Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 8


__ADS_3

Semalam penuh Clara hanya mondar-mandir di kamarnya, dia merasa aneh, dengan apa yang dirasakan tadi di meja makan setelah merasakan ciuman Vano yang hampir dua tahun tak lagi dirasakannya. Seperti ada kerinduan dalam dirinya.



Clara menoleh saat pintu kamarnya terbuka, dia terkejut bukan main mendapati Vano kembali menutup pintu berjalan mendekatinya.


"Kak, keluarlah! Jangan masuk kamar Clara malam-malam gini." Raut wajahnya menunjukan rasa was-was.



"Kenapa? Tidak ada siapa-siapa, Ra," bisik Vano, lirih.



"Kak, bagaimana kalau Papa atau Mama nanti bangun dan mengetahui Kakak ada di sini? Mereka akan curiga,"



"Mereka sudah tidur, Sayang,"



Clara tersipu membuang muka dari Vano mendengar kata sayang darinya.


Entah sejak kapan perasaan terkutuk itu kembali muncul dalam hatinya.


"Kak ...."



"Tadi kamu hanya memanggil namaku, kenapa jadi memanggil aku Kakak?" potong Vano.



"Semenjak orang tua kita menikah, kamu nemang Kakakku, kan?" bantah Clara.



"Iya, tapi sebenarnya bukan, kita beda Ayah juga Ibu."


Kembali Vano memeluk Clara dan menciuminya, kini dia menjajaki leher jenjang Clara, dan meninggalkan beberapa bekas merah gigitanya di leher itu.



Clara mendesah pelan, sambil berusaha mendorong tubuh kekar pria itu pelan, "Kak, nanti bagai mana kalau Mama bangun lalu melihat apa yang kita, lakukan?"



Dengan enteng Vano menjawab, "Mereka sudah asik dengan pekerjaannya, ini kan malam jumat, pasti sedang ritual. Jika pun kelar, ya pasti uda pada tidur kecapekan," ucap Vano sambil menggiring Clara ke atas ranjang.



Meski akal sehat Clara tidak dapat membenarkan ini, tapi tubuhnya tak mampu menolak, dia seolah terhipnotis dan diam saat tubuh Vano tertelungkup di atasnya.



"Aku akan buat perhitungan dengan Farel, besok, aku tidak terima kamu disakiti," ucap Vano di sela-sela ciumannya.



"Sudahlah, kak. Biarkan saja!"



"Kenapa? Kamu masih sayang sama dia?"



"Jelas tidak, justru aku males dengannya,"



"Lalu, kenapa aku tidak boleh membuat peritungan dengannya?"



"Jika kakak lakukan itu, seolah-olah aku mengadu cengeng dan meminta Kakak untuk berbuat sesuatu agar dia tetap bersamaku untuk setia."



"Hah, itu alasan basi wanita tidak mau pria pujaannya kenapa-napa," sinis Vano.



"Menyingkirlah dari atasku, keembali ke kamarmu!"



Vano tersenyum menggoda mencium kilat bibirnya lalu pergi.



Pagi-pagi Clara membantu Vivian menyiapkan sarapan di dapur, mereka menyiapkan sendiri karena Bi Narsih izin 3 hari kedepan pulang kampung karena urusan keluarga, ada salah satu keponakannya akan menikah.



"Ra, mulai sekarang kalau kamu habis kuliah, dan mau pulang, langsung aja pulang ke rumah, jangan ke apartemen tempat kakak kamu bersantai," ucap Vivian.



"Kenapa, Ma?" tanya Clara tidak mengerti.



"Jangan pikir Mama tidak tau apa yang semalam kamu lakukan dengan Vano, ingat Ra, dia itu kakak kamu, kamu bebas memilih pira manapun di luar sana, tapi jangan kakakmu!"

__ADS_1



Ucapan Vivian bagai sengatan anak kalajengking di tubuhnya, dia kaget setengah mati, 'Mama lihat aku dan Vano semalam? Saat di balkon apa di kamar?' batinnya.



"Jangan kamu genit-genit sama kakakmu, berprilakulah layaknya seorang adik terhadap kakaknya, jika dalam rumah bersama kami kamu berani seperti itu, bagaimana di apartemen yang hanya ada kalian berdua?"



"Percayalah, Ma. Vano, eh Kak Vano tidak seperti itu, dia hanya .... "



"Hanya menuruti kemauanmu saja?" potong Vivian.



Clara tak tahu harus menjawab apa, dia mengalihkan topik pada menu sarapan pagi ini, dia mengambil dua lembar roti tawar mengolesinya dengan selay coklat kacang lalu memakannya di tempat.



Kali ini Clara segera bersiap meninggalkan rumah, dia sengaja menghindari Vano, karena tidak mau menciptakan masalah baru, dan perpisahan selama setahun tanpa komunikasi sungguh menyiksanya.



Di tangga Clara berpapasan Dengan Vano, namun tak mampu ia mengatakan sepatah katapun terhadapnya. Hanya dengan pandangan penuh isyarat berharap dimengerti.



"Mama, Papa, aku kuliah dulu, Ya?"



"Pagi banget, Ra?" tanya Vano heran, dia tahu kalau hari sabtu Clara gak ada kuliah.



