Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die 8


__ADS_3

Tanpa terasa sudah tiga hari Al berada di negeri Sakura. Mau


tidak mau, ia harus kembali ke Indonesia besok. Sebenarnya, jika pun ia ingin mengundur kepulangannya juga tidak masalah. satu, dia tidak perlu beli tiket. Karena, ia memiliki private jet sendiri.


Dua, anak dan istri di rumah memepersilahkan. Sedikitpun tidak


mempermasalahkan. Tiga, urusan kantor dia mampu handle dari mana pun, sekalipun luar negeri. Tapi, ia tidak melakukan itu karena ia harus mengajari dengan prakter tentang disiplin dan konsisten pada putri-putrinya. Tidak hanya teori


dan materi saja.


Ini adalah malam terakhir Al tinggal di Jepang. Ia sengaja


tidur bersama putrinya. Dipandanginya tiap inci wajah Clarissa dan dielusnya


ubun-ubun dan punggungnya sambil bergumam dalam hati, ‘Setelah tiga hari menghabiskan


waktu berdua saja denganmu, papa tahu, kau sebenarnya tidak lah berbeda dengan anak-anak seusiamu pada umumnya. Kau manja, dan bawel. Jadi, selama ini kau hanya pura-pura tegar dan mampu hadapi semuanya saja, ya? Maafkan papa dan mama, ya Sayang?”


Al mengecup lembut ubun-ubun putrinya. Kemudian ia memandangi wajah yang tertidur lelap, serta dengkuran halus dari napasnya yang teratur. Al terus memandang wajah Clarissa tanpa berkedip. Tapi, matanya kian lama kian menyipit, redup dan akhirnya ia pun tertitur juga.


Keesokan paginya, saat Clarissa terbangun, ia sudah


mendapati papanya sudah berpakaian rapi. Pria berusia empat puluh satu


tersebut, masih nampak ganteng dan gagah seperti baru berusia tigapuluh tahunan di balik balutan celana jeans, jas warna merah hati dan tatanan rambut jabrik serta jam tangan bermerk dan gelang manik dari stainless, sangat menunjang penampilannya seperti anak muda saja.


“Papa akan kembali sekarang?” tanya Clarissa sambil mengucek


kedua matanya yang masih terasa sangat lengket.


“Iya, Sayang. Kan sudah tiga hari papa di sini. Papa janji, akan segera kembali bersama saudari dan juga mama mu, oke?” ucap Al sambil mengancingkan bagian lengan kemejanya.


Clarissa hanya diam. Ia masih belum puas menghabiskan waktu


tiga hari ini bersama papanya. Dalam hidupnya selama sepuluh tahun lahir di dunia, baru kali ini ia merasakan tulus kasih sayang dari orang tua, selalipun itu hanya dari seorang ayah. ‘Kenapa sesingkat itu? aku masih kangen sama papa. Aku masih ingin


kita jalan-jalan, belum puas aku diantar dan dijemput ke kampus, serta pergi ke kantor bersama, dan membeli tempura sebanyak-banyaknya untuk dinikmati bersama sambil berjalan pulang ke rumah. Dan


sesampainya di rumah, ama memarahi kita berdua karena telah makan makanan yang tidak sehat,’ batin Clarissa. Ia masih saja diam dan tetap mematung di atas


kasurnya dengan selimut mentupi kakinya.


“Kau jadilah anak yang baik. Jaga diri dan amamu ya,


Sayang,” ucap Al. tiba-tiba dia sudah berada di depan Clarissa, mengelus kepala


dan mencium ubun-ubunnya.


Clarissa menatap papanya. Tiba-tiba saja ia ingin menangis.


Ia sudah berusaha bersikap baik dan patuh. Tapi, sisi kekanak-kanakannya


tiba-tiba saja muncul, seketika sikap bijak dan kedewasaannya hilang. Gadis kecil itu melompat dari tempat tidur, mengejar papanya,


menangis sesenggukan dan memeluk pinggang Al dari belakang. “Papa, tidak bisakah kau tinggal lebih lama lagi?” rengeknya.


