
“Selamat siang, Bu,” sapa seorang pria tua dari balik pintu.
Pria yang sudah membuat janji sejak setengah jam yang lalu, dia datang tidak
sendiri, melainkan bersama seorang wanita cantik dengan pakaian serba hitam,
wajahnya terlihat kalau dia sangat tegas dan cekatan. Bodyguardnya, kah? Batin
Queen saat melihat wanita itu.
“Selamat siang, Pak. Mari silahkan masuk,” ucap Queen
mempersilahkan dua orang itu masuk dan duduk di dalam ruangannya.
“Maaf, Bu. Jika kemarin saya hanya bisa datang sebentar karena
berbenturan dengan jadwal kunjungan saya diberbagai rumah sakit lain yang juga
ada fasilitas konseling dan kejiwaannya. Saya ke sini bersama anak buah saya
ingin mengucapkan selamat pada ibu Queen, atas berdirinya klinik PERMATA
BUNDA’’ ini secara pribadi,” jawab pria itu dengan sangat santun membuat Queen
yang usianya jauh lebih muda darinya jadi merasa tidak enak sendiri saja.
“Terimakasih banyak, Pak. Anda tidak perlu berlebihan
begitu,” ucap Queen.
“Sebagai ucapan selamat saya, saya telah menyumbang dalam
klinik ini sebesar seratus juta rupiah. Karena alat-alat dan fasilitas di sini
sudah lengkap, mungkin pada dana saja bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain.
Saya tahu, untuk ibu uang segitu bukanlah apa-apa. Tapi, saya memberikannya
dengan sangat tulus, Bu. Mohon diterima.”
Queen lumayan terkejut juga, mendengar jumblah nominal yang
diberikan oleh pria itu, bagaimana bisa ia menyumbang dana segitu besar. Kalau
ini investasi tanam saham mungkin masih masuk akal. Tapi, ia memberikannya
dengan Cuma-cuma sebagai ucapan selamatnya. Atau bisa juga disebut dengan
hadiah. Queen jadi berfikir, apa sebenarnya hubungan dokter Darto dengan
suaminya. Dia usianya lebih tua, tapi terlihat sangat respect sekali pada
suaminya.
“Dokter Darto, apakah saya tidak salah denger? Uang seratus
juta anda berikan pada saya tanpa beban, seperti hanya member uang seratus ribu
rupiah saja. Ini terlalu besar bagi saya,” jawab Queen. Karena ia juga tahu,
kalau kemarin ia sudah menyumbang rangkaian bunga papan sampai empat buah.
Pasti sudah sangat banyak sekali uang yang dikeluarkan olehnya.
“Mohon kiranya anda terima, Bu. Ya sudah, saya kemari hanya
mengatakan itu saja. Saya masih ada hal yang akan diurus. Jadi, kami berdua
permisi dulu, Bu.”
“Terimakasih banyak, Pak,” jawab Queen sambil menjabat
tangan pria tua itu dan juga Karin, dan wanita itu mengantarkan tamunya sampai
depan pintu ruangannya setelah mengucapkan banyak-banyak ucapan terimakasih.
Setelah tamunya pulang, Queen hanya geleng-geleng kepala
saja. Tapi, ia sudah tahu, mau dikemanakan dan akan digunakan untuk apa uang
tersebut. Jelas untuk menambah pemasukan obat di kliniknya nanti, anggap saja
itu sebagai ganti para pasien yang tidak mampu yang dia gratiskan, dan
kebetulan sakit yang diderita lumayan serius dan membutuhkan obat-obatan mahal.
Setelahnya, ia langsung menelfon suaminya yang kini juga
mungkin tengah sibuk dengan banyak pekerjaan di kantornya untuk memberitahukan
ini.
“Halo, Sayng. Tumben menelfonku di jam kerja. Apakah ada
masalah?” jawab seorang pria dari seberang setelah panggilan diangkat.
“Tidak, tidak ada masalah sama sekali. Apakah kau sedang
sibuk?” jawab Queen dengan hati-hati. Ia takut menganggu Al. tapi, ia tidak
bisa menahannya lebih lama.
“kebetulan tidak. Aku baru saja selesai mengecek beberapa
proposal dan menandatanganinya. Kau kangen sama aku?” jawab Al dengan nada
suara yang terkesan menggoda.
“Apaan, sih?” jawab Queen malu-malu, seketika wajah wanita
itu bersemu merah. Akibat malu dengan godaan suaminya sendiri.
Sementara Al, hanya tertawa saja dari balik telfon itu. tawa
yang terdengar sangat renyah sekali membuat Queen seolah kian sayang dan nyaman
saat bersamanya, walau sekedar lewat telfon.
