Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 18


__ADS_3

Gadis berkukit kuning itu, dengan canggung berdiri di dekat meja makan saat semua mata pada tertuju padanya. Ia merasa gugup dan tidak nyaman, di remasnya celemek putih yang ia kenakan hingga meninggalkan bekas kusut sedikit di sana. Ia masih bingungn harus pergi, atau berdiri menjadi tontonan kelima majikannya setelah apa yang diucapkan Quen tadi.


"Ayo Lyli sarapan bersama kami di sini!" Seru Vivian mencairkan suasana.


Dengan ragu-ragu gadis itu menarik kursi di sebelah Clara dan duduk di sana.


"Benar, semalam Al begadang? Lalu, jam berapa dia tidur?" tanya Andreas cemas.


"Kami nonton film, Tuan. Dan tuan Al tidur sekitar pukul dua dini hari," jawab Lyli, ragu-ragu.


"Mulai sekarang untuk siapapun yang tahu Al belum tidur di atas jam sembilan, tolong segera ingatkan dia," ucap Andreas lalu bergi meninggalkan meja makan.


Lyli menunduk merasa takut dan bersalah. Dari sikap yang di tunjukan Andreas seolah ialah yang menyebabkan Al menjadi sakit.


Clara berusaha menenangkan pikiran Lyli. Dia mendekatkan kepalanya dan berkata lirih.


"Kau jangan terlalu memikirkan sikap papa Andreas, ya? Dia seperti itu karena khawatir. Bukannya kau tahu, kalau dia yang paling memanjakan cucunya?"


Lyli berusaha tersenyum dan mengangguk, menutupi rasa sesal, kesedihan dan bersalahnya yang kian berkecamuk tak keruan.


Memang benar jika Andreas paling menyangi kedua cucunya, terlebih Al. Seolah dia melihat bayangan Vano kecil yang ditinggalnya sejak usia dua tahun.


Jadi, ia melampiaskan rasa sayangnya kepada Al sebagai ganti tidak dapat melihat pertumbuhan putra semata wayangnya itu.


Bahkan, Lyli juga sering kedua tuan tuanya, yang tak lain adalah duo Andre bertikai hanya soal cucu. Yang satu berusaha keras mendidik, sementara satunya lagi malah merusak dengan terlalu memanjakan keduanya.


Dengan cepat Lyli menyelesaikan tugas-tugasnya. Sekitar jam setengah sebelas ia sudah merampungkan semuanya. Karena penasaran, ia bermaksut ke kamar Al sambil membawakan Sepiring semangka untuk Al.


Ia melihat Al yang sudah terjada, wajanya putih pucat bagaikan kapas serta bibirnya yang terlihat pecah-pecah.


"Tuan, apakah perlu me dokter?" tanya Lyli panik.


"Tidak usah, kamu bawa apa itu?" Mata Al melirik ke sebuah piring yang ada di genggaman Lyli.


"Saya bawa semangka, saya pikir ini segar jika dinikmati saat panas-panas begini."


"Aku darah rendah, Kak. Jadi tidak bisa konsumsi itu dulu," ucap Al santun. Tanpa mengurangi kewibawaannya.


"Ya sudah, Tuan mau apa saya ambilkan sekalian mengembalikan ini ke dapur," ucap Lyli merasa tidak enak.


"Sepertinya kemarin mama bikin browbis, aku mau itu saja, Kak."


Begitu Lyli pergi ke dapur, kembali Al memegangi kepalanya yang terasa ngilu, walau sudah tidak seberapa. Tapi, tetap saja sakit itu menganggu.


Ia segera menurunkan kedua tangannya dari kepalanya saat mendengar  suara pintu kamarnya dibuka.


"Mama." Al berusaha sebisa mungkin menyembunyikan rasa sakit di kepalnya dengan senyuman begiti melihat Clara.


"Kau sakit apa, sayang? Mama antar ke rumah sakit, yuk!" akal Clara kawatir sambil memegangi kening putranya.


"Tidak apa-apa, Ma. Cuma pusing saja, nanti juga sembuh."


Clara duduk di tepi ranjang Al dan mulai menanyakan sesuatu.


"Al, apa benar kau semalam begadang nonton sama Lyli di ruanh tengah?" tanya Clara dengan pandangan mengintimidasi.


"Mama lihat kami, ya?" tanya Al tidak enak. Kami hanya...." kata Al terhenti saat Clara menyela.