Al terpaku dan menghela napas panjang. Ia tahu, bagaimana


perasaan Clarissa. Sejak lahir sudah langsung diasuh oleh neneknya, hidup hanya berdua saja tanpa merasakan tulus dan kasih sayang dari kedua orang  tuanya.Tapi, ia juga tahu, kalau Clarissa bukanlah anak yang lemah. Dia hebat, cerdas dan memiliki IQ tinggi diatas rata-rata. Mencari perhatian dengan


prestasi luar biasa yang mungkin hanya ada beberapa saja anak di seluruh dunia


yang bisa sepertinya. Jika saja itu anak lain, pasti mencari perhatiannya


dengan cara salah. Nakal, dan berbuat onar di mana-mana demi sebuah perhatian.


Tapi, lain dengan Clarissa. Dia memaksakan diri untuk dewasa. Di usianya yang ke sepuluh tahun sudah akan tamat S1. Memegang perusahaan bisnis pesawat jet yang diwarisi oleh mendiang kakek Andreas. Itupun ia mampu memberi perkembangan pesat selama lima bulan di bawah kendalinya.


“Sayang. Papa tidak bisa. Maafkan papa. Kau cepatlah mandi,


dan ke kantor. Papa juga akan segera terbang,” ucap Al dengan tegas. Tapi,


sebenarnya hati pria itu rapuh dan tak tega meninggalkan putrinya. Semalam saja dia juga kurang tidur. Waktu istirahatnya habis ia pergunakan untuk memandang wajah putrinya.


“Papa…. “ ucap Clarissa, menghentikan kalimatnya. Mungkin


saja gadis kecil itu masih ingin meminta Al untuk tinggal lebih lama lagi. Tapi, ia tidak berani. Sebab, sejauh ini dia selalu tegas dan displin dalam membimbing dirinya dan juga saudarinya. Tapi, kesehariannya dia adalah tipikal ayah yang sangat sabar dan penyang. Mungkin itu, yang membuatnya lemah. Selama tiga hari dia tahu bagaimana papanya memperlakukannya. Justru malah membuatnya rewel dan suka merengek seperti balita empat tahun.


“Kamu jangan sampai terlambat. Jika itu terjadi, kau akan


keterusan seperti itu. belajar agar terus displin. Agar bawahanmu juga


menyeganimu.” Usai mengatakan kalimat tersebut, Al langsung meninggalkan kamar putrinya


dan keluar. Ia menghampiri maminya yang tengah menyiapkan sarapan.


Jeslyn menoleh ke arah putranya. Kemudian ia menghela napas,


mengelengkan kepanya dengan lembut dan tersenyum simpul. Diletakkannya berkakas


dapur yang dipegang di atas meja, kemudian wanita itu menghampiri Al yang terlihat sedih dan sedikit murung.


“Yang kuat ya, Nak?” ucapnya dengan lembut seraya membelai


punggung putranya.


Tak ada jawaban dari Al, ia terus menunduk menyembunyikan


wajahnya. Supaya mami Jeslyn tak dapat melihat kedua matanya yang memerah karena membendung air matanya.


Sedangkan Jeslyn. Ia tidak bisa berkata banyak. Untuk


memberi nasehat pada Al ia merasa tidak layak. Karena, sejak kecil ia tidak


turut merawat dan membersarkan putranya. Tapi, dia sangat bersyuku kala mengetahui kalau putra kecilnya yang ia selamatkan dari kegilaan ayah


kandungnya telah diasuh oleh orang yang tepat. Bisa mendidik dirinya menjadi pribadi yang bagus, santun dan disiplin. Hanya saja, dia tidak tahu, sisi gelap tentang Al yang diturunkan oleh salah satu dari keluarga yang mengasuhnya.


Al segera menghapus air matanya saat mendengar Langkah kaki


dari belakangnya. Ia bersikap tegas, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, kini


justru Jeslyn yang menitikkan air matanya karena tak sanggup menahan haru kala melihat seperti apa putranya menyembunyikan rasa sakit di depan putrinya. Serta Clarissa yang berusaha tegar di balik keceriaan palsu.


“Papa akan terbang kapan?” tanya Clarissa.


“Setelah mengantarkanmu ke kantor, Sayang. Kamu jaga diri


baik-baik. Papa juga titip ama padamu, ya? Jangan nakal lagi, oke?” jawab Al sambil tersenyum palsu. Tentu saja palsu. Karena hati pria itu sebenarnya tengah menangis.


