
Kau boleh bangga karena anak bawaanmu diterima baik, tapi, apakah kau tidak berfikir jika Quen nanti juga memiliki anak? jelas mereka lebih sayang pada anaknya Quen."
Nayla terkejut mendengar suara itu lalu menoleh ke belakang untuk memastikan pemilik suara.
Benar dugaannya, karena malas berdebat Nayla pun hendak pergi. Tapi, gadis itu menahannya.
"Tunggu!"
Spontan Nayla pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ke arah gadis itu lagi.
"Ada apa? Kau saat aku membenci Quen begitu gencar menyerangku. Lalu, sekarang, ketika aku mulai bisa berdamai kau menanasiku, lihat betapa menyedihkannya kamu. Dasar gadis penjilat." Nayla pun hilang kesabaran, dia sadar siapa dirinya. Dia adalah menantu keluarga ini. Dan Lyli hanya pembatu. Sekalipun dia dianggap keluarga, tapi, selama Al tetap diakui sebagai putra papa Vano dan mama Clara. Tetap dia yang menjadi nyonya.
Lyli tersenyum sinis dan berjalan ke arah Nayla. "Kau bilang aku penjilat? Aku kemari untuk mendukungmu, kenapa selama ini kau belum memiliki anak dengan mas Al? Jadi, kalau ada apa-apa, setidaknya kau masih ada harapan anak itu. Apalagi laki-laki. Sedangkan Nona Quen. Dia memang putri kandung keluarga sini. Punya anak atau tidak gak begitu berpengaruh, la kamu? Apalagi jika nona Quen sampai punya anak dan itu laki-laki. Mau dapat apa kamu?" Lyli pun kembi tersenyum sini dan pergi meninggalkan Nayla.
Nayla yang mulai bisa berdamai dengan Quen berkat Clara, kembali kebencian dalam hatinya mulai bergejolak.
Bayangan akan Al yang akan lebih sayang pada anaknya Quen, dari pada anaknya, bermunculan. Bilqis terabaikan tak ada yang memperdulikan semua isi rumah sibuk dengan anak yang baru dilahirkan Quen.
"Tidak, tidak boleh. Quen tidak boleh hamil dulu," gumam Nayla dalam hati.
π π π π
Setelah dua hari di New York dan lima hari di Jepang. Al sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia menghububgi Quen. Ingin pulang bersama atau tidak, sekali pun dia pernah berpesan agar dia ke Indo lebih dulu, tetap saja pria itu ingin sekali lagi memastikan. Khawatir kalau adiknya berubah pikiran.
Tidak menunggu lama saat panggilannya tersambung dengan cepat Quen mengankat panggilan video dari kakaknya, Al.
Dengan ceria, Quen tersenyum dan melambaikan tangannya kepada sang kakak.
"Hay, Mr. Fatih. Have you finished all your work in Japan?"(Hay Tuan Fatih. Apakah semua pekeejaanmu di Jepang sudah selesai?")
Al tersenyum mendapati tingkah adiknya yang selalu bisa menggelitik hatinya itu. Sekalipun sudah dewasa dan menikah. Sikapnya belum banyak berubah. Mungkin itu sebabnya kenapa dia selalu memanjakan adiknya, sampai semua orang mengatakan kalau ia papa mudanya Quen. Tidak Vano, bahkan Alex. Memiliki asumsi yang sama. Terlebih dia memanggilnya dengan panggilan sayang seperti papa mamanya memanggil mereka. Harusnya adik, tapi, Al tidak terbiasa.
"Iya, semua beres. Kau sedang apa? Di mana Alex?"
"Gak ada kak, aku habis selesai makan malam. Alex tadi ke halaman belakang, gak tau ngapain, ada perlu sama dia?"
"Tidak, cuma tanya saja, bagaimana kau di sana? Betah?"
"Iya, Kak. Aku betah banget di sini, kedua mertuaku juga baik."
Al tersnyum tipis. Mendengar cerita adiknya, "Syukurlah. Kakak mau pulang. Kamu bareng kakak, atau kakak pulang duluan, kau masih kurs g beberapa hari lagi dari rencana awal pulang, kan?"
Quen mengangguk beberapa kali, "Ya kakak pulang aja, pasti kak Nayla kangen banget, tuh ditinggal lakinya, hahaha."
