
Al berdiam diri dalam pelukan Queen. Ia masih tidak mengerti
bagaimana bisa, wanita itu sampai kemari. Bukankah tadi, ia masih di rumah, dan masih dengan pakaian renang dan kesakitan?
“Syukurlah, Al. Kau baik-baik saja. Bagaimana bisa kau
kemari? Bukankah aku tadi memintamu untuk menenangkan Nayla dan menjelaskan,
kalau kita di dalam tidak melakukan apapun?”
“Aku yang bingung, bagaimana bisa kau datang ke mari?” tanya
Al balik. "apa telingamu sudah diobati? masih sakit, tidak?
“Martin tadi menelfonku. Kupikir kau sudah melakukan hal
bodoh yang bisa membahayakan nyawamu. Aku baik-baik saja."
Al tersenyum dan membalas pelukan Queen. Kemudian wajahnya
kembali suram ketika melihat Martin melintas di depannya.
Queen melepaskan diri dari pelukan Al begitu mendengar nada
dering dari ponsel yang ada di dalam tasnya.
“Aku keluar dulu, mengangkat telfon,” ujar Queen.
Sementara Martin langsung menggantikan tempat Queen untuk di
dudukki dan merangkul pundak Al.
“kau cari mati, ya?” Al menatap tajam kea rah Martin.
“Kau bisa tenang dulu, minum lah ini sedikit, agar pikiranmu
jernih.” Martin menyodorkan segelas wine pada Al.
Al meraih gelas itu dan langsung menegaknya hingga
setengah.
“Harusnya kau berterimakasih kepadaku, karena aku telah
mengundangnya kemari.”
“Terimakasih agar dia semakin membenciku karena mengetahui kebiasaan
burukku masih tetap berlanjut? Dia sebenarnya tidak suka pria perokok, apalagi
peminum. Yang ada dia akan makin susah move on dari dokter itu.”
“Apa kau tuli? Tidakkah kau mendengar kalau dia
mengkhawatirkan dirimu, hah? Kudengar semenjak dia kembali di rumah itu kau
tidak memiliki kesempatan selain melakukan dengan kilat di kantor. Heehehe. Ini
kesempatan, dia sedang dalam suasana seperti itu, pasti tidak akan menolak. Dan
sepertinya, dia juga mulai jatuh cinta padamu, Al.”
Al diam tidak menjawab, ia meraih sisha di depannya,
kemudian menghisapnya dalam-dalam menghembuskan asabnya ke udara memenuhi
ruang.
“Al, ada masalah di rumah sakit. Aku harus segera ke sana.
Kau jaga diri baik-baik, dan jangan banyak minum, ok.” Tiba-tiba saja Queen muncul.
Ia nampak tergesa-gesa. Namun, masih menyempatkan mencium kedua pipi Al.
“Kau mau ke mana? Biar aku antar!” seru Al sambil beranjak
mengejar Queen.
“Tidak perlu, aku membawa mobil sendiri. Kau pulanglah,
jangan biarkan maduku di rumah terlalu larut dalam kesedihan, bye!” teriak Queen.
Mendengar kata maduku terucap dari mulut Queen, sungguh
sangat konyol. Semua penghuni café tatapannya tertuju ke arah wanita berambut
pirang dengan tinggi badan kira-kira 167cm itu. Kemudian, mata mereka beralih
menatap Al.
“Harusnya mereka adalah pasangan yang sangat serasi,
ceweknya cantik, cowoknya juga ganteng. Tapi, kenapa si p nkria malah beristri
dua?”
“Mungkin wanita cantik itu tidak begitu ada waktu
melayaninya. Lihat saja penampilannya, dia sepeeti wanita karir yang cerdas.”
“Martin, kau yang harus bertanggung jawab atas gossip-gosip
ini. Aku harus mengejar istriku dulu.” Al pun berlari mengejar Queen dan masuk
begitu saja ke dalam mobilnya.
“Aku akan menjadi supirmu!”
Queen hanya tertawa, dan menurut saja duduk di sebelah
kemudi. Mereka pun pergi ke rumah sakit. Setiba di sana, dan sudah kelar
urusannya, ia pun kembali. Ke mobil dan berkata pada Al yang sedari tadi
menunggunya di dalam mobil, “Maaf, telah membuatmu menunggu lama.”
“Ada masalah apa memangnya?”
