Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEION 2 PART 31


__ADS_3

"Mama, tenang. Aku ini bisa berfikir. Sekali pun andai mama miskin tak punya apa-apa, Al tetap akan memilih ibu yang merawat Al dari pada ibu yang telah membuangku. Lagian jika pun aku mati saat itu, dia tidak akan tahu." Hibur Al.


"Apa, mati pun dia tidak tahu? Jelas lah, Al," ucap Vano berusaha mencairkan suasana.


"Maksutnya tidak peduli, mungkin sih begitu. Karena Al tidak ada merasa dekat atau gimana dengan Lyli maupun tante Rika," jawan Al secara gamblang.


"Aku sudah siap, apakah kakak ikut dengan kita, Pa?" tanya Quen yang tiba-tiba saja muncul.


"Harusnya cukup kita berdua saja, tapi, jika kau ingin kakak dan mamamu ikut, ayo!" Seru Vano.


Dengan semangat Quen menggandeng tangan Vano dan berjalan menuju garasi.


🌸 🌸 🌸 🌸


"Lyli, saya mau tanya, sebenarnya apa yang terjasi sampai Quen bisa melakukan itu terhadapmu. Sembilan belas tahun, kami tidak pernah dia berbuat kasar apalagi melebihi batas, apa benar kata Al, kau telah memancingnya lebih dulu?" tanya Andrean dengan tegas.


Melihat Andrean yang seperti ini mental Lyli menjadi ciut. Biasanya dia tidak pernah takut padanya, yang dia takutkan adalah kakaknya, Andreas. Tapi, saat ini Andrean bahkan jauh lebih menakutkan dari pada Kakaknya.


Dengan segera Lyli bersimpuh memohon ampunan kepada Andrean sambil menangis.


"Tuan, maafkan saya, iya memang saya yang salah, saya seperti itu karena emosi, tidak tahan melihal tuan Al yang adalah kakak kandung saya tetap saja perhatian pada nona Quen, sedang pada saya tetap acuh tak acuh."


"Kau sadar tidak? Apa yang kau lakukan justru membuat Al akan membencimu. Sekarang kau lihat! Mereka berempat keluar bersama. Al sangat menyayangi Quen meskipun dia tahu dan sadar hanya anak hasil adopsi. Al diadopsi anak kami sudah berusia enam tahun, dan Quen saat itu herusia empat bulan. Jika kau berfikir Al tidak tahu apa-apa, salah besar," tegas Andrean.


"Lyli. Kau masih ingin bekerka di sini, atau tidak?" tanya Vivian.


"Iya, Nyonya besar, saya masih ingin bekerja di sini."


Vivian dan Andres saling pandang tapi tidak ada isyarat apapun untuk menyetujui atau menolaknya.


"Jika kau ingin bekerja, bekerjalah dulu dengan baik, saya tidak janji bisa kabulin permintaanmu, kami semua harus membicarakan ini. Karena yang tinggal di rumah ini tidak hanya kami, tapi ada kakak, Vano, Clara juga Al."


Vivian dan Andrean meninggalkan Lyli di dalam kamarnya meminta untuk dia beristirahat. Beruntung dia hanya mengalami luka luar saja, jadi, masalahnya tidak begitu serius.


Setiba di apartemen Quen melihat interior yang minimalis namun elegan. Entah kenapa dia tiba-tiba langsung menyukainya.


"Wow, keren banget, Pa?" ucap Quen.


Sedangkan Clara dan Vano saling beradu pandang dan melempar senyum.


Usai mengajak Quen melihat dapur, kamar mandi dan dua kamar yang sama luasnya, ia memberikan waktu untuk Quen sendiri beristirahat dengan Al.


"Kalian lihat-lihat saja dulu, pap dan mama kan ke balkon," ucap Vano kepada Al dan Quen.


"Baik, Pa," jawab mereka bersamaan.


Tiba di balkon Vano langsung memeluk istrinya dari belakang.


"Van, apa yang kau lakukan? Awas anak-anak nanti melihat," ucap Clara sambil bsrusaha melepas pelukan tangan Vano dari pinggangnya.


