
Ketika semua usai sarapan dan hendak melakukan aktifitasnya
masing-masing. Queen berlari mengejar mobil Al yang akan berangkat ke kantor. Di
mana di sana ada Nayla dan juga Bilqis. Hari ini adalah hari pengambilan
raport Bilqis, dan Al berencana akan menghadirinya sebelum akhirnya ia pergi bekerja.
“Aaaal! Tunggu dulu!” Queen berteriak, setengah berlari dan
melambaikan tangannya.
Pria itu melihat bagaimana istri keduanya melambaikan
tangannya dari spion. Karena penasaran, ia pun menghentikan mobilnya di
tengah-tengah gerbang. Toh ia yakin tidak akan ada yang datang, dan semua juga
sudah pada pergi. Tinggal dia yang paling terakhir.
“Mau apa lagi, dia?” umpat Nayla. Al sebenarnya mendengar.
Tapi, ia mengabaikannya. Pria itu turun dan langsung disambut oleh Queen yang
tengah membawa dasi di tangannya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Al.
“Kau melupakan sesuatu,” jawabnya sambil menunjukkan dasi
berwana biru bermotif yang dikombinasikan dengan warna abu-abu atau silver.
Al hanya tertawa. Tidak berkata apa-apa. Ekspresinya sangat payah
“Kemari, biar aku pakaikan!” Queen sedikit berjinjit
menaikkan krah kemeja yang dikenakan oleh suaminya, karena ia masih kalah
tinggi dengan pria itu. Jelas saja. Kalau ia lebih tinggi dari Al. Queen juga
tidak akan mau dengan pria yang lebih pendek dengan dirinya.
Menyadari istrinya kesusahan, Al pun langsung membungkukkan
badannya agar memudahkan Queen memasangakan dasi untuk dirinya. Begitu selesai,
ada senyum lega di wajahnya. Sambil merapikan, wanita itu berkata, “Begini
kan kamu terlihat lebih ganteng, Sayang.”
Kembali Al tertawa, memegang kedua pipi Queen dan mengecup
keningnya. “Terimakasih ya Sayang.”
“Hati-hati, Ya. Ingat pesanku tadi,” imbuh Queen lalu
melambaikan tangannya.
Melihat adegann yang sangat menohok itu, Nayla hanya
memasang wajah masam saja Ingin marah juga tidak bisa. Tapi, dalam hati ia juga
menyesali dirinya sendiri. Bgaimana ia sebagai istri bisa mengabaika hal itu? Bukankah laki-laki paling suka diperhatikan, sekalipun itu hanyalah hal kecil? Tapi, yang ada ia malah sibuk dengan penampilan dan mempercantik diri sendiri saja.
Nayla melirik ke arah Al yang tengah mengemudi. Terlihat
sekali kalau pria itu sangat terkesan dengan apa yang baru saja Queen lakukan.
Di rumah, Queen menunggu kedatangan Nayla dan anaknya pulang
dari sekolahan. Ia ingin lihat, seperti apa kebahagiaan dia kali ini untuk yang terakhir kali. Tapi, itu sangat membosankan sekali. Ingin ke rumah sakit juga
bukan jdwal praktiknya. Akhirnya, ia menggunakan waktunya untuk berenang.
***
Di sebuah ruangan rawat inap VVIP, dua orang pria tengah menemani
seorang wanita yang masih tergeletak lemas. Walau wajahnya nampak bahagia dengan
cerita-cerita yang diucapkan oleh dua pria di kiri dan kanannya, wajahnya masih
nampak pucat. Bahkan bibirnya juga putih, seputih salju.
“Lalu, bagaimana? Apakah Queen sudah hamil kembali?” tanya
wanita itu dengan mata yang berbinar.
“Kita tunggu saja Sayang. Pasti tidak akan lama lagi. Yang
penting keduanya sudah saling mencintai, itu sangat gampang,” jawab Vano dengan
suka cita.
“Van, aku kangen mereka.”
Vano diam. Tidak memjawab. Lalu, wanita itu menoleh ke
sebelah kiri dan berkata sambil memegangi tangan pria tua itu. Sambil merengek,
“Papa, kapan aku bisa bertemu mereka?”
“Ra, kamu yang sabar dulu, ya? Biarkan mereka menyelesaikan
misi mereka dulu. Kamu baik-baik saja di sini. Kami akan menjagamu secara
bergantian, oke?” hibur Andrean.
