Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 63


__ADS_3

“Selamat siang, Bu,” sapa seorang pria tua dari balik pintu.


Pria yang sudah membuat janji sejak setengah jam yang lalu, dia datang tidak


sendiri, melainkan bersama seorang wanita cantik dengan pakaian serba hitam,


wajahnya terlihat kalau dia sangat tegas dan cekatan. Bodyguardnya, kah? Batin


Queen saat melihat wanita itu.


“Selamat siang, Pak. Mari silahkan masuk,” ucap Queen


mempersilahkan dua orang itu masuk dan duduk di dalam ruangannya.


“Maaf, Bu. Jika kemarin saya hanya bisa datang sebentar karena


berbenturan dengan jadwal kunjungan saya diberbagai rumah sakit lain yang juga


ada fasilitas konseling dan kejiwaannya. Saya ke sini bersama anak buah saya


ingin mengucapkan selamat pada ibu Queen, atas berdirinya klinik PERMATA


BUNDA’’ ini secara pribadi,” jawab pria itu dengan sangat santun membuat Queen


yang usianya jauh lebih muda darinya jadi merasa tidak enak sendiri saja.


“Terimakasih banyak, Pak. Anda tidak perlu berlebihan


begitu,” ucap Queen.


“Sebagai ucapan selamat saya, saya telah menyumbang dalam


klinik ini sebesar seratus juta rupiah. Karena alat-alat dan fasilitas di sini


sudah lengkap, mungkin pada dana saja bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain.


Saya tahu, untuk ibu uang segitu bukanlah apa-apa. Tapi, saya memberikannya


dengan sangat tulus, Bu. Mohon diterima.”


Queen lumayan terkejut juga, mendengar jumblah nominal yang


diberikan oleh pria itu, bagaimana bisa ia menyumbang dana segitu besar. Kalau


ini investasi tanam saham mungkin masih masuk akal. Tapi, ia memberikannya


dengan Cuma-cuma sebagai ucapan selamatnya. Atau bisa juga disebut dengan


hadiah. Queen jadi berfikir, apa sebenarnya hubungan dokter Darto dengan


suaminya. Dia usianya lebih tua, tapi terlihat sangat respect sekali pada


suaminya.


“Dokter Darto, apakah saya tidak salah denger? Uang seratus


juta anda berikan pada saya tanpa beban, seperti hanya member uang seratus ribu


rupiah saja. Ini terlalu besar bagi saya,” jawab Queen. Karena ia juga tahu,


kalau kemarin ia sudah menyumbang rangkaian bunga papan sampai empat buah.


Pasti sudah sangat banyak sekali uang yang dikeluarkan olehnya.


“Mohon kiranya anda terima, Bu. Ya sudah, saya kemari hanya


mengatakan itu saja. Saya masih ada hal yang akan diurus. Jadi, kami berdua


permisi dulu, Bu.”


“Terimakasih banyak, Pak,” jawab Queen sambil menjabat


tangan pria tua itu dan juga Karin, dan wanita itu mengantarkan tamunya sampai


depan pintu ruangannya setelah mengucapkan banyak-banyak ucapan terimakasih.


Setelah tamunya pulang, Queen hanya geleng-geleng kepala


saja. Tapi, ia sudah tahu, mau dikemanakan dan akan digunakan untuk apa uang


tersebut. Jelas untuk menambah pemasukan obat di kliniknya nanti, anggap saja


itu sebagai ganti para pasien yang tidak mampu yang dia gratiskan, dan


kebetulan sakit yang diderita lumayan serius dan membutuhkan obat-obatan mahal.


Setelahnya, ia langsung menelfon suaminya yang kini juga


mungkin tengah sibuk dengan banyak pekerjaan di kantornya untuk memberitahukan


ini.


“Halo, Sayng. Tumben menelfonku di jam kerja. Apakah ada


masalah?” jawab seorang pria dari seberang setelah panggilan diangkat.


“Tidak, tidak ada masalah sama sekali. Apakah kau sedang


sibuk?” jawab Queen dengan hati-hati. Ia takut menganggu Al. tapi, ia tidak


bisa menahannya lebih lama.


“kebetulan tidak. Aku baru saja selesai mengecek beberapa


proposal dan menandatanganinya. Kau kangen sama aku?” jawab Al dengan nada


suara yang terkesan menggoda.


“Apaan, sih?” jawab Queen malu-malu, seketika wajah wanita


itu bersemu merah. Akibat malu dengan godaan suaminya sendiri.


Sementara Al, hanya tertawa saja dari balik telfon itu. tawa


yang terdengar sangat renyah sekali membuat Queen seolah kian sayang dan nyaman


saat bersamanya, walau sekedar lewat telfon.


