
Bunyi alarm begitu memekakan telinga. Al mengumpat seorang
diri, ia hendak bergeser meraih jam weker milik Queen yang ia letakkan di atas
nakas. Tapi, begitu ia sadar kalai tangan kiri Quieen berada di atas pipinya,
ia pun bergerak dengan sangat perlahan. Niatnya untuk membanting jam weker
sialan itu juga ia batalkan.
Begitu selesai mematikan jam weker berbentuk sepasang anime
dengana love di tengahnya itu, ia pun kembali rebahan, dengan perlahan ia
meletakkan kembali tangan kiri Queen pada pipinya. Meskipun ia tak bisa tidur
lagi, ia tetap memejamkan mata, melihat apa yang selanjutnya akan terjadi.
Taka da suara alarm yang di dengar Queen, ia terbangun
begitu sinar matahari pagi yang menembus korden kamar menyilaukan matanya.
Perlahan ia bergerak melirik jam weker di atas nakas. Namun,
hal itu teralihkan dengan tangannya yang berada di atas pipi Al. Lagi-lagi ia
terpaku oleh wajah tampan di hadapannya itu yang seolah menghipnotis
kesadarannya.
Sampai pada akhirnya… “Hobi baru, ya? Suka lihatin wajah tampanku
di pagi hari,” ucap Al dengan suara serak khas bangun tidur, dan mata juga
masih terpejam.
Dengan cepat Queen menarik tangannya menjauh dari pipi Al.
Ia hendak melompat dari tempat tidur, bagaimana pun, ia sudah berjanji kalau
pagi ini ia harus segera ke rumah sakit. Tapi, baru saja ia meyibak badcover
yang ia gunakan sebagai selimut dan hendak turun, dengan cepat pula ia menarik
kembali untuk menutupi tubuhnya. Ia lupa kalau dirinya semalam baru saja
melakukan hal itu, dan taka da selembar benangpun yang menempel pada tubuhnya.
“Kenapa Tarik selimut? Masih mau tidur lagi? Hehehe,” ledek
Al.
“Kau katanya mau ke kantor, kan? Cepat pergi dan bersiaplah,
aku tidak akan membuat sarapan.”
Al membuka sebelah matanya, kemudian ia bertanya, “Kenapa?
Kita ke kantor bersama, Sayang. Aku juga akan ikut ke rumah sakit dulu untuk
melihat kondisi papa.”
Queen sedikit gugup, ia memalingkan wajahnya dari Al dan
berkata, “Makanya, kau bersiaplah dulu, dan pergilah keluar untuk memberi
sarapan. Kita tetap makan di rumah.”
“Baiklah kalau itu maumu, Tuan Putri.” Dengan tubuh polos
pula, Al beranjak dan masuk ke dalam toilet. Queen yang melihatnya merasa geli,
dan tertawa seorang diri. ‘Dasar, bodoh,’ umpatnya dalam hati.
Begitu mendengar suara shower dinyalakan, Queen pun beranjak
mengambil kimono dari dalam lemari, kemudian mengikat rambutnya asal, ia
menyiapkan semua keperluan pribadinya untuk pergi ke kantor dan kerumah sakit
setelahnya. Ia juga tak lupa membawa baju ganti. Ia berniat untuk menginap di
rumah sakit saja, menemani papanya. Dari siang sampai malam menemani papanya
kemarin, rupanya tidak membuat wanita itu puas. Ia masih sangat rindu dan ingin
terus bersama papanya.
“Aku sudah selesai mandi.”
Wanita itu menoleh ke arah kamar mandi, di ambang pintu ia
melihat Al hanya mengenakan handuk kecil, sehingga perut sixpacknya terekpose
begitu saja. Queen yang berfikir kapan pria itu ada waktu pergi ke gym untuk
membentuh tubunya jadi tercengang melihat pemandangan di depannya.
Al tertawa miring, kemudian meledeknya. “Kenapa? Suka body
aku ya?”
Dengan cepat Queen kembali memalingkan wajahnya, kembali
sibuk dengan apa yang ia persiapkan sedari tadi. ‘Kenapa aku baru sadar, kalau
dia punya tubuh yang semaskulin itu? Kukira yang memiliki tubuh seperti itu
cuma Alex,’
“Kenapa diam, Sayang? Lihat saja sampai kamu puas! Toh aku
ini sekarang adalah suamimu.” Entah sejak kapan Al berjalan. Tahu-tahu ia sudah
ada di belakang Queen dan memeluknya dari belakang.
