Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 127


__ADS_3

Siang itu Nayla tengah bersantai. Ia menunggu bibi menyiapkan makanan yang akan dibawa ke kantor untuk makan siang suaminya.


Mumpung Bilqis sedang pergi ikut Hanifah dan kakek Andrean, ia memanfaatkan waktu untuk memanjakan diri berendam di bathtub.


Diam-diam Nayla merasa bosan hidup seperti ini. Sekalipun tidak pernah kekurangan dalam segi materi.tapi, semenjak mertuanyaย  mengalami kecelakaan dan kini pun antara hidup dan mati, ia tak lagi memiliki teman ngobrol.


Suami juga semakin sibuk dan jarang pulang. Hanya beberapa jam di rumah itupun tak lepas dari laptopnya.


Queen satu-satunya adik ipar yang dia miliki juga sudah berkeluarga.


Untuk beberapa saat Nayla sempat melamun. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


Baru tersadar saat mendengar denting pesan dari ponsel yang dia letakan tidak jauh dari tempat ia berendam.


Dengan sedikit usaha, Nayla berhasil meraih ponselnya. Ternyata ada tiga pesan di sana, ia membuka dari Al, suaminya yang mengiriminya lebih dulu.


"Nay, aku ke Bandung sekarang. Dan Queen tidak jadi cuti. Jadi, kamu tidak perlu datang ke kantor."


Ada sedikit rasa kecewa di hati Nayla sudah sedari tadi dia bersusah payah memasak untuk Al tapi, malah dengan mudahnya Al memajukan jadwalnya pergi ke Bandung. Tapi, ia tidak bisa marah apalagi memprotes suaminya.


Selama ini Al juga tidak pernah membatasi dirinya dalam hal apapun. Termasuk keluar jalan-jalan dan membelanjakan uang milik suaminya. Hanya saja, Nayla type gadis sederhana. Dia tidak suka menghambur-hamburkan uang. Dia lebih suka di rumah, jika pun keluar, pasti


juga dengan mama Clara. Tapi, itu dulu. Makanya dia sekarang merasa kesepian.


"Baik, Mas. Hati-hati, ya," tulis Nayla lalu mengirimkannya kepada Al.


Lalu, wanita itu membuka pesan selanjutnya. Dari Jevin dan Hanifah. Gadis itu mengirimkan foto putrinya yang tengah ikut memancing bersama kakek buyutnya. Dan foto-foto itu berhasil membuatnya tersenyum.


Selanjutnya Nayla membuka pesan dari Jevin. Pria itu mengatakan kalau Al dan Queen sudah berangkat ke Bandung.


Awalnya Nayla malas membalas, tapi, entah dorongan dari mana, tiba-tiba jemarinya mengetik kalimat, "Iya, Jev. Mas Al barusan juga sudah memberi tahuku. Makasih, ya." Lalu mengirimkannya pada pria berkulit sawo matang itu.


Ternyata, obrolan chat-nya tidak hanya berhenti di situ, Jevin membalas dan membuat Nayla jadi terus dan terus berbalasan. Bahkan tanpa sadar sudah empat puluh menit berlalu keduanya saling chat.


Dan satu jam lebih pula Nay baru sadar kalau dia sudah berendam sampai selama itu.


Wanita itu tertawa seorang diri. Lihat, betapa menyenangkannya bawahan suaminya itu diajak mengobrol?


Ah, seandainya saja mas Al seperti ini. Pasti aku tidak akan merasa kesepian dan gambar lagi. Tapi, sudahlah Nay, stop membandingkan suamimu dengan yang lain. Di luar sana pasti banyak yang iri padamu, ingin berada di posisi mu. Memiliki suami tampan kaya dan jenius. Kurang apa lagi? Kurang perhatian? Sudahlah hidup itu ya seperti ini tak ada yang sempurna.


Cukup lama Nayla mengalami pergulatan batin. Ia tetap mensyukuri Al. Dia memang tidak bisa memberi kebahagiaan secara batin tapi, dalam segi materi dia royal. Dari pada ayahnya Bilqis dulu. Mencukupi kebutuhan hidup tidak, hati dan fisik terus disakiti.


"Ya, tuhan. Apakah pantas aku seperti ini? Berandai-andi tentang pria lain." Batin Nayla.


"Bu, tidak inginkan main ke kantor? Barangkali ingin makan di sini, biar saya yang traktir ๐Ÿ˜„"


Satu pesan lagi dari Jevin pun masuk. Entah kenapa, Nayla tiba-tiba saja tertarik untuk makan siang bersama Jevin. Ia yakin Al tidak akan marah, terlebih melihat hubungan antara Al, Jevin dan Juna seperti keluarga.


