
Al mengamati dari kejauhan bagaimana adiknya berlarian dengan anak-anak kecil, saling melempar lumpur dan menyipratkan air ke wajah mereka.
Al diam-diam tersenyum melihat sisi lain adiknya yang tak pernah dia tahu. Bermain, berteriak dan tertawa bebas bagai tak memiliki beban.
Terakhir. Mereka mengumpulkan ranting-ranting kering dan daun kelapa yang kering. Awalnya Al heran mau di buat apa. Ternyata mereka akan membakar ikan. Ada-ada saja. Al tersenyum dan memutuskan untuk bergabung dg mereka.
"Kakak, rumahku dekat situ. Aku ambil garam dan kecap, ya?" ucap seorang gadis kecil kepada Quen.
"Apakah nanti ibumu tidak marah?" tanya Quen sebelum mengambil keputusan.
"Tidak." Anak itu nengeleng beberapa kali.
"Baiklah, hati-hati dan segeralah kembali."
Quen pun serus membersihkan ikan dengan air laut dan menusuknya dengan bambu.
"Dapat dari mana?" tanya Al.
"Tadi di sana ada bapak-bapak bawa ikan banyak banget kami minta dan. Dikasih satu yang besar," jawab Quen. Bahagia.
Al tersenyum dan mencubit hidung mancung Quen, "Dasar, nakal."
Tak lama kemudian gadis kecil itu kembi dengan membawa satu botol kecil kecap dan garam halus yang diwadahi plastik.
Quen membakar bersama anak-anak itu dan memakannya bersamaan. Tanpa terasa waktu sudah mulai sore, mau tidak mau Al dan Quen harus kembali.
"Daaa kapan-kapan aku dan kakakku akan kemari, ya?" ucap Quen sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Bagaimana? Apa kau suka di sini?" tanya Al yang melihat Quen nampak kelelahan bermain.
"Iya, Kak, Quen suka. Tapi kakiku pegel, nih. Pijitin aku, ya?" ucap Quen sambil tersenyum jail.
Al dan Quen tiba di rumah sudah hampir makan malam di mulai, sementara keduanya sukses membuat dua wanita di rumah mengomel habi-habisan.
"Al, Quen. Kemana saja kalian berdua dari pagi? Pamit tidak nomor gak bisa dihubungi," ucap Clara begitu kedua anaknya sampai.
"Dan, itu lihat, kalian dari mana saja? Baju kalian kotor penuh pasir." Tambah Vivian tak kalah marah.
"Muka kalian juga nampak kusam dan menghitam, berjemur, ya? Mau jadi apa? Kalian itu bukan bule," ucap Clara.
"Ada apa sih, Ma, Ra kalian ribut banget?" tanya Vano langsubg keluar dari kamarnya.
"Itu, anakmu lah. Seharian pergi kemana ga tau, dihubungu gak bisa, pulang malam dekil lagi."
Vano mendesah pelan, sambil bergumam lirih, "Ya, kalau bikin ulah mereka anakku. Kalau lagi berprestasi anakmu."
"Al, Quen kalian mandi dulu sana, habis itu turun makan malam bersama," ucap Vano bijak sana.
Lyli mencuci piring sambil mendengarkan percakapan Vano dan Clara di dapur.
"Sayang, ke anak jangan gitu. Mereka tu dah dewasa bukan anak kecil lagi, jangan marah-marah lah, apalagi baru saja sampai, pasti capek," ucap Vano dengan lembut.
"Van, mereka pergi tidak izin. Diterlfon tak ada yang mengangkatnya." Bantah Clara.
"Hp mereka tertinggal."
"Apa? Tertinggal? Sebentar tertinggal apa sengaja ditinggal, Van?"
Vano menaikan kedua bahunya, dan mengalihkan pandangan pada masakan yang belum dibawa ke meja makan.
"Nanti setelah makan kita bicara baik-baik pada mereka, jangan pake emosi, Lihat! Kau masih muda tapi omelanmu seperti emak-emak tua." Goda Vano sambil menyentuh dagu Clara.