"Tidak. Tadi sebelum berangkat Quen menitipkanmu kepada Lyli, karena semalam bersamanya kau nonton," ucap Clara pelan.


Al diam seribu bahas dalam hatinya mengumpat. Dasar bodoh, dia sepenuhnya menganggapmu sebagai anak tidak akan cemburu dan hati, Al.


"Mama perhatiin, dari awal Lyli menaruh hati padamu. Lalu, bagaimana dengan putra Mama? Dia merasakan hal yang sama atau cuma php saja?" ucap Clara sambil tertawa menggoda Al.


"Ah, mama... Kenapa tertawanya begitu? Apakab seleraku buruk?" jawab Al malu-malu.


"Kau sudah dewasa dan sudah waktunya bagimu menentukan satu wanita untuk pendamping hidup."


"Menurut Mama bagaimana dengan Lyli?"


"Dia baik dan pekerja keras, mandiri dan tidak manja," jawan Clara sambil tersenyum me arah Al.


Al juga tersenyum dalam hati ia berkata, 'Iya, benar katamu. Walau bukan kamu, setidaknya kudapatkan banyak kesamaan sifatnya sepertimu.


Baru saja Al mau menanyakan setuju atau tidak agar lebih yakin, tapi, yang dibicarakan tiba-tiba saja datang.


"Tuan, ini pesanan an... Eh, Nyonya Clara," sapa Lyli canggung.

__ADS_1


Clara tersenyum ia bangkit dari duduknya dan mencium ubun-ubun Al, "Cepat sehat, Sayang. Jagoan Mama."


Hati Al terasa berdesir, ia mengumpat dalam hati mendengar ucapan Clara dan apa yang dilakukan padanya.


Wanita itu tidak ada ketertarikan terhadapnya sedikitpun. Itu yang selalu dia lakukan saat dia masih kecil dulu sakit.


Terlebih jika bersamaan dengan Quen rewel dan Vano lembur. Clara bolak balik mengganti air kompresan Al sambil menggendong Quen. Saat adiknya menangis, ia sibuk menenangkan sambil merawat dirinya.


"Ma, aku sudah dewasa." protes Al.


"Ahaha iya, iya. Tapi kau tahu, Al. Bagi seorang ibu berapapun usia anak-anaknya bagi mereka tetaplah sosok anak kecil yang perlu disayang dan diperhatiin, loh."


Wanita itu pun bergi berlalu setelah menitipkan Al kepada Lyli.


Kedunya hanya diam sampai sepuluh menit tanpa berucap sepatah kata pun.


"Kak, Lyli. Apakah kau hanya akan diam saja tanpa menawariku brownies yang kau bawa?"


"Eh, maaf, Tuan. Ini, silahkan." Dengan gugup Lyli menyodokan oiring yang dipegangnya begitu saja.


"Quen kalau aku sakit dia selalu menyauapiku. Tapi, kenapa kau tidak?" ucap Al memancing sambil menyeringai.


"Ah, apa Tuan? Saya mana bisa?" Lyki mendunduk wajahnya terasa panas karena malu. Tapi, jauh di dalam hatinya ada gejolak yang membara, seperti suka, senang tapi apalah mungkin ini yang di sebut cinta.


"Kak, usia mu berapa tahun sekarang?" tanya Al sambil membenarkan posisi duduknya.


"Sa, saya duapuluh satu tahun, Tuan." Masih menunduk dan sedikit memalingkan wajah.


Al memandang raut wajah Lyli sambil berusaha menyembunyikan tawanya. Kembali dia teringat apa yang di katakan Vico.


Bro, cewek itu terlihat malu dan serba salah saat ada di dekat kita, itu tandanya dia sedang jatuh cinta. Tapi, malu mengatakannya.


Ya, ada benarnya juga apa yang Vico katakan beberapa waktu lalu, Lyli benar-benar salah tingkah di buatnya.


"Bagaimana kalau aku memanggilmh hanya nama saja, walau di keluargaku ada peraturan aku dan Quen memanggilmu harus kakak."


"Tidak masalah, Tuan. Saya juga tidak enak dipanggil kak dengan orang yang lebig tua dari saya," ucap Lyli.


"Jadi aku ini, tua?"


"Ah bukan... Bukan itu maksut saya, Tuan. Bukannya usia anda sekarang sudah duapuluh lima tahun? Sementara saya kan duapuluh satu tahun." ucap Lyli berusaha menjelaskan tanpa sadar ia memandang wajahnya dan sempat terpaku, seolah wajah tampan Al sukses menghipnotisnya.