 “Papa hati-hati, ya?”


Al hanya tersenyum, menatap lekat putrinya sambil mengangguk pelan.


Clarissa mengangkat tiga buah box dan meletakkannya ke atas


meja. Di dorong dan disodorkan pada papanya dan berkata, “Aku titip ini, tolong berikan pada mama yang warna ungu muda, yang pink untuk Berlyn. Dan yang biru untuk papa.”


Al memandang tiga box itu, tak lama kemudian ia menaikkan


Sebelah alisnya. Lalu, memandang lagi ke arah putrinya. “Kenapa punya papa sangat kecil, Sayang?”


“Karena, papa hanya membutuhkan hal kecil. Tapi, memiliki


manfaat besar,” jawab gadis itu, singkat.


“Oh, ya? apa itu?” Al tertawa. Sejenak ia kesampingkan rasa sedih, galau dan harunya di depan putrinya.


Clarissa mengangkat kedua bahunya ke atas.

__ADS_1


“Boleh papa melihat apa isinya?” tanya Al, meminta izin pada


nona kecil yang sangat pengatur ini.


“Kenapa, tidak? Tentu saja. Itu adalah milik papa,” jawab


gadis itu dengan tegas juga, seperti yang papanya lakukan.


“Oke, karena nona Clarissa sudah mengizinkan… coba kita


lihat, apa ini isinya, ya?” perlahan, Al mulai membuka pembungkus box tersebut. Butuh waktu sekitar lima menit saja, ia sudah melihat sebuah dasi formal motif kotak-kotak klasik berwana hitam. Al seketika tersenyum dan tertawa lebar.


“Hahaha, kau memberi papa mu ini dasi, Sayang?”


“Ya, papa butuh itu biar makin ganteng. Biar mereka tahu,


walau mama adalah seorang dokter, tidak pernah lupa memperhatikan penampilan papa agar selalu ganteng,” ucap Clarissa berlagak cuek.


“Terimakasih, Sayang. Ini keren sekali, papa pakai, ya?” ucap Al. tapi, dalam hati ia teringat bagaimana ucapan Queen kemarin, tiga hari


silam sebelum dirinya  berangkat ke


Jepang. Wanita yang sudah menemaninya dalam suka dan duka selama kurang lebih


sebelas tahun itu juga berkata demikian, “Di balik pria yang tampan dan wangi itu, ada seorang istri yang memperhatikan dirinya.”


“Nah, gitu kan juga terlihat rapi, kan? Papa ini seorang


boss besar sekaligus owner di sana. Pakaian Cuma celana dan kemeja saja, kaya karyawan magang,” celetuk Clarissa. Membuat tawa Al dan Jeslyn meledak saja mendengar bagaimana cara bocah usia sepuluh tahun itu bicaara, benar-benar asal


nyeplos saja.


“Sarapan sudah siap, ayo sarapan dulu,” ucap Jeslyn sambil


menghidangkan sarapan pagi khas indonesia banget. Entah kenapa, tiba-tiba saja


kemarin dia teringat nasi pecel dan kepengen. Jadi, pagi ini menunya adalah


nasi pecel, dengan sayur rebus kangkung, bayam dan tauge, serta lauk tahu tempe


goreng, rempeyek dan telur dadar.


“Wah, lihat mami masa kapa ini? Spesial sekali, Mam? Ucap


Al. Lalu, mereka bertia pun menikmati sarapan mereka bersama di meja makan.


****


Sejak kedatangan Sherly ke mari, Axel merasa ada yang


berubah dengan Bilqis. Entah, setan apa yang merasuki gadis belia itu.


tiba-tiba saja dia jadi berubah drastis. suka mekap. Bukan hanya itu saja, dari


segai pakaian yang digunakan juga sangat terbuka dan terlalu vulgar untuk anak


perempuan seusianya.


Walau pun saat keluar atau jalan masih bisa sedikit


ditolelir, tapi, Ketika saat santai di rumah, ia tak segan-segan lagi


mengenakan hot pant yang sangat pendek dari bahan jersey. Tentu sangat ketat.


Kaus walau bukan tengtop juga belahan data sangat rendah dan sangat tipis,


sampai bentuk bra yang dipakai tercetak jelas. Warna juga samar-samar terlihat.


