Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 225


__ADS_3

Bunyi alarm begitu memekakan telinga. Al mengumpat seorang


diri, ia hendak bergeser meraih jam weker milik Queen yang ia letakkan di atas


nakas. Tapi, begitu ia sadar kalai tangan kiri Quieen berada di atas pipinya,


ia pun bergerak dengan sangat perlahan. Niatnya untuk membanting jam weker


sialan itu juga ia batalkan.


Begitu selesai mematikan jam weker berbentuk sepasang anime


dengana love di tengahnya itu, ia pun kembali rebahan, dengan perlahan ia


meletakkan kembali tangan kiri Queen pada pipinya. Meskipun ia tak bisa tidur


lagi, ia tetap memejamkan mata, melihat apa yang selanjutnya akan terjadi.


Taka da suara alarm yang di dengar Queen, ia terbangun


begitu sinar matahari pagi yang menembus korden kamar menyilaukan matanya.


Perlahan ia bergerak melirik jam weker di atas nakas. Namun,


hal itu teralihkan dengan tangannya yang berada di atas pipi Al. Lagi-lagi ia


terpaku oleh wajah tampan di hadapannya itu yang seolah menghipnotis


kesadarannya.


Sampai pada akhirnya… “Hobi baru, ya? Suka lihatin wajah tampanku


di pagi hari,” ucap Al dengan suara serak khas bangun tidur, dan mata juga


masih terpejam.


Dengan cepat Queen menarik tangannya menjauh dari pipi Al.


Ia hendak melompat dari tempat tidur, bagaimana pun, ia sudah berjanji kalau


pagi ini ia harus segera ke rumah sakit. Tapi, baru saja ia meyibak badcover


yang ia gunakan sebagai selimut dan hendak turun, dengan cepat pula ia menarik


kembali untuk menutupi tubuhnya. Ia lupa kalau dirinya semalam baru saja


melakukan hal itu, dan taka da selembar benangpun yang menempel pada tubuhnya.


“Kenapa Tarik selimut? Masih mau tidur lagi? Hehehe,” ledek


Al.


“Kau katanya mau ke kantor, kan? Cepat pergi dan bersiaplah,


aku tidak akan membuat sarapan.”


Al membuka sebelah matanya, kemudian ia bertanya, “Kenapa?


Kita ke kantor bersama, Sayang. Aku juga akan ikut ke rumah sakit dulu untuk


melihat kondisi papa.”


Queen sedikit gugup, ia memalingkan wajahnya dari Al dan


berkata, “Makanya, kau bersiaplah dulu, dan pergilah keluar untuk memberi


sarapan. Kita tetap makan di rumah.”


“Baiklah kalau itu maumu, Tuan Putri.” Dengan tubuh polos


pula, Al beranjak dan masuk ke dalam toilet. Queen yang melihatnya merasa geli,


dan tertawa seorang diri. ‘Dasar, bodoh,’ umpatnya dalam hati.


Begitu mendengar suara shower dinyalakan, Queen pun beranjak


mengambil kimono dari dalam lemari, kemudian mengikat rambutnya asal, ia


menyiapkan semua keperluan pribadinya untuk pergi ke kantor dan kerumah sakit


setelahnya. Ia juga tak lupa membawa baju ganti. Ia berniat untuk menginap di


rumah sakit saja, menemani papanya. Dari siang sampai malam menemani papanya


kemarin, rupanya tidak membuat wanita itu puas. Ia masih sangat rindu dan ingin


terus bersama papanya.


“Aku sudah selesai mandi.”


Wanita itu menoleh ke arah kamar mandi, di ambang pintu ia


melihat Al hanya mengenakan handuk kecil, sehingga perut sixpacknya terekpose


begitu saja. Queen yang berfikir kapan pria itu ada waktu pergi ke gym untuk


membentuh tubunya jadi tercengang melihat pemandangan di depannya.


Al tertawa miring, kemudian meledeknya. “Kenapa? Suka body


aku ya?”


Dengan cepat Queen kembali memalingkan wajahnya, kembali


sibuk dengan apa yang ia persiapkan sedari tadi. ‘Kenapa aku baru sadar, kalau


dia punya tubuh yang semaskulin itu? Kukira yang memiliki tubuh seperti itu


cuma Alex,’


“Kenapa diam, Sayang? Lihat saja sampai kamu puas! Toh aku


ini sekarang adalah suamimu.” Entah sejak kapan Al berjalan. Tahu-tahu ia sudah


ada di belakang Queen dan memeluknya dari belakang.


