
Entah sudah berapa kali saja butiran air matanya mengalir
membasahi pipi pria itu. mungkin, ini kali pertama ia merasakan sakit yang
begitu mendalam hingga ia sampai menitikkan air matanya. Ia tahu, kalau ini tidak ada gunanya dan tidak memberi hasil apa-apa. Yang membunuh akan terbunuh.
Cuma itu yang ada di benak Al. Nyawa dibalas nyawa. Dia lupa, sudah berapa jiwa saja yang dia hilangkan. Sudah berapa kali kedua tangannya telah memisahkan nyawa dari raga seseorang. Yang ia tahu saat ini, dua orang berarti dalam hidupnya mati terbunuh oleh satu tangan yang sama.
Al berdiri. Mengabaikan istrinya yang menangisi mamanya. Ia
menendang keras pintu hingga terbuka. Kemudian ia melangkah sambil marah-marah.
Ditemuinya dua orang pembantu yang bekerja du rumah tersebut.
“Siapa majikan kalian?” bentak Al.
Dua wanita itu berdiri berdekatan, saling merapatkan tubuh
masing-masing satu sama lain. Mereka menunduduk karena takut.
“Siapa!” teriaknya lagi sambil menggebrak meja di dekatnya.
“Majikan saya ibu Lyli, Tuan! Tapi, dia bersama pengawalnya
baru saja pergi. Pergi ke mana kami tidak tahu,” jawab salah satu dari mereka dengan terbata-bata.
“Jika pria yang biasa datang ke sini untuk tidur bersama
Lyli siapa?” tanya Al lagi. Karena dia yakin, Lyli bisa tinggal di rumah
semegah ini karena ia telah menjadi simpanan seorang pria.
“Namanya pak Darto, Tuan.”
Bersamaan dengan salah satu pembantu itu berkata, dari ekor
matanya Al menangkap sebuah foto yang tergantung di dinding dengan ukuran yang
cukup besar. Kira-kira sebesar kalender. Ia menyeringai saat melihat sosok tua
botak yang sebelas duabelas mirip dengan kakek Sugiono tersebut.
“Dia?” Al menunjuk pada foto tersebut dengan dagunya.
“benar, Tuan.”
“Hemb.” Hanya itu yang keluar dari mulut Al. ia pun beranjak
pergi meninggalkan tempat tersebut. Jiwa mafia yang sudah dengan susah payah ia bunuh selama hampir dari enam tahun seolah kembali muncul. Tapi, apa daya. Dia
sudah berjanji pada Queen untuk tidak menyelesaikan masalah dengan cara kotor. Tapi, jika melakukan dengan cara hukum, dia juga dipenjara karena telah menyandra Lyli dan membunuh seluruh keluarganya.
Dilihatnya Queen yang masih menangis memangku mamanya yang
sudah terpejam tak bernyawa.
“Tidak masalah jika harus dipenjara seumur hidup. Aku akan
membuat Lyli mati dieksekusi. Jika apun juga mendapat hukuman yang samandengannya. Setidaknya matiku tidak lah sia-sia. Gumamnya seorang diri.
“Maafkan aku yang datang terlambat, Sayang,” bisik Al dan merangkul Queen dari samping. Setelah itu ia menggendeng jasad wanita yang sejak kecil merawatnya, wanita yang juga dia panggil mama sejak ia berusia enam tahun. Yang awalnya dia benci. Tapi, malah menjadi cinta pertamanya. Namun,
putri dari wanita itulah, kini yang jadi tambatan hatinya, dan sepertinya,
cinta terakhir dalam hidupnya.
Kedatangan Queen dengan muka penuh darah yang keluar dari
kedua lubang hidung dan bibirnya menghebohkan pembantu, mertua dan juga kedua anak
kembarnya. Tapi, kehebohan itu seketika teralih saat Al masuk ke dalam kamar
sambil menggendong Clara.
“Queen. Apa yang terjadi pada mamamu, Nak?” tanya Jeslyn
dengan wajah pucat.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir wanita itu.
ingin sekali dia menangis kencang untuk meluapkan luka, sakit hati dan
kesedihannya. Rasanya ia tidak mampu menerima semua ini. Tapi, dia tidak
mungkin menunjukkan sisi kelemahannya di depan kedua putrinya. Dia ingin selalu
terlihat kuat di depan Berlyn dan juga Clarissa agar mereka berdua kelak
sama-sama menjadi wanita yang kuat dan tak mudah terkalahakan.