"Tidakkah kau ingat masa itu di sini?" bisik Vano.


"Sudahlah, ini situasinya tidam tepat, ayo kita kembali."


Vano menciun pipi Clara lalu akhirnya menyetujui. Di sana Ia melihat Quen duduk di sofa tengah ngobrol dengan Al.


"Jika aku akan tinggal di sini, apakah kau akan sering mengunjungiku nanti, Kak?" tanya Quen kepada Al.


"Tentu saja, itu sudah pasti."


"Ya sudah, besok papa harus bekerja, ayo kita kembali dan istirahat lebih awal!" Ajak Vano kepada dua anaknya.


Tidak seperti Quen yang sudah mulai tenang, Al malah terlihat banyak berfikir saat di dalam mobil.


Bahkan setibanya di rumah pun dia juga nampak gelisah. Setelah memastikan Quen sudah benar tidur, Al mengirim pesan chat kepada Vano.


Tak lama kemudian, setelah chatnya di baca, Vano pun keluar.


"Ada apa, Al?" tanya Vano ketika melihat Al menunggunya di ruang tengah.

__ADS_1


"Apakah mama sudah tidur, Pa?"


"Belum, jika ada masalah pribadi, kita bisa berbicara di luar saja, Al."


"Justru aku perlu bicara dengan mama juga, Pa."


"Ya sudah, aku panggil mamamu, kita bicara di belakang saja, ok?"


Al menjawab dengan anggukan dan lebih dulu menuju taman belakang rumah.


Tak lama kemudian Vano dan Clara tiba di sana. Tidak membuang banyak waktu, Al langsung saja to the point mempertantakan intinya.


"Ma, apa yang ibunya Lyli tadi katakan pada Mama?"


Clara membuang pandangan, enggan menjawab. Vano menggenggam tangannya dan memberi isyarat mata agar menceritakannya.


"Ma, kita cari jalan keluarnya  bersama, ya? Jika Mama diam, kita akan selamanya seperti ini. Agar kita tahu, tante Rika benar, atau tidak."


"Kurasa bebar, karena dia ingat betul melahirkan bayi laki-laki dengan tanda lahir di leher dan dengan terpaksa menaruhnya di depan rumah warga, dia mengetuk pintu sebelum meninggalkan putranya. Ia pergi begitu yakin ada sahutan dari dalam rumah," jawab Clara dengan wajah kembali sedih.


Al nampak berfikir, ia mengangguk paham, apa yang akan dilakukan kedepannya.


"Baiklah, kita istirahat saja dulu, Pa, Al juga capek."


Al menyempatkan melihat Quen di dalam kamarnya sebelum ia masuk ke kamarnya sendiri untuk istirahat.


🌸 🌸 🌸 🌸


Pagi-pagi sekali Al sudah nampak rapi, lebih awal dari papanya.


"Mau kemana kau, Nak?" tanya Vivian yang tengah menyiapkan sarapan.


"Ada urusan di luar, Nek. Nanti kalau sudah keluar Al juga akan segera pulang," jawan Al sambil menyantap roti bakar buatan Vivian.


"Nek, Al pergi dulu, ya?" ucap Al buru-buru sambil membawa dua potong roti bakar pergi.


"Al, tunggu, bawa ini agar kau tidak tersedak di jalan." Buru-buru Vivian memasukan segelas susu hangat pada botol kecil yang dilapisi termos, jadi, susu itu akan awet hangat dalam jangka waktu yang lama.


Sambil memamaskan mobil, Al memasang kaos tangan hitam berbahan kulit serta menyisipkan pisau dan pistol di pinggangnya.


Dari luar pria itu terlihat sangat macho dan tampan sekali, dengan spatu, jeans panjang dan kaus pres body serba hitam. Tapi, siapa sangka dia membawa dua jenis senjata tajam dengan dirinya, mau kemana Al?


🌸 🌸 🌸


Di sebuah rumah sederhana dan berhalaman luas Al memarkirkan mobilnya. Dengan langkah yang sangat elegan dan manly dia mendekati pintu dan megetuknya.