"Dasar mentang-mentang sudah bersuami, ya?" Wajah Al nampak bersemu merah, ia nampak tersipu malu mendengar perkataan adiknya. Jelas saja, sebagai wanita yang menikah tau betul kemana arau pembicaraan Quen jika diperjelas.
"Hahaha," Quen tertawa lebar sambai menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Ya sudah, kakak berkemas aja, awas ada yang ke tinggalan, Jepang itu jauh," ucap Quen lagi.
"Ya sudah, kau jaga diri baik-baik, ya, daaa."
"Ya, kakak juga hati-hati, daa."
Paggilan pun dimatikan Quen meletakan smart phonenya. Dan membukai tabloit olahraga milik Alex.
Sekitar sepuluh menit Quen membuka-buka isi tabloit tersebut Alex sudah kembali masuk ke kamar. Ia langsung mengambil posisi berbaring dalam pangkuan Quwn yang kebetulan dudul dengan melipat kedua kakinya ke belakang.
Quen meletakan tabloit itu, melemparnya asal lalu tangannya sibuk mengelus elus rambut Alex yang berada dalam pangkuannya.
"Ngapain malam-malam ke kebun belakang?" tanya Quen sambil terus memainkan rambut Alex.
"Ambil kacang tanah, dan sekarang direbus sama Liz," jawab Alex cuek, dan sukses membuat Quen tertawa geli.
"Malam-malam kau menggali kacang? Hahaha tidak adakah waktu untuk besok?"
"Aku pengennya sekarang," jawab Alex cuek sambil menatap wajah Quen dari bawah.
__ADS_1
"Kenapa tidak dari sore tadi saja?" Tangan Quen berubah menbelai pipi, dagu dan rahang Alex yang nampak kokoh.
"Pengennya mendadak, sayang. Dan tak bisa di tahan."
"Hahaha, kamu kaya orang ngidam saja, Lex."
"Mungkin saja, coba kamu tes kehamilan, siapa tau kamu benar positif, kan?"
"Gak, ah. Aku merasa tidak sedang hamil." jawab Quen langsung saja menolak usul Alex.
"Bagaimana bisa tahu kalau tidak di tes sayang? Kan kita sudah jalan dua bulan menikah, masa belum ada debaynya di sini?" Alex membalikan posisinya menghadap perut Quen. Dan melingkarkan kedua tangannya pada pingganf istrinya.
Quen tersenyum melihat sifat Alex yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia tidak menyangka sebelumnya kalau pria yang dia nikahi bisa seperti ini. Sebab, yang dia tahu, dia sosok yang hangat, romantis dan sedikit tukang gombal.
"Alex, aku tidak menyangka satu hal akan dirimu, kau tahu apa itu?"
"Heemb?" Alex tidak menjawab karna wajahnya ia tenggelamkan pads perut Quen. Dia hanya mengeleng saja sebagai jawabannya.
"Kau sangat manja layaknya seorang anak balita," jawan Quen sambil tertawa.
"Baik, aku tidak akan seperti balita lagi." Dengan cepat Alex bangkit dan menerkam tubuh Quen hingga gadis itu jatuh terbaring ditimpa tubuhnya yang lumayan besar, walau bukan kategori gemuk. Dia juga sangat tinggi.
"Ah, Alex apa yang kau lakukan. Menyingkirlah dari atas tubuhku, kau berat!" Teriak Quen sedikit keras.
Akex mengecup bibir wanita di bawahnya sambil berkata, "Dasar berisik."
"Emmbb...!" hanya itu yangΒ bisa keluar dari mulut Quen sambil berusaha mendorong tubuh kekar di atasnya.
Tapi Alex tidak memperdulikan itu, dia malah semakin gencar melakukan frenc kiss dan memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut Quen.
Quen memba matanya perlahan untuk melihat wajah Alex dari jarak dekat. Ia melihat mata pria itu napak menyipit tanda kalau dia sangat menikmati ciuman itu.
Kreeeeeekkkkk....!
Seketika mereka mengehenkan aktifitasnya saat mendengar suara pintu terbuka karena tertiup angin.
Kesempatan itu Quen gunakan untuk kabur, ia duduk di tepi ranjang sambil mengikat rambutnya. Sementara Alex mengerang prustasi sambi menenggelamkan wajahnya pada bantal di depannya.
Quen tertawa geli melihat tingkah Alex dan bergegas pergi keluar karena tahu Liz tadi bermaksut mengetuk pintu untuk memberi tahukan kalau kacang rebus yang di minta Alex sudah matang. Tapi, belum juga tiba, pintu sudah terbuka karena angin.
