Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 227


__ADS_3

 Tiba di tempat


praktek dokter yang didatangi, Novita segera turun tanpa mau menunggu Alex


memarkirkan mobilnya dengan benar. Wanita itu berjalan sedikit terburu-buru


sambil memegangi pertunya yang masih belum begitu terlihat kalau ia tengah


berbadan dua.


“Ibu Novita!”


“Iya,” teriak Novita menjawab panggilan asisten dokter.


Sesampainya, ia barulah bisa bernapas lega. Sebab, jika


sampai ia terlambat, ia harus mengantri kembali menunggu gelombang kedua, dan


itupun juga nanti sore.


Usai diperiksa dan menerima beberapa suplemen dan vitamin


untuk ibu hamil, Novita pun keluar menghampiri Alex. Dengan penuh perhatian


Alex meminta tas yang dipegang kakaknya untuk dibawakan.


Sesampainya di mobil, dan sudah meninggalkan area parkir,


Novita mulai membuka percakapan.


“Lex, kau ada waktu luang tidak hari ini?


Tidak lama, setengah jam saja cukup.”


“Memangnya kenapa, Kak? Kakak mau Alex anter lagi ke suatu


tempat?”


“Lebih tepatnya, ada yang perlu dibahas.”


“Iya, ada kok, Kak.”


“Ya sudah, cari tempat nongkrong yang enak buat ngobrol,”


jawab Novita.


“Alex pun membawa Novi ke sebuah café, dengan pemandangan alam


terbuka yang jarak antara satu gazebo dengan gazebo lainnya sedikit berjauhan.


Selain tempatnya nyaman, sejuk, dan asri, alunan musik yang diputar juga sangat


lembut. Sangat cocok untuk dijadikan tempat mendiskusikan sesuatu.


“Kakak mau pesan apa?” ucap Alex sambil membolak balik


daftar menu yang baru saja diberikan oleh pelayan café.


“Nurut aja, terserah kamu. Bayinya


tidak rewel


seperti pas jaman hamilnya Axel. Apapun, dia tidak nolak."


“Ok, kalau begitu, masing-masing dua porsi cumi saus padang,


sayur bening bayam dan oyong, udang bakar dan salmon bakar.”


“Lex, banyak sekali?”


“Ibu hamil harus makan banyak sayur, buah, dan makanan laut


tentunya, agar otak bayi nanti jadi cerdas. Aku sebagai om juga harus bisa


berperas sebagai papa kedua dia dong, nanti. Apalagi om satu-satunya, kan?”


Novita hanya tersenyum dan menatap adiknya dengan haru.


Namun, ia kembali tersadar ketika dirinyan teringat akan hal yang ingin ia


bahas dengan Alex.


“Lex, kaka mau tanya sama kamu. Tapi, kamu harus janji,


jawab dengan juju. Oke?” Mata Novita menatap tajan Alex.


Alex pun merasa sedikit canggung dengan sikap kakanya. Sudah


bisa di tebak, ini akan sangat serius melebihi apapun jika kakanya sudah


seperti ini. Diletakkanya ponsel dalam genggamannya di atas meja. Kemudian, ia


menatap kakanya dan siap mendengarkan apapun yang dilontarkan sang kakak.


“Kamu jujur. Kamu sebenarnya belum bisa move on dari Queen,


benar?”


“Seperti yang kakak dengan di rumah sakit semalam. Apa yang


diucapkan kakek Andrean itu benar. Aku menjalin hubungan dengan Zahara.” Kini,


pria itu menundukkan kepalanya menghadap meja kayu di depannya, tak berani


melihat wajah wanita yang mengajaknya berbicara.


“Kamuy akin dengan perasaanmu pada Zahara?”


“Kenapa kakak bertanya demikian? Apa kakak ragu karena dia


dua tahun lebih tua dariku? Dia baik, Kak.”


“Ya, kakak tahu, dia baik. Tapi yang bermasalah adalah kamu,


Alex.”


Suasana seketika menjadi hening. Hanya alunan musik yang merdu


dari beberapa spekeer yang sengaja diputar oleh pihak kafe yang mengisi


pendengaran dua bersaudara itu.


“Satu hal yang perlu kau ingat, Lex. Jangan pernah


menggunakan orang lain untuk melupakan seseorang.”


