Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 179


__ADS_3

Saat Queen keluar dari toilet ia


berpapasan dengan Jevin. Pria berambut cepak dengan tinggi kira-kira 170cm dan


kulit sawo matang itu tersenyum saat melihatnya.


“Dari mana, Queen?” Tanya pria


itu, berbasa-basi. Padahal dia sendiri juga tahu kalau tidak ada lorong


penghubung di sini selain toilet para karyawati.


“Dari toilet, kak.” Queen


tersenyum tipis smabil memandang ke rah jevin.


“Bukannya di ruangan pak Al ada


toiletnya, ya? Kok…. “ Belum sempat Jevin meneruskan kalimatnya, Queen pun


memotongnya dengan mengatakan kalau dia sekarang tidak lagi dalam satu ruangan


dengan sang kakak.


Cukup lama Jevin berdiam dan


berfkir tentang wanita muda yang ada di depannya itu. Akhirnya, iya pun tidak dapat


menahan rasa penasarannya. “Jika kamu tidak satu ruangan lagi dengan pak Al


terus kamu di mana sekarang? Memang ada apa kok gak satu ruangan saja?”


Akhirnya pria itu pun tak dapat menahan rasa oenasarannya.


“Iya uda gak satu ruangan aku


sekarang berada di tempat para karyawan dan karyawati lain kak. Biar bisa lah


berbaur dengan mereka,” jawab Queen. Sekalipun iktu hanyalah sebuah alas an


untuk menutupi masalahnya dengan Al. Taoi, masuk akal. Jevin pun mulanya


percaya. Tapi, tiba-tiba saja curiga, ketika melihat ekspresi wajahnya kek muak


saat nama Al di sebut.


Queen pun teringat kalau hari ini


dia ada praktek sektar jam setengah tiga. Jadi, dia harus buru-buru kembali di


tempat kerjanya agar sebelum jam dua dia sudah menyelesaikan semua


tugas-tugasnya.


“Ya sudah kak, aku balik dulu ya?”


ucap Queen lalu meniunggalkan pria itu.


Jevin hanya tersenyum dan


menganggukan kepalanya saja. Ia pun mengamati keadaan sekitar, begitu sudah


dirasa aman dan taka da satupun orang yang melintas, ia pun merogoh saku


celananya menegeluarkan benda pipih berwarna biru dan menghidupkan layarnya.


Setelah menscrol dengan cukup lama


ia pun menelfon salah satu nama yang ada di daftar kontaknya”


“Halo, Jev. Ada apa?” ucap seorang


wanita setelah panggilannya diangkat.


Kembali pria itun mengamati area


sekitar. Memastikan lagi kalau tempat dia berdiri adalah kawasan area bebas


CCTV. Dengan suara pelan dan setengah berbisik pria itu pun mulai menanyai


wanita yang ditelfonnya, “Nay, apakah suami dan adik iparmu itu sedang ada


masalah?”


“Ya, sepertinya begitu, sebab dari


kemsarin mereka tidak saling bertegur sapa. Dan Queen sepertinya juga cenderung


menghindar saat bertemu dengan mas Al. Memang kenapa, Jev?”

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa. Barusan kami


berpapasan. Aneh aja kenapa dia keluar dari toilet wanita. Kan steahukundi


dalam ruangan Al sudah ada. Jadi aku iseng tanya lalu dia jawab dah pindah


ruangan dengan para staf lain.”


“Oh.” Hanya itu yang keluar dari


bibir Nayla. Ia tidak  memberi tanggapan


apapun mengenai hal ini.


Tapi, jauh dari dalam hatinya ia


merasa senang dengan kabar ini. Awalnya ia berfikir kalau Al meminta maaf di


depan para pegawainya dan Queen pun memaafkannya. Kan, tidak lucu. Nayla


tersenyum diam-diam dan berharap perseteruan antara Al dan adiknya tetap


berlanjut dan kianmemburuk saja.