"Hey, kau mau kemana, Sayang?" teriak Alex.
"Pergi untuk makan kacang," Quen segera melarikan diri sebelum Alex berlari menagkapnya.
Quen menuju ruang keluarga, di mana kedua orang tua, kakak ipar dan juga Axel berkumpup di sana sama-sama menikmati kacang rebus.
Awalnya dia disambut baik oleh mereka terutana mama Rita yang menyapanya terlebih dahulu.
"Sini, Quen. Ayo kita makan kacang bersama, tadi Alex dan Aditya yang menggalinya malam-malam begini."
"Di mana Alex, Quen?" tanya Novita. Semua masih normal sampai mata jeli Axel menanyakan sesuatu yang tidak beres di leher Quen.
"Tante, apakah kau di gigit nyamuk? Lihat kehermu merah, nenek, apakah di sini nyamuknya besar-besar?" celoteh anak itu membuat tubuh Quen seolah beku dan kaku, sementara yang lain hanya saling tatap dan bersamaan melihat ke arah leher Quen yang memang ada bekas cupangan merah agak kehitaman dengan ukuran yang lumayan besar.
Bersamaan dengan itu Alex juga muncul dan Liz yang membawakan satu teko teh dan beberapa cangkir kosong.
"Iya, Axel. Di sini nyamuknya memang ganas. Tapi, nyamuk yang mengigit tantemu tadi sangat teledor, dia tidak menutup pintunya dengan baik, sehingga terbuka begitu saja saat tertiup sedikit angin.
Wajah Quen mendadak berubah merah seperti kepiting rebus, ia tidak menyadari kalau Alex berada di belakangnya, jadi, saat ia memutar tubuhnya dan hendak berlari, tak terhindarkan menabrak telak dada bidang Alex. Dan meninggalkan noda lipstick pada kaus putih yang Alex kenakan.
"Yah, kotor, Lex," Quen menutupi bibir dengan jari-jari tangannya lalu mengusap dada Alex dengan maksut membersihkan.
Alex tertawa sambil memegang tangan itu. Sudahlah biar. Tidak akan jadi masalah jika istri sendiri yang mengenainya.
Sedangkan Aditya yang melihat insiden itu teringat akan kejadian sekitar empat tahun silam saat ia mulai akrab dengan Quen. Ia pernah mengalami hal serupa.
__ADS_1
Saat mereka semua berkupul di ruang keluarga, Alex merasa tidak ada sesuatu yang memalukan terjadi, beda dengan Quen. Dua menggerai rambutnya yang di ikat untuk menutupi cupangan Alex yang membuatnya merasa malu. Sedangkan Aditya, ia tidak bisa fokus dengan kejadian yang baru saja mengingatkan masa lalunya dengan gadis yang sama pula. Tapi, dulu dia bujang belum ada yang punya, sekarang statunya sudah menjadi nyonya. Dari adik iparnya sendiri pula.
Mendadak kepala Aditya terasa pusing saat ingatan demi ingatan masa lalunya bersama Quen membentuk seperti role film di benaknya.
***
"Kau sudah kuperingati, bukan? Jangan panggil aku pak. Atau, jika memang kau dicium di depan kelas saat kuliah," ancam Aditya ketika mendapati Quen lupa memanggilnya Pak lagi di saat keduanya weekend.
"Hah, apaan sih? Emang kau mau dikata sebagai dosen tak bermoral?" protes Quen sambil melotot, seolah membuat mata bulatnya kian melebar. Dan membuat Aditya merasa gemas lalu menggendongnya dan berlari di sepanjang bibir pantai.
Gadis itu berteriak sambil mengibarkan selendang putih yang ia bawa ke atas udara. Sungguh itu sangat menyenangkan.
* * *
Kala itu Aditya dan Quen pergi ke sebuah taman kebetulan suasana sore yang teduh sangat mendukung keduanya yang tengah lelah dari aktififas seharian. Jika Quen hanya kuliah, Aditya usai piket di rumah sakit dia mengajar. Keduanya pulang bersama.
Quen terdiam di tempatnya sambil matanya memandang ke satu titik. Sementara Aditya sudah lebih dulu berjalan sambil ngomong sendiri. Entah apa yang dibicarakannya. Ia baru sadar setelah hampir lima menit tak ada sahutan dari teman kencannya.
