
“Tepatnya saat menghadapi kelulusan, aku harus memikirkan semuanya sendiri. Aku sebenarnya dua tahun lebih tua dari kamu, Bilqis. Data
diriku di sekolahan semua real. Usiaku bukan duabelas tahun. Melainkan empat belas tahun saat ini, hanya saja, aku mengatakan pada teman-teman yang lain kalau aku masih seumuran. Kan, aku tidak sepenuhnya bohong,” ucap Tiara, panjang lebar.
Bilqis diam sesaat. Ia hanya membatin. Pantas saja dia
badannya besar, dan wajahnya juga terlihat lebih dewasa. Namun kalau boleh jujur, dia tidak seperti
anak usia empat belas tahun. Tapi, entahlah. Kalau pakai baju biasa malah cenderung seperti tante-tante.
“Semua ada masanya. Kamu yang sabar. Semoga kelak kau jadi
orang yang sukses.”
Tiara hanya tersenyum getir. Mungkin ia ter bayang bagaimana
kehidupannya. “Aku takut untuk bermimpi, Bilqis. Aku punya mimpi, tapi, hancur. Apalagi cita-cita. Kau tahu, aku sempat dua tahun berhenti sekolah. Ya saat lulus SD itu. Aku bekerja banting tulang demi ibu dan adikku, mengorbankan pendidikanku.”
Bilqis tak kuasa menyaksikan temannya menangis. Ia beranjak dan memeluk gadis yang ternayata lebih tua darinya dua tahun. Memang dari awal dia merasa kalau Tiara itu sudah dewasa. Tapi, ia kembali berfikir positif. Mungkin dia bongsor. Kini, rasa penasarannya telah terjawab sudah. Memang dia termasuk bongsor dan boros di wajah. Mungkin karena beban hidup yang pikul selama ini.
“Ya sudah. Bel sudah berbunyi. Ayo kita masuk ke kelas
masing-masing,” ucap Tiara. Ia merasa malu karena telah menumpahkan air matanya
di depan Bilqis.
Sejak saat itu, hubungan antara Tiara dan Bilqis kian dekat
saja. Mereka akhirnya bersahabat. Sampai suatu hari, Tiara curhat memang ia mengagumi Axel. Tapi, ia tahu dan sadar diri siapa dia dan siapa Axel. Ia merasa kalau Bilqis pantas untuk pria itu. Tapi, Bilqis sendiri tidak yakin. Karena pria itu tak pernah menganggap apa-apa dirinya.
***
Sekitar pukul tiga lewat tiga puluh, Queen sudah bersiap untuk pulang. Karena ia berencana ke rumah Nayla, ia menelfon dulu untuk
memastikan Nyala ada di rumah apa tidak. Yang ia khawatirkan nanti, ia malah lupa dan justru pergi mengecek salah satu outlet kue miliknya yang sudah buka cabang di beberapa tempat.
“Halo, Kak Nay. Apakah kamu ada di rumah?” tanya Queen saat
wanita yang ditelfonnya sudah menjawab panggilannya.
“Iya, aku sedang menunggumu. Apakah kau sudah selesai
bekerja?” jawab wanita dari seberang
sana dengan sangat antusias.
“Ya. Ini aku sudah keluar dari rumah sakit. Oke tunggu aku,
aku pesan taxi dulu, mungkin skitar tiga puluh menitan aku juga sampai sana.” Queen berjalan menysuri koridor untuk keluar dari area rumah sakit.
“Ya sudah kamu hati-hati, Ya?” ucap Nayla. Panggilan pun
dimatikan.
Nayla pun melanjutkan aktifitasnya menyiapkan makanan kesukaan
Queen. Cukup lama mereka dulu tinggal bersama. Jadi, untuk mengetahui apa yang
telah jadi makanan favorit wanita itu dia cukup tahu. Walaupun tidak akur.
Mungkin. Karena Nayla tiba-tiba saja membencinya dan malah berujung buruk pula untuknya’
“Bilqis. Kau cepatlah mandi. Sebentar lagi mama Queen sudah
akan tiba di sini,” teriak Nayla pada putri semata wayangnya.
“Baik, Ma. Beres,” sahut anak itu dari dalam kamarnya. “Ma,
apakah Berlyn juga ikut kemari?” imbuhnya saat ia berada di dapur dan hendak ke kamar mandi.