“Tidak… Kamu suka olahraga, ya? Memang kapan kamu pergi ke
gym? Aku kok tidak tahu?” jawab Queen tanpa mencoba melepaskan pelukan Al.
__ADS_1
Bahkan air dari rambut basah Al juga menetes mengenai pundaknya.
“Setidaknya saat aku masih berada di Jepang dulu,. Aku juga
berlatih dengan sangat keras, Sayang.”
Mendengar jawaban itu mengingatkan wanita itu siapa Al
sebenarnya. Dalam hati ia tertawa sendiri dan bergumam, ‘Ah, sekejam apapun
seorang mafia, tetap saja dia itu manusia yang memiliki hati untuk mencintai.
Lebay juga jika saat bucin begini.
“Maaf, aku sempat melupakan itu.” Queen menggenggam
pergelelangan tangan Al yang ada di depan perutnya.
“Kau mau makan apa?”
“Terserah apa, saja.”
“Baiklah, aku akan memakai baju dulu, dan kau segeralah
mandi dan bersiap,” ucap Al sambil mencium pipi Queen dari belakang.
Usai mandi, Queen mencium aroma sedap dari dapurnya. Ia
berfikir, Al ini pergi membeli saparan, atau memasak sarapan untuk kami? Dengan
segera ia memakai baju formal, karena Al sudah memberitahukan kalau nanti ia
akan ikut menemui clien besar di perusahaan.
Saat ia keluar, ia merasa surprise dengan apa yang dilakukan
Al. supcream dan omelet sudah tergidang di meja makan serta dua gelas susu
hangat. Sementara Al, ia masih mengenakan celemek putih bermotif bunga melati
yang menutupi kemejanya yang berwarna maroon.
“Kamu yang masak, Al?” tanya Queen sambil menutup mulutnya
dengan kedua tangannya.
“Ya, untuk istri tercinta.” Al tersenyum pada Queen, sambil
memberikan tatapan yang teduh pada wanita yang ada di hadapannya.
Queen pun duduk dan mulai menyendok sup cream dan menyuapkan
ke dalam mulutnya. Menu yang favoritnya dan juga favorit Al tentunya. Dulu,
saat Queen masih SMA, jika kakaknya sakit menu andalan yang ia buat selalu
omelet dan sup cream jagung, begitu pula sebaliknya.
“Bagaimana rasanya? Enak tidak? Aku sudah lama tidak masak,”
ucap Al sambil melepaskan celemeknya.
“Enak.”
“Ya, katanya sudah lama tidak masak. Rasanya masih tetap seenak
dulu, saat kau sering membuatkannya untukku.’’
Al hanya tersenyum mendengar jawaban dari Queen.
Usai sarapan keduanya langsung pergi ke rumah sakit. Di sana
masih ada kakek Amdrean dan juga bik Yul. Tapi, ada yang aneh, semua pakaian milik
papanya yang kemarin dibawakan dari rumah, kini semua tertata rapi di dalam
tas. Bahkan infus papanya juga sudah di
lepas.
“Queen kau sudah datang, Sayang?” sapa papa Vano dan kakek
Andrean.
Bukannya menjawab, tapi, wanita itu malah balik bertanya, “Loh,
kok semua jadi begini? Papa dah diizinin pulang?’’
“Iya Sayang. Tapi masih menunggu dokter dulu.”
Queen melihat ke arah Al. ia bingung harus memanggil apa
pada pria itu. Kak, atau nama? Tapi, tak mungkin memanggil sayang atau mas,
kan? Wanita itu berfikir kalau papanya masih belum tahu. Beruntung sekali Al
sangat peka dan dengan mudah mampu menangkap apa maksut dari wanitanya. Ia pun
berkata, “Masih ada waktu, Sayang. Kita ketemu client jam sepuluh.”
“Tidak apa-apa tiba di kantor terlambat?” goda Queen sambil
tersenyum.
“Tidak masalah. Selama papa belum kembali menempati posisi
CEO kan, aku CEO-nya. Jadi, tidak aka nada yang berani marah sama kamu jika kau
datang bersamaku.
Queen pun menghampiri papanya dan menawarinya untuk sarapan.
Mereka berdua ngobrol, Vano menceritakan kalau semalam setelah dirinya pulang,
Alex dan kakanya datang menjengguknya.
“Oh, iya. Novita dia hamil berapa bulan memang Queen?” tanya
papa Vano.
__ADS_1
“Hah, hamil?” Queen berfikir, apakah mantan kaka iparnya menikah
lagi? Atau, itu anak Aditya sebelum ia mati dulu? Malang sekali nasib anaknya.
