Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 246


__ADS_3

Ketika semua usai sarapan dan hendak melakukan aktifitasnya


masing-masing. Queen berlari mengejar mobil Al yang akan berangkat ke kantor. Di


mana di sana ada Nayla dan juga Bilqis. Hari ini adalah hari pengambilan


raport Bilqis, dan Al berencana akan menghadirinya sebelum akhirnya ia pergi bekerja.


“Aaaal! Tunggu dulu!” Queen berteriak, setengah berlari dan


melambaikan tangannya.


Pria itu melihat bagaimana istri keduanya melambaikan


tangannya dari spion. Karena penasaran, ia pun menghentikan mobilnya di


tengah-tengah gerbang. Toh ia yakin tidak akan ada yang datang, dan semua juga


sudah pada pergi. Tinggal dia yang paling terakhir.


“Mau apa lagi, dia?” umpat Nayla. Al sebenarnya mendengar.


Tapi, ia mengabaikannya. Pria itu turun dan langsung disambut oleh Queen yang


tengah membawa dasi di tangannya.


“Ada apa, Sayang?” tanya Al.


“Kau melupakan sesuatu,” jawabnya sambil menunjukkan dasi


berwana biru bermotif yang dikombinasikan dengan warna abu-abu atau silver.


Al hanya tertawa. Tidak berkata apa-apa. Ekspresinya sangat payah


“Kemari, biar aku pakaikan!” Queen sedikit berjinjit


menaikkan krah kemeja yang dikenakan oleh suaminya, karena ia masih kalah


tinggi dengan pria itu. Jelas saja. Kalau ia lebih tinggi dari Al. Queen juga


tidak akan mau dengan pria yang lebih pendek dengan dirinya.


Menyadari istrinya kesusahan, Al pun langsung membungkukkan


badannya agar memudahkan Queen memasangakan dasi untuk dirinya. Begitu selesai,


ada senyum lega di wajahnya. Sambil merapikan, wanita itu berkata, “Begini


kan kamu terlihat lebih ganteng, Sayang.”


Kembali Al tertawa, memegang kedua pipi Queen dan mengecup


keningnya. “Terimakasih ya Sayang.”


“Hati-hati, Ya. Ingat pesanku tadi,” imbuh Queen lalu


melambaikan tangannya.


Melihat adegann yang sangat menohok itu, Nayla hanya


memasang wajah masam saja Ingin marah juga tidak bisa. Tapi, dalam hati ia juga


menyesali dirinya sendiri. Bgaimana ia sebagai istri bisa mengabaika hal itu? Bukankah laki-laki paling suka diperhatikan, sekalipun itu hanyalah hal kecil? Tapi, yang ada ia malah sibuk dengan penampilan dan mempercantik diri sendiri saja.


Nayla melirik ke arah Al yang tengah mengemudi. Terlihat


sekali kalau pria itu sangat terkesan dengan apa yang baru saja Queen lakukan.


Di rumah, Queen menunggu kedatangan Nayla dan anaknya pulang


dari sekolahan. Ia ingin lihat, seperti apa kebahagiaan dia kali ini untuk yang terakhir kali. Tapi, itu sangat membosankan sekali. Ingin ke rumah sakit juga


bukan jdwal praktiknya. Akhirnya, ia menggunakan waktunya untuk berenang.


***


Di sebuah ruangan rawat inap VVIP, dua orang pria tengah menemani


seorang wanita yang masih tergeletak lemas. Walau wajahnya nampak bahagia dengan


cerita-cerita yang diucapkan oleh dua pria di kiri dan kanannya, wajahnya masih


nampak pucat. Bahkan bibirnya juga putih, seputih salju.


“Lalu, bagaimana? Apakah Queen sudah hamil kembali?” tanya


wanita itu dengan mata yang berbinar.


“Kita tunggu saja Sayang. Pasti tidak akan lama lagi. Yang


penting keduanya sudah saling mencintai, itu sangat gampang,” jawab Vano dengan


suka cita.


 “Van, aku kangen mereka.”


Vano diam. Tidak memjawab. Lalu, wanita itu menoleh ke


sebelah kiri dan berkata sambil memegangi tangan pria tua itu. Sambil merengek,


“Papa, kapan aku bisa bertemu mereka?”


“Ra, kamu yang sabar dulu, ya? Biarkan mereka menyelesaikan


misi mereka dulu. Kamu baik-baik saja di sini. Kami akan menjagamu secara


bergantian, oke?” hibur Andrean.