Clara hanya diam dan menunduk. Andrean dan Vano sengaja
menyembunyikan kabar kalau Clara sudah sadar dari dua anaknya. Untuk
mengalihkan mereka berdua, Vano memberi Al banyak tugas sehingga ia menjadi
tidak sempat ke rumah sakit.
Sementara Andrean selalu memantau pergerakan Queen agar
selalu diam di rumah diluar jam praktik. Bahkan, sekalipun di rumah sakit, ia
juga dilarang masuk ke ICU dengan alasan kakek atau papanya sudah masuk selama
satu jam lebih. Padahal, Pasien sudah di pindah di ruang VVIP sejak dua hari
yang lalu. Selain itu, Andrean juga selalu menekan Al agar selalu memiliki waktu
lebih untuk Queen. Jika memang tidak lembur, ya langsung pulang saja, tak ada
alsan apapun untuk mampir kemana saja selain membeli apa yang Queen minta. Dengan dalih, agar hati ostrinya cepat ditaklukkan.
“Baiklah, Aku akan bersabar menanti waktu yang tepat yang
kalian maksutkan. Tapi, boleh kan, bawa aku ke makan mama dan papa Andreas?’’ ucap
Clara, masih menunduk.
“Iya, kamu baik-baik saja di sini, oke. Jika kamu bosan
dengan suasana rumah sakit, bagaimana kalau kita menempati rumah hadiah dari
papa yang lama tidak kita tempati itu? Aku akan menjagamu di sana.” Vano terus
menggenggam tangan istrinya.
“Lalu, apakah kamu tidak akan pulang ke rumah, melihat
anak-anak kita?” tanya Clara balik.
Vano hanya tersenyum dan membenarkan posisi duduknya. Ia
berkata dengan lembut. “Sayang, anak-anak kita itu sudah pada dewasa. Mereka
bukan lagi balita. Tidak apa-apa. Aku bisa bilang ke luar kota untuk beberapa
pekan.”
Setelah cukup lama mereka berdua meyakinkan Clara. Akhirnya Clara
__ADS_1
pun setuju untuk melakukan perawatan di rumah. Mereka mendatangkanperawat kusus
yang akan siap menjaga Clara selama duapuluh empat jam, dan juga dokter yang
selalu memeriksanya setiap hari.
****
Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Nayla bersama
putrinya sudah tiba di rumah. Queen melihat bagaimana sombongnya Nayla memamerkan
moment-moment saat bersama Al ketika pengambilan raport dan piagam penghargaan.
Karena Bilqis menjadi juara pertama.
Queen yang merasa muak dan mungkin juga cemburu melihat Al
berpose dengan wanita lain memamerkan senyumannya langsung beranjak mengambil
tasnya dan pergi begitu saja.
‘Akan aku pastikan, ini yang terakhir buat kamu, Nay!’ seru
Queen dalam hati.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan menuju hotel di
mana Nayla dan Jevin membuat janji, Wanita itu langsung menemui menejer hotel
untuk meinta izin membongkar scandal perselingkuhan seseorang.
Sebenarnya tidak semudah itu meskipun sudah menggunakan uang
pelicin sekalipun. Tapi, semuanya bisa berjalan mulus karena orangnya Vico sudah memberi
kode pada meneger dan juga pelayan tersebut. Jadi, Queen tidak begitu kesusahan
dan menghabiskan banyak waktu.
“Memang scandal perselingkuhan siapa yang akan anda bongkar,
Bu?”
“Scandal istri dari kakak saya 0 Pak. Saya mohon, izinkan
saya terus mengawasinya di sini. Bantu saya ya, Pak? Saya tidak terima kakak
saya yang baik dan setia malah diselingkuhi oleh istrinya,” ucap Queen memohon.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk beberapa kali, dan berkata,
“Baiklah. Saya akan kabulkan permintaan anda. Ya sudah, mungkin anda ingin
memantau di tempat CCTV?”
“Iya, Pak. Saya mau, terimakasih ya, Pak.” Dengan semangat,
Queen pun langsung berdiri dan beranjak mengikuti pria itu menuju tempat
pemantauan CCTV hotelnya.
Setelahnya, Pria itu menghubungi Vico dan memberi kode semua
beres. Bahkan, Al pun juga sudah di kabari pula oleh Vico. Jadi, ia juga sudah
bersiap dan minta keringganan kerjaan untuk hari ini pada papanya karena satu
hal.
“Masih ada waktu, kira-kira duapuluh menitan. Aku harus
segera menghubungi papa. Dia benar-benar extreme. Baru saja kembali terjun ke
perusahaan, aku sudah dibikin tidak bisa diam saja olehnya. Belum lagi kakek
yang makin tua makin kaya bocah saja,” gerutunya, seorang diri.