“Ini baik Nayla. Dengan Queen jauh


dari Al, aku bisa lebih leluasa memberinya pelajaran. Dia kan yang membuatmu


ketahuan dan mendiamkanmu saat ini?”


“Iya, Jev. Kamu benar. Lakukan


saja apa yang kau mau pada wanita itu, aku juga tak peduli. Jika pun seandainya


ia sudah tak lagi ada di dunia jiga baik, kan?’’ ucap Nayla.


"Apakah kau ingin aku membunuh Quen?' tanya Jevin, mencoba meyakinkan pemahamannya dengan ucapan Nayla.


"Tentu saja tidak, mana mungkin aku akan membiarkan pria yang aku cintai akan melakukan hal-hal yang berbau kriminal. cukup beri saja dia pelajaran."


"Ok I will always do whatever is best for you. (Ok, baiklah aku akan selalu melakukan apapun yang terbaik untukmu)." Jevin pun segera mematikan  panggilannya, dan segera memanggil bagian mekanik untuk memperbaiki AC.


Selama Jevin pun bahkan tidak dapat konsentrasi dengan pekerjaannya. Pikirannya sudah dipenuhi oleh hal-hal buruk untuk mencelakai Quen.


Saat Queen kembali ke dalam ruangan nya iya merasakan kalau pari allah staff wanita atau karyawati menatapnya dengan tatapan yang sangat tidak enak tapi dia hanya diam saja tak mau menanggapi serius tentang hal ini. Toh, dia kemari juga atas permintaan kakeknya. Jika saja tidak, Quen akan lebih memilih keluar dengan Gea, atau tidur di rumah. sejak dia resmi menjadi dokter, ia merasa kurang piknik. Balum lagi sang kakek lebih suka menyuruhnya ikut bantu handel perusahaan di waktu luangnya dari pada menemani dirinya yang hanya duduk di atas kursi roda.


"Aneh, gak kalau sudah ada di posisi enak malah turun ke bawah cari yang gerah, dan susah mikir?" ucap Iren, tiba-tiba dengan suara yang sedikit lantang.


"Habi, tidak tahu diri, sih. Jelas-jelas sudah tahu bosnya sudah beristri masih aja digoda, bahkan sampai rela jadi simpanannya."


"Jangan buru-buru menilai dia tidak pecus apa-apa, dia itu dokter loh katanya," ucap Iren lagi. Kian menusuk di hati Quen saat mendengarnya. terlebih jawaban temannya yang memakai pakaian kurang bahan itu.


"Jaman sekarang, ya? siapa tahu saja dosen dan profesornya disogok Ama tubuh motonya itu, maka jadilah dia dokter."


Queen yang awalnya masih bisa tenang dan fokus dengan pekerjaannya, kini konsentrasinya buyar. Ia masih bisa terima dan tahan dianggap simpanan kakak sendiri karena, cepat atau lambat mereka akan malu dengan ucapannya sendiri jika kebenaran sudah tak dapat lagi ditutupi. Tapi, jika dikata bisa jadi dokter karena modal tubuh, ia tidak bisa terima. Hal itu sama aja menghina seluruh dokter perempuan di negeri ini.


Dengan kesal dan tangan terkepal keras menahan emosi, Quen pun menghampiri Iren dan bertanya dengan nada amarah yang tertahan, "Mbak, aku tuh salah apa sama kamu? Apa pernah aku usik kehidupan dirimu? Kenapa sih kamu benci banget sama aku sampai berkata seburuk itu tentang aku?"


Iren yang sebenarnya takut, dan tak percaya kalau Queen berani melawannya, ia memalingkan wajahnya dan memaksa untuk tertawa, dan memberanikan diri menjawab dengan jawaban yang sangat tidak masuk akal.


"Tentu saja benci, siapa sih yang suka sama pelakor kaya kamu? lihat, semenjak ada kamu, bu Nayla tak pernah lagi datang kemari, mungkin tidak mau menyaksikan suaminya bercinta sama perempuan lain."


