Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 133


__ADS_3

"Cepat habiskan makananmu, habis ini kita jalan, yuk!" ucap Al pada adiknya.


"Mau ke mana memang kak?" udah ayo ikut saja, cepat habiskan makan mu!" seru Al.


Sementara Queen hanya mengaduk-aduk mie nya yang tersisa setengah. Ia hanya menjalani ayam dan sayurnya saja lalu berkata pada sang kakak, "Tapi, aku sudah sangat kenyang."


"Habiskan makananmu dulu, atau kita akan tetap di sini sampai kau bisa menghabiskannya," ancam Al dengan raut wajah serius.


"Kalau sampai besok gimana?" jawab Queen menggentarkan niat Al.


"Emang kamu ga akan makan malam? Itu pokoknya habiskan."


"Aku benar-benar kenyang nih kak gak bisa. Kakak mau bantu aku menghabiskannya, kita bagi dua saja,"  sisi licik gadis itu pun mulai muncul sambil tersenyum sehingga Al tak mampu menolaknya.


"Ok, baiklah. Sini! Kakak siapin kamu," ujarnya sambil menyorongkan mie pada sumpit di depan mulut Queen.


Dengan senang hati Queen membuka mulutnya dan mulai mengunyahnya. Namun, mendadak kunyaahan itu melambat dan berhenti, Queen menunduk menyembunyikan air matanya yang menetes. Ia teringat dengan Alex. Lelaki yang selalu memaksanya makan banyak sampai habis hanya dia. Lelaki yang rela menyuapinya dan menghabiskan sisa makanannya juga cuma dia saja. Tapi, kenapa tiba-tiba Al bersikap demikian?


"Tidak, kakak tidak tahu kebiasaan Alex yang satu ini. Hanya aku dan dia saja yang tahu," bisik Queen dalam hati. Bahkan ia pun kian tak mampu menyembunyikan isakannya.


"Queen, kamu kenapa sayang?" tanya Al bingung.


Sementara Queen masih tetap menunduk sambil menggelengkan kepalanya. Punggungnya bergetar siring dengan isakannya.


Al meletakan mangkuk yang dipegangnya lalu berdiri di sebelah Queen dan mengusap punggung adiknya agar berhenti dari tangisannya.


"Maafin kakak ya? Ya sudah kalau kamu memang gak habis gakpapa. Jangan nangis lagi tapi ya?" lirih Al merasa bersalah. Entah kenapa melihat Quen menangis tiba-tiba saja di dalam dadanya terasa sesak dan sakit. Padahal ini bukan pertama kalinya ia melihat adiknya seperti ini.


Queen masih diam tidak menjawab, ia berusaha menguasai dirinya dan melupakan bayangan Alex.


"Sudah, ini tidak berguna. Kau masih punya kakak dan sahabat seperti Al dan Diaz yang baik dan peduli padamu, Quen." Batin Quen.


"Kita pergi saja dari sini. ayok kita ke tempat yang kakak janjikan tadi!" Seru Al sambil menarik pelan lengan Queen yang bahkan lingkarnya kian mengecil saat ia genggam.


Queen berdiri dan berjalan bersama kakaknya, tanpa sepatah kata pun.


Tiba di mobil Al kembali meminta maaf pada adiknya.


"Maaf jika kakak tadi terlalu memaksa kamu, kakak pikir kamu makan terlalu sedikit sampai kamu kurus begitu," ujarnya.


"Kakak gak salah, kok. Aku aja yang tiba-tiba ingat Alex. Selama ini cuma dia orang yang selalu memaksaku untuk menghabiskan makanan," jawab Queen sambil terbata-bata.


Al tidak berkata apapun. Ia memeluk erat Queen dan terus membisikan kata maaf yang seolah tiada pernah habis.


"Kita ke Mall aja yuk!" Al menyudahi pelukannya dan mengecup kening Quen lalu mulai menyalakan mobil.


Tiba di maal Al membelikan Queen satu ice cream cone lalu mengajaknya bermain di time Zone.


Queen mulai tersum membuat hati Al pun ikut senang dan keduanya pun bermain hingga puas dan lupa waktu. Hampir semua permainan yang ada mereka coba. Mulai dari lempar bola basket, Memancing boneka, dan Maximum Tune yang jadi favorit keduanya. Padahal bukan penggemar K-Pop. Tapi, Queen tampak lincah dan mahir memainkan kakinya seperti orang dance.