"Apan sihhhh?" Manja Clara menepis tangan Vano.
Secara reflek Vano memeluk istrinya dari blakang dan mencium pipi kanananya.
"Van, ada Lyli," Bisik Clara sambil matanya melotot.
Vano hanya tertawa lalu pergi meninggalkan mereka.
Lyli melihat tingkah dua bosnya ini hanya senyum-senyum sendiri. Geli dan malu tentunya. Sampai-sampai gadis itu salah tingkah.
"Pak Vano romantis, ya Nyah?"
"Dia tidak bisa mengkondisikan situasi, malu-maluin saja," jawab Clara.
"Sepertunya mas Al tidak nurun ke papanya, dia banyak diam dan beku saja," ucap Lyli nampak sedih.
"Dia dari kecil memang begitu, dia hanya terbuka pada adik-adiknya saja, kalau sudah menikah pasti nanti juga romantis,"jawab Clara menghibur Lyli.
"Bukannya adik mas Al cm nona Quen?"
__ADS_1
"Iya, tapi kan ada adik sepupu, ya cuma dengan mereka saja dia sedikit terbuka. Ya sudah, ayo pindahakan semua ini ke meja makan. Kita mandi dan makan bersama," ucap Clara kepada Lyli.
Ternyata benar saja usai makan malam Al dan Quen diintrogasi oleh orang tuanya, beruntung Vano sudah berbicara dengan Clara sebelumnya. Jadi, kedua anak itu terhindar dari omelan.
"Tadi kami ga sengaja naik mobil terus ke pantai, Pa," Jawab Quen.
Kenapa ga bawa HP?"
"Kami tuh refleks pergi begitu saja, ga inget apa-apa. Untung ada duit nyempil dua ratus ribu di saku, Kakak cukup buat beli bensin doang," jawab Quen jujur. Membuat semua yang mendengarnya jadi tertawa.
🌸 🌸 🌸
Vano dan Clara mengajak Al berbicara mengenai hubungannya dengan Lyli. Baehubung Andreas ingin segera dipercepat, maka sebagai orang tuan mereka mengajak bicara putranya.
"Al, papa tadi papa sudah bujuk kakek tentang keinginanmu...."
Kalimar Vano tak dilanjutkan. Terpotong oleh ucapan Al.
"Iya, Pa. Makasih, ya? Aku tahu dari Quen. Tadi Quen bertanya sama aku, Pa. Aku jawab karena lihat dia sedih aku ajak dia jalan-jalan. Jadi kami emang ga sengaja pergi seharian tanpa pamit," jawab Al sambil menunduk.
"Lalu, bagaimana dengan adikmu?" Tanya Clara, panik.
"Aman, Ma. Tidak terjadi hal mengerikan. Dia tidak benci sama Al. Karna kakakknya cuma satu," jawab Al sambil tertawa.
"Ok, papa tanya kamu, sekali lagi, apa kau yakin dengan Lyli?" tanya Vano.
"Iya, Pa. Biarin sama dia aja. Mau nikah ma siapa? Cari yang lain nanti malah brantem terus sama Quen, lagi," jawab Al.
"Al memang anak baik, ya sudah, kau istirahat sana! Besok pagi papa dan mama akan ajak Lyli ke sana untuk membicarakan keseriusan kalian," ucap Clara.
Begitu keluar dari ruang baca, Quen sudah baringan di sofa ruang tengah memanggil Al.
"Kak, sini. Kakiku pegal, ni." Rengeknya manja. Membuat Al tidak tega menolak meskipun dia sendiri sebenarnya lelah.
Dengan sabar Al memangku kaki Quen dan memijatnya sampai adiknya terlelap. Sementara Al tidak mungkin meninggalkan Quen sendiei di sini, dia pun ikut tidur di sana dengan posisi duduk memangku kaki Quen.
Usai menyiapkan sarapan dan makan siang sekalian untuk yabg ada di rumah, Vano dan Clara pergi ke rumah orang tuanya Lyli. Sekalian dia di ajak sebagai penunjuk jalan.
