
Gimana, nih kok gak ada yang komen tentang Al dan Quen?😅
tai gitu, Author gak mau pajang wajah mereka biar kalian cuma liat papa Vano saja😂😂
"Kenapa di saat-saat kek gini ada saja masalah, apakah hidup kita terlalu mulus sebagai pasangan selama ini? Apa alasan Nayla cemburu dengan Quen coba? Belum kelar dengan ini masih harus ada masalah Quen dan Aditya, belum lagi Novita datang kemari," keluh Clara merasa kesal.
Vano hanya diam tidak berkata sepatah katapun. Tangan kanannya dikepalkan di taruh di depan keningnya sambil menunduk.
"Kita temui putri kita saja, ajak bicara bagaimana maunya, gimana?" bujuk Vano pada istrinya.
"Terus kita mau apa? Dia aja sedari tadi mengunci diri terus di dalam kamarnya," ucap Clara putus asa.
Vano tersenyun melihat tingkah istrinya yang sangat menggemasjan, ia berdiri dan menyentik dahinya dengan telunjuknya.
"Dasar, justru karna itu, kita ajak dia berbicara, apa maunya dan dengarkan keluhannya." jawab Vano menjelaskan.
"Dengerin keluhannya dulu, baru tanya apa maunya, Van." ucap Clara dengan nada manja.
Vano memeluk ringan Clara dan memberikan sedikit kecupan pada dahi dan pipinya.
"Iya, iya. Ayo!"
Bahkan dalam kondisi bermasalah pun, mereka berdua masih saja sempat bermesraan. Mungkin itu yang menjadikan rumah tangga mereka akan tetap harmonis seprti pengantin baru meski pun sudah kakek nenek.
Clara mencoba menarik gagang pintu kamar Quen, ternyata tidak di kuci. Dengan perlahan dia berusaha masuk, dan melarang Vano untuk ikut. Dia menyarankan suaminya untuk menemui Al saja. Sebab yang dia tahu, anak perempuan akan lebih nyaman dan terbuka dengan mamanya, begitupun anak laki-laki akan lebih rilex.
Dan Vano pun mengiyakan saja.
"Sayang," sapa Clara hati-hati begitu memasuki kamar putrinya, Quen.
Gadis itu dengan segera menghapus air matanya. Dan membenarkan posisinya dari telungkup menjadi berdiri.
"Mama, ada apa, Ma?" tanyanya dengan sedikit tergagap.
Clara duduk di tepi ranjang Quen lalu tersenyum melihat senyuman palsu anak gadisnya itu, sebab selain ia melihat wajahnya muram dan memerah, matanya pun juga nampak sembab.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Bukankah sebentar lagi kau akan menikah? Kqu tidak bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Clara dengan lembut.
"Mama...." Quen tiba-tiba saja menangis dan memelik Clara, ia menumpahkan semua air matanya pada wanita terhebat yang pernah ia temui di dunia dan terus terisak.
Clara membiarkan saja putrinya merasa puas dulu mengeluarkan air matanya sambil terus memeluk dan mengelus-elus punggungnya.
"Menangislah jika kau ingin menangis, Nak. Jangan kau tahan agar air matamu tidak menjadi racun untuk hatimu. Katakan apa yang ingin kau katakan. Sampaikan pada mama agar mama tahu apa yang membebanimu. Jangan takut. Mama akan selalu ada untukmu, kita akan selalu bersama-sama menghadapi dunia ini, bukan? Bisik Clara perlahan di dekat telinga putrinya.
"Ma, mantan istri Aditya menginginkan untuk rujuk, dan aku juga melihat sepertinya rasa cinta aditya untuk ibu kandung Axel masih ada. Tapi, aku merasakan dia benar-benar mencintaiku, aku harus bagaimana, Ma? Meskipun mantan istrinya tadi menguntitku dan datang kemari mengatakan sudah rela, aku merasa ini tidak adil baginya." Dengan nada terbata-bata Quen berkata panjang lebar, karena ia masih menangis dan terisak.