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya keluar membukakan pintu. Dengan raut wajah semringah dan senyuman di bibirnya wanita itu menyambut kedatangan Al.


"Al, kau kemari, Nak?" ucap wanita itu membuka tangan bersiap memeluk pria di depannya.


Dengan tampang datar Al langsung masuk dan menutup pintu lalu menguncinya.


"Siapa ayah kandungku?" tanya nya drngan suara datar dan dingin.


Rika tercengang, bagaimana bisa dia datang dan mencarinya untuk menayakan ayah kandungnya dengan ekspresi seperti itu. Aura Al sangat menakutkan, meski dia hanya diam dan berkata dengan pelan, tetap saja. Seperti ada aura membunuh yang sangat kental.


"Kau apakah sudah sarapan, Nak sepagi ini? Kau bahkan kesini sendiri tidak mengajak adikmu." Rika mengalihkan topik, dan berusaha tenang meski sebenarnya dia pun takut.


"Adikku, ya? Tadi masih tidur, nanti jam sembilan dia ada kuliah. Siapa ayah kandungku, dia ada di mana sekarang? Cepat jawab?" Seru Al sambil mengeluarkan sebilah pisau dan menodongkan tepat di depan wajah Rika.


Rika benar-benar kaget setengah mati, ingin rasanya kabur, tapi tidak ada akses karena Al sudah mengunci pintu, jika pun teriak, pisau ini paati lebih dulu melukainya dari pada kedatangan warga.


"Al, kau ini kenapa, Nak? Apa yang kau lakukan?"


"Aku bertanya ya jawab, atau aku akan menggorok lehermu saat ini juga?" tanya Al sangat mantab.


"Baik-baik. Tapi lepaskan dulu pisau ini dariku, Al."


"Cepat jawab!" bentak Al.

__ADS_1


"Baik, ayah kandungmu adalah Bram dia tinggal di jalan melati dan bekerka sebagai direktur perusaan Sinar jaya di jalan Gajah Mada," jawab Rika ketakukan.


Dengan cepat Al pergi meninggalkan rumah itu tanpa sepatah kata apapun. Selepas Al pergi Rika bisa bernapas lega, dia duduk sambil meletakan kepalanya di atas meja. Kakinya terasa lemas. Belum pernah dia mengalami ditodong senjata tajam seumur hidupnya. Terlebih ini anak kandung yang baru ditemukannya yang melakukannya.


Sekitar empatpuluh lima menit perjalanan dari rumah Rika, Al sudah sampai di alamat yang dia beritahukan tadi. Al mengamati rumah tersebut. Cukup megah besar dan elegan. Tak lama kemudian muncul pria tua berusia


Kira-kira enampuluh tahunan. Al terus mengamatinya, tidak ada pria dewasa di di sana. Cukup lama Al mengamatinya.


Lalu tiba-tiba ada salah seorang warga lewat.


"Mas... Mas, permisi mau tanya rumahnya pak Bram itu mana, ya?" tanya Al dari dalam mobil.


"La ini rumahnya, Mas. Itu pak Br sedang berjemur sambil jalan-jalan di halaman rumahnya." Pria itu menunjuk ke arah lelaki tua yang sedari tadi diamati Al.


"Oh, iya Mas. Terimakasih, ya?" ucap Al tersenyum ramah.


Al berfikir sejenak. Sebentar, itu mah lebih tua dari kakek Andreas, yang benar saja ayahku setua itu? Kakek-kakek.


Al masih bingung dengan apa yabg terjadi, salah dia sendiri tidak bertanya secara detil kenapa Rika dan Bram berpisah. Padahal jika lihat Rika yang masih muda idealnya ya suaminya yang sekarang. Karena tidak mau membuang waktu Al pun memutukan untuk datang dan bertanya langsung. Dia pun sebenarnya bisa menelfon Clara menayakan usia Bram pada masa itu. Dengan waktu ngobrol yang lama kemarin harusnya Rika kan menceritakan keseluruhannya. Tapi, dia tidak mau karena takut Clara berfikir kalau Al mencari orang tua kandungnnya dan meninggalkannya.