“Tidak, Sayang. Mama Queen ke sini semdiri. Dia baru saja pulang dari bekerja. Sementara adik Berlyn dia berada di rumah kakek dan
neneknya.”
“Bukannya mereka baru kembali dari rumah ama Jeslyn di
Singapura kemarin, ya?”
“Iya, kemarin itu kakek Vano dan nenek Clara menjemput mereka di bandara. Dan Berlyn minta ikut bersama mereka.”
Biliqs hanya diam dan mengangguk beberapa kali. Ia paham betul
kenapa adiknya itu betah dan suka sekali tinggal di rumah nenek dan kakeknya. Karena
neneknya tidak bekerja di luar. Dia selalu di rumah dan selalu ada waktu untuk menemani Berlyn pastinya.
__ADS_1
Apalagi kalau di rumah dia selalu merasa kesepian saat mama dan papanya belum kembali dari bekerja. Apalagi, Berlyn tidak pernah mau
dicarikan baby sister untuk menemaninya di rumah. ia lebih memilih sendiri dari pada dengan orang asing. ia hanya mau dengan bibi saja, itupun tidak melulu, saat ada perlu dan minta tolong saja, selebihnya. Ia habiskan waktunya sendiri untuk belajar sambil bermain.
“Sudah jangan bengong saja! Cepat mandi sana, ini juga sudah sore, Bilqis!” seru Nayla.
“Oh, iya, Ma.” Gadis yang baru beranjak remaja itu pun ngeloyong begitu saja menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Sepuluh menit kemudian, semua selesai, Nayla juga langsung segera mandi. Saat ia ingin mengecek kembali hidangan untuk menjamu tamunya, bel di depan rumah berbunyi. Ia yakin yang datang pasti Queen. Jika bukan, siapa lagi?
“Iya, sebentar!” teriak Nayla dari ruang makan dan setengah berlari menuju pintu rumah.
“Kamu kan itu, Queen?” ucap Nayla sambil tersenyum. Namun senyuman itu memudar ketika wanita itu mendapati siapa orang di balik pintu tersebut.
“Nayla, apa kabar, kau?” ucap seorang pria sambil tersenyum padanya.
Nayla terkejut dan hampir tak mempercayai siapa yang telah datang ke rumahnya. Setelah bertahun-tahun lamanya, ia pergi menyisakan luka yang mendalam di hatinya. Kini, ia kembali dalam kondisi lumpuh dan hanya duduk di atas kursi roda saja.
“Kau, kenapa kau kesini, Jev? Aku sudah tidak ada urusan denganmu! Pergi dari sini!”bentak Nayla. Dengan segera wanita itu menutup pintu rumahnya.
“Nay! Tunggu dulu, Nay. Aku minta maaf sama kamu, aku menyesal karena sudah mencampakkanmu begitu saja.” Jevin berusaha meraih pintu tersebut hingga dia terjatuh dari kursi rodanya.
Sesakit-sakitnya hati Nayla, ia setidaknya masih memiliki hati nurani. Terlebih saat itu ia sudah berusaha keras menjadi orang yang lebih baik lagi. Jadi, ia membantu Jevin kembali duduk di kursi rodanya. Tapi, tetap saja wanita itu tetap tidak mengizinkan pria itu melihat isi rumahnya terlebih masuk ke dalam.
Baginya, pria yang sudah tak memiliki rasa setia, tak akan pernah berubah. Tapi, saat ini dia kembali dalam keadaan yang sudah cacat. Pasti, karena sudah tak diterima lagi kehadirannya oleh siapapun.
“Maaf Jev. Aku tidak bisa membiarkan pria lain masuk ke dalam rumahku. Karena aku juga seorang janda. Jangan merusak citraku di sini!” tegas Nayla.
“Nay, apakah aku ini orang lain bagimu? Apa kau sudah melupakan tetang kita selama ini? Atau, karena aku sudah cacat dan tak berguna, kau jadi menolakku? Oh, pantas saja, sekarang kau sudah kaya raya.”
Ekspresi melas Jevin berubah sedikit berubah setelah berhasil mengintip ke dalam rumah tersebut. Rumah minimalis yang dulu biasa saja, kini, semua berisi benda mewah dan terlihat elit walau tak sluas istana.
“Kau tidak pantas berkata seperti itu, Jev. Kau sudah beristri, bukan? Kau yang dulu morotin hartaku dan ninggalin aku. Jika kau ingin kembali dengan wanita di masa lalumu, ya dengan istrimu Luna itu. Bukan aku. Dia yang kau senangkan dan kau bahagiakan!” teriak Nayla histeris sambil menangis.