"Lalu, maumu bagaimana? Kau jangan ragu ambil keputusan Nak. Papa dan mama akan selalu ada di sini untuk mendukung segala keputusanmu."
"Aku gak tahu, Ma. Andai mengakhiri dan membatalkan pernikahan, bagaimana?"
"Jika itu yang kau mau, apa boleh buat? Tapi, kau masih mencintai Aditya tidak?" tanya Clara meyakinkan.
"Aku memang sudah merasa enggan dengannya, tapi, rasa sakit karna kehilangan juga akan ada, tapi, alu percaya Ma, itu akan bersifat sementara saja, kan?" jawab Quen apa adanya.
"Tunggu sebentar, kalau memang Aditya tetap mempertahankanmu, dan mantam istrinya sudah merelakan hubungan kalian, kenapa lau harus mundur, Quen?" tanya Clara penasaran. Sebab, gadis ini menurutnya sangat aneh, tidak bisa mempertahankan pria yang dicintainya.
"Kalau mantan istrinya tak lagi menganggu, pasti akan terhapus pula, Quen. Semua tergantung dengan waktu." jawab Clara memantapkan hati Quen.
"Ma, dulu Aditya saat awal kenal aku dia pernah curhat padaku kalau dia benar-benar mencintai mantan istrinya, bahkan dia berujar kalau akan tetap menunggu dan menerima mantan istrinya kembali dalam keadaan apapun, dia tidak akan pernah membenci, sebab dia ibu kandung dari anaknya. Jika sudah seperti itu, untuk apa aku mempertankannya Ma? Bisa saja kan dia bertahan karna hanya kasian denganku, setengah mati menunggu hingga aq lulus kedokteran dan karena dia masih punya hati tidak akan tega mencampakanku, dia menikahiku bukan lagi atas dasar cinta. Tapi, lebih tepatnya hanyalah sebuah penebusan rasa bersalah saja, Ma."
Dengan kasar Quen menghapus air matanya yang mengalirz ia kesal sudah sedari tadi menangis tapi, tetap saja mengalir, apakah air matanya masih ada banyak, atau memang tak bisa habis dan mengering?"
Clara diam sejenak, ia tak bisa berkata apa-apa. Benar ini adalah hal yang sulit, bahkan mirip dengan simalakama.
Tapi, dalam hatinya terbesit rasa bangga pada Quen, dia rela melepas pria yang dicintai demi kebahagiaan seorang anak. Secara tidak langsung, Quen mengatakan kalau dia saja yang pergi tidak apa-apa, asap putra aditya bisa kumpul lagi bersama mama kandungnya, bukan mama sambung.
"Kau pikirkan saja dulu, minta petunjuk pada sang pencipta agar tak jatuh dalam lembah penyesalan, ok? Ayo kau bebersih dulu dan makan malam bersama di bawah!" Seru Clara.
Quen menoleh ke arah cermin, melihat kedua matanya bengkak seperti di sengat lebah, ia langsung mengambil bantal untuk menutupi wajahnya.
"Gak, Mau, aku malu, Ma..." ucap Quen kembali telungkup.
__ADS_1
"Ya sudah, mama ambilin, untuk hari ini kau boleh makan di kamar, Ok?" ucap Clara lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Quen.
Sementara di teras belakang Vano dan Al tengah mengobrol. Al menceritakan keluh kesahnya pada papanya dan sampai meminta saran bagaimana menghadapi istri yang seperti itu? Ingin bercerai, tapi, al terlanjur mencintai Nayla. Hanya saja jika terus-terusan di pojokan dan di tuduh ada hubungan dengan Quen terus ia merasa tidak kuat dan tertekan? Sedang selama ini ia sudah angga Quen adik kandungnya.
"Al salah, Pa. Harusnya dulu Al memberi waktu agar Nayla dekat dulu dengan Quen sebelum menyatakan cinta kepadanya. Harusnya aku berpegang pada prinsipku mencari istri yang bisa menerima Quen. Kenapa aku tidak cinta sama Lyli saja, ya dulu? Apa karna dia gadis dan Nayla janda dengan satu anak? Hingga rasa iba dan kasianku menjadi rasa sayang dan cinta?"