Jam tiga sore keduanya keluar dari area Timezone. Al mengajaknya dulu ke food court. Ada pertemuan mendadak dengan salah satu kolega bisni.


Cukup lama keduanya menunggu. Tapi, yang ditunggu tak kunjung datang. Katanya terjebak macet dan ini sudah mulai masuk area mall.


Lima menit kemudian Queen merasa ada yang tidak beres dengan perutnya. Rupanya ada panggilan alam. Ia pun pergi ke toilet dan menutupkan tas nya pada Al. Saking teledornya gadis itu bahkan meninggalkan ponselnya di atas meja.


Beruntung Al segera sadar, ia pun meraih dan mengambilnya. Al tersenyum saat melihat wallpaper di ponsel itu, foto Quen yang baru saja" diambil saat berpose memakan ice cream yang dia belikan tadi.



Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Diaz. Entah kenapa tiba-tiba ia penasaran apa yang dibicarakan saat ngobrol via chat.


Tidak ada caption apa-apa yang ditulis pria itu. Ia hanya mengirimkan gambar salah satu potongan ayat Alquran yang Al tidak tahu apa artinya. Karena penasaran, Al menscrol ke atas, melihat obrolan mereka lebih jauh. Sampai ke chat pertama yang dikirmkan Quen lebih dulu hari ini. Ia mengirim foto bubur ayam dan secarik kertas yang memanggil dirinya dengan panggilan tuan putri.

__ADS_1


Al membaca obrolan mereka berdua tarkesa. Sederhana tapi, dari obrolan itu Al dapat menilai kalau Diaz ada rasa pada Quen, dan Quen sendiri sepertinya juga demikan.


Diam-diam ia menyesal saat Quen ambil keputusan ingin cerai sama Alex. Jika saja ia tahu kalau seperti ini, pasti juga akan mengizinkannya.


Tak lama kemudian Queen dan orang yang ditunggunya datang bersamaan.


Al dan koleganya mengobrol sementara Queen memainkan ponselnya. Ia membuka ke chat dan menyadari kalau Diaz mengirim foto dan sudah dibuka. Ingin ia menanyakan tapi, tidak mau menyela pembicaraan mereka. Jadi, ia pun menundanya bahkan sampai rumah pun Queen sama sekali tidak ingat sama sekali.


🍁 🍁 🍁 🍁


Tiba di rumah, Nayla segera memandikan Bilqis, saat di kamar mandi rupanya bocah itu penasaran dengan hubungan mama dan temannya itu.


"Mama, om Jevin sangat baik mau mengajak kita jalan. Tapi, kenapa tidak boleh cerita sama papa?" tanyanya polos.


"Karena perempuan yang sudah menikah tidak boleh jalan sama laki-laki lain, sayang. Nanti suaminya bisa marah." Nayla terus menyantuni tubuh Bilqis dengan lembut dan telaten.


"Oh, begitu ya, Ma?  Tapi, kenapa om Alex tidak marah saat Tante Queen ada jalan sama om Diaz? Apa bedanya papa dan mama?"


Rupanya jawaban Nayla tadi menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Secara tidak langsung ia mengajarkan putrinya untuk memiliki hubungan gelap dengan pria lain. Meskipun ia menganggap Jevin adalah sekedar teman, tapi itu ia lakukan juga sembunyi-sembunyi dari Al, kan?


"Nak, apakah kau sayang sama papa Al?"


"Iya, kenapa tidak? Papa baik meskipun jarang ada waktu dirumah dia sayang sama Bilqis. Apakah mama sudah tidak sayang sama papa dan suka sama om Jevin yang selalu telfon mama?" Tanya bocah Lima tahun itu dengan polos.


"Jika kau sayang sama papa, gak boleh bahas om Jevin di saat di rumah apalagi saat ada orang lain, sebeb, om Jevin dan papa itu lawan bisnis. Kau mengerti?"


"Mengerti, Ma. Lalu, kalau mama mengerti demikian kenapa mama masih mau berteman dengan orang yang menjadi lawan papa?"