“Clarissa, Berlyn. Setelah pemakaman nenek, kalian pergilah
ke Singapura bersama ama, oke?” ucap Queen berlagak kuat, meskipun hatinya
sudah remuk dan hancur.
“Tapi, kenapa, Mama? Mama berduka, kami ingin ada untuk Mama
di sini,” bantah Clariss.
“Maafkan mama, Sayang. Mama ingin sendiri. Kalian pergilah.
__ADS_1
Lebih cepat lebih baik.” Queen membalikkan wajahnya tak mau memandang putrinya.
Tapi, dia justru menangis terisak. Sebenarnya ia tidak ingin secepat ini
berpisah dengan mereka. Apalagi dengan Clarissa. pasti juga masih sangat merindukannya.
Tapi, apa boleh buat, dia harus bisa demi kebaikan mereka.
“Ma…. “ Dengan suara berat seorang bocah memeluk pingganngya
dari belakang. Seolah ia minta untuk dimengerti dan sangat menuntut.
“Berlyn. Alangkah baiknya kalau kalian sekarang bersiap,” ucap Queen dengan tegas.
Akhirnya, kedua putrinya pun menuruti apa yang sudah mamanya
perintahkan. Bahkan, mereka dan Jeslyn
juga pergi sebelum Clara dimakamkan. Jadi, Queen benar-benar fokus turut mengurus pemberangkatan jenazah mamanya.
Malam itu, usai acara pemakaman dan juga acara tahlil, Queen
berdiri seorang diri di ambang pintu belakang yang menghubungkan dengan teras
belakang rumah mamanya. Ia memandang dua kursi yang tertata rapi di sana. Ia
teringat, kalau di sana lah tempat di mana mama dan juga papanya biasa
menghabiskan waktu bersama di sana. Selang beberapa detik, ia mendengar suara deru mobil.
“Siapa?” guman Queen seorang diri. merasa penasaran, wanita
itu segera bergegas keluar untuk melihat. Sebab, tidak ada orang lain di rumah itu selain dia, bik Yul, Anja dan suaminya. Jelas pasti itu adalah suaminya. Karena Dedi juga dia minta untuk tetap berjaga di rumahnya.
Begitu dia tiba di halaman depan,m terlihat olehnya sebuah
mobil ferarry merah melaju keluar halaman. ‘Mau ke mana dia malam-malam begini?
Pikir Queen yang kemudian ia juga bergegas mengambil kontak mobil milik
almarhum papanya yang kebetulan tergeletak di depannya, dan menyusul suaminya. Sebab, mobilnya masih tertinggal di depan rumah Lyli belum ada yang mengambilnya. Penasaran dan tak bisa menebak ke mana suaminya pergi, dan arah yang di
tuju juga sepertinya menuju Bandung, Queen mengambil kesempatan mumpung jalan sepi ia menghadang mobil suaminya.
Al menyipitkan matanya melihat dari spion samping. Ada sebuah mobil yang ia yakini itu adalah milik papanya. ‘Mobilnya papa? Siapa?
Apakah Queen? Kenapa dia mengikutiku?’ batin Al. merasa dia kan menghadang, Al
menurunkan sedikit kecepatannya, kemudian sedikit berjalan ke tepi. Dan
menghentikan mobinya secara dadakan saat mobil yang dikemudikan istrinya
Di tengah-tengah kekalutan hatinya yang sudah kian tak
menentu Al bisa tersenyum melihat skil istrinya.
Tak mau mengulur waktu, pria itu langsung keluar dan
bersandar pada pintu mobil menunggu istrinya menghampirinya.
Tak berselang lama, terlihat sebuah kaki turun dari mobil
rush hitam milik papanya, seorang wanita yang mengenakan abaya putih dengan phasmina yang menutupi Sebagian kepalanya.
“kau mau ke mana pergi semalam ini tanpa pamit?” tanya
wanita itu to the point. Ia langsung menghampirinya dan berdiri tepat di
depannya dengan raut wajah yang kusut.