Vano menepuk pundak putranya beberapa kali, ia memberi semgangat pada anak laki-lakinya.
"Percayalah, akan ada hikmah di balik semua ini, kau lihat mamamu, dia juga sangat cemburuan. Jika ada hal yang menurutnya janggal, dia langsung datang ke kantor. Tapi, papa bawa santai selama papa tidak menghianati mamamu, kau, kenapa harus bawa pusing soal ini?" ucap Vano berusaha membesarkan hati Al.
"Mama tahu diri harus pada siapa dia cemburu, beda dengan Nayla, Pah. Masa iya Al harus jauhin Quen dan tidak memperdulikan dia? Andai papa punya adik perempuan, apakah bisa demikian?" tanya Al yang membuat jantung Vano seolah berhenti berdetak.
Vano nampak salah tingkah dan nervous dengan kalimat terakhir yang putranya ucapkan. Sebab, dia anak tunggal, memiliki adik tiri yang sekarang jadi istrinya, mamanya anak-anak.
"Satu-satunya jalan kau beri pengertian pada Nayla, dan jangan sampai Quen tahu tentang ini, sebab jika tidak, kau tahu bagaimana dulu Lyli melawannya dan bagaimana reaksi dia? Bahkan papa tidak menyangka kalau dia seperti itu, lebih mengerikan dari pada mamanya."
"Lebih mengerikan dari mama, Pah?" tanya Al sambil mengisutkan dahinya.
"Ya, Mamamu dulu ahli bela diri, tapi tidak pernah menggunakan kekerasan pada orang lain terlebih pada wanita. Beda dengan Quen. Dia saat emosi tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan," ucap Vano seolah merasa gagal menjadi seorang ayah.
Sempat terbesit sebuah memori saat Quen masih SMP, Clara memarahinya saat putri kecilnya membuat kesalahan. Tapi, ia tidak terima dan mengatakan kalau tidak percaya dengan anak sendiri. Sejak saat itu Clara diam dan tak mau lagi menasehati Quen, sebab diamnya Vano karena tidak suka, saat keduanya sudah berada di kamar, mereka ribut meributkan prilaku Quen. Dan ternyata benar. Yang paling tahu tentang anak-anak adalah ibunya, bukan ayahnya atau pun kakek neneknya. Kini Vano pun juga merasa menyesal.
"Pa, Quen itu ahli bela diri, memanah dan menembak, lo," ucap Al ragu-ragu.
"Apa? Bagaimana kau tahu?" tanya Vano hampir tak percaya.
Al menyeringai kecil, "Permainan pisau bermata dua, dia juga mahir,.hati-hati saja," ucap Al memperingati.
"Kau tahu dari mana, Al? Kenapa selama ini hanya diam?"
"Ya tau, lah pa. Dia sebenarna sudah lama ngerti kalau aku pernah berkecimpung dalam dunia abu-abu geng mafia, dari situ dia mencari guru untuk berlatih untuk mengimbangiku. Sebab dia paham dalam dunia mafia, yang dijadikan sasaran musuh orang terdekat, pasangan, saudara anakndan orang tua. Karena dia adalah adikku, maka, dia berlatih agar tidak mudah tumbang saat ada bahaya menyerang. Seminggu tiga kali dia latihan," jawab Al panjang lebar.
"Lalu, kenapa kau diam saja, Al?"
"Quen meminta Al untuk merahasiakannya, Pa. Ya baru ini Al kasih tau, makanya, Al berusaha mungkin untuk tidak ribut dengan Nayla, karena takut kalau Quen sampai tau."
__ADS_1
Vano mengelengkan kepalanya seraya bergumam, "Pandai sekali anak itu menyembunyikan sesuatu dari kami? Rupanya dia banyak nurun dari mamanya, ya?" ucap Vano seorang diri sambil tersenyum.