“Baru saja pak Darto kemari bersama bodyguardnya, dia


mengucapkan selamat padaku atas beroprasinya klinikku ini secara pribadi dan


memberi hadiah berupa dana seratus juta rupiah, Al,” ucap Queen. Walau nadanya


biasa saja. Tapi, wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaan kaget, dan


bahagianya atas ini.


“Oh, kirain seratus juta dolar amerika sayang,” jawab Al


bercanda sambil tertawa.


“Al… kamu kok gitu, sih? Aku serius, ini!” seru Queen kesal.


“Aku juga serius sayang. Gak apa-apa. Terima saja, di aitu


orang kaya yang menyamar saja, hehehe,” timpal Al sambil terkekeh. “makan siang


di luar, yuk! Aku jemput kamu,’’ imbuh Al.


“Boleh. Jadi, cepat kau jemput aku sekarang,” ucap Queen. Ia


tak peduli, meskipun ini belum jam istirahat kantor. Tapi, setidaknya, Al bisa


saja dikatakan sebagai owner di dua perusahaan tersebut. Jadi, ia bisa kabur


dari kantor sewaktu-waktu kapanpun diam au. Apalagi jika perginya dengan Queen,


yang juga dapat dikatakan salah satu iwner, karena Al dan Queen memiliki hak


dan bagian yang sama dari apa yang ditinggalkan oleh orang tua mereka.


***


 Setelah keluar dari


klinik milik Queen, pak Darto menghubungi Bondang menanyakan rencana yang akan


dijalankan Bondan sudah sejauh mana.


“Bondan, bagaimana?”


“Ini saya masih memantau Mr. Akhiram Boss.”


“jangan panggil dia dengan sebutan itu di sini. Itu sangat


membahayakan keselamatannya. Dasar Bahlul!” bentak pria tua itu, kesal.


“Oke, pak Al saja kalau begitu,” jawab Bonda ketakutan.


“Cepat jalankan! Jangan menunda-nundanya lagi, ini aku


bersama Karin baru saja keluar dari klinik bu Queen memberi ucapan selamat


secara pribadi.”


“Baik, ya sudah, tunggu kode dari saya saja, Boss. Saya lihat


pak Al keluar meninggalkan perusahaan.”


“ya sudah, buntuti, usahakan saat ini juga berhasil, oke!”


“Saya akan berusaha melaukan yang terbaik untuk anda, Boss.”


“Bagus!” pria tua itu pun mkematikan panggilannya dan


berganti menelfon Al, membuat janji bertemu nanti di suatu tempat.


“Halo, pak Al. apakah kau hari ini ada waktu untuk bertemu


dengan saya?” ucap pria itu setelah mendapatkan jawaban dari big bossnya.

__ADS_1


“Mungkin bisa nanti jam satu di kantor, bagaimana?”


“Baik, Pak. Ada yang akan saya bahas dnegan anda.”


“Apa?”


“sebagian kecil dari permainan. Lebih tepatnya, peran anda


sangat-sangat kami butuhkan untuk itu.”


“Oke, baik.”


“Hahaha, Karin. Kau sudah tahu apa tugasmu, bukan?”


“Iya, Tuan. Bondan sudah beri tahu saya,” jawab wanita itu


dengan tegas sambil mengemudikan mobil.


“Hahaha. Kalian berdua adalah yang terbaik,” puji pak Darto pada


dua bodyguard pilihannya. Sementara Krin masih saja memasang muka datar dan


dingin. Sepertinya itu memang sudah jadi ciri khas wanita berusia duapuluh


delapan tahun tersebut.


****


Lyli bersandar sambil mengurut keningnya sendiri dengan


lembut. Tiba-tiba saja, sebuah panggilan berhasil menderingkan ponselnya yang


ia letakkan diatas meja.


“Halo, ada apa Bondan?”


“saya melihat Al di sebuah restoran. Dia sepertinya mau


makan siang,” jawab Bondan dari balik telefon. Membuat Lyli membuang napas


dengan kasar. Memang menyebalkan sekali apa yang Bondan katakana. Namanya saja


di Restoran. Kalau tidak mau makan, masa iya, mau isi bbm mobil, kan gak


mungkin?


“Iya, terus? Dia sendiri apa bagaimana?” tanya Lyli dengan


nada kesal.


“Dia bersama Queen. Mereka terlihat sangat mesra sekali.”


“Sialan! Cukup katakana saja dia bersama ****** itu, jangan


ceritakan itu padaku!” bentak Lyli. Dadanya terasa seolah mau meledak saja.