"Sebenarnya ibu kamu setuju apa tidak, Ly jika kamu dengan Al?" tanya Clara penasaran.
"Saya bingung, nanti saja anda sama Pak Vano bicara dengan beliau."
Setelah sampai, Clara memberikan parsel buah yang sudah dia persiapkam kemarin untik oleh-oleh kepada Rika. Mereka mengobrol dengan santai, terlebih dengan sifat dan gaya bahanya yang befriend membuat Rika ibunya Lyli mudah akrab dan tidak canggung.
Rika tersenyum canggung, "Biar besok saya kasih jawaban saja ke rumah anda, bagaimana, Bu Clara? Amda biasa di rumah jam brapa?"
"Kalau saya selalu di rumah, Bu. Kesanalah pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar buat ibu sekeluarga. Lyli juga di sana, kan?" ucap Calara ramah.
🌸 🌸 🌸
"Al, sini! Coba nenek lihat ada apa dengan pipimu, Nak?" tanya Vivian saat melihag ada yang aneh dengan pipi kiri cucunya.
Al tidak menjawab, dia agak menutupu pipi lebamnya dengan tanhan kiri.
"Kena apa ini?" tanya Vivian lagi, menyingkirkan tangan kiri Al dari wajahnya.
"Di tendang kuda semalam, Nek," jawab Al ragu-ragu.
"Kak, kau mengataiku kuda?" teruak Qen dari tangga tidak terima dengan ucapan Al.
"Quen, kau menendang kakakmy sampai seperti ini dan di bagian wajah?" tanya Vivian.
"Nek, aku ga sengaja!" Seru Quen saat Vivian menjewer telinganya.
"Nek! Hentikan jangan jewer dia, dia melakukannya tanpa sadar. Semalam dia minta dipijitin kakinya di ruang tengah, Al tertidur juga saat memijat. Posisku duduk memangku makinya dan gak tau gimana tiba-tiba saja sebuah kaki mendarat indah di pipi, Al," ucap Al sambil terkikik.
"Ya sudah, ayo kalian semua sarapan. Cuma kita bertiga yang ada di rumah," ajak Vivian.
"Nek, habis ini aku ke kampus," kata Quen saat sarapan bersama.
"Iya, hati-hati. Cepat pulang jangan main kemana-mana, ya?"
"Siap, Nek. Aku berangkat dulu, ya? Dada Nenek daa Kak Aaal..."
Gadis itu pun berhambur keluar.
"Al, kamu ada acara tidak?"
"Tidak ada, Nek. Kenapa?"
"Antar nenek ke rumah sakit bisa? Nenek hari ini jadwak buat chek up tulang pinggang nenek."
__ADS_1
"Iya Nek, bisa. Sekarang?" jawab Al dengan antusias.
🌸 🌸 🌸
"Quen!"
Gadis itu menoleh ke belakang melihat sosok pria berbadan atletis menghampirinya.
"Alex, ada apa?"
"Tidak ada, kamu uda selesai kelas?"
"Iya, ini mau pulang," jawab Quen.
"Kamu naik mobil sendiri?"
"Tidak, mau pesen taxi online." Gadis itu tersenyum sambil menunjukan layar ponselnyanpada pria di hadapannya.
Melihat Quen belum memsan, Alex menawarkan diri untuk ikut bersamanya.
"Ya udah ayo, anggap aja aq driver taxi onlinenya. Ayuk!" ajak Alex tanpa canggung menggandeng tangan Quen. Membawa ke parkiran.
"Tumben kau bawa mobil, Lex?" tanya Quen begitu duduk di samping kemudi.
"Iya, simerah masih ke salon buat perawatan," jawab Alex sambil tersenyum.
Quen diam mengamari pria di sampingnyan nada suara dan senyuman hangat yang sangat akran baginya, membawa ingatannya pada masa dua tahun silam ketika keduanya dipertemukan sebagai calon pengurua osis.
Quen sendiri tipikal murid yang pendiam, dan saat itu mereka duduk di bangku kelaa dua, kali pertama bagi Quen menjadi calon osis. Sementara Alex, sejak kelas satu dia sudah pernah.