“Kukira kau sudah tidur. Unutk apa mengikutiku? Aku ada
pekerjaan yang harus aku kerjakan, Sayang. Kau pulanglah. Beristirahatlah!”
perintah Al pada istrinya. Seraya memegang Pundak Queen.
“Kamu mau ke mana?” tanya Queen bersikukuh.
“Aku harus bertemu seseorang untuk mengurus pekerjaan, Sayang.”
“Pekerjaan, apa?” tanya Queen sambil menghempaskan tanyan Al
dari Pundak kanannya.
Al diam membisu. Ia memang tidak bisa berbohong pada Queen.
Tapi, jika dia berkata jujur, jelas, wanita itu pasti tidak akan mengizinkannya
kembali ke dunia hitam lagi.
“Katakan padaku, kerjaan apa jangan diam saja! Jawab, aku
Al. tidak mungkin urusan kantor, kan? Kau menuju arah Bandung, sementara ini sudah pukul duabelas malam. Clienmu itu manusia, apa hantu? Jika ada kaitannya
dengan Lyli. Aku mohon, jangan lagi kembali ke dunia hitam. Papa dan mama sudah tidak ada. Jangan sampai anak-anak atau kau juga pergi. Karena aku tak akan sanggup,” ucap Queen kian lirih saja. Berbeda degan kalimat pertama dia terlihat sekali kalau dirinya marah dan ngotot.
“Sekalipun ini aku bawa ke jalur hukum yang legal,
kemungkinan Lyli hanya di penjara saja. Tapi, tidak dengan aku. Setidaknya, biarkan matiku tidak akan sia-sia,” jawab Al lirih.
“Apa maksutmu?” tanya Queen setengah membentak. Namun, jauh
__ADS_1
di dalam hatinya, sebenarnya ia juga gentar. Takut, hal buruk menimpa suaminya.
“Aku sadar, nyawa diblas nyawa. Sudah banyak nyawa yang
kubuat melayang sampai tak lagi terhitung oleh jari tangan dan kaki. Sebelum mengenai pada anak-anak kita, aku akan menyerahkan diri pada polisi dan membiarkan pihak berwajib memberiku hukuman mati. Tapi, sebelumnya, aku akan
tuntaskan Lyli dan seseorang yang berada di baliknya dulu hingga tuntas.”
Queen menampar keras pipi Al. seketika napasnya
terengah-engah dan menatap tajam pada pria yang tengah menyandarkan dirinya pada mobil ferarry merah di depannya.
Al menyentuh pipinya. Ia tak menyangka kalau istrinya akan
menamparnya. Tapi, kenapa? Apa yang membuatnya emosi? Pikir pria itu.
“Tega kamu, Al. kamu tega sama aku,” ucap Queen. Seketika
tangisannya pun pecah.
Al hanya diam menerima serangan Queen bertubi-tubi yang
terus memukuli dadanya. Sampai, ia merasa kesakitan, barulah, ia memegang erat
kedua pergelangan tangan Queen dan berusaha sebisa mungkin memberi pengertianbpada wanita yang ia cintai. “Aku lakukan ini demi kebaikan kita semua. Kamu mngertilahm Sayang.”
“Kau minta aku ngertiin kamu. Tapi, kenapa kamu sdikitpun
gak mau ngertiin aku, Al?” jawab Queen dengan sangat mendalam. Kedua pipinya sudah basah oleh air matanya sendiri.
Al diam menatap dalam wajah wanita di hadapannya. Dia sudah
lupa, kapan wanita itu terakhir tersenyum. Kejadian tragis ini belum genap seminggu.
Sebelumnya juga masih bermanja-manja padanya di kantor. Makan juga masih minta
disuapin. Tapi, itu seperti sudah sangat lama sekali jika duka yang dilihat di wajah wanita itu. tak mampu melihatnya terus menangis, Al langsung memeluk erat
tubuh Queen dan berbisik, “Aku sadar aku salah. Aku lah akar dari masalah ini. Mungkin setelah aku mati karena mempertanggung jawabkan semua kesalahanku, pasti semua akan baik-baik saja.”
“Itu Cuma asumsimu. Tidakkah kau berfikir bagaimana aku? Kau
tega membiarkan aku seorang diri menjaga anak-anak kita?” protes Queen dalam pelukan Al.
