
Clarissa terus menatap Tiara yang nampak gelagapan dan ketakutan melihat dirinya. Dari pakaian tidak ada yang aneh, ia hanya memakai rok katun warna hitam seatas lutut dengan kaus strit lengan panjang dengan warna serupa, serta sepatu kets merah maroon. Gadis itu tersenyum, dan kembali melangkah mendekati Tiara.
"Mau apa, kau? Jangan pikir aku taku denganmu, Kau hanyalah gadis bisu yang tidak bisa apa-apa sekalipun kau sudah merubah penampilanmu, tetap saja kau lemah. Tidak berbeda jauh dengan kakak tirimu yang begokitu," ucap Tiara lagi sambil mundur beberapa langkah.
Clarissa yang dikiranya adalah Berlyn hanya tersenyum saja sambil terus menatap Tiara. "Aku salut sama kamu. Meski rambut sudah kuwarnai dan penampilan sedikit beda kau tetap saja bisa mengenaliku, ya?"
"Kenapa tidak? Siapapun juga tahu kau adalah Berlyn sekalipun kau bisa berbicara. Lalu apa maksut dan tujuanmu selama ini menjadi gadis bisu? Apakah kau sengaja mau ambil simpati Axel agar lebih berada di pihakmu? KLau sebenarnya juga pasti tahu, kan jika kakak tirimu menyukainya sejak dulu?" ucap Tiara, dalam ketakutan tadi masih berusaha keras memancing emosi gadis di depannya.
Tapi, gadis itu hanya tersenyum saja tidak mau menimpali.
"Kau ini diam-diam licik, ya? Seperti mamamu, curang. Sudah jadi pelakor, malah bikin papamu bercerai dengan istri pertamanya, yaitu tante Nayla, papamu itu suami dari tante Nayla, tapi direbut oleh mamamu!" umpat Tiara lagi masih tidak puas.
Beberapa langkah Clarissa melangkah mendekati gadis itu dan... "PLak!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tiara. Menerima tamparan sekeras itu dari gadis yang dianggapnya lemah dan ***** Tiara hanya ter[aku saking kagetnya. Efek dari tamparan yang dia dapatkan, piponya terasa panas dan mengenbang.
"Hina aku sepuasmu. Tapi, jangan bawa-bawa nama mamaku dalam masalah ini. Ini hanya soal aku dan kamu, bukan mamaku. Kau ini hanya bocah kemarin sore, tidak akan tahu seperti apa perjalanan yang sudah dilalui antara mama papaku dan juga tante Nayla. Jadi, lebih baik kau diam saja dari pada hanya mempermalukan dirimu sendiri," ucap Clarissa dengan nada dingin dan muka yang datar.
Sementara Berlyn yang juga ikut mendengar tentang apa yang barusaja Tiara katakan dari balik pintu hanya diam wajahnya murung memikirkan itu. 'Apakah benar seperti itu? Kenapa? Bagaimana bisa mama seperti itu? Tapi, jika benar begitu kenyataannya, kenapa dia bisa berhubungan baik dengan kak Bilqis dan juga tante Nayla?' pikir gadis itu.
Kebetulan, pria yang diajak oleh Clarissa kali ini adalah abdi lama Al. Dia tahu, seperti apa perjalanan mereka, meskipun tidak jelas dan mendetil. Namun, apa yang membuat Al lebih memilih adik angkatnya dan menceraikan istrinya, dia tahu.
"Nona!" pria itu memegang pundak Berlyn yang nampak melamun.
Gadis itu mendongakkan kepalanya, melihat wajah pria yang kira-kira usianya sudah menginjak tigapuluh sembilan tahunan.
"Anda kenapa? jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Dia salah besar. Saya sudah ikut papa anda sangat lama sekali. Jadi, saya tahu."
Berlyn memandang lekat pria itu. Kedua tangannya memegang pergelangan tangan kanan pria itu mengatakan dalam bahasa isyarat kalau ia ingin tahu yang sebenarnya. Sampai-sampai, diabaikannya apa yang terjadi di dalam, ia dan pria itu hanya mengawasi melalui alat pendengar yang sudah tersambung dengan alat pelacak yang dipakai Clarissa.
"Sebenarnya Nyonya Queen tidak pernah merebut tuan Al dari nyonya Nayla, Nona. Yang ada, Tapi, tuan lah yang menginginkan nyonya Queen. Beliau menikahinya dengan paksa. Seiring berjalannya waktu, cinta diantara keuanya pun tumbuh. Kemudian tuan Al meminta agar kami mengatur situasi agar mama anda dan nona Clarissa mengethaui sendiri kalau nyonya Nayla ada main belakang. Itu terjadi sejak lama sekali. Sebelum tuan Al menyadari cintanya," ucap pria itu. Sengaja dia tidak mengatakan pada Berlyn kalau mamanya pernah menikah dengan Alex. Karena, jika sampai ia mengatakan itu, maka urusannya akan menjadi kian panjang saja.