"Hay, anak jurusan IPA ya? Aku tidak pernah lihat kamu," sapa Alex saat pertenuan di halaman sekolahan.
"Aku memang tidak setenar dirimu," jawab Quen singkat.
Merasa di cuekin cewek, Alex semakin penasaran dengan Quen berbagai cara untuk mendekatinya dia pakai, mulai dari alasan organisasi, ektra kulikuler, kebetulan sama-sama ikut seni bela diri. Hingga tiga bulan setelahnya mereka resmi jadian. Tapi, hubungannya hanya berjalan singkat, begitu Quen lagi sayang-sayangnya malah Alex bermain gila dengan Helena teman sekelasnya.
"Kita makan spageti, yuk!" Seru Alex membuyarkan lamunan Quen.
"Di mana ada sopir taxi online ajak penumpangnya makan?" jawab Quen berusaha menyembunyikan groginya.
Santai, Quen. Kau dan dia teman biasa," umpatnya dalam hati.
"Anggap saja itu sebagai bayarannya," ucap Alex.
"Baiklah. Aku akan mentraktirmu," jawab Quen sambil tertawa ceria.
Meski tidak ada rasa canggung sedikitpun di hatinya, tetap saja bertemu dengan cinta pertama membuatnya tak bisa menahan diri.
Di mata Alex pun, Quen juga gadis terbaik yang pernah ia temui, tapi, akibat kebodohannya dia pun pergi. Dia tidak ingin to the point mengatakan minta balikan pada Quen. Alex memiliki caranya sendiri yang elegan dan jarang pria gunakan untuk ajak balikan dengan mantan.
Sekitar beberapa menit perjalan sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Quen. Kebetulan gawainya belum dimasukan ke dalam tasnya, jadi dengan mudah dia membuka pesan itu.
Quen mengerutkan keningnya saat melihat nama Bela di sana. Tumben, ada apa?"
["Hey, aku tadi melihat kau bergangengan tangan dengan Alex dan masuk ke dalam mobilnya, cieee cieee hawanya ada yang CLBK, nih..."]
Quen bingung harus jawab apa pesan dari Bela.
["Dasar paparazi,"] balas Quen.
["Gue ga sengaja kihat keles. Tapi gak papa semenjak dia putus ma Helena dia juga dah berubah banyak, lo. Kalau lu nikah ma dia, berat badanmu stabil, bisa dilatih olah raga sendiri dan nge gym."]
Quen sedikit tersenyum membaca pesan dari Bella. Dia bingung mau membalas apa, lalu. Dia memasukan ponselnya ke dalam tasnya.
"Pesan dari siapa?" tanya Alex, mencoba mencairkan suasana.
"Dari Bela, Lex," jawab Quen.
Alex hanya mengangguk saja, bagaimana pun, dia paham betul kalau mereka sudah berteman sejak SMA.
"Sinta ngelanjutin di mana, Quen?"
"Dia melanjutkan sekolah pramugari, Lex,"
Quen melihat pria di sampingnya yang kini semakin terlihat nampak lebih dewasa, dulu pernah keduanya menjalin hubungan spesial, tapi, hubungan itu tidak berlangsung lama karena kegilaan Alex yang gemar menyelingkuhi dirinya.
Tapi apa yang dikatakan Bela adalah benar, sekarang Alex berubah menjadi sosok yang baik, tidak pernah lagi terlihat dekat denhan wanita mana pun. Yang ada hanya dekat dengan dirinya, apa benar Alex ingin mendekati dan kembali dengannya seperti dulu?
Ah, Quen kau terlalu banyak berfikir, sudahlah kau jalani saja dulu. Kuliah baru memasuki smester satu, masa iya mo nikah aja, tunggu biar kakakmu saja yang menikah lebih dulu. Umpat Quen dalam hati.
"Quen, ayo sudah sampai," ucap Alex sambil tersenyum geli melihat Quen yang bengong.
__ADS_1
"Eh, sori, Alex. Aku ngelamun," ucap Quen lalu melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.