"Kau masih terlalu kecil untuk mengerti, sekarang ayo mandi dan tunggu kedatangan papa, ok."


Dalam hati Nayla berkecamuk berbagai hal. Pikirannya bercampur aduk jadi satu. Khawatir anaknya mengecap dirinya sebagai wanita penghianat dengan mencari kesenangan sendiri di luar dengan pria lain. Dan lagi, selama ini Bilqis juga tidak tahu kalau Al adalah ayah tirinya dulu saat ia menikah dengan Al usia Bilqis baru satu tahun setengah Masih sangat kecil dan belum paham. Dan jelas ia tak ingat apa-apa.


Nayla menghela napas panjang, membatin ini tidak akan sampai terjadi kalau mas Al sedingin ini. Tidak ada perhatian. Urusan ranjang pun sebulan sekali belum tentu. Kesibukan telah merubahnya.


Nayla membaringkan tubuhnya di tepi ranjang. Setelah seharian jalan ia lumayan kelelahan. Sebenarnya dia senang, sekaligus bahagia tadi, tapi, begitu menerima pertanyaan dari putrinya, Bilqis seolah pertemuannya kini justru menjadi beban karena ia merasa menjadi orang tua yang tidak baik.


Terdengar suara teriakan Bilqis dari bawah. Artinya Al pun juga sudah tiba, sebab tadi ia pamit kalau ia akan menemani Queen melihat gedung yang akan dijadikan acara pernikahan Alex besok.


Meski sedikit pusing, Nayla memaksakan dirinya untuk turun kebawah menemui suami dan adik iparnya. Dari atas ia melihat Bilqis memeluk boneka panda besar dengan penuh keceriaan.


"Mama, lihat apa yang Tante berikan padaku? Bagus, kan?" ucapnya penuh keceriaan.


"Oh, iya... Gede banget bonekanya. Uda bilang Terimakasih belum?"


"Sudah, dong."


"Kakek di mana, Kak?" tanya Queen.


Oh, dia sejak pagi tadi ada di rumah dekat kolam bersama Diaz dan Hanifah. Hari ini Diaz libur, ia akan menemani kakek bermalam di sana.


Queen mengangguk tanda paham. Merasa orang yang ingin ia temui tidak ada, ia pun berpamitan hendak pulang ke rumah.


"Kak, kakek kan tidak ada, aku pulang sekarang aja, ya?" ucap Queen pada Al.


"Kenapa gak makan malam di sini saja sekalian?"


"Gak mau, aku gak enak seharian keluar, kak."


Al menghela napas panjang. Lalu, ia pun memilih untuk mengalah saja pada adiknya yang memang sangat keras kepala.


"Ya udah, ayo aku antar, besok pagi kakak jemput kamu tetap kerja, gak boleh nolak kerajaanmu banyak!" seru Al dengan suara jutek.


"Biarin aku gak mau pokoknya,"

__ADS_1


"Sudah, ayo! Jadi pulang tidak?" ujar Al pada Queen.


"Iya, ih." Kesalnya.


"Kak, Nay aku pulang dulu ya. Gak enak soalnya. Tadi pagi aku dirumah mertua dulu dan siangnya lihat gedung sama sekalian ketemu kolega bisnis kakak tadi," pamit Queen sambil memeluk dan mencium kedua pipi Nyala.


"Iya, lain kali kalau ada waktu kemarilah, ya," jawab Nayla.


Usai berpamitan pada Nayla dan Bilqis Queen pun akhirnya pulang di antar oleh kakaknya.


Di jalan, tiba-tiba Al membahas soal pernikahannya dengan Alex.


"Quen, dulu bukanya kamu bilang Ining cerai sama Alex, jadi?"


"Aku bingung, kak. Kita lihat saja sejauh mana aku mampu bertahan, jika tidak ya sudah. Untuk apa aku memperjuangkan hubunganku sendiri m namanya berjuang itu ya bersama."


"Kakak akan selalu dukung keputusan mu andai kau memilih perpisahan."


Queen tersenyum sinis. "Kemarin, bahkan kau melarangku. Siapa sih yang adikmu? Aku, atau Alex?"


"Udah jangan ngambeg gitu, maafin kakak, ya?" Tangan kiri Al menarik Queen yang tak mengenakan sabuk pengaman dalam pelukannya. Sementara tangan kanannya fokus dengan stir.