Nayla pun menyetujui nya. Ia akhirnya keluar dan makan di restoran dekat kantor. Walau hanya sebentar saja, Nayla merasa sangat bahagia. Tapi, juga merasa bersalah pada suaminya.


"Ah, terserah deh. Kalau saja mas Al bisa bersikap sedikit hangat padaku, aku pasti juga tidak akan begini," batin Nayla.


Setiba di rumah tepat pukul dua siang. Bahkan Bilqis, Hanifah dan kakek Andrean juga belum pulang. Menang biasnya mereka baru akan pulang setengah jam lagi. Apalagi mereka mengajak Diaz. Jelas, Hanifah akan sangat betah.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Tepat pukul tiga sore pertemuan dengan clien sudah beres dan menghasilkan kerja sama yang akan membawa keuntungan besar untuk perusahaan orang tua mereka. Awalnya Al ingin mengobrol sebentar dengan Queen mengenai dirinya dan Alex lalu kembali ke Jakarta. Tapi, rupanya mereka lebih memilih untuk menginap saja.


"Apa tidak apa-apa Alex kau tinggal, Queen? Harusnya kamu menunjukan peranmu sebagai istri yang baik. Kamu jaga dan rawat dia sampai benar-benar pulih bukan malah mementingkan karirmu."


Queen cuma bengong saja mendanggapi omelan Al yang Uda panjang kali lebar sedari tadi. Ni orang kenapa mendadak crewetnya level emak-emak, ya? Padahal di kantor terkenal sebagai pribadi pendiam dan ya emang jarang bicara.


"Aku pengennya gitu, kak. Tapi, Alex sendiri yang tidak mau. Apa aku bercerai saja ya?"


Al langsung tersedak mendengar ucapan Queen. Kopinya tumpah mengotori kemejanya yang kebetulan berwarna putih.


"Queen, hati-hati kalau ngomong. Memang dengan cerai bisa menyelesaikan masalah?"


"Siapa tahu aja, kan? Klau tidak dicoba apa aku akan tahu?"

__ADS_1


Al merasakan emosi yang kian meninggi dari cara Queen berbicara. Mulai dari nada dan kalimat yang digu akan. Tapi, ia berusaha untuk tetap dalam kondisi stabil. Berantem dengan adek sendiri juga tidak lucu, kan? Walau di luaran sana itu hal yang lumrah, tapi, kedua orang tua mereka mengajarkan untuk selalu rukun.


"Ya, kakak tahu. tapi ingat The decision you make now will affect your life in the future. (Keputusan yang kau ambil saat ini akan mempengaruhi kehidupanmu di masa depan.)" tegas Al berusaha mengingatkan adiknya.


"Aku merasa lelah dengan semua ini, Kak. Entah harus bagaimana aku ini," keluh Queen sambil memainkan sedotan yang ada di minumannya.


"Kamu tenangin dulu pikiran kamu, baru ambil keputusan. Jangan memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi, ok?"


Queen hanya membalas dengan anggukan ingin dia menceritakan apa yang sebenarnya ia alami di rumah. Tapi, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Melihat Al sendiri nampaknya juga sedang lelah. Yang ada dia nanti malah emosi dan parahnya membunuh Alex dan Helen, kan gak lucu.


"Kita bermalam saja di sini, besok baru kembali ke Jakarta. Kakak ajak kamu jalan-jalan, mau?" tawar Al sambil memandang Queen.


Queen menatap wajah Al yang sedikit menunjukan senyuman tipis dan ragu-ragu. Dengan wajah datar gadis itu menggelengkan kepala. Sontak raut muka Al berubah sedikit kecewa lalu, Quen berkata, "gak mau nolak."


Al pun tertawa dan bangkit meraih hidung mancung Queen lalu mencubitnya agak keras hingga gadis itu menjerit. Bahkan bekas cubitannya menyisakan bekas merah seperti orang kena flu.


"Aduh... Sakit, tahu kak," protes Queen dengan muka cemberut.


"Siapa suruh godain kakak,"


"Aku gak suka lah, godain suami orang."


Kalian yang baru saja Queen ucapkan sebenarnya biasa-biasa saja bagi dia. Mungkin juga bisa untuk melampiaskan kekesalannya pada Helena yang tengah menggoda atau lebih tepatnya menggunakan cara licik untuk mendapatkan suaminya. Tapi, beda bagi Al yang tak tahu apa-apa mengenai itu. So, dia agak tertegun dan memancing Queen ke dalam obrolan yang membuat keluar jalur.


