.



Ngomongin soal persyaratan Clara dengan memberinya tawaran pada dua anak buah Heru itu adalah untuk memata-matai Heru dan Yuna. Soal dari mana dia mendapatnsemua rekaman itu, Clara mendapat dari dua anak buah Heru yang berhasil dia patahkan.



Dan suatu malam dia pergi ke sebuah hotel itu, sebenarnya dia menerima barang bukti yang sudah disiapkan oleh dua orang itu.



Begitu semua bukti ada di tangannya, rencana disusun matang supaya semua berjalan lancar.



"Sudah, habis Videonya, Om, habis pula permainanmu," ucap Clara sambil menyimpan tap nya ke dalam tasnya kembali.



Entah seperti apa ekpresi Heru waktu itu, malu atau bagaimana, semua kebusukannya telah terbongkar di hadapan Andrean, di balik sikap manis, kebaikan serta menjalin hubungan besan ternyata ada maksut busuk untuk menguasai harta sang sahabat.



Heru berniat akan pergi, tapi sayang, Vano dan Clara sudah melaporkan semua kejahatan Heru, dia kemari membawa beberapa orang polisi untuk menangkapnya



"Sebenarnya dari awal aku diserang oleh kelima anak buahmu itu polisi sudah ingin menangkapmu, ketika aku meminta rekamannya sebagai bukti, dan rasanya tidak afdhol bagiku sebelum membuka semua kedokmu, terlebih memenjarakan mereka yang sebenarnya tidak salah, mereka terlibat dalam keiminal gara-gara kamu.




Vano meraih tangan Clara dan mengenggamnya, keduanya saling bergandengan tangan, Clara menoleh ke arah Vano melihat ke arahnya sambil berkata pelan, "Permainan selesai,😊." lalu dibalas anggukan oleh Vano sambil tersenyum.



Selama ini Vano tidak mengerti apa rencana Clara memang, dia hanya terima saja jika Clara suruh ini itu, dan semua ini sungguh tidak hanya Vano yang dibuat terkejut, tapi juga Andrean dan Vivian.



Andrean dan Vivian berjalan mendekati Clara, dipandanginya putri tomboynya yang kini menjadi feminim dan sedikit nakal, puas memandang, Andrean memeluk Clara dengan penuh kasih sayang dan rasa penuh bersalah.



"Kamu telah menyelamatkan keluarga kita, Ra," ucap Andrean, sedangkan Vivian, dia tidak mampu berkata apa-apa, dia hanya menangis haru atas apa yang putrinya lakukan.



"Maaf, Pa, apakah Papa dan Mama masih tidak berubah pikirian," ucap Vano.



"Tentang apa Van?"

__ADS_1



"Sebenarnya, aku dan Clara, masih sama-sama mencintai, Pa."



Vivian melangkah mengusap wajah Vano, "Kamu benar mencintai Clara? Jika memang kamu mencintai dia lebih dari seorang adik, dan kamu mau berjanji padaku tidak akan melukainya kelak, Mama merestui hubungan kalian,"



Vano tersenyum, sampai meneteskan air matanya pula, dipeluknya Vivian, "Terimakasih, Ma, terimakasih."



Suasana haru dan bahagia menyelimuti keluarga Andrean, Vivian sudah memberi restu dan merelakan jika keduanya menikah, tapi Andrean masih bungkam.



"Papa," panggil Vano sambil menatap sang ayah dengan tatapan penuh isyarat. Andrean masih saja diam 1001 bahasa, cukup lama dia mematung tanpa sepatah kata, Vivian menyentuh pundak sang suami dan mengangguk, seolah berkata, sudah waktunya mereka bahagia.



"Berbahagialah kalian, Nak!" ucap Andrean memeuk Vano erat-erat, hubungan baik kini kembali terjalin antara anak dan ayah, dulu sempat merenggang setelah perlawanan mereka, tapi semua ini sudah terungkap apa maksut kenakalan Vano dan Clara.



Keempatnya saling berpelukan dan bahagia.



Malam hari ketika suasana sudah sepi, Andrean dan Vivian juga sudah berada di dalam kamar. Andrean duduk menunduk di tepi ranjang.



Vivian duduk di sebelahnya dan mukai berkata, " Mas, tidak ada salahnya membiarkan keduanya hidup bersama, setelah kufikirkan, benar kata Vano. Mereka beda ayah dan ibu, tidak ada hubungan darah di antara keduanya, meski kita sudah menikah, tapi tetap sah saja jika mereka juga menikah."



"Iya, aku mengerti, tapi .... "



"Sudah dua tahun setengah sejak kita melarang keduanya saling mencintai Vano semakin terpuruk, trauma akan perselingkuan yang di lakukan Amanda dan Dela kembali memukulnya, dia memperlakukan wanita sama, tapi tidak pada Clara, karena dia benar-benar mencintainya."



Sesaat Andrean terdiam dan merenung membenarkan perkataan Vivian. Dia mulai menyesali perbuatannya, "Iya, kamu benar, Vin. Andai dari dulu kita mengizinkan, ini tidak akan terjadi, semua biar terserah mereja saja."



Lampu kamar pun dimatikan, keduanya tidur dengan pulasnya. Sudah tak ada lagi bahaya yang mengancam mereka. Dan selama ini mereka tidak menyadari bahwa ada duri dalam daging.



__ADS_1


__ADS_2