
Tiba di tempat
praktek dokter yang didatangi, Novita segera turun tanpa mau menunggu Alex
memarkirkan mobilnya dengan benar. Wanita itu berjalan sedikit terburu-buru
sambil memegangi pertunya yang masih belum begitu terlihat kalau ia tengah
berbadan dua.
“Ibu Novita!”
“Iya,” teriak Novita menjawab panggilan asisten dokter.
Sesampainya, ia barulah bisa bernapas lega. Sebab, jika
sampai ia terlambat, ia harus mengantri kembali menunggu gelombang kedua, dan
itupun juga nanti sore.
Usai diperiksa dan menerima beberapa suplemen dan vitamin
untuk ibu hamil, Novita pun keluar menghampiri Alex. Dengan penuh perhatian
Alex meminta tas yang dipegang kakaknya untuk dibawakan.
Sesampainya di mobil, dan sudah meninggalkan area parkir,
Novita mulai membuka percakapan.
“Lex, kau ada waktu luang tidak hari ini?
Tidak lama, setengah jam saja cukup.”
“Memangnya kenapa, Kak? Kakak mau Alex anter lagi ke suatu
tempat?”
“Lebih tepatnya, ada yang perlu dibahas.”
“Iya, ada kok, Kak.”
“Ya sudah, cari tempat nongkrong yang enak buat ngobrol,”
jawab Novita.
“Alex pun membawa Novi ke sebuah café, dengan pemandangan alam
terbuka yang jarak antara satu gazebo dengan gazebo lainnya sedikit berjauhan.
Selain tempatnya nyaman, sejuk, dan asri, alunan musik yang diputar juga sangat
lembut. Sangat cocok untuk dijadikan tempat mendiskusikan sesuatu.
“Kakak mau pesan apa?” ucap Alex sambil membolak balik
daftar menu yang baru saja diberikan oleh pelayan café.
“Nurut aja, terserah kamu. Bayinya
tidak rewel
seperti pas jaman hamilnya Axel. Apapun, dia tidak nolak."
“Ok, kalau begitu, masing-masing dua porsi cumi saus padang,
sayur bening bayam dan oyong, udang bakar dan salmon bakar.”
“Lex, banyak sekali?”
“Ibu hamil harus makan banyak sayur, buah, dan makanan laut
tentunya, agar otak bayi nanti jadi cerdas. Aku sebagai om juga harus bisa
berperas sebagai papa kedua dia dong, nanti. Apalagi om satu-satunya, kan?”
Novita hanya tersenyum dan menatap adiknya dengan haru.
Namun, ia kembali tersadar ketika dirinyan teringat akan hal yang ingin ia
bahas dengan Alex.
“Lex, kaka mau tanya sama kamu. Tapi, kamu harus janji,
jawab dengan juju. Oke?” Mata Novita menatap tajan Alex.
Alex pun merasa sedikit canggung dengan sikap kakanya. Sudah
bisa di tebak, ini akan sangat serius melebihi apapun jika kakanya sudah
seperti ini. Diletakkanya ponsel dalam genggamannya di atas meja. Kemudian, ia
menatap kakanya dan siap mendengarkan apapun yang dilontarkan sang kakak.
“Kamu jujur. Kamu sebenarnya belum bisa move on dari Queen,
benar?”
“Seperti yang kakak dengan di rumah sakit semalam. Apa yang
diucapkan kakek Andrean itu benar. Aku menjalin hubungan dengan Zahara.” Kini,
pria itu menundukkan kepalanya menghadap meja kayu di depannya, tak berani
melihat wajah wanita yang mengajaknya berbicara.
“Kamuy akin dengan perasaanmu pada Zahara?”
“Kenapa kakak bertanya demikian? Apa kakak ragu karena dia
dua tahun lebih tua dariku? Dia baik, Kak.”
“Ya, kakak tahu, dia baik. Tapi yang bermasalah adalah kamu,
Alex.”
Suasana seketika menjadi hening. Hanya alunan musik yang merdu
dari beberapa spekeer yang sengaja diputar oleh pihak kafe yang mengisi
pendengaran dua bersaudara itu.
“Satu hal yang perlu kau ingat, Lex. Jangan pernah
menggunakan orang lain untuk melupakan seseorang.”
