
Quen mengambil napas panjang dan langsung rebahan di atas kasurnya begitu tiba di rumah.
Hari ini dia merasa sangat lelah. Sampai ia terlelap.
Sekitar pukul tiga sore dia bangun. Lalu turun ke bawah setelah mandi.
Kebetulan di bawah ada kakaknya yang tengah bermain gadget. Di hampirinya Al.
"Bangun tidur kamu, Quen?"
"Iya, pulang dari kampus tadi ngerjain tugas kelompok. Capek banget aku." Gadis itu pun rebahan pada sandara sofa. "rumah sepi banget, Kak? Pada kemana?"
"Kakek kembali ke rumahnya, mama dan nenek dia masih soping. Bentar lagi jiga balik," jawab Al tanpa mengalihkan pandangannya dari smart phone nya.
Awalnya Quen diam saja karena merasa kepalanya sedikit pusing. Tapi, begitu melihatnsekelibat bayangan Lyli muncul ide jailnya menggodai Al.
"Jadi seharian kalian cuma berdua tadi di rumah? Hayo ngapain saja? Udah khilaf belum?"
Al menoleh ke arah Quen. Dengan tatapan seolah-olah dia marah, tapi konyol bagi Quen.
"Hahaha berapa kali?" imbuh Quen cekikikan.
"Heh, kalaupun aku suka khilaf semalam kau yang habis duluan. Dari tadi pagi aku berada di cafe om Reza. Tanya saja kalau gak percaya. Aku juga baru sampai" ucap Al dengan wajah emosi.
"Hahaha kirain pas aku pulang setengah dua tadi kalian lagi miting."
"Hey, kamu kok jadi nakal gini, sih?" tanya Al heran. Padahal dari awal emang adiknya seperti itu, hanya saja kalau ada yang lain dia nampak kalem dan pendiem.
"Iya, aku berubah nakal. Beruntung aku cewek dan kau cowok. Hahaha."
Tidak tahan dengan kata-kata Quej Al pergi meninggalkan adiknua di ruang tamu. Dia pindah ke kolam ikan sebelah rumah. Dia santai sejenak sambil merendam kakinya di sana.
Bagaimana jika aku beneran menikah dengan Lyli? Aku tidak mencintainya. Memberi perhatian selama ini hanyalah terpaksa. Demi meladeni kakek Andreas dan menyenangkan Quen malah aku sendiri yang tersiksa.
Lalu, jika aku tidak menikah, tidak mungkin menanti jandanya seseorang, kan? Astaga Al... Kau masih berusia berapa? Kenapa jadi ngebet banget? Lalu dia pun bangkit dan memutuskan untuk berenang.
Tiba-tiba saja ingatannya teringat akan memori dua tahun silam, awal dia kmbali dari Jepang. Lyli tercebur tidak bisa berenang dia tolomg dam digandeng tangannya. Karena tidak tahu Lyli menyukainya dia merasa baik-baik saka. Begitu mengetahui kalau Lyli menaruh hati padanya, kenapa jadi merasa tidak nyaman dan risih?
Al pun akhirnya menyudahi renangnya dia merasa bosan begini terus. jika ke perusahaan papanya kawatir kakek Andreas salah paham menuduh adiknya yang memintanya terjun di sana. Karena, Quen lebih memilih menjadi dokter dari pada penerus perusahaan.
Quen tengah asik video call dengan Axel di meja makan. Kata Aditya begitu dia bangung langsung menanyakan dirinya. Akhitnya Aditya berinisiatif untuk melakukan panggilan video.
"Hay, Axel kamu sudah mandi belum?" tanya Quen senang.
"Belum, kak. Aku baru bangun," ucap anak itu sambil tertawa polos.
"Kenapa tidak mandi dulu?"
"Aku kangen sama kakak, besok main ke sini lagi, ya?"
"Iya, kalau ada waktu ya, Axel sayang."
Kebetulan waktu itu Al melintas melihat Quen yang sepertinya video call dengan seseorang. Tapi, mendengar suara lawan bicaranya seperti anak-anak ia pun penasaran dan coba melihat dengan siapa adiknya berbicara.