Deggghh


Dengan cepat Lyli kembali memalingkan muka. Ia malu akan menjawab apa kepada Al.


"Tidak. Lagian, siapa yang mau dengan wanita miskin dan tidak berpendidikan sepertiku, Tuan?"


Lyli nampak gugup. Di remasnya rok nya berwarna dusty yang ia kenakan untung mengontrol suasana hatinya.


"Siapa bilang tidak ada yang mau? Kamu mau tidak jadi pacarku? Lalu kita akan menikah dan hidup bahagia berdua, aku juga akan mengajakmu setiap kali akan ke Jepang."


Lyli terpaku di tempatnya saat mendengar ucapan Al. Dia bingung harus memberi reaksi apa, jujur jauh dari lubuk hatinya terdalam dia sangat bahagia dan senang. Karena, sejak pandangan pertama dia sudah sangat menyukai Al. Dan selama dua tahun ini, dia selalu mencari alasan untuk bisa berkomunikasi atau sekedar dekat dengan Al.


Tapi, tunggu. Gadis itu tidak mau buru-bury mengekspresikan perasaannya. Dari garis keluarga, sangat jelas keduanya sangat berbeda. Apakah keluarganya terima?


Setahu Lyli keluarga konglomerat seperti Al akan mencari istri yabg sesuai, jika tidak, minimal mereka juga termasuk publik figur yang baik, misal artis, seorang pengusaha yang sukses meski belum sebesar keluarga mereka, tapi, Lyli hanya apa? Hanya seorang gadis sederhana yang terlahir dari kekuarga pas-pasan dan broken pula.


Atau lebih parahnya, Al cuma bercanda saja. Badan Lyli terasa kaku, susah untuk di gerakan dia hanya mampu memainkan jemarinya yang menggaruk-garuk di atas roknya.


"Tuan, jangan bercanda." Hanya suara itu yang keluar dari mulutnya.


"Apa? Kau pikir aku bercanda? Aku serius Lyli!"


BRAAAK!!!


Keduanya menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu di banting agak keras.


"Ups, sory aku mengganggu, ya?" ucap gadis di ambang pintu itu merasa tidak enak dan buru-buru pergi.


"Nona, Queen, tunggu!" Seru Lyli berusaha mengejar Quen.


"Kenapa Kak Lyli iku keluar? Temani kakakku. Ingat! Kau yang membuat dia sakit," ucap Quen mengancam.


"Saya, saya..." Gadis itu tiba-tiba tergagap karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Quen. Karena, dia tahu sendiri lah, siapa Quen orang serumah tidak akan bisa mengalahkannya keinginannya. Makanya alangkah lebih baik jika dia menghindari perdebatan dengan Quen.


"Baiklah, saya akan kembali ke kamar Tuan. Tapi, ayo Non temani saya!" Gadis itu memohon sambul memegang lengan Kanan Quen dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Baiklah, aku berbaik hati padamu, kau harus membasalnya masakan aku tumis buncis woetel, putren kol dan jagung manis nanti saat makan siang," ucap Quen sambil kembali berjalan ke kamar Al bersama Lyli.


"Apakah kau sudah baikan, Kak?" sapa Quen begitu masuk ke dalam kamar kakaknya.


"Iya, sudah cukup baik. Bagaimana dengan kuliahmu?"


"Semuanya lancar, kok."


Quen mengambil ponsel dari dalam tasnya ia memainkan entah apa jari jemarinya nampak asik menari-nari di tas layar sentuh itu, sesekali wajahnya tersenyum dan tegang. Berubah sangat cepat lebih cepat dari bentuk awan putih di atas langit.


Suasana menjadi hening Al dan Lylo hanya diam tanpa kata. Hanya sesekali suara dentingan pesan masuk dari ponsel Quen yang di abaikan.


Karena penasaran, Al dan Lyli melihat apa yang terjadi. Tarnyata Quen tertidur saat memainkan gawainya.


Kedua insan itu saling memandang satu sama lain.


"Sejak kapan dia seperti ini?" tanya Al dan Lyli bersamaan. Dan keduanya pun tertawa.


 


Waktu berjalan begitu cepat, Al dan Lyli sudah menujukan kedekatannya. Walau di antara keduanya tidak resmi pacaran. Tapi, Al sudah bertekat untuk berkomitmen akan menikahi Lyli.