“Aku yakin, kelak akan benar-benar mencintainya, Kak. Semua
butuh waktu. Hanya masa yang kelak akan memberikan perubahan.” Alex masih
tertunduk.
“Kudengar pertunangan Queen dan Diaz batal. Hanifah yang
menggantikan dirinya bertunangan dengan pria itu. Kenapa kau tak coba
mendekatinya? Kurasa Al juga akan mengerti itu, Lex.”
“Tidak. Zahara sudah berharap banyak dariku. Gadis itu bisa
mengerti kondisi dan keadaanku. Bahkan dia juga kan siap menerima dan mau
menunggu sampai di hatiku benar-benar tergantikan oleh Namanya.”
Alex menunduk, ia sedikit menyesal menuruti permintaan
kakanya. Jika saja ia tahu yang dibahas adalah Hanifah dan mantan istrinya, ia
pasti tak akan mau dan cari alasan untuk menghindarinya. Pura sibuk setiap kali
pembicaraan menjuru kesini. Tapi, mau gimana lagi? Sekalipun ia masih mencintai
Queen dia juga tak bisa apa-apa. Queen sekarang sudah jadi milik orang lain.
__ADS_1
Pria yang dia anggap kakak ipar, ternyata hanyalah anak angkay dari kedua
orangtua Queen saja, dan kini, si kakak ipar rasa sayangnya terhadap adek
berubah cinta. Alex semndiri sebenarnya juga kaget saat mendengar kabar
tersebut dari Juna. Tapi, mau apalagi, kenyataanya juga begitu. Tapi, yang Alex
sesalkan, kenapa Al tidak menceraikan dulu istri pajangannya itu barulah
menikahi Queen?
“Alex! Kok melamun?”
“Tidak, Kak,” jawab Alex. Bersamaan dengan itu, ada dua
pelayan datang membawakan pesanannya. Alex meraih jus jeruk nipis hangat, dan
memberikanya pada novita, seraya berkata, “wanita hamil tidak baik mengkonsumi
es, jadi, minumnya yang hangat-hangat saja.”
Perhatian kecil itu, cukup membuat Novita tersenyum dan
entah sudah berapa kali ia mengucapkan kata terimaksih pada adiknya selama di
café.
Usai menikmati makan siang, Alex mengantarkan Novita
pulang. Usai rumah Novita, Alex membuka
ponselnya. Banyak pesan chat dari Zahara yang masuk. Ia membukanya, dan membaca
satu persatu.
‘Benar yang dikatakan kakak tadi. Aku tidak bisa menggunakan
orang lain untuk melupakan seseorang. Bagaimana pun Queen dan Zahara adalah dua
orang yang berbeda. Tidak. Aku tak perlu memikirkan itu, yang perlu kulakukan
sekarang hanyalah berusaha menerima dia apa adanya, menyayangi dan mencintai,
sebanyak dia menyangiku. Serta, hapus perasaan daan nama Queen dari dalam
hatiku. Aku pasti bisa.’
***123
Pertemuan dengan clien kali ini sungguh sangat menyita
waktu. Bagaimana tidak? Pertemuan di mulai jam sepuluh siang. Sementara ini jam
duabelas lewat sepuluh menit baru berakhir. Ponsel Queen sedari tadi terus
bergetar dari dalam sakunya. Ia tahu, pasti ysng menelfon adalah orang yang
sama, yang tadi menelfonnya sampai membuatnya tertawa.
“Kita pergi makan siang sekarang saja, Jun,” ucap Al,
mengabaikan Queen. Tapi, lagi-lagi wanita itu sedikitpun tak napak terpengaruh
saat ia dicuekkin oleh Al, yang tiada bosannya setiap detik mengatakan bahwa dia
adalah suaminya.
Sampai, di depan ruangannya, Jenie berdiri memberi lambayan
mesra pada suaminya pun, Queen masih tidak ngefek. Dia justru buru-buru
meletakkan barangnya dan berlari keluar area kantor.
“Kau tahu kemana dia?” Mata Al menatap tajam ke arah Juna
dengan tayapan penuh selidik.
Sementara Juna hanya menaikan kedua bahu dan kedua
“Jenie. Makan siang kita sepertinya batal. Ada hal yang
masih perlu aku urus.” Al pun berlari mngejar Queen. Tapi, rupanya ia
terlambat. Sebab, dari pagar kantor, ia masuk ke dalam sebuah mobil Lamborghini
berwana kuning. ‘Ck, siapa, sih dia?’