Tapi, mungkin itu lebih baik dari pada ia mengetahui kalau ayahnya psychopath yang
sudah banyak memutilasi korban dan mengoleksi organ-organ tubuhnya.
“Sebenarnya, Novita sudah lama berada di luar negri pasca
bercerai dengan Aditya, Van. Ia tidak tahu, kalau dirinya telah mengandung, dan
di saat ia mengetahinya, usia kandungan sudah berusia satu bulan, dan satu
bulan setengah usia kandungan Aditya meninggal karena kecelakaan,” sahut kakek
Andrean.
Queen menunduduk kemudian menatap Al. Ia berfikir, bagaimana
jika ia berfikir apa yang terjadi dengan anaknya kelak jika pria itu yang jadi
ayah dari anak-anaknya nanti? Dia bukan psychopath, tapi raja mafia yang banyak
membunuh korbannya dengan sadis, menghabisi banyak orang dalam waktu bersamaan
tanpa rasa menyesal dan bersalah seperti menginjak mati barisan para semut.
Memikirkan hal itu, ia kian mantap dengan pendiriannya untuk tidak sampai
mengandung satu pun anak dari pria itu.
Queen yang semula sudah mulai bisa ceria dan seolah mulai bisa
menerima Al sebagai suami dalam hidupnya pun kini kembali murung. Nampak sekali
kalau ia tengah memikirkan sesuatu yang berat. Sejurus kemudian ia menatap
tangan kekar Al yang putih dan timbul otot-otot berwarna biru dan membatin. ‘Tangan
yang hampir tiap malam dalam sebulan ini selalu menjamahku, sudah berapa nyawa
saja yang telah berhasil ia habisi?’
Tak lama kemudian seorang dokter dan suster di belakangnya
datang ke dalam kamar rawat Vano. Dokter tersebut adalah senior Queen sementara
suster atau perawat yang ada di belakangnya itu, adalah perawat yang sama, yang
berysaha mendekati Vano semalam.
“Dokter Queen,” sapa dua petugas kesehatan itu hampir
bersamaan.
“Ini papa, saya,” jawab Queen pelan.
Perawat bernama Christy itu memang baru, dan tidak dekat
dengan Queen. Ia hanya sekedar tahu saja nama dokter muda tersebut. Jadi, wajar
kalaiu ia tidak tahu kalau pasien yang digodanya adalah papa dari Queen. Lain
halnya dengan dokter senipr tersebut, ia yang memang sudah menangani dan
memantau kondisi Vano dan Calara sejak pertama mereka dirujuk.
“Ini adalah resep yang nanti perlu anda tebus, tetap lakukan
control secara rutin atau saat ad masalah, ya Pak?” ucap dokter yang usianya
lebih tua dari Al, namun lebuh muda dari Vano dan Andrean, sambil menyerahkan
kertas putih dengan tulisan dewa yang hanya sesame dokter, perawat dan apoteker
yang dapat membacanya.
“Terimakasih, Dok.”
“Anda beruntung memiliki sepasang putra dan putri yang saling
mendukung, lihat saja, Pak. Mereka adalah doublikat papa dan mamanya,” Vano hanya
tersenyum sambil melihat Al dan juga Queen.
Selama Vano ngobrol dengan dokter tersebut, hal itu tidak di
sia-siakan oleh akkek Andrean. “Queen, coba kalu lihat, ini benar-benar adalah
suatu keajaiban. Terima saja Al sebagai suamimu, cintai dia seperti dia mencintaimu,
agar mamamu juga segera sadar, ini sebuah keajaiban dan bisa saja papamu sadar
karena alam bawah sadarnya mengetahui kalau kalian telah menikah. Cepat beri dia
cucu.”
Queen hanya tersenyum dan memandang kea rah Al yang nampak
diam dengan tenang.’He not bat. Dia tampan dan mempesona, tidak masalah. Tapi,
aku tidak akan pernah memiliki anak dari seorang pembunuh dan ******** seperti
dia.’ Batinnya.
“Sayang, kita ikut antar papa pulang, atau langsung pergi
saja?” ucap Al sambil meraih pinggang Queen.
Queen merasa sedikit canggung dengan apa yang Al lakukan.
Bahkan Al sendiri juga tidak sadar saat papa Vano melihat ke arah tangannya.
Baru saat pria yang ia panggil papa selama ini tersenyum, Al baru sadar dan
melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.
‘Dasar ceroboh sekali, kau Al. Mana mungkin bisa begini
__ADS_1
sementara papa belum tahu kalau adikmu kau nikahi secara paksa,’ umpatnya dalam
hati.