Setelah mendapat penjelasan dari paman tersebut, Berlyn pun menjadi tenang. Tak ada lagi yang ia risaukan. kembali ia melihat ke dalam. Dilihatnya tiba-tiba saudarinya bertengkar dengan Tiara.
"Kau hanya berkata sesuai dengan pengetahuan sempitmu saja, Tiara. Tidak tahu yang sebenarnya. Oke, terserah kau. Jika memang mamaku kau sebut pelakor. Tapi, di mataku dia pelaor elit dan berkelas. Krena dia bisa dinikahi secara sah, dan bahkan berhasil menendang istri pertama dari pria yang dinikahinya. Mereka bahagia, jalinan antara tante Nay dan kak Bilqis juga sangat baik. Sedangkan kau apa? Hanya keturunan ******* murahan saja yang banyak digagahi laki-laki serta berkali-kali dihajar dan dilabrak oleh istri sah. Kau dan mamaku juga tidak hanya sekali dua kali saja kan, diarak telanjang keliling kampung? Sementara mamaku tidak," ucap Clarissa tak kalah pedas.
Merasa geram dengan cemoohan dari gadis lemah di depannya yang tiba-tba saja berubah menjadi monster. Dilayangkannya tangan Tiara hendak menampat Clarissa. Namun, dengan ceoat Clarissa bisa menangkap tangan Tiara.
"Siapa dirimu beraninya melayangkan tangan ke mukaku? Sampai berani sekali saja kau sentuh aku, maka, jangan salahkan aku jika aku mematahkan tanganmu!"
"Lepaskan aku!" teriak Tiara. Kemudian dia menghempaskan tangannya dan berlari ke luar.
Clarissa hanya menyeringai saja. melihat mangsanya hendak kabur.
Begitu membuka pintu, Tiara bukannya terus berlari. Tapi, dia bengong dan terpaku melihat pemandangan yang mebuatnya tercenang. Seluruh energinya terasa terkuras habis dan ia juga nerasa lemas.
"Berlyn? Lalu, siapa tadi yang di dalam?" gumam Tiara lirih. Kemudian ia pun terjatuh karena tidak mampu menopang berat badannya dendiri.
Dengan sigap Berlyn menyeret gadis itu dan membawanya masuk. Tanpa diminta, pria yang berada di luar juga ikut masuk ke dalamnya dan mengunci pintu lalu menyimpannya.
"baiklah, kita sudahi masalah yang tadi. Sekarang aku tanya kamu, kau jual berapa kak Bilqis pada tiga bandot tua itu?" tanya Clarissa dengan nada tinggi.
"Siapa kalian? Kenapa ada dua Berlyn? Kau tidak mungkin kembar, kan?"
Berlyn hanya tersenyum saja. Tapi, tidak bisa menyembunyikan kekesalan dari raut wajahnya kala ia mendengar bagaimana tadi gadis di depannya menghina mamanya dan menuduhnya sebagai pelakor. Sungguh, tak dapat diampuni. Tapi, ia tidak berani bergerak tanpa mendapatkan intruksi dari kembarannya.
"Kamu ditanya jawab!" bentar Clarissa yang mulai hilang kesabaran.
"Du... duaratus juta," jawab Tiara sambil menunduk.
__ADS_1
"wow, banyak sekali, ya? Pantas saja kau bisa bersenang-senang tanpa rasa bersalah begitu. Tapi, sahabat yang kau tumbalkan untuk kesenanganmu down dan nyaris mengakhiri hidupnya. Ia kehilangan masa depan dan harga dirinya yang dia jaga selama ini. Keluarkan isi tasmu. Aku mau uang, kartu kredit dan juga atmmu!"
"Buat apa? kau mau memerasku?" bentar Tiara tidak terima sambil memeluk tas yang sedari tadi ia slempangkan di pundaknya.
"Jika iya, kau mau apa? Lapor polisi atas pemerasan? Silahkan!" ucap Clarissa dengan santai. Mulanya Tiara benar akan melaporkan gadis menyeramkan di depannya ini pada poslisi. Baru saja dia membuka kunci layar, Kembali Clarissa yang dia kira itu adalah Berlyn kembali berkata, "kau ini buronan. Apa kau pikir polisi akan tangani laporanmu, hah? Yang ada dengan senang hati ia menangkapmu dan mempreosesmu secara hukum. Aku merekam semua perkataan yang ada di sini, loh, Tiara?" Clarissa tertawa sambil menunjukkan alat kecil yang tertempel di atas lemari.