“Memang itu faktanya, Nyonya. Sepanjang jalan Al terus


memeluk dan sesekali menciumi pipi istrinya. Ini tempat umum, loh. Bagaimana


jika di dalam ruangan berdua saja?” Sepertinya Bondan memang sengaja


memanas-manasi Lyli dan memancing emosi wanita itu. jadi, berlagak **** adalah


yang tepat untuk menyamarkan niatannya itu.


“Tutup mulut kamu! Cepat kirimkan alamatnya padaku di


restoran mana dia sekarang!” ucap Lyli dengan kesal lalu mematikan


panggilannya.


Dengan segera Lyli masuk ke dalam kamar. Dipilihnya baju terbaik,


ia padukan dengan tas, serta sepatu yang kiranya nampak serasi. Tak lupa juga,


wajah ia poles dengan mekap.


Tunggu, dia berdandan natural banget, mulai dari eye sidow,


blas own, serta warna lipstick yang digunakan juga warna-warna natural.


Benar-benar seperti yang Queen pakai. Mungkin benar, jika seorang yang katakana.


Jika ada orang lain benci pada seseorang tanpa sebab ituadalah iri. Sebernarnya


teropsesi ingin seperti itu tapi, tidak bisa. Gaya dia berpakaian, tas yang dia


bawa serta sepatu juga mirip modelnya dengan yang dimiliki oleh istri sah dan


satu-satunya dari pria yang dia taksir.


Setelah di rasa sempurna, barulah Lyli mulai keluar


meninggalkan rumah menggunakan mobil brio miliknya warna merah. Diikutinya


petunjuk dari google map yang tadi Bondan kirimkan padanya melalui via WA.


Merasa khawatir Al sudah tidak ada di sana, karena ia


berdandan. Ia kembali menghubungi Bondan dan menyakan, apakah Al masih berada


di temat yang sama, atau sudah pindah.


“Halo, Bondan. Aku ada di jalan. Apakah Al masih ada di


sana?” tanya Lyli setelah panggilannya dijawab.


“Iya, benar, Nyonya. Saya masih terus mengawasinya.


“Oke, baiklah. Awasi terus. Jika dia pergi, ikuti dan kabari


aku,” ucap Lyli kemudian mematikan panggilannya dan melemparkan benda pipih itu


ke atas dashboard mobil. Dan ia kini hanya fokus pada jalan saja. Karena ia


mengemudikan kendaraanya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


 Jarak tempuh yang


harusnya ia tempuh selama tiga puluh menit dalam kecepatan Normal, Lyli hanya menempuh


dengan wakru tujuh belas menit saja. Mungkin yang ada di kepalanya hanyalah Al


Al dan Al saja. Jadi ya bgitu itu. tak peduli, sudah berapa kali saja dia


menerobos lampu merah dan hampir menabrak berapa mobil saja tadi slama di


jalan. Yang penting dia tiba tepat waktu, dan tak kehilangan jejak Al.


Sesampainya di sana, Lyli mendapati Al dan Queen sudah


keluar dari Restoran tersebut. Keduanya terlihat seperti tengah mengobrol. Tak


tahu apa yang mereka bicarakan, kelihatannya serius. Tapi, setelah Lyli amati,


sepertinya Queen ingin kembali sendiri, dan menolak Al mengantarkannya. Mungkin


karena suaminya ada urusan dadakan dan takut itu akan membuat suaminya sedikit


keteteran dan terganggu. Akhirnya, sebuah taxi berhenti, dan wanita itu masuk


ke dalamnya sambil melambaikan tangan. Sementara Al, ia merogoh saku celanya


mengambil kunci mobil dan berputar arah menuju ke mobilnya yang dia parkiran


setelah taxi yang Queen naiki sudah lenyap dari pandangannya.


Lyli menguntit mobil Al sampai ia tiba di perusahaan.


Sesampai di sana, ia juga termasuk cerdik juga, mengatakan pada satpam dan


resepsionis kalau dirinya tadi pergi bersama Al, tidak bisa jalan bareng karena


ia sibuk mencari parkir. Dan hal itu, dipercaya oleh mereka. Karena Lyli


sandiwaranya luwes, dan tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali pada siapapun


lawan bicaranya.


Tiba di depan ruangan Al, yang tertuliskan ruang CEO, Lyli


mengetuk pintu dengan pelan sebanyak tiga kali.


“Masuk!” Sahut suara dari dalam. Seorang pria dengan nada


dingin dan cuek.


“Al,” sapa Lyli, begitu ia membuka pintu ruangannya.


