
Dalam keadaan mata masih terpejam, Quen meraba-raba kasur di sebelahnya ia berbaring. tak ada apapun selain guling yabg dia dapatkan. Quen pun duduk perlahan. ia merasakan kepalanya sedikit pusing dan badannya terasa sakit semua, rasanya tulangnya seolah patah.
teringat bagaimana Alex semalam, begitu buas dan me ggebu-nggebu. "Bahkan ini sangat sakit, seperti saat pertama kali, tiga tahun silam. bukannya orang bilang jika yabg kedua dan seterusnya tidak akan sakit?" gumam Quen dalam hati.
quen menggulung badannya dengan selimut, ia bermaksut untuk bebersih mandi sebelum keluar kamar tidur. Tapi, doankaget dengan bercak merah yang ada pada sprei tepat dia berbaring. Quen berpikir sejenak, bagai mana hal ini bisa terjadi, apakah dia-
pintu terbuka dengan pelan, nampak seorang pria tampan dengan penampilan casual kaus hitam dan celana jeans panjang dan celemek putih, tangannua membawa nampan berisi dua gelas susu dan satu piring berisi dua porsi roti bakar isi sanwich telur ukuran besar.
pria itu memamerkan senyumnya yang rupawan seraya menyapa wanitanya, "Selamat pagi, sayang. kau sudah bangun?"
Dengan susah payah Quen menutupi bercak darau yang ada pada sprei putih itu. dia segera bergeser menduduki tempat itu sambil tersenyum canggung. berharap Alex tidak melihatnya, "Maaf, aku terlambat bangun, harusnya aku yang-"
"Kenapa kau di situ? kemarilah, aku suapin!" seru Alex, mengajak Quen duduk di pinggir ranjang.
"Kau, biasakah keluar sebentar? biar aku mandi dulu, dan mengganti spreinya," ucap Quen lirih.
Alex tertawa melihat tingkah Quen yang menggemaskan itu, "Kenapa harus malu dengan suami sendiri? darah itu wajah keluar saat malam pertama bagi wanita, kenapa kau menutupi?" ucap Alex. "Kemarilah, ini sudah hampir jam sepuluh, ayo sarapan dulu." Alex menyodorkan sepotong roti pada Quen, sementara tangan kirinya menyelipkan rambut Quen yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.
Quen tiba-tiba nampak canggung saat menghadapi Alex. bahkan dia jadi terlihat sedikit salah tingkah.
"Nanti siang aku ada jadwal latihan di gym, apakah kau mau ikut? aku belum sempat ambil izin, mana kutahu kalau aku sekarang adalah pengantin baru?" ucap Alex sambil tertawa.
Quen nampak berfikir sejenak, dan segera menjawab, "Tidak, aku di rumah saja. tidak apa-apa,kan aku tidak ikut?" ucap Quen merasa tidak enak menolak ajakan Alex.
"Baiklah, kau pasti lelah istriku, istirahatlah dengan baik di rumah!"
'Istri, ya? iya aku istri Alex, dan dia suamiku, kwnapa aku jadi merasa aneh dan lucu begini, rasanya aku belum percaya ini dan terlalu entahlah.'
Rasa bersalah yang besar tiba-tiba saja muncul saat ia melihat Alex yang nampak tulus menyayangi dia apa adanya. tapi, dengan darah itu pasti Alex menyangka Quen masih perawan, kan? haruskah aku berkata jujur padanya?" tidak, jangan sekarang.
dan sekarang Quen merasa parno sendiri dengan banyangan-banyangan buruk akan dirinya.
Sebab dia pernah baca sebuah artikel kalau ciri-ciri penyakit servik adalah nyeri dan berdarah saat berhubungan badan. terlebih, dia sendiri juga maha siswa kedokteran.
"Aku taruh ini di dapur dulu, kau mandilah, segarkan tubuhmu dulu," ucap Alex seraya mengecup kening Quen dan pergi.
Melihat Alex sudah pergi Quen segera meraih ponselya dan mengirim pesan pada temannya yang kebetulan ibunya adalah dokter kandungan, ia bisa konsultasi di san sekalian cek up apakah ada penyakit di dalam rahimnya.
๐ ๐ ๐ ๐
"Di sini tidak terdeteksi penyakit rahim, semua bagus dan subur, bahkan siap dibuahi," jelas dokter itu saat membaca hasil lap Quen.
"Tapi, dok. masalahnya saya melakukan bukan yang pertama kalinya, ini yang kedua," ucap Quen menjelaskan.
"Kapan terakir berhubungan sebelumnya?"
"Lebih dari tiga tahun silam, dan selebihnya tidak pernah sama sekali."
"Apakah anda pernah konsumsi herbal atau rumuan yang bisa merapatkan organ intim?"