Al memencet klakson dua kali seorang scuryti datang menghampiri, "Maaf, anda siapa Tuan? Mencari siapa?"


"Saya mencar Pak Bram dari perusahaan Sinar Jaya," Jawab Al dengan ramah.


Security itu nampak berfikir sejenak. Lalu pria yang di duga bernama Bram tadi mendekati ke arah gerbang dan memngizinkan tamunya masuk.


Al pun masuk dan memarkirkam mobilnya di halaman. Sesaat dia mengamati pria berdarah betawi yang kental dan tinggi badan yang standar sebagai laki-laki.


Al nampak berfikir dan ragu jika ini ayah biologisnya. Bukan karena jelek atau tua. Seperti Vano yang wajahnya nampak campuran, memang dia keturunan Cina dan Australi, dan Clara sendiri berdarah Jerman, persis dengan Omnya, Hans.


"Ada perlu apa kau kemari, Anak muda?" tanya pria itu membuyarkan lamunan Al.


Bahkan Al pun bingung harus memulai dari mana.


"Maaf, Pak, benar anda pak Bram?" tanya Al.


"Iya. Benar saya sendiri ada perlua apa kau mencariku anak muda?" tanya Bram dengan close membuat Al mudah untuk menggali informasi.


"Saya to the point saja ya, Pak? Maaf jika lancang saya memang benar-benar perlu informasi dari bapak setelah ini saya janji tidak akan datang menganggu anda lagi. Walau saya tidak enak menyakan ini, tapi, saya harus menanhakannya demi ketengangan keluarga saya, Pak.


"Tanyakan saja Nak, kenapa?"


"Sebelumnya maaf jika saya lancang, apakah anda kenal Rika?"


Sontak wajah Bram nampak terkejut ekspresinya pun berubah 180° drajat.


"Rika yang tingggal di kampung baru itu? Kau kenal? Bagaimana kabarnya sekarang?" tanyanya.


"Dia baik-baik saja, Pak. Anda kenal?"


"Iya, mari kita masuk saja bicara di dalam. Anak istriku kebetulan tidak ada," ucapnya.


"Jadi, Rika dulu adalah pacarku, aku hampir menikahinya karena mengandung anakku, hanya saja karena ketahuan istri sahku, jadi acara itu gagal. Aku ingin mencarinya menanyakan bagaimana anakku tapi, aku tidak berani."


"O, begitu, ya? Ya sudah pak, terimakasih. Saya mohon diri dulu, dan saya berjanji tidak akan kemari lagi," pamit Al.


"Tunggu dulu anak muda, aku sudah memberimu tahu ini. Kau kuga harus memberitahuku kenapa kau bertanya seperti ini?"


"Saat itu bu Rika bilang membuang anaknya tapi, masih ingat dengan tanda lahir di lehernya, menduga saya adalah anknya. Makanya, karena bu Rika wanita indonesia tulen saya memastikan ayah biologis saya, mungkin bu Rika salah, memang saya dulu dibersarkan di panti asuhan, Pak. Tapi saya sudah diadopsi oleh keluarga yang berdarah blasteran," ucap Al secara rinci.


"Nak, jika kau perlu untuk tes DNA, kau boleh kemari untuk membuktikan kalau Rika salah. Pasti orang tua angkatmu sangat sedih dengan ini."


Al memeluk Bram dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih.


"Tunggu, siapa namamu, Nak?"


"Nama saya Fatih, Pak," jawab Al. Lalu ia pun bergegas ke kantor Vano.


Sesampai di sana Al menceritakan semua infotmasi yang di dapatnya hari ini. Sungguh memuaskan memang, karena dengan begitu mereka bisa menyangkal kalau Rika ibu kandung Al dan dia tidak berhak mengambil Al dari keluarganya.

__ADS_1


"Kalau sudah seperti ini, Al kan bisa bicara sama mama, Kan pa? Dia pasti tidak akan takut lagi,"


"Iya, Al. Terimakasih, ya? Papa merasa sangat bersyukur memiliki putra sepertimu." ucap Vano menepuk pundak Al.


__ADS_2