“Ada pasien yang sudah sepuh, dia di sini hanya dengan
pembantunya saja, anaknya berada di luar kota semua, dia maksa minta pulang dan
mengamuk.”
“Dan mereka memintamu untuk membujuknya, meskipun bukan jam
kerjamu?”
“Ya, seperti itulah. Karena yang pertama menangani dia saat
baru dirujuk kemari aku yang menerimanya. Para perawat menganggap aku mampu
mengatasinya.”
“Kau memang terbaik! Kemarilah!” Al membuka kedua tangannya
sambil tersenyum kea rah Queen.
Queen pun mendekatkan tubunhya dan menerima pelukan suaminya.
Walau ia memaksakan diri untuk tidak menyukai Al selama ini. Tetap saja tak
dapat dipungkiri, ia merasa nyaman berada dalam dekapan pria yang memeluknya
ini.
“Kita cek in, yuk!”
Queen diam tidak menjawab, ia melepaskan diri dari dekapan
Al. “Kamu tenangkan saja Nayla. Dia salah paham. Jangan biarkan ia berlama-lama
seperti itu, atau papa akan mengetahui hal ini di waktu yang tidak tepat.
“Baiklah, kita kembali. Tapi aku punya satu sarat.”
“Apa?”
“Nanti malam jangan kau kunci kamarmu, agar aku bisa masuk.”
Queen tersipu malu. Ia ingin berkata iya, gengsi. Krena
alasan awal dia tinggal kembali di sana juga suoaya Al tidak bisa menyentuhnya
lagi, kecuali mereka berada di luar rumah dan menyempatkan. Tapi, jika berkata
tidak… Sejujurnya dia juga sudah mulai terbiasa dan merindukan tubuh liat Al.
“Baik jika kau tidak menjawab, mungkin jawabannya nanti
malam,” ucap Al sambil menghidupkan mesin mobil dan melajukan kendaran menuju
rumah.
Queen mengertukan keningnya saat mobil memasuki garasi
rumah, ia melihat sekitar dan bergumam lirih, “Ini aneh. Kemana perginya
mereka?”
“Ada apa, Sayang?”
“harusnya papa dan kakek sudah tiba di rumah, kan? Tadi
ketika kita sampai, aku melihat mobil mereka meninggalkan parkiran. Teman-teman
tim medis lainnya juga tadi bilang, kok.”
“Mereka mungkin perlu refresing, biarkan saja. Ayo masuk!”
Al dan Queen berjalanan beriringan sambil keduanya mengobrol
dan bercanda. Sesekali juga terdengar tawa di sela-sela pembicaraan mereka.
Queen melihat Nayla ada di lantai atas tengah memperhatikan
__ADS_1
dirinya dan juga Al. Queenmemberi isyarat mata agar menghampirinya, sedangkan
dia, memilih masuk ke ruang baca. Sebab, jika ia mau ke kamarnya juga harus
menaiki tangga. Jika masuk ke kamar tamu yang di tempatin Al juga yang ada malah
timbul masalah baru.
Al sendiri sebenarnya sudah jengah dengan Nayla. Tapi, jika
dia tidak memberikan perhatian palsunya, kapan dia tahu, Queen benar-benar
cinta padanya? Dia tahu sekali bagaimana sifat Queen jika cemburu. Dia bukan
wanita kalem yang hanya mengalah dan menjauh memendam rasa sakitnya sendiri.
Tapi, mencari cara untuk menyingkirkan saingannya.
“Baiklah, kau istirahat saja. Jangan lupa nanti malam jangan
mengunci pintu kamarmu.” Al tersenyum penuh arti dan mengedipkan sebelah
matanya kea rah Queen. Kemudian ia menaiki tangga dan menghampiri Nayla.
“Maafkan aku, ya?” ucap Al kaku. Namun, matanya mengarah ke
Quee yang memperhatikan dirinya sambil memberi isyarat senyum dan mengacungkan
jempol.
Sebenarnya Al sangat jengkel dan ingin memakasn Queen saat
itu juga. Tapi, ia harus menjalankan perannya, membujuk Nayla dan lihat seperti
apa reaksi Queen selanjutnya. Apakah dia tidak merasa sakit hati karena
cintanya dibagi?
Al juga membalas senyuman Queen kemudian memeluk Nayla.
Lalu, Queen masuk ke dalam ruang baca dan menutup rapat pintunya.