“Aku yakin, kelak akan benar-benar mencintainya, Kak. Semua


butuh waktu. Hanya masa yang kelak akan memberikan perubahan.” Alex masih


tertunduk.


“Kudengar pertunangan Queen dan Diaz batal. Hanifah yang


menggantikan dirinya bertunangan dengan pria itu. Kenapa kau tak coba


mendekatinya? Kurasa Al juga akan mengerti itu, Lex.”


“Tidak. Zahara sudah berharap banyak dariku. Gadis itu bisa


mengerti kondisi dan keadaanku. Bahkan dia juga kan siap menerima dan mau


menunggu sampai di hatiku benar-benar tergantikan oleh Namanya.”


Alex menunduk, ia sedikit menyesal menuruti permintaan


kakanya. Jika saja ia tahu yang dibahas adalah Hanifah dan mantan istrinya, ia


pasti tak akan mau dan cari alasan untuk menghindarinya. Pura sibuk setiap kali


pembicaraan menjuru kesini. Tapi, mau gimana lagi? Sekalipun ia masih mencintai


Queen dia juga tak bisa apa-apa. Queen sekarang sudah jadi milik orang lain.

__ADS_1


Pria yang dia anggap kakak ipar, ternyata hanyalah anak angkay dari kedua


orangtua Queen saja, dan kini, si kakak ipar rasa sayangnya terhadap adek


berubah cinta. Alex semndiri sebenarnya juga kaget saat mendengar kabar


tersebut dari Juna. Tapi, mau apalagi, kenyataanya juga begitu. Tapi, yang Alex


sesalkan, kenapa Al tidak menceraikan dulu istri pajangannya itu barulah


menikahi Queen?


“Alex! Kok melamun?”


“Tidak, Kak,” jawab Alex. Bersamaan dengan itu, ada dua


pelayan datang membawakan pesanannya. Alex meraih jus jeruk nipis hangat, dan


memberikanya pada novita, seraya berkata, “wanita hamil tidak baik mengkonsumi


es, jadi, minumnya yang hangat-hangat saja.”


Perhatian kecil itu, cukup membuat Novita tersenyum dan


entah sudah berapa kali ia mengucapkan kata terimaksih pada adiknya selama di


café.


Usai menikmati makan siang, Alex mengantarkan Novita


pulang.  Usai rumah Novita, Alex membuka


ponselnya. Banyak pesan chat dari Zahara yang masuk. Ia membukanya, dan membaca


satu persatu.


‘Benar yang dikatakan kakak tadi. Aku tidak bisa menggunakan


orang lain untuk melupakan seseorang. Bagaimana pun Queen dan Zahara adalah dua


orang yang berbeda. Tidak. Aku tak perlu memikirkan itu, yang perlu kulakukan


sekarang hanyalah berusaha menerima dia apa adanya, menyayangi dan mencintai,


sebanyak dia menyangiku. Serta, hapus perasaan daan nama Queen dari dalam


hatiku. Aku pasti bisa.’


***123


Pertemuan dengan clien kali ini sungguh sangat menyita


waktu. Bagaimana tidak? Pertemuan di mulai jam sepuluh siang. Sementara ini jam


duabelas lewat sepuluh menit baru berakhir. Ponsel Queen sedari tadi terus


bergetar dari dalam sakunya. Ia tahu, pasti ysng menelfon adalah orang yang


sama, yang tadi menelfonnya sampai membuatnya tertawa.


“Kita pergi makan siang sekarang saja, Jun,” ucap Al,


mengabaikan Queen. Tapi, lagi-lagi wanita itu sedikitpun tak napak terpengaruh


saat ia dicuekkin oleh Al, yang tiada bosannya setiap detik mengatakan bahwa dia


adalah suaminya.


Sampai, di depan ruangannya, Jenie berdiri memberi lambayan


mesra pada suaminya pun, Queen masih tidak ngefek. Dia justru buru-buru


meletakkan barangnya dan berlari keluar area kantor.


“Kau tahu kemana dia?” Mata Al menatap tajam ke arah Juna


dengan tayapan penuh selidik.


Sementara Juna hanya menaikan kedua bahu dan kedua


“Jenie. Makan siang kita sepertinya batal. Ada hal yang


masih perlu aku urus.” Al pun berlari mngejar Queen. Tapi, rupanya ia


terlambat. Sebab, dari pagar kantor, ia masuk ke dalam sebuah mobil Lamborghini


berwana kuning. ‘Ck, siapa, sih dia?’