Tidak jarang juga Axel kaget Ketika melihat Bilqis berjalan, sebab, ia mengira


kalau gadis itu tidak mengenakan bawahan atau celana. Padahal, nyatanya ia


memakai. Tapi, celana yang ia pakai lebih rendah dari kausnya. Kalau tidak


Sejak Al pergi ke Jepang sampai saat ini Axel setiap hari tetap


pulang ke rumah tante Queen setiap kali ia habis dari GYM ataupun setelah ada kegiatan di luar. Sebab, kala itu, Ketika om Al akan berangkat sudah menitipkan


rumah dan adik-adiknya kepadanya.


Suatu sore, ketika Al habis kembali dari perkumpulan


bersama teman-temannya. Di jalan, ia melihat Bilqis berjalan di trotoar yang sepi bersama


Tiara. Keduanya sama-sama memakai pakaian sexi. Sejauh ini Axel memang tidak pernah menegur gadis itu. karena, ia takut itu akan GR. Jika itu sampai terjadi, masalah akan runyam. Sebab, ia disangka perhatiannya itu karena ia sudah memiliki rasa terhadapnya lebih dari seorang adik saja.


Axel melihat sepanjang sisi jalan yang sudah dan yang akan


dilewati oleh dua gadis remaja itu sangat ramai dengan laki-laki. Takut hal buruk terjadi, Axel memelankan mobinya. Mengikuti dan mengawasi dua remaja


perempuan itu dari belakang dan diam-diam tentunya.


Ternyata firasat Axel benar. Tidak berselang lama, sekitar lima


menitan, Bilqis disenggolin oleh beberapa cowok yang tengah nongkrong. Bahkan,


ada salah satu dari mereka berani melecehkan memegang bagian tubuh yang tidak


pantas untuk dipegang oleh lawan jenis selain suami dari gadis itu sendiri.


Tidak mau ambil resiko lebih besar lagi, Axel segera mencencangkan mobilnya. Ia berhenti di dekat Bilqis dan Tiara. Kemudian segera turun dan menghentikan tindakan preman tersebut.


“Hentikan!” teriak Axel sambil mengepalkan tangannya.


“Siapa, kau? Berlagak jadi pahlawan kesiangan, ya?” seru


salah satu dari mereka dengan ekspresi wajah marah karena kesenangannya di ganggu.


‘'Kak Axel,” gumam Bilqis dan Tiara secara bersamaan. Walau


mereka berada di tempat yang tidak sama.


“Kau pikir apakah seorang kakak akan diam saja jika melihat


adiknya diganggu oleh sekumpulan orang tidak berguna seperti kalian?” ucap Axel dengan tegas dan penuh


keberanian.


“Oh, kakaknya, ya? Kok tidak mirip,ya? Kakak apaan? Hahaha,” ucap salah satu dari mereka, dan semuanya tertawa terbahak.


“Kak Axeeeeel! Awas!” teriak Bilqis histeris saat salah satu


dari gerombolan mereka ada yang hendak memukul Axel dari belakang menggunakan balok kayu.


Tapi, dengan sugap Axel menghundari serangan lawan. Dia membungkuk. Diraihnya lengan lawan, pasang kuda-kuda dan membantingnya cukup keras diatas trotoar.


Bilqis dan Tiara yang melihat adegan itu terkejut dan hampir


tak percaya kalau Axel juga memiliki kesenian bela diri yang cukup bagus. Ia bisa membaca dan merasakan serangan lawan dari berbagai sisi. Serta mampu menghadapi lima orang secara bersamaan seorang diri.


“Urusan kita belum selesai,” ucap salah satu dari mereka


yang diduga adalah pentolan preman tersebut. Lalu berlari sambil memberi


intruksi pada komplotannya untuk kabur.


Setelah kelima preman sampah masarakat itu pergi, Axel memandang ke arah Bilqis yang nampak dududk melipat kaki sambil memeluk lututnya sendiri di atas trotoar. Sepertinya gadis itu benar-benar ketakutan. Dengan segera pria itu menghampiri Bilqis dan mengulurkan tangannya. Memberi tawaran untuk untuk membantunya berdiri.