“Baru saja pak Darto kemari bersama bodyguardnya, dia
mengucapkan selamat padaku atas beroprasinya klinikku ini secara pribadi dan
memberi hadiah berupa dana seratus juta rupiah, Al,” ucap Queen. Walau nadanya
biasa saja. Tapi, wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaan kaget, dan
bahagianya atas ini.
“Oh, kirain seratus juta dolar amerika sayang,” jawab Al
bercanda sambil tertawa.
“Al… kamu kok gitu, sih? Aku serius, ini!” seru Queen kesal.
“Aku juga serius sayang. Gak apa-apa. Terima saja, di aitu
orang kaya yang menyamar saja, hehehe,” timpal Al sambil terkekeh. “makan siang
di luar, yuk! Aku jemput kamu,’’ imbuh Al.
“Boleh. Jadi, cepat kau jemput aku sekarang,” ucap Queen. Ia
tak peduli, meskipun ini belum jam istirahat kantor. Tapi, setidaknya, Al bisa
saja dikatakan sebagai owner di dua perusahaan tersebut. Jadi, ia bisa kabur
dari kantor sewaktu-waktu kapanpun diam au. Apalagi jika perginya dengan Queen,
yang juga dapat dikatakan salah satu iwner, karena Al dan Queen memiliki hak
dan bagian yang sama dari apa yang ditinggalkan oleh orang tua mereka.
***
Setelah keluar dari
klinik milik Queen, pak Darto menghubungi Bondang menanyakan rencana yang akan
dijalankan Bondan sudah sejauh mana.
“Bondan, bagaimana?”
“Ini saya masih memantau Mr. Akhiram Boss.”
“jangan panggil dia dengan sebutan itu di sini. Itu sangat
membahayakan keselamatannya. Dasar Bahlul!” bentak pria tua itu, kesal.
“Oke, pak Al saja kalau begitu,” jawab Bonda ketakutan.
“Cepat jalankan! Jangan menunda-nundanya lagi, ini aku
bersama Karin baru saja keluar dari klinik bu Queen memberi ucapan selamat
secara pribadi.”
“Baik, ya sudah, tunggu kode dari saya saja, Boss. Saya lihat
pak Al keluar meninggalkan perusahaan.”
“ya sudah, buntuti, usahakan saat ini juga berhasil, oke!”
“Saya akan berusaha melaukan yang terbaik untuk anda, Boss.”
“Bagus!” pria tua itu pun mkematikan panggilannya dan
berganti menelfon Al, membuat janji bertemu nanti di suatu tempat.
“Halo, pak Al. apakah kau hari ini ada waktu untuk bertemu
dengan saya?” ucap pria itu setelah mendapatkan jawaban dari big bossnya.
__ADS_1
“Mungkin bisa nanti jam satu di kantor, bagaimana?”
“Baik, Pak. Ada yang akan saya bahas dnegan anda.”
“Apa?”
“sebagian kecil dari permainan. Lebih tepatnya, peran anda
sangat-sangat kami butuhkan untuk itu.”
“Oke, baik.”
“Hahaha, Karin. Kau sudah tahu apa tugasmu, bukan?”
“Iya, Tuan. Bondan sudah beri tahu saya,” jawab wanita itu
dengan tegas sambil mengemudikan mobil.
“Hahaha. Kalian berdua adalah yang terbaik,” puji pak Darto pada
dua bodyguard pilihannya. Sementara Krin masih saja memasang muka datar dan
dingin. Sepertinya itu memang sudah jadi ciri khas wanita berusia duapuluh
delapan tahun tersebut.
****
Lyli bersandar sambil mengurut keningnya sendiri dengan
lembut. Tiba-tiba saja, sebuah panggilan berhasil menderingkan ponselnya yang
ia letakkan diatas meja.
“Halo, ada apa Bondan?”
“saya melihat Al di sebuah restoran. Dia sepertinya mau
makan siang,” jawab Bondan dari balik telefon. Membuat Lyli membuang napas
dengan kasar. Memang menyebalkan sekali apa yang Bondan katakana. Namanya saja
di Restoran. Kalau tidak mau makan, masa iya, mau isi bbm mobil, kan gak
mungkin?
“Iya, terus? Dia sendiri apa bagaimana?” tanya Lyli dengan
nada kesal.
“Dia bersama Queen. Mereka terlihat sangat mesra sekali.”
“Sialan! Cukup katakana saja dia bersama ****** itu, jangan
ceritakan itu padaku!” bentak Lyli. Dadanya terasa seolah mau meledak saja.
