
Aditya menyeringai puas. Digenggamnya dengan erat kedua pergelangan Quen dan ditekan pada kasur.
"Kau berteriak-teriak saja sepuasmu, tidak akan ada yang menolongku di sini," ucapnya.
Tapi rupanya laki-laki itu salah. Pintu yang lupa tak dikunci membuat siapapun dengan mudah masuk. Terlebih kamar itu juga pintunya terbuka lebar.
Dari arah belakang, Krah baju Aditya ditarik dengan kencang. Sebuah tinjuan bertubi-tubi menghantam wajahnya.
Darah segar mengalir dari hidung dan ujung bibir hidung belang itu. Pria uang menghajar Aditya benar-benar kapal hingga tak ingat apapun. Sampai Aditya terkapar tak berdaya ia terus menghajarnya.
Melihat orang itu menghajar Aditya habis-habisan Quen berteriak, "Kak Al, sudah! Hentikan aku gak mau kamu masuk penjara kalau dia sampai mati."
Al yang sudah benar-benar kalap dan membabi buta ia tak peduli. Jangankan masuk penjara, nyawa saja ia berikan untuk dirinya.
"Kaak, kalau sampai itu terjadi, aku sama siapa?" teriak wanita itu lagi sambil menangis berjongkok melipat kedua kakinya untuk menutupi tubuhnya di bagian atas yang pakaiannya sudah koyak.
Mendengar ucapan itu Al melayangkan tangannya diudara. Ia menggagalkan pukulan untuk yang keberapa kali ia tak tahu, yang jelas, Aditya sudah benar-benar tidak berdaya.
"Baik, pria seperti ini kau mau dia diapain?" tanya Al masih memegangi Krah baju Aditya.
"Cukup kau memberi pelajaran, biarkan saja dia, jangan bawa ke jalur hukum kasian kak Novi dan Axel."
Dengan kasar Al menghempaskan tubuh yang sudah tak berdaya itu dan memintanya pergi dari sini.
Dengan sempoyongan dan sudah payah Aditya bangkit dan berusaha keras meninggalkan tempat itu.
Al menghampiri Quen, dan melepaskan jaz yang dikenakannya lalu dipakaikan pada tubuh adiknya.
Sebenarnya Al emosi melihat adiknya berpakaian sangat mini. Tapi, ia tahu Queen saat ini tidak butuh kritikan, melainkan dukungan mental.
"Maaf, kakak terlambat membaca chat mu. Jika saja tidak, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi," ucap Al sambil memeluk Queen.
Queen tidak menjawab apapun, meskipun ini sudah hampir, tapi ini bukanlah yang pertama Aditya berusaha melecehkan dirinya. Wanita itu bersandar di dada bidang Al dan jemariya meremas kuat kemeja hitam yang Al kenakan.
"Aku takut, kak. Aku takut," ucap Queen sambil menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Al yang sedari tadi merangkumnya.
"Tenang, ya. Kamu aman saat ini. Kakak akan temani kamu malam ini. Sudah jangan menangis lagi."
Al mendorong pelan wajah Quen, mengamati adiknya terutama area leher dan dada. Rupanya tak ada bekas kepemilikan di sana. Hanya saja pipi kanan Quen ada bekas Mera membentuk seperti beberapa jari.
Melihat itu Al benar-benar naik pitam. "Apakah lelaki brengsek itu menamparmu?"
Queen tidak mampu mendapatkan tatapan dari Al, ia memejamkan kedua matanya. Tapi, buliran bening itu terus menerobos dari ujung bertanya yang tertutup rapat. Ia tak menjawab apapun selain anggukan. Dan kembali menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Al.
Bahkan pelukannya kian erat saja. Wanita itu enggan melepas pelukan dari kakaknya.
"Duduk sini dulu, ya? Dia sudah pergi. Kakak akan mengunci pintu dan mengambilkan kamu minum dulu, ok?" ucap Al sambil menundukkan Quen di ujung ranjangnya.
Wanita itu yang nampak shock, trauma dan ketakutan hanya mengangguk patuh.
Tak lama kemudian Al membawa Baskom kecil berisi es batu dan segelas air putih.
"Kamu minum dulu," ucapnya seraya menyodorkan gelas itu. Sementara ia meletakan baskom kecil di atas nakas dan mulai membuka lemari pakaian Queen mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk mengompres pipi Quin yang mulai lebam.