Bilqis menerima uluran tangan Axel. Ia tertunduk, menangis sambil berkata lirih, “Terimakasih.” Sebuah kata yang nyaris hanya dia saja yang bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Lain kali kau berhati-hatilah. Wanita dengan pakaian yang terbuka seperti ini, memeberi peluang besar untuk dilecehkan laki-laki.” Bersamaan dengan ia mengucapkan kalimatnya, Axel juga melepaskan jaketnya, melingkarkan ke pinggang Bilqis agar pahanya bagian depan tertutup. Urusan bagian belakang terbuka, mungkin tidak masalah. di dalam mobil jika dia duduk juga tidak akan terlihat.


“Kau mau ke mana selarut ini? Masuk ke mobil, kuantar pulang,” ucap Axel. Tegas, namun peduli.


Bilqis tidak diam. Sepatah katapun gadis itu tidak menjawab. Ia bungkam seribu bahasa dan dengan patuh masuk ke dalam mobil milik Axel.


Axel diam sesaat. Ia mengepalkan tangannya. Sebenarnya ia sangat jengah pada Tiara, dan ingin sekali saat itu juga menegurnya. Tapi, ia merasa kalau kali ini bukan lah saat yang tepat.


“Kalian tadi sebenarnya mau ke mana?” tanya Axel dengan nada datar dan dingin serta tatapan mata yang sangat menusuk.


“Ka… kami mau ke suatu tempat, Kak,” jawab Tiara tergagap.


“Ke mana?”


“Ke minimarket, beli minuman,” jawabnya. Yang justru malah terkesan mengada-ngada saja.


Axel hanya tertawa miring dan sedikit membuang muka. Melihat dari gelagat Tiara saja, ia merasa seperti ada yang tidak beres. Tapi, ia enggan mengatakan sesuatu.


“Bilqis ketakuan. Aku akan mengantarkan dia pulang. Apakah kau perlu tumpangan juga?”


“Tidak, Kak. Terimakasih. Rumahku berada tidak jauh dari sini,” ucap gadis bertubuh bongsor dengan pakaian yang memang sejak dulu seba mini dan terlalu sexi untuk gadis seusianya.


“Ya sudah.” Tanpa berbasa-basi lagi, Axel masuk ke dalam mobilnya dan mengantarkan Bilqis pulang ke rumahnya.


Selama di mobil gadis itu juga diam saja, sedikit melamun dengan tatapan kosong melihat ke depan, namun bukan jalan. Tapi, dash board mobil. Ia juga menggigiti kuku jari manisnya sendiri dan sedikit tertunduk seperti orang linglung saja. Sepertinya ia benar-benar syock dan mungkin saja juga mengalami sedikit rasa trauma. Karena selama ini, dia tidak pernah mengalami pengalaman yang seburuk ini. Di usianya yang kesembilan belas juga bahkan ia belum pernah pacarana. Tidak pernah terlihat kontak fisik dengan lawan jenis. Laki-laki yang memiliki hubungan dekat dengannya hanyalah Axel sendiri, Al dan Adriel. Dengan om Dedi juga jarang-jarang. Jika ada perlunya saja.


“Mama kamu ada di rumah?” tanya Axel berusaha mencairkan suasana yang telah beku di antara mereka berdua.


Gadis itu hanya mengeleng lirih.


“Kita sama-sama pulang ke rumah mama Queen saja, ya?” tawar Axel sambil melihat sekilas ke arah Bilqis.


Tapi, dengan cepat gadis belia itu mengelengkan kepalanya cepat.


“Baik. Aku akan antar kamu ke rumahmu sendiri,” ucap Axel segera. Yang ia inginkan hanyalah ketenangan Bilqis saja. Walau, sebenarnya ke rumah mama Queen adalah yang terbaik. Karena, wanita itu bisa mmebantunya menghilangkan rasa traumanya dan kembali memberikan ketenangan pada batinnya.


Sesampainya di rumah Bilqis, terlihat sangat sepi. Axel sendiri juga tidak tahu kapan tante Nayla akan kembali. Jadi, ie mengantarkannya masuk dan menemaninya untuk berbicara dan sharing.


Setelah suasana hati Bilqis sudah berubah menjadi lebih baik, barulah pria remaja itu berani melemparkan beberapa pertanyaan padanya. Salah satunya adalah gaya pakaian Bilqis yang tiba-tiba berubah drastis.