Benar saja Quen tengah ngobrol dengan balita laki-laki berumur sekitar lima tahunan. Keduanya nampak akrab. Apakah mereka sudah lama kenal?"
"Kakak, siapa kakak di sebelahmu itu?" tanya Axel penasaran.
"Ini? Ini adalah Kakak Al. Dia abangnya kak Quen. Tingi kan dia?"
"Wah, iya... Lebih tinggi dari papa Axel. Apakah dia suka makan ikan dan sayur?"
"Iya, suka sekali."
"Dia tidak pernah makan paha ayam?"
"Iya, tidak. Jadi kalau kamu mau tumbuh tinggi seperti abang kak Quen harus banyak makan sayur dan ikan. Jangan melulu telur dan ayam. Ok sekarang Axel mandi dulu, ya?"
"Baik kakak, bye bye."
Quen masih tersenyum saat panggilan sudah di matikan dia melipat kedua kakinya di atas sofa.
"Siapa dia, Quen?" tanya Al.
"Axel, Kak. Anak temanku."
"Sudah lama kenal? Keliatannya akrab banget."
__ADS_1
"Baru tadi, sih. Tapi kami dah habisn banyak waktu bersama tadi,"jawab Quen.
"Sejak kakan kamu suka anak-anak? Kakak baru tahu.
"Sejak kapan ya? Emang selama ini Quen tidak pernah bertemu anak kecil, Kak. Kakak buruan nikah. Ntar aku bantu asuh keponakanku." Quen lagi-lagi meledek kakaknya.
Al hanya tersenyum tak memberikan jawaban. Memang benar, selama ini Quen tidak memiliki adik dan hampir semua om tantenya punya anak seusia dia. Walau dia lebih tua dari sepupunya.
🌸 🌸 🌸
"Tia, apakah kau menyukai gadis itu?" tanya Livia pada Aditya kala bersantai di suatu maal saat Axel dan suaminya sudah tidur lebih dulu.
"Sepertinya begitu, Ma. Tapi, dia varu berusia sembilanbelas tahun. Sementara usiaku sudah tigapuluh satu tahun," jawab Aditya.
"Tia, bukannya cinta itu tak pandang usia? Dia gadis yang mengerti tata krama. Sopan dan juga sabar dengan anak kecil. Tidak kah kau memperhatikan bagaimana seharian dia mengajak Axel bermain? Terlihat natural kalau dia memang suka anak-anak. Kau bisa, kan bedain yang tulus dan yang dibuat-buat?"
"Aku takut, Ma. Siapa tahu saja dia memang suka anak kecil. Perlakuannya kepada Axel bukan karna cari perhatianku," bantah Aditya.
"Kalau dia berlaku baik hanya mencari perhatianmu, itu bukan tulus, Tia. Tapi, modus." Livia tersenyum lebar mendapati putra satu-satunya telah mengalami fase puber keduanya.
"Kami dekat belum lama, Ma. Santai saja dulu, sebentar lagi ujian smester satu. Aku takut gara-gara aku menyatakan cinta dia nanti shock dan nilainya anjlok."
Kedua ibu dan anak itupun sama-sama tertawa.
🌸 🌸 🌸
"Hay, anak papa!" Seru Vano begitu tiba di depan pintu.
Dengan Antusias Al menyambut kedatangan kakek dan papanya, bersalaman mencium tangan mereka dan membantu membawakan bawaannya.
Beda dengan Quen dia hanya diam saja, seolah kesal dengan papanya.
"Quen, kau tidak suka papa pulang?" tanya Vano heran.
"Katanya kemarin pagi, kenapa sore?" tanya Quen pendek.
Vano tersenyum menarik putrinya duduk di pangkuannya seolah Quen baru berusia tujuh tahun saja.
"Kau marah sama papa? Lihat betapa jeleknya kamu kalau begitu." Goda Vano lalu tertawa.
"Ok aku gak marah. Tapi nanti setelah liburan smester ajak aku ke sana, ya Pa?"
"Itu tas warna pink milikmu dan yang warna biru milik kak Al sayang, kalian buka sendiri papa lelah," ucap Vano beranjak pergi ke kamar untuk rebahan.