Al pun merogoh sakunya bermaskut mengambil ponsel untuk
menghubungi Queen. Tapi, sayang, benda pipih itu tidak ada. Ia baru teringat
kalau ia meninggalkannya di atas meja saat akan menemui clien pagi tadi. Jadi,
artinya, ponsel itu masih ada di dalam ruangannya. ‘Sialan!’
“Maaf, Shin telah membuatmu lama menunggu. Tadi, kami
menemui clien,” ucap Queen merasa bersalah.
“No problem. Aku tahu, orang sepertimu pasti sangatlah
sibuk. Tapi, aku salut sama kamu, lo Queen. Selain menjalani kwajibanmju
sebagai dokter, kamu juga masih bisa membantu perusahaan keluargamu.”
“Ah, kakakku lah yang paling banyak berperan. Sejak kejadian
itu, dia mengurus tiga perusaan yang bergerak di bidang lain sendirian. Aku,
hanya menyiapkan jadwal pertemuan, rapat, dan sedikit membantu pekerjaan dia,
yang tidak dipercayakan pada siapaun.”
Mobil itu pun melesat cepat menembus keramaian menuju ke
rumah Queen. Shinta yang mendengar kabar kalau papanya Queen sadar, ia langsung
memesan tiket pada saat itu juga untuk kembali ke Indonesia. Beruntung ia tidak
sedang terbang, dan menikmati liburannya di Negeri Singa putih. Menjadi
pramugari, membuat ia jadi jarang berada di rumah.
“Entah sudah berapa tahun lamanya, Queen. Rumah ini tidak
banyak berubah, ya?” ucap Shinta.
Queen dia, ia nampak sedikit melamun. Bahkan tatapannya pun
juga sempat kosong.
“Queen! Heh.” Shinta menyikut tubuhnya, lalu kemudian ia
terperanjat, Sadar dari lamunannya.
“Eh, iya Shin. Kita telah sampai.”
Shinta menatap aneh pada sahabat semasa SMAnya ini. ‘Kenapa
dia? Kok tiba-tiba saja berubah,’ batinnya.
Shinta terus mengamati Queen. Ia bingung, kenapa masuk ke
rumah sendiri saja merasa canggung? Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya,
kan di rumah ini?
Queen sedikit lega saat mendapati ruang tamu kosong. Tapi,
pendengarannya menangkap banyak orang yang berbicara di halaman belakang. Semua
suara yang bersahut-sahutan itu tidak asing baginya. Sangat akrab malah.
__ADS_1
“Sepertinya kakek dan papaku ada di belakng, Shin. Kita
temui mereka di sana, yuk!” ajak Queen, berusaha untuk tidak canggung. Sebab,
ia tahu, di sana ada seseorang yang selalu ia hindari selama sebulan terakhir ini.
“Papa, ada yang mau bertemu dengan mu.”
“Queen, kau sudah kembali, Nak?” sapa Vano. Kemudian matanya
beralih pada sosok wanita di sebelah putrinya, yang memiliki tinggi dan postur
tubuh yang sama. Hanya saja, pakaian wanita itu stylenya lebih ke korea-koreanan.
“Kalau tidak salah ini Shinta, ya? Apa kabar, Shin?”
“Aku baik, Om. Semoga lekas sehat, ya? Maaf, Shinta gak bawa
apa-apa. Benar-benar tidak ingat apapun kemarin. Begitu lihat postingan Queen
langsung pesen tiket dan kembali ke mari.”
“Tidak apa-apa, kamu datang saja, om sudah sangat senang
sekali. Oh, ya Queen, kalian belum makan siang, bukan? Ayo, kita makan siang
bareng!” ajak Vano.
Queen awalnya sedikit menghindari Diaz dan Hanifah, bahkan
ia sengaja duduk di dekat papanya, dan si sebelahnya adalah Shunta. Tapi, entah
itu kebetulan, atau Diaz yang sengaja, ia malah berhadapan lurus dengan Diaz.
Ia kian canggung saja, sebab, sedari ia tiba, mata Diaz tidak teralihkan
darinya sama sekali.
‘Waduh, kok ngelihatin aku terus gitu, sih? Semoga aja gak
gugup,’ batin Queen.
