Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 99


__ADS_3

Alex mengamati ostrinya yang sedarintadi sibik bergonta ganti pakaian.


"Kenapa, sih, sayang? Kayaknya bingung mulu?"


"Baju kayaknya pada ga ada yang nyaman dipakai, Lex." Gadis itu mengerutkan dahi sambil memanyunkan bibirnya beberapa cm.


"Gak nyaman gimana? Perut kamu belum kelihatan besar, kok. Terserah pakai mana saja, deh," hibur Alex.


"Iya, banyak kok yang ga tahu kalau aku hamil dah empat bulan. Tapi, kalau pakai span rasanya kok begeh dan gak enak, ya? Rok apapun itu lah," jawab Quen sambil mengusap perutnya.


"Ya, pakai dress saja sama blezer. Kan masih terlihat formal, sayang."


"Iya, kenapa aku gak kepikiran, ya?" bibir wanita itu pun melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.


Akhirnya, Quen mengenakan mini dress warna navy selutut dan di padukan dengan blezer berwarna maroon dan dipadukann flat shoes berwarna hitam.


Tiba di rumah sakit, orang pertama yang dia lihat sesama koas selau saja Diaz, lalu Gea.


Diaz nampak mengamati penampilan Quen yang berbeda. Gadis itu nampak lebih anggun dan cantik ditambah dengan dua ujung rambut kiri dan kanannya diikat kecil ke belakang, membuat dirinya makin imut bak artis K-pop.


"Kau terlihat cantik hari ini, Quen," ucap pria itu memberanikan diri. Dari dulu Quen memang cantik di matanya. Tapi, entah kenapa semakij dia melihat dan bersama seolah gadis ini semakin menarik saja.


"Aku pantas ya pakai dress gini?" tanya Quen sambil tersenyum.


"Iya, cantik kok," jawab Diaz memberi penilaian. Kalau boleh jujur, ini kali pertama Diaz berani memandang wanita dengan seksama, terlebih si wanita memakai pakaian yang tebuka dan tidak berhijab.


"Hahaha. Kedepannya aku akan selalu memakai pakaian kek gini, karena enak, ga begeh di perut, Diaz," ucap Quen.


"Emang aku melihat kamu kayaknya agak berisi daripada awal ketemu kemarin."


"Hahaha, iya lah, ada dua badan dalam diriku, aku dan anakku," jawab Quen sambil mengelus perutnya yang belum juga nampak begitu besar, tapi, sudah bagi Quen yang terbiasa dengan perut rampingnya.


Diaz kaget dan tertegun mendapati pernyataan dari gadis yang dia sukai selama empat bulan ini. Awalnya dia memang sudah mengira, melihat dari fisik, dan kebiasaan mengusap perutnya saat diam. Tapi, ia masih saja ragu, sebab, jika dilihat dari penampilan dan wajah Quen nampak lebih muda dari pada Gea. Lalu, apakah Quen sudah menikah? Terus, siapa suaminya? Gak mungkin kan wanita hamil di luar nikah bisa ceria dan bahagia? Gumam Diaz dalam hati.


"Apa kau hamil? Yang benar saja, Quen? Sudah berapa bulan?" tanya Diaz berlagak senang meski haginya teriris dan kecewa.


"Baru empat bulan, makanya aku semakin gemuk, dan seiring berjalannya waktu tubuhku akan semakin bengkak saja nanti." Kemabali Quen tertawa senang.


Sedangkan Diaz ikut tertawa canggug. Sebab, hatinya juga tidak ada kebahagiaan sedikit pun. Ya nyatanya begitu.


"Selamat pagi."


Quen dan Diaz bersamaan menoleh ke arah Gea yang baru saja datang.


"Tumben ceria sekali, kamu hari ini, Ge," ucap Diaz berusaha membuang rasa canggungnya.


"Sepertinya sih biasa saja, ya?" jawab Gea sambil tertawa.


Mereka bertiga mengobrol sebentar, lalu, pukul tujuh mereka dibagi tugas. Quen menangani pemeriksaan di poli umum, sementara Gea dia bertugas dan dibawasi oleh dokter gigi di poli gigi. Sementara Diaz? Dia di bagian THT.