Rasa sakit yag sudah ia lupakan bertahun-tahun lamanya kini ia jadi teringat lagi. Luka yang bahkan belum tertutup sempurna pun juga kini kembali terbuka, berdarah lagi dan terasa kian parah.
“Aku menyesal, Nay. Saat kau pergi itu, aku baru sadar, kalau memang kau lah yang terbaik, yang benar-benar mencintai aku, dan menerima apa adanya,” ucap Jevin.
“Jevin!” seru seorag wanita dari pintu gerbang.
Mendengar suara wanita tersebut, Jevin langsung menolah ke belakang dengan gerakan yang perlahan dan lambat. Nayla tadi memang sengaja tidak mengunci pintu gerbang. Agar tamu yang sebenarnya ia tunggu bisa langsung masuk dan tak menunggu lama di luar.
“Queen!” seru Nayla. Wajahnya nampak pucat. Entah dia takut dan terkejut dengan kedatangan Jevin secara mendadak. Apa menahan luapan empsinya yang hampir meledak.
Queen menatap tajam pada pria lumpuh yang tengah duduk di atas kursi roda tersebut. Dengan berani, ia menantang pria itu. Sebab, ia tahu, kalau ia dipenjara karena mencelakai dia dan papanya. Dan soal dia dikroyok di dalam lapas, ia sedikit banyak mendengar tetang itu. Tapi, kalau itu ulah dari suaminya, ia yang belum tahu menahu.
“Dia sebenarnya hidup enak dengan suaminya. Kau juga, kan yang menjebaknya agar ketangkap basah oleh suamimu dan diceraikan? Wanita macam apa pula kau ini? Dan sekarang kau datang bagai pahlawan kesiangan,” jawab Jevin dengan tenangnya.
Sepertinya, pria itu berusaha mempengaruhi pikiran Nayla. Agar keduanya jadi bertengkar. Ia tak terima melihat Nayla dan Queen menjadi akur. Apalagi, sekarang Nayla menolak dia yang tidak noleh.
“Sekalipun itu adalah ulahku, tapi, aku memberikan fasilitas rumah dan biaya sekolah untuk Bilqis setelah perceraian itu. Tapi, kamu? Setelah mendapatkan banyak uang dan satu unit mobil mewah dengan teganya kau mencampakkan dia begitu saja. Saat ia stress dan terjatuh apakah kau ada untuknya? Sekarang dia sudah sukses dan mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Kau mau numpang hidup karena sudah cacat dan dibuang oleh Luna?”
Queen menyeringai kecil, dan menatap pria itu dengan tatapan merendahkan. Mungkin dia orang pertama yang dipandang seperti itu olehnya.
“Apa yang dikatakan Queen benar, Jev. Jika memang kau tahu malu, kau cepat pergi dari sini sebelum kuteriaki kau maling!” seru Nayla dengan nada dan tubuh yang bergetar.
Akhirnya, dengan gerakan lambat dan sok melas, Jevin pun membalikkan kursi rodanya lalu pergi.
Tak menunggu pria itu lenyap dari pandangannya, baru saja akan meraih pagar, Nayla sudah meminta Queen agar masuk dan menutup pintunya.
“Maaf, Queen,” hanya itu yang terucap dari bibi Nayla. Wanita itu duduk di ruang makan yang gandeng dengan ruang tamu. Wajahnya nampak lesu, sepertinya energinya banyak terkuras dengan kedatangan Jevin yang mendadak.
“Tidak perlu minta maaf, Kak,” jawab Queen. Wanita itu berjalan mengambil gelas dan air pada dispenser. Lalu memberikannya pada Nayla agar ia bisa lebih tenang lagi.
“Makasih Queen. Jika kau tidak segera muncul tadi, aku tak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.”
“Melihat kondisinya yang sudah cacat, sepertinya dia tidak akan bisa berbuat macam-macam padamu Kak, Nay. Tapi, tetaplah berhati-hati. Aku takut dia membayar orang lagi buat nyelakai kak Nay.”
Nayla menatap Queen sambil tertawa tertahan. Mungkin emosi dan sakitnya sudah berangsur hilang digantikan oleh ketenangan. “Kau terlalu berlebihan, deh! Dia mau bayar orang pakai apa? Sedangkan dia sudah dari penjara, dan jelas tak punya apa-apa lagi. Karena rumah, mobil dan semua yang ia milikki itu diatas namakan Luna semua,” ucap Nayla.