Hanifah yang sedari tadi diam-diam mengamati tunangannya, ia
sadar kalau pria di sampingnya it uterus memperhatikan saudarinya. Ada rasa
sedikit tidakj terima dan cemburu di hatinya. Beruntung ada om Vno. Jika tida,
mungkin Hanifah bisa protes secara terang-terangan. Kembali mengingatkan kalau
dialah tunangannya, dan Queen sudah jadi istri orang.
“Di… Kalau makan lihat ke makanannya, ya Sayang? Jangaan
mendongak ke depan. Kalau kamu gak lihat, nanti kamu salah makan, lengkuas kau
kira daging, atau ayam,” ucap Hanifah pelan sambil tersenyum. Namun, jauh di
dalam hatinya sungguh merasa terbakar.
Queen bahkan diam-diam juga ikut tersenyum mendapati sikap
Hanifah. Ya bagus, sih. Setidaknya dengan begitu, Hanifah membantunya
menyelesaikan masalah yang akan baru muncul.
Hp berdering dari dalam tas milik Queen. Ia melihat nama “Mukidi”
menelfonnya. Ia berfikir untuk mengangkatnya atau tidak. Tapi, ia enggan jika
terus berurusan dengan orang tersebut. Sampai satu menit lamanya ponsel itu
berkedip, tak diangkat hingga mati sendiri. Belum juga benda pipih itu
diletakkan, ponsel kembali berdering dan dari nama kontak yang sama Muklidi.
“Siapa yang menelfon, sayang? Kenapa tidak diangkat?” tanya
Vano sambil mencuri pandang pada layar ponsel putrinya.
“Ah, biarin saja, Pa. Itu panggilan tidak penting.” Queen
mulai menyendok makanan dan menyuapkan pada mulutnya.
“Siapa itu Mukidi?”
“Itu, pasien gilanya teman, Pa. Dia punya gangguan kejiwaan.”
Vano mengerutkan keningnya. Ya, dia memang tidak tahu apa-apa.
Yang dia tahu, dulu, putrinya masih menyandang koas, dan ingin menjadi dokter
umum saja. Sampai akhirnya ia tersadar, putri ya sudah dipanggil dokter oleh
kalangan perawat dan juga para dokter lain yang merawatnya di rumah sakit. Jika
sekarang dia bilang ada pasien yang mengalami gangguan jiwa, menelfonnya, 65%
dia percaya.
“Kali aja penting, Sayang. Kamu angkat dulu deh.”
“Baik, Pa.” Queen tersenyum masam dan kemudian mengankat panggilan
itu yang sudah berdering entah yang keberapa kali.
“KENAPA DARI TADI TIDAK DIANGKAT-AKANGKAT? KAU DI MANA
SEKARANG!” teriak suara itu dengan kencang dan nada penuh amarah.
‘Waduh, kalau begini biar gak di louspeker papa denger, dia baru
makan apa sih, tenaganya kuat banget?’
“Aku di rumah.”
“Siapa yang menjemputmu tadi?”
“Teman lama.”
“Baik, kau jangan kemana-mana, aku akan pulang sekarang.
Memastikan kau benar-benar ada di rumah, atau tidak.”
“Apakah pasien yang mengalami gangguan jiwa akan kemari,
Queen?” tanya kakek Andrean dengan ekspresi wajah yang aneh. Sepertinya pria tua
itu tahu siapa yang baru saja menelfonnya.
“Tidak, Kek. Mana mungkin dia tahu tempat ini.”
Andrean hanya tersenyum saja melihat tingkah Queen.
“Apakah di kantor banyak pekerjaan, Queen?” timpal Nayla.
“Aku gak paham, Kak. Aku lama tidak ke sana. Tadi cuma
nemenin menemui clien saja, kok.”
“Sudah hampir satu minggu ini, kakakmu tidak pulang, ada
yang bilang tiga hari dia tidur di kantor, lalu sisanya dia tidur di mana?”
“Kakak kan istrinya, kok tanya sama aku.”
“Nayla, Queen. Kalau makan jangan sambil bicara,” potong
kakek Andrean.
Sepertinya Nayla ada feeling kalau Al ada sesuatu dengan Queen.
Bagaimana pun, Nayla juga masih istri Al dan masih mencintai Al. Jadi, wajar
__ADS_1
saja jika itu terjadi.