"Kalau kakak sendiri yang tergoda sama Queen bagai mana?" timpal Al memancing.


"Dasar, sama adek sendiri juga masih mau jahil?"


"Siapa bilang kamu adikku. Ya udah kalau mau cerai, cerai saja di kantor kau asistenku, kan? Sekalian merengkap jadi simpanan ku. Hahaha."


Queen masih saja cuek, menganggap candaan kakaknya tidak lucu. Tapi, sediki membuatnya terhibur dari pada hanya di rumah.


"Ya dah, kita cari hotel saja, yuk. Mandi dulu nanti kita jalan-jalan," ajak Al.


"Ya udah, ayok," ucap Queen sambil beranjak.


Tiba di hotel saat memesan awalnya Al berinisiatif memesan dua kamar yang berjajar tapi, karena tidak ada, Al pun cuma memesanย  kamar saja dengan satu kasur king size.


"Kamarnya tinggal satu, ya udah sekamar aja sama kakak," jawab Al, cuek.


"Emang ada beberapa kamar sih hotel ini bisanya sisa satu kamar?" Protes Queen setengah tidak percaya.


"Berapapun kamarnya kalau banyak tamu ya penuh, sayang. Ya sudah Ayuk!" Al meraih pinggang Queen dan berjalan bersama menuju kamar hotel yang dia pesan.


Tiba di kamar, Al mengeluarkan laptopnya sementara Queen yang merasa gerah langsung saja masuk toilet untuk mandi.


Sepuluh menit kemudian Queen keluar dengan pakaian yang sama.


"Kok ga ganti, sayang? Gak bawa baju ganti, ya?" tanya Al.


"Iya, kan gak ada rencana buat nginep, kak. Jadi, gak bawa ganti."


"Iya juga, ya. Kakak juga gak bawa ganti. Keluar saja yuk!"


"Sekarang?"


"Iya masa taun depan?"


"Yadah, kakak mandi dulu, bauk, nih," goda Quen sambil menutup hidungnya saat mendekat ke arah Al.


Al memperhatikan Quen dengan senyuman tipisnya yang menjadi ciri khas pria itu. Karena gemas dengan gadis di depannyan, ia pun meletakan laptopnya lalu menghampiri Quen dan mejepit kepala adiknya di ketiaknya sambil terbahak.


"Hey, dasar bau belum mandi juga!" teriak Queen sambil terus memberontak.


"Bauk, apa? Orang wangi, kok," ucap Al sambil mengangkat sebelah tangannya dan mengendus ketiaknya sendiri.


"Dasar jorok!"


"Mau lagi?"

__ADS_1


"Gaaaaak." Queen pun berlari menghindar. Sementara Al terkekeh seorang diri melihat kelakuan Queen yang masih tidak banyak berubah.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Siang itu kembali Helena menemui Aditya ia memberitahukan kalau keinginannya terwujud lebih cepat. Sebab, dengan sangat mudah Queen membiarkan begitu saja Alex menikahinya. Dia mau di madu.


"Lalu, gimana nih? Kau dah dapatin Alex, sementara aku? Kau masih ingat janji kamu, kan? Jika iya, kuharap kau tak mengingkarinya," jawab Aditya datar.


"Ya, aku ingat," jawab Helena dengan cemberut dan kesal.


Sementara Aditya terkekeh dan menatap tubuh Helena dengan tatapan buas.


"Cek in, yuk!" ajak Aditya.


"Sekarang?" tanya Helena tidak percaya.


"Ya iyalah... Aku kan maunya kau misahin Alex dan Queen dulu. Kamu malah cuma berbagi suami. Kan dulu kamu bilang jika kau dah dapatin Alex dan aku belum mendapatkan Queen maka kau yang melayaniku "ย 


"Dit, gak bisa gitu, donk. Alex lagi sakit, dia sendirian di rumah cuma sama bibi," jawab Helena mulai emosi karna paksaan Aditya.


"Kau yang bilang sendiri, aku tidak peduli itu, sekarang kau ikut aku, atau.... " Aditya menyeringai dan mendekatkan wajahnya pada wajah Helena saat tangannya berhasil mencekik leher gadis itu.