Quen diam sesaat mencoba mengingat, sepertinya tidak pernah dia konsumsi dan menggunakan produk seperti itu, tapi, ia ingat saat siang hari Lyli memberinya minuman kental dan pahit seperti jamu, apakah itu?
"Memangnya bisa ya Dok?" tanya Quen.
"Ya, bisa karena mulut rahim menyempit dan kurangnya pemanasan jadi bisa menyembabkan pendarahan seperti malam pertama," jelas dokter itu.
__ADS_1
"Baik dok, kalau begitu, terimakasih ya." ucap Quen lalu keluar dari ruang konsultasi.
Quen melihat ke arah jam tangannya, satu jam setengah lagi Alex pulang, ia buru-buru kembali ke apartemennya untuk menyiapkan makan siang.
Dengan perasaan lega dan tanpa benan Quen mampir ke sebuah mall mini untuk membeli buah dan sayur-sayuran. juga daging untk makan siang. seban, di apartemen hampir tidak ada bahan makanan karena lamanya tidak di tempati.
Sesampai di rumah. dengan segera wanita itu memasak ikan goreng, balado telur puyuh dan kentang serta tumis kangkung.
Dan benar saja, tak lama kemudian Terdengar suara bell berbunyi, dengan perasaan senang Quen berlari keluar, dan membuka pintu. Tapi, bukan Alex yang datang melainkan Al, bersama Nayla dan juga Bilqis.
"Hay, pengantin baru, lihat penampilanmu! Kenapa kucel begotu?" ucap Al menggoda adiknya.
"Oh, kalan ayuk masuk! kebetulan aku masak banyak hari ini, makan siang bersama di sini, ya?" ucap Quen sambil kembali ke dapur meneruskan masakannya.
"Di mana suamimu?" tanya Al sambil menyalakan rokok yang berada di mulutnya kini.
"Dia di gym, kak. gak ada izin libur dan gak ada pelatih pengganti, jadi ya... terpaksa." Gadis itu membuka lemari es, mengambil sepotong daging ayam filet sayur kol, brocoli juga wortel untuk dijadikan sup, sebab ada Bilqis. Dapat dikatakan ini menu kusus untuk bocah empat tahun setengah itu.
Tak lama kemudian pintu terbuka, dan muncul Alex dengan kostum olahraganya.
"Kak, Al. Kapan kalian tiba? sudah lama, ya?" sapa Alex lalu duduk di depan Al dan Nayla.
"Kami baru saja datang." Al meraih rokok dan koreknya di depan meja lalu menggesernya ke hadapan Alex.
"Punyaku masih ada, Kak," ucap Alex sambil mengeluarkan bungkus rokok berwarna hitam dari dalam saku jempernya.
"Memang sengaja mau ke sini?" tanya Alex.
"Kebetulan lewat saja, nanti makan malam di rumah saja, ya? mumpung om dan tante Eren belum kembali ke Australi. mereka masih ingin ngobrol-ngobrol denganmu, tadi menunggu kalian untuk sarapan, sih."
"Maaf, kak. kita kesiangan. dan aku kan ga ada ambil cuti tuh kemarin."
"Makanan sudah siapa, yuk kak, kita makan bareng-bareng," ajak Quen pada Al dan Nayla. sementara dia menghampiri Alex, menempel dan bergelandut manja pada cinta monyetnya dulu. Alex meraih pinggung Quen dan tanpa segan-segan diciuminya istrinya di depan Al dan Nayla tanpa rasa sungkan.
"Kau jangan menciumku begitu." Protes Quen.
"Kenapa? Kau malu ada kakakmu?" Sekali lagi Alex mendaratkan ciumannya pada pelipis Quen.
"Bukan, tapi aku berkeringat dan bau dapur," jawab Quen sambil tertawa.
"Bilqis, tante masakin kamu sup ayam nih, kamu mau? Tante gak tau kalau kalian mau datang, ikan dan tumisnya semua pedas, cuma ini yang tidak," ucap Quen merasa bersalah.
"Ayo Bilqis, jangan sia-siakan usaha tantemu, dia memasaknya kusus untukmu saat tahu kita datang tadi," ucap Al pada putri tirinya.
"Iya, Papa. masakan tante memang selalu enak, kapan aku tidak menyukai masakan tante Quen," ucap Bilqis dengan senyuman manisnya. membuat Al jadi gemas dan menyubit pelan hidung gadis cilik itu.
"Kak Nayla mau minum apa?" ucap Quen saat saat membuka pintu lemari es.
"Air putih aja, deh," jawan Nayla.
Quen mengeluarkan sebiji lemon berukuram besar dari lemaru es, ia mengambil madu dari dalam kitchen set dan membuat minuman dingin dari madu dan perasan lemon dalam wadah yang agak besar, kira-kira beisi 2literan lalu membawanya ke meja makan.