"Kau sudah pulang, Van? Ini minum dulu," ucap Clara sambil memeberikan minuman dingin kepada suaminya.
"Makasih istriku, kemarilah!" Seru Vano dengan tatapan mata yang susah di artikan.
Clara duduk di sebelah Vano dan merebahkan kepalanya ke dada bidang suaminya tanpa berkata sepatah kata pun.
"Aku capek banget hari ini," ucap Vano sambil rebahan.
"Ya udah, sini aku pijitin."
"Tidak usah, aku cuma ngantuk. Aku tidur dulu, ya. Temani aku di sini." Vano memejamkan mata sambil mencium telapak tangan kanan istrinya. Sementara lengan kirinya merangkul kepala Clara membawanya ke dalam pelukannya.
Clara terdiam mendengaran dengkuran halus suaminya.
Cepat sekali dia tidurnya? Batin Clara.
Dia duduk mengamati Vano yang tidur lelap, wajah capeknya terluhat begitu maskulin baginya.
Clara meraih tangan kaman Vano dan menciumnya lama.
"Terlalu banyak hal yang terjadi pada kita. Berjanjilah untuk kita tetap bersama selamanya," ucap Clara sambil menatap wajah Vano dan mencium kening pria di depannya.
🌸 🌸 🌸
"Lyli, nanti aku sama pak Vano akan ke rumah menemui orang tua kamu, membahas prihal hubungan kalian ke depannya."
"Iya, kah nyah?"
Clara tersenyum sambil mengangguk pelan.
Sementara di tempat lain Vano berusaha membujung papa Andreas.
"Pa, aku tidak pernah keberatan jika Al harus menjadi penerus tunggal usaha di Jepang. Tapi, apakah tidak bisa tidak usah menggunakaj jalur hitam?" ucap Vano kala keduanya sama-sama bersantai.
__ADS_1
"Jika tidak begitu, bagaimana dengan keamanan perusahaan, Van? Banyak penyelundup yang berusaha mencari informasi rahasia dalam perusahaan." Andreas masih bersikukuh.
"Cukup memecat penghianat saja, kan alat-alat di sana juga sudah sangat canggih bukan, Pa?"
Andreas masih diam.
"Semua yang Papa ajarkan tidak akan sia-sia sekalipun tidak menggunakan jalur hitam. Tidakkah Papa memikirkan Quen jika tahu kakaknya membunuh orang dengan gampang layaknya menginjak semut, apa Papa pikir dia tidak akan aedih? Selama ini dia sangat membanggakan Al dan selalu beranggapan dia orang baik." Vano melihat ke arah Andreas yang sepertinya masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Apa perlu kau saja yang mengambil alih untuk itu?"
"Clara akan membenciku nanti, Pa. Yang benar saja. Terserah tapi aku melarang putraku membunuh dengan tangannya sendiri atau dengan menyuruh bawahannya, tidak boleh dia putraku."
Di balik tembok Quen benar-benar Shock dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Apa-apaan ini? Selama ini kakek memiliki organisasi gelap dan meminta kakak untuk menggantikannya?"
Quen berjalan mundur tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Setelah sedikit jauh dengan tempat di mana dia nenguping dia balik badan hendak berlari. Tapi, di belakangnya ada Al tabrakan anyara keduanya pun tak terhindarkan lagi.
Dengan cekatan Al meraih pinggang adiknya yang limbung hampir jatuh membawanya dalam pelukannya.
"Kau kenapa?" tanya Al bingung.
"Katakan padaku, apa yang kau lalukan selama lima tahun di Jepang?" tanya Quen dengan tatapan penuh intimidasi.
Al diam sejenak tidak langsung memberikan jawaban. Dari cara adiknya bertanya dan juga ekspresi wajahnya dia nampak shok akibat mengetahui sesuati yang buruk.
"Quen, kau tenang dulu, ok? Ayo ikut kakak kita bicara berdua di sini takut ada yang mendengar," ajak Al sambil menggandeng tangan adiknya.
