
Quen berdiri di depan cermin memasang topi putih dengan posisi dibalik, lali melipat bagian lengan kaus putihnya dari se siku hingga sampai lengan atasnya gak pendek. Dia berputar-putar. Memastikan kalau kaus yang dipilihnya benar-benar longgar dengan perpaduan hot pant biru terang dan spatu kets putih. Sederhana tapi sangat elegan.
Ia berjalan menyeret kopernya keluar. Hampir semalamalan dia menyiapkan memilah pakaian dan barang yang akan di bawanya ke sana.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Vano pada putrinya.
"Iya, Pa. Soalnya nanti sore aku ada kuliah."
"Ok, ayo kita berangkat. Kamu perlu mobil atau motor mungkin di sana, Quen?" tawar Vano lagi.
"Tidak usah, Pa. Quen kalau cm ke tempat-tempat dekat jalan kaki saja, kalau mau ke sini kan dah ada ojol," jawab Quen.
"Ok baiklah."
Tanpa terasa dudah tiga hari Quen tinggal di apartemen papanya. Sebenarnya apartemen itu di renovasi untuk hadiah ulang tahun Al yang ke duapuluh tujuh. Tapi, karena ada masalah, mungkin Al bisa menempati rumah mereka yang dulu ditinggali, itu. Pemberian Andrean saking bahagianya Clara hamil. Hanya saja, melihat Al yang seperti itu, Vano dan Clara tidak yakin Al mau menerimanya.
Pulang dari kampus Quen berhenti di salah satu kedai, lebih tepatnya warung tegal. Gadis itu memang terlahir dari keluarga kaya, tapi, karena tetbiasa berbaur dengan anak-anak kelas menengah ke bawah, pola hidupnya pun mengikuti teman-temannya. Tidak suka pamer. Dan kebiasaan menghemat ada pada dirinya sejak bangku sekolah dasar. Makanya untuk makan nasi sayur dan lauk ikan goreng dia tidak harus ke restoran mewah yang satu porsinya pasti akan menghabiskan uang kurang lebih seratus ribuan. Sementara di sini, dia hanya cukup mengeluarkan uang sekitar duapuluh ribu sudah dapat komplit nasi, tumis kangkaung, satu ekor nila goreng ukuran sedang dua potong tahu tempe dan satu plastik es teh.
Quen berjalan menuju apartemennya kira-kira berjarak seratus meteran dari kampusnya. Tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klaksonnya. "Perlu di antar?" Tawar orang yang mengemudikan mobil itu.
"Trimakasih, Pak. Tidak perlu. Saya tinggal di dekat sini saja, kok," jawab Quen sopan.
"Kamu tinggal di mana? Tidak pulang ke rumah?"
Quen mengelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Aditya mengamati gadis belia di depannya, pundak kanannya menyangklong tas dan kedua tangannya membawa tas kresek.
"Kamu dari mana?"
"Ini Pak, dari warteg, beli nasi buat makan malam nanti."
"Ya sudah cepat masuk ini sudah gelap, gak baik anak gadis berkeliaran malam-malam sendirian," ucap Aditya.
Akhirnya Quen pun menuruti masuk ke dalam mobil dosennya itu yang lumayan sudah akrab.
"Sudah brapa lama kau tinggal di sini?" tanya Aditya penasaran.
"Sudah hampir tiga minggu sih, Pak " Sementara Quen di dapur sebuk menyiapkan piring untuk makan malam dengan dosennya.
Aditya mengamati Quen yang nampak cekatan mengerjakan sesuatu, sepertinya dia memang sudah terbiasa.
"Ayo pak makan malam dulu, belinya satu porsi, sih. Tadi, tapi kok banyak banget, ya?" ucap Quen sambil meletakan piring di depan Aditya.
Aditya tersenyum melihat prilaku siswinya yang satu ini, dia kenal siapa Quen itu, anak orang berada, cantik, tinggal di apartemen elit milik papanya sendiri, tapi, siapa sangka dia malah memilih warteg untuk makan malamnya, diam-diam dia semakin mengagumi Quen.
sehabis makan keduanya sempat ngobtol, sampai waktu menunjukan pukul 19.30 Aditya pamit untuk pulang.