"Quen, apakah kau denger? Kenapa diam saja?" Merasa tak ada jawaban ia menoleh kebelakang tak ada seorang pun. Sedangkan jaug dari tempatnya saat ini dia berdiri terpaku sambil melihat ke suatu tempat.
Pria itu mendengus kesal, lalu akhirnya mengalah kembali menghampiri gadis pujaannya dan berusaha melihat ke arah yang dia pandang. "Kau mau itu?" tawarnya.
"Ya, katanya dengan melepaskan seribu balon, harapakan kita akan bisa terwujud," jawab gadis itu sambil tersenyum.
"Ayo!" Aditya pun membelikan banyak balon untuk Quen. Dan memintanya untuk melepaskan di mana pun ia mau.
"Balon ini sudah banyak. Sayang, kan jika hanya untuk mengabulkan satu permintaan saja," ucap Quen sambil berjalan di depan Aditya yang lebih seperti tukang balon dari pada seorang dokter, atau dosen.
"Lalu maksut kamu, aku juga harus membuat permintaan?"
"Ya, termasuk kamu, di sini kan banyak tuh anak-anak kecil, pasti mereka punya harapan dan cita-cita. Kita berbagi pada mereka satu anak masing-masing mendapatkan sagu balon dan kita lepaskan bersama-sama. Ayo!" Ajak Quen semngat berlari kesana kemari menghampiri dam berbago balon terbang pada setiap anak yang ada di area taman itu. Sedang Aditya masih mengikutinya sambil sedikit kuwalahan dengan balon-balon iti yang terasa kian berat saat berlari.
Sampai pada akhirnya balon itu pun dilepas keseluruhannya dan memenuhi langit kota lalu makin lama balon-balon itu semakin kecil, dan hilang tak terlihat.
* * *
Kepala Aditya rasanya kian semakin pecah saja, sampai ia harus tertunduk. Sementara Quen, Alex, Axel dan juga mertuanya mereka asik bercengkrama tanpa sadar Aditya kesakitan.
"Arrggh!"
"Adit, kau kenapa?" tanya Novita panik.
Sontak mereka semua terdiam dan semua pandangan tertuju pada Aditya yang tengah kesakitan.
"Papa, kau kenapa?" tanya Axel yang kemudian langsung lompat dari pangkuan Quen.
"Nov, bawa dia ke kamar, biar mama ambilkan kotak obat dulu!" Seru mama Rita, juga ikut panik, sebab saat dia dan Alex tadi menggali kacang Aditya nampak baik-baik saja.
Quen langsung menanyai Novita yang baru saja keluar dari kamarnya. "Bagaimana kondisinya kak Adit, kak?"
"Dia demam tinggi. Aku minta tolong sama kamu, kau juga calon dokter, kan? Kau sudah lulus dan tinggal menjalani sekolah profesi saja. Tolong priksa dia dan obat apa yang kiranya bisa membuatnya terbebas dari rasa sakit dan demamnya turun," ucap Novita panik dan sedikig memaksa.
"Kak, dia itu juga seorang dokter. Mana bisa aku memeriksa dan merekomendasikan obat untuknya? Tanyakan saja apa yang dia butuhkan, agar aku dan Alex bisa mencarikan ke luar, ia kan, Lex?"
"Dia sudah diajak bicara, Quen. Biasanya pun juga gitu, dulu. Tapi entah kenapa sekarang tidak." Raut wajah Novi mendadak berubah menjadi sangat murung.
"Ya uda, kita panggil dokter keluarga kita saja!" ujar Alex.
"Dia tidak mau, Lex. Plis, ya Quen?"
Quen pun merasa tidak enak, jelas saja ini menjadi simalakama baginya. Di sisi lain dia masih benci saat di lecehkan beberpa kali oleh Aditya, di sisi lain kakak iparnya tengah memohon. Ia pun menatap ke arah Alex meminta persetujuan.
Seolah menangkap maksut istrinya, Alex menyetujui dengan satu sarat, ia akan menemani Quen saat memeriksa kakak iparnya itu.
***Ini Alex tidak menggali kacang tanah. tapi, dia panen jagung mau bikin pop corn pisang katanya...πππ
__ADS_1
*** Dan ngebahas soal abang Al yang banyak disukai. author punya video dia nyanyi lo, maklum penggemar berat. bahkan dulu pernah ikutin smulenya tapi, sekarang dia dah ga aktif lagi sejak 2017 silam. author jg dah ga pake aplikasi itu lagiπ***