Dan anehnya Quen tidak memberontak. Mungkin karena tahu kalau kakaknya pun sebenarnya tidak menginginkan hal itu. Dan ingin berhenti. Dia tahu Al merasa tertekan dengan Andreas. Jadi, dia tidak ingin menambah beban pikiran kakaknya.
Di dalam mobil keduanya hanya berdiam. Al melirik ke arah adiknya.
'Jika saja kau tahu aku ini bukan saudara kandungmu, apakah kau akan membenciku, Quen?' batin Al.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mereka pun sampai di sebuah pantai yang sepi. Sepertinya jarang di jamah manusia, hanya ada beberapa perahu nelayan dan warga sekitar yang bermain-main di pinggiran laut.
"Kau mau ajak aku bicara, apa bsrwisata, Kak?" ucap Quen sambil melipat tangan tanpa menoleh ke arah kakaknya.
"Awalnya aku malah ingin membawamu ke tengah hutan, jika kau marah dan kecewa dengan jawabanku tidak lari untuk kabur," jawan Al santai.
Quen melihat ke arah Al dengan tatapan tajam.
"Sepertinya kau kaget dengan suatu hal, ada apa? Katakan pada kakak apa yang ingin kau katakan. Kakak akan menjawab dengan sejujur-jurunya. Ok!"
"Tadi aku tidak sengaja aku mendengar pembicaraan papa dan kakek. Dia membujuk agar tidak memaksamu berlanjut di dunia gelap. Kau berapa kali membunuh orang?"
"Selama ini belum pernah, tapi terakhir kakak ke Jepang itu mengintrogasi seseorang dengan cara mafia tapi, tidak sampai dia kehilangan nyawa."
Dan benar saja dugaan Al. Quen memaksa membuka pintu mobil, beruntung dia sudah menguncinya lebih dulu.
"Kenapa kau menguncinya? Cepat buka!"
"Kau marah sama kakak? Kau benci? Ini bukan kemauan kakak, Quen." ucap Al dengan suara agak tinggi.
Quen menangis mendengar ucapan kakaknya, karena, seumur hidup sekalipun dia tidak pernah melihat kakaknya semarah ini.
"Jika kau tidak mau kenapa harus menuruti kemauannya? Kau bisa menolak. Apa diam-diam kau menikmati?" ucap Quen tak kalah tinggi.
"Apa yang kunikmati, Quen? Kau kira mudah?" Tangan Al meraih smart phonenya dan membuka sebuah video yang memutar rekaman dirinya lima tahun silam saat masuk ke kamp pelatihan yang sangat ketat.
Air mata Quen meleleh dari sudut netranya yang indah tidak mempercayai bahwa yang terjadi pada kakaknya begitu berat. Di sama kakaknya tidak hanya dilatih bela diri, tapi, juka berbagai siksaan mulai di rantai, di cambuk.
Quen melihat ke arah Al.
"Itu latihan dasar, untuk kita bisa berhati-hati dan tidak kaget saat tertangkap musuh. Karena yang dilakukan musuh akan lebih sadis dari itu, Quen. Kakak akan tetap sayang sama kamu, dan terus berusaha menjadi orang baik sekalipun kau membenciku.
Karena dalam hidup kakak hanya ada kamu dan papa mama kita saja."
"Mana bisa aku membencimu? Kau satu-satunya saudaraku. Aku tidak punya saudara lain," ucap Quen.
Gadis itu tidak mempermasalahkan apa yang terjadi pada kakaknya. Tapi, ada hal yang mengganjal dan perlu dipertanyakan. Tidak, aku akan bertanya langsung pada kakek. Jika dia terima kukirim bocah tua itu kembali ke negri sakura kembali, agar jadi kakek para mafia. Umpat Quen seorang diri.
"Kita pulang, atau bermain-main dulu di sini?" tawar Al sambil tersenyum.
Quen mengedarkan pandangan ke seluruh bibir pantai banyak anak-anak berusia tujuh sampai dua belas tahun tengah berlarian di sana. Quen menyeringai melihat mereka.
__ADS_1
"Kita bermain saja dulu, Kak," ucapnya bersemangat.