Queen merasa darahnya mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Tapi, ia berusaha untuk tetap tenang. dan mengingat apa yang pernah mamanya sampaikan dulu. 'wanita cantik itu, marahnya elegan.'


"Lalu, apa masalahnya sama kamu? kalau pun aku pelakor juga bukan suamimu yang kuambil, jika aku merusah rumah tangga pak Al dan istrinya, apa hubungannya denganmu yang hanya orang luar?"


"Dia itu bosku, jadi aku ya harus ada rasa simpati donk sama dia."


"Oh, ya? Simpati? seperti itu ya simpati. berdandan sexy memamerkan belahan dada saat masuk ke ruangan CEO? gitu kamu bilang aku pelakor? bilang saja mbak, kalau kamu itu ingin berada di posisiku. sudah dua tahun bekerja di sini jangankan dipandang. di lirik bos aja kamu ga pernah kan? beda sama aku, sekalipun dah dicampakkan setidaknya aku tahu rasanya."


Queen melipat kedua tangannya di depan dada. ia menyeringai stelah mengucapkan kata ambigu di akhir kalimatnya. Dan ia pun kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan mengerjakan pekerjaan agar dapat segera meninggalkan tempat ini.


Iren yang merasa tersinggung dan dipermalukan tidak terima dengan apa yang diperbuat oleh Queen. dengan langkah cepat ia menghampiri wanita itu dan menjambak rambut pirang nya sambil memaki.


"Dasar kau wanita ******, *******. Menceraikan suamimu demi mendapatkan pak Al, kan?"


saking kerasnya jambakan Iren, Queen bahkan sempat hampir jatuh terpelanting ke belakang. Merasa tidak terima, Quen membalas dengan mencakar wajah wanita gila itu. Sampai-sampai ada empat goresan di wajah Iren karena kuku-kuku Quen yang kebetulan belum dipotong.


sontak ruangan itu pun menjadi gaduh akibat mereka berdua. sebagian mencoba melerai sebagian besar cuka menonton karena shock. sebab, selama ini tidak ada yang berani dengan Iren. jika bermasalah dengan wanita itu dan tak tahan dengan ulahnya, mereka pasti keluar. Tapi, berbeda dengan Quen gadis yang dianggap kalem dan hanya bisa bersembunyi di belakang Al malah seperti ini.z


"Hey, seseorang, cepat laporkan pada pak Al," teriak seorang karyawan yang mulai kuwalahan.


Seorang gadis muda usianya sekitar duapuluh dua tahun berlari keluar ruangan tersebut menuju ruang pribadi CEO. setiba di sana, dan dengan napas terengah-engah ia mengetuk keras pintu ruangan Al. saking paniknya dia lupa, adab dan sopan santun.


Al yang memang suasana hatinya sedang buruk merasa kesal dengan orang yang mengetuk pintunya. ia tisak menjawab apapun melainkan malah bangkit dan membukanya sendiri.


di depan pintu dia melihat salah satu staf perempuannya berdiri dengan posisi membungkuk mengatur napas.wajahnya Napak memerah dan penuh dengan keringat.


"Ada apa?" tanya Al dengan kesal.

__ADS_1


"Itu, Pak... Di ruang karyawan mbak Iren berantem sama mbak Queen." Masih dengan napas tengah dia berusaha berbicara.


mendengar hal itu dengan cepat Al pun ikut berlari. di sana ia menyaksikan bagaimana dua wanita itu saking serang.


Queen buang merasa kulit kepalanya seolah akan terlepas karna jambakkan Iren yang parah tidak mempunyai cara lain selain menendang keras tulang kering Iren, sehingga wanita itu pun jatuh kesakitan dan acara reflek pula kedua tangannya melepaskan rambut Quen dan memegangi betisnya.


Setelah keduanya tak lagi saling serang barulah Al berteriak dengan sedikit lantang.


"Ada apa ini?"