Tiara menoleh, di sana terlihat jelas sebuah kamera yang tengah on. Itu bukan CCTV yang hanya menampilkan gambar saja. Tapi, sebuah camera yang sudah dilengkapi oleh fitur suara juga.
"Kalian menjebakku?" teriak Tiara sambil terbelalak.
"Iya, sekarang berikan apa yang aku minta. Sebab jika tidak aku bisa menambah laporan atas pencemaraan nama baik dan fitnah terhadap mamaku, loh!" ancam Clarissa.
Dengan berat hati, Tiara pun membuka isi tasnya yang membuat Clarissa dan Berlyn terkejut. Ternyata Tiara adalah pengguna Narkoba juga. "ini," ucap Tiara sambil menyodorkan satu kartu kredit dan dua atm pada Clarissa.
"Paswordnya apa?"
"140590. Semuanya sama," jawab Tiara sambil buang muka.
Clarissa menyeringai dan membatin, 'Apa, sih yang pantas sebagai hukuman pada orang yang mengetahui banyak hal? Semakin banyak tahu rahasia maka, dia akan cepat mati. Tapi, dengan dia mengetahui kalau dan Berlyn kembar, ini adalah ancaman.' Clarissa melepaskan kalung perak yang ia kenakan. Kemudian ia meminta agar Tiara melihat pada lentinnya. Rupanya gadis itu mau menghipnotis Tiara. Tapi, untuk apa?
"Tiara, lihat kemari, aku bisa bantu kau agar tidak dipenjara," ucap Tiara sambil mengayunkan leontin berbentuk cincin dengan satu permata di bagian tengahnya.
Tanpa di duga, Tiara pun patuh begitu saja.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur, oke?"
Tiara mengangguk. Tatapannya kosong hanya mengikuti ke mana arah leonti itu bergerak, terus ke kiri dan ke kanan.
"Kau apakah seirang pemabuk dan pengguna narkoba?"
"sejak kapan?"
"Sudah satu tahun."
"Baik. Ini semua ATM dan cartu creditmu aku sita. Setelah aku dan semuanya pulang, kau berpestalah, habiskan semua yang ada di dalam tasmu. Jangan pergi sebelum habis, oke? Jangan dijual habiskan saja."
"Mengerti."
"Baik, sekarang kami bertiga akan pergi dan kerjakan tugasmu dengan baik!" seru Clarisa ketika ia melihat kalau paman yang bersamanya sudah mengambil camera dan semua alatnya sudah dimasukkan ke dalam tas.
"Ayo kita pergi!" ucap Clarissa pada dua orang yang bersamanya,
Tiba di mobil Berlyn bertanya pada kembarannya dengan bahasa isyarat. "Apakah kau tidak salah menghipnotis Tiara dan memintanya pesta sabu-sabu sebanyak itu sendirian? Jika dia mati, bagaimana?"
"Yang penting aku tidak membunuhnya. Karena dia ancaman besar kalau dibiarkan hidup. Dia tahu kalau kita kembar," jawab Clarissa. sambil melepaskan sarung tangan yang ia kenakan.
Berlyn diam. Ia merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh saudar kembarnya. Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa dia berlaku kejam begitu? 'Saudariku bukan psycopath, kan?' batin Berlyn sambil menitikkan air mata.
"lyn! kau jangan begitu. Hatimu yang lemah seperti ini akan mudah dimanfaatkan oleh musuh. Jnaan cintai siapa-siapa. Cukup dirimu saja, oke?"
Berlyn diam tidak bergerak, dihapusnya air mata yang mengalir di kedua pipinya dengan kasar.
"Lyn, kematian Tiara itu setimpal. Dia pengguna dan oengedar narkoba, dia juga banyak membohngi banyak gadis polos seperti kak Bilqis dan menjualnya demi kepentingan pribadi. Kau jangan lembek begini. Ini sudah jadi hukum alam!"
Berlyn masih diam. Kemudian ia minta diturunkan di jalan itu juga. Clarissa menuruti permintaan saudarinya. Karena, dia juga tidak mungkin mengantarkannya pulang. Jika dia tidak keluar, orang yang melihat nanti akan mengira saudarinya bersama seorang pria. Tapi, jika ia keluar, sama aja bunuh diri bersama.
"Kau mau naik taxi online?" tanya Clarissa sambil menatap wajah Berlyn dengan tatapan penuh rasa bersalah karena telah membuatnya bersedih.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk dengan wajah tertunduk.
"Ya sudah, kau berhati-hatilah. Kabari aku jika kau sudah tiba di rumah, oke?"