“Memang itu faktanya, Nyonya. Sepanjang jalan Al terus
memeluk dan sesekali menciumi pipi istrinya. Ini tempat umum, loh. Bagaimana
jika di dalam ruangan berdua saja?” Sepertinya Bondan memang sengaja
memanas-manasi Lyli dan memancing emosi wanita itu. jadi, berlagak **** adalah
yang tepat untuk menyamarkan niatannya itu.
“Tutup mulut kamu! Cepat kirimkan alamatnya padaku di
restoran mana dia sekarang!” ucap Lyli dengan kesal lalu mematikan
panggilannya.
Dengan segera Lyli masuk ke dalam kamar. Dipilihnya baju terbaik,
ia padukan dengan tas, serta sepatu yang kiranya nampak serasi. Tak lupa juga,
wajah ia poles dengan mekap.
Tunggu, dia berdandan natural banget, mulai dari eye sidow,
blas own, serta warna lipstick yang digunakan juga warna-warna natural.
Benar-benar seperti yang Queen pakai. Mungkin benar, jika seorang yang katakana.
Jika ada orang lain benci pada seseorang tanpa sebab ituadalah iri. Sebernarnya
teropsesi ingin seperti itu tapi, tidak bisa. Gaya dia berpakaian, tas yang dia
bawa serta sepatu juga mirip modelnya dengan yang dimiliki oleh istri sah dan
satu-satunya dari pria yang dia taksir.
Setelah di rasa sempurna, barulah Lyli mulai keluar
meninggalkan rumah menggunakan mobil brio miliknya warna merah. Diikutinya
petunjuk dari google map yang tadi Bondan kirimkan padanya melalui via WA.
Merasa khawatir Al sudah tidak ada di sana, karena ia
berdandan. Ia kembali menghubungi Bondan dan menyakan, apakah Al masih berada
di temat yang sama, atau sudah pindah.
“Halo, Bondan. Aku ada di jalan. Apakah Al masih ada di
sana?” tanya Lyli setelah panggilannya dijawab.
“Iya, benar, Nyonya. Saya masih terus mengawasinya.
“Oke, baiklah. Awasi terus. Jika dia pergi, ikuti dan kabari
aku,” ucap Lyli kemudian mematikan panggilannya dan melemparkan benda pipih itu
ke atas dashboard mobil. Dan ia kini hanya fokus pada jalan saja. Karena ia
mengemudikan kendaraanya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Jarak tempuh yang
harusnya ia tempuh selama tiga puluh menit dalam kecepatan Normal, Lyli hanya menempuh
dengan wakru tujuh belas menit saja. Mungkin yang ada di kepalanya hanyalah Al
Al dan Al saja. Jadi ya bgitu itu. tak peduli, sudah berapa kali saja dia
menerobos lampu merah dan hampir menabrak berapa mobil saja tadi slama di
jalan. Yang penting dia tiba tepat waktu, dan tak kehilangan jejak Al.
Sesampainya di sana, Lyli mendapati Al dan Queen sudah
keluar dari Restoran tersebut. Keduanya terlihat seperti tengah mengobrol. Tak
tahu apa yang mereka bicarakan, kelihatannya serius. Tapi, setelah Lyli amati,
sepertinya Queen ingin kembali sendiri, dan menolak Al mengantarkannya. Mungkin
karena suaminya ada urusan dadakan dan takut itu akan membuat suaminya sedikit
keteteran dan terganggu. Akhirnya, sebuah taxi berhenti, dan wanita itu masuk
ke dalamnya sambil melambaikan tangan. Sementara Al, ia merogoh saku celanya
mengambil kunci mobil dan berputar arah menuju ke mobilnya yang dia parkiran
setelah taxi yang Queen naiki sudah lenyap dari pandangannya.
Lyli menguntit mobil Al sampai ia tiba di perusahaan.
Sesampai di sana, ia juga termasuk cerdik juga, mengatakan pada satpam dan
resepsionis kalau dirinya tadi pergi bersama Al, tidak bisa jalan bareng karena
ia sibuk mencari parkir. Dan hal itu, dipercaya oleh mereka. Karena Lyli
sandiwaranya luwes, dan tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali pada siapapun
lawan bicaranya.
Tiba di depan ruangan Al, yang tertuliskan ruang CEO, Lyli
mengetuk pintu dengan pelan sebanyak tiga kali.
“Masuk!” Sahut suara dari dalam. Seorang pria dengan nada
dingin dan cuek.
“Al,” sapa Lyli, begitu ia membuka pintu ruangannya.