"Ini tidak akan meninggalkan bekas, kamu jangan khawatir, ya?" ucapnya sambil mengompresnya dengan telaten dan penuh kesabaran.
Al masih menahan semua yang ingin dia tanyakan. Kenapa dan bagaimna mungkin ini bisa terjadi. Tapi, melihat kondisi wanita itu masih tidak menguntungkan untuk mendapatkan beberapa pertanyaan darinya. Mau tak mau ia harus menunggu sampai Queen bercerita sendiri. Atau minimal setelah kondisinya mulai membaik.
Melihat kondisi Quen sudah membaik Al meminta ia memakai baju yang sedekit tertutup. Meski bagaimana pun dia juga pria normal. Tak akan mampu bertahan lama dengan pemandangan seperti ini. Apalagi sejak tadi ada dalam pelukan.
"Aaah, kepalaku pusing sekali," batin Al saat memperhatikan pinggul Queen dari belakang.
Al merebahkan badannya di atas ranjang sambil memegangi kepalanya.
"Kakak sakit?" tanya Queen sedikit panik.
Entah sejak kapan gadis itu sudah ada di dekat Al. Bahkan pakaiannya pun juga sudah ganti mengenakan kaus oblong putih dimasukan ke dalam rok berbahan katun selutut berwarna milo.
"Kakak baik-baik, saja. Cuma sedikit gerah mau mandi dulu," ujar Al lalu segera bergegas ke toilet yang ada di dalam kamar Queen seraya meloloskan dasinya dari tempatnya.
__ADS_1
Setelah kakaknya mandi Quen mencarikan baju cowok dan boxer milik kakaknya yang pernah tertinggal di sini dulu, pada saat dia kuliah Al sering mampir meskipun tidak menginap kadang juga numpang mandi.
"Kaka, baju gantinya aku taruh kasur, ya?" Teriak Queen.
"Ya, taruh situ saja," sahut Al.
Sementara Al masih menyirami tubuhnya dengan air dingin untuk meredam nafsunya.
"Sialan, kenapa aku bisa konak lihat adek sendiri, ya sekarang. Padahal dulu kan tidak. Wajar aja Aditya nekat. Queen gitu, sih." Umpat Al dalam hati.
Setelah kepalanya dirasa sudah ringan Al pun keluar, mengambil baju ganti yang sudah disiapkan adiknya lalu keluar kamar. Ia mencium aroma masakan.
Benar saja, Queen tengah memasak sesuatu di dapur. Aroma sedapnya tercium sampai ke sini.
"Masak apa sayang?" Al kembali tercengang saat melihat Quen beridi dibatas kompor semetara tangannya sibuk memasak sesuatu di wajan.
Ia perhatikan adiknya dari belakang mulai dari timur, betis, makin naik ke atas pinggang hingga lehernya yang jenjang terpampang karena rambutnya diikat asal membentuk gelungan yang tidak rapi namun terlihat sexy.
"Mungin ini alasan para lelaki lebih suka janda, ah. Bahkan aku lupa Nayla dulu kan juga janda punya anak," ucap Al dalam hati.
"Aku bikin tenggiri goreng asam pedas manis kak. Enak kok," ucap Queen sambil menyiapkan piring ke di meja makan dengan lihai seperti master chef saja.
Al tidak berkomentar apapun, ia masih sibuk dengan pikiran dan hatinya yang kian tak karuan.
"Kaka mau minum kopi?"
"Boleh, lah." jawabnya sambil duduk dan masih memperhatikan Quen.
Al yang memang sedari tadi merasa gelisah dan tidak tenang ia berjalan menghampiri adiknya, ia tak mampu menahannya lagi memeluk tubuh itu dari belakang dan menghirup aroma di leher jenjang Queen.
"Kamu wangi banget sayang," bidiknya.
Sedangkan Queen tidak begitu merespon. Baginya ini adalah hal yang wajar antara kakak beradik. Memang saat ia masih kuliah dulu dia yang selalu nempel pada Al. Hanya saja setelah Al menikah dia jadi jarang. Paling-paling duduk satu kursi sambil ngobrol atau main game bersama. Itu saja. Selebihnya tidak.