“Kamu itu kenapa, sih jadi berubah begini? Kamu tidak risih, ya kalau memakai pakaian terbuka seperti ini? Ketika diperhatikan oleh mata-mata lapar dari pria seperti mereka tadi?”


Cukup lama Bilqis tak memberi jawaban. Sampai di detik ke empat puluh setelah pertanyaan Axel, barulah ia berkata, “Aku berfikir dengan aku berpakaian seperti ini kak Axel bisa suka padaku.” Masih dengan kepala tertunduk. Axel juga bahkan tidak dibuatkan minum.


Mendengar jawaban itu, Axel menaikkan sebelah alisnya dan memandang ke arah Bilqis dengan muka penuh tanda tanya. “Apakah selama ini aku tidak menyukaimu? Tidak benci itu, juga sudah suka, Bilqis. Jika aku tidak suka padamu, kenapa aku bisa anggap kamu adik, kan? Orang yang tidak aku sukai itu pasti aku akan selalu mengabaikannya. Keberadaannya tidak pernah kuanggap ada. Pernah aku demikian padamu?”


Bilqis diam. Seketika suasana kembali kaku, canggung dan hening.


“Kau tak perlu melakukan ini. Ini sangat berbahaya. Untung aku tadi melihatmu masuk ke dalam gang tersebut dan mengikutimu diam-diam. Jika saja tidak, kau pasti juga bisa memperkirakan, bukan nasib buruk apa yang akan menimpaku.


“Kenapa meskipun aku sudah berusaha tampil seperti ini bahkan kau tidak bisa menyukaiku seperti rasa sukamu pada Sherly?” tanya Bilqis sambil terisak.


Axel bengong dengan pertanyaan Bilqis itu. tentu saja, Sherly adalah salah satu wanita yang tidak dia sukai, ia lupa tidak menyebutkannya. ‘Jadi, selama ini Bilqis benar-benar anggap aku dan Sherly ada hubungan. Awalnya ia sengaja membiarkan tak memberi penjelasan terkait hubungannya dengan Sherly yang memang tidak ada yang special agar Bilqis berhenti memikirkannya. Tapi, ia jusrtu mengira kalau dirinya menyukai wanita dengan pakaian terbuka. Bahkan juga memiliki pemikiran jika dia seperti itu juga akan disukai olehnya. Memang, kau pikir lelaki macam apa aku, ini?’ batin Axel.


Axel tersenyum. Menggeser duduknya dan mengelus punggung Bilqis. “Sudahlah, hubungan persaudaraan seperti kita ini tidak akan pernah terputus. Tetaplah jadi adikku yang baik, oke? Jika kau menyukaiku, patuhlah, dan nikmati hubungan persaudaraan ini walau tidak sedarah. Karena, sejatinya di dunia ini tidak ada mantan kakak dan adik. Kau menegerti?”


Bilqis mengangguk walau sebenarnya ia sama sekali belum bisa mencerna apa tujuan dari Axel mengatakan demikian. Yang ia ketahui adalah, tidak ada mantan saudara. Seperti halnya yang Queen ajarlan padanya selama ini. Bilqis pernah jadi anak tiri papa Al. tapi, mereka juga baik dan menerima dirinya sebagai anak tiri dari Al setelah pernikahannya dengan pria tersebut. Karena tidak ada istrilah mantan anak.


“Jika kita memaksakan diri untuk pacaran, dan akhirnya putus di tengah jalan. Apakah kita masih bisa menjalin hibungan baik? Yang bisa seperti mama Queen dan om Alex itu sulit dan jarang, Bilqis. Jika saja kita yang berada di dalam posisi itu, kita belum tentu bisa. Mulai sekarang, kau mengerti, kan?”


Bilqis menatap lekat ke dalam mata Axel yang memiliki sepasang manik biru keabu-abuan itu. kini, ia sudah jelas dan mengerti tujuan dari Axel. Walaupun hatinya sulit menerima. Tapi, logikanya sudah sampai ke situ. Ia kembali menangis terharu. Lalu meraih Axel memeluknya erat. “Ya, kau adalah kakakku. Benar-benar kakakku. Mulai sekarang, aku adalah adik perempuanmu. Terimakasih.”