"Dit, kau harus ngerti aku, donk. Queen dia perjalanan bisnis dengan kak Al dan mempercayakan Alex padaku, kalau sewaktu-waktu dia menelfon atau pulang, bagaimana aku mempertanggung jawabkan ... "


Tanpa mau mendengar penjelasan Helena lebih lanjut, Aditya menjambak rambut itu dan memaksanya untuk pergi bersamanya.


Akhirnya mau tak mau Helana pun menurutinya saja. Tiba di hotel, Adit kembali melakukan kekerasan lagi pada Helena. Tidak terima diperlakukan seperti itu, Helena menghardik pria itu.


"Dit, apakah kau ini gila? Kenapa harus menyiksaku dulu saat melakukan hubungan?" tanya Helena di sela-sela desahannya yang sudah ditindih oleh Aditya yang berlaku garang bagaikan serigala kelaparan.


"Diam! Diam kau, jangan berkata-kata lagi, atau aku akan menamparmu lebih keras lagi."


"Dasar, pria sakit... Gila... Bodoh, kau. Aku heran bagaimana bisa istrimu memint rujuk denga. Suami macam kau ini. Kau ini memiliki kelainan!"


"Oh, ya? Benarkah begitu? Lalu, bagaimana dengan dirimu yang gagal move on dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Alex kembali, hah? Kau juga gila, Helena. Dan jalang gila seperti mu, pantas mendapatkan perlakuan seperti ini," teriak Aditya sambil memukuli dada Helena hingga memerah.


***


Helena segera memakai pakaiannya kembali dan pergi meninggalkan Aditya di kamar hotel yang masih terlelap. Terlebih ini sudah pukul tujuh.


Padahal tadi pamitnya pada Alex hanya sebentar mengambil flash disk di rumah yang lupa tidak terbawa.tapi, malah molor jadi empat jam.


Aditya sebenarnya sudah bangun lebih dulu, tapi, ia hanya ingin mengawasi Helena saja. Dan tersenyum miring saat melihat Helana berlari keluar kamar.


"Selagi kau belum bisa membuat Queen jadi milikku, maka kau akan terus jadi budak s**ks ku Helena," lirihnya seorang diri.


Sementara di rumah Alex hanya mondar mandir saja karena merasa sepi. Entah kenapa yang dia ingat malah hanya Queen saja sepanjang hari, terlebih saat Helena tidak ada.


"Queen. Kenapa aku merindukan mu. Apa benar kita ini sebenarnya saling mencintai? Lalu, bagaimana dengan Helen? Tidak mungkin, kan aku mencintai dua wanita sekaligus?" gumam Alex seorang diri.


Cukup lama pria itu mengalami konflik batin. Tapi, kenapa saat melihat Queen dia sangat muai dan benci, malah hanya Helena saja yang ia cari. Namun, saat dua wanita itu jauh darinya malah Queen yang terus menggelitik hatinya.


Tak lama kemudian Helana datang dengan beberapa makanan kesukaan Alex sambil tersenyum dan hendak memeluk Alex.


Namun pria itu lebih dulu melihat bekas ****** di leher gadis itu. Dan menahan tubuhnya agar menempel pada dirinya.


"Apa ini?" tanya Alex.


Hekena mendekikan matanya, ia lupa kalau dirinya baru saja melakukan hubungan dengan Aditya. Dan mungkin juga tidak hanya di leher saja, cupangan itu mungkin ada di mana-mana.


"Apa, Lex? Ini, ya? Bukankah ini perbuatanmu tadi sebelum aku pergi?" ucap Helena menutupi.


"Aku tidak merasa melakukan itu, Helena. Aku harus menyembunyikan dari Queen, kan selama kita belum nikah?"


"Lex, tadi kau begitu bernafsu setelah bangun tidur. Mungkin kau tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya. Apakah kau menuduh ku melakukan dengan pria lain?" ucap Helen sambil berlingan air mata.


Alex menjambak rambutnya sendiri, ia menghindari Helen dan berkata, "Kau benar, mungkin aku tadi tidak sadar. Maaf. Kalau bisa segera hilangkan sebelum Quen datang, atau dia akan melihatnya."


"Iya, Lex makasih, ya kamu dah percaya," ucap Helena sambil memeluk Alex dari belakang.

__ADS_1


'huh, tentu saja aku akan berusaha keras menghilangkan bekas ****** pria gila itu. Jika ini benar bekasmu, mana mungkin aku menghilangnya? Malah aku pertontonkan pada dunia. Agar semua tahu kalau aku adalah milikmu," batin Helen sambil menyeringai dalam pelukan Alex.


__ADS_2