"Tadi aku habis mandi kak. Terus mendengar suara bel berbunyi kukira kamu, ternyata kak Adit. Aku menawarinya minum tapi masuk ke kamar dengan maksut mengambil daster tapi dia..."
"Kamu mau kakak apakan dia?"
Al memeluk lagi Queen dengan erat. Ia semakin merasa bersalah. "Maaf ya kakak terlambat membuka chat kamu," ucapnya lagi.
"Dejavu," timbal Quen sambil tersenyum.
"Kenapa?"
"Tadi kakak juga bilang seperti ini, haha." Kali ini Queen yang tertawa lantang melupakan kejadian buruk yang hampir saja menimpanya.
"Dasar aneh, barusan masih nangis-nangis kamu, sekarang lihatlah! Ekspresimu mengatakan seolah tak ada hal buruk yang baru saja menimpamu!".
"Ya, itu karena ada kakak di sini. Sudahlah jangan sentuh aku dulu. Aku akan menuangkan air panas untuk kopimu."
🍁🍁🍁
Dengan muka lebam dan benjol di sana sini membuat Aditya tidak berani pulang. Ia akan bingung menghadapi pertanyaan dari istrinya. Kenapa dan bagaimana bisa sampai seperti ini. Mungkin bisa saja ia mengarang cerita dihajar preman. Tapi, jika istrinya gak terima dan melapor ke polisi. Maka tamat riwayatnya.
"Sialan... Kenapa Al harus muncul saat aku hampir mendapatkan mangsaku?" umpat Aditya seorang diri. Mau tidak mau ia pun terpaksa kembali menghubungi Helana. Meminta datang ke tempat biasa mereka bertemu.
Satu jam kemudian Helana tiba. Wanita itu terkejut melihat kondisi Aditya yang dapat dikatakan mengenaskan.
"Ya ampun, Dit. Kamu kenapa bisa sampai seperti ini?" ucap nya sambil menyentuh lembut pipi pria itu.
"Baru saja aku dihajar Al habis-habisan karena ketahuan hampir memperkosa Queen," jawab Adit kesal.
"Lagipula kamu nekat banget, sih? Dari dia masih gadis selama Al ada di Indonesia tidak ada satupun orang yang berani macam-macam pada wanita itu," tegas Helena.
Aditya menyipitkan matanya memandang ke arah wanita di sebelahnya yang nampak panik dan bingung mengeluarkan semua yang ada di tasnya untuk membasuh darah dan yang keluar dari hidung dan bibirnya.
"Apa maksut kamu?"
"Kamu tahu kenapa aku selalu hati-hati dan main lembut pada wanita itu? Al sangat menyayangi adiknya jika ada orang yang menyakiti Queen, tak akan dapat ampun darinya."
__ADS_1
"Ooo, menarik sekali. Siapa Al itu sebenarnya. Dia seperti itu hanya memanfaatkan harta papa mamanya saja, kan?"
"Sudahlah jangan bahas itu, sekarang fokus sama luka-luka kamu saja dulu."
"Helena, kamu merasa gak sih akhir-akhir ini kok kamu perhatian banget sama aku dan selalu menuruti apapun yang aku mau."
" Aku tidak mau kedokku terbongkar."
"Tidak, kamu sudah mulai suka aku!"
"Siapa yang suka sama kamu? Aku jijik sama kamu, buang dulu semua rekaman itu maka aku akan bebas tak peduli denganmu!" Seru Helena.
"Ok, aku mau dirimu sekarang, layani aku dengan baik, setelah itu kamu bebas,"
Aditya merasa ada yang tidak beres dengan Helena, wanita itu lebih terlihat sedikit pucat dan mudah kelelahan.
"Kamu sakit?" tanya Aditya sambil menyalakan rokok yang sudah ada dibibirnya.
"Tidak, aku memang sedikit gak enak badan aja," jawabnya. Lalu ia berlari ke toilet dan muntah-muntah saat menghirup asap rokok yang Aditya nyalakan.
"Helana kamu kenapa? Kamu hamil?"
Wanita itu hanya diam. Lali Aditya memandang ke arah perut wanita itu yang memang sudah tidak serata dulu lagi.
"Anak siapa itu?" tanya-nya.