Axel tersenyum. Membalas pelukan Bilqis sambil mengelus punggung gadis tersebut. Perlahan, ia melepaskan pelukan Bilqis dan kembali bertanya, “Kapan mamamu akan kembali?”


“Mungkin sebentar lagi,” jawabnya. Masih lirih. Tapi, sudah ada perubahan di wajahnya. Sangat ketara kalau ia sudah sangat lebih baik sekarang.


“Ya sudah, kalau begitu, kau pergilah ke kamarmu. Ganti pakaianmu!”


“Baik.” Bilqis setengah berlari pergi ke dalam kamarnya. Matanya masih sembab karena air mata. Tapi, wajahnya sudah menunjukkan sedikit keceriaan.


Sejak meninggalnya mama dan papa tirinya dulu, remaja itu lebih suka menghabiskan waktu luang dan istirahatnya dengan membaca ilmu psikologi. Ketika ngobrol dengan Queen pun juga terkait itu yang selalu mereka berdua jadikan topik pembicaraan. Jadi, sedikit banyak, ia bisa lah mencari celah dan cara untuk menasehati beberapa orang yang ia kenal. Walaupun, tidak seperti Queen yang setiap kata demi kata yang diucapkannya sangat berbobot dan memberi pengaruh pada pola pikir lawan bicaranya. Tapi, ia senang. Setidaknya ia bisa mengembalikan keceriaan Bilqis. Walau hanya sangat sedikit.


Tidak berselang lama Bilqis meninggalkannya sendiri di ruang tamu, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Awalnya ia bermaksut mengabaikannya. Tapi, suara berisik yang mengganggu membuat rasa ingin tahunya meronta-ronta. Diintipnya nama penelfon yang muncul di layarnya. Muncul nama Tiara, beserta fotonya.


Tanpa tagu-ragu, Axel mengambil benda pipih itu, dan mengangkat panggilannya. Hanya saja, ia tidak langsung menyahut. Membiarkan Tiara berbicara terlebih dulu. Ia ingin tahu, apa yang ingin coba wanita itu katakana pada Bilqis setelah insiden seperti tadi.


“Halo, Bilqis. Maaf ya atas kejadian tadi. Tapi, lain kali kita jadi, kan? Kau tenang saja. Aku akan melindungimu. Aku yakin, setelah kau tahu seperti apa suasana di bar, dan mengenal banyak pria dewasa di sana, aku yakin. Kau pasti bisa move on dari pria gunung es tadi."


“Oh… jadi kau bilang mau ke mini market tadi Cuma bohong?” jawab Axel dengan dingin. Membuat Tiara kelabakan. Mungkin, setelah ini ia akan takut untuk bertemu dengan Axel. Memilih pergi menghindari daripada bertatap muka.


“Kak, Axel?” Hanya itu kata yang keluar dari bibir Tiara.


“Aku minta sama kamu, mulai dari sekarang, kau tidak usah lagi dekat-dekat dengan Bilqis. Kau itu hanya…. “


“Kak Axel! Siapa yang telfon?” tanya Bilqis tiba-tiba dari belakang pria itu.


“Kau kemarilah! Duduk di sini,” ucap Axel secara otoliter pada Bilqis yang baru saja kembali berganti pakaian, seraya menunjuk kursi yang ada di depannya.


Mau tidak mau, Bilqis juga menuruti perintah Axel yang terkesan sangat menuntut dan harus.


“Kau tadi bersama Tiara akan ke mana?” tanya Axel setelah mematikan panggilannya.


“Aku… aku sama Tiara…. Dia mengajakku ke sebuah tempat, Kak.”


“Ke Bar? Iya, kan?” ucap Axel, menunjukkan bahwa dirinya emosi. Tapi, di balik emosi itu, terdapat kepedulian yang teramat sangat.


‘’Ya… “ jawab Bilqi. Ia kembali menunduk karena takut dengan kemarahan pria yang selama ini ia ketahui dia adalah pria yang paling sabar dan tak pernah marah sekalipun. Sekali melihat dia marah kok ya serem banget.


“Kau ini sadar apa tidak? Kau tahu, buka bar itu tempat apa? Atau, kau memang ingin kak Axel benci saja?”


“Maafkan aku, Kak.”


