
Al memainkan bulpoin di tangan krinya, dibiarkan berputar-putar seperti otaknya yang memikirkan banyak hal. Sementara tangan kanannya sibuk menggesrkan moise kesana kemari. Mengeceki file dan beberapa dokumen.
Karena merasa sendiri dalam menghandle tiga perusahaan sekaligus, Al hampir tidak memiliki waktu luang, setiap kesempatan selalu ia gunakan untuk kerja, kerja, dan kerja saja. Hanya saat bersama sang kakek saja dia merasa rilex dan benar-benar beristirahat. Seban, kakeknya sangat peka. Apapun yang dia pikirkan saat itu, dia tahu jadi, jangan sampai memikirkan soal kerjaan jika berdekatan dengan kakeknya yang satu ini. Memang sang kakek mudanya type pekerja keras. Tapi, melihat cucunya begitu sibuk, ia juga tidak suka.
Saat Al tengah serius menatap ke arah monitor, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa ada suara ketukan. Penasaran Al segera menoleh ke arah pintu. Mungkin dia berfikir, siapa yang berani masuk ruanganku tanpa izin dariku?
Begitu pintu terbuka sempurna seorang gadis berdiri mengenakan kemeja putih polos dan celana jeans panjang berwarna buru cerah dengan model sobek di lutut dan kedua pahanya. Ia tersenyum manis dengaΒ tote back di pundak kanannya sementata kedua tangannya memeluk sebuah map.
Wajahnya kian manis dengan kacamata putih membingkai wajahnya, serta rambutnya yang dibirakan tergerai bebabas hanya bagian poni saja dijepit kebelakang.
"Selamat siang, Pak Al. Saya kemari untuk melamar pekerjaan," ucap gadis itu.
Al memandangi penampilan wanita di hadapannya, ia menyeringai saat melihat bodynya yang tetap menonjol seolah tak dapat disembunyikan meski sudah mengenakan kemeja longgar. Tanpa sadar ia mengigit kecil unun pena yang sedari tadi dimainkannya.
"Sini!" seru Al dengan tatapan mata yang susah di jelaskan.
Wanita itu pun duduk di depan Al sambil menyerahkan map yang katanya berisi surat lamaran. Tapi. Setelah Al coba cek ternyata bukan. Melainkam hasil pembukuan minggu ini di bahian kontruksi.
Al tersenyum puas, selain semuanya benar, hasilnya juga rapi.
"Kau yang mengerjakan ini?" tanyanya.
"Ya, benar. Memang siapa yang kau percaya untuk mengerjakan hal ini? Tidak ada, kan? Boleh aku melamar kerja di sini?" tanya gadis itu.
Al tersenyum miring lalu memukulkan beberapa berkas dari dalam map itu ke kepala gadis di depannya.
"Aku takut tidak sanggub menggajimu, yang jelas, kau tidak mau digaji seperti karyawan lainnya, kan?"
Gadis itu memutar kedua bola matanya. "Aku sudah izin kakek, dan beliau sudah mengizinkanku. Dia bahkan sangat setuju, loh."
"Lalu, bagaimana dengan pendidikanmu?"
"Semua aku prioritaskan. Pendidikan untuk cita-citakun dan disinu dengan setulus hati aku membantumu, agar kau tidak tua sebelum waktunya," ucap wanita itu sambil tertawa.
Al memperhatikan wanita di depannya cukup lama, sampai tanpa sadar ia mendekatkan tubuhnya merayap di atas meja dan hendak meraih wanita itu, baru saja bibirnya menempel pada pipinya, sebuah telfon dari asistennya berbunyi.
"Halo," ucap Al dengan raut muka kesal.
"Halo, pak. Istri anda ingin menemui anda."
"Biarkan dia masuk keruanganku." Al meletakan ganggang telfon itu pada tempatnya, dengan cepat ia merapihkan kembali kemejanya dan kertas-kertas yang sedikit berserakan akibat perbuatannya sendiri.
Lalu, sebelum Nayla masuk, ia berlagak duduk tenang sambil bersandar pada kursi putarnya.
"Memang kau sudah minta izin Alex? Dan apakah dia mengiznkanmu?"