Clara hanya diam dan menunduk. Andrean dan Vano sengaja


menyembunyikan kabar kalau Clara sudah sadar dari dua anaknya. Untuk


mengalihkan mereka berdua, Vano memberi Al banyak tugas sehingga ia menjadi


tidak sempat ke rumah sakit.


Sementara Andrean selalu memantau pergerakan Queen agar


selalu diam di rumah diluar jam praktik. Bahkan, sekalipun di rumah sakit, ia


juga dilarang masuk ke ICU dengan alasan kakek atau papanya sudah masuk selama


satu jam lebih. Padahal, Pasien sudah di pindah di ruang VVIP sejak dua hari


yang lalu. Selain itu, Andrean juga selalu menekan Al agar selalu memiliki waktu


lebih untuk Queen. Jika memang tidak lembur, ya langsung pulang saja, tak ada


alsan apapun untuk mampir kemana saja selain membeli apa yang Queen minta. Dengan dalih, agar hati ostrinya cepat ditaklukkan.


“Baiklah, Aku akan bersabar menanti waktu yang tepat yang


kalian maksutkan. Tapi, boleh kan, bawa aku ke makan mama dan papa Andreas?’’ ucap


Clara, masih menunduk.


“Iya, kamu baik-baik saja di sini, oke. Jika kamu bosan


dengan suasana rumah sakit, bagaimana kalau kita menempati rumah hadiah dari


papa yang lama tidak kita tempati itu? Aku akan menjagamu di sana.” Vano terus


menggenggam tangan istrinya.


“Lalu, apakah kamu tidak akan pulang ke rumah, melihat


anak-anak kita?” tanya Clara balik.


Vano hanya tersenyum dan membenarkan posisi duduknya. Ia


berkata dengan lembut. “Sayang, anak-anak kita itu sudah pada dewasa. Mereka


bukan lagi balita. Tidak apa-apa. Aku bisa bilang ke luar kota untuk beberapa


pekan.”


Setelah cukup lama mereka berdua meyakinkan Clara. Akhirnya Clara

__ADS_1


pun setuju untuk melakukan perawatan di rumah. Mereka mendatangkanperawat kusus


yang akan siap menjaga Clara selama duapuluh empat jam, dan juga dokter yang


selalu memeriksanya setiap hari.


****


Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Nayla bersama


putrinya sudah tiba di rumah. Queen melihat bagaimana sombongnya Nayla memamerkan


moment-moment saat bersama Al ketika pengambilan raport dan piagam penghargaan.


Karena Bilqis menjadi juara pertama.


Queen yang merasa muak dan mungkin juga cemburu melihat Al


berpose dengan wanita lain memamerkan senyumannya langsung beranjak mengambil


tasnya dan pergi begitu saja.


‘Akan aku pastikan, ini yang terakhir buat kamu, Nay!’ seru


Queen dalam hati.


Setelah setengah jam menempuh perjalanan menuju hotel di


mana Nayla dan Jevin membuat janji, Wanita itu langsung menemui menejer hotel


untuk meinta izin membongkar scandal perselingkuhan seseorang.


Sebenarnya tidak semudah itu meskipun sudah menggunakan uang


pelicin sekalipun. Tapi, semuanya bisa berjalan mulus karena orangnya Vico sudah memberi


kode pada meneger dan juga pelayan tersebut. Jadi, Queen tidak begitu kesusahan


dan menghabiskan banyak waktu.


“Memang scandal perselingkuhan siapa yang akan anda bongkar,


Bu?”


“Scandal istri dari kakak saya 0 Pak. Saya mohon, izinkan


saya terus mengawasinya di sini. Bantu saya ya, Pak? Saya tidak terima kakak


saya yang baik dan setia malah diselingkuhi oleh istrinya,” ucap Queen memohon.


Pria paruh baya itu hanya mengangguk beberapa kali, dan berkata,


“Baiklah. Saya akan kabulkan permintaan anda. Ya sudah, mungkin anda ingin


memantau di tempat CCTV?”


“Iya, Pak. Saya mau, terimakasih ya, Pak.” Dengan semangat,


Queen pun langsung berdiri dan beranjak mengikuti pria itu menuju tempat


pemantauan CCTV hotelnya.


Setelahnya, Pria itu menghubungi Vico dan memberi kode semua


beres. Bahkan, Al pun juga sudah di kabari pula oleh Vico. Jadi, ia juga sudah


bersiap dan minta keringganan kerjaan untuk hari ini pada papanya karena satu


hal.