“Mulai sekarang, kak Axel tidak suka kau terlalu dekat dengan Tiara. Bertemanlah dengannya. Tapi, jangan terlalu dekat.” Axel meraih kontak mobil yang tergelat di atas meja di depannya lalu bediri. “Kak Axel mau pulang dulu. Kau jaga diri baik-baik,” ucap pria itu berpamitan. Lalu pergi.


Bilqis diam dan hanya memamtung saja membiarkan pria itu keluar meninggalkan rumahnya sendiri tanpa mengantarkannya sampai gerbang. Atau minimal sampai pintu juga tidak.


“Axel, kapan kau datang?” sapa tante Nayla yang baru saja tiba.


“Tadi, Tante. Cuma ngantar Bilqis saja.”


“Nganter Bilqis? Dari mana memang kalian?” tanya Nayla sambil mengerutkan kening.


“Saya dari perkumpulan bersama teman-teman, kebetulan lihat dia di jalan,” jawab Axel dengan santun.


“Oh… terimkasih, ya Xel. Ngomong-ngomong tidak masuk dulu?’ tawar Nayla.


“Iya, Tante. Terima kasih, Berlyn dan Adriel sudah menunggu di rumah,” tolak Axel.


“Ya sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan, ya? salam juga pada mama Queen,” ucap Nayla sambil melihat ke arah Axel dan melambaikan tangannya saat mobil jaguard merahnya mulai melaju perlahan.


Sementara Nayla langsung masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, ia mendapati putrinya diam duduk dalam keadaan menunduk. Sepertinya tengah menangis. Tapi, kenapa? Apakah berselisih lagi dengan Axel? Pikir Nayla.


Nayla melangkah perlahan sambil terus memperhatikan putrinya di tengah remang-remang ruangan karena di luar senja sudah tiba, dan lampu ruangan juga belum dinyalakan satu pun.


“Bilqis! Kau kenapa?” tanya Nayla.


Gadis itu tidak menjawab. Posisinya juga tidak berubah sedikit pun, masih diam duduk dengan kepala tertunduk serta kedua tangan bertumpu pada sofa,


“Bilqis! Apakah kau dalam masalah, Sayang?”


Bilqis masih diam.


Nayla hanya menghela napas dalam-dalam. Ia beranjak dan menyalakan lampu.


Karena ruangan sudah terang, dan Bilqis tak mau terlihat sedang menangis oleh mamanya sendiri gadis itu pun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia berlari menuju kamarnya.


Nayla bingung harus mengapakan putrinya itu. ia lebih cenderung dekat dengan papa tirinya dan Queen dari pada dengannya. Ya, wajar saja. Mereka memang baik, sikapnya tidak beruah sediktpun meskipun sudah memiliki anak sendiri. Terlebih Al. tiga orang anak yang sering menginap di sana tidak ada yang canggung padanya dan menganggap ayah sendiri.


“Nayla ingin mengejar putrinya dan menanyakan masalah apa yang tengah ia hadapai. Sebagai ibu, ia juga ingin selalu ada di samping putrinya terlebih dalam situasi yang begini. Tapi, Bilqis sejak tadi hanya diam menghindar. Ia sendiri sebenarnya juga lelah. karena pelanggan yang datang akhir-akhir ini membludak, ia sampai harus ikut turun tangan membantu produksi di dapur. Kadang kala juga ikut melayani di depan. Bukan sebagai kasir. Tapi langsung melayani pembeli secara langsung seperti karyawan yang lain.

__ADS_1


‘Jika anak seperti itu, Kak. Biarkan saja dulu. Tinggalkan sebentar. Mungkin dia butuh waktu sendiri untuk berfikir. Nanti, setelah dirasa sudah cukup, datangi dia dan ajaklah dia berbicara.’


Tiba-tiba saja Nayla teringat dengan pesan Queen beberapa waktu silam Ketika Bilqis juga mengalami masalah dan ngambeg seperti ini. Jadi, ia memutuskan untuk mandi dulu dan menyiapkan makan malam. Setelah itu, barulah bicara di meja makan. Toh, di rumah ini hanya ada dia dan putrinya saja. Selama tidak ada tamu, bicara di mana saja aman. Asal tidak di halaman, atau luar pagar.


__ADS_2