Sontak semua karyawan dan karyawati yang heboh menonton cuma diam saja. Queen pun demikian. ia malah membuang muka dari kakaknya.


Al berjalan menghampiri Quen, merapikan rambutnya yang berantakan dan dan membersihkan rambut yang rontok sebanyak di pundak dan sebagian sudah berjatuhan di lantai.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Al dengan raut wajah penuh dengan rasa bersalah.


Queen yang merasa kesal dan kesakitan pun lupa dengan situasi dan kondisi sekitar, dengan kesal dan suara yang lantang dia membentak kakaknya sendiri di hadapan para stafnya.


"Apa kau gak lihat keadaanku kaya gini? Adan masih bisa bertanya kalau aku tidak apa-apa? keperawatan kamu!" seru Queen lalu berlalu ke mejanya mengambil laptop dan tasnya lalu keluar ruangan.


"Aku akan pulang, dan mengirimkannya melalui email setelah selesai," ucap Quen saat melintas di depan Al.


Mereka yang belum hilang dari rasa herannya melihat Quen berani membentak Al malah kian bengong dibuatnya. Karena dengan mudah dan tak memberi penjelasan apapun wanita itu pergi dan berkata akan pulang. tanpa persetujuan pak Al pun masih saja dia ngibrit.


Al hanya menghela napas panjang saja. ingin mengejar Quen juga percuma. dari sikapnya ia merasa kalau adinya masih marah dengannya.


Akhirnya Al pun Memilih menyelesaikan malah yang ada di depannya terlebih dahulu.


"Ini tadi ada apa? Siapa yang memulai duluan?"


Semua diam tidak menjawab. Suasana jadi hening hanya terdengar suara rintihan Iren yang kesakitan karena ditendang oleh Queen. Al tahu pasti sakit, karena adiknya pernah ikut bela diri.


"Kenapa kalian semua hanya diam?Apa perlu saya potong gaji kalian semua? Cepat jawab!"


Semua orang pun merinding dan ketakutan ketika melihat Al marah. akhirnya, salah satu dari mereka pun buka suara,mengatakan yang sebenar-benarnya. Kalau Iren lah yang pertama memulai, menyindir Quen mengatai dia ****** dan pelakor masuk perusahaan hanya modal tampang dan badan. Dan keberatannya di sini, karena pak Al sudah bosan.


"Lalu, siapa yang lebih dulu menyerang?"


"Iren, Pak. dia tidak terima saat ditegur Quen. Queen merasa tidak ada salah ma dia kok dia begitu bencinya terhadap Quen. tapi, Iren malah mengatai dia ******* dan menjabak rambutnya keras, jadi, Quen pun membalas untuk melindungi diri."


"Rupanya dengan menjadikanmu sebagai cleaning servis selama dua bulan tidak membuat mu jera, ya?" ucap Al sambil melihat ke arah Iren yang jatuh kesakitan.


"Dia tadi juga bilang Pak, katanya Quen bisa jadi dokter juga memberikan badannya pada dosennya," imbuh wanita yang tadi mengetuk pintu ruangannya tadi. dan diikuti kata benar oleh para staf pria.


"Baik, saya tidak mau ada pembuat onar di perusahaan saya. Kamu secepatnya ke HRD urus hajimu dan minta pesangon padanya dan cari tempat lain untuk bekerja!" Al pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. ia menuju ke parkiran kantor dan meninggalkan kantor.


Dia merasa bingung harus ke mana, pulang menemui Quen juga tidak mungkin. kebetulan ia teringat pesan kakeknya mengenai Hanifah. dia bisa ke tempat saudarinya itu dan membicarakan masalah kemarin. Meskipun sebenarnya dia sudah tahu.


Saat kebetulan Hanifah tengah berada di kamarnya dan lagi asik telfon-telfonan dengan kakek Andrean, membahas rencana terkait semalam. ia bisa melihat dengan leluasa halaman depan rumahnya. jadi, di tahu, kalau Al datang.