Al pun merogoh sakunya bermaskut mengambil ponsel untuk


menghubungi Queen. Tapi, sayang, benda pipih itu tidak ada. Ia baru teringat


kalau ia meninggalkannya di atas meja saat akan menemui clien pagi tadi. Jadi,


artinya, ponsel itu masih ada di dalam ruangannya. ‘Sialan!’


“Maaf, Shin telah membuatmu lama menunggu. Tadi, kami


menemui clien,” ucap Queen merasa bersalah.


“No problem. Aku tahu, orang sepertimu pasti sangatlah


sibuk. Tapi, aku salut sama kamu, lo Queen. Selain menjalani kwajibanmju


sebagai dokter, kamu juga masih bisa membantu perusahaan keluargamu.”


“Ah, kakakku lah yang paling banyak berperan. Sejak kejadian


itu, dia mengurus tiga perusaan yang bergerak di bidang lain sendirian. Aku,


hanya menyiapkan jadwal pertemuan, rapat, dan sedikit membantu pekerjaan dia,


yang tidak dipercayakan pada siapaun.”


Mobil itu pun melesat cepat menembus keramaian menuju ke


rumah Queen. Shinta yang mendengar kabar kalau papanya Queen sadar, ia langsung


memesan tiket pada saat itu juga untuk kembali ke Indonesia. Beruntung ia tidak


sedang terbang, dan menikmati liburannya di Negeri Singa putih. Menjadi


pramugari, membuat ia jadi jarang berada di rumah.


“Entah sudah berapa tahun lamanya, Queen. Rumah ini tidak


banyak berubah, ya?” ucap Shinta.


Queen dia, ia nampak sedikit melamun. Bahkan tatapannya pun


juga sempat kosong.


“Queen! Heh.” Shinta menyikut tubuhnya, lalu kemudian ia


terperanjat, Sadar dari lamunannya.


“Eh, iya Shin. Kita telah sampai.”


Shinta menatap aneh pada sahabat semasa SMAnya ini. ‘Kenapa


dia? Kok tiba-tiba saja berubah,’ batinnya.


Shinta terus mengamati Queen. Ia bingung, kenapa masuk ke


rumah sendiri saja merasa canggung? Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya,


kan di rumah ini?


Queen sedikit lega saat mendapati ruang tamu kosong. Tapi,


pendengarannya menangkap banyak orang yang berbicara di halaman belakang. Semua


suara yang bersahut-sahutan itu tidak asing baginya. Sangat akrab malah.

__ADS_1


“Sepertinya kakek dan papaku ada di belakng, Shin. Kita


temui mereka di sana, yuk!” ajak Queen, berusaha untuk tidak canggung. Sebab,


ia tahu, di sana ada seseorang yang selalu ia hindari selama sebulan terakhir ini.


“Papa, ada yang mau bertemu dengan mu.”


“Queen, kau sudah kembali, Nak?” sapa Vano. Kemudian matanya


beralih pada sosok wanita di sebelah putrinya, yang memiliki tinggi dan postur


tubuh yang sama. Hanya saja, pakaian wanita itu stylenya lebih ke korea-koreanan.


“Kalau tidak salah ini Shinta, ya? Apa kabar, Shin?”


“Aku baik, Om. Semoga lekas sehat, ya? Maaf, Shinta gak bawa


apa-apa. Benar-benar tidak ingat apapun kemarin. Begitu lihat postingan Queen


langsung pesen tiket dan kembali ke mari.”


“Tidak apa-apa, kamu datang saja, om sudah sangat senang


sekali. Oh, ya Queen, kalian belum makan siang, bukan? Ayo, kita makan siang


bareng!” ajak Vano.


Queen awalnya sedikit menghindari Diaz dan Hanifah, bahkan


ia sengaja duduk di dekat papanya, dan si sebelahnya adalah Shunta. Tapi, entah


itu kebetulan, atau Diaz yang sengaja, ia malah berhadapan lurus dengan Diaz.


Ia kian canggung saja, sebab, sedari ia tiba, mata Diaz tidak teralihkan


darinya sama sekali.


‘Waduh, kok ngelihatin aku terus gitu, sih? Semoga aja gak


gugup,’ batin Queen.


