
Diruang keluarga kali ini Aditya hanya banyak fiam, sedikit tertunduk sambil menyangga kepalanya. Ia terlihat lemas, bahkan napas pria itu pun juga terasa berat.
"Aditya tadi selama pesta denganmu saja, Pa. Apakah kau memintanya untuk minum?" tanya Novita dengan pandangan penuh selidik.
"Emmmm, tadi tamu kehormatan datang dan mengajak kita bersulang, apakah itu kesalahan papa sepenuhnya?" ucap papa Nicolas mencari pembelaan diri.
"Nov, kau ajak suami istirahat saja, dulu," usul mama Rita.
Dengan sedikit kesusaham Novita memapah tubuh Aditya dan membawanya ke kamar.
"Lain kali kau tidak harus memaksakan diri untuk minum jika memang tubuhmu tidak mampu, Dit. Kau tidak terbiasa." Gerutu Novita membetulkan posisi suaminya dan membantu melepaskan kaus kaki yang masih menempel di kedua kakinya.
Sementara Aditya, masih terus memegangi kepalanya yang mungkin terasa pusing dan berat.
"Kau tahu, merk yang digunakan papa tadi itu kadar alkoholnya sangat tinggi, dan kau, sudah minum berapa banyak?" ucap Novita sambil memegangi pipi kanan Aditya.
Sementara pria itu membuka matany Perlahan dan menyentuh punggung tangan Novi di pipinya sambil tersenyum sinis.
"Sejak kapan menjadi bawel begini, Sayang? Apakah kau masih cinta aku? Lalu kenapa harus membatalkan pernikahan kita dan memilih Alex? Hah? Pergilah, kau melihatmu hanya membuatku luka saja. Aku benci melihatmu bersama Alex." Seketika mata Aditya kembali terpejam.
Novita menarik perlahan tangannya daro wajah suaminya, ia merasa sedih dan sakit, perlahan dia pergi keluar mencari udara segar di halaman depan.
Sudah cukup lama dia di sana, tiba-tiba dia teringat akan sepupunya Byonce, ia mencoba mengirimkan pesan chat padanya, dan tak menunggu lama terbalas.
Novita pun berinisiatif untuk menelfon sepupunya itu, meskipun waria, dia dan adiknya paling dekat dengan Byonce.
"Bane, kau belum tidur?" tanya Novi saat panggilannya terhubung.
"Kalau aku sudah tidur, mana bisa aku balas chat dan angkat telfon kamu. Malam-malam telfon, mau curhat, ya?" ledek suara pria itu dari sebrang sana.
"Benar dugaanmu," ucap Novita dengan nada lemah tak bertenaga.
__ADS_1
"Sabar, cyn! Itu sudah jadi konsekwensimu karna sudah berkhianat dan meninggalkannya selama lima tahun. Dan walau cinta untukmu masih ada di hatinya. Tapi, dua juga tidak mudah melepas dan membuang cintanya pada gadis yang tuga tahun ini menemaninya dalam keterpurukan, apalagi keduanya hampir menikah, kan?"
"Ya, Bane, aku tahu itu. Sebelum kembali rujuk aku sudah mempersiapkan segalanya, kurasa hanya dia kembali denganku seperti dulu saja itu cukup, tapi, saat tanpa sadar dia memanggilku dengan nama gadis itu, ternyata hatiku masih sakit." Novita menyeka air mata di pipinya sementara sebelah tanganya ia gunakan untuk memegang ponsel.
"Sakitmu ini tidak sebanding dengan yang dia rasakan saat kau tinggalkan, Nov. Kau harus sabar menerima untuk memenangkan kembali hatinya. Jangan menyerah."
"Kau benar, tak seharusnya aku pergi, aku harus menghadapi semua ini, Bane. Terimakasih." Novita begit saja mematikan panggilannya dan kembali menemui Aditya.
Saat kemabali ke kamar, Novi melihat Aditya sudah berganti pakaian dan rambutnya yang basah. Sepertinya pria itu baru saja selesai mandi.
Novita masuk dan menutup pintu perlahan ia berjalan mendekat ke arah suaminya.
"Novita, maafkan aku, tadi aku hilang kesadaran dan mungkin juga aku bicara nglantur dan menyakitimu," ucap Aditya merasa bersalah.