Dengan grogi Clara memberi jawaban sekenanya, "Iya, kak. Sama ada sesuatu yang harus ku kerjakan di kampus."



Vivian terus mengamati mereka. Melihat Vano bangkit dari meja ia segera berseru, "Van, habiskan dulu sarapannya. Biarkan dia pergi, dia cuma ke kampus!"



Vano menuruti dan kembali menghabiskan sarapannya.



Sepanjang perjalanan menuju kantor Vano tak henti-hentinya memikirkan perbubahan Clara dan mamanya.


'Apa mama mengetahui perbuatan kami kemarin? Lalu melarang Clara mendekatiku lagi' batinnya.


"Sial!" gerutunya seorang diri sambil memukuli setir berkali-kali.




Namun, panggilan tetap tak dijawab sampai tiga kali.



"Maafin aku, Ra. Terlalu gegabah," sesal Vano seorang diri.



Memasuki jam istirahat kerja Vano langsung pergi menuju apartemen berharap Clara ada di sana, tapi sesampainya di sana suasana sepi. Tak menunukan tanda-tanda Clara datang.



Dia mencoba menghubungi Eren dan Selly. Tapi keduanya tidak bersama dengan Clara.


Tanpa pikir panjang Vano melajukan kendaraannya menuju Cafe Reza, ternyata benar, dia asik dengan laptopnya di meja paling pojok.



"Apa dari pagi kamu di sini?" tanya Vano, yang tanpa disadari Clara, dia sudah duduk di depannya.



"Kakak?" pandangan Clara terpaku beberapa saat melihat Vano di depannya. Dia terpesona oleh penampilan sexynya, dengan dasi  dilonggatkan, tiga kancing teratas terlpas serta lengan kemejanya yang dilipat sebatas siku. Sungguh membuat Clara terpukau.



"Aku sudah menduga kau di sini, ayo pulang!"



"Tidak, aku masih mau di sini," ucap Clara kikuk.



"Untuk apa?"



"Pergilah, jangan pedulikan aku!"



"Kamu ini adikku, Ra. Aku bertanggung jawan untuk keselamatanmu." Melirik ke arah Reza. "dan aku tidak pernah menyukai kau dekat dengan pria manapun."


__ADS_1


"Ok, kamu kakakku. Tapi tidak berhak mengatur hidupku dalam menentukan pilihan, Lagipula jauh sebelum mengenalmu, aku lebih dulu mengenalnya," cetus Clara. "Dia pria baik dan tak pernah kasar."



Mendengar kalimat terakhir Clara Vano merasa emosinya terbakar, terlihat dari buliran keringat yang membasahi pelipisnya.



"Ikut aku sekarang, atau aku memaksamu?"



Dengan kesal Clara menuruti kemauan kakaknya. Dia menutup laptop, memasukannya ke dalam tas dengan kasar. Karena tidak ingin hal tak diinginkan terjadi dengan berat hati dia menuruti Vano.



Dengan sengaja Vano meraih pinggang Clara saat berjalan lewat di hadapan Reza.



Clara hanya menunduk merasa tidak enak dengan sahabatnya itu.



Sesampai di mobil Clara masih diam, saat Vano mulai menghidupkan mesin digenggamnya tangan Vano, serta menatap dengan tatapan lembut.



"Kita bicara ke apartemen saja."



Clara mengelengkan kepalanya.



"Kenapa? Apakah kamu berubah karena mama?"



"Iya. Dia melihat kita semalam. Makanya aku langsung pergi pagi tadi." Clara menundukan kepala ledua telapak tangannya ditutupkan pada wajahnya mencegah buliran-buliran bening yang menetes daru mata indahnya.



Vano mengelus kepala Clara, "Apa perlu kita melawan mereka lagi? Sebentar lagi kamu lulus kuliah, kita langsung nikah saja."



"Kawin lari?" Clara terkejut membuka wajahnya dan menatap lekat ke arah Vano.



"Tidak, kita paksa memohon dengan cara apapun." Mata Vano masih terus terfokus pada jalan.



"Aku lelah melawan kehendak papa dan mama, Van."



Tiba-tiba ponsel Vano berdering. Vano melirik ke arah layar.



"Dari papa." Mengarahkan kepada Clara afar melihatnya.



Clara mengangguk memberi isyarat untuk sang kakak segera menjawab panggilannya.



"Halo Pa,"



"...."



"Iya, ini Vano sama Clara. Sekalian saja Vano ajak dia ke sana."



Vano langsung mematikan sambungan dan meletakkan gawainya kembali kedalam saku jas.



Menoleh ke arah Clara, "Papa mau ajak kita makan siang di kantor dengan rekannya."



Lagi-lagi dia hanya mengangguk, enggan menjawab sepatahpun.



Selama perjalanan tidak ada obrolan di antara keduanya, sesekali Vano menggenggam tangan Clara  yang diletakam diatas pahanya. Terus digenggam sampai tiba diparkiran kantor, Vano berhenti sejenak tidak lansung turun mencium punggun tangan kanan Clara. "I'll love you."



Clara tersipu malu mencubit manja pipi Vano, "Ayo, papa dan mama pasti sudah menunggu kita."



__ADS_1



__ADS_2