Quen membuka laptopnya, mengulang kembali pelajarannya tadi, di tengah-tengah keseriusannya, sebuah pesan chat masuk ke dalam.ponselnya.
Quen melihat siapa pengirimnya ternyata Aditya.
"Apakah kau tidak merindukan Axel?"
Quen tersenyum membaca isi pesan itu, dia heran kenapa Aditya tidak mengatakan tadi saja, malah setekah dia pulang, apakah dia baru ingat?"
"Ya, bagaimana kabarnga sekarang?" balas Quen.
"Dia baik-baik saja, sudah dua hari menanyakanmu terus."
Quen nampak diam berfikir sejenak, lalu memutuskan besok pagi dia ke sana, karena kebetulan besok tidak ada jadwal kuliah.
"Baiklah, besok pagi aku akan ke sana menemui jagoan itu."
"Jam berapa kau siap? Biar kujemput saja."
"Kira-kira setelah sarapan saja, Pak."
"Ok, jam Tujuh tigapuluh kau harus siap."
__ADS_1
Quen tersenyum membaca balasan Aditya yang terkesan sangat mengatur.
🌸 🌸 🌸 🌸
Pukul tujuh pagi Quen sudah siap menunggu di bawah apartementnya. Dia mengenakan jens panjang sobek, kaus berwarna putih dan flat shoes berwarna hitam.
Sekitar lima menit Berhenti sebuah mobil yang sangat akrab baginya. Tapi, bukan Aditya. Melainkan Alex.
"Alex, kenapa kau ada di sini?" tanya Quen saat pria itu turun dari mobil dan menghampirinya.
"Harusnya aku yang tanya, sejak kapan kau tinggal di sini. Dan semalam aku lihat ada yang mengantarkanmu pulang kemari."
"Pak Aditya, kebetulan searah dia nganter aku, kamu mau ke mana, Lex?" tanya Quen ramah.
"Tidak ada, aku mau jalan-jalan, saja. Kau menunggu seseorang, ya?"
Belum juga Quen menjawab, Aditya sudah datang. Dengan gentle Aditya menghampiri Quan, dan menatap tajam ke arah Alex.
Alex menyeringai getir melihat pemandangan di hadapannya.
"Mau ajak anak jalan-jalan, Pak?" ucap Alex lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Aditya paham apa maksut perkataan Alex, memang jarak usianya dan Quen cukup jauh, dia berusia tigapuluh satu dan Quen juga belum genap duapuluh tahun. Tapi, apakah cinta mengenal usia?
Quen melihat ke arah Alex tanpa berkata apapun. Dan tidak paham maksut Alex, dia berfikir, Alex mengatakan kalau Aditya turut serta mengajak Axel.
"Sudah lama kenal dia?" tanya Aditya dalam mobil tanpa memandang ke arah Quen.
"Teman SMA dulu, pak."
Aditya mengangguk tanpa menjawan apapun. Keduanya berada dalam situasi yang canggung, hanya bungkam selama perjalanan sampai tiba di tempat tujuan.
Memasuki pintu gerbang rumah orang tua Aditya mereka sudah disambut hangat oleh ibunda Aditya dan Axel.
Seorang anak kecil berusia sekitar lima tahunan berhampur berlari memeluk Quen.
"Kakak, kau lama sekali tidak datang kemari, apakah kau selalu sibuk?" tanya Axel dengan polos.
"Ayo kak kita main, aku punya mainan baru dari papa kemarin," ucap anak itu bersemangat sambil menarik tangan Quen dan membawanya berlari.
"Ini, kak aku punya robot besar! Dia bisa bergerak dengan remot control ini." Anal itu tersenyum penuh semangat menceritakan dan memainkan mainan barunya.
"Axel, biarkan kakak minum teh dulu, ya? Sekalian kamu juga minum susu kamu." ucap ibunda Aditya.
"Baik Nenek." jawan Axel.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Livia.
"Baik, Bu. Hanya saja beberapa hari ini sibuk dengan tugas kuliah, karena bulan depan sudah akan ujian." Quen menyeruput tehnya perlahan dan tetap menggenggam muk berwarna pink berbahan kramik itu.