* * *


Seorsng wanita paruh baya masuk dengan dibantu oleh putranya. Ya sepertinya begitu.


Dengan wajahnya yang sudah pucat serta bibirnya yang ikut memutih, ia masih sempat memasang tampang angkuh dan sombong.

__ADS_1


Menatap sinis ke arah Quen yang berkalungan stetoskop.


"Ibu, keluhannya apa?" tanya gadis itu dengan ramah.


Wanita itu diam, mamandangi Quen dengan tatapan yang sukar diartikan.


"Ma, mama ditanya sama bu dokter, katakan saja apa keluhannya," ucap pria itu.


"Mana tanda pengenalmu, kau ini dokter apa koas?"


Quen terkejut mendengar pertanyaan dengan nada tinggi semacam itu. Tapi, ia berusaha menepis ketersinggungannya. Hal wajar baginya sebahai koas selalu dipandang sebelah mata dan diremehkan oleh mereka yang entah paham dalam dunia medis atau justru malah sebaliknya.


'Tidak, aku lagi hamil, wajar aja aku jadi sensi. Gak boleh sensi, tetap ramah, ya Quen,' bujuknya dalam hati.


"Iya, saya memang masih koas, Bu," jawab Quen dengan sabar.


"Vin, ngapain bawa mama ke rumah sakit ini kalau hanya diperiksa oleh koas? Tidak! Mama mau benar-benar dokter yang memeriksa." Teriak wanita itu kepada putranya yang tentu saja membuat Quen tak nyaman pula. Sebab, ini kali pertama setelah empat bulan praktik ia menemukan hal semacam ini.


"Bu, memang kenapa kalau koas? Bukankah ini lebih baik dari pada bidan di rumah?"


"Tidak mau pokoknya, kalau sampai terjadi apa-apa, dan salah memberi obat, bagaimana kalau mama nanti mati, Vin? Koas itu tidak berpengalaman."


"Permisi, maaf, Bu. Koas sebelum dikirim di rumah sakit ini, mereka sudah menjalani pendidikan kedokteran selama empat tahun. Dan empat tahun itu mereka sudah melalui berbagai proses serta lolos, tes, ujian serta magang. Untuk obat sendiri, itu tidak akan diberikan tanpa konfirmasi dokter pembimbing. Intinya, kerja mereka diawasi oleh dokter ahli yang juga sebgaian turut nengajar di rumah sakit universitas seperti saya. Jika anda meragukan pengalamannya, tidakah kesempatan yang akan melahirkan pengalaman? Tanpa anda memberikan ia kesempatan, bagaimana para koas akan memiliki pengalaman itu? Saya pun juga pernah berada di posisi mereka sebelumnya," ucap pria itu dari ambang pintu yang entah sejak kapan ia berdiri di situ, Quen tidak menyadarinya.


Mendengar penjelasan dr.Aditya, wanita paruh baya itu pun menurut. Tapi, di wajahnya masih menunjukan keterpaksaannya. Setelah priksa dan diberikan resep oleh Quen dia dan putranya pun beranjak. Ternyata wanita itu pasien terakhir sebelum jam istirahat di mulai.


"Bapak, terimakasih buat yang tadi," ucap Quen sambil menunduk.


"Hanya ucapan itu saja?" Pria itu berjalan mendekat ke arah tempat duduk Quen.


Aditya terkekeh, memandangi tubuh Quen dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Calon keponakanku sudah usia berapa bulan, Quen?"


"Empat bulan. Maaf, ini sudah jam istirahat. Pasti Gea sudah menungguku," ucap Quen sambil beranjak.


Tapi, dengan cepat Aditya menyergap lengannya menariknya dalam pelukannya. Dengan tenaganya uang kuat, laki-laki itu mendorong tubuh Quen ke pojok ruangan.


"Pak, apa yang kau lakukan? Kau jangan gila?" bentak Quen, yang sudah berusaha keras untuk melepaskan diri.


"Hah, jangan gila? Kau lupa kalau kau yang sudah membuatku jadi gila." Tangan Adit semakin berani, ia meraba paha wanita dalam dekapannya tanpa peduli status hubungan di antara keduanya.