“Lyli? Kenapa kau kemari?” tanya Al geram melihat wajah itu.


ia juga heran, bagaimana bisa staf yang dia pekerjakan bisa membiarkan orang


sembarangan masuk ke ruangannya begitu saja.


Wanita itu tersenyum dan dengan berani melangkah mendekati


Al yang tengah duduk di tempatnya.


“Ada banyak alasan yang membawaku ke sini Al. kurasa, aku


juga tidak perlu menjelaskannya. Karena kau juga pasti sudah tahu,” ucap Lyli


sambil terus melangkah.


Al meraih ponselnya, mengutak ataiknya sebentar kemudian


kembali meletkkan ke atas mejanya. Dan tetap duduk tenang pada tempatnya dan


meletakkan kedua sikunya diatas meja. Kedua tangannya saling menghubungkan kesepuluh

__ADS_1


jemarinya. Cuek dengan Lyli dan apa yang dilakukannya.


“Al, kau tahu, kan kalau dari dulu aku sangat mencintaimu? Tidak


ada satu pun pria yang ada di hatiku selain kamu, aku mohon percayalah padaku. Aku


kan wanita pertamamu, bukan Nayla, atau Queen? Lihat aku, Al!” ucap Lyli sambil


memegang Pundak Al dari belakang.


“Terserah kamu. Aku sudah memiliki istri dan anak. cari pria


single saja. Jangan hancurkan rumah tangga orang,” ucap Al tak peduli dan mulai


mengerjakan pekerjaannya sebelum tamu yang sebenarnya datang.


“Ya. aku sudah berusaha mencari pria lain. Bahkan kau tahu,


siapa lelakiku sekarang? Dia adalah seorang dokter. Tapi, aku tidak mencintainya


sama sekali, Al. sungguh. Hubunganku dengannya itu hanya berdasarkan hitam


diatas putih saja,” ucap Lyli berusaha menjelaskan.


“Untuk apa kau capek-capek menjelaskan itu padaku? Itu bukan


urusanku. Jalani saja hubunganmu dengannya dengan baik-baik. Jangan suka


berhianat. Karena, itu bisa mencelakakan dirimu sendiri.”


“Aku tidak peduli. Aku akan melakukan apapun demi kamu. Bebaskan


aku darinya, Al. dia terlalu kuat. Siapapun tak akan mampu melawannya kecuali


kau. Aku yakin, dengan kekuatanmu, dia bisa terkalahkan.”


Al tersenyum miring dan menatap sinis ke a rah Lyli. Dan berkata,


“Kenapa kau yakin? Jika kau merasa tidak nyaman dan tak lagi suka dengannya. Batalkan


perjanjian kotrak itu dan kembalikan apa yang sudah dia berikan padamu. Beres,


bukan? Tapi, jangan pernah mengharapkan aku. Karena itu tidak mungkin,


sekalipun itu dalam mimpimu.”


“Tidak bisa, Al. aku mau kau bunuh si tua itu dan kita


menikah, Al. Jika kau terlalu mencintai Queen. Tidak apa-apa sekalipun aku


hanya jadi selirmu. Asal bisa memilikimu, walau jadi yang kedua atau yang


keberapa pun, aku tidak peduli. Asal aku bisa bersamamu selamanya,” ucap Lyli


memohon dengan bersungguh-sungguh yang hanya ditimpali oleh senyum penghinaan


dari Al saja.


“Brak!” tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak dari luar


dengan keras yang cukup membuat dua orang di dalam sana kaget. Termasuk Al.


apalagi Lyli. Ia hanya bisa melotot dan mengaga saja.


“Dasar wanita ******! Apa yang kau lakukan? Beraninya merencankan


hal busuk padaku!” teriak seorang pria dengan seorang wanita di sampingnya. Membuat


Lyli terkejut setengah mati. Melihat ekspresi bagaimana marahnya pria tua di


depan pintu ruangan Al, sepertinya ia sudah mendengar banyak atas apa yang dia katakan


pada Al tadi.


 ‘Mati, aku. Banyak hal


yang kuucapkan pada Al, dan dia malah sedikitpun tak memberi respon selain


bersikukuh setia pada ****** itu,’ umpat Lyli dalam hati.


“Pak Darto? Bagaimana dia bisa berada di sini? Bukankah Bondan


bilang kalau dia berada di Luar Negeri selama lima hari, bahkan lebih? Ini baru


berapa hari?” gumam Lyli dalam hati. Saking terkejutnya ia hanya bisa melotot


dan terngaga saja karena benar-benar kaget sekaligus takut bercampur menjadi


satu.