“Lyli? Kenapa kau kemari?” tanya Al geram melihat wajah itu.
ia juga heran, bagaimana bisa staf yang dia pekerjakan bisa membiarkan orang
sembarangan masuk ke ruangannya begitu saja.
Wanita itu tersenyum dan dengan berani melangkah mendekati
Al yang tengah duduk di tempatnya.
“Ada banyak alasan yang membawaku ke sini Al. kurasa, aku
juga tidak perlu menjelaskannya. Karena kau juga pasti sudah tahu,” ucap Lyli
sambil terus melangkah.
Al meraih ponselnya, mengutak ataiknya sebentar kemudian
kembali meletkkan ke atas mejanya. Dan tetap duduk tenang pada tempatnya dan
meletakkan kedua sikunya diatas meja. Kedua tangannya saling menghubungkan kesepuluh
__ADS_1
jemarinya. Cuek dengan Lyli dan apa yang dilakukannya.
“Al, kau tahu, kan kalau dari dulu aku sangat mencintaimu? Tidak
ada satu pun pria yang ada di hatiku selain kamu, aku mohon percayalah padaku. Aku
kan wanita pertamamu, bukan Nayla, atau Queen? Lihat aku, Al!” ucap Lyli sambil
memegang Pundak Al dari belakang.
“Terserah kamu. Aku sudah memiliki istri dan anak. cari pria
single saja. Jangan hancurkan rumah tangga orang,” ucap Al tak peduli dan mulai
mengerjakan pekerjaannya sebelum tamu yang sebenarnya datang.
“Ya. aku sudah berusaha mencari pria lain. Bahkan kau tahu,
siapa lelakiku sekarang? Dia adalah seorang dokter. Tapi, aku tidak mencintainya
sama sekali, Al. sungguh. Hubunganku dengannya itu hanya berdasarkan hitam
diatas putih saja,” ucap Lyli berusaha menjelaskan.
“Untuk apa kau capek-capek menjelaskan itu padaku? Itu bukan
urusanku. Jalani saja hubunganmu dengannya dengan baik-baik. Jangan suka
berhianat. Karena, itu bisa mencelakakan dirimu sendiri.”
“Aku tidak peduli. Aku akan melakukan apapun demi kamu. Bebaskan
aku darinya, Al. dia terlalu kuat. Siapapun tak akan mampu melawannya kecuali
kau. Aku yakin, dengan kekuatanmu, dia bisa terkalahkan.”
Al tersenyum miring dan menatap sinis ke a rah Lyli. Dan berkata,
“Kenapa kau yakin? Jika kau merasa tidak nyaman dan tak lagi suka dengannya. Batalkan
perjanjian kotrak itu dan kembalikan apa yang sudah dia berikan padamu. Beres,
bukan? Tapi, jangan pernah mengharapkan aku. Karena itu tidak mungkin,
sekalipun itu dalam mimpimu.”
“Tidak bisa, Al. aku mau kau bunuh si tua itu dan kita
menikah, Al. Jika kau terlalu mencintai Queen. Tidak apa-apa sekalipun aku
hanya jadi selirmu. Asal bisa memilikimu, walau jadi yang kedua atau yang
keberapa pun, aku tidak peduli. Asal aku bisa bersamamu selamanya,” ucap Lyli
memohon dengan bersungguh-sungguh yang hanya ditimpali oleh senyum penghinaan
dari Al saja.
“Brak!” tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak dari luar
dengan keras yang cukup membuat dua orang di dalam sana kaget. Termasuk Al.
apalagi Lyli. Ia hanya bisa melotot dan mengaga saja.
“Dasar wanita ******! Apa yang kau lakukan? Beraninya merencankan
hal busuk padaku!” teriak seorang pria dengan seorang wanita di sampingnya. Membuat
Lyli terkejut setengah mati. Melihat ekspresi bagaimana marahnya pria tua di
depan pintu ruangan Al, sepertinya ia sudah mendengar banyak atas apa yang dia katakan
pada Al tadi.
‘Mati, aku. Banyak hal
yang kuucapkan pada Al, dan dia malah sedikitpun tak memberi respon selain
bersikukuh setia pada ****** itu,’ umpat Lyli dalam hati.
“Pak Darto? Bagaimana dia bisa berada di sini? Bukankah Bondan
bilang kalau dia berada di Luar Negeri selama lima hari, bahkan lebih? Ini baru
berapa hari?” gumam Lyli dalam hati. Saking terkejutnya ia hanya bisa melotot
dan terngaga saja karena benar-benar kaget sekaligus takut bercampur menjadi
satu.