"Tentu saja anaknya Alex," jawab Helena sambil membuang muka.
"Kenapa kamu menjawabnya seperti itu. Seberapa keyakinan kamu kalau itu anak Alex?"
"Tentu saja ini anaknya dia, Dit. Memang kenapa?"
"Baguslah kalau itu memang anaknya. Sebab, jika itu anakku, aku tidak mau anak itu lahir."
Mendengar hal itu Helena emosi dan tak mampu mengendalikan diri.
"Setan kau Dit! Binatang saja tidak seperti itu. Kamu yang manusia bahkan lebih tega menghabisi dara dagungmu sendiri demi menutupi kebusukanmu. Kamu takut kan jika anak ini lahir dan mirip kamu maka hubungan kita akan terbongkar? Aku tidak menyangka kalau kau bahkan sebusuk ini!"
"Bicara apa kau barusan? Kenapa saat aku mengatakan tak mau anak itu lahir jika anakku kau bahkan sangat emosi jika memang itu anaknya Alex, hah? Aku jadi ragu, bahkan sebelum kau bersama pria itu aku yang lebih dulu menidurimu tanpa pengaman apapun. Kamu jawab jujur dia anak siapa?" Bentak Aditya tak kalah emosi.
"Ini anaknya Alex, Dit!"
Aditya kian emosi, ditamparnya dengan keras wanita itu sampai terpelanting jatuh di atas lantai.
"Kamu bohong Helena. Jawab jujur!"
bentaknya lagi sambil menarik keras rambutnya ke belakang.
"Hehehe, seribu kali kamu mau bertanya, dan dengan cara apapun, jawabannya tetap sama, Dit. Ini anak Alex!"
Aditya memukuli Helena lagi dan mencambuk punggung wanita itu dengan ikat pinggang kulitnya. Dan terus memaksa agar wanita itu mengakuinya.
Sampai pada akhirnya wanita itu pun menyerah, sambil memegangi perutnya, Helena mengakui kalau yang ada dalam rahimnya benar janin milik Aditya.
"Stop Dit. Ok aku ngaku, ini memang anakmu, Sejauh ini aku dan Alex berhubungan dia tak pernah meninggalkan spermanya pada diriku. Tapi, aku mohon, izinkan aku tetap bersamanya. Aku akan mengasuhnya sendiri dan sejauh ini, tidak ada yang pernah tahu bukan tentang hubungan kita, kan?''
"Apa yang akan rela kau korbankan demi anak ini?"
"Apapun, aku akan bertaruh mati-matian demi anak ini. Sekalipun nanti Alex menceraikan ku aku tak akan menuntumu menafkahi dia. Biarkan dia hidup, Dit, dia tidak salah dia hanya korban kesalahan orang tuanya saja!"
Aditya menyeringai. "Oh, kau mungkin menjadi seperti ini karena bayi itu, kau tidak terpengaruh karena bukti kebusukan mu, aku kenal kamu, Helena. Kau sengaja tidak berbuat apapun pada Queen karena kau tak mau berbagi pria yang mulai ada di hatimu, kan? Tapi, apakah kau tahu aku masih menyetubuhi Novita seperti dulu, dan setiap denganmu, aku selalu membayangkan kalau kau adalah Queen. Jika saja tidak, mana mungkin aku mau meninggalkan benih itu pada rahimmu."
"Terserah Dit. aku akan menyayangi bayi ini dengan sepenuh hatiku, tak apa meski harus merawat tanpa seorang ayah," ucap Helena sambil menangis.
"Tidak itu harus mati, kau harus mengugurkannya atau..." belum sempat Aditya melanjutkan kalimatnya Helena sudah memukup kepala laki-laki itu dengan botol bir.
Helen sempat tercengang ia bahkan tak percaya kalau dia sampai tega melakukan hal sekejam ini pada ayah dari anak yang dikandungnya.
"Bedebah kau Helena! aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Adit sambil tertatih berusaha bangkit untuk melukai Helena bdengan sisa pecahan botol kaca itu.
__ADS_1
Helena berteriak saat serpihan kaca di tangan Adit mengenai pahanya, ia berlari memungut kemeja Aditya dan berlari meninggalkan tempat itu sesegera mungkin agar dia selemat dari genggaman Adit yang sudah berubah gila dan tak waras itu.