“Lalu apa jika nyawa tidak dibayar nyawa, Sayang?”
"Cukup berhenti saja dari hal itu. Jangan lagi kembali ke dunia hitam. aku tidak mau, Al. Jika kau membunuh lagi, apa kau bisa jamin setelah kematianmu kamu baik-baik saja? Aku sudah kehilangan semua keluargaku, apakah aku juga harus kehilanganmu? Tega kau biarkan aku sendiri?"
Al diam membisu, terus mengusap punggung Queen dalam pelukannya. Diabaikannya beberapa pasang mata yang mungkin telah memperhatikan mereka berpelukan di pinggir jalan dari dalam kendaraan yang lalu lalang malam itu.
"Apa yang aku katakan sebagai jawaban untuk anak-anak kita jika kelak mereka menanyakan mu nanti, Al. Jika mereka tahu kau mati di tangan polisi, haruskah aku berkata pada mereka karena kau peenah membunuh sebelumnya, makanya kau juga dibunuh?" ucap Queen sambil terisak.
"Apakah kau anggap aku ini papa?" tanya Al.
"Aku tahu, kau juga menyayangi mama seperti aku menyayangi papa. apakah kau anggap aku juga mama?"
"Tidak."
"Begitupun juga denganku, Al. aku mencintaimu sebagai suamiku, belahan jiwaku, ayah dari anak-anakku. Kuharap keberadaanmu di sisiku di saat begini. bukan malah pergi untuk mati," jawab Queen sambil terisak.
"Maafkan aku, Sayang. Aku janji tidak akan menyerahkan nyawaku pada polisi. tapi, kau juga janji. jangan halangi aku pergi malam ini, oke?" ucap Al memohon.
"Mau ke mana kau?"
"Mau... ada urusan sayang."
"Ada kaitannya dengan Lyli?"
"Ya. Tapi, aku janji tidak akan membunuhnya. Mungkin juga aku tidak akan menemuinya secara langsung."
"Baiklah, aku akan ikut dengamu!" rengek Queen. Membuat Al tak lagi memiliki pilihan selain mengiyakan.
"Ya sudah, baiklah."
"Naik mobil sendiri-sendiri, nih?" ucap Queen sambil melihat ke arah mobil papanya yang ia kenakan untuk mengejar Al tadi.
"Anggap saja itu tanggung jawabku. sekarang masuklah ke dalam, Sayang," ucap Al sambil membuka pintu mobil samping kemudi untuk Queen.
Tanpa berpikir panjang, Queen pun masuk, dan duduk dengan tenang di dalam sana. Sambil ia diam-diam tersenyum tipis seolah melupakan bebannya saat melihat suaminya yang masih di luar mengobrol dengan mimik yang seolah tengah berantem. Tapi, tak lama kemudian justru terlihat memohon.
"Vic, tolong ambil mobil papaku di arah pintu masuk tol ke Bandung, Ok? ambil kunci serepnya di rumah," ucap Al saat panggilannya sudah dijawab.
"Gila, ini jam berapa, Bro? Aku ini bukanlah seorang bujang lagi. Ada aturan untuk keluar rumah, sekarang. Tidak seperti dulu."
"Ini darurat, Vic."
"Tidak. Tidak bisa. Jika kau mau, besok saja."
"Tidak bisakah kau patuh? Mentang-mentang sudah punya istri."
"Kau ganggu ritual malamku, Al. Shinta ngambek sekarang gara-gara kau telfon tengah malam begini," timpal Vico dari seberang sana.
"Oh, Maafkan aku. Pasti kepalamu juga pusing sekarang," ucap Al merasa bersalah.
"Telat. Anakku yang paling kecil bangun. Istriku lagi nenenin, kalau dah gitu alamat sudah. Ini semua karena kau!"
"Ya sudah, lupakan saja, oke aku harus segera pergi. Kau, haruslah adik kecilmu. Biarkan istrimu mengurus anak-anak kalian.
"Eh, enak aja main matiin," protes Vico.
"Sory, bro. Aku tidak ada waktu untuk berdebat. waktu sudah mepet," jawab Al lalu mematikan panggilannya dan buru-buru masuk ke dalam mobil.
__ADS_1