Berlyn hanya mengangguk saja sambil tersenyum tipis. Kemudian ia turun dari mobil itu, dan melambaikan tangannya pada Clarissa yang masih duduk di belakang.
Setelah mobil itu lenyap dari pandangannya, Berlyn melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirirnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. 'Sudah sore saja, ternyata. Mama pasti sudah pulang, bahkan papa juga,' batinnya sambil berjalan menyusuri trotoar.
Dari belakang, sebuah mobil warna merah melesat dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba saja mobil itu berhenti persis di sebelahnya.
Merasa aneh, gadis itu menoleh ke arah mobil yang jendela kacanya sudah turun.
"Gawat! Kok bisa ketemu kak Axel, sih? Dia pasti pulang dari kampus. Mana aku masih pakai kaus suporter lagi,' batin Berlyn. Ia bingung, mau kabur atau akan diam di tempat setelah sesuatu terjadi padanya tadi.
Axel menatap Berlyn yang terlihat kaki di sebelahnya. Tapi, bukan ekspresinya yang menjadi poin pada pria itu. Namun kedua matanya yang memerah. 'Kenapa dia? Apakah dia menangis?' batin Axel.
"Berlyn, kau dari mana saja? masuklah ke dalam mobil. Kuantar kamu pulang," ucap Axel.
Berlyn hanya diam. Tetap menunduk tak mau memandang wajah pria dalam mobil tersebut.
Merasa tidak telaten dengan Berlyn yang hanya mematung, Axel pun melepaskan sabuk pengaman lalu keluar dan menghampiri Berlyn yang masih diam mematung.
"Ayo, masuklah! Ini sudah sore," ucap Axel. Memegang pergelangan tangan kanan
Berlyn masih diam dan bertahan dalam posisinya.
Axel memandang gadis di sebelahnya sambil menghela napas panjang. "Kamu nunggu apaam, sih? Aku sudah turun dan bukakan kamu layaknya seorang pangeran pada tuan putri. Tapi, kau masih mematung. Apa perlu kugendong kamu?" tanya Axel.
Karena tak ada jawaban, Axel benar-benar menggendong tubuh gadis itu hingga secara reflek Berlyn berteriak. Teriakan yang harusnya jadi kejutan tiga hari lagi tepat di hari ulang tahunnya lagi-lagi bocor, dan itu pun selalu di depan Axel. "Tidak, Kak Axel!"
"Berlyn?" ucap Axel terkejut. Matanya sampai tidak berkedip memandang gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. "ini masih kau Berlyn, yang sama, kan?"
Gadis itu melangkah maju mendekati Axel. mengegngam tangan kanan milik pria itu yang kekar dengan kedua tangan dan berkata penuh dengan permohonnan. "Aku mohon dengan sangat, rahasiakan ini sebelum ulang tahunku." Mata gadis itu menatap lekat pada dua manik biru kebabu-abuan tersebut.
"Oke, baiklah. Tapi, jawab dulu pertayaanku."
Berlyn menolehkan kepalanya ke dalam mobil, Karena sudah terbiasa dengan bahasa isyarat, Axel tahu apa yang dimaksut oleh gadis itu. keduanya oun masuk ke dalam dan duduk.
"Sejak kapan kau bisa berbicara selancar ini?"
"Aku sudah tiga tahun belajar. Tapi, baru bisa lancar, satu tahun terakhir ini."
"Memang sebelumnya bicaranya tidak lancar, apa?"
"Ya. Sedikit gagap."
Axel tersenyum, dia belum mengenakan sabuk pengamannya. "I love you!" serunya. lalu tiba-tiba dia memeluk Berlyn dari samping dan kembali mencium bibir gadis itu.
"Kamu!"
"Biar kian lancar bicaranya. Aku tadi udah GR duluan, loh! Kukira kau mendadak bisa bicara setelah kucium," timpal Axel sambil tertawa.
Sementara Berlyn hanya diam manyun saja.
"Kau jangan marah, pacar adikku. Yang nikah lalu bercerai saja banyak, apalagi cuma pacaran, kan? Aku akan menikungmu dengan cara sehat. Tidak bikin Adriel marah dan bertengkar denganku. Tapi, membikin kamu merasa nyaman sama aku,' ucap Axel lagi sambil terkekeh.
'Ya, Tuhaaaan. Pria yang bicaranya penuh itungan dan selalau serius ini kenapa mendadak jadi koplak setelah kutolak cintanya, ya? Dia tidak sakit, kan? Jaga jiwa dan rohaninya, Tuhan. Jangan sampai dia edan,' ucap Berlyn dalam hati.
__ADS_1