"Jika ada waktu main-mainlah kemari. Pintu rumah kamu selalu terbuka lebar untukmu sekalipun kau datang tanpa Aditya."
"Iya, makasih, Bu. Ngomong-ngomong bapak di mana kok dari tadi saya tidak melihat?" tanya Quen berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Dia tengah pergi ke Bandung ke rumah adiknya Aditya. Nerima cucu. Ibu sengaja tidak ikut karrna sudah tidak kuat perjalanan jauh, dan lagi, Axel kan juga sekolah. Kasian Aditya."
Hari itu Quen bermain terus dengan Axel, keduanya semakin akrab. Bahkan untuk makan siang Quen juga ikut memasak di dapur bersama Liva.
Wanita berusia lanjut itu memperhatikan gerakan Quen saat memasak, mulai dari memotong sayur, menggoreng ikan, dan mengiris bawang semua dia kerjakan dengan cepat, gerakannya anggun dan cekatan. Hampir semua menu hanya ia selesaikan dengan waktu tidak ada satu jam.
Aditya duduk di sebelah Quen. Dilihaynya cah bakcoy yang nampak hijau dan segar, telur gulung berisi sayur kol, wortel parut dan keju, ikan gurami asam manis dan sambal terasi.
"Dit, semuanya Quen yang masak lo, ini," Ucap Livia sambil tersenyum memandangi Quen yang mampao tersipu malu.
"Beneran, ya? Kursus di mana memangnya?" goda Aditya.
"Ya tidak kursu, Pak." lirih Quen. Malu. "Axel, ayo sini makan ikan dan sayurnya yang banyak, ya? Kamu mau telur dadar? Ada kejunya lo di dalam," ucap Quen.
"Masakan kakak enak banget. Axel mau tiap hari kak Quen aja yang masak."
__ADS_1
Semuanya pun tertawa mendengat celotehan Axel yang masih begitu polos dan apa adanya.
Usai makan siang Quen menemani Axel bermain sebentar lalu mengajaknya tidur siang, dia beremcana setelah Axel tidu, sepeti yang sudah, ia ingin kembali karena kangen dengan mamanya. Tapi, siapa sangka gadia itu malah ikut tertidur di ranjang Axel. Dan baru terbangun sore sekitar pukul dua siang.
Gadis itu berjalan ke ruang tamu mendapati kedaan rumah sepi, mungkin Livia juga masih tidur siang. Tapi, tidak dengan Adit. Dia nampak sibuk dengan kertas-kertas yabg berserakan di meja.
"Lagi apa, Pak?" sapa Quen.
Sontak Aditya langsung menoleh. "Kau sudah bangun, Quen? Aku sudaj selesai kok." Buru-buru pria itu membereskan kertas-kertasnya.
Quen bermaksut membantu dan saat ada selembar kertas yang jatuh ke lantai keduanya dengan kompak menunduk mengambilnya. Tidak hanya tangan mereka yang tanpa sengaja saling berpegangan. Tapi, jua kepalanya pun sama-sama saling berbenturan satu sama lain.
"Maaf," ucap mereka bersamaan dan keduanya tertawa.
"Bapak mau saya buatin, Teh manis?"
"Boleh."
Quen pun masuk ke dalam dapur sekitar lima menit kemudian dia kembali dengan satu cangkir besar berisi teh manis dan memberikannya kepada Aditya.
"Kemarilah! Kau pasti capek seharian bermain tanpa henti dengan Axel dan memasak makan siang untuk kami, terimakasih ya untuk hari ini," bisik Aditya lirih.
Quen hanya tersenyum dan mengatakan kalau semua ini bukanlah masalah baginya, dia sudah terbiasa dengan semua jenis pekerjaan rumah.
Tapi, melihat Quen yang nampak lelah dia tidak tega dan berinisiatif memijat pundak Quen.
Awalnya gadis itu menolak karena sungkan. Bagaimana bisa, bermain ke rumah gurunya tapi malah minta pijat. Dan akhirnya Quen pun mengalah diam menikmati setiap pijatan Aditya. Selain pria itu tetqp bersikeras, gadis itu juga benar-benar merasa lelah. Dan mungkin jika malam ini pulang ke rumah, pasti meminta Al untuk memijatnya.