Hanifah yang sedari tadi diam-diam mengamati tunangannya, ia


sadar kalau pria di sampingnya it uterus memperhatikan saudarinya. Ada rasa


sedikit tidakj terima dan cemburu di hatinya. Beruntung ada om Vno. Jika tida,


mungkin Hanifah bisa protes secara terang-terangan. Kembali mengingatkan kalau


dialah tunangannya, dan Queen sudah jadi istri orang.


“Di… Kalau makan lihat ke makanannya, ya Sayang? Jangaan


mendongak ke depan. Kalau kamu gak lihat, nanti kamu salah makan, lengkuas kau


kira daging, atau ayam,” ucap Hanifah pelan sambil tersenyum. Namun, jauh di


dalam hatinya sungguh merasa terbakar.


Queen bahkan diam-diam juga ikut tersenyum mendapati sikap


Hanifah. Ya bagus, sih. Setidaknya dengan begitu, Hanifah membantunya


menyelesaikan masalah yang akan baru muncul.


Hp berdering dari dalam tas milik Queen. Ia melihat nama “Mukidi”


menelfonnya. Ia berfikir untuk mengangkatnya atau tidak. Tapi, ia enggan jika


terus berurusan dengan orang tersebut. Sampai satu menit lamanya ponsel itu


berkedip, tak diangkat hingga mati sendiri. Belum juga benda pipih itu


diletakkan, ponsel kembali berdering dan dari nama kontak yang sama Muklidi.


“Siapa yang menelfon, sayang? Kenapa tidak diangkat?” tanya


Vano sambil mencuri pandang pada layar ponsel putrinya.


“Ah, biarin saja, Pa. Itu panggilan tidak penting.” Queen


mulai menyendok makanan dan menyuapkan pada mulutnya.


“Siapa itu Mukidi?”


“Itu, pasien gilanya teman, Pa. Dia punya gangguan kejiwaan.”


Vano mengerutkan keningnya. Ya, dia memang tidak tahu apa-apa.


Yang dia tahu, dulu, putrinya masih menyandang koas, dan ingin menjadi dokter


umum saja. Sampai akhirnya ia tersadar, putri ya sudah dipanggil dokter oleh


kalangan perawat dan juga para dokter lain yang merawatnya di rumah sakit. Jika


sekarang dia bilang ada pasien yang mengalami gangguan jiwa, menelfonnya, 65%


dia percaya.


“Kali aja penting, Sayang. Kamu angkat dulu deh.”


“Baik, Pa.” Queen tersenyum masam dan kemudian mengankat panggilan


itu yang sudah berdering entah yang keberapa kali.


“KENAPA DARI TADI TIDAK DIANGKAT-AKANGKAT? KAU DI MANA


SEKARANG!” teriak suara itu dengan kencang dan nada penuh amarah.


‘Waduh, kalau begini biar gak di louspeker papa denger, dia baru


makan apa sih, tenaganya kuat banget?’


“Aku di rumah.”


“Siapa yang menjemputmu tadi?”


“Teman lama.”


“Baik, kau jangan kemana-mana, aku akan pulang sekarang.


Memastikan kau benar-benar ada di rumah, atau tidak.”


“Apakah pasien yang mengalami gangguan jiwa akan kemari,


Queen?” tanya kakek Andrean dengan ekspresi wajah yang aneh. Sepertinya pria tua


itu tahu siapa yang baru saja menelfonnya.


“Tidak, Kek. Mana mungkin dia tahu tempat ini.”


Andrean hanya tersenyum saja melihat tingkah Queen.


“Apakah di kantor banyak pekerjaan, Queen?” timpal Nayla.


“Aku gak paham, Kak. Aku lama tidak ke sana. Tadi cuma


nemenin menemui clien saja, kok.”


“Sudah hampir satu minggu ini, kakakmu tidak pulang, ada


yang bilang tiga hari dia tidur di kantor, lalu sisanya dia tidur di mana?”


“Kakak kan istrinya, kok tanya sama aku.”


“Nayla, Queen. Kalau makan jangan sambil bicara,” potong


kakek Andrean.


Sepertinya Nayla ada feeling kalau Al ada sesuatu dengan Queen.


Bagaimana pun, Nayla juga masih istri Al dan masih mencintai Al. Jadi, wajar

__ADS_1


saja jika itu terjadi.


__ADS_2