Quen terus meronta dan mulai menangis, mungkin jika hal terburuk terjadi padanya hari ini, ia tak tahu harus berbuat apa, yang jelas, ia akaj merasa jadi wanita hina, sehina-hinanya.


* * *


Sementara di koridor Gea dan Diaz hendak menyusul Quen yang sudah kosong pasien, tapi, belum juga keluar dari ruang praktiknya.


"Gea, kau dengar suara aneh dari dalam?" ucap Diaz, yang menghentikan tangan Gea yang hendak mengetuk pintu.


Gea diam sesaat, berusaha mendengarkan suara yang di maksut Diaz. "Iya, jangan-jangan... " Gea tidak melanjutkan kalimatnya, sementara dengan cepat Diaz membuka pintu ruangan yang kebetulan tidak terkunci.


"Pak, lepasin saya, saya mohon jangan lakukan ini!" Gadis itu berusaha mendorong tubuh pria di depannya sambil beruraian air mata.


"Quen!" pekik Diaz terkejut melihat teman, sekaligus wanita yang diam-diam ia kagumi selama ini hanya diam menangis tak mampu melawan pria yang akan berbuat kurang ajar dengannya.

__ADS_1


Mendengar suara itu, Aditya terkejut dan menghentikan aktifitasnya. Beruntung ada Gea, kalau tidak, mungkin akan terjadi perkelahian antara dua pria itu.


"Dit, kau itu sadar, dia istri dari adik iparmu. Kai harusnya move on donk. Bukankah kau sendiri yang dulu bilang akan selalu menerima kedatangan mantan istrimu lagi dalam keadaan apapun? Dan dia telah kembali dalam keadaan dan pribadi yang lebih baik, lalu, kenapa kau seperti ini? Kau tidak mau perbuatanmu kami laporkan pada dr.Lusi, bukan? Kurasa tak perlu kuberi tahukan apa hubungan dr.Lusi dengan keluarga Quen. Kau juga tabu setekah tiga tahun bersamanya dulu."


"Ck, sialan!" Pria itu berdecak kesal, mengepalkan tangannya kuat-kuat dan memukulkannya keras pada meja kerja Quen lalu pergi dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.


Setelah Adit pergi, Gea segera menghampiri Quen yang nampak terlihat prustasi dan stres. "Quen, maaf kami datang terlambat, kau tidak apa-apa, kan?"


"Tidak, kalian datang tepat waktu, makasih, ya? Diaz, terimakasih sudah bantu aku.


Cukup lama Diaz terpaku di tempatnya berdiri, ia rupanya masih syock dengan pernyataan yang diucap oleh Gea barusan. Ia semakin minder saja dengan Quen. Sosok yang selalu nampak sederhana ini rupanya bukan orang biasa, benar-benar bukan levelnya.


Ternyata dia mantan pacar dr.Aditya dan sepetinya ada hubungan krabat atau family dengan dr.Lusi. putri tunggal pemilik rumah sakit ini.


Diaz melangkah perlahan mendekat ke arah Gea dan Quen. Ia hendak mengajak ke kantin. Tapi, mendadak Quen ambruk dan tak sadarkan diri.


* * * *


Gea bertamu dengan Diaz di sebuah cafe dan tentunya di luar jam praktik. Rencananya mereka ingin ke rumah Quen untuk menjenguknya. Tapi, urung. Diaz tidak ada keberanian menampakan diri di depan suami wanita yang dia sukai itu.


"Oh, iya. Katanya kau teman satu universitas dengan Quen, ya? Jadi, sudah lama donk, kenal dia?" ucap Diaz membuka percakapan.


"Iya, kami satu kelas dulu. Dan pak Adit adalah dosen kami," jawab Gea apa adanya.


"Mereka pernah pacaran, ya?"


"Iya, bahkan sudah hampir menikah, Quen membatalkan pernikahannya sendiri di hari H, saat penghulu sudah lama menunggunya dia dengan mudah membatalkan dan tak mau menikah dengan pak Adit."


Diaz nampak terbelalak mendengar pernyataan Gea. Ia benar-benar terkejut dan membuatnya jadi ingin tahu lebih banyak tentang Quen.