“Tidak… Kamu suka olahraga, ya? Memang kapan kamu pergi ke


gym? Aku kok tidak tahu?” jawab Queen tanpa mencoba melepaskan pelukan Al.

__ADS_1


Bahkan air dari rambut basah Al juga menetes mengenai pundaknya.


“Setidaknya saat aku masih berada di Jepang dulu,. Aku juga


berlatih dengan sangat keras, Sayang.”


Mendengar jawaban itu mengingatkan wanita itu siapa Al


sebenarnya. Dalam hati ia tertawa sendiri dan bergumam, ‘Ah, sekejam apapun


seorang mafia, tetap saja dia itu manusia yang memiliki hati untuk mencintai.


Lebay juga jika saat bucin begini.


“Maaf, aku sempat melupakan itu.” Queen menggenggam


pergelelangan tangan Al yang ada di depan perutnya.


“Kau mau makan apa?”


“Terserah apa, saja.”


“Baiklah, aku akan memakai baju dulu, dan kau segeralah


mandi dan bersiap,” ucap Al sambil mencium pipi Queen dari belakang.


Usai mandi, Queen mencium aroma sedap dari dapurnya. Ia


berfikir, Al ini pergi membeli saparan, atau memasak sarapan untuk kami? Dengan


segera ia memakai baju formal, karena Al sudah memberitahukan kalau nanti ia


akan ikut menemui clien besar di perusahaan.


Saat ia keluar, ia merasa surprise dengan apa yang dilakukan


Al. supcream dan omelet sudah tergidang di meja makan serta dua gelas susu


hangat. Sementara Al, ia masih mengenakan celemek putih bermotif bunga melati


yang menutupi kemejanya yang berwarna maroon.


“Kamu yang masak, Al?” tanya Queen sambil menutup mulutnya


dengan kedua tangannya.


“Ya, untuk istri tercinta.” Al tersenyum pada Queen, sambil


memberikan tatapan yang teduh pada wanita yang ada di hadapannya.


Queen pun duduk dan mulai menyendok sup cream dan menyuapkan


ke dalam mulutnya. Menu yang favoritnya dan juga favorit Al tentunya. Dulu,


saat Queen masih SMA, jika kakaknya sakit menu andalan yang ia buat selalu


omelet dan sup cream jagung, begitu pula sebaliknya.


“Bagaimana rasanya? Enak tidak? Aku sudah lama tidak masak,”


ucap Al sambil melepaskan celemeknya.


“Enak.”


“Ya, katanya sudah lama tidak masak. Rasanya masih tetap seenak


dulu, saat kau sering membuatkannya untukku.’’


Al hanya tersenyum mendengar jawaban dari Queen.


Usai sarapan keduanya langsung pergi ke rumah sakit. Di sana


masih ada kakek Amdrean dan juga bik Yul. Tapi, ada yang aneh, semua pakaian milik


papanya yang kemarin dibawakan dari rumah, kini semua tertata rapi di dalam


tas.  Bahkan infus papanya juga sudah di


lepas.


“Queen kau sudah datang, Sayang?” sapa papa Vano dan kakek


Andrean.


Bukannya menjawab, tapi, wanita itu malah balik bertanya, “Loh,


kok semua jadi begini? Papa dah diizinin pulang?’’


“Iya Sayang. Tapi masih menunggu dokter dulu.”


Queen melihat ke arah Al. ia bingung harus memanggil apa


pada pria itu. Kak, atau nama? Tapi, tak mungkin memanggil sayang atau mas,


kan? Wanita itu berfikir kalau papanya masih belum tahu. Beruntung sekali Al


sangat peka dan dengan mudah mampu menangkap apa maksut dari wanitanya. Ia pun


berkata, “Masih ada waktu, Sayang. Kita ketemu client jam sepuluh.”


“Tidak apa-apa tiba di kantor terlambat?” goda Queen sambil


tersenyum.


“Tidak masalah. Selama papa belum kembali menempati posisi


CEO kan, aku CEO-nya. Jadi, tidak aka nada yang berani marah sama kamu jika kau


datang bersamaku.


Queen pun menghampiri papanya dan menawarinya untuk sarapan.


Mereka berdua ngobrol, Vano menceritakan kalau semalam setelah dirinya pulang,


Alex dan kakanya datang menjengguknya.


“Oh, iya. Novita dia hamil berapa bulan memang Queen?” tanya


papa Vano.

__ADS_1


“Hah, hamil?” Queen berfikir, apakah mantan kaka iparnya menikah


lagi? Atau, itu anak Aditya sebelum ia mati dulu? Malang sekali nasib anaknya.