“Bagaimana kakak tahu?”
“Ya, itu Luna minta untuk dijadikan mahar pernikahan. Jika tidak, ia akan mengancam akan menggugurkan kandungannya.”
Queen diam sesaat. Ia hampir saja melupakan tujuan awal ia datang kemari. Mungkin terlalu terbawa emosi dengan kedatangan Jevin. ia juga tidak menyangka. Tapi, ada hal yang janggal. Bukankah masa tahanan Jevin itu kurang tiga tahun lagi? Lalu, kenapa dia sudah bebas?
“Oh, iya. Bilqis mana? Ini aku bawakan kalian oleh-oleh. Semoga kalian suka,” ucap Queen sambil memberikan dua buah tas karton ukuran besar.
“Bilqis ada di dalam kamarnya. Mungkin sebentar lagi juga akan kemari. Kenapa kamu harus repot-repot? Oh, iya. Mas Al tidak ikut bersamamu?”
“Tidak. Dia masih bekerja. Nanti katanya ia akan menjemputku kemari dan kami akan langsung menyusul Berlyn di tempat papa dan mama.”
“Menjemput, Berlyn?”
“Iya, menjemput dia. Semenjak punya kelinci dan seekor kuncing, dia jadi lebih memilih tinggal bersama kakek dan neneknya di sana,” jawab Queen.
__ADS_1
“Oh, ya? Kalau dia suka, kenapa kamu tidak belikan saja di rumah?” tanya Nayla. Ia sudah merasa baikan dari emosinya tadi. Kini, ia mulai beranjak mengambil makanan yang sudah ia siapkan untuk tamunya sejak tadi.
Mendengar perkataan dari mantan madunya dulu, Queen diam dan termenung. Sebagai seorang ibu, ia merasa sangat tidak berguna sekali. Bagaimana tidak, apa yang disukai putrinya saja bahkan ia tidak tahu.
Ia baru mengerti kalau putri kecilnya menyukai anabul kelinci dan kucing juga baru kemarin. Entah, baru tahu, atau karena ia dan suaminya selama ini hanya mengajak putrinya berlibur ke mall saja, sehingga ia hanya mengenal mainan dan tak kenal alam.
Mengerti dari mana asal buah dan sayur juga dari rumah kakek neneknya. Karena mamanya hobi berkebun.
“Mama Queen, apakah kau baru saja tiba?” suara seorang anak tiba-tiba saja membuyarkan lamunannya.
“Bilqis, dari mana saja, kau? Mama Queen sudah dari tadi tiba.”
“Aku baru saja dari lantai atas. Mencuci baju sekalian kujemur.”
“Eh, kamu rajin banget, sayang?”
“Iya, dong, kan sudah dewasa. Itu, Ma. Tadi aku sama mama Nay bikin sesuatu yang special untukmu,” ucap Bilqis .
“Apa, itu?” tanya Queen penasaran.
“Ayo! Kemarilah ikut bersamaku.” Bilqis pun menarik tangan Queen dan mengajaknya ke dapur.
Di sana, ia melihat Nayla tengah sibuk melaakukan sesuatu.
“Apa itu, kak?” tanya Queen penasaran.
“Kau pikir apa? Salad buah dan macaroni schotel panggang. Aku masih ingat banget, selain black forest kau suka ini, kan?” ucap Nayla.
“Wah… aku jadi terharu,” ucap Queen dan langsung mengambil satu wadah yang pas berisi satu porsi. Kemudian, ia membawanya ke tempat makan bersama dengan Bilqis.
Nayla tidak langsung menyusul mereka berdua. Ia seperti tengah menelfon seseorang. Hanya beberapa menit saja, tak sampai satu menit, ia sudah mematikan panggilan tersebut, lalu menyusul Queen dan putrinya yang tengah berada di meja makan.
“Ngobrolin apa kalian? Keliatannya seru banget, sih?” sapa Nayla.
“Tidak ada, Bilqis bilang punya cita-cita pengen jadi dokter katnya. Ya, mulai dari sekarang harus pinter, dan menguasai semua mata pelajaran. Terlebih ipa. Harus benar-benar menguasai,” jawab Queen.