"Apakah ada sesuatu di balik semua itu?"


"Benar, ceritanya sangat rumit. Bahkan aku bingung harus memulainya dari mana. Jadi gini. Pak Adit itu dalah duren. Dia jadi incaran para mahasiswi di universitas kami. Yah, istilahnya hot daddy lah. Tapi, ia lebih cenderung tertarik pada Quen sosok yang pendiam tak pernah pacaran. Keduanya awalnya teman. Seban, pak Adit pernah bilang akan selalu menerima jima istrinya kembali nanti demi putra kecil mereka.


Jadi, istri pak Adit yang merupakan pramugari kelas Internasional itu kepincut oleh sesepilot kebangsaan New York. Ya istrinya memang blasteran Indonesia-New York. Dia meninggalkan pak Adit bersama putranya yang baru berusia dua tanun kala itu. Dan saat putranya pak Adit kenal dengan Quen. Dia menaru rasa suka pada gadis itu terlebih Quen menyukai anak-anak. Bahkan Axel pun menyukai Quen juga," cerita Gea panjang lebar.


"Jadi, saat hari pernikahan mintan istri pak Adit minta rujuk gitu?"


"Tidak, satu bulan sebelumnya, dia bahkan nekat mendatangi Quen. Tapi, tidak untuk meminta Pak Adit kembali, melainkan menitipkan Adit dan putranya. Tapi, sebagai sesama wanita dan juga anak, Quen memposisikan andai dia jadi Novita dan Axel. Akhirnya stelah melalui banyak pertimbangan saat ijab qobul pula Quen membatalkan. Beruntung Alex, mantan pacar Quen juga turut hadir jadi saksi. Maka, saat itu pula Alex melamar Quen. Keduanya menikah dan bahagia sampai saat ini." Gea tersenyum saat mengucap kalimat terakhir itu. Membutikan cinta sejati dan keajaiban jodoh itu tidak hanya dongeng semata. Tapi nyata.


Namun, Diaz bingung dan mengetutkan keningnya, dan lagi-lagi pria itu melemparkan pertanyaan tentang Quen pada Gea.


"Mantannya masih cinta sama Quen, ya? Lalu, bagaimana Quen bisa mau? Kan sudah mantan, Gea?"


"Makanya q bilang ceritanya panjang. Alex itu adik kandung kak Novi mantang istri pak Adit yang sekarang uda rujuk. Dulu katanya mereka pacaran pas SMA. Cinta monyetnya Quen lah. Sementara Alex itu play boy, katanya gitu. Mereka putus saat Quen mengetahui Alex berpacaran dengan teman sekelasnya akirnya putus saat itu juga. Alex sih ga trima mati-matian berusaha ngejar Quen lagi sampai ia berubah citra play boy hilang dari dirinya. Dan waktu awal smester dua mereka sempat tuh kembali PDKT, kan? Nah pak Adit nemui Alex minta dia mundur dengan mengatas namakan keponakan Alex yang menyukai Quen. Yah, namanya jodoh ya gak akan kemana, kan? Ada aja jalannya untuk bersatu. Sebenarnya Quen sendiri juga mulai kembali suka sama Alex. Karna mendadak dia menghilang dan hanya ada pak Adit, ya apa boleh buat? Tapi, akhirnya keduanya bersatu kembali."


"Kau, bagaimana tahu sedetil itu, Ge?"


"Kan Alex curhatnya sama kak Cuna cowokku. Sementara kak Juna orangnya kak Al kakaknya Quen. Sejak SMA sudah dibayar untuk awasi dan melindunginya."


"Wow. Kakak yang baik dan super, ya?"


"Iya, aku aja ngiri sama Quen punya kakak macam kak Al."


Dan keduanya pun sama-sama tertawa. Diaz sempat berfikir melakukan hal serupa untuk adiknya di kampung. Tapi, sayang tak ada orang yang dapat dipercaya seperti pacarnya Gea. Dan lagi, ia tak punya banyak uang untuk membayarnya. Dikhawatirkan jika bayaran kurang malah pagar makan tanaman lagi, nanti yang ada.

__ADS_1


__ADS_2