"Kau tidak bicara apapun selain berkata sayang aku, Dit," ucap Novita sambil memeluk pria itu. Dalan hati ia pun juga merasa teriris. Tapi, nasehat sepupunya tadi Bane, jika versi wanita berubah jadi Byonce adalah benar. Andai di ada di posisi Aditya saat itu, pasti akan sangat hancur dan akan kehilangan semangat hidup. Dan untuk kembali menerimanya, pasti juga tidak akan bisa. Bagus Aditya masih mau menerinya kembali dengan sedikit rasa cinta yang tersisa demi Axel.
"Aku tahu, kau butuh waktu untuk semua ini melupakan gadis yang sangat luar biasa. Tapi, ingatlah yang bersamanya adalah adikku. Aku tak akan biarkan dia terluka untuk yang kedua kalinya mengalah padamu demi keponakannya," ucap Novita sambil tersenyum getir. Sebab, hatinya sejujurnya telah menangis.
Menggunakan privat jet yang kecepatannya beberapa kali lipat dari pesawat biasa membuat Al dan Vico sudah tiba pukul 23 malam waktu setempat.
Awalnya Quen ingin segera menjemput kakaknya, tapi urung, sebab Al melarangnya karena sudah malam. Ia akan bermalam di dalam pesawat sementara akan ke rumah orang tua Alex esok pagi hari.
Lagi pula fasilitas dalam pesawat 'Air Force One' milik Al sudah lengkap. Selain kamar, toilet restauran dan ruabg kelauraga juga disediakan area gym dan ruang untuk rapat. Jadi, Al tidak perlu repot-repot perginke hotel atau ke restoran. Dia sudah menperkerjakan koki handal dan beberapa cleaning servis untk petugas kebersihan.
Saat Quen tengah melakukan facial wajah, lulur serta sauna, Liz art rumah orang tua Alex memberi tahukan kalau ada dua orang tamu dari Indonesia. Sudah bisa di tebak, pasti itu Al yang datang dengan Vico sahabatnya.
"is this still long? I want to meet my brother,"("Apakah ini masih lama? Aku ingin menemui kakakku,") ucap Quen pada wanita yang mengurusnya.
"wait a minute, five minutes to finish,"("Tunggu sebentar, lima menit lagi ini sudah selesai,")
Quen mendesah kesal. Padahal dia ingin segera memberikan sambutan pada kakakknya yang sudah jauh-jauh datang.
__ADS_1
Berkali-kali dia memandangi jam yang tergantung pada dindingnya, untuk menunggu lima menit saja untuk hal yang sudah dinanti-nantikan terasa seperti lima jam dan membosankan pastinya.
Lima menit berlalu, dengan segera Quen keluar dari tempat sauna atau mandi asap. Dipakainya mini drees selutut berwanra navi lalu segera keluar menemui kakakknya.
Di sana kakaknya telah mengobrol dengan papa mertuanya, sementara mama mertua, mama Rita telah melakukan video call dengan mamanya di Indonesia menggenakan tab milik Al. Kakaknya.
"Sudah lama, Kak?" sapa Quen dan berhambur menghampiri memeluk Al.
"Baru saja, lihat, wajahmu terlihat sangat cerah, kau bahagia sayang?" ucap Al sambil tersenyum penuh kebahagiaan dan melepas pelukan adiknya.
"Kak Vico, lama tak jumpa, apa kabar Kak?" sapa Quen tak kalah ramah.
"Aku baik-baik saja, terakhir ketemu kau masih usia enambelas tahun. Sekarang tau-tau dah jadi istri orang saja. Selamat menempuh hidup baru, Quen," ucap Vico.
Sementara dari ujung ruangan, Liz dan beberapa asisten rumah tangga di sini tidak ada henti-hentinya mengagumi ketampanan Al. Termasuk Byonce, yang curhat kepada Alex, jika bertobat dia ragu, apakah bisa dia menjadi pria paling tampan?
"Itu kakak iparmu, Lex?"
"Ayo, kesana!" ajak Alex.
"Aku minder melihat dia. Lihat, dia seperti itu, yeee apakah aku masih bisa jadi pria terganteng kalau sudah lihat dia?"
"Lagian kau dan aky juga gantengan aku, kan?" ucap Alex tidak mau kalah.
"Ye, sok pede."
"Buktinya, Quen lebih pilih aku daripada kamu.
"Itu karena aku masih jadi waria, coba kalau pria sepenuhnya," ucap Byonce sambil berjalan di samping Alex untuk menghampiri Al.
Al apa Vano, ya? kok cenderung ke papa Vano, ya? mungkin karna lelah dan banyak pikiran jadi nampak terlihat tua dari usuanya😂
__ADS_1