“Tu… Tuan. Bukankah anda
berada di luar negeri?” tanya Lyli dengan terbata-bata, dan sedikit menjauhkan tubuhnya
dari Al secara spontan.
“ya. dan karena hal mendadak aku kembali dan memang ada hal
yang aku urus dengan pak Al,” ucap pria botak itu dengan sangat geram.
Lyli tidak bisa lagi berkata apa-apa. Tubuhnya gemetaran. Jika
saja dia memiliki kekuatan. Dia pilih lari dan kabur dari ruangan itu.
“Kupelihara kau yang setengah gila dan kuberi segela
kemewahan. Tidak tahu diri. kau bilang padaku, mendekati Al hanya karena balas
dendam pada Queen. Tidak lebih. Tapi, di belakangku malah berencana membunuhku!”
teriak pak Darto dengan keras. Hingga membangkitkan jiwa-jiwa kepo para staf yang
mendengarnya. Tidak menunggu lama, di depan ruangan Al sudah banyak kerumunan
orang seperti emak-emak yang antri mendapat bagian sembako gratis saja.
“Kau mau balas dendam sama istriku, Lyli? Salah apa dia sama
kamu? Dan dendam apa yang ingin kau lakukan padanya? Bukankah kau yang telah
membuat kakek nenek dan orangtuanya mengalami kecelakaan hingga kakek dan
neneknya meninggal di tempat tujuh tahun lalu? Sementara belum ada satu bulan
kau membunuh papa dan mamanya, yang juga adalah papa mamaku sekaligus mertuaku?
Dia tidak menuntutmu ke jalur hukum padahal, berdasarkan bukti pada rekaman
cctv yang sudah kuambil dari rumahmu, kau harusnya sudah mendekam di penjara!
Dendam apa? Jika pun ada yang harus membalas dendam, harusnya dia kepadamu. Bukan
kau pada dia” bentak Al seolah kecewa. Padahal, ini semua sudah termasuk
konspirasinya bersama pak Darto. Sengaja Al banyak bicara. Dia tidak bisa
menuntut Lyli karena dia juga melakukan kejahatan pada Lyli di masa lalu. Dan Queen
tak ingin kalau Al sampai dipencara atau dihukum mati. Jadi, ia hanya melakukan
hal yang kiranya membuat Lyli merasa malu dan semalu-malunya sampai ia tak lagi
ingin hidup.
“Karin, seret dia beri pelajaran. Ambil semua yang sudah
kuberikan padanya dan buang dia ke jalan. Jangan diberi belas kasihan lagi,”
ucap pak Darto dengan tegas dan dingin. Dia benar-benar marah.
Ya, pria tua itu sangat marah sekali. Tidak dibuat-buat. Awalnya
ia mengira rencana Lyli mendekati big bossnya murni karena sebuah dendam dan
ingin menyakiti Queen saja. Ia menyetujui juga karena belum tahu siapa Queen
dan Al sebenarnya. Tapi, ternyata itu adalah akal bulusnya saja. Dasar wanita
ular. Dia pikir siapa dirinya? Beraninya berencana membunuhku setelah apa yang
kuberikan padanya?
“Karin, Karin, Tunggu. Dengarkan aku. Ini hanyalah salah
paham. Kau tidak bisa begini,” ucap Lyli berusaha menjelaskan. Sambil menangkupkan
kedua tangannya di depan dada dan terus memohon.
“Salah paham apanya? Aku mendengarnya sendiri dengan
telingaku dan langsung diucapkan oleh mulut busukmu itu. penjelasan apa lagi
yang harus aku dengarkan? Kecuali aku masih dengar dari orang dan katanya. Baru,
aku akan mendengarkan penjelasanmu itu!”
Tak tanggung-tanggung. Karin menyert Lyli dengan kasar pada
rambutnya. Bukan tangannya. Dimasukkannya wanita itu ke dalam mobil tak lupa ia
juga memborgol kedua tangannya ke belakang seperti tahanan yang kabur saja. Lalu,
membawanya ke rumah. Entah apa yang akan dia lakukan pada wanita itu.
Selama ini, Karin adalah pengawal pria tua itu yang terkenal
dingin, angkuh dan ratu tega. Dia paling benci yang namanya penghianat. Tidak
pernah merelakan bosnya dihianati oleh siapapun. Jangankan wanita yang di peihara
si bos. Sesame anak buahnya saja dia tak tanggung-tanggung melakukan pembunuhan
__ADS_1
dengan sadis, sekalipun di aitu adalah seorang wanita. terlebih Lyli yang
dengan beraninya merencanakan pembunuhan pada bossnya.