🍁 🍁 🍁 🍁


Sementara di sisi lain, saat menjelang senja, Kakek Andrean, Hanifah dan juga Diaz berada di sebuah rumah sederhana dekat kolam pemancingan.


Rumah ini sebenarnya milik mendiang Vivian dari pada dibiarkan nganggur, Andrean dan kakaknya, Andreas. Memiliki ide membuat kolam di belakang rumah untuk mengisi kekosongan mereka sambil memancing agar tidak suntuk. Tapi, siapa sangka saat mereka semua akan pergi ke Prancis kecelakaan itu merenggut nyawa keduanya. Bahkan, dari kecelakaan itu Clara dan Vano telah koma hingga saat ini. Keduanya sama-sama belum sadar.


Andrea menyeka air matanya yang mulai menetes. Berusaha menenangkan diri dan menguatkan hati. Bahkan, ia memiliki keinginan untuk tinggal di sini sendiri. Tapi, sepertinya Al dan Queen tidak akan menyetujui keingannya itu.


Pria tua itu berjalan menghampiri Hanifah yang tengah menyapu, ia tersenyum melihat sisi rajin dan feminimnya gadis itu.


"Hanifah, kau pulanglah. Mobilnya kamu bawa tidak apa-apa, besok soal aku dan Diaz gampang deh, Al bisa jemput kami di sini."


"Gak mau, di rumah cuma ada kak Al dan kak Nayla doang," jawab gadis itu sambil meneruskan pekerjaannya.


"Memang kenapa kalau tidak ada kakek, Han? Bukankah kau sudah akrab dengan kak Nayla?"


"Gak mau pokoknya. Kecuali Diaz ikut di sana tidur di kamar Hanifah, Kek," jawab gadis itu sambil cengar-cengir tak jelas. Sikap konyolnya bahkan sedikitpun tidak hilang juga.


"Kamu anak gadis, jangan di sini, ya. Gak baik."


"Kan ada kakek, memang kenapa kalau ada Hanifah di sini, kek? Pokoknya Hanifa mau sama Diaz aja "


Andrean menghela napas dalam-dalam. Tidak Quen tidak Hanifah, semuanya sama keras kepalanya.


"Ya sudah. Tapi, jangan berulah Lo, ya."


"Ah, tidak bisa janji takut khilaf kek," jawab Hanifah lagi lalu ia pun pergi meletakan sapunya.


Malam itu Hanifah menempati kamar bekas tantenya dulu. Semua sudah banyak yang berubah. Vivian sengaja merenovasi rumahnya agar tak lagi mengingat mendiang suaminya. Sebab, jika dia teringat, hanya kesedihan saja yang ada dalam hatinya.


Sementara Andrean dan Diaz duduk di teras depan rumah.


"Kau tahu Diaz, ini dulu adalah rumah mendiang istriku. Setelah aku menikah dengannya rumah ini kosong. Tapi,karena kami masih sering ke sini untuk membersihkannya, dia selalu saja sedih karena ingat dengan mendiang suaminya. Atas permintaan dia sendiri aku merombak total rumah ini mengganti prabot lama dengan yang baru. Dan atas ide kakakku juga halaman belakang yang luas itu kami jadikan kolam ikan. Tapi, semua ini cuma jadi kenangan saja. Aku gak menyangka kalau mereka akan pergi secepat itu dalam keadaan yang tak pernah kami duga sebelumnya. Dan bahkan anak-anak kami, Clara dan Vano masih terbaring tak berdaya di antara hidup dan mati di ICU."


Andrean menunduk, menyembunyikan air matanya.


"Kakek, yang sabar, ya? Kita doakan saja nenek dan kakek Andreas tenang dalam kuburnya. Dan juga om sama Tante segera sadar dan bisa bersama lagi," ucap Diaz sambil mengusap punggung Andrean.


Pria itu lebih banyak mendengar daripada berkomentar sebab, ia bingung harus berkata apa. Ia tahu persis bagaimana sakitnya kehilangan orang-orang tercintanya.


"Oh, besok kau datang pada acaranya Alex, tidak?" tanya Andrean mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


Diaz hanya diam tak langsung memberikan jawabannya.


"Saya, ya kek?"


__ADS_2