"Kau pulang setelah makan malam saja, ya?" ucap Aditya tanpa menghentikan pijatannya.
"Kenapa, Pak? Bapak suka masakan saya, ya?" ucap Quen, mulai berani bercanda.
"Masa iya kau pulang dengan keadaan sejelek ini? Minimal mandilah dulu," ucap Aditya.
"Baiklah, cukup memijatnya." Gadis itu beranjak ke belakang mengambil sapu dan lap. Mulai membersihkan semua prabot menyapu lantai dan mengepelnya.
"Quen! Apa yang kau lakukan, ya ampun... Sudahlah kau tenang saja, buar ibu yang mengerjakan ini.l," ucap Livia setengah bertetiak.
Quen tersenyum dan menyimpan semua peralatan mengepel karena sudah selesai.
"Kau mandilah dulu, dan temani Axel. Biar ibu yang masak makan malam.kita."
"Tidak apa-apa, Bu. Quen bantu Ibu masak dulu baru mandi," jawabnya.
🌸 🌸 🌸 🌸
Di tempat lain Al mengintrogasi Lyli menyakan keinginannya masih ingin bekerja atau tidak. Dengan tegas dia menjelaskan jika masih ingin bekerja di rumah ini dia harus menhormati seluruh isi rumah terutama Quen. Karena sudah hampir tiga minggu Quen berada di apartemen dan belum pernah pulang dengan alasan banyak tugas. Memang dia akan ada ujian smester dalam sebulan ini. Jadi wajar saja kalau dia sibuk.
"Baik, Tuan. Saya mengerti maafkan prilaku saya kemarin," ucap Lyli tertunduk.
"Kau tidak ada salah denganku. Tapi pada adikku. Jadi, mintalah maaf padanya jika dia kembali nanti." Usai mengatakan itu al pergi ke halaman depan menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
"Al, kenapa di luar?" tanya Clara menghampiri.
"Al merokok, Ma." Buru-buru Al melempar rokoknya yang masih tersisa setengah dalam keadaan menyala.
"Ma, ada yang mau Al omongin. Biar masalahnya cepat selesai dan tidak timbul masalah baru lagi, tiga minggu lalu aku mendatangi tante Rika, menanyakan tentang ayah biologisku. Melihat fisikku yang seperti ini, harusnya ada keturunan luar juga, kan?" ucap Al panjang lebar.
"Lantas? Apakah dia memberi tahumu?"
Al mengangguk. "Pada saat itu pula Al mencari, dia pria berdarah asli betawi, mana mungkin sama-sama orang indo bisa memiliki anak Blasteran, kan? Pria itu juga mengakui skandalnya selama duapulih tujug tahun lalu, dan secata terbuka bersedia melakukan tes DNA untuk membuktikan kebenaran aku anak dia atau bukan."
Clara nampak berfikir sejenak. Membenarkan perkataan Al.
"Ma, bagaimana kalau kita kepanti asuhan besok bertemu umu Fatiya barangkali beliau masih ada dokumen cctv siapa perempuan yang menaruh aku selama itu."
"Eh, Al. Mama kok gak kepikiran sampai situ, ya? Harusnya ibu Rika itu salah. Kau bukan putranya. Selain dari faktor genetik juga dari di mana dia meletakan bayinya saat itu kan bisa di tebak dia salah. Kalau cuma tahi lalat di leher, banyak lah yang juga punya pasti," ucap Clara sambil menepuk jidadnya.
"Memang kenapa, Ma?" tanya Al penasaran.
__ADS_1
"Mama terlalu sedih hingga tidak bisa mengingat apapun waktu itu, Kau ditemukan oleh umi Fatiya di depan pagar panti asuhan. Sementara Rika meletakan di depan pintu rumah salah satu warga, Al. Ada kemungkinan kau bukan anak dia." ucap Clara sambil menangis tetlaku bahagia dengan harapan agar orang tua Al tidak pernah di temukan agar selamanya dia menjadi putra keluarga itu.