“Masih ada waktu, kira-kira duapuluh menitan. Aku harus


segera menghubungi papa. Dia benar-benar extreme. Baru saja kembali terjun ke


perusahaan, aku sudah dibikin tidak bisa diam saja olehnya. Belum lagi kakek


yang makin tua makin kaya bocah saja,” gerutunya, seorang diri.


“Halo, Al. Apakah ada masalah?” Vano melihat ke arah Clara,


dan memberi isyarat, dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Lalu, wanita itu mendekat ke arah suaminya untuk mendengarkan suara putranya,


sambil bersandar di dada bidang suaminya.


‘’Tidak, Pa. Ini, nanti kalau pembukuannya tidak bisa selesai


hari ini tidak apa-apa, kan? Aku ada sedikit urusan,’’ jawab Al, dari seberang


sana.


Sementara Clara, dia hanya tersenyum saja. Meskipun tidak


bisa melihat, mendengarkan suara Al saja sudah cukup membuatnya senang.


‘’Apakah itu sangat penting?’’


‘’Pa, ayolah aku mohon. Izinkan aku menggunakan waktu istirahatku,’’


renggek Al.


 Mendengar itu, Clara tak bisa menahan tawanya,


sampai-sampai ia menjauh, dan menenggelamkan wajahnya pada bantal. Agar suara


tawanya tiak sampai keluar.


‘’Ok. Tapi untuk kali ini saja,’’


jawab Vano. Lalu pria itu mematikan panggilan dari putranya.


Ia melihat ke arah istrinya, lalu


menghampirinya, “Kenapa sayang?”


“Ya ampun, Van… Al itu sudah usia


berapa? Di mana diriya yang tegas dan dingin itu? Apakah selama ini kau dan


papa menindasnya?”


“Tentu saja tidak! Kenapa kau


berfikir demikian.”


“Al yang selalu serius dan tegas


bahkan sampai bisa merengek seperti bocah lima tahun, Van?”


“Aku sadar dia juga sudah seperti


itu, tanyakan saja sama papa. Apa yang dia lakukan pada putra kesayanganmu


itu.” Vano merangkul tubuh Clara dan keduanya pun bermesraan melepas


kerinduannya. Mungkin pikir Vano mumpung papanya pulang, dan suster masih belum


datang. Saat mereka awal menempati rumah ini pun juga dulu masih hamilnya


Queen. Anggap saja bernostalgia.


Sementara Queen terus memantau Nayla


yang napak duduk di restoran hotel, dari lagaknya, terlihat sekali kalau ia sedang


menunggu seseorang. Tak lama kemudian Jevin pun tiba. Dalam cctv tersebut,


terlihat kalau Nayla masih sangat bete denga  pria itu. Tapi, Jevin langsung merayu dan beberapa kali memberikan


ciuman pada wanita di hadapannya.


Queen merasa jijik saja dengan


Nayla. Ia berfikir, apakah Al sudah tidak mau dengan Nayla itu karena merasa kalau


dia tidak setia? Ia jadi ingat nasehat mamanya dulu, laki-laki itu tahu,

__ADS_1


istrinya selingkuh atau tidak dari cara saat mereka lagi bercampur. Karena pria


bisa membedakan ****** miliknya sama yang bukan. Tapi, yang membuat Queen


heran, kenapa Al tidak menyelidikinya?


Entahlah, Queen tidak mau larut


dalam pertanyaan-pertanyaan itu, yang perlu dilakukan saat ini adalah


mengubungi Al dan meminta segera bersiap menuju hotel. Tapi, wanita itu


berpesan untuk tidak langsung masuk sebelum mendapatkan aba-aba darinya.


Al hanya menurut saja, tidak


berani bertanya kenapa demikian. Karena jika ditanya kenapa, yang ada Queen


juga malah ngambeg. Lagipula dia juga sudah tahu rencana istrimudanya.


“Al, kamu ke parkiran saja, aku


menunggumu di depan lobi.”


Sekitar tiga menit, Queen sudah


melihat Al nampak berjalan menuju ke arahnya.


“Kita mau makan sekarang?”


ucapnya sambil menunduk memandang wajah Queen yang terlihat sedikit pucat.


Wanita itu diam, Ia mencoba


mengulur waktu. Tapi, tidak untuk makan siang. Melainkan menunggu Nayla


melakukan hal intim di dalam kamar yang di sewanya.


“Aku akan mengajakmu ke suatu


tempat. Itu akan membuatmu kenyang tanpa makan, ayo!” Queen menggandeng tangan


Al dan mengajaknya berjalan menuju kamar Nayla dan Jevin.


“Sayang. Apakah kau ingin kita


cek in di siang bolong? Kenapy harus di hotel? Kita bisa melakukannya di rumah.