"Kenapa harus Lyli, Al? Tidak adakah gadis lain?" tanya Vano saat keduanya tengah bersantai.


"Jika gadis lain apalagi dari kelas terpandang dia akan menuntut semua waktuku hanya untuk dia, Pa. Jika Lyli. Dia sudah lama di sini dam tahu seluk beluk keluarga kita. Terlebih dengan sifat Quen. Asal dia mau menerima Quen seperti adiknya sendiri aku tidak keberatan akan menikah dengan siapapun."


Vano mengangguk-angguk menatap kagum ke arah Al. Usianya tergolong muda tapi, pikirannya sudah begitu jauh.


"Kau ini cuma kakaknya, kenapa bertingkah seolah papanya Quen, Nak? Kau hanya mencarika kakak ipar bukan ibu tiri untuknya." Vano terkekeh sambil menepuk pundak putranya.


Al terdiam, dia tidak mngerti apapun dengan apa yang dia jalani. Yang dia tahu, Lyli memiliko hubungan baik dengan keluarganya terlebih adiknya. Quen sendiri yang meminta Al untuk dengannya.


"Lyli, apakah pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Al dari luar dapur.


"Iya, Tuan. Semua beres."


"Ya sudah. Kamu siap-siap saja aku akan menunggumu." Al pun pergi kembali ke kamarnya.


Melihat kakak akan pergi kerumah orang tua LylI Quen menghampirinya.


"Mau ketemu camer, nih ceritanya?" ucap gadis itu sambil tertawa jahil.


"Kesinilah!" Seru Al sambil menepuk sofa di sebelah ia duduk.


Quen tersenyum berjalan setrngah berlari mendekat dan duduk di sebalah Al.


"Kelak jika kakak sudah menikah kakak tidak bisa lagi mengawasimu terlaku ketat, mungkin kakak akan lebih sibuk dengan keluarga baru kakak."


"Bukannya itu wajar?" ucap Quen. Tapi, dia lebih merasa dari kata-kata Al seolah pria itu akan pergi meninggalkannya sendirian.


"Iya, tapi apa kau benar-benar sudah siap?"


"Tapi selamanya kau tetap kakakku, kan?" Quen meloh ke arah pintu kakaknya.


Dilihatnya Lyli sudah berdiri di sana mengenakan spatu putih dan dres berwanra biru serta kaos dalaman lengan panjang putih dan tas kecil di tangannya.


"Berangkatlah, tuan putrimu sudah siap," ucap Quen kepada kakaknya dan bangkif ikut mengantat sampai bawah tangga. Di sana Al bepamitan kepada Clara, Vivian dan kedua kakeknya.


"Hati-hati, Sayang!" ucap Clara kepada Al saat keduanya mulai keluar rumah.


Selama perjalan keduanya terjebak dalam kecanggungan sama-sama kaku dan tak tahu harus berkata apa.


"Tuan jangan kaget melihat keadaan rumahku nanti, kecil, masuk dalam gang sempit dan jauh dari kata nyaman."


Gadis itu tertunduk malu saat mengatakan itu, tapi, memang itulah kenyataannya.


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kau memiliki berapa sodara?"


Lyli terdiam, antara jujur dan tidak. Andai tahu seperti apa keluarganya, apalah Al dan keluarga besarnya masih mau menerimanya? Tapi, tidak selamanya sesuatu bisa ditutupi, kan?


Cukup lama gadis itu terdiam sampai akhirnua dia menarik napas panjang sebelum memberikan jawaban. Sebelum hubunganku terlalu jauh, lebih baik dia tahu, dan jika dia memilih pergi, aku tidak akan begiti merasa sakit. Begitulah keputusan yang Lyli ambil.


"Aku tidak tahu pasti berapa saudaraku. Yang jelas aku punya empat adik dia diadopsi oleh keluarga kaya. Ibuku hamil dan anakknya diserahkan kepada pasangan yang tidak bisa memiliki anak setelah lama menikah. Hanya aku saja yang dia asuh."


"Tidak masalah, selama kau tidak begitu dan bisa mengikuti aturan dalam keluargaku, aku tidak peduli. Jadi, kau anak pertama?" tanya Al setelah berusaha menenangkan hati  Lyli.


Gadis itu tertunduk tidak menjawab sepatah katapun. Dia mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


Al merasa bersalah telah membuka luka lama gadis di sampingnya, dia mengelua punggung Lyli dan berkata lirih namun masih bisa di dengar, "Maaf."


__ADS_2