Di sana Queen tertawa seorang diri, menertawai dirinya yang
bodoh. Bagaimana tidak? Bukankah dia membenci Al? tapi, kenapa tadi malah
menikmati pelukan pria itu? Bahkan, aku tadi yang memintanya untuk berdamai dan
menjelaskan semua pada Nayla. Tapi, kenapa hatinya terasa sakit?
Sementara Al mengajak Nayla bersantai di balkon sambil
mengobrol ringan, menikmati secangkir teh dan biscuit buatan bibi. Ia membatin,
‘Akan kulihat, bisa bertahan sampai kapan kau Queen. Mungkin jika hanya begini
tidak berefek padamu, mending aku tidur saja di kamar lamaku, dan mengajak
serta Nayla di dalam. Coba, kulihat, apa yang kau pikirkan nanti, jika
mendekati jam makan malam aku baru keluar kamar dengan muka bangun tidur?’
“Apa kau tidak mengantuk, Nay? Sepertinya aku kelelahan.
Tadi aku ditempat Martin.”
“Apakah Queen yang menyusul dan meintamu meminta maaf
padaku?”
“Iya, dia sangat peduli dengan kita.”
Nayla tersenyum getir. Ya, mungkin dia peduli dengan rumah
tangga kita yang sudah berantakan. Tapi,kau hanya mendengarkan dia saja, Mas.
“Ya sudah, kita tidur siang saja, Mas.”
Al bangkit dan berjalan mendahului Nayla masuk ke dalam
kamar duluan. Tiba di sana, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah
setahun lamanya dia tinggal. Nayla mengambil posisi berbaring di sebalah Al
dengan harapan pria itu mendekapnya dalam pelukan. Tapi, rupanya Al malah sudah
tidur lebih dulu. Nayla pun hanya bisa gelisah di sebelah Al. Begitu ia
mendengar napas Al teratur menujukkan kalau suaminya sudah benar-benar Pulas.
Nayla diam-diam memeluk tubuh pria itu dan meletakkan kepalanya di atas dada
bidang pria itu.
‘Ini sudah lama sekali, Mas tidak aku rasakan. Aku rindu
sekali padamu. Kau adalah kau, tak akan tergantikan oleh siapapun, Aku hanya
menjadikan Jevin pelampiasan saja selama ini. Menjadikan dia eman tidur untuk
memenuhi kebutuhan batin yang sudah lama tak kau berikan. Ada apa dengan mu
Nayla hingga keduanya sama-sama terlelap.
Sekitar pukul empat sore, Queen terbangun dari tidurnya.
Hamoir satu jam lamanya ia terlelap dalam keadaan duduk cukup membuatnya pegal.
Ia pun mengambil tasnya, dan keluar dari ruangan itu. Dari arah dapur tercium
aroma bumbu yang tengah di tumis. Rupanya bibi tengah memasak untuk makan
malam. Apakah Nayla sudah di sana untuk membantunya?
Queen segera menuju tangga dan menapakki anak tangga, di
pikirannya ia hanya ingin merebahkan tubuhnya sebentar kemudian mandi dan makan
malam. Baru saja kakinya menginjakkan lantai atas, Nayla keluar dari kamar
dengan raut wajah yang cerah. But wait, dia rambutnya basah? Apakah dia
keramas? Pikir Queen.
‘Dasar laki-laki. Dimana-mana sama saja. Bilangnya tak bisa
melakukannya dengan Nayla. Tapi, setelah satu kamar bersama keluar-keluar
rambutnya basah. Ngapin saja coba?’ umpat Queen seorang diri. Kemudian segera
masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Queen merebahkan tubuhnya dan menghela napas Panjang dan
mengehembuskan secara perlahan. Ian menikmati konflik batin yang cukup kuat. Jiwa jahatnya menghasut untuk
tetap membenci Al dan membunuhnya, agar populasi cowok munafik dan buaya di
muka bumi ini berkurang. Namun, jik\=wa baiknya tak henti membujuk, “Sudahlah!”
Kali saja rambut Nayla memang bau, jadi dia keramas, dengan harapan nanti malam
Al mau menggaulinya. Tadi, mereka tidak melakukan apapun.”
“Ah, sudahlah, lagipula, di mana ada kucing yang menolak
dikasih ikan asin? Layaknya harimau yang sudah beberapa bulan tidak makan. Pasti
dia sangat kelaparan.” Queen oun beranjak menuju kamar mandi.