Atau kamu inginkan suasana baru?” goda Al, berlaga ****.


Queen masih memasang wajah


serius. Nayla dan Jevin sudah sekitar sepuluh menit masuk ke dalam kamar tersebut.


Karena waktunya terbatas, Cuma satu jam saja. Pasti juga hal yang Queen tunggu


sudah mereka lakukan.


Dengan menggunakan kuci cadangan,


Queen membuka pintu kamar itu dengan lebar, dan terlihat di sana dua sejoli


tengah melakukan perbuatan mesum dalam konsisi tubuh tanpa sehelai benang pun.


Menyadari pintu kamarnya terbuka


lebar, mereka berdua menoleh ke arah pintu, dari raut wajah keduanya, terlihat


kalau Nayla dan Jevin hendak memaki siapapun yang berani dengan lancangnya


membuka pintu kamar di saat mereka sama-sama hampir mencapai pucak


kenikmatannya.


Tapi, betapa terkejutnya mereka


berdua mendapati siapa yang berdiri di depan pintu. Al dan Queen.


Dengan tergopoh, Nayla dan Jevin


sibuk mencari apapun yang bisa dipergunakan untuk menutupi tubuh polos mereka.


Nayla menggunakan selimut dan berlari, duduk bersimpuh di depan Al sambil


menangis dan meinta maaf.


“Mas. Maafkan aku, Mas. Aku


terpaksa melakukan ini karena kau sudah lama mengabaikanku, jika saja kau tidak


mengabaikanku, hal ini tidak akan terjadi.”


Al hanya diam. Dia bingung harus


menunjukkan ekspresi yang bagai mana, karena dia juga sudah tahu dari sejak


lama. Kalau menuruti isi hatinya sekarang, dia sangat bahagia, karena Queen


berhasil melakukan sesuai apa yang dia inginkan.


“Al, apakah kau masih mau


bertahan dari wanita seperti ini? Dia sudah menghabiskan uang sekitar tujuhratus


juta untuk diberikan pada selingkuhannya. Aku mau kau menceraikannya, atau… “


Belum sempat Queen melanjutkan


kalimatnya, Nayla sudah memotong kalimatnya, ia bangkit, tak pedulikan


selimutnya yang melorot. Toh juga sudah kepalang basah.


“Atau apa? Kau memang selama ini


yang jadi provokator dan memata-mataiku, kan?” Dengan kedua tangannya, Nayla


mendorong keras tubuh Queen.


Al tidak sempat melindungi Queen


dari serangan Nayla. Karena sedikitpun ia tidak menyangka kalau Nayla berani


melakukan hal itu di depannya.


Sementara Queen yang memang sudah


tidak enak badan dan tidak ada persiapan, seketika ia pun roboh dan pingsan.


“Nayla! Beraninya sekali kau!


Oke, mulai sekarang kita pisah! Kita urus perceraian kita besok ke pengadilan


agama!” bentak Al.


Al pun langsung mengangkat tubuh


Queen dan memesan kamar secara dadakan untuk mendapatkan perwatan bagi Queen.


“Siapapun, tolong cepat


panggilkan dokter, minta dia memeriksa kondisi istriku!” seru Al sangat panik.


Sementara Nayla dan Jevin sudah


dikeroyok oleh pengunjung hotel dan beberap orang suruhan Vico untuk mengarak


mereka berdua dalam keadaan telanjang, menuju ke kantor polisi. Jarak kantor


polisi terdekat dengan hotel sekitar empat kilometer. Jadi, lumayan, hal itu cukuplah


membuat Nayla dan Jevin yang ketangkap basah tidak memiliki muka.


Al nampak panik, ia sudah berusaha keras. Tapi, Queen masih juga belum sadar.


"Al, bagaimana kondisi Queen? Dokter sudah ada di perjalanan. Tidak sampai lima menit lagi juga pasti akan datang," sahut Vico, yang tiba-tiba saja muncul di balik pintu.


"Thanks, Vic. Ini salahku. Harusnya aku tidak meremehkan Nayla. jika saja aku tadi sigap, pasti hal ini tidak akan terjadi." Al terus menyalahkan diri sendiri.

__ADS_1


"Lain kali kamu harus waspada. Jaga dia lebih baik lagi. mungkin kepalanya terbentur lantai."


Al hanya diam, beberapa kali ia hanya mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Sementara Dokter juga masih belum sampai juga. Lima menit saja seperti menunggu seharian juga dakam keadaan seperti ini.


__ADS_2