“Tu…  Tuan. Bukankah anda


berada di luar negeri?” tanya Lyli dengan terbata-bata, dan sedikit menjauhkan tubuhnya


dari Al secara spontan.


“ya. dan karena hal mendadak aku kembali dan memang ada hal


yang aku urus dengan pak Al,” ucap pria botak itu dengan sangat geram.


Lyli tidak bisa lagi berkata apa-apa. Tubuhnya gemetaran. Jika


saja dia memiliki kekuatan. Dia pilih lari dan kabur dari ruangan itu.


“Kupelihara kau yang setengah gila dan kuberi segela


kemewahan. Tidak tahu diri. kau bilang padaku, mendekati Al hanya karena balas


dendam pada Queen. Tidak lebih. Tapi, di belakangku malah berencana membunuhku!”


teriak pak Darto dengan keras. Hingga membangkitkan jiwa-jiwa kepo para staf yang


mendengarnya. Tidak menunggu lama, di depan ruangan Al sudah banyak kerumunan


orang seperti emak-emak yang antri mendapat bagian sembako gratis saja.


“Kau mau balas dendam sama istriku, Lyli? Salah apa dia sama


kamu? Dan dendam apa yang ingin kau lakukan padanya? Bukankah kau yang telah


membuat kakek nenek dan orangtuanya mengalami kecelakaan hingga kakek dan


neneknya meninggal di tempat tujuh tahun lalu? Sementara belum ada satu bulan


kau membunuh papa dan mamanya, yang juga adalah papa mamaku sekaligus mertuaku?


Dia tidak menuntutmu ke jalur hukum padahal, berdasarkan bukti pada rekaman


cctv yang sudah kuambil dari rumahmu, kau harusnya sudah mendekam di penjara!


Dendam apa? Jika pun ada yang harus membalas dendam, harusnya dia kepadamu. Bukan


kau pada dia” bentak Al seolah kecewa. Padahal, ini semua sudah termasuk


konspirasinya bersama pak Darto. Sengaja Al banyak bicara. Dia tidak bisa


menuntut Lyli karena dia juga melakukan kejahatan pada Lyli di masa lalu. Dan Queen


tak ingin kalau Al sampai dipencara atau dihukum mati. Jadi, ia hanya melakukan


hal yang kiranya membuat Lyli merasa malu dan semalu-malunya sampai ia tak lagi


ingin hidup.


“Karin, seret dia beri pelajaran. Ambil semua yang sudah


kuberikan padanya dan buang dia ke jalan. Jangan diberi belas kasihan lagi,”


ucap pak Darto dengan tegas dan dingin. Dia benar-benar marah.


Ya, pria tua itu sangat marah sekali. Tidak dibuat-buat. Awalnya


ia mengira rencana Lyli mendekati big bossnya murni karena sebuah dendam dan


ingin menyakiti Queen saja. Ia menyetujui juga karena belum tahu siapa Queen


dan Al sebenarnya. Tapi, ternyata itu adalah akal bulusnya saja. Dasar wanita


ular. Dia pikir siapa dirinya? Beraninya berencana membunuhku setelah apa yang


kuberikan padanya?


“Karin, Karin, Tunggu. Dengarkan aku. Ini hanyalah salah


paham. Kau tidak bisa begini,” ucap Lyli berusaha menjelaskan. Sambil menangkupkan


kedua tangannya di depan dada dan terus memohon.


“Salah paham apanya? Aku mendengarnya sendiri dengan


telingaku dan langsung diucapkan oleh mulut busukmu itu. penjelasan apa lagi


yang harus aku dengarkan? Kecuali aku masih dengar dari orang dan katanya. Baru,


aku akan mendengarkan penjelasanmu itu!”


Tak tanggung-tanggung. Karin menyert Lyli dengan kasar pada


rambutnya. Bukan tangannya. Dimasukkannya wanita itu ke dalam mobil tak lupa ia


juga memborgol kedua tangannya ke belakang seperti tahanan yang kabur saja. Lalu,


membawanya ke rumah. Entah apa yang akan dia lakukan pada wanita itu.


Selama ini, Karin adalah pengawal pria tua itu yang terkenal


dingin, angkuh dan ratu tega. Dia paling benci yang namanya penghianat. Tidak


pernah merelakan bosnya dihianati oleh siapapun. Jangankan wanita yang di peihara


si bos. Sesame anak buahnya saja dia tak tanggung-tanggung melakukan pembunuhan

__ADS_1


dengan sadis, sekalipun di aitu adalah seorang wanita. terlebih Lyli yang


dengan beraninya merencanakan pembunuhan pada bossnya.


__ADS_2