Saat jam makan malam, Queen mendapati papa kakek dan juga Al
sudah lebih dulu duduk di sana. Ia terlalu lama berendam di bethup untuk
merilekkan pikirannya.
“Pa, kalian dari mana saja? Kapan kembali?”
“Papa sama kakek tadi ada urusan di luar, bagaimana
liburanmu?”
“Tadi aku sempat ke rumah sakit, Pa. Kata teman-teman kalian
baru saja dari sana.”
“Iya, Sayang. Oh, Ya, Al, mulai minggun depan papa akan
memegang perusaan garmen, kamu bisa urus interior kamu.”
“Baik, Pa.”
Al mengamati ekpresi wajah Queen sudah berubah saja. Ia
yakin, kalau Queen cemburu dan berfikir macam-macam tentang dia dan Nayla.
Tapi, Al pura-pura tidak peka dan tetap bersikap wajar di depan papa, Nayla dan
juga bibi pengurus rumah.
“Queen, walaupun tamggung jawab kakakmu sudah berkurang, kau
akan tetap sesekali ke kantor. Mungkin dia masih butuh bantuanmu untuk menemui
clien saja. Ia, kan, Al?”
“Benar, Pa.”
“Sama aja, bohong. Mana bisa aku meyakinkan clien tanpa menguasai
konsep yang ada dalam perusahaan? Itu masih tetap butuh ke sana untuk
mengerjakan sesuatu saja,” umpat Queen.
“Sudahlah, Queen, nikmati saja dulu, sampai kakakmu Al
__ADS_1
benar-benar menemukan orang yang cocok menggantikanmu,” timpal kakek Andrean.
“Dia gak niat cari orang, memang, Kek,” jawab
Queen sedikit ngegas.
Andrean dan Vano
saling menyenggolkan kaki masing-masing. Vano pun berbisik lirih pada papanya,
“Kenapa dia, Pa?”
“Coba saja tanyaakan pada Al, nanti.”
“Tadi dia kulihat tidur di kamar atas dengan Nayla.”
Andrean menunduk dan tertawa tertahan.
Usai makan malam, Andrean dan Vno berada di teras. Nayla
menemani Bilqis belajar di kamar putrinya. Sementara Queen, dia berada di
dapur, memakan kue coklat untuk mentrabilkan moodnya. Sedangkan bibi, ia masih
mondar-mandir sendiri membereskan sisa-sisa makan dari meja makan ke dapur.
Resiko rumah besar, beda dengan apartemen yang Queen tempati sebelumnya. Semua
serba minimalis, tapi nyaman.
Queen berdiri menghadap ke qitcen seet sambil memotong kue
yang barusaja diambilnya dari lemari es. Baru saja ia hendak memasukan sepotong
kue, sebuah badan tinggi besar mendekapnya erat dari belakang.
“Kau kenapa hari ini, Sayang? Sepertinya ini bukan tangal
menstruasi kamu. Masa PMS lagi?” goda Al dari belakang.
“Lepaskan tanganmu, dan menjauhlah kau dari tubuhku, atau,
aka nada yang lihat nanti.” Queen berusaha meleoaskan kedua lengan Al yang
melingkar di pinggangnya.
“Kalau aku tidak mau, gimana?” bisik Al sambil menciumi
leher dan pipi Queen dari belakang.
“apa kau sudah gila?”
“Ya, dan akan kutunjukan kegilaanku nanti malam padamu.
Ingat, untuk tidak mengunci pintu.”
“Al, Bibi kemari,” ucap Queen saat melihat bayakan wanita di
dari microwife .
Al menoleh ke belakang, ternyata Bena. Bik Yul tengah berdiri
dengan nampan berisi pipirng dan mangkuk dari meja makan. Al menyeringai,
kemudian dengan gerakan cepat diputarnya tubuh Queen menghadap dirinya. Pria
itu meludahi dua ujung jari, telinjuk dan jari tengahnya dan memasukkannya
kedalam mulut Queen dan berbisik, “Kau harus menelannya, awas saja jika kau
mutahkan.”
Queen memasang wajah masam sambil memperhatikan punggung Al
yang menjauh dari pandangannya. Ia sebal, namun menikmati perlakuan Al baru
saja.
Queen tidak mengubris ancaman Al. Mau apa dia? Pasti yang
dilakukan padanya ya itu-itu saja. Dia tidak akan melukai, apalagi mengancam
fisiknya, kan. Dengan cepat wanita itu menuju ke tempat cuci piring dan
memutahkan semuanya.