"Kita minum ini saja, ya?"
"Oh, iya kak. Tante Eren dan Om Hans kapan kembalinya ke Australia?" tanya Quen.
__ADS_1
"Gak tau, Tapi Hanifah kayaknya betah di sini, dia malah yang terlihat enggan pulang."
"Dari dulu dia emang gitu, betah di Indo, tapi saat mama nyaranin sekolah di sini dan tinggal bersama kita dia gak bisa jauh dari emaknya katanya," jawab Quen sambil tertawa.
Setelah mengantar Al, Nayla dan Bilqis sampai depan pintu Quen kembali ke dapur untuk membereskan belas-bekas makan siang.
"Alex, kau mandilah dulu, aku akan mencuci piring," ucap Quen dari dapur.
Tapi, Alex bukannya malah ke kamar untuk mandi, dia malah menghampiri Quen dan dan memeluknya dari belakang. Hidung pria itu menempel di leher jenjang Quen tepat di bawah telinganya.
"Alex, aku masih mencuci piring, kau mandilah dulu, lalu istirahatlah, nanti malam kita ke rumah."
Alex diam sesaat, masih terus menciumi leher dan telinga Quen bertubi-tubi. "Baiklah, kau segeralah menyusul nanti," ucap Alexย lalu mengecup bibir Quen dan pergi.
Usai menyelesaikan tugasnya di dapur Quen masuk ke dalam kamar, dilihatnya Alex yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya dengan hanya mengenakan boxer dan handuk kecil yang masih ada di lehernya.
Quen mengamati Alex yang bahkan ia sendiri tidak yakin apakah laki-laki itu mengetiknya sambil bernapas atau tidak, sebab, terlihat dari wajahnya sangat nampak tegang.
"Serius amat?"
"Ya, aku mengirim lamaran kerja menjadi dosen olah raga di kampus kita, Sayang." Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangan matanya dari laptopnya.
"Kenapa tidak di fakultas lain?"
"Ya, ini ada dua fakultas yang membuka lowongan dosen di bidang olahraga, aku mengirimkan semua lamara di dua universitas itu, apakah kau tidak suka?"
"Tidak masalah, mungkin itu lebih baik dari pada harus jadi model di boutiquenya madam Erwin." Quen nampak menahan tawa dan masuk ke kamar mandi.
Alex tersenyum melihat tingkah aneh Quen, lama-lama ia berfikir kalau dirinya menragukan kejantannya. Masa iya om Erwin harus dicemburui?
Pria itu mengelengkan kepalanya sambil tersenyum dan melanjutkan mengetiknya.
Sudah hampir dua puluh menit Quen berada di dalam kamar mandi dan tak kunjung keluar, Alex pun beranjak ke ranjang, bermaksut untuk rebahan sambil menunggu istrinya yang tidak tahu kapan ia akan selesai mandi.
Mata Alex tertuju pada secarik kertas hvs yang terlipat di atas lantai bawah nakas.
Karena penasaran, laki-laki itu membungkuk dan merainya dan membuka lipatan kertas itu lalu membaca isinya.
Alex terkejut melihat isi dari kertas itu. Bersamaan dengan itu, suara derit pintu kamar mandi terbuka, dengan mengenakan handuk bermodek kimono Quen keluar dan tercengang melihat apa yang Alex pegang.
Dia memang ingin memberitahukannya semua, tapi, jelas tidak sekarang. Tapi, karena Alex sudah terlanjur tahu, mau tidak mau ini harus ia hadapi dan menerima resiko jika saat ini juga pria itu menceraiakannya. Memangnya, apalagi yang harus dia tuntut pada laki-laki itu? Menikahinya di saat pernikahannya hampir gagal kemarin saja sudah suatu pertolongan yang luar biasa.
"Quen, apa, ini? Bisakah kau jelaskan?" Mata Alex menatap Quen dengan penuh rasa kecewa.
Badan Quen merasa gemetar luar biasa karena sesuatu yang ia simpan seorang diri, terlebih dari Alaex, malah diketahui oleh itu.
Dengan langkah perlahan namun pasti, Quen melangkah dan berhenti tepat di depan Alex, wajahnya kian memucat tertunduk di hadapan lelaki yang yang baru kemarin menjadi suaminya.
"Maafkan aku, bukan maksutku untuk menyembunyikan ini darimu, aku akan tetap menjelaskannya padamu, tapi...." Quen tidak meneruskan kalimatnya.
Sementara Alex, masih menggenggam erat kertas hasil lap itu dan masih dengan tatapan sakit dan kecewa.
tambahin lagi ya foto Alex saat di gym dan berkeringat kaya gini ini, nih. gimana?
__ADS_1