“Halo, Al. Apakah ada masalah?” Vano melihat ke arah Clara,
dan memberi isyarat, dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Lalu, wanita itu mendekat ke arah suaminya untuk mendengarkan suara putranya,
sambil bersandar di dada bidang suaminya.
‘’Tidak, Pa. Ini, nanti kalau pembukuannya tidak bisa selesai
hari ini tidak apa-apa, kan? Aku ada sedikit urusan,’’ jawab Al, dari seberang
sana.
Sementara Clara, dia hanya tersenyum saja. Meskipun tidak
bisa melihat, mendengarkan suara Al saja sudah cukup membuatnya senang.
‘’Apakah itu sangat penting?’’
‘’Pa, ayolah aku mohon. Izinkan aku menggunakan waktu istirahatku,’’
renggek Al.
Mendengar itu, Clara tak bisa menahan tawanya,
sampai-sampai ia menjauh, dan menenggelamkan wajahnya pada bantal. Agar suara
tawanya tiak sampai keluar.
‘’Ok. Tapi untuk kali ini saja,’’
jawab Vano. Lalu pria itu mematikan panggilan dari putranya.
Ia melihat ke arah istrinya, lalu
menghampirinya, “Kenapa sayang?”
“Ya ampun, Van… Al itu sudah usia
berapa? Di mana diriya yang tegas dan dingin itu? Apakah selama ini kau dan
papa menindasnya?”
“Tentu saja tidak! Kenapa kau
berfikir demikian.”
“Al yang selalu serius dan tegas
bahkan sampai bisa merengek seperti bocah lima tahun, Van?”
“Aku sadar dia juga sudah seperti
itu, tanyakan saja sama papa. Apa yang dia lakukan pada putra kesayanganmu
itu.” Vano merangkul tubuh Clara dan keduanya pun bermesraan melepas
kerinduannya. Mungkin pikir Vano mumpung papanya pulang, dan suster masih belum
datang. Saat mereka awal menempati rumah ini pun juga dulu masih hamilnya
Queen. Anggap saja bernostalgia.
Sementara Queen terus memantau Nayla
yang napak duduk di restoran hotel, dari lagaknya, terlihat sekali kalau ia sedang
menunggu seseorang. Tak lama kemudian Jevin pun tiba. Dalam cctv tersebut,
terlihat kalau Nayla masih sangat bete denga pria itu. Tapi, Jevin langsung merayu dan beberapa kali memberikan
ciuman pada wanita di hadapannya.
Queen merasa jijik saja dengan
Nayla. Ia berfikir, apakah Al sudah tidak mau dengan Nayla itu karena merasa kalau
dia tidak setia? Ia jadi ingat nasehat mamanya dulu, laki-laki itu tahu,
__ADS_1
istrinya selingkuh atau tidak dari cara saat mereka lagi bercampur. Karena pria
bisa membedakan ****** miliknya sama yang bukan. Tapi, yang membuat Queen
heran, kenapa Al tidak menyelidikinya?
Entahlah, Queen tidak mau larut
dalam pertanyaan-pertanyaan itu, yang perlu dilakukan saat ini adalah
mengubungi Al dan meminta segera bersiap menuju hotel. Tapi, wanita itu
berpesan untuk tidak langsung masuk sebelum mendapatkan aba-aba darinya.
Al hanya menurut saja, tidak
berani bertanya kenapa demikian. Karena jika ditanya kenapa, yang ada Queen
juga malah ngambeg. Lagipula dia juga sudah tahu rencana istrimudanya.
“Al, kamu ke parkiran saja, aku
menunggumu di depan lobi.”
Sekitar tiga menit, Queen sudah
melihat Al nampak berjalan menuju ke arahnya.
“Kita mau makan sekarang?”
ucapnya sambil menunduk memandang wajah Queen yang terlihat sedikit pucat.
Wanita itu diam, Ia mencoba
mengulur waktu. Tapi, tidak untuk makan siang. Melainkan menunggu Nayla
melakukan hal intim di dalam kamar yang di sewanya.
“Aku akan mengajakmu ke suatu
tempat. Itu akan membuatmu kenyang tanpa makan, ayo!” Queen menggandeng tangan
Al dan mengajaknya berjalan menuju kamar Nayla dan Jevin.