“Dasar kau Al.”
Bibi yang melihat adegan di depannya kian merasa janggal.
Dalam hati ia juga menjadi kasihan pada Nayla yang diselingkuhi. Tapi, kenapa
tuan Al harus begitu sama adiknya? Bukankah ini hubungan sedarah? Wajar jika
non Nayla cemburunya berlebihan pada iparnya, memang suaminya begitu.
“Kenapa, Bi?” tanya Queen yang mendapat pandangan aneh dari
asisten rumah tangganya itu.
“Eh, tidak, Non. Itu, kuenya, kok tidak di makan.”
“Saya gak mood lagi, Bi.” Queen pun pergi ke kamarnya. Ia
yakin, bik Yul tadi pasti melihatnya. Jika tidak, kenapa pandangannya jadi
seaneh itu?
Tiba di kamar, Queen langsung mengunci pintunya dan
membiarkan kuncinya tetap menempel. Dengan begitu, sekalipun Al memiliki acces
key juga tak bisa membukanya.
“Kau pikir aku ini, apa? Setelah meniduri yang sana, mau
meniduriku?” gumam Queen seorang diri, dan kemudian ia rebahan sambil
menyelakan leptopnya. Sebab, besok dia dapat bagian piket pagi di rumah sakit.
Ia harus menyiapkan semuanya mala mini dan tidur lebih awal supaya tidak
kesiangan. Ia juga berencana menyiapkan bekal untuk sarapan. Sebisa mungkin dia
menghindari untuk bertemu dengan Al.
Al menghabiskan waktu luangnya ngobrol bersama papa dan
kakeknya di halaman depan. Ketiganya bercengkrama menceritakan apa saja yang
sudah terjadi selama ini, tanpa terasa sudah larut. Waktu sudah menunjukkan
pukul 22.30.
Al pun berpamitan hendak tidur lebih awal, ia tidak masuk ke
kamar Nayla. Melainkan kembali tidur di kamar tamu yang selalu is tempati. Di
mana pun juga tidak masalah, yang penting bia tidur dengan nyenyak sepanjang
malam. Tapi, Al tidak langsung tidur, ia menunggu kesempatan untuk bisa naik
dan masuk ke kamar Queen.
Melihat ke atas kamar Nayla juga sepertinya sudah gelap.
Nampak taka da aktifitas di sana, kecuali jika dia telfonan atau chat dengan
pacarnya, siap yang tahu batin Al.
Setengah jam sudah Al menunggu, ia kelua membuka pintu
perlahan setelah memastikan papa dan kakeknya sudah tidur, ia berjalan menaiki
tangga dengan sangat pelan, sebisa mungkin ia tidak menimbulkan suara.
Dengan sedikit tergesa-gesa Al menarik ganggang pintu kamar
Queen. Tapi, sayang, pintu itu terkunci. Beruntung dia tidak lupa membawa kunci
cadangan yang dia miliki. Namun rupanya juga nihil, tidak bisa dibuka. Al
berjalan menuju balkon, ia menelfon Queen meminta untuk membukakan pintu
kamarnya. Tapi, sudah lima kali tidak juga di balas. Chat juga tidak dibuka.
“Sialan!” umpat Al sambil meninjukan tangannya pada pagar
balkon. Dengan rasa jengkel, marah dan emosi ia pun kembali turun masuk ke
dalam kamarnya.
Sebenarnya Queen pun juga masih terjaga. Dia masih chat
dengan Shinta dan juga Gea. Gea menceritakana kalau ia akan segera dilantik
menjadi dokter, sementara Shinta, lebih menjadi pendengar saja. Queen banyak
mencurhatkan apa yang dirasakannya terhadap Al. Tapi, ia bilang, jika memang
jatuh cinta tak masalah tapi, tak mungkin memilikki anak darinya.
“Memang kenapa, Queen? Kamu kok aneh?”
“Entahlah, ada hal yang belum bisa aku ceritakan padamu,
Shin. Bagaimana kalau besok kita keluar?”
“Kemana? Mumpung aku masih ada libur, loh.”
“Kemana saja, jemput aku sepulang kerja ya, mungkin jam
duabelas lewat limabelas menit aku sudah keluar.”
“Baiklah, sekarang kau tidur, selamat malam.”
__ADS_1
“Bye, selamat malam,” tulis Queen ia pun meng off kan
ponselnya.