Mereka bertiga pun akhirnya terlibat dalam obrolan seputar sekolah Bilqis, dan menegnai profesi Queen sebagai seorang dokter. Mualai dari awal pendaftaran ke fakultas kedokteran, ujian, praktik, bahkan saat mulai menjadi koas. Sungguh, penuh perjuangan dan ada kalanya juga, terselip drama.
Di tangah-tengah keasyikan mereka, ponsel Queen berdering. Ternayata Al yang tengan menelfonnya.
“Tunggu, ya. Mama Queen angkat telfon dari papa Al dulu,” ucap Queen pada Bilqis.
“Hallo. Kau sudah pulang dari kantor, Al?”
“Iya, nih. Aku ada di depan pos satpam.” Jawab Al dari sebrang telefon.
“Ya sudah. Tunggu sebentar, ya?” jawab Queen, kemudian ia mematikan panggilannya.
“Kak, aku pamit dulu, ya? Sebentar lagi Al mungkin sudah tiba di depan pos satpam. Aku akan menunggunya ke sana,” ucap Queen.
“Kenapa tidak memintanya langsung kemari saja, Queen?” tanya Nayla. Wanita itu menatap lekat ke arah Queen. Membuat ibu dari anak kembar itu jadi sedikit salah tingkah. Sebab, bukan kemauannya. Memang Al saja yang tidak mau mampir dan minta menunggu di luar. Tapi, ia tidak harus mengatakan yang sejujurnya juga, kan?
Ia juga tidak mau menyinggung perasaan Nayla. Bagaimana pun, dia dulu juga adalah mantan istri dari suaminya. Sedikit banyak masih ada sedikit rasa di hati Nayla tentunya. Jelas akan sangat tersinggung jika tahu kalau Al sengaja tak mau mampir dan ketemu, karena Nayla akan berfikir kalau Al masih tetap membencinya.
“Entahlah, mungkin dia takut kema laman sampai sana. Kalau malam-malam nanti yang ada Berlyn sudah tidur, Kak," kilah Queen.
Nayla mengangguk perlahan. “Ya sudah, tunggu salah satu karyawatiku tiba, ya? Aku titip sesuatu, tolong berikan pada mama,” ucap Nayla.
“Baiklah.” Akhirnya Queen menyetujui permintaan Nayla.
Tak berselang lama, Al kembali menelfon. Sebenarya Queen tak ingin menjawabnya. Tapi, ini sudah panggilan yang kedua. Akhirnya, ia pun menjawab panggilan tersebut.
“Halo, Al. kau di mana?” tanya Queen berbasa-basi.
“AKu sudah ada di depan pos satpam dari tadi. Di mana kau tidak juga keluar?” Dari nada bicaranya, sepertinya pria itu sudah mulai menunjukkan kalau ia telah lelah menunggu.
“Oh, kau sudah di pos, ya? Memang kamu gak bisa masuk bentar, gitu? Kaka Nay mau nitip sesuatu untuk mama. Jadi, aku nungg salah satu orangnya datang kemari.”
“Aku akan menunggumu di sini," ucap Al masih tetap bersikeras.
“Ya sudah, kamu tunggu bentar saja, ya,” bujuk Queen, walau ia nampak tenang. Jauh di dalam lubuk hatinya juga merasa tak nyaman kalau Al marah. Tapi, ia juga perlu menjaga hati Nayla.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel. Dengan segera, Nayla beranjak melihat ke luar. Dia tidak langsung membuka pintu, melainkan mengintip dulu dari jendela. Setelah yakin, yang datang adalah salah satu pekerja di tokonya, ia pun membukakan pintu.
Gadis muda berusia kira-kira duapuluh tahunan itu memberikan sesuatu pada Nayla berupa dua tas karton pada bosnya.
"Ibu minta ini, kan?" ucap gadis itu, sambil menyerahkan pada Nayla, berang yang dibawanya.
Nayla tidak langsung menjawab. Melainkan mengecek dulu, apa yang ada di balik tas kertas tersebut.
"Iya, benar. ini baru, kan?" tanya Nayla, ia tersenyum puas.
"Semua produk kita selalu baru, Bu," jawab gadis itu, mempertegas.
"Oke, terimakasih. kau bisa kembali. hati-hati, ya?" ucap Nayla. Kemudian, wanita itu memberi tips pada karyawatinya tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Bu. ya sudah. saya pamit dulu," ucap gadis tersebut, Kemudian, ia berlalu dan lenyap dari pandangan Nayla.