“Sayang. Apakah kau ingin kita
cek in di siang bolong? Kenapy harus di hotel? Kita bisa melakukannya di rumah.
Atau kamu inginkan suasana baru?” goda Al, berlaga ****.
Queen masih memasang wajah
serius. Nayla dan Jevin sudah sekitar sepuluh menit masuk ke dalam kamar tersebut.
Karena waktunya terbatas, Cuma satu jam saja. Pasti juga hal yang Queen tunggu
sudah mereka lakukan.
Dengan menggunakan kuci cadangan,
Queen membuka pintu kamar itu dengan lebar, dan terlihat di sana dua sejoli
tengah melakukan perbuatan mesum dalam konsisi tubuh tanpa sehelai benang pun.
Menyadari pintu kamarnya terbuka
lebar, mereka berdua menoleh ke arah pintu, dari raut wajah keduanya, terlihat
kalau Nayla dan Jevin hendak memaki siapapun yang berani dengan lancangnya
membuka pintu kamar di saat mereka sama-sama hampir mencapai pucak
kenikmatannya.
Tapi, betapa terkejutnya mereka
berdua mendapati siapa yang berdiri di depan pintu. Al dan Queen.
Dengan tergopoh, Nayla dan Jevin
sibuk mencari apapun yang bisa dipergunakan untuk menutupi tubuh polos mereka.
Nayla menggunakan selimut dan berlari, duduk bersimpuh di depan Al sambil
menangis dan meinta maaf.
“Mas. Maafkan aku, Mas. Aku
terpaksa melakukan ini karena kau sudah lama mengabaikanku, jika saja kau tidak
mengabaikanku, hal ini tidak akan terjadi.”
Al hanya diam. Dia bingung harus
menunjukkan ekspresi yang bagai mana, karena dia juga sudah tahu dari sejak
lama. Kalau menuruti isi hatinya sekarang, dia sangat bahagia, karena Queen
berhasil melakukan sesuai apa yang dia inginkan.
“Al, apakah kau masih mau
bertahan dari wanita seperti ini? Dia sudah menghabiskan uang sekitar tujuhratus
juta untuk diberikan pada selingkuhannya. Aku mau kau menceraikannya, atau… “
Belum sempat Queen melanjutkan
kalimatnya, Nayla sudah memotong kalimatnya, ia bangkit, tak pedulikan
selimutnya yang melorot. Toh juga sudah kepalang basah.
“Atau apa? Kau memang selama ini
yang jadi provokator dan memata-mataiku, kan?” Dengan kedua tangannya, Nayla
mendorong keras tubuh Queen.
Al tidak sempat melindungi Queen
dari serangan Nayla. Karena sedikitpun ia tidak menyangka kalau Nayla berani
melakukan hal itu di depannya.
Sementara Queen yang memang sudah
tidak enak badan dan tidak ada persiapan, seketika ia pun roboh dan pingsan.
“Nayla! Beraninya sekali kau!
Oke, mulai sekarang kita pisah! Kita urus perceraian kita besok ke pengadilan
agama!” bentak Al.
Al pun langsung mengangkat tubuh
Queen dan memesan kamar secara dadakan untuk mendapatkan perwatan bagi Queen.
“Siapapun, tolong cepat
panggilkan dokter, minta dia memeriksa kondisi istriku!” seru Al sangat panik.
Sementara Nayla dan Jevin sudah
dikeroyok oleh pengunjung hotel dan beberap orang suruhan Vico untuk mengarak
mereka berdua dalam keadaan telanjang, menuju ke kantor polisi. Jarak kantor
polisi terdekat dengan hotel sekitar empat kilometer. Jadi, lumayan, hal itu cukuplah
membuat Nayla dan Jevin yang ketangkap basah tidak memiliki muka.
Al nampak panik, ia sudah berusaha keras. Tapi, Queen masih juga belum sadar.
"Al, bagaimana kondisi Queen? Dokter sudah ada di perjalanan. Tidak sampai lima menit lagi juga pasti akan datang," sahut Vico, yang tiba-tiba saja muncul di balik pintu.
"Thanks, Vic. Ini salahku. Harusnya aku tidak meremehkan Nayla. jika saja aku tadi sigap, pasti hal ini tidak akan terjadi." Al terus menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
"Lain kali kamu harus waspada. Jaga dia lebih baik lagi. mungkin kepalanya terbentur lantai."
Al hanya diam, beberapa kali ia hanya mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Sementara Dokter juga masih belum sampai juga. Lima menit saja seperti menunggu seharian juga dakam keadaan seperti ini.