Tapi, mungkin itu lebih baik dari pada ia mengetahui kalau ayahnya psychopath yang


sudah banyak memutilasi korban dan mengoleksi organ-organ tubuhnya.


“Sebenarnya, Novita sudah lama berada di luar negri pasca


bercerai dengan Aditya, Van. Ia tidak tahu, kalau dirinya telah mengandung, dan


di saat ia mengetahinya, usia kandungan sudah berusia satu bulan, dan satu


bulan setengah usia kandungan Aditya meninggal karena kecelakaan,” sahut kakek


Andrean.


Queen menunduduk kemudian menatap Al. Ia berfikir, bagaimana


jika ia berfikir apa yang terjadi dengan anaknya kelak jika pria itu yang jadi


ayah dari anak-anaknya nanti? Dia bukan psychopath, tapi raja mafia yang banyak


membunuh korbannya dengan sadis, menghabisi banyak orang dalam waktu bersamaan


tanpa rasa menyesal dan bersalah seperti menginjak mati barisan para semut.


Memikirkan hal itu, ia kian mantap dengan pendiriannya untuk tidak sampai


mengandung satu pun anak dari pria itu.


Queen yang semula sudah mulai bisa ceria dan seolah mulai bisa


menerima Al sebagai suami dalam hidupnya pun kini kembali murung. Nampak sekali


kalau ia tengah memikirkan sesuatu yang berat. Sejurus kemudian ia menatap


tangan kekar Al yang putih dan timbul otot-otot berwarna biru dan membatin. ‘Tangan


yang hampir tiap malam dalam sebulan ini selalu menjamahku, sudah berapa nyawa


saja yang telah berhasil ia habisi?’


Tak lama kemudian seorang dokter dan suster di belakangnya


datang ke dalam kamar rawat Vano. Dokter tersebut adalah senior Queen sementara


suster atau perawat yang ada di belakangnya itu, adalah perawat yang sama, yang


berysaha mendekati Vano semalam.


“Dokter Queen,” sapa dua petugas kesehatan itu hampir


bersamaan.


“Ini papa, saya,” jawab Queen pelan.


Perawat bernama Christy itu memang baru, dan tidak dekat


dengan Queen. Ia hanya sekedar tahu saja nama dokter muda tersebut. Jadi, wajar


kalaiu ia tidak tahu kalau pasien yang digodanya adalah papa dari Queen. Lain


halnya dengan dokter senipr tersebut, ia yang memang sudah menangani dan


memantau kondisi Vano dan Calara sejak pertama mereka dirujuk.


“Ini adalah resep yang nanti perlu anda tebus, tetap lakukan


control secara rutin atau saat ad masalah, ya Pak?” ucap dokter yang usianya


lebih tua dari Al, namun lebuh muda dari Vano dan Andrean, sambil menyerahkan


kertas putih dengan tulisan dewa yang hanya sesame dokter, perawat dan apoteker


yang dapat membacanya.


“Terimakasih, Dok.”


“Anda beruntung memiliki sepasang putra dan putri yang saling


mendukung, lihat saja, Pak. Mereka adalah doublikat papa dan mamanya,” Vano hanya


tersenyum sambil melihat Al dan juga Queen.


Selama Vano ngobrol dengan dokter tersebut, hal itu tidak di


sia-siakan oleh akkek Andrean. “Queen, coba kalu lihat, ini benar-benar adalah


suatu keajaiban. Terima saja Al sebagai suamimu, cintai dia seperti dia mencintaimu,


agar mamamu juga segera sadar, ini sebuah keajaiban dan bisa saja papamu sadar


karena alam bawah sadarnya mengetahui kalau kalian telah menikah. Cepat beri dia


cucu.”


Queen hanya tersenyum dan memandang kea rah Al yang nampak


diam dengan tenang.’He not bat. Dia tampan dan mempesona, tidak masalah. Tapi,


aku tidak akan pernah memiliki anak dari seorang pembunuh dan ******** seperti


dia.’ Batinnya.


“Sayang, kita ikut antar papa pulang, atau langsung pergi


saja?” ucap Al sambil meraih pinggang Queen.


Queen merasa sedikit canggung dengan apa yang Al lakukan.


Bahkan Al sendiri juga tidak sadar saat papa Vano melihat ke arah tangannya.


Baru saat pria yang ia panggil papa selama ini tersenyum, Al baru sadar dan


melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.


‘Dasar ceroboh sekali, kau Al. Mana mungkin bisa begini

__ADS_1


sementara papa belum tahu kalau adikmu kau nikahi secara paksa,’ umpatnya dalam


hati.


__ADS_2