"Kakek, kak Al Santang kemari," ucapnya.


"Benarkah? Ok, kita lihat saja,bagaimana reaksi dia kalau ada wanit lain yang berusaha menggoda kekasih adiknya. Kamu, jangan lupa dengan rencana B yang selanjutnya. Oke Hanifah?"


"Baik, kakek. ya sudah. Hanifah matikan dulu, ya?" ucap gadis itu, lalu kembali memasang wajah murung dan telungkup di atas ranjang.


Seperti biasa, jika Al datang ke rumahnya dia langsung masuk ke dalam kamar. Sebab, Al sangat hafal kalau Hanifah adalah type cewek yang betah di dalam kamar seharian. Begitupun Hanifah, dia sudah hafal kalau sepupunya ini datang pasti selalu mencarinya ke kamar terlebih dahulu. Baru ke tempat lain jika tidak ada.


"Hanifah,'' sapanya lalu duduk di tepi ranjang dan memegang lengan atas wanita itu.


Hanifah tidak menyahut. Dia malah menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang sedari tadi ada di dalam pelukannya.


"Kamu lagi apa? Kamu sakit?'' tanya Al, dengan nada lirih.


Masih tidak ada jawaban dari Hanifah.


Akhirnya, pun membahas kejadian yang semalam dia lihat secara tidak sengaja itu.


"Kamu suka ya sama Diaz? aku lihat kamu kemarin marah-marah sama dia lo," ucap Al.


Baru ketika mendengar hal itu terucap dari bibir Al, Hanifah bangkit dan duduk menghadap kearah Al. Wanita itu terisak tak lagi menutupi apa yang selama ini sudah dia rasakan.


"Iya. Memang aku suka sama diaz. Lalu, kenapa? Apakah kau marah sama aku karena dia kekasih adik kesayangan mu itu? Terserah, Kak. Marah saja, memang aku sudah tidak bisa lagi menahan apa yang ada di dalam hatiku. Mungkin benar Quen lebih dulu mengenal Diaz. Tapi, yang lebih dulu mencintainya adalah aku, bukan Quen. aku lelah pura-pura mengalah, aku juga ingin bahagia," jawab Hanifah dengan suara yang terputus-putus. karena masih terisak.


Al diam sesaat memikirkan hal yang sangat rumit ini. Di sisi lain, dia tidak tega melihat Hanifah. di sisi lain, ia takut kelak Hanifah melakukan hal licik dan membuat Quen trauma karena menerima penghianatan lagi dari pria yang dia cintai.


Pria itu mengelus rambut gadis di depannya dengan lembut ia berkata, " Cinta itu fitrah dari hati. kita tidak dapat memilih, aku juga tidak menyalahkan mu. tapi, jangan keterlaluan menyakiti Queen. dia baru saja kehilangan Alex karena wanita kedua. kamu jangan bikin dia trauma, Ya?"


"Lalu aku harus bagaimana? Semua orang peduli dengan Quen tapi, tidak satupun peduli padaku. Memang aku bukan keluarga kalian, kan?"


Al memeluk Hanifah dan berbisik, "Kamu jangan lasak-lasak jadi cewek, yang kalem. jika perlu, hapus itu semua tato-tato kamu."


"Percumah kalem dan sakit hapus tato kalau masih aja sakit karena tak bisa memiliki Diaz."


"hehe, kamu bawel juga ya ternyata? Manja banget," ucap Al tanpa melepaskan pelukannya dari Hanifah.


"Kalau ad Quen mana bisa aku seperti ini. dia akan marah."


"Ya sudah.Tunjukan saja pad Quen kalau kamu suka Diaz. toh mereka juga belum menikah, kan?"

__ADS_1


Hanifah tersenyum mendengar kalimat Al yang ini, ia tidak menjawab tapi, hanya mengeratkan pelukannya saja.


"Jodoh sudah ada yang atur, jalani saja semua ini. biarkan mengalir seperti air."


__ADS_2