__ADS_1
"Oh, jelas. Alex adalah suami pengertian. Malah aku ke sini adalah usulnya. Soal pembukuan, juga ide dia. Jadi, sebab, kalau aku hanya merenget memaksakan diri membantumu jelas kau akan menolakku mentah-mentah. Jika sudah tahu hasilnya begini, kau pasti akan berfikir dua kali, kan?" ucap Quen sambil tersenyum penuh kemenangan.
Al memegangi kepalanya dan memilih tertawa saja. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, jelas siapa yang datang dua barsaudara itu sudah dapat menebaknya, dia adalah Nayla.
"Masuk!" jawab Al sambil memandangi kertas-kertas di tangannya. Bahakan, bibirnya masih sedikit meninggalkannsenyuman saat itu.
"Quen, kau tumben kau ada di sini?" sapa Nayla begitu pintu ruangan Al terbuka.
"Ya, aku melamar pekerjaan pada pak Al," jawab Quen sambil tertawa.
Nayla tidak begitu serius menganggapi, menganggap ini hanyalah sebuah guarauan saja. Ia pun membuka box berisi makan siang.
"Quen, ayo makan siang bareng!" ajak Nay pada saudari iparnya.
"Kalian makan saja, aku akan makan di rumah. Pak, jangan lupa menelfonku jika memang aku diterima bekerja di sini," ucap Quen lalu meninggalkan ruangan itu.
Sementara dalam ruangan itu hanya tinggal Al dan Nayla saja. Dan lagi-lagi wanita itu tidak begitu menanggapi perkataan Quen. Karena ia masih mengira apa yang Quen katakan barusan hanya gurauan saja.
"Tadi di rumah kakek sama siapa, Nay?" tanya Al tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang dibawa Quen tadi.
"Tadi ada Hanifah dan Alex di sana, Mas. Kenapa?" tanya Nayla.
"Ya sudah, nanti kalau tidak ada siapa-siapa jangan tinggal kakek, ya? Aku titip dia saat aku sibuk. Kasiam dia kalau kesepian jadi teringat sama mendiang kakek Andreas dan nenek."
"Iya, Mas. Aku ngerti, kok." Tangan Nayla menyentuh pipi Al dan memandangi wajah yang masih sibuk dengan berkas di tangannya itu dengen lembut.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku ngerti, kok." Nayla menyandarkan kepalanya pada dada bidang Al dan memeluk erat tubuh pria yang teramat sangat dicintainya itu.
"Makasih, ya?" jawab Al sambil mengusap punggung Nayla.
Tak lama kemudian terdengar lagi suara ketukan dari luar. Awalnya Al mengira yang datang adalah Quen. Sengaja mengetuk pintu karna tahu ada kakak iparnua di dalam.
"Masuk, aja," ucap Al santai.
Begitu pintu terbuka bukan Quen, melainkan Jevin, salah satu staf di kantor garmen yang kini juga Al yang mengelolanya.
"Ada apa, Vin?" tanya Al sedikit canggung dan agak menjauh dari Nayla.
"Saya mau memberikan laporan ini. Pak. Hasil pembukuan minggu ini," ucap Jevin sedikit melirik me arah Nayla. Lalu segera pria itu memohon diri untuk keluar.
Nayla masih diam dan bertingkah wajar saja, sebab, ia tak ingat kalau dia pria yang pernah dia tabrak dan juga di mobil pria itu, dia salah masuk mengiranya taxi online yang dia pesan.
"Mas, aku kembali dulu, ya? Kasian kakek kalau nanti sewaktu-waktu Hanifah pergi, Alex juga nampakmya sibuk mengoreksi hasil ulangan muritnya.
"Ya, hati-hati, ya?" ucap Al hanya memandang dan tersenyum kepada Nayla saja.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan Al, Nayla bertemu lagi dengan Jevin. Awalnya wanita itu menyapa dengan sedikit senyum sambil mengangguk. Tapi, pria itu justru malah mengejeknya.
"Kau pacarnya pak Al, ya? Kasian pak Al. Muda ganteng pinter seleranya cewek teledor sepertimu," ucap Jevin.
Nayla melotot, dia tidak habis pikir kalai staf suaminya ada yang sangat kurang ajar begitu. Tapi, dengan cepat Nayla mampu mengontrol emosinya. Ia segera sadar kalau pria di depannya tidak tahu kalau dia adalah istri dari putra owner perusahaan di mana dia bekerja.
"Memang kenapa? Yang penting dia tulus mencintaiku dan bisa menerima segala kekuranganku. Memang, pria yang suka menghina dan nyakiti wanita itu sebenarnya pria nanggung yang status jabatannya di kantor dia bekerja gak tinggi-tinggi amat. Beda dengan mas Al." Nayla tertawa tertahan setelah mengatakan kata-kata pedas itu lalu terburu-buru pergi.
"Hey, aku tahi di mana rumahmu, jangan GR dulu, siapa tahu dia suka kamu karna ada sesuatu yang diincar darimu?" teriak Jevin tidak terima.
Tapi, Nayla tidak menghiraukan hal itu, ia malah semakin terpingkal saja. Memang apa yang mas lihat dariku?aku hanyalah janda miskin dengan satu anak. Bahkan jika bukan karena pertolongannya, aku pasti jadi gelandangan tidak akan seperti saat ini. Batin Nayla.
Ia pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Tempat di mana dia lebih dikenal sebagai pacar dari suaminya sendiri. Karena selain pernikahannya dulu diadakan secara kecil-kecilan, Al juga type cowok yang dingin dan cuek kepada cewek dan staf wanita. Sampai-sampai tak ada yang berani mendekatinya. Sebab, pernah kejadian salah satu sfaf berusaha merayunya dengan tegas Al menolak sehingga membuatnya malu dan memberi rasa jera duluan pada yang hanya ingin mencobanya. Beda dengan papanya. Memang dulu terkenal play boy.
π π π
Tiba di rumah, Quen mendapati suasana rumah sangat hening dan nampak tenang.
perlahan ia melangkah menuju kamar kakeknya, ternyata sang kakek juga pulang. Sementara Bik Yul nampak membersihkan is kulkas dan menata ulang agar rapi.
Akhirnya dia pun naik ke atas menuju kamar, di atas nampak Alex yang serius mengoreksi hasil ulangan siswa siswinya.
Quen sengaja diam tidak menyapa suaminya yang tengah sibuk, ia pun baringan di atas ranjang. Tapi, sampai lima belas menit Alex tetap bergeming di tempatnya, Quen yang merasa kesal karena dianggurin, ia pun bangkit memeluk Alex dari belakang.
"Pak dosen, sesibuk itukah kamu? Sampai membiarkan istrimu kau biarkan begini?"
Alex nampak terkejut. Menoleh ke belakang dan memegangi kedua tangan Quen yang melingkat di lehernya.
"Sayang, kau sudah pulang? Sejak kapan kamu masuk kamar?"
"Sudah lima belas menit yang lalu. Oh, aku tahu. Kau terlalu sibuk sampai tidak sadar aku masuk ke dalam kamar, jika aku wanita lain dan berbuat tak pantas padamu bagaimana?"
Alex tersenyum tipis, menarik pelan Quen yang ada dibelakangnya dan membawanya ke dalam pangkuannya.
"Aku ini laki-laki. Bisa apa perempuan pada laki-laki, hemb?" ucap Alex sambil mendongak menatap wajah Quen sambil tangannya memegamgi kedua pinggang gadis itu.
"Memang siapa yang tahu, Lex? jangan gitu, donk!" protes Quen.
"Kau cuma tidak terima karena kuabaykan barusan, bukan? Bilang saja!" ucap Alex sambil tersenyum.
Quen diam memperhatikan suaminya dari jarak yang dekat. Digenggamnya wajah Alex yang baginya kian hari kian bertambah rupawan saja. Kulitnya yang putih kemerahan, rambut cokelat yang terpangkas rapi, serta senyuman yang mengundang kharismatik memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi serta alisnya yang tebal membuat Quen gemas mencubit kedua pipi pria itu dan menempelkan hidungnya pada hidung mancung Alex.
"I love you my husband," bisik Quen lirih.
Alex memejamkan matanya menikmati sentuhan dan napas lembut Quen yang berhembus menggetarkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu, berharap